Pretty Pretty Please?
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer: I do not own Naruto, Naruto does not own me either. What a deal.
Warning: SasuSaku. AU. Typos. OOC ( used to be Me, Jewelry and a cup of coffee)
Thanks to:
Haekal Uchiha, hanazoro yuri, Cerise Liebe, EsterhazyTorte, aguma, Pink Uchiha, Lhylia Kiryu, ichiro kenichi, Uchiha Rani17, akasuna no ei-chan, Afrillia Haruno, yuka, Haru Si Petualang, SasuHina Hater, zey-yenns28, Francoeur, Subarashii Shinju, kazuran, AngelRyeong9
.
Chapter 9:
Collide
.
.
Read and Review
.
.
Aura kesedihan masih menguar pekat dariku siang ini. Ku ingat lagi makan malam terburuk yang pernah aku alami, saat aku melihat Sasuke membuka mulut tanpa penolakan untuk menerima sepotong omelet dari Hinata. Saat Sasuke meminum Jus tomat yang Hinata tuang ke gelasnya, jus tomat yang aku buat dengan sepenuh hati. Saat Sasuke menyumpit selada dari piring salad Hinata dan memakannya karena dia tahu Hinata tidak menyukainya, hal- hal kecil yang manis, walaupun tidak diselingi dengan banyak kata, tapi aku bisa merasakan lingkaran tak terlihat yang memisahkan aku dengan mereka.
Aku menolak tawaran Sasuke untuk mengantarku pulang malam itu, Sasuke sempat ragu beberapa saat sebelum akhirnya mendudukan diri di samping Hinata, meneruskan makan malam mereka. Betapa saat itu aku mengharapkan Sasuke tetap datang menyusulku, mengantarku pulang seperti biasa hanya untuk mamastikan bahwa aku sampai dengan selamat. Tapi malam itu, Sasuke tidak datang. Itulah pertama kali Sasuke memilih tetap bersama dengan Hinata dan menghancurkan kepercayaan diri yang aku bangun sendiri karena berpikir Sasuke menganggapku spesial.
Jika saja kamu tahu betapa aku dengan susah payah menahan air mataku agar tidak jatuh, setidaknya tidak di hadapan mereka. Aku menangis sepanjang malam, dan mungkin Sasuke tidak peduli.
.
.
Aku sudah tidak keluar dari apartemen selama tiga hari, berusaha untuk menetralkan perasaanku dan meminta Ino agar tidak membiarkan satu orang pun berkunjung ke apartemen kami, Sai sekalipun. Sekarang aku sedang menimbang- nimbang apakah aku akan bekerja kembali atau tidak, aku masih belum siap bertemu Sasuke. Aku merindukannya, tetapi aku tidak mau bertemu dengannya. Dia pasti akan bertanya alasan kenapa aku menghilang tiga hari ini. Jangankan untuk menjawabnya, aku bahkan tidak tahu bagaimana agar tidak menangis jika melihat wajahnya lagi.
"Sakura-san!" Suara seorang wanita yang terdengar asing memanggil namaku dari kejauhan, ku tolehkan kepalaku menuju asal suara untuk menemukan seorang gadis berseragam SMA dengan mantel ungu yang mencapai pertengahan pahanya.
Hinata.
Aku mengeryitkan dahi heran, untuk apa dia berada di dekat gedung fakultasku? Tidak tahukah bahwa aku butuh tiga hari hanya untuk menstabilkan emosiku dan melupakan kejadian terakhir yang aku alami bersamanya? Tentu saja dia tidak tahu.
"Oh, Hinata-san." Aku mengangguk ke arahnya, bersyukur dalam hati karena suaraku tidak terdengar aneh. "Kebetulan sekali bertemu di sini," Lanjutku sambil tersenyum kaku.
Hinata membalas senyumku kemudian menggeleng, "Tidak juga, aku memang sengaja ingin bertemu dengan Sakura-san sejak beberapa hari yang lalu."
"Benarkah? Memangnya ada apa?" Tanyaku masih menatap Hinata bingung, apakah aku dan dia terlihat seperti dua orang yang akan mempunyai topik untuk dibicarakan?
"Aku tahu kedai kopi yang nyaman di sekitar sini. Bagaimana jika kita mengobrol di sana saja?"
