Naruto©Masashi Kishimoto
Warning: Fanon, OOC, Typo(s), Humor (Failed), etc
Don't Like Don't Read
.
.
.
Sasuke mendesah lega, lalu mematikan shower dan langsung membalut tubuhnya dengan handuk putih. Setelah mematikan lampu kamar mandi, ia keluar dari sana dan mendapati istrinya yang tengah bermain dengan benda kesayangannya dulu. Tetes-tetes air melaju turun dari rambut hitamnya yang kini turun mengikuti gravitasi.
"Darimana kau mendapatkan benda itu, Sakura?" Mata Sasuke menyipit melihat benda yang ada di pelukan istrinya. Sebuah boneka dino biru yang warnanya sudah memudar, dia baru menyadari tentang keberadaan boneka itu.
Sakura memandang Sasuke tersenyum, lalu mengubah posisinya dari tiduran di kasur menjadi duduk bersila. "Dari Shisui-oniichan," jawabnya, lalu mendekap erat boneka tersebut, "aku harus selalu merawatnya," imbuhnya.
Sasuke mendengus, "Shisui bodoh," gumamnya berpaling dari Sakura. Ia kemudian membuka lemari untuk mencari baju bersih, mengambil sebuah kemeja biru dan celana panjang hitam.
Sakura yang melihat tetesan air hingga ke lantai yang berasal dari rambut Sasuke berinisiatif untuk mengeringkan rambut suaminya itu, seperti yang biasa Sasuke lakukan padanya. Dia kemudian mencari handuk bersih di lemari, handuk kecil yang biasa dipakai olehnya.
Sasuke mengernyit melihat apa yang diambil istrinya, "Kau mau mandi lagi?" tanya Sasuke sambil merapikan pakaian yang dikenakannya.
Sakura menggeleng, "Ayo duduk disini, Sasuke -kun," ujar Sakura seraya menarik tangan Sasuke untuk duduk di atas kasur.
Sasuke mengikuti keinginan Sakura, ia melempar handuk basah yang telah ia pakai sebelumnya ke keranjang baju kotor yang terletak di samping pintu.
Setelah Sasuke duduk di tempat yang disuruhnya, Sakura naik ke atas tempat tidur dan berdiri di belakang Sasuke. Dia mulai mengusap rambut basah Sasuke dengan handuk yang tadi diambilnya. "Sasuke-kun juga melakukan ini kalau rambut Sakura basah," gumamnya sambil terus melakukan pekerjaannya.
Sasuke tersenyum tipis, "Terima kasih," ujarnya tulus. Dia memejamkan mata, menikmati setiap pijatan lembut di kepalanya. Membayangkan Sakura dalam keadaan normal yang melakukan ini padanya membuat perutnya bergejolak aneh, dia benar-benar merindukan Sakuranya yang 'normal'. Seandainya saja, Tsunade tidak salah memberikan ramuan sialan itu, dia pasti sudah menikmati hari-hari bahagia setelah pernikahan mereka. Misalnya seperti saat ini, Sakura yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Setelahnya, ia akan memberikan ucapan terima kasih dan sebuah kecupan sayang, lalu Sakura akan membalas dan berlanjut…
"Awww…." Sasuke tersentak dari lamuannya saat merasakan kulit kepalanya terasa nyeri. Dia berbalik ke atah istrinya yang menampakkan wajah innocent. "Kau apakan rambutku, Saki?" Sasuke bertanya dengan nada lembut, mengabaikan kekesalannya. Dia tidak ingin marah-marah pada istrinya yang terlihat sangat manis saat ini.
Sakura mengerjap, "Maaf Sasuke-kun," katanya menyesal setelah menyadari teriakan Sasuke barusan, "aku hanya ingin membuat rambut Sasuke-kun seperti biasanya, yang runcing seperti ekor dino itu," ujarnya menjelaskan dengan nada bersalah, lalu melepaskan pegangannya pada handuk di tangannya.
Sasuke mendesah, bagaimana bisa istrinya menyamakan rambut kerennya seperti ekor dino bulukan macam itu. Sepertinya Sasuke lupa, kalau boneka dino bulukan itu adalah barang kesayangannya. Bahkan boneka itu harus ada saat ia tidur waktu masih bocah, dan ia tidak akan bisa tidur kalau belum mengemut ekor dinonya. Sebuah rahasia kecil yang selalu digunakan Itachi untuk mengejeknya.
"Sakura," panggilnya dengan suara berat tapi lembut, merasa sedikit bersalah melihat raut wajah istrinya. Sasuke menggeser posisi duduknya lebih ke kiri, lalu dengan tangan kanannya menuntun Sakura untuk duduk di pangkuannya. Ia mengusap sayang rambut istrinya yang meringkuk di dadanya, sesekali mencium wangi bunga sakura yang menguar dari rambut istrinya, dan ia sangat menyukainya.
