Saya ingin menjelaskan sedikit keadaan Sakura di sini, karena ada beberapa riviewer yang menanyakan hal ini.
Wujud Sakura memang seperti bocah enam tahun begitu juga dengan pikirannya. Bisa di bilang Sakura juga kehilangan ingatannya, tapi juga tidak. Sakura meamang tidak ingat kalau dirinya telah menikah dengan Sasuke, ia juga tidak ingat kalau ia sudah chuunin, atau ia tidak ingat kalau dirinya adalah seorang iryo-nin. Kemampuan ninjanya juga menghilang, sama saat dia masih berusia enam tahun. Tetapi, Sakura tidak lupa dengan orang-orang yang dikenalnya dalam hidupnya. Misalnya saja Sasuke, ia mengingatnya tetapi tidak ingat kalau Sasuke itu adalah suaminya. Makanya Sakura awalnya memanggil Sasuke itu Onii-san tetapi Sasuke menyuruhnya untuk memanggilnya Sasuke-kun (ini akan di jelaskan di side story dari fic ini). Begitu juga dengan Itachi, Fugaku, atau Mikoto. Sakura bisa membedakan siapa yang dipanggil ibu/ayah, dan siapa yang harus dipanggilnya kakak. Mungkin itu saja dulu, semoga penjelasannya tidak membingungkan. Kalau pada masih bingung, tanyakan saja.
Naruto©Masashi Kishimoto
Warning: Fanon, OOC, Typo(s), etc
Don't Like Don't Read
.
.
"Aku pergi, Kaa-san," pamit Itachi lalu mengecup sekilas pipi wanita yang telah melahirkannya.
Mikoto tersenyum, "Hati-hati," pesannya seraya mengelap tangannya yang basah karena habis mencuci piring bekas keluarganya sarapan. Ia lalu membawa baki yang sudah diisi dengan dua buah cangkir the dan sebuah teko perselen untuk suaminya.
Itachi mengangguk, misi kali ini akan sedikit mudah karena ia akan bekerja sama dengan teman-temannya dari luar desa Konoha.
Sebelum keluar dari dapur, Itachi melirik adik tersayangnya yang tengah memaksa istrinya untuk minum susu. Itachi terkekeh pelan saat melihat Sasuke yang tengah frustasi membujuk istrinya, tetapi Sakura tetap tidak mau membuka mulut.
"Ada apa dengan adik manisku ini," kata Itachi merampas Sakura dari pangkuan Sasuke lalu menggendongnya. Tentu saja ia langsung menerima tatapan membunuh dari Sasuke, tapi tidak dipedulikannya.
"Sasuke-kun memaksa Sakura minum susu, tapi Sakura tidak suka," adu Sakura pada Itachi. Kedua lengan mungil Sakura melingkar erat di leher Itachi.
Melihat istrinya yang berada di gendongan kakaknya membuat Sasuke marah, apalagi posisi tangan Sakura yang terlihat seolah sangat intim menurutnya. "Berikan Sakura padaku," pinta Sasuke berusaha mengambil istrinya dari gendongan Itachi.
"Lihat, Sakura-chan jadi takut," ujar Itachi mengusap pucuk kepala Sakura yang bersembunyi di lehernya, seringai puas langsung terukir di bibirnya saat melihat sharingan Sasuke yang telah aktif.
"Dia istriku!" kesal Sasuke masih berusaha merebut Sakura dari tangan Itachi.
Dengan mudah Itachi mengelak, "Sakura juga sudah menjadi adikku, Sasuke," balas Itachi dengan senyum yang tidak pernah menghilang dari wajahnya. Semenjak Sakura menjadi bagian dari anggota keluarga Uchiha, Itachi memang lebih sering tersenyum dan tertawa tapi tetap saja garis keriput di tulang pipinya belum juga menghilang.
Sasuke melotot, "Aku lebih berhak, Sakura istriku baka!" teriak Sasuke tidak mau kalah. Detik berikutnya, Sasuke sudah berada di belakang Itachi dan bersiap mengambil istrinya dari jeratan kakaknya.
Tapi detik berikutnya juga, Itachi sudah menghilang dari pandangan Sasuke dan ternyata sudah berada di luar dapur. "Kau mau membawa kabur kemana istriku, Itachi!" geram Sasuke.