Aku berpikir selama beberapa detik sebelum mengangguk, dan mengikuti Hinata menuju starbuck. Hinata memesan dua cangkir cotton candy frappuccino dan dua porsi pumpkin chocolate muffin. Aku mengernyitkan kening melihat Hinata yang memesan makanan untukku tanpa bertanya padaku terlebih dahulu.
"Tidak apa kan, jika aku yang pesan? Sakura-san terlihat tidak berenergi, makan cokelat baik untuk menstabilkan kadar gula darah." Hinata menjelaskan.
Aku tersenyum mendengar perkataan Hinata, Sasuke juga pernah mengatakan hal yang sama persis.
"Chocolate bagus untuk membantumu mengontrol kadar gula darah."Kata Sasuke waktu itu, Aku terkekeh menyadari persamaan pemikiran Sasuke dan Hinata. They sure make a good couple.
"Kenapa?" Heran Hinata.
"Tidak, hanya teringat sesuatu." Jawabku masih tersenyum.
Aku mulai menyendok muffinku saat Hinata membersihkan tenggorokannya untuk mendapatkan atensiku. "Sakura-san sepertinya cukup dekat dengan Sasuke-kun." Mulai Hinata sambil menatapku."Ada hubungan apa di antara kalian?"
"Kami berteman dengan cukup baik." Jawabku setelah berhasil menelan makanan di mulutku.
"Souka…"
"Lalu apakah Sakura-san menyukai Sasuke-kun lebih dari teman?" Lanjut Hinata.
Aku hampir tersedak oleh ludahku sendiri mendengar pertanyaan Hinata yang semakin frontal. Keep calm, Sakura. Hinata masih seorang high school student, jadi wajar jika dia bertanya terang- terangan begini.
"Sasuke baik, tentu saja aku menyukainya," Jawabku santai.
"Sakura-san sudah tahu bahwa Sasuke akan bertunangan denganku, kan?" Nada suara Hinata sedikit naik.
"Aku tahu, lalu kenapa? Ini tidak seperti aku akan merebutnya dari kamu atau apa. Lagipula aku tidak bisa membayangkan aku dan Sasuke lebih dari sekedar teman." Aku berusaha untuk tidak terpancing kata- kata Hinata yang terkesan menuduh kalau aku akan merebut Sasuke darinya.
"Jadi, Sakura-san hanya menyukai Sasuke sebagai seorang teman?"
Aku mengangguk afirmatif. Don't get me wrong, aku tidak bermaksud untuk membohongi Hinata. Aku pikir, perasaanku ini adalah milikku sendiri aku tidak berniat untuk mengatakannya kepada Sasuke, jadi menurutku aku tidak perlu mengatakannya kepada Hinata juga.
"Aku lega mendengarnya," Tanggap Hinata. "Aku sangat tidak mengharapkan teman dekat Sasuke-kun memiliki perasaan khusus kepadanya, Sasuke-kun juga pasti berpikiran sama sepertiku, perasaan itu hanya akan merepotkan Sasuke-kun. Dia mungkin merasa bersalah jika mengetahui kamu menyukainya. Mengetahui sifat Sasuke-kun, mungkin dia akan dengan perlahan menjauhi Sakura-san."
Perkataan Hinata kurasakan seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih menganga. Haruskah semua orang menyadarkanku tentang itu? Tanpa diingatkanpun aku tidak akan lupa.
Benarkah perasaanku hanya akan menyulitkan Sasuke? Lalu apa arti semua perlakuannya terhadapku selama ini? Apa Sasuke memperlakukan semua temannya sama seperti cara dia memperlakukan aku? Kurasa tidak.
Aku menghela napas, meletakan sendok di tanganku dan menatap Hinata sepenuhnya. "Hinata-san tenang Saja, bukankah Hinata-san adalah calon tunangan Sasuke? Dengan status itu, seharusnya tidak perlu cemas tentang kami yang hanya sebatas teman." Wow, feels good. Rasanya menyenangkan sekali mengatakan kata 'kami' di depan Hinata. Kami.
Hinata meremas cangkirnya "Itu benar. Tapi masih tetap ada kemungkinan bahwa Sasuke-kun akan berpaling kepada Sakura-san. Jadi aku ingin Sakura-san menjaga jarak dengan Sasuke-kun sampai hari pertunangan kami."
