Title : Nagai Hikari (Long Light)
Cast : Baekhyun & Chanyeol
Genre : Romance, Brothership, Hurt/Comfort, Family
Type : YAOI/BL/Shounen-ai
Rate : T
Disclaimer : terinspirasi dari komik karya Ikeyamada Go "I Love You Shuzuki-kun" dan lagu AKB48 "Nagai Hikari"
Please do not copy-paste without my permission or steal the story! Thanks and enjoy!
Chapter 1 © Queeney
-Love is not a burning blaze, but rather a breeze as warm as the sun-
Buku diary itu masih disana. Sampulnya masih berwarna kuning walau tidak lagi secerah cahaya matahari yang seringkali Baekhyun samakan dengan senyum milik nya. Lembar pertama isi diary itu bisa saja terlihat menyedihkan, tapi goresan cerita yang pernah Baekhyun tuang ke dalam lembaran tengah hingga akhir halaman, terlihat lebih ceria dibanding rangkaian lagu bernada indah yang pernah dilantunkannya.
Sudah dua tahun Baekhyun tidak bertemu dengan sosok itu. Senyum lima jari nya tentu saja sangat Baekhyun rindukan. Tapi sesuatu yang terselip diantara senyuman yang merangkai kata cinta di sudut hatinya itulah yang paling membuat Baekhyun ingin bertemu kembali dengan nya.
Baekhyun ingin kembali melantunkan irama klasik yang melambangkan kisah mereka. Sekali lagi saja, Baekhyun berharap suaranya–yang teredam oleh rasa benci–kembali menemukan sayap miliknya dan berusaha terbang bersama angin yang dahulu pernah menuntunnya mencapai langit.
"Aku tidak bisa terbang dengan satu sayap, bodoh"
Bisikan pelan yang meruntuhkan kesan hening mencekam dalam kamar bernuansa putih itu lolos dari bibir Baekhyun yang terbuka. Ia berdiri di dekat jendela, menatap salju yang menimbun perkarangan rumah. Baekhyun tidak pernah membenci musim dingin, tapi untuk kali ini saja ia berharap musim semi datang lebih cepat. Ia berharap saat kakinya menginjak Korea Selatan, ia dapat melihat kembali cahaya panjang yang memantul dari dasar kolam ikan kecil yang terletak tepat di depan jendela kamarnya yang lama.
-ooo-
4 years ago
Baekhyun tidak pernah mengira bahwa ia akan menjalin kasih dengan seseorang saat dirinya menginjak usia 15 tahun. Menurutnya itu adalah usia yang sangat muda untuk mengerti arti cinta. Dari dulu Baekhyun mengkategorikan lingkungan dimana ia tinggal sebagai tempat sederhana yang tidak akan mengundang banyak orang untuk melihatnya. Ia cukup senang dengan kehidupannya yang biasa-biasa saja, punya beberapa teman dekat, dan sesekali membolos sekolah hanya untuk bermain di game center.
Kehidupannya yang kini berubah 180 derajat, dikarenakan oleh suatu kejadian yang dialaminya tepat dua bulan lalu. Saat ia bertemu dengan namja itu, seorang namja berparas tampan dan tubuh yang tingginya jauh melampaui Baekhyun. Ia tidak begitu tertarik saat mata namja itu beradu pandang dengannya, dan ia juga tidak menghiraukan saat teman-temannya sibuk bertaruh untuk mendapatkan namja itu.
Baekhyun pikir selain senyum lebar dan tubuh tingginya, Baekhyun tidak melihat sesuatu yang lebih lagi dari namja yang seringkali menjadi perbincangan tersebut. Tentu saja takdir punya jalannya sendiri. Ia tidak akan memberikan petunjuk kemana ia akan berhembus, siapa yang akan ia permainkan ataupun ia rubah jalur kehidupannya.
Kembali pada hari itu. Hari yang cerah seperti biasa, semilir angin yang menjadi teman akrab Baekhyun setiap ia bernyanyi di rooftop sekolah, kali ini terasa lebih bersemangat dari pada biasanya. Senyum manis terukir di sudut bibir namja cantik itu.
Baekhyun memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati sebentar belaian lembut musim gugur di pipi putihnya. Kedua tangan Baekhyun bertautan di depan dagu, berusaha menanamkan emosi yang pas untuk sebuah lagu yang akan dilantunkannya.
Hanbeonman ne mameul durojwo
Every day every night I am missing you
Nae gyeote eobseodo ijen bolsu eobseodo
Eonjena ne mamen tokatheun neo ingeol
(fly to the sky – missing you)
Suara indah itu mengalun pelan, keluar dari celah bibir Baekhyun yang terbuka. Sebuah lagu yang pernah di populerkan oleh salah satu penyanyi kesukaan Kyungsoo, sahabatnya.
Prok prok prok
Tepuk tangan heboh yang terdengar dari arah belakangnya membuat Baekhyun seketika berpaling. Fokusnya menangkap sosok tampan dan bertubuh tinggi yang menatap ke arah Baekhyun dengan cengiran lebar terukir di sudut bibirnya.
"Wow! Suaramu indah sekali" suara berat itu memasuki kedua gendang telinga Baekhyun.
Dengan cengiran yang sama, namja tampan yang kini telah berada tepat di hadapan Baekhyun tersebut, tanpa pikir panjang menarik tangan kanan Baekhyun dan menggenggamnya erat. Matanya tampak berbinar-binar saat membalas tatapan terkejut dari Baekhyun, seolah ingin menyampaikan pada sang namja cantik bahwa ia benar-benar terpesona dengan suaranya.
Baekhyun menarik cepat tangan kanannya saat kesadaran membawanya kembali menginjak bumi. Dengan bergegas Baekhyun berbalik dari tempatnya berdiri dan berlari meninggalkan rooftop sekolah yang biasanya menjadi tempat persembunyian pribadinya tersebut.
"Hei! namamu siapa?"
Baekhyun masih dapat mendengar teriakan dari namja tinggi yang kini tengah berusaha mengejarnya. Dengan tekat hati yang kuat untuk menjauh, Baekhyun memaksa kakinya berlari lebih kencang hingga akhirnya telinganya tidak lagi menangkap suara berat itu.
Nafas Baekhyun memburu seiring punggungnya kini menyandar pada salah satu dinding lorong sekolahnya. Tangannya mengusap dadanya, berusaha membantu paru-parunya untuk menangkap lebih banyak oksigen.
"Ya ampun, siapa orang aneh itu?" ujar Baekhyun saat ia sudah dapat berdiri dan bernafas lebih normal. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, mengecek apakah ia benar-benar sudah berhasil kabur. Syukurlah Baekhyun tidak dapat menemukan sosok jangkung itu.
Baekhyun tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang berhasil menyusup ke daerah yang telah dicapnya sebagai tempat pribadinya. Rooftop sekolah memang terlarang bagi para siswa. Kunci akses menuju kesana pun hanya dimiliki oleh penjaga sekolah dan dirinya saja–yang kebetulan menjabat sebagai ketua murid.
Setiap istirahat kedua biasanya Baekhyun menghabiskan waktunya disana. Hanya di tempat itulah Baekhyun dapat bernyanyi tanpa beban. Menyalurkan bakat terpendam yang dimilikinya. Selain hyung nya, tidak ada lagi orang yang tahu akan hal ini. Bahkan Kyungsoo saja yang telah menjadi sahabatnya semenjak lahir belum pernah sekali pun mendengarnya bernyanyi.
Betapa Baekhyun tidak terkejut jika seseorang tiba-tiba saja memuji suaranya dan menggenggam tangannya. Baekhyun memang tidak suka hubungan yang sedikit intim dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi dalam kasus ini Baekhyun belum pernah sekalipun melihat namja jangkung itu.
Baekhyun merapikan seragamnya dengan seksama, ia agak risih jika seseorang melihatnya berpenampilan tidak rapi. Walaupun Baekhyun bukan siswa kutu buku yang tidak pernah membolos ataupun dihukum karena lupa mengerjakan tugas, setidaknya ia tidak pernah melanggar peraturan sekolah mengenai tata krama dan kerapian. Bukan karena posisinya sebagai ketua murid, tapi karena ia memang tidak ingin memberikan kesan buruk terhadap orang-orang yang mengenalnya.
Baekhyun melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah lewat 10 menit dari jadwal jam masuk, pantas saja Baekhyun tidak menemukan satu pun murid saat ia berlari tadi. Pastilah karena terlalu panik, Baekhyun tidak mendengar bel masuk berbunyi. Baekhyun menghela nafas pelan, menyisir rambutnya sekilas dengan tangan kanannya, kemudian berjalan menuruni tangga menuju kelasnya yang terletak di lantai dua.
Suasana yang cukup sunyi itu membuat pikiran Baekhyun melayang pada hyung nya yang sebentar lagi akan pergi ke Inggris guna melanjutkan study musiknya. Baekhyun sebenarnya tidak setuju dengan keputusan ini, tapi ia tidak tega menjadi penghalang masa depan hyung nya. Apalagi alasan terbesar kenapa ia tidak ingin Suho pergi adalah karena kedua orangtuanya. Baekhyun merasa menjadi dongsaeng yang paling buruk jika ia menghentikan hyung nya tersebut dengan alasan–yang mungkin- cukup konyol itu.
Baekhyun menghela nafas perlahan. Teringat akan sikap kedua orangtuanya terhadap dirinya, membuat hati Baekhyun sakit. Ia tidak mau pikirannya dipenuhi hal-hal yang sudah lama menyayat hatinya tersebut, maka Baekhyun beralih mempercepat langkahnya menuju kelas.
Baekhyun membuka pintu belakang kelas dengan perlahan, berniat menyelusup masuk tanpa menarik perhatian teman-temannya terutama sang seongsaengnim yang mengajar di kelas. Tapi niatnya hanya tinggal niat saat seseorang yang tengah berdiri di depan kelas, melambai dengan bersemangat ke arahnya dan berseru lantang, "OH, SI SUARA MALAIKAT! ANNYEONG!".
Cengiran lebar yang telah terekam jelas di dalam otaknya tersebut, membuat Baekhyun terlonjak kaget. Matanya yang semula sipit, kini melebar. Baekhyun tidak bisa menentukan apakah rasa terkejutnya ini dikarenakan ia tidak berhasil memasuki kelas dengan diam-diam ataukah karena ia kembali berhadapan dengan seseorang yang setengah jam lalu mendengarnya bernyanyi kemudian mengejarnya dari atap sekolah.
"Maaf seonsaengnim, saya terlambat" Baekhyun membungkuk dalam, menyatakan rasa menyesalnya atas keterlambatannya memasuki kelas.
Shin seonsaengnim mengangguk singkat dan menjawab, "Ya, duduklah Baekhyun." tanpa berniat memberikan Baekhyun hukuman. Baekhyun tersenyum kecil dan kemudian berjalan ke bangkunya tanpa mengindahkan lambaian semangat dari namja yang masih berdiri di depan kelas tersebut.
Baekhyun menyadari tatapan iri sekaligus curiga dari teman-teman sekelasnya. Ia hanya mendengus kesal tanpa berniat menanggapi. Kepalanya kini ia arahkan ke luar kelas, menatap murid-murid yang tengah bermain sepak bola di lapangan dari jendela kelas yang tepat berada di sisi kanan tempatnya duduk.
Kelas sudah lama hening saat Baekhyun tidak lagi merasa tertarik dengan para anggota klub sepak bola tersebut dan beralih menatap ke arah seonsaengnim yang ternyata sudah mulai mengajar. Baekhyun simpulkan bahwa ia baru saja melewatkan perkenalan 'ala murid baru' yang dilakukan namja tinggi dengan senyum bodoh itu.
Sebuah kertas melayang jatuh di hadapan Baekhyun saat ia mencatat penjelasan seonsaengnim dalam buku catatannya. Baekhyun memungut kertas yang telah diremas menjadi seperti bola itu dan kemudian membukanya dengan malas.
"Hei, jadi namamu Baekhyun?"
Tulisan singkat itu rupanya membuat Baekhyun jengkel, entah karena apa. Ia meremas kembali kertas itu tanpa menuliskan balasan seperti yang seharusnya. Baekhyun mengedarkan pandangannya dan tatapannya jatuh pada sosok yang tengah menatapnya intens, duduk hanya berjarak satu bangku darinya.
Baekhyun melempar remasan kertas itu kembali kepada pemilik asalnya. Kertas itu tepat mengenai wajah sang namja bertubuh tinggi, kontan saja sebuah kekehan lolos dari bibir Baekhyun tanpa disadarinya. Semua mata kini kembali mengarah kepada Baekhyun, menatap aneh padanya yang tertawa tiba-tiba padahal saat itu mereka tengah belajar matematika.
Sebuah umpatan pelan lolos dari bibir Baekhyun saat ia menyadari tatapan Shin seonsaengnim yang menajam ketika langkah kaki lelaki paruh baya itu tertuju padanya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan keras, meredakan rasa gugup di hatinya. Well, Baekhyun belum pernah mendapat masalah dengan gurunya sebelum ini, jadi ia tidak tahu bagaimana menanggapi kalau nanti Shin seonsaengnim bertanya.
"Apa yang kamu tertawakan Byun Baekhyun?" desis tajam itu membuat Baekhyun menjadi lebih gugup lagi dari sebelumnya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap balik pada Shin seonsaengnim yang tengah berkacak pinggang.
"Maaf seonsaengnim, tadi aku yang mengganggunya"
Suara berat yang tentu saja bukan berasal dari Baekhyun itu kini membuat semua orang termasuk sang seonsaengnim berbalik. Sosok itu menjawab dengan cengiran lebar di wajahnya, entah dia sadar atau tidak bahwa cengiran itu hanya akan membuat seseorang yang tengah menahan amarah akan menjadi lebih bertambah lagi emosinya.
Shin seonsaengnim berjalan ke arah murid baru tersebut. Sebenarnya ia tidak mau memperlihatkan image nya sebagai guru killer pada hari pertama murid barunya itu bersekeloh, tapi rupanya ia tidak bisa. Maka seiring sebuah tepukan keras di meja dan semua mata yang terbelalak kaget–termasuk sang murid baru–telunjuk Shin seonsaengnim kini mengarah tegas ke pintu kelas yang tertutup.
"Silahkan pulang lebih dulu Park Chanyeol!"
Sebaris kalimat bernada tajam itu membuat cengiran konyol namja bernama Chanyeol tersebut pudar dan digantikan dengan senyum kecut serta anggukan kecil dari kepalanya. Ia bergegas membereskan buku-bukunya tetapi terhenti sekilas saat telinganya mendengar seruan lain dari sang seonsaengnim.
"Kamu juga Baekhyun! Tidak ada pengecualian untuk ketua murid"
Segaris senyum tipis menghiasi wajah Chanyeol saat ia kembali melanjutkan kegiatannya, memasukan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas. Dilain pihak, Baekhyun berusaha keras menahan ekspresi kesalnya mendengar perkataan Shin seonsaengnim. Ia tersenyum kecut dan mengangguk singkat sebelum ikut membereskan mejanya.
Chanyeol berjalan keluar kelas lebih dulu dari Baekhyun. Sepertinya karena terlalu senang, ia jadi lupa untuk membungkuk pada guru matematikanya itu sebelum meninggalkan kelas. Sementara itu, Baekhyun yang memang tidak ingin citranya sebagai murid berkelakuan baik tercoreng, membungkuk lebih dalam kepada Shin seonsaengnim dan mengucap maaf dengan kepala tertunduk. Ia baru meninggalkan kelas saat Shin seonsaengnim menjawab–
"Lain kali jangan lakukan lagi"
–padanya.
Tidak seperti hari-hari lainnya, kali ini Baekhyun memutuskan untuk tidak menggunakan bus menempuh jalan pulang. Apalagi rumahnya sebetulnya hanya berjarak beberapa blok dari sekolah. Memang akan memakan waktu yang cukup lama dan melelahkan juga jika ia berjalan kaki, tapi ia sedang malas menggunakan bus saat itu. Yah, sebenarnya salah satu alasan lainnya adalah ia tidak ingin dimarahi saat sampai di rumah nanti karena ia pulang sebelum jadwal sekolah usai.
Baekhyun mengambil arah kiri alih-alih kanan yang akan menuntunnya menuju halte. Ia cukup jarang melewati jalan itu, tapi mengingat alasan tadi yang menurutnya cukup logis–dan juga setimpal dengan rasa penat yang akan menggerogotinya nanti–membuatnya mengurungkan niat untuk membatalkan keputusannya.
Baekhyun merogoh saku jas sekolahnya dan mengeluarkan earphone yang biasanya ia pakai jika sedang tidak ingin diganggu. Ia mencolokkan earphone tersebut pada handphone nya kemudian memasangkan ujungnya ke telinga. Sembari kembali berjalan, ia mengotak-atik deretan lagu yang ada di dalam handphone, mencari lagu yang sekiranya pas dengan suasana hatinya.
Baekhyun hendak menekan tombol 'play' pada layar handphone nya yang sudah menampilkan judul lagu yang ia inginkan saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Baekhyun yang sebelumnya memang pernah mempelajari hapkido (beladiri Korea) kontan menepis tangan tersebut dan dengan tangkas berbalik. Tangan kanan Baekhyun hendak ia layangkan pada pundak orang yang menganggetkannya tersebut saat tiba-tiba tubuhnya terhempas ke pagar dinding salah satu rumah di pinggir jalan.
Sebuah klakson mobil dan sekilas umpatan memenuhi gendang telinga Baekhyun saat namja cantik itu tiba-tiba saja tersadar bahwa ia tadi nyaris saja tertabrak mobil karena berdiri keluar dari trotoar pejalan kaki.
Mata Baekhyun mengerjap berkali-kali karena rasa kaget yang masih belum hilang darinya dan juga karena rasa bingung saat menyadari bahwa posisinya sekarang terpenjara oleh tangan kokoh seorang namja yang sedang terengah mengatur nafasnya yang memburu, seolah ia baru saja berlari cukup jauh.
"Astaga, apa kau seceroboh itu aslinya? Untung saja aku bisa menarikmu! Kalau tidak, bisa gawat" Suara berat yang sarat akan kecemasan itu seketika menyadarkan Baekhyun. Ia mendorong namja tinggi yang ia ketahui bernama Chanyeol itu menjauh darinya. Tentu saja ia tidak mendorongnya terlalu kuat karena Baekhyun agak trauma juga dengan kejadian sesaat lalu.
"Aku bukan ceroboh, tapi kau yang mengagetkanku!" ujar Baekhyun. Dengan suara ketus dan tatapan yang tajam. Walaupun hatinya mengingatkannya untuk mengucap 'terima kasih' pada penolongnya tersebut, tapi logikanya yang lebih mementingkan harga diri rupanya tidak mengizinkan.
Tatapan yang saling beradu dengan sorot yang berbeda itu mengisi kesunyian yang merayap di sekitar mereka. Keduanya tidak saling berbicara untuk beberapa saat. Pada sisi namja bertubuh mungil, ia bertekat mempertahankan ekspresi kesalnya meski hatinya terus merutuki kekeraskepalaannya.
Sedang pada sisi yang lebih tinggi, sebaliknya kepalanya berkali-kali mengingatkan dirinya untuk mengucap maaf tapi rupanya jantungnya saat ini tidak sedang dalam kondisi normal. Karena sang namja tinggi terus saja merasakan darahnya berdesir hebat setiap kali mata mempesona itu beralih dan beradu pandang dengan bola matanya sendiri–setelah berkali-kali menjelajah mengamati fokus lain di sekitar mereka.
Seperti beberapa hal lain yang seringkali tidak bisa diartikan lebih dari sekedar kebetulan atau pun seperti beberapa fakta yang tidak ditemukan sumber awalnya. Baekhyun tidak bisa menyimpulkan apakah ia tengah berada dalam imajinasi liar miliknya ataukah kelembutan dan rasa hangat yang menyapa bibirnya itu adalah–seperti yang diketahui–memang sebuah ciuman dari sosok asing yang baru saja ditemuinya dalam kurun waktu kurang dari 2 jam.
Hangat matahari yang menyelip di antara celah hembusan nafas mereka yang saling mengenai pipi sosok dihadapannya, serta sebuah klakson mobil lain yang mengisi gendang telinganya, berhasil membuat Baekhyun terlonjak dengan mata sipitnya yang terbelalak lebar.
Tautan bibir itu terlepas tapi kehengatan lain yang sesaat lalu mereka salurkan bersama melalui bibir masing-masing, masih terasa jelas dan itu kontan membuat wajah keduanya merona. Keheningan lain menyusul. Baekhyun tidak tahu apa yang tengah dirasakannya dan seketika kesal pada dirinya sendiri karena ia tidak menemukan ada amarah yang seharusnya kini menyelimuti hatinya.
Demi apapun itu adalah ciuman pertamanya. Menjadi tidak masuk akal karena ia memberikannya begitu mudah pada orang yang baru dikenalnya. Terlebih lagi orang ini adalah orang yang beberapa saat sebelumnya ia cap sebagai pengganggu yang memiliki senyum konyol.
"Ern aku..." penggalan kata tanpa makna itu lolos dari bibir Chanyeol. ia tidak menatap Baekhyun lagi karena takut akan melakukan hal bodoh lainnya terhadap namja cantik itu. ia tahu ia sudah merusak semuanya dengan mencium Baekhyun secara tiba-tiba hanya karena sebuah bel tidak pasti yang memenuhi gendang telinganya saat matanya tidak sengaja beralih menatap bibir mungil yang menggoda itu.
Baekhyun masih terdiam di tempatnya, entah menunggu apa. Sepertinya kakinya lupa bagaimana cara berlari atau sekedar melangkah meninggalkan rasa canggung dan memalukan yang memenuhi atmosfir tempat tersebut. Hanya sedikit bagian dari tubuhnya yang dapat berfungsi saat ini. Selain organ dalamnya, Baekhyun bersyukur saat kepala dan matanya masih bisa bersikap rasional karena kini ia tidak lagi menengadah menatap Chanyeol tapi hanya menunduk dan matanya menemukan kesenangan dalam menatap sepatunya.
Jari-jari panjang yang perlahan menyelip di antara jari-jari cantik milik Baekhyun membuatnya kembali menengadah menatap Chanyeol. Namja itu sudah menemukan kembali cengirannya walaupun tidak selebar dan senormal yang pernah dilihat Baekhyun dalam waktu singkat yang telah mereka lewati. Baekhyun bisa menyimpulkan bahwa itu adalah cengiran gugup khas milik Chanyeol.
"Maafkan aku. tapi tolong jangan membenciku"
Kalimat singkat itu mau tidak mau membuat Baekhyun bertanya pada hatinya apakah ia membenci namja itu karena telah seenaknya mencuri ciuman pertamanya. Ia memang tidak mudah membenci seseorang tapi seharusnya Chanyeol merupakan pengecualian karena kejadian sesaat lalu.
Lagi-lagi Baekhyun merasa kesal pada dirinya karena ia tidak menemukan kebencian disana. Bahkan alih-alih benci, kini semburat merah kembali menguasai wajah Baekhyun saat lidahnya tanpa sadar membasahi bibirnya dan sekelebat rasa lembut nan memabukkan yang sesaat lalu diberikan Chanyeol pada bibirnya terbayang jelas di dalam kepalanya.
"Aku... tidak tahu" Tutur Baekhyun pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Well, itu ucapan bodoh pertamanya semenjak ia mulai memakai otak untuk berbicara pada orang lain–singkatnya, tumbuh dewasa. Sebelum ini ia tidak pernah lupa untuk mengingatkan dirinya bahwa cara ia berbicara akan mempengaruhi cara pandang orang-orang terhadapnya. Begitulah setidaknya hal yang selalu ia tekankan di dalam kepalanya untuk mengurangi sedikit intimidasi yang terjadi dalam ruang lingkup lebih pribadi disebut keluarga.
"Kalau begitu jangan coba untuk membenciku" tanggap Chanyeol dengan tangkas sesaat berikutnya. Ia tersenyum senang mendapati tangan Baekhyun yang berkeringat di dalam genggamannya. Menyimpulkan bahwa itu berarti kemungkinan terburuk yang dibayangkannya telah lewat tanpa ada halangan berarti.
Baekhyun mengangkat tangan kanannya yang terbebas dari belenggu, menuju bagian belakang kepalanya. Tidak merasa gatal tapi ada sesuatu yang mendesaknya untuk menggaruk gugup bagian belakang kepalanya tersebut.
Baekhyun mengangguk kecil sebagai tanggapan untuk ucapan Chanyeol yang terkesan menuntut dan sangat tidak sopan–jika saja Baekhyun berada pada pikirannya yang rasional–. Tapi sayangnya Baekhyun masih terlalu terpesona dengan kilasan akan ciuman pertamanya, jadi ia melupakan begitu saja fakta bahwa kali pertama ia bertemu dengan Chanyeol adalah pada saat ia bernyanyi di tempat 'pribadinya' dan setelahnya ia kabur dari namja tinggi itu karena merasa terganggu.
Baekhyun juga lupa bahwa keadaan saat ini dimana ia dan Chanyeol tidak berada di sekolah padahal jam pelajaran terakhir masih berlangsung adalah dikarenakan rasa kesalnya pada namja tinggi itu yang mengganggu waktu belajarnya dengan secarik kertas konyol dan mengakibatkan mereka terkena amukan guru matematika mereka yang terkenal sangat disiplin.
"Perkenalkan namaku Park Chanyeol" perkenalan singkat yang terkesan tidak pada tempatnya itu–karena bibir mereka bahkan sudah lebih dulu saling mengenal–hanya dibalas Baekhyun dengan senyum gugup dan satu garukan lagi di belakang kepalanya, serta ucapan pelan–
"Aku Byun Baekhyun"
–yang lolos dari bibirnya yang bergetar.
Hari itu menjadi hari bersejarah diantara semua hari bersejarah yang pernah Baekhyun catat dalam buku diary nya yang tampak tua tapi terawat. Ia menggoreskan kumpulan-kumpulan kata itu menjadi barisan kalimat yang cukup sulit jika dibaca ulang oleh orang yang tidak berada di tempat kejadian. Karena Baekhyun berkali-kali mencoret di beberapa tempat sebelum menulis lagi di bagian atas coretan.
Terkadang Baekhyun tidak sadar bahwa ia terlalu bersemangat untuk mengetahui bahwa bagian belakang lembaran kertas yang tengah ditulisinya kini penuh goresan-goresan tipis yang menandakan Baekhyun menekankan pulpennya secara berlebihan.
Baekhyun mengakhiri kencan singkat bersama diary nya tersebut dengan segaris senyum tipis di sudut bibirnya. Ia tidak pernah merasa begitu dekat terhadap orang yang baru saja dikenalnya lebih dari pada yang dirasakannya terhadap Chanyeol. Sejujurnya ia tidak ingat bahwa ia pernah se-positif itu menilai seseorang yang baru beberapa jam dikenalnya. Seseorang yang bahkan telah berhasil mencuri dua hal paling berharga dalam hidupnya. Kemampuannya bernyanyi yang ia rahasiakan dari semua orang. Juga ciuman pertamanya.
Ia masih mengingat cengiran lebar yang Chanyeol lemparkan padanya, saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Baekhyun. Jangan tanyakan apa saja yang terjadi selama perjalanan, karena itu akan menjadi kisah panjang lain yang akan memenuhi diary Baekhyun sebelum ia menyadarinya.
Maka Baekhyun mengurungkan niat untuk kembali menggali kilasan lebih dalam tentang perkenalannya dengan Chanyeol seiring detik jam di sisi meja belajar yang menyadarkannya bahwa ia sudah terlalu lama melewatkan jam tidurnya.