Itachi terkekeh pelan sambil terus berjalan dengan Sasuke yang mengomel di belakangnya. Ternyata Itachi membawa Sakura ke kamarnya karena gadis itu sudah tertidur, kepala pink Sakura sudah terkulai lemas di bahunya.
"Biar aku saja!" Sasuke merebut paksa Sakura dari cengkraman Itachi dan menidurkannya di ranjang mereka, "dan kau keluar dari kamarku!" usir Sasuke pada kakaknya saat ia tengah menyelimuti Sakura.
Itachi mendesah pelan, "Padahal aku masih ingin melihat little cherry blossom-ku," ujar Itachi dengan wajah sedih lalu meninggalkan kamar Sasuke. Saat mencapai pintu, Itachi menengok pada Sasuke yang sedang mengecup kening istrinya, "Jangan macam-macam pada Sakura, dia itu masih kecil Sasuke," kata Itachi mengingatkan, lalu keluar dari kamar Sasuke, "jadi, kau harus mengendalikan hormonmu," tambah Itachi dari depan pintu membuatnya mendapatkan hadiah dari adiknya berupa kunai yang melayang anggun ke arahnya.
Sasuke mendecih saat melihat kunainya tidak tepat sasaran dan menancap di luar tembok kamarnya. Itachi sendiri sudah menghilang dari hadapan Sasuke, mungkin telah puas menggoda adiknya.
Melihat Sakura yang tertidur damai membuat Sasuke tersenyum tipis, ia membayangkan kalau ia dan Sakura punya anak perempuan, dia berharap akan mirip Sakura yang sekarang ini. Sasuke tidak ingin kalau anaknya perempuan mirip dirinya, nanti jadinya seperti Itachi dengan rambut panjang di kuncir. Itu adalahsebuah bencana bagi dirinya.
Setelah puas memandang istrinya yang saat ini tengah menjelma menjadi gadis enam tahun, Sasuke kemudian mengambil beberapa helai tisu basah di laci meja. Dengan pelan, ia mengusap seluruh wajah Sakura hati-hati agar tidak membangunkannya. Hal ini ia lakukan untuk menghilangkan bekas kecupan-kecupan curian Itachi dan ayahnya pada istrinya.
Sikap Sasuke mungkin agak berlebihan, tetapi tidak juga. Sudah sewajarnya ia protektif terhadap istrinya. Walaupun Sakura sekarang hanya gadis kecil enam tahun, tetapi tetap saja dia itu istrinya. Tentu saja Sasuke tidak akan terima kalau ada orang lain yang boleh menyentuh Sakura selain dirinya, meskipun hal-hal kecil seperti ciuman kasih sayang di pipi atau kening—walaupun dilakukan oleh kakaknya dan bahkan ayahnya. Tetapi Sasuke tetap tidak terima, ia beranggapan Sakura tetaplah Sakura istrinya tidak peduli perubahan yang sedang terjadi pada gadis itu. Itu fakta memang.
Setelah memastikan Sakura nyaman, Sasuke lalu mencari ibunya untuk pamit ke kantor hokage untuk menyelesaikan urusannya.
"Aku titip Sakura," ujar Sasuke pada ibunya yang sedang menuangkan teh pada Fugaku, "dan Tou-san jangan mencium istriku sembarangan," peringat Sasuke pada ayahnya sendiri.
Fugaku yang tengah meminum tehnya sedikit tersedak dengan ucapan Sasuke, sedangkan Mikoto sudah tidak bisa menahan tawanya. "Sasu-chan lucu," komentar Mikoto ditengah cekikikannya.
Sasuke mendengus melihat reaksi ayah dan ibunya, "Aku pergi," pamit Sasuke sedikit jengkel. Ia tidak tahu apanya yang lucu dari perkataannya sehingga membuat orang tuanya begitu.
.
.
"Oii~ Teme!" Teriak Naruto saat melihat sahabat dan juga rekan setimnya, "bagaimana rasanya menikah?" tanyanya saat sudah berjalan di sisi Sasuke dengan cengiran khasnya.
Sasuke terus berjalan mengabaikan kehadiran Naruto, tidak berniat menjawab pertanyaan sahabatnya. Tentu saja sikap Sasuke ini membuat Naruto kesal, padahal sudah menikah tapi Sasuke masih saja tidak berubah begitulah kira-kira yang ada dipikiran Naruto.
"Oh ya, apa kau sudah mempraktikkan seperti yang di buku itu dengan Sakura-chan?" Naruto menyeringai mesum, "jadi, bagaimana rasa— Aww… apa yang kau lakukan?" Naruto mendelik pada Sasuke sambil mengusap kepalanya yang habis dijitak.
"Mesum," desis Sasuke kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku kan hanya bertanya," Naruto merengut, "jadi apa kau sudah melakukannya?"
Sasuke mendengus, bagaimana ia bisa melakukan hal itu jika istrinya sekarang tengah menjadi bocah.
Naruto menguap bosan, sudah sepuluh menit yang lalu ia melontarkan pertanyaan pada Sasuke tetapi belum juga dijawab. "Ckk… kau menyebalkan, apa susahnya sih berbagi cerita dengan sahabatmu ini," gerutu Naruto.
Sasuke memutar matanya, ia tidak mempedulikan Naruto yang masihh menggerutu tidak jelas. Yang benar saja, mana mungkin ia akan berbagi cerita tentang hal yang sangat pribadi seperti itu—walaupun sampai saat ini Sasuke belum mempraktikkan isi buku favorit gurunya.
"Nah Teme, sampai jumpa di rumahmu," ujar Naruto membuat Sasuke tersadar dari pikirannya, "suruh Sakura-chan memasak makan malam yang enak," tambah Naruto lalu menghilang dari hadapan Sasuke.
Sasuke sontak menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar perkataan Naruto, pemuda pirang itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Sakura. Sasuke mengerutkan keningnya membayangkan bagaimana reaksi Naruto ketika tahu akan hal itu. Mungkin Naruto akan menertawakan nasibnya, dan tidak akan berhenti memborbardirnya dengan berbagai macam pertanyaan atas keadaan Sakura, yang pada akhirnya akan berakhir pada 'tragedi malam pertama'. Sasuke menghela nafas, ia harus menjauhkan Sakura dari Naruto apapun caranya. Sasuke bisa memastikan tingkah Naruto tidak akan jauh dari kakaknya ketika bertemu Sakura. Tentu saja Sasuke tidak ingin Naruto melakukan sesuatu yang aneh-aneh pada Sakura mengingat bagaimana kecintaan Naruto dengan anak kecil, meskipun cintanya itu akan kalah telak jika dibandingkan dengan ramen.
.
.
"Apa-apaan permintaanmu itu, Uchiha Sasuke," geram Tsunade memandang tajam pemuda yang telah menjadikan murid tersayangnya menjadi seorang Uchiha. Sebenarnya Tsunade kurang setuju kalau Sakura menikah muda, tetapi mau bagaimana lagi kalau Sasuke telah mengancamnya terlebih dahulu untuk merestui pernikahan mereka.
Sasuke menatap Tsunade santai, "Memangnya ada yang salah? Karena kau juga aku harus melakukan ini," jawab Sasuke datar sama sekali tidak mempedulikan Tsunade yang hidungnya sudah kembang kempis karena marah.
"Uchiha—"
"Pokoknya aku tidak akan menerima misi apapun sampai istriku kembali seperti semula," potong Sasuke cepat, mengabaikan Tsunade yang memandangnya tidak suka.
Tsunade mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan, berdebat dengan Sasuke memang selalu menguras tenaga dan pikiran, juga emosi tentu saja.
"Di sini aku yang berkuasa," geram Tsunade, "dan kau harus mematuhi perintahku, Uchiha!" teriak Tsunade sambil menggebrak mejanya.
Sasuke menyeringai, "Aku tidak peduli," kata Sasuke berjalan pergi meninggalkan kantor hokage.
"Shizune! Bawa sake ke ruanganku sekarang," erang Tsunade dengan kepala terkulai di atas meja kerjanya. Berurusan dengan Sasuke selalu membuatnya frustasi seperti ini.
.
.
Urusannya dengan Tsunade telah selesai, sekarang saatnya untuk menyelesaikan urusan yang lainnya. Setelah tiba di tempat tujuan, Sasuke segera bergerak menuju dua orang yang tengah bertarung sengit. Seringai tipis terukir di bibirnya saat melihat kepala kuning yang sedang terengah-engah akibat tinjuan dari Kakashi. Dengan tangan di saku, Sasuke menghampiri Naruto yang tergeletak nyaman dengan posisi seperti katak.
"Menyedihkan, dasar payah," ejek Sasuke dengan tatapan merendahkan.
Naruto yang emosinya memang mudah terpancing langsung berdiri dengan sikap siap bertempur, "Diam kau, Teme," kesal Naruto melotot ke arah Sasuke.
Sasuke hanya menyeringai melihat reaksi Naruto, rencananya berjalan lancar selancar sisir yang jatuh dari rambut Neji.
"Kau memang brengsek, Sasuke," geram Naruto langsung berlari ke arah Sasuke dengan rasengan yang sudah tercipta di tangannya.
Sasuke dengan mudah bisa menghindari serangan Naruto berkat matanya yang sekarang sudah berubah menjadi merah. Dia pun melakukan beberapa segel tangan lalu mengeluarkan api dari mulutnya untuk membalas serangan Naruto. Naruto pun tidak mau kalah, pemuda maniak ramen itu membuat bunshin dalam jumlah yang cukup banyak untuk menyerang Sasuke.
"Hah~ benar-benar menyusahkan," gumam Kakashi tidak jelas maksudnya saat melihat kedua muridnya yang tengah bertarung, "yeah, tapi aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan ini," katanya sambil mengangkat bahu lalu mengeluarkan buku oranye dari dalam sakunya.
.
Pertarungan dengan Naruto ternyata menghabiskan waktu yang cukup lama dari perkiraan Sasuke. Matahari sudah mulai tergelincir dan waktu makan siang sudah dari beberapa jam yang lalu, Sasuke juga sudah tidak melihat Kakashi dimanapun. Dengan wajah puas penuh kemenangan, Sasuke meninggalkan Naruto yang terlihat babak belur di sekujur tubuhnya.
"Oii Teme! Jangan meninggalkanku seperti ini," teriak Naruto. Tubuhnya masih berbaring tidak berdaya akibat kehabisan chakra.
"Urus dirimu sendiri, Dobe!" Sasuke sudah tidak mempedulikan teriakan serta umpatan Naruto yang ditujukan ke arahnya. Rencananya sudah berhasil, dan ia bisa pulang dengan tenang untuk bertemu dengan istrinya. Tanpa mengkhawatirkan kedatangan Naruto ke rumahnya karena ia telah membuat Naruto dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk kemana-mana sementara waktu. Setidaknya, untuk sementara Sasuke bisa bernafas lega karena istrinya akan aman dari jangkauan Naruto.
.
.
"Kau dimana Shisui onii-chan?"
Sudah sepuluh menit ia tidak menemukan orang yang dicarinya. Karena kesal, Sakura memilih untuk tidak melanjutkan pencariannya. Gadis itu memilih untuk menonton televisi di ruang keluarga, setelah sebelumnya ia meminta minuman dan cemilan pada Mikoto.
"Kau sudah menyerah, Sakura?"
Sakura melihat pemuda yang dari tadi dicarinya dengan wajah cemberut, lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke layar televisi. Sakura sedang ngambek ceritanya.
Shisui terkekeh pelan, lalu ikut duduk disamping Sakura. "Ini untukmu," kata Shisui menjulurkan boneka tepat di depan wajah Sakura.
Sakura menatap boneka biru tersebut, warnanya memang sedikit pudar tapi kondisinya masih bagus. Tanpa pikir lagi, Sakura segera mengambil boneka tersebut dan mendekapnya erat. Kemarahannya pada Shisui lenyap sudah.
"Arigato Sishui oniichan," ujar Sakura sambil mendekap boneka dino biru yang tadi diterimanya.
Shisui tertawa melihat tingkah Sakura yang memang benar-benar seperti anak kecil, "Itu punya Sasuke lho, jadi kau harus menjaganya baik-baik."
"Tentu saja, aku pasti akan merawatnya," janji Sakura.
Shisui mengacak pelan rambut halus Sakura, dia sungguh masih belum bisa percaya kalau gadis kecil ini adalah Sakura. Saat Itachi menceritakan tentang 'tragedi pernikahan' yang dialami Sasuke, ia tidak percaya sama sekali. Tetapi setelah melihatnya sendiri, Shisui malah senang melihatnya karena sudah lama ia menginginkan seorang adik perempuan dan sekarang telah terealisasi. Shisui juga tidak keberatan kalau seandainya Sakura akan menjadi bocah selamanya.
'Apa Sasuke sempat melakukan ritual sakral mereka sebelum Sakura berubah menjadi bocah' pikir Shisui geli.
"Ekor dinonya mirip rambut Sasuke-kun," ujar Sakura dengan wajah polos dan mata hijau bening yang bulat dan besar.
Shisui tidak bisa menahan dirinya, ia langsung mengangkat Sakura ke pangkuannya. Kemudian mulai mengecup pipi kiri dan kanan Sakura, lalu berlanjut ke kening dan hidung gadis itu. "Kau benar-benar menggemaskan," gumam Shisui kembali mengecup pipi chubby istri adik sepupunya itu.
Sakura yang menerima perlakukan seperti itu dari Shisui hanya terkikik karena merasa geli. Sebelah lengannya melingkar di tangan Shisui, dan tangan yang satunya memegang erat boneka milik Sasuke dahulu. Entah dimana Shisui mendapatkan boneka tersebut.
Mereka berdua tertawa bersama, tidak menyadari seorang pemuda yang tengah menatap kejadian yang tejadi barusan. Bahkan, Shisui tidak menyadari keberadaan chakra lain di belakangnya.
"Lepaskan istriku!"
Shisui yang mendengar seseorang berbicara di belakangnya langsung menoleh, "Kau sudah pulang, Sasuke. Okaeri," sambutnya mengabaikan hawa membunuh yang berasal dari Sasuke.
Sasuke melesat dan berdiri menjulang di depan Shisui, karena posisi Shisui dan Sakura tengah duduk. Dengan sigap, Sasuke langsung mengambil Sakura dari pangkuan kakak sepupunya itu. "Jangan seenaknya mencium istri orang," geram Sasuke menatap tajam Shisui.
Sakura yang merasa sedikit sesak karena pelukan Sasuke yang sedikit kencang membuatnya meronta, "Sasuke-kun, Sakura tidak bisa bernafas."
Sasuke langsung melonggarkan pelukannya, pandangannya tidak lepas dari pemuda yang tengah tertawa di depannya.
"Sakura itu kan masih kecil, jadi tiak apa-apa—"
"Tapi dia istriku, tidak peduli seperti apa bentuknya," potong Sasuke. Kemarahan jelas terlihat di wajahnya.
Shisui menghela nafas, "Tapi Sakura itu sudah seperti adikku, jadi kau tidak perlu cemburu padaku," ujar Shisui memberikan alasan.
Sasuke mendengus, "Aku tidak cemburu," tukasnya, "aku hanya menjaga kemurnian istriku dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab sepertimu," jelasnya sedikit sewot.
Shisui tertawa, ternyata apa yang dikatakan Itachi memang benar. Sasuke menjadi sangat protektif pada Sakura dan sensitif jika orang lain sudah berani meletakkan tangan pada istrinya. Ia kembali terkekeh geli saat melihat Sasuke yang tengah mengusap seluruh wajah istrinya dengan tisu basah dengan agak kesulitan karena Sakura menggelengkan kepalanya tidak suka.
"Apa yang kau tertawakan, baka!" desis Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sakura sambil terus berusaha untuk membuat Sakura diam, tapi gagal. Sakura malah menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke. Sasuke bisa saja memaksa Sakura, tetapi tidak dilakukannya. Ia mendesah frustasi, "Kalau begitu kita mandi," kata Sasuke sambil menggendong Sakura. meninggalkan Shisui yang masih menatap geli ke arahnya.
.
"Dimana Sakura, Shisui?" tanya Mikoto yang baru datang. Karena sebelum ia pergi, Mikoto menitipkan Sakura pada Shisui.
Shisui tersenyum geli, "Sasuke pulang, dan dia langsung merampasnya," jawabnya dengan kekehan pelan.
Mikoto terkikik sudah sangat mengerti dengan kelakuan anaknya jika sudah berhubungan dengan Sakura, "Kau makan malam di sini juga ya, bibi akan memasak banyak nantinya," pinta Mikoto.
Shisui mengangguk, "Memangnya ada acara apa?"
"Tidak ada," jawab Mikoto, "teman-teman Itachi akan pulang ke sini nanti, katanya mereka akan menginap beberapa minggu di sini," ujarnya sambil tersenyum membayangkan kemeriahan rumahnya.
Shisui tersenyum, "Akatsuki?" tanyanya.
Mikoto mengangguk, "Nah, apa kau bisa membawaakan belanjaan bibi. Aku menaruh sisanya di depan pintu."
"Tentu saja," kata Shisui.
Mikoto lalu menuju dapur untuk menyiapkan hidangan untuk makan malam nanti. Wanita itu memang selalu antusias jika ada teman-teman Itachi atau Sasuke yang menginap. Rumah akan menjadi lebih meriah, menurutnya.
.
.
"Ayo mandi!" perintah Sasuke pada Sakura.
Sakura tetap menolak, "Aku tidak mau," katanya keras kepala dari dalam selimut.
Sasuke menggeram dengan tingkah istrinya, ternyata Sakura kecil lebih merepotkan. "Sakura, kenapa tidak mau mandi?" tanyanya lembut menahan kekesalannya.
Sakura mengungkapkan kepala pink-nya yang tersembunyi di dalam selimut, "Karena aku tidak mau," jawab Sakura polos.
Sasuke melotot dengan jawaban istrinya, kalau saja Sakura normal yang menjawabnya seprti ini pasti dia sudah— "Sakura," desisnya.
"Kyaa…" teriak Sakura.
Gadis itu terus meronta saat tanga besar Sasuke yang mengangkatnya, setelah sebelumnya menghapus selimut yang membungkusnya.
"Kau harus mandi, Sakura. Kau harus steril dari tangan orang-orang yang telah menyentuhmu," geram Sasuke.
Setelah membuka semua baju Sakura, Sasuke kemudian memasukkannya ke dalam bathup. Dan ia baru menyadari kalau Sakura telah sepenuhnya telanjang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang hal itu, Sakura masih seperti gadis enam tahun pada umumnya. Tetapi melihat Sakura seperti ini membuat Sasuke sedikit grogi, walaupun ia sudah sering melihat Sakura tanpa busana saat telah berubah menjadi gadis kecil tetapi tetap saja ia merasa sedikit gugup.
"Sasuke-kun tidak mandi sama Sakura?"
Sasuke menelan ludah karena pertanyaan polos istrinya. Kalau saja Sakura normal yang berbicara seperti itu, Sasuke tidak akan segan-segan untuk langsung melompat ke dalam bathup untuk menemani istrinya. Tapi untuk sementara ia harus menahannya "Nanti, " katanya. Sasuke tidak ingin mengambil resiko.
.
.
Tsuzuku
.
.
Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan meripiu chap pertamanya, semoga chap duanya tidak membosankan.
Untuk kejelasan mengenai 'tragedi malam pertama' itu dan bagaimana Sakura bisa berubah menjadi gadis kecil, saya berencana akan membuat side story fic ini. Saya memilih untuk membuat side story karena tidak ingin menjelaskannya dengan membuat falshback . Saya tidak ingin menaikkan rate dari fic ini karena side storynya mungkin agak sedikit membahas mengenai 'tragedi malam pertama' tersebut. Meskipun tidak sampai adegan lemon, bahkan lime pun tidak—mungkin hihihi…
Maaf kalau masih banyak typo, saya ngetiknya tanpa kacamata. Ini karena kacamataku udah ga bisai di pake lagi, dan saya lagi males untuk pergi ganti itu kacamata. Oy, semua karakter di fic ini OOC, saya sudah kasih warning di atas :D
Saya juga mengucapkan terima kasih superrr banyak untuk kalian yang sudah meripiu chap sebelumnya^^
nabilla, chii no pinkycherry, hamster-pink, Tohko Ohmiya, kHaLerie Hikari, ay, khoirunnisa740, sasusakupolepel, uchiharuno susi, gadisranti3251, Natsumo Kagerou, vanillathin, Fiyui-chan, me, hanazono yuri, Fivani-chan, cheryxsasuk, Rhikame, Arum Junnie, Nice Reviewer, scarlet uchiha, Zee Uchiharuno, Guest, Sakura Zouldyeck, Rosachi-hime, Himetsuka, Lhylia Kiryu, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Uchiha Aimi, Guest(2), Natsuyakiko32, Uchiha jidat, Fira SSL, iya baka-san, Githa Aikawa, Kiki RyuEunTeuk, Saga desu, Refunny, Kim Keyna, Arisa Sakakibara, Uchiha Yui-chan, franceour, just ana males login, Uchiha Shesura-chan, manusia 42 kilogram, Uchiha Sakura, itachislovelywife, UchiHaruno, Tsurugi De Lelouch, vannychan, Raditya, hahcikodesuka
.
Review, concrite?