Bibirku membentuk garis lurus, sebal dengan permintaan Hinata yang sangat kekanakan. "Kamu cemburu padaku? Apa kamu meragukan perasaan Sasuke kepadamu? Aku tidak berniat untuk memikat Sasuke,kok. Tentang Sasuke yang mungkin tertarik kepadaku, itu bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan. Kenapa kamu tidak meminta Sasuke agar tidak menyukaiku sebelum hal itu benar-benar terjadi?"
Aku mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. "Tentang menjaga jarak, tidakkah kamu tahu bahwa selama ini yang datang kepadaku adalah Sasuke? Aku tidak ingat aku pernah dengan sengaja datang kepadanya. More ever, bukannya Sasuke akan lebih terganggu jika kamu mengatur siapa saja temannya? Aku pikir Sasuke sudah bisa memilih sendiri dengan siapa dia berteman."
Kamu bahkan belum menjadi tunangannya secara resmi, tambahku dalam hati.
Hinata menatapku tidak percaya lalu berkata dengan penuh penekanan, "Aku tidak meragukan Sasuke-kun. Kamu tahu, tadinya aku akan bertunangan dengan Itachi-san. Tetapi tanpa disangka Sasuke-kun menawarkan diri untuk menjadi tunanganku."
Aku terdiam mendengar perkataan Hinata yang sama sekali tidak aku sangka. Jadi Sasuke yang menginginkan pertunangan itu?
"Bagaimana dengan cincin yang Sasuke-kun pesan untukku?" Hinata mengganti topic sebelum aku sempat merespon perkataannya.
"Aku sedang mengerjakannya,"
Jujur, aku tidak mau, aku tidak rela. Hanya berpikir aku akan membuatkan cincin yang akan Sasuke gunakan untuk bertunangan dengan gadis lain, membuat sesuatu di dadaku pecah berkeping- keping.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Hinata dariku, aku mengangguk mengisyaratkan bahwa aku tidak keberatan jika dia mengangkat teleponnya.
"Naruto-kun?" Sapa Hinata kepada seseorang di seberang telepon.
Naruto? As in Naruto Uzumaki Sahabat pirang Sasuke? Untuk apa dia menghubungi Hinata? Bagaimana mereka bisa saling kenal? Apakah Sasuke mengenalkan Naruto kepada Hinata? Lalu kenapa sampai saat ini Sasuke tidak pernah mengenalkan aku dengan Naruto dan temannya yang lain? Aku jadi teringat salah satu candaan Sasuke,
'Aku tidak mau ada orang yang melihat aku bersama denganmu, itu akan menghancurkan reputasiku'
Apa sebenarnya itu bukan hanya sebuah candaan? Tapi pada waktu seminar kemarin dia mau menghampiriku padahal di sana banyak teman- temannya.
"Menyenangkan bisa mengobrol denganmu, Sakura-san. Boleh aku meminta alamat emailmu?" Hinata menyerahkan ponselnya kepadaku, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dan meraih ponselnya.
Aku tersenyum melihat wallpaper ponsel Hinata, Tiga orang berpose dengan apik disana. Hinata tengah tersenyum manis, bersender di lengan Sasuke yang menatap kamera dan pemuda pirang yang aku yakin adalah Naruto tengah meringis ke arah kamera sambil mengangkat semangkuk ramen yang masih mengepul.
"Kamu dekat dengan Naruto juga?" Tanyaku kepada Hinata sambil menyerahkan kembali ponselnya yang sudah berisi alamat emailku.
"Kamu kenal Naruto-kun?"Hinata balik bertanya.
Aku menggeleng sambil menyenderkan punggung, "Sasuke beberapa kali menyebutkan namanya."
Hinata mengangguk puas dan memandang keluar melewati kaca, kulihat Naruto tengah berdiri sambil melambai kepada Hinata dari samping mobilnya.
"Sepertinya jemputanku sudah datang. Kalau begitu sampai bertemu, Sakura- san." Hinata mengangguk ke arahku lalu melenggang pergi. Pandanganku masih mengikuti Hinata yang berjalan menghampiri Naruto. Naruto memeluk Hinata selama beberapa detik sebelum kemudian membukakan pintu mobil untuk Hinata. Aku tertegun dengan adegan di hadapanku, Hinata sempat menoleh ke arahku sebelum masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Hinata duduk dengan nyaman, Naruto menutup pintu mobil dengan hati- hati, dia memandang ke arahku dan mendapati aku tengah memperhatikannya. Naruto tersenyum lalu mengangguk sebelum memutari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi.