Sakura yang merasa sangat nyaman dengan perlakuan Sasuke mulai menguap, dia mengantuk. Perlahan, matanya mulai terasa berat dan suara detak jantung Sasuke seolah menjadi lullaby baginya.
Sasuke tersenyum tipis saat membaringkan Sakura di kasur, menarik selimut hingga mencapai dagu istrinya. Ia akan membiarkan Sakura tidur sejenak dan akan membangunkannya saat makan malam.
.
"Aku keluar sebentar, Kaa-san," pamit Sasuke pada ibunya yang tengah sibuk bergulat dengan masakannya di dapur.
Mikoto menghentikan kegiatan mengiris sayurannya sejenak, "Dengan Sakura-chan?" tanyanya dengan pisau di tangan kanannya yang tepat berada di atas daun bawang yang tengah di oegang oleh tangan kirinya.
"Dia tidur," jawab Sasuke. Ia sedikit bingung melihat ibunya tengah memsaka begitu banyak jenis makanan, terlihat dari bahan-bahan yang memenuhi seluruh permukaan meja, ditambah lagi ada beberapa mangkuk yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Mengabaikan hal itu, Sasuke melangkah meninggalkan dapur. Ibunya memang hobi memasak, jadi itu adalah hal yang biasa baginya.
"Pulang sebelum makan malam!" teriak Mikoto melihat putranya yang berjalan meninggalkan dapur.
Sasuke bergumam mengiyakan meskipun dapat dipastikan Mikoto tidak bisa mendengarnya.
.
.
"Ouch! Itu menyakitkan Shizune," keluh Naruto saat tengah dibalut lukanya, "dan aku tidak mau disuntik." Naruto bergidik ngeri saat melihat wanita yang merupakan anak didik hokage kelima itu mengeluarkan seuah jarum dari saku jasnya. Dengan cepat, ia melompat dari tempat tidur untuk menghindari benda yang paling dibencinya itu menembus kulitnya.
Shizune mendesah jengkel, dengan tangan kanan memegang jarum suntik yang berisi cairan kuning. "Jangan manja, baka! " geram Shizune, "kau 'kan sudah terbiasa mengalami patah tulang atau luka berat lainnya, dan sekarang kau takut dengan jarum suntik?" kesalnya mencemooh.
"Itu lain ceritanya," kilah Naruto. Perlahan-lahan berjalan mendekati jendela yang terbuka, setidak dia berada dia lantai dua rumah sakit. Jadi tidak akan menjadi masalah kalau ia melompat dari sini, lukanya juga tidak terlalu parah. Shizune saja yang terlalu melebih-lebihkan, ia hampir terlihat seperti mumi akibat perban yang membalut sebagian besar tubuhnya.
Shizune menatap tajam Naruto, tahu apa yang direncanakan pemuda di depannya itu. "Jangan berpikir untuk…"
Brakk
"…kabur," desah Shizune yang melihat Naruto melompat melalui jendela.
.
Naruto mendesah lega, pelan-pelan membuka perban yang membalut tubuhnya. Dengan baju yang tersampir di pundaknya, ia berjalan pelan sambil membuka balutan yang tersisa di lengan kirinya. Malam sudah menjelang, angin yang berhembus terasa dingin dan hal itu membuatnya sedikit menggigil. Setelah seluruh tubuhnya bebas dari balutan yang diberikan Shizune, Naruto kemudian memakai baju dan melangkah pasti menuju tempat orang yang bertanggung jawab atas keadaannya ini.
Naruto tersenyum saat tiba di depan gerbang dengan lambang sebuah kipas, indra penciumannya samar-samar mengendus bau harum masakan yang berasal dari dalam rumah besar di depannya. Perutnya mulai berontak, mungkin ia bisa mengisi lambungnya dengan kenyang di sini.
Tanpa perlu mengetuk terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu geser tersebut dan disambut dengan tatapan tajam oleh pemilik rumah.
Sasuke yang baru akan membuka pintu, mendengus saat merasakan chakra yang mendekat ke arahnya. Dan benar saja, Naruto sudah berdiri di depannya dengan senyum cerahnya yang sangat menjengkelkan.
"Yo, selamat malam, Teme!"
Sasuke berdiri dengan tangan yang bersedekap di depan dada, "Hn, apa yang kau lakukan di sini, Dobe?" tanyanya bosan.
Naruto merengut, "Aku hanya ingin minta pertanggung jawaban padamu," ujarnya semangat.
Sasuke menaikkan alisnya sebelah, tidak mengerti maksud Naruto.
"Lihat ini!" perintah Naruto mengungkapn goresan-ggoresan yang masih tersisa di sekitar perut dan beberapa bekas lebam di sekitar pipinya.
Sasuke mendengus, "Kau saja yang bodoh dan lemah," katanya lalu menutup pintu di belakangnya. Sasuke sudah tahu apa yang diinginkan Naruto setelah ini, dan pastinya ia tidak akan membiarkan hal itu.
