Please do not copy-paste without my permission or steal the story! Thanks and enjoy!
Chapter 2 © Queeney
-Love is not a burning blaze, but rather a breeze as warm as the sun-
.
Melalui jendela kaca di sisi kanannya, Baekhyun dapat melihat pemandangan kota Seoul yang dipenuhi gedung-gedung tinggi tapi tetap terlihat asri dengan berbagai jenis pohon yang tertanam di pinggir jalan. Rasa rindu akan kota kelahirannya tersebut rupanya untuk sesaat membawa pergi segala rasa cemasnya terhadap hal apa yang akan terjadi nanti saat orang-orang sadar bahwa ia telah kembali.
Baekhyun memang merindukan lampu sorot maupun kilatan kamera yang menyinarinya ketika berada di atas panggung, tapi disaat bersamaan ia merasa takut akankah sorotan tersebut tidak lagi bersinar dengan cara yang sama. Ia takut kilau suaranya yang telah menghilang dua tahun ini, tidak lagi mengeluarkan keindahan seperti sebelumnya. Segala ketakutan yang dirasakan Baekhyun membuatnya tanpa sadar mengelus tengkuknya berkali-kali.
"Jangan takut Baek, semuanya akan baik-baik saja" kata Suho menenangkan. Tangannya perlahan menggenggam tangan kiri Baekhyun yang terkepal di pangkuannya. Senyum kecil Baekhyun berikan pada Suho. Berterimakasih untuk usahanya menenangkan Baekhyun.
Mobil melaju dengan perlahan seperti yang diperintahkan Suho, maka Baekhyun bisa melihat berbagai tempat dengan jelas. Mata Baekhyun menangkap sebuah gedung sekolah yang terlihat masih sama kokohnya dengan saat ia tinggalkan, tepat beberapa meter di depan mobil mereka. Itu adalah tempat pertama yang ingin ia kunjungi.
Baekhyun hendak meminta sopir untuk berhenti tapi sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa sekarang bukan waktu yang tepat, jadi ia hanya ganti menatap gedung sekolah itu lama, alih-alih berucap sesuatu. Ia sebenarnya ingin melihat atap sekolah tempatnya dulu sering bernyanyi dan juga tempatnya pertama kali bertemu Chanyeol, tapi pandangannya tertutup oleh atap gedung yang lain. Ia menghela keras sebagai ganti rasa kesalnya.
"Kau ingin kita berhenti sebentar?" tanya Suho saat menyadari tatapan Baekhyun yang tidak beranjak dari gedung sekolah itu padahal mereka sudah cukup jauh melewatinya. Ia tahu itu adalah gedung sekolah Baekhyun yang lama.
Baekhyun menggeleng perlahan dan kembali memalingkan pandangannya ke depan, tidak lagi terarah pada gedung yang semakin lama semakin jauh tertinggal di belakang.
"Tidak hyung, aku ingin cepat-cepat istirahat" jawabnya yang diikuti anggukan mengerti oleh Suho.
Baekhyun membawa tubuhnya bersandar sembari menutup matanya sejenak. Sebuah kenangan di dalam kepalanya mendesak untuk keluar, maka ia menemukan dirinya berada dalam kepalanya sendiri yang tengah memutar ulang sepotong peristiwa dirinya bersama Chanyeol.
-ooo-
[flashback]
Pertemuan pertama yang lebih dari sekedar 'berkesan' itu menjadi lebih manis lagi pada hari dan jam-jam berikutnya saat Baekhyun menghabiskan waktunya berada di rooftop hanya berdua bersama Chanyeol.
Mereka tidak melakukan banyak hal selain duduk bersisian dan saling bertukar cerita mengenai berbagai hal yang pernah terjadi sebelum mereka bertemu. Cukup banyak kejadian menarik yang dicertikan Chanyeol pada Baekhyun yang membuatnya terkadang tidak bisa menahan tawa lebarnya hingga beberapa kali membungkuk sambil memegangi perutnya yang keram.
Kedekatan itu tidak terlihat banyak menuntut. Tidak ada kecupan bibir lainnya yang pernah terjadi semenjak kali pertama yang menyebabkan mereka menjalin hubungan–seperti yang terlihat–sebagai sahabat. Paling jauh hanya senggolan di rusuk, sedikit rangkulan atau genggaman hangat saat mereka berjalan menuju halte bus.