What the hell was that?
Kenapa Naruto menjemput Hinata? Well, aku tidak akan berpikir macam- macam jika saja mereka bertingkah seperti dua orang sahabat. Tapi tadi Naruto memeluk Hinata!
.
.
Karena bertemu dengan Hinata, aku telat sampai tempat kerja. Aku sedikit bersyukur karena itu berarti aku tidak perlu bertemu Sasuke. Setelah meminta maaf kepada manager dan berjanji bahwa hari ini aku akan lembur untuk menggantikan keterlambatanku, Aku melapisi t-shirtku dengan seragam kerja berwarna coklat.
Aku menghampiri Sasori- senpai yang terlihat sebal. "Senpai, maaf aku terlambat," Aku memberi senyum memelas andalanku. Sasori-senpai menoleh dan kaget saat melihatku.
"Sakura! Aku kira kamu tidak berangkat lagi hari ini." Katanya.
"Berangkat kok, kemarin aku sedang tidak enak badan, Senpai marah kepadaku ya?"
Sasori- senpai mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "Kenapa berpikir begitu?"
"Karena Senpai terlihat sebal tadi." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Aku tidak sebal kepadamu, tetapi kepada dia" Sasori- senpai mengarahkan dagunya menunjuk pojok ruangan, betapa kagetnya aku saat menemukan Sasuke tengah duduk diam sambil melihatku tajam, mejanya kosong.
Aku buru- buru mengalihkan pandangan dari Sasuke, "Memangnya dia kenapa?" Tanyaku kepada Sasori-senpai.
"Sudah tiga hari berturut- turut dia duduk di sana dari siang sampai sore. Saat ditanya mau pesan apa, dia bilang dia mau pacillo , Saat dibuatkan pacillo oleh yang lainnya, dia bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Saat ditanyai oleh manager-san, dia menjawab bahwa dia sedang menunggu gadis berambut pink. Coba kamu buatkan dia minumannya dengan tangan sakralmu, dia mengeluarkan aura yang tidak begitu bagus dan membuat takut pengunjung lain." Aku menunduk menahan tawa mendengarkan penjelasan Sasori-senpai, kekanakan sekali Sasuke. Dengan sebal aku akhirnya membuatkan Sasuke secangkir pacillo.
Aku menghampiri Sasuke untuk mengantarkan pacillo-nya, aku membungkuk dan bersiap kembali saat tangan Sasuke meraih pergelangan tanganku.
"Kenapa?" Tanyaku tanpa memandang Sasuke, kurasakan genggaman di tanganku mengerat membuatku menoleh.
"Aku mau bicara, bisa temani aku duduk di sini sebentar?" Pinta Sasuke dengan suara rendah.
Menghela napas, kulepaskan genggaman tangan Sasuke "Maaf, tapi saat ini kami sedang sibuk."
Aku mendengar dia menyebut namaku dengan lirih, dengan perasaan bersalah karena perlakuanku yang sedikit berlebihan aku tetap melangkah menjauhinya.
.
.
Aku lembur sampai pukul sembilan malam, saat keluar sampai depan pintu untuk menunggu Sai datang menjemputku, aku melihat Sasuke tengah menyender di sebuah tiang lampu dengan kedua tangan berada di dalam saku coat hitamnya. Aku menghela napas dan melewati Sasuke tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Sakura!" Panggilnya sedikit berteriak. Aku menghentikan langkahku tetapi tidak berbalik.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu mengabaikanku?" Suara rendah Sasuke kembali masuk indra pendengarku, tangannya meraih tanganku, takut jika aku akan meninggalkannya.
"Tidak ada apa- apa, aku hanya sedang tidak mood mengobrol dengan siapapun." Jawabku akhirnya.
"Kamu sama sekali tidak terlihat keberatan mengobrol dengan si rambut merah tadi." Sasuke tidak menyembunyikan nada menuduhnya.
"Benarkah?" Tanyaku dengan nada datar.
"Setidaknya beri tahu aku alasan kamu menjauhiku tiga hari ini." Suara Sasuke kembali stabil, tetapi cengeraman tangannya sama sekali tidak mengendur.
"Fine, aku akan berikan alasan tapi kamu juga harus janji kabulkan satu permintaanku!" Aku menoleh dan menjawab dengan suara tajam.
"Deal!" Balas Sasuke.
"Selama ini kita terlalu dekat, orang bisa berpikir yang nggak- nggak tentang kita. Itulah alasannya."
"Terus kenapa? Memangnya siapa yang peduli apa kata orang!" Sasuke menjawab dengan nada yang sama tinggi.
"Aku peduli," Kataku lirih,
"Aku sudah berikan alasanku, sekarang giliran kamu berikan yang aku mau."Lanjutku.
"Aku masih belum selesai, aku tidak bisa menerima alasanmu yang tidak masuk akal."
"Terserah. Aku mau kamu berikan aku jarak." Aku mengabaikan protes Sasuke.
"Jarak? Jarak bagaimana?" Sasuke terlihat bingung.
"Jarak! Maksudnya aku mau kita menjauh dulu!" Aku berteriak lagi, ya tuhan, kenapa aku harus berteriak- teriak sih? Memangnya tidak bisa bicara baik- baik?
"Aku mulai merasakan sesuatu tidak sama saat kamu nggak ada, rasanya aku sangat kesepian. Dan aku tidak suka!" lanjutku lagi.
Sasuke menatapku tidak percaya, mulutnya menganga.
"Kamu.." Sasuke telihat tidak bisa berkata- kata, aku yakin dia pasti akan menjauhiku setelah ini. Aku tidak mau. Sebelum itu terjadi, aku akan pergi darinya lebih dulu. Aku berbalik dan mulai berlari sebelum teriakan Sasuke menghentikanku.
"Memangnya hanya kamu yang merasakan itu?" Suara langkah Sasuke mendekatiku.
"Kamu sama sekali nggak punya ide betapa senangnya aku karena bisa ngobrol dan sama-sama kamu terus, sejak pertama kali. Kamu nggak ingin tahu tentang alasan kenapa aku selalu datang ke kamu?"
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang Sasuke bicarakan, tetapi aku biarkan saja dia menyelesaikan perkataannya.
"Aku awalnya berpikir itu karena kamu orangnya ngangenin, makanya aku selalu sempetin untuk lihat kamu setiap hari. Tapi tiba- tiba aja kamu nggak muncul, aku nggak bisa ketemu kamu. Tiga hari ini aku kacau! Aku bingung mikirin apa salah aku, aku nggak bisa tidur, aku nggak makan dengan baik, yang ada dalam pikiran aku itu cuma bagaimana agar kamu mau ketemu aku lagi, Ra. Aku nggak tahu kapan semua ini dimulai, yang aku tahu aku nggak bisa kalo nggak ada kamu." Sasuke menyentuh daguku dan mengangkatnya agar aku menatap matanya.
Aku menggeleng dan memejamkan mata, menolak untuk menatap mata Sasuke, menolak untuk mempercayai apa yang aku dengar, aku takut akan menemukan kebohongan di sana.
"Give me a break, will you? Beri aku waktu satu minggu lagi untuk sendiri. Setelah itu, aku janji semua akan sama seperti sebelumnya. "Yang aku rasakan sekarang adalah kebingungan yang membuat kepalaku rasanya mau pecah. Apa sih maksud Sasuke berkata begitu? Aku tidak mengerti, aku tidak mau mengerti.
Wajah Sasuke terlihat sangat frustasi dan bersiap akan protes, "Satu minggu itu.."
"Dua minggu." Potongku cepat.
"Sakura…"
"Tiga minggu…"
"Fine! Aku kasih kamu satu minggu. Tapi sekarang aku boleh antar kamu pulang kan?" Sasuke menyentuh kedua bahuku lembut. Aku menggeleng, meletakan kedua tanganku di atas tangan Sasuke sambil tersenyum.
"Nggak usah, Sasuke. Hari ini Sai menjemputku." Tolakku sambil menurunkan kedua tangannya.
Klakson mobil terdengar dari arah belakangku, kulihat Sai tengah melongok dari jendela, memberi isyarat agar aku cepat masuk. Save by the bell, batinku. Setelah berpamitan pada Sasuke, aku masuk ke dalam mobil Sai.
Sai menatapku dan terlihat seperti sedang menimbang- nimbang sesuatu. "Tunggu di sini." Katanya sebelum keluar dari dalam mobil dan mengunciku di dalamnya. Protes yang akan aku tunjukan kepada Sai tertelan begitu saja saat melihat Sai sudah berdiri berhadapan dengan Sasuke. Beberapa saat mereka terlibat obrolan yang serius, kulihat kedua tangan Sasuke mengepal seperti menahan emosi dan beberapa kali Sasuke melempar pandangan ke arahku.
Apa yang mereka bicarakan? Sama sekali tidak bisa mendengar percakapan dari dalam sini, aku menggeram dan membeturkan kepalaku di senderan kursi dengan frustasi.
.
.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu sakit, menurutku, sakit adalah jika kamu mencintai orang yang salah.
Kata- kata Hinata terulang kembali di kepalaku,
"Perasaan itu hanya akan merepotkan Sasuke-kun. Dia mungkin merasa bersalah jika mengetahui kamu menyukainya. Mengetahui sifat Sasuke-kun, mungkin dia akan dengan perlahan menjauhi Sakura-san."
"Aku tidak meragukan Sasuke-kun. Kamu tahu, tadinya aku akan bertunangan dengan Itachi-san. Tetapi tanpa disangka Sasuke-kun menawarkan diri untuk menjadi tunanganku."
Benarkah demikian?
Benarkah Sasuke sendiri yang menginginkan Hinata untuk menjadi tunangannya? Lalu apa yang Sasuke inginkan dariku? Apa maksud semua yang dia lakukan kepadaku? Apa yang dia ingin sampaikan kepadaku tadi?
"Tiga hari ini aku kacau! Aku bingung mikirin apa salah aku, aku nggak bisa tidur, aku nggak makan dengan baik, yang ada dalam pikiran aku itu cuma bagaimana agar kamu mau ketemu aku lagi, Ra. Aku nggak tahu kapan semua ini dimulai, yang aku tahu aku nggak bisa kalo nggak ada kamu."
Terlalu banyak misteri di tatapan mata Sasuke.
Beribu pertanyaan memenuhi pikiranku, aku sangat bingung, apa yang Sasuke pikirkan sebenarnya?
Kenapa dia memperlakukanku semanis itu? Kenapa dia menatapku dengan tatapan yang bisa membuatku salah paham?
Kenapa dia mengatakan hal yang sangat manis?
Kenapa dia tidak mencoba mengingatkanku bahwa aku tidak akan bisa bersamanya lebih dari ini?
Kenapa aku bisa merasa kehilangan seseorang bahkan sebelum aku pernah memilikinya? Kenapa aku menganggap Hinata adalah virus yang telah menginfeksi dunia milik kami –milikku dan Sasuke. Padahal dalam kenyataan, akulah yang telah menerobos masuk dunia mereka, di sini akulah yang menjadi pihak ketiga.
Aku tidak pernah jatuh cinta sebelum ini, jadi aku tidak mengerti bahwa rasanya bisa sebegini membingungkan. Aku tidak mengerti bagaimana cara menahan rasa sakit yang ditimbulkannya. Mungkin jika jantungku berhenti berdetak, maka rasa sakitnya tidak akan sebegini banyak.
My god, I am sooooooo Screwed.
.
.
tbc
A/N: Eve telat update. :(
Seharusnya ini di publish tanggal 6 November kemarin sebagai birthday gift untuk diri sendiri, tetapi ternyata tidak sempat karena kemarin ada surprise party. Tambah lagi, banyak yang terjadi belakangan ini, Eve baru ditinggal pergi orang yang paling tersayang ke surga minggu lalu, terlalu sedih sehingga tidak bisa menulis.
But I know there's sunshine behind that rain, my boyfriend ask me to marry him on my birthday so that he is officially my Fiance now! Am i cool?
Well people, Eve tahu Sakura kesannya terlalu 'nantangin Hinata' banget di chapter ini, tapi itulah yang Eve pikirkan jika tiba- tiba ada yang nyamperin Eve dan minta buat menjauh dari 'certain someone'.
Eve nggak akan bikin satu karakter menjadi sangat jahat atau sangat baik, There's no one perfect who's perfect. Semuanya pasti melakukan kesalahan, kan?
Oh iya, Eve mau tanya, fic modus itu maksudnya apa? Ada satu reviewer yang menyebutnya.
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