"Kau saja yang terlalu berlebihan tadi siang," protes Naruto, "aku akan menemui Sakura-chan untuk memulihkan luka yang—"
Perkataan Naruto terpotong oleh Sasuke yang mneyeretnya menjauh dari komplek Uchiha.
"Teme! Kau menyeretku kemana? Lepaskan!" perintah Naruto sambil berusaha keluar dari cengkraman Sasuke. Naruto sedikit kesulitan bernapas karena kerah bajunya yang ditarik, mengakibatkan lehernya agak tercekik.
"Hn." Sasuke terus melangkah mengabaikan Naruto, dan ia sedikit melonggarkan cengkramannya saat melihat rekan setimnya seperti kehabisan napas.
Naruto akhirnya bisa bernapas lega saat Sasuke sudah melepaskan cengkramannya. Dia sedikit bingung saat menyadari tempat dimana Sasuke membawanya.
"Masuk!"
Naruto terkekeh geli, "Kau jadi hobi belanja setelah menikah," candanya.
Sasuke mendengus, kembali menyeret Naruto bersamanya. Ia lalu menyuruh Naruto mengambil sebuah keraanjang merah yang memang disediakan oleh toko yang mereka kunjungi.
Sasuke mengambil sebuah susu kotak dan membaca komposisi yang terkandung di dalamnya. Sedangkan Naruto tengah menahan tawanya, pasalnya susu yang diambil Sasuke adalah sebuah susu formula yang tertulis untuk anak enam hingga delapan tahun. Apa mungkin, Sasuke akan membeli susu tersebut untuk anaknya. Tapi mana mungkin, dia dan Sakura menikah baru seminggu ini. Tidak mungkin 'kan mereka telah mempunyai anak. Atau hal itu mungkin saja, Uchiha terkenal dengan sharingan mereka, dan mungkin Sasuke dan Sakura langsung mempunyai bayi seetelah malam pertama mereka. Seminggu setelahnya, Sakura akan langsung melahirkan bocah enam tahun. Apa itu mungkin?
Naruto mencoba menghentikan pemikiran bodohnya, tetapi tidak menahan tawa saat membayangkan seorang bocah laki-laki yang mirip dengan Sasuke dan Sakura. Dengan rambut merah muda berbentuk ayam, dan mata emerald yang bisa berubah menjadi merah. Tapi semoga saja, sifat Sasuke tidak ada menurun pada anak-anaknya kelak.
"Apa yang kau tertwakan, Dobe!" dengusnya seraya menaruh tiga buah kotal yang lumayan besar ke dalam keranjang yang di bawa Naruto.
Naruto masih cengengesan, "Bukan apa-apa," ujarnya, "apa kau yakin ingin membeli itu," tanyanya saat melihat tiga kotak susu yang berada di keranjang yang dipegangnya.
Sasuke mengabaikan pertanyaan Naruto, lalu kembali menyeret Naruto melewati rak-rak yang berjejer. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, ia lalu menyerahkan sejumlah uang pada Naruto dan menyuruh nya untuk membayar ke kasir.
Naruto sempat menolak, tetapi melihat Sasuke yang menatapnya dengan sharingan, terpaksa ia melakukannya juga. Setelah mengantri beberapa menit, Naruto akhirnya mendapat giliran.
.
Sasuke bersandar di bagian luar toko yang baru dikunjunginya, menunggu Naruto membayar barang-barang yang diambilnya. Tidak lama, Naruto keluar dengan kantung belanjaan berwarna merah di tangan kanannya.
"Ini," kata Naruto lalu menyerahkan sebuah kantung yang berisi tiga buah kotak susu dan lima buah silinder berwarna pink yang berisi tisu basah pada Sasuke.
"Terima kasih, " gumam Sasuke lalu pergi tanpa kata meninggalkan Naruto yang masih berdiri di depan toko.
Naruto yang melihat Sasuke menjauh mengejarnya, dan berteriak memanggil nama sahabatnya. Tentu saja sasuke tidak menggubrisnya, ia terus saja berjalan kemudian mulai melompat melewati atap demi atap rumah warga Konoha. Berharap Naruto tidak akan mengikutinya, tapi ia lupa kalau ini adalah Naruto.
Naruto yang melihat Sasuke seolah melarikan diri darinya mengikuti pemuda itu, meskipun kehilangan jejak, Naruto tidak akan kesusahan mencari kemana Sasuke pergi. Jadi, dengan langkah santai Naruto berjalan menuju komplek Uchiha.
.
.
Ruang keluarga dari pasangan Fugaku dan Mikoto terlihat ramai. Terlihat beberapa orang yang sibuk dengan dengan kegiatan masing-masing. Ada Kisame yang tengah menonton acara di televisi yang menampilkan kehidupan hewan bawah laut, disampