Hibino : wokeh… sudah sampai chapter 3 nih, dan entah kenapa cerita ini makin aneh plus abal banget,kagak ada pesan apapun yaa mohon dimaklumi lah karna saya masih newbie. Jadi untuk para senpai sekalian mohon luangkan waktunya untuk membaca fic abal punya saya ini ARIGATO GOZAIMASU *bungkuk-bungkuk*

Warning : agak OOC ,typo (s), EYD yang membingungkan *menurut Hibi*, abal banget

Rate : T

Pairing : NaruHina, slight SasuSaku

Disclaimer : cerita punya saya tapi charanya punya om Masashi Kishimoto

(maaf bila ada kesamaan cerita, oke langsung saja )


.

.

~*kastil kosong*~

.

.

.

.

Chapter 3

Di dalam kamar (perempuan)

.

.

" Sakura-san aku mau mandi" Hinata memulai pembicaraan dengan mengucapkan ingin mandi *what...! Hinata ngomong mau mandi *lebay'*

"ya udah mandi aja kenapa mesti ngomong ke aku " ucap Sakura sambil membereskan bajunya *oh bawa baju ternyata kupikir enggak *plak T.T*

"a..ano aku gak tau dimana kamar mandinya, Sakura-san" Hinata lalu berjalan kea rah Sakura

"oh ngomong donk, yang itu kamar mandinya tepat berada di belakang kamu Hinata" Sakuura berkata sambil menunjuk pintu kamar mandi yang ada di belakang Hinata

"eh, Hinata tunggu deh kamu pakai kalung ya?" Tanya Hinata pada Sakura

"iya… menurutku lebih baik kupakai daripada hilang,kan kalu hilang aku jadi gak bisa mengembalikan kalung ini ke 'kastil kosong' di tengah hutan. kan Sakura?" jawab dan Tanya Hinata pada Sakura

"iya juga ya, hehehe"jawab Sakura lalu melanjutkan aktivitasnya

Setelah mengakhiri percakapan dengan Sakura,Hinata menoleh ke belakang dan mendapati pintu sang kamar mandi *lebay mode :on*Hinata pun segera masuk dan mulai melepas bajunya *waw… harus disensor khekhekhe* terlihatlah kulit putih Hinata yang hanya di tutupi oleh selembar handuk.

Dia pun segera menyalakan shower *bener gak sih tulisannya* namun yang keluar dari shower tersebut bukanlah air melainkan… "KYAAAA… daraaaaaaaaaaaaaaaahhhh" seketika Hinata terpeleset lau kepalanya membentur lantai sehingga mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri

Sakura tersentak seketika saat mendengar teriakan Hinata dia langsung menninggalkan bajunya yang berserakan dan berlari kea rah kamar mandi, betapa terkejutnya ia saat melihat Hinata yang kepalanya bersimba darah lalu dia berkata " HINATA kau tidak apa kan, ayo bukalah matamu Hinata" namun tak ada jawaban ,Sakura segera keluar dan menuju ke kamar anak laki-laki

_sSs_

.

Di dalam kamar (laki-laki)*sebelum Hinata terpeleset*

.

.

"baiklah kita bagi tempat tidurnya sekarang" ucap Naruto bersemangat, "tapi….. berhubung tempat tidurnya Cuma dua jadi bagaimana kalau melalui pengundian!" Naruto member usul untuk pembagian tempat tidur

"hn." Sasuke hanya menjawab dengan 'hn' sedangkan Sai mulai mengeluarkan ke OOC-an nya

"baiklah ayo kita mulai 'NARUTO" namun terdengar teriakan lain diluar pintu

"NARUTO"

"eh… siapa itu Sakura ya?" Tanya Naruto pada sosok yang ada di luar pintu

"HEI..NARUTOOOOOO CEPAT BUKA PINTUNYAAAAAA, HINATA SEDANG DALAM BAHAYA SEKARANG"Sakura bekata sambil berteriak dan menggedor pintu kamar para cowo

.

Naruto P.O.V (point of view)

Aku tersentak saat Sakura berkata kalu Hinata dalam bahaya, aku segera berlari ke pintu masuk dan meninggalkan kotak undian yang tadi kupegang *ingat untuk pembagian tempat tidur*, begitu membuka pintu kulihat raut cemas dan khawatir di wajah Sakura.

"Na..Naruto…., Hinata….Hinata…" kulihat air mata Sakura mulai membahasi pipinya yang mulus dan putih tanpa noda *kenapa jadi muji kulit Sakura*

Aku segera berlari kea rah kamar Hinata dan Sakura , dan kulihat Hinata terbaring di lantai kamar mandi yang mulai memerah karna darah Hinata, 'tunggu darah Hinata?' setelah ku perhatikan ternyata warna merah itu berasal dari kepala Hinata.