Baekhyun senang dengan adanya Chanyeol yang mengisi kekosongan saat ia sedang tidak bersama Kyungsoo yang memang berbeda kelas dengannya dan akhir-akhir ini agak sibuk dengan pacar barunya. Seperti yang pernah Baekhyun tegaskan sebelumnya, ia memang mudah menjalin pertemanan tapi hanya segelintir saja yang bisa mendapatkan status istimewa sebagai sahabatnya.
Maka jadilah pada setiap kesempatan, Baekhyun berkali-kali mengatakan pada Chanyeol bahwa namja itu beruntung bisa menjadi sahabatnya. Hal ini tidak terlalu menimbulkan masalah saat dua kali atau tiga kali Baekhyun membahasnya. Tapi raut masam dari Chanyeol pada kali keempat Baekhyun mengangkat topik yang sama, membuat Baekhyun sadar bahwa tidak begitu baik jika ia terus membanggakan hal tersebut lebih jauh.
Sebenarnya topik ini bukan diajukan Baekhyun tanpa alasan. Semakin ia mengingatkan Chanyeol akan hal itu, ia menemukan dirinya sadar bahwa hubungan mereka hanya sahabat dan tidak lebih. Itulah yang dibutuhkannya karena ia tidak mau memberikan harapan dalam hubungan mereka yang berawal dengan sedikit tidak normal.
Pada malam-malam saat Kyungsoo tidak berkunjung ke rumahnya atau saat Suho hyung menghabiskan malam di kamarnya sendiri tanpa melakukan pekerjaan rutinnya–mengecek Baekhyun–, ia menjadi lebih sensitif terhadapponselnya. Ia berkali-kali melirik benda kotak itu dengan pandangan harap.
Baekhyun tidak bisa membohongi dirinya lebih jauh bahwa ia benci dengan fakta Chanyeol tidak akan menghubunginya lebih dulu. Walaupun pada akhirnya–jika Baekhyun menelpon namja itu–Chanyeol lah yang lebih banyak berbicara hingga waktu dua jam tidak terasa terlewat begitu saja dengan Baekhyun yang menyamankan dirinya di atas tempat tidur dan earphone yang terpasang pada kedua telinganya.
Fakta lain yang akhir-akhir ini cukup membuat pikiran Baekhyun tersita adalah kenyataan bahwa Chanyeol tidak pernah memintanya bernyanyi. Padahal Baekhyun sudah menghafal lebih banyak lagu dalam berbagai genre musik kalau saja sewaktu-waktu Chanyeol ingin mendengarkan. Ia ingat bagaimana Chanyeol memanggilnya dengan 'si suara malaikat' saat kedua kalinya mereka bertemu. Baekhyun jadi ragu apakah itu hanya guyonan Chanyeol semata karena semakin Baekhyun mengenalnya, semakin ia tahu bahwa Chanyeol tipe yang susah sekali ditebak isi hatinya yang sebenarnya.
"Chanyeol-ah" panggil Baekhyun saat pertemuan rahasia–entah keberapa kali–mereka di rooftop sekolah setelah kurang lebih satu bulan berlalu tanpa kepastian.
Chanyeol masih menatap layar PSP-nya saat menggumam, "Hmm" pelan pada Baekhyun, menanggapi panggilan namja cantik bertubuh mungil tersebut.
Baekhyun mengangsur sedikit duduknya mendekat pada Chanyeol. Ia tidak melanjutkan ucapannya, melainkan hanya diam sembari menatap namja itu yang masih berkutat dengan games yang tengah dimainkannya.
Chanyeol menyadari tatapan Baekhyun yang terasa menusuknya secara semu itu, maka ia mematikan PSP-nya sesaat kemudian sebelum ia berbalik membalas tatapan Baekhyun. Cengiran lebar seperti biasa menghiasi wajahnya.
"Ada apa Baek?" tanyanya dengan nada ceria.
Sesaat Baekhyun merasa bodoh karena ia tenang-tenang saja saat Chanyeol mendapati tatapan intensnya terhadap namja itu, padahal seharusnya ia merasa malu. Baekhyun memaksakan diri membalas senyum ceria Chanyeol yang seperti biasa, secerah matahari. Ia membersihkan tenggorokannya yang seketika saja terasa tercekat, dengan berdeham pelan.
Seperti biasa pula, Chanyeol tidak mendesak Baekhyun untuk menjawab pertanyaannya dengan cepat. Namja itu–menurut Baekhyun–memiliki kesabaran yang luar biasa saat menghadapi dirinya yang terkadang suka berubah pikiran dan bisa tiba-tiba saja tidak jadi menyampaikan sesuatu setelah ia memanggil Chanyeol. Jika saat itu terjadi maka Chanyeol hanya akan tersenyum lebih lebar lagi dan kemudian mengusap kepala Baekhyun gemas.
"Kau tidak mau mendengar suaraku?" tanya Baekhyun akhirnya setelah bertarung lama dengan kebaraniannya sendiri. Ia menatap Chanyeol yang memasang ekspresi datar. Semburat merah menguasai pipi mulusnya walaupun samar.
"Err... aku rasa aku baru saja mendengarnya" ucap Chanyeol sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Senyum innocent yang Chanyeol perlihatkan membuat Baekhyun tidak dapat menahan tangannya untuk tidak memukul keras kepala namja itu. Diantara semua waktu selama sebulan ini yang mereka lewatkan bersama, Baekhyun paling tidak ingin sindrom 'lamban' Chanyeol bangkit hari ini.
Baekhyun telah dengan susah payah meyakinkan hatinya untuk menanyakan hal memalukan tersebut. Tentu saja ia tidak mau usaha kerasnya untuk mengumpulkan keberaniannya menjadi sia-sia hanya karena Chanyeol yang memang terkadang bisa menjadi sangat tidak peka.
"Maksudku bukan suara yang itu bodoh" marah Baekhyun detik berikutnya setelah memukul kepala Chanyeol dengan tutup tempat buah-buahan yang memang masih dipeganganya saat tadi berangsur mendekati Chanyeol.
"Maaf, aku 'kan tidak tahu! Pertanyaanmu saja yang rancu Baek" ujar Chanyeol membela diri. Ia mengusap puncak kepalanya yang terkena pukulan maut Baekhyun. Tidak terlalu menyakitkan sebenarnya, tapi karena Chanyeol sudah terlanjur mengerjai Baekhyun maka ia berinisiatif untuk melanjutkan sifat jahilnya yang muncul tiba-tiba.
Baekhyun menangkap ringisan kecil yang lolos dari bibir Chanyeol saat namja itu mengusap kepalanya. Perasaan bersalah menjalari hati Baekhyun. Ia tidak bermaksud memukul Chanyeol sekeras tadi. Apalagi sampai menyebabkan Chanyeol kesakitan seperti itu.
'Apa sangat sakit?' Baekhyun membatin.
Tangan Baekhyun yang telah terbebas dari tutup tempat buah-buahan yang telah ia letakkan disisi lain kursi panjang itu, kini terangkat mengusap kepala Chanyeol perlahan.
"Maaf" tutur Baekhyun pelan. Ia tidak memperhatikan senyum usil Chanyeol karena ia terlalu sibuk memperhatikan puncak kepala Chanyeol yang ia usap dengan seksama.
Masih dalam keadaan tidak menyadari situasi yang sedikit membahayakan itu, Baekhyun terperanjat kaget saat tubuhnya limbung menimpa Chanyeol yang ada di posisi berhadapan dengannya. Baekhyun tidak tahu apa yang menyentuh kakinya tadi dan akhirnya menyebabkannya kehilangan kendali atas tubuhnya saat sebelah kakinya yang menapak lantai itu sedikit tergelincir.
"Aww" ringisan kembali lolos dari mulut Chanyeol. Sebuah ringisan yang sebenarnya. Mungkin memang benar karma itu ada, karena Chanyeol sekarang sibuk mengumpat dalam hati. Bertanya-tanya apakah itu balasan untuknya karena telah mengerjai Baekhyun.
Chanyeol berusaha bangkit dari posisi yang sedikit memalukan itu. Kepala yang bersandar di dekat pot bunga setelah menghantam bagian pinggirnya cukup keras. Bagian bawah tubuhnya yang tidak lagi berada di atas bangku panjang melainkan berada di lantai atap dengan posisi kaki terbuka lebar. Hanya satu yang membuat Chanyeol–jika boleh dikatakan–sedikit senang dengan posisinya karena Baekhyun yang menyebabkan hal ini terjadi, kini berada dalam dekapannya.
"Kau tidak apa-apa, Yeol?" tanya Baekhyun, segera bangkit saat merasakan tubuh Chanyeol bergerak berusaha kembali duduk dengan normal.
Pandangan Baekhyun jatuh pada puncak kepala Chanyeol, segera saja namja itu mengusapnya mengingat bagaimana kerasnya tadi bunyi teredam dari arah kepala Chanyeol saat membentur pot bunga.