Baekhyun berbalik dan berjalan menjauhi meja belajar, membawa buku diary di tangan kirinya. Buku itu ia selipkan di bawah bantal yang tidak terpakai di sebelahnya, kemudian–dengan segaris senyum lagi–menjatuhkan kepalanya pada bantalnya yang biasa. Ia menyamankan diri lalu menutup mata, bersiap untuk menyambut mimpi indahnya. Well, ia bisa menebak kalau ia akan bermimpi indah. Ia punya firasat bagus mengenai itu.
[flashback end]
-ooo-
"Sudah selesai berkemas Baek?"
Sebuah ketukan pelan yang diikuti oleh suara lembut milik Suho, membawa pikiran Baekhyun kembali berada di kamarnya. Kelegaan mengikuti langkah kaki Baekhyun menuju pintu kamar. Ia membuka pintu tersebut dan kemudian tersenyum kecil pada sosok yang sedikit lebih pendek daripada dirinya itu.
"Belum hyung. aku menemukan diary lamaku! Tidak sadar aku malah sibuk membacanya" ujar Baekhyun dengan intonasi suara yang sedikit dipaksakan untuk terdengar ceria.
Suho menilik sejenak ekspresi wajah Baekhyun. Ia tahu bahwa Baekhyun menutupi sesuatu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak bertanya sesuatu hal yang mungkin saja akan membuat Baekhyun tidak nyaman.
"Ya sudah, kalau begitu cepat selesaikan lalu turun ke bawah, kau perlu makan sebelum kita berangkat ke bandara" Suho tersenyum penuh pengertian.
Sesaat tangan Suho terangkat mengusap kepala Baekhyun, berusaha menyalurkan pesan betapa ia sangat menyayanginya. Baekhyun tidak menemukan alasan bahwa Suho patut mendapatkan wajah sedihnya, maka ia balas tersenyum selebar yang ia bisa, bertekat membalas semua perhatian, kasih sayang, serta kebahagiaan yang telah diberikan Suho padanya.
"Iya hyung, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Ujarnya.
Baekhyun masih menatap punggung Suho yang perlahan berjalan menjauh dan hilang di balik belokan menuju tangga. Ia terpekur dalam pikirannya dan menyadari betapa beruntungnya ia memiliki Suho sebagai hyung nya.
Kendatipun Suho tidak bersamanya beberapa belakangan, tapi namja itu tidak pernah lupa meninggalkan pesan di email Baekhyun. Sesibuk apapun dirinya, Suho akan selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Baekhyun. Namja itu menanyakan segala sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi justru itulah yang membuat Baekhyun sangat berterimakasih. Terkadang hal-hal remeh bisa membuatmu merasa begitu berharga.
Sebuah tatapan panjang nan sendu, Baekhyun layangkan pada diary nya yang masih terbuka tepat di tengah halaman di atas tempat tidurnya. Ia tersenyum kecil pada coretan-coretan yang memenuhi lembar kenangan pertamanya saat bertemu namja bernama Chanyeol tersebut. Dalam hitungan jam, ia akan kembali menginjakan kaki di Seoul. Walaupun hatinya terasa berat mengingat apa yang telah terjadi, tapi pikiran tentang pertemuan kembali dengan cinta pertamanya memenuhi kepala Baekhyun hingga ia tidak lagi merasa perlu untuk mencemaskan segala hal.
"Kau pasti semakin tampan Chanyeol-ah" bisik Baekhyun terkekeh dan dengan cepat menyelesaikan mengepak barang-barangnya yang sebelumnya sempat tertunda.
-ooo-
TO BE CONTINUE...
yay~
gimana? lebih dari cukup 'kan panjangnya? semoga tidak mengecewakan dan teman-teman mau menunggu lanjutan ff ini hu hu
untuk light in the dark & roasting marshmallows akan secepatnya di update. chapternya udah dalam masa pengerjaan kok ^^
oh iya, buat teman-teman yang suka baca ff kyumin jangan lupa mampir ke acc aprilcouple ya... insyaAllah merupuri nya di update minggu ini!
okay, segitu dulu. review dari teman-teman akan ney balas di chapter berikutnya :D