Beberapa menit kemudian semua temanku datang, dan membantuku untuk mengangkat Hinata ke atas tempat tidur, "hei… Sai cepat telepon ambulans sekarang!" perintahku pada Sai namun dia menjawab "tapi-" namun aku menyelanya "tidak ada tapi-tapian kalau ku bilang sekarang ya… SEKARANG!"

"huh… baiklah jika itu yang kau mau Na-ru-to" entah mengapa aku merasa Sai seakan tidak berminat untuk membantu Hinata, namun segera kutepis pikiranku tentang Said an kufokuskan pikiranku pada Hinata yang sedang terluka

End of Naruto P.O.V

.

.

Setelah diperintah dengan paksa oleh Naruto Sai segera berjalan gontai ke kamarnya dan dia seakan tidak perduli dengan keadaan Hinata sekarang entah apa yang ada dalam pikiranya

'hah… kenapa aku merasa sangat tidak ingin membantu Hinata yaa padahal dia kan temanku, teman dari kecil lagi…. Tapi.. ada perasaan senang di dadaku saat melihat Hinata sekarat kenapa… ya.., hah sudahlah tak usah kupikirkan lagi' batinya tanpa ada seorangpun yang mendengar *ya`i…yalah*

Tanpa disadari oleh Sai ada sesosok bayangan yang memerhatikan dirinya dari tadi, entah bagaimana caranya tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya, padahal sosok itu selalu mengikuti Sai dari tadi, ya.. bisa dibilang sejak Sai meninggalkan kastil kosong yang ada di hutan tempat ia semalam berkemah.

Terlihat seringgai tipis terukir di bibir sosok tersebut, dia lalu segera mengikuti Sai yang sudah mulai menjauh.


Di rumah sakit

.

.

"hei Naruto… tenanglah jangan berjalan mondar-mandir seperti itu …kau membuatku pusing kau tau"protes Sai pada Naruto yang tidak bisa menunggu dengan tenang, namun jujurSai bingung kenapa ia merasa senang saat melihat Hinata dalam keadaan kritis karna kehilangan banyak darah

Sai mencoba menghilangkan pikirranya tentang Hinata dan memandang sekeliling dia melihat seorang gadis berusia sekitar 14 tahun, berambut pirang dan memakai kalung yang sama persisi seperti kalung yang dibawa Hinata dari kastil. Sai memanggil lalu memanggil Naruto

"hei Naruto lihat …ada gadis ya-" belum sempat Sai menyelesaikan bicaranya Naruto sudah menyela "Sai… bisakah kau diam …aku ini sedang mengkhawatirkan Hinata… dank au bilang ada gadis ya… apa tadi kau bilang ?" Tanya Naruto setelah acara marah-marahnya selesai

'BLETAKK!'

Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Naruto, setelah puas menjitak Naruto Sai berkata " makanya dengarkan dulu sampai aku selesai bicara baru kau boleh ….. jadi begini ….lihat gadis itu dia memakai kalung ya-"belum sempat Sai menyelesaikan ucapannya ,Naruto sudah pergi ke tempat gadis itu berada

.

"hei namaku Naruto ... boleh kutanya darimana kau dapat kalung itu?" Tanya Naruto pada gadis tersebut sambil menunjuk leher si gadis kecil

"oh… kalung ini ya …. Ini kalung yang dipakai oleh perempuan di keluargaku ya… bisa dibialng jimat atau pelindung lah… memangnya kenapa ?" jawab dan Tanya gadis itu pada Naruto

"ah tidak apa-apa. Oh…ya.. siapa namamu? Dan apakah kau mempunyai seorang kakak perempuan bernama I... I... I... aduh i siapa sih ? oh ya Ino!?" Tanya Naruto pada sang gadis yang sekarang tampak shock karna Sai menyebut nama Ino

Gadis itu terdiam beberapa saat lalu menjawab " Namaku Shion dan benar Ino adalah kakakku yang hilang 10 tahun yang lalu" jawab gadis tersebut yang ternyata bernama Shion itu dengan lancer tanpa beban seperti mobil yang melaju di jalan tol bebas akan semua hambatan *apa hubungannya?*

Naruto tampak shock mendengar pernyataan Shion dan berkata " hah… hilang….? Bagaimana bisa hilang?" , Shion yang dengar perkataan Naruto langsung menjawab " ya… sebenarnya tidak hilang seperti kabur dari rumah sih, lebih tepatnya pergi bekerja dan tak pernah member kabar sekalipun pada ayah maupun ibu" ucap Shion dengan lancer seperti tadi

" oh… bilang dong" Ucap Naruto sambil mendorong tubuh Shion, hingga Shion sukses menabrak dinding rumah sakit. Terdengar gumaman lirih Shion "auw… sakit…. Padahal kan kak Naruto kan bukan coco berotot tapi tenaganya kuat banget….. bahkan lebih kuat dari ayah"cibir Shion entah di tunjukkan pada siapa

Naruto ingat jika di ambulans tadi ia melihat Hinata mengenakan kalung ditemukan Hinata di kastil jadi ia bertanya pada Shion perihal kalung itu "jadi… bagaimana kalau ada orang lain yang memakai kalung itu selain dari bagian keluargamu apakah ia akan celaka atau apa?"

"ya…. Bagaimana ya….. soalnya setiap kalung pasti mencantumkan nama pemakainya, nah coba lihat kalungku ada nama Shionnya kan eh tunggu dulu kenapa kau jadi bertanya tentang kalungku " jawab Shion sambil menunjukkan bandul kalungnya pada Naruto

"memangnya tidak boleh lagi pula… beberapa hari yang lalu pasangankumenemukan kalung yang sama sepertimu dan dia memakainya lalu di terpeleset di kamar mandi,berdarah,masuk rumah sakit deh"ucap Naruto dengan entengnya seperti tidak ada beban pikiran tentang Hinata di benaknya

"Heh memangnya siapa pemilik kalung itu? karna di setiap kalung pasti ada nama pemiliknya tau" Tanya Shion pada Naruto

"kalau tidak salah…. Saat Hime memperlihatkan kalung… di tengahnya terukir sebuah nama, dan kalau aku tidak salah lihat ada 3 huruf tapi hurufnya sama sekali tidak bisa dibaca karna tertutup oleh debu"Naruto menjawab pertanyaan Shion sambil memasang pose berpikir, yang malah membuatnya terlihat lucu oleh Shion

"hmpt… bwahahaha…hahaha..hahaha" karna tak sanggup menahan tawa melihat pose berpikirnya tawa Shion pin meledak "hahaha…BWAHAHAHA…..hahaha"Shion menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan tawanya diliriknya Naruto yang seeding memandangnya dengan tatapan yang kurang menyenangkan atau bisa disebut 'death glare'

"maaf kak Naruto…." Setelah meminta maaf pada Naruto Shion melanjutkan bicaranya "mungkin 3 huruf itu adalah nama kakakku, ingat kan kakakku bernama 'Ino' i-n-o ada tiga huruf kan ?" Tanya Shion pada Naruto yang sekarang sepertinya tengah melamunkan sesuatu

Dalam lamunannya Naruto berfikir sesuatu 'hah… bagaimana sekarang masalahnya jadi runyam begini baiklah kalau begitu selepas Hime sembuh kami harus segera menggembalikan kalung Ino segera, ya harus' batin Naruto menggebu-gebu sampai tidak mendengar panggilan Shion

"to….. ruto… KAK NARUTO.." karna tak mendapat jawaban Shion berteriak di telinga Naruto

"eh… apa? ada kebakaran ya..?" Tanya Naruto dengan panik

" gak ada kok, Nah sekarang tusuk aku dengan pisau ini, dan pas-"ucapan Shion yang menyuruh Naruto untuk menusuk dirinya membuat Naruto terkejut

"apa kau sudah gila? Itu sama saja dengan percobaan pembunuhan pada seoarng gadis kau mengerti? Dan aku bisa juga masuk penjara bila kau mati " Naruto yang lepas control langsung memarahi Shion

" hei dengarkan aku dulu… aku kan belum selesai bicara. Kau lihat pisau ini aku akan menusuknya sendiri saja" Shion memegang pisau yang tadi diberikannya pada Naruto dan ingin memusuk dirinya sandiri.

"heah!" Shion terlihat sekuat tenaga menusuk perutnya tapi… ada yang aneh karna pisau itu seperti terhalang oleh sebuah dinding tak kasat mata, pisau yang digenggam Shion perlahan membengkok ke belakang karna Shion mendorong pisau itu sekuat tenaga ke perutnya

"wow… hebat kau Shion …belajar ilmu sulap dari mana?" Naruto sangat kagum karna pisau iru bukannya menusuk perut Shion malah bengkok ke belakang

" ih…. Ini itu bukan sulap tapi… karna pelindung kalung ini tau…. Oh iya satu lagi kalung ini berbalik melukai orang yang memakai apa bila sang pemakai bukan dari klan Yamanaka mengerti?" Tanya Shion pada Naruto yang sekarang sedang terlihat mengkhawatirkan Hinata

"jadi… Hinata terluka karna kalung itu… berarti aku harus segera melepas kalung itu… BAIKLAH kuputuskan untuk melepas kalung itu " ucap Naruto entah pada siapa

"baiklah Shion terima kasih atas infonya ya… dan semoga kita bertemu lagi di lain waktu…dah…." Setelah berpamitan dengan Shion Naruto segera menghampiri Sai dan Sasuke

"ya… semoga kita bertemu lagi kak Naruto….." setelah menjawab salam perpisahan Shion pergi dari tempat itu menuju sebuah ruangan yang ternyata berisikan ayahnya yang sedang koma

.

.

.

Setelah meninggalkan Shion Naruto segera menghampiri Sasuke "hei Teme! Apa… Hinata sudah keluar dari masa kritisnya?" Tanya Naruto pada Sasuke yang hanya ditanggapi dengan 'Hn.

"oh jadi… apakah kita bisa menjenguknya sekarang?" Tanya Naruto pada Sasuke

"Hn. Belum Dobe dokter bilang Hinata tidak boleh dijenguk sampai nanti malam, tenang saja nanti malam kau boleh menemani Hime-mu kok dan… apakah kau melihat Sakura-ku?" Tanya Sasuke pada Naruto dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Naruto

"ini aneh sejak dari hotel sampai sekarang aku tidak melihat Sakura iya kan dobe? Eh mana si dobe? Ah sudahlah lebih baik aku segera kembali ke hotel dan mencari Sakura" setelah selesai berbicara sendiri Sasuke segera pergi ke luar rumah sakit dan mencari taxi

.

.

Di tempat Shion berada

Di sana tampak sorang gadis berambut pirang panjang terurai tertidur di lengan seorang laki-laki berambut pirang panjang sepertinya sedang membuka mata perlahan.

lelaki itu mencoba menggerakkan tangannya namun seperti ditahan oleh sesuatu atau lebih tepatnya seseorang ia mencoba menggerakkan bibirnya yang terasa kaku dan memanggil nama gadis yang tertidur di lengannya

"Shion…. Bangun nak" ucapnya lirih, tapi tampaknya berhasil membangunkan sang gadis yang ternyata bernama Shion

"ah.. ayah sudah bangun…"Shion kembali memejamkan mata namun begitu sadar apa yang ia ucapkan ia langsung membuka mata "AYAH SUDAH SADAR!, DOKTER… AYAHKU SUDAH SADARCEPAT KESINI PERIKSA KEADAANNYA"Shion berteriak-teriak memanggil sang dokter yang tak kunjung datang

"sudahlah Shion…..jangan berteriak seperti itu….. apa kau tidak malu….. kita kan bisa memanggil dokter dengan memencet tombol ini iya kan?" Ayah Shion yang baru sadar dari komannya selama 8 tahun segera menenangkan Shion yang sedang berteriak-teriak

"eh… iya juga ya… ngapain aku teriak-teriak tadi bikin sakit tenggorokan aja" Shion memarahi diri sendiri dan kejadian tadi bisa dikategorikan ke OOC-an Shion sudah masuk tingkat dewa *menurut Hibi (singkatan dari Hibino kalau gak suka bilang ya…..)*

Setelah mendengar Shion berteriak-teriak dan ayahnya yang terus menerus memencet tombol datanglah sang dokter berambut pirang dan di kuncir dua dibelakang kepalanya dengan wajah penuh keringat karna berlari dari lorong pertama ke lorong ke tiga *readers:wuidih teriakan Shion kenceng banget sampe kedengeran ke lorong satu padahal bapaknya sakit di lorong tiga) kenapa jadi curcol*

Setelah selesai memeriksa ayah Shion *saya gak nulis nama ayahnya padahal saya tahu namanya,tapi karna saya gak tahu gimana tulisannya jadi gak saya tulis dari pada salah mending gak usah di tulis kan(itu sih menurut Hibi)* dokter bertanya "apakah anda meresakan agak sakit di kaki?"

"um…. Lumayan kaki saya agak nyeri sedikit dan sulit digerakan"jawab ayah Shin pada dokter. Dokter berambut pirang itu tampak mengerti dengan jawaban ayah Shion

"munkin itu efek karna anda koma selama 8 tahun, dan selama 8 tahun kaki anda tidak pernah digerakan jadi… beberapa hari kedepan anda akan melakukan terapi jalan apakah anda bersedia?" Tanya dokter perambut pirang itu pada ayah Shion

"tentu saja saya bersedia… karna saya pasti ingin bisa berjalan lagi" ayah Shion menjawab dengan mantap pertannyaan dokter tersebut

Setelah mendengar jawaban dari ayah Shion dokter tersebut berpamitan pergi untuk memeriksa pasien yang lain. Shion segera mengantar dokter ke depan pintu dan memastikan dokter tersebut telah pergi ke ruang pasien yang lain, Shion sefera berlari kea rah ayahnya dan bertanya sesuatu.

Pembicaraan mereka berdua cukup serius dan berakhir dengan wajah shock Shion yang mendengar cerita ayahnya "nah begitulah silsilah tentang kalung yang ada di klan Yamanaka. Memangnya kenpa Shion kau tiba-tiba bertanya tentang kalung?" setelah mengakhiri cerita ayah Shion bertanya kenapa Shion menanyakan perihal tentang kalung mereka

"ah… taka pa ayah aku hanya ingin tahu saja kok hehehe…"Shion menjawab dengan wajah ceria namun batinnya sedang sangat mengkhawatirkan seseorang

_sSs_

.

.

Di kamar rawat Hinata

.

.

.

Di atas tempat tidur terlihat Hinata yang terbaring dengan lemah, Hinata perlahan membuka mata dan menampilkan iris aquamarine yang bukan miliknya. sementara di sebelahnnya tertidur Naruto sambil menggenggam tangannya

Namun pandangan si gadis tertuju pada Sai yang tertidur di sofa dengan posisi yang bisa dibilang kurang nyaman,Hinata perlahan melepas genggaman tangan Naruto dan perlahan turun dari tempat tidur dan mengambil pisau yang ada di atas meja lalu berjalan perlahan ke arah Sai yang tampak tertidur pulas

"heh….. Sai bisa-bisanya kau tertidu pulas disini sementara aku… kau tinggal sendiri. Dan sekarang lihat betapa menyedihkannya nasibku. Sekarang kau harus ikut merasakan ketakutanku." saat 'Hinata' berkata yang terdengar justru bukan suara 'Hinata' yang biasanya selalu lembut namun kata-kata sinis penuh dengan keinginan untuk membunuh, dan aura baik dan penyayang yang selalu berada di sekitarnya telah berubah menjadi hawa dingin dan hawa ingin membunuh

'Hinata' bersiap menghunuskan pisau yang tadi ia ambil diatas meja dan bersiap menusuk jantung Sai

'HEAHH!'

TBC…..

Yak… inilah chapter 3 dari fic abal saya yang pertama. Gimana seru gak? Kalo gak seru bilang aja ke Hibi karna berbagai review akan hibi terima dengan sengat senag hati entah itu flame maupun pujian *ngarep* pokoknya akan tetap di terima dengan senang hati deh

Oke udah cukup curcolnya*emang ini termasuk curcol ya* lanjut dengan ngobrol bareng chara:

Hibi:akhirnya fic terbaik sepanjang menit telah terpublish senangnya

Naruto: apa baiknya coba? Lihat Hime kan kasihan… huhuhu….*ini beneran Naruto bukan sih*

Hibi: oke-oke tenang aja Naruto-chan chapter depan Hime-mu pasti gak bakal luka lagi aku janji deh

Naruto: bener ya…. Awas kalo bohong guwa rasengan lu…

Hibi:tenang aja Nar… guwa bakalan tepatin janji kok…. Oh ya.. mana yang laen?

All *kecuali Hinata*: kita disini! males denger lu berdua ngobrol yang gak penting

Naruto: hoi masa gak penting sih, init uh demi keselamatan Hime tau

Hinata: *pingsan di tempat karna mendengar perkataan Naruto*

Sai : terserah lu dah kita mau pergi dulu ya…. Jaa…. Naruto

Naruto: hoi… masa guwa ditinggal sih,*ngelirik Hinata* Hinata… ayo bangun

Hibi: mari kita tinggalkan Naruto dan Hime-nya bermesraan,lebih baik kalian denger ocehan Hibi aja yah XD *emang ada yang mau denger*

oh ya buat kalian yang masih setia ngikutin alur cerita Hibi tapi gak ngeriview Hibi ucapin terima kasih banget

tanpa kalian yang ngebaca doank sama ngeriview doank *emang ada ya* atau yang keduanya terima kasih sebanyak-banyaknya

Akhir kata

Review Please ^^v

R

E

V

I

E

W