Sebenarnya Baekhyun ingin tertawa mengingat dalam hitungan menit kepala namja jangkung itu sudah dua kali berbenturan dengan sesuatu. Tutup tempat buah-buahannya dan pot bunga. Tapi tidak ada tawa yang keluar dari bibirnya saat melihat ekspresi Chanyeol yang sedikit menyedihkan.
Baekhyun mungkin tidak sadar dengan kecerobahannya dalam memilih posisi duduk. Tapi Chanyeol yang saat ini tengah berusaha keras meredakan jantungnya dan memerintahkan matanya untuk tidak menatap ke bagian bawah tubuhnya, sibuk merutuki kebodohan Baekhyun. Bagaimana mungkin Baekhyun tidak merasakan benda apa yang tengah ia duduki itu sedangkan Chanyeol sudah berusaha mati-matian agar 'adik'nya tersebut tidak terbangun.
"Ern Baek, bisakah kau bergeser sedikit?" tanya Chanyeol dengan gugup. Ia bisa merasakan panas menjalari tubuhnya dan ia benar-benar tidak mau kehilangan kendali seperti kali pertama pertemuannya dengan Baekhyun.
Tangan Baekhyun berhenti mengusap kepala Chanyeol, pandangannya turun dan langsung menatap Chanyeol tepat di manik mata. Baekhyun menyadari wajah Chanyeol yang merona tapi rupanya ia cukup bodoh untuk menyadari apa gerangan yang membuat semburat merah itu muncul.
Mengikuti permintaan Chanyeol, Baekhyun menggeser duduknya ke arah kanan. Posisi mereka saat ini memang tidak seintim beberapa saat lalu, tapi Chanyeol yang dengan jelas bisa merasakan bagaimana bagian bawah Baekhyun bergesekan dengan 'miliknya' kini berusaha keras melupakan rasa panas yang menjalari tubuhnya dengan brutal. Terkadang Baekhyun memang bisa jadi sangat ceroboh saat sifat innocent nya kambuh. Chanyeol merasa frustasi bagaimana mungkin Baekhyun tidak menyadari apa yang dilakukannya dan dengan santai kembali mengusap kepalanya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku memang merindukan nyanyianmu" ujar Chanyeol selang beberapa menit kemudian saat kepalanya tidak lagi berdenyut dan Baekhyun sudah menyamankan posisi duduknya di sebelah Chanyeol.
Baekhyun merasakan degup jantungnya memompa lebih kencang. Ia memang mengharapkan pernyataan itu dari Chanyeol, tapi tetap saja rasa gugup tidak meninggalkannya saat mendengar kalimat tersebut.
[flashback end]
-ooo-
Kamar itu walaupun sudah cukup lama ditinggalkan pemiliknya, ternyata masih tetap sama. Berbagai benda yang Baekhyun tinggalkan saat kepindahannya ke Inggris, masih berada di tempatnya semula. Baekhyun tidak tahu harus bersyukur dengan keadaan itu ataukah sebaliknya. Pasalnya benda-benda tersebut sebenarnya bukan miliknya, melainkan milik Chanyeol yang ditinggalkan namja itu setiap kali ia berkunjung ke rumah Baekhyun.
Sebelah tangan Baekhyun menyentuh miniatur gitar yang terletak di atas meja belajarnya. Benda pertama yang ditinggalkan Chanyeol setelah mereka menjalin hubungan khusus. Ia ingat bagaimana benda tersebut bisa berada disana. Chanyeol sendiri yang menaruhnya sambil terkekeh lebar. Baekhyun sudah bertanya kenapa Chanyeol terlihat begitu senang dan kenapa ia menaruh miniatur kesayangannya itu disana, tapi Chanyeol tidak menjawabnya dan hanya mencium pipinya sekilas.
Kembali melangkahkan kakinya, seolah ia berjalan di antara benda-benda kenangan yang melayang semu. Baekhyun berhenti tepat di sebelah snow globe yang berada di atas salah satu bingkai jendela kamarnya. Kali ini bukan Chanyeol, melainkan ia sendiri yang meletakkannya disana kala itu dan langsung saja mendapat protes dari Chanyeol karena namja itu takut snow globe–hadiah ulang tahun terakhir dari ibunya–tersebut jatuh dan pecah.
"Tidak akan pecah Yeol! Ini 'kan salah satu benda berharga peninggalan ibumu, aku tidak mungkin memecahkannya. Aku sengaja menaruhnya disini karena aku suka melihat cahaya matahari dari sisi jendela yang ini. snow globe ini terlihat bersinar saat cahaya memantul di atasnya."
Baekhyun ingat ia mengucapkan kalimat itu sembari menggenggam tangan Chanyeol yang melingkar diperutnya. Itu adalah kali pertama Chanyeol memeluknya begitu intim. Namja itu menyandarkan kepalanya di tengkuk Baekhyun dan berkata bahwa ia sangat mencintainya.
Sembari menghapus setetes air yang menggenang di sudut matanya, Baekhyun kembali berjalan memutari kamar yang menjadi tempatnya menumpahkan segala rahasianya tersebut. Mata Baekhyun menangkap miniatur malaikat yang tergantung di depan pintu geser menuju balkon kamarnya.
Ia melangkah mendekati gantungan dan tangannya sudah akan mencapai miniatur malaikat tersebut saat sakit yang teramat sangat mendera kepalanya. Tangan kanan Baekhyun seketika mencengkram kepalanya dengan erat. Matanya terpejam dan kakinya tiba-tiba saja terasa lemas.
Baekhyun terduduk di lantai kamarnya dengan terengah. Ia berusaha menghurip oksigen sebanyak-banyaknya saat ia merasakan paru-parunya seperti memiliki rongga lebar hingga oksigen hanya lolos begitu saja tanpa sempat singgah. Baekhyun ganti mencengkram dadanya, melupakan sakit di kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha menggapai benda yang bisa dijatuhkannya agar Suho tahu bahwa Baekhyun membutuhkan pertolongannya.
Mata Baekhyun tidak bisa menemukan apapun yang bisa dijangkaunya selain pigura foto Chanyeol yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya. Baekhyun menggeser tubuhnya yang masih berusaha menangkap lebih banyak oksigen, mendekat pada meja dan saat tanggannya berhasil menggapai pigura tersebut, segera saja Baekhyun menjatuhkannya.
Suara nyaring kaca yang berbenturan dengan lantai marmer kontan memenuhi kamar. Baekhyun merasakan perih di pelipis kanannya, ia pikir mungkin ada kaca yang memantul dari lantai dan mengenai pelipisnya.
Baekhyun masih mencengkram dadanya yang terasa kosong saat ia mendengar langkah tergesa dari luar kamar. Belum sempat pikirannya menyebut nama Suho, namja itu sudah berada di depan pintu kamar yang terbuka.
"Astaga Baek! Apa yang terjadi?" Suho bertanya panik, ia mengangkat tubuh Baekhyun yang mulai kejang-kejang dengan mata yang mulai tidak fokus.
Suho mengangkat Baekhyun ke atas tempat tidur. Ia segera menyambar tas jinjing Baekhyun dan menemukan alat bantu pernapasan darurat dari dalamnya. Suho mengarahkan alat tersebut ke depan mulut Baekhyun, menekan tombol pompa udara dengan tangan bergetar.
Baekhyun mulai dapat menghirup udara dengan normal meskipun masih dengan tersengal. Tangan namja bersurai cokelat itu mencengkram erat bagian dadanya seolah berusaha memberikan kekuatan pada paru-parunya untuk dapat mengolah udara seperti yang seharusnya.
"Ma...maaf...hyung...a...aku...mem...membuat...mu...cem...as" ujar Baekhyun lirih disela-sela nafasnya yang masih memburu.
Suho mengangguk kecil dengan pandangan sendu. Ia menyeka keringat yang membasahi kening Baekhyun–
"Kau baik-baik saja Baekhyun-ah. Kau kuat. Kau tidak akan kalah dari rasa takutmu" Suho berucap serak. Matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi, tapi ia berusaha menahan bening itu turun. Ia tidak mau terlihat lebih lemah dari pada Baekhyun. Jika Baekhyun saja bisa bertahan dari trauma masa lalunya, maka tidak ada alasan bagi Suho untuk merasa bersalah meskipun–ya–memang ia yang salah.
"Aku tahu...hyung. Aku tidak akan me...menyerah" Baekhyun tersenyum lemah. Ia mengenggam tangan Suho yang tadi masih berada di keningnya.
"Apa yang membuatmu kambuh lagi?" Suho bertanya selepas beberapa menit ia hanya mengusap perlahan punggung tangan Baekhyun.
Mata Baekhyun terpejam. Berusaha memfokuskan diri pada kata-kata, "Kau kuat Byun Baekhyun" yang menari-nari di dalam kepalanya.
"Benda itu" tunjuk Baekhyun yang bergetar jatuh pada miniatur malaikat di depan beranda kamarnya.
Suho memandang benda itu lama dan seketika paham kenapa Baekhyun yang kondisinya sudah dinyatakan tujuh puluh persen membaik, kembali kejang-kejang seperti orang yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Maaf, aku lupa menurunkannya" ujar Suho. Ia hendak beranjak dari samping Baekhyun ketika tangan dongsaengnya itu menahan langkanya.
Baekhyun menggeleng perlahan, "Jangan disingkirkan hyung. Ini pertama kalinya aku kambuh karena melihat sebuah benda yang berhubungan dengan masa laluku. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang hyung. Aku ingin mengingat semuanya. Aku akan terus merasa tidak normal hyung, jika aku masih tidak bisa mengingat apa yang membuatku seperti ini. Aku ingin tahu kenapa terkadang kepalaku terasa tidak seperti milikku sendiri"
Suho terdiam lama. Ia mengerti apa yang dirasakan Baekhyun. Pastilah sangat menyakitkan jika kau difonis menderita lacunar amnesia sementara kau hanya terus-terusan merasa frustasi terhadap beberapa hal yang mampu kau ingat dan segala hal yang kau lupakan terutama perasaanmu.
"Apa kau benar akan baik-baik saja? Kau tahu aku sangat mengkhawatirkan kondisimu Baek. Ingat apa yang dokter Daniel katakan? walaupun kau pulih lebih cepat daripada sebagian pasien yang pernah dirawatnya, tapi tetap saja kau belum cukup siap untuk mengingat kembali masa lalumu Baek. Kau bisa menjadi lebih parah dari ini"
Baekhyun membawa tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Ia bersandar sepenuhnya pada bantal, mengingat tubuhnya masih terasa lemas. Ia menarik tangan Suho yang masih digenggamnya hingga namja itu membalas tatapannya.
"Percayalah hyung, aku tidak akan memaksa otakku untuk mengingat jika itu akan membahayakan diriku. Aku berjanji akan baik-baik saja. Untukmu. Aku sayang padamu hyung, dan aku tidak mau membuatmu sedih. Lagi pula seperti katamu hyung, aku kuat. Aku tidak akan kalah dari rasa takutku"
Suho mengangguk perlahan meski beban berat masih terasa mencengkram hatinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Baekhyun sendiri yang sudah memaksa. Apalagi sekarang mereka telah kembali ke Seoul. Mau tidak mau, tempat dan benda-benda yang berhubungan dengan kejadian pahit itu pasti akan memberikan efek pada kondisi Baekhyun. Dan tidak melupakan satu hal, dialah yang menuruti permintaan Baekhyun untuk kembali. Dia tidak bisa membatalkan keputusannya begitu saja karena Baekhyun sudah bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk hidupnya.
"Baiklah, tapi kumohon berjanjilah jika terjadi sesuatu kau harus segera menghubungiku" ujar Suho, disambut senyum kecil Baekhyun serta jawaban "ya" darinya.
"Dan jangan lupa minum obatmu!" titah Suho sembari mengangsurkan obat dan botol minuman yang tadi juga ditemukannya dari dalam tas jinjing Baekhyun.
To be continue...
HAI HAI! maaf ya update nya lama...
mengenai chanyeol yang belum muncul juga (selain dari kenangannya baekhyun) jangan ada yg protes ya... hehe kalau masih penasaran sama lanjutannya, boleh dong kasih review biar ney semangat lanjutin? kk
jangan lupa roasting marshmallow sama light in the dark nya juga di cek~ udah dilanjut semua :D
balasan review:
SyJessi22: gak kok, baek gak buta XD diikutin terus ya, ntar perlahan-lahan kisahnya bakal jelas kok hehe
: udah kejawab sebagian kan? jadi baek itu kena lacunar amnesia. untuk alasan tentang nyanyi itu ditunggu aja ya :)
pintukamarchanbaek: udah dilanjut \o/
ChoYeongie: mudah-mudahan gak terlalu panjang .
ritaanjani4: udah putus ato belum ya... #author minta ditabok# hehe
Kiela Yue: hadeuuhh makasih banget untuk pujiannya ... semoga chapter ini memuaskan y
12oppas: yay~ udah dilanjut nih... gimana? hehe
Unnamed EXOstand: nanti diceritain dikit-dikit ya :)
.
MAKASIH BANYAK UNTUK REVIEW NYA! *love love*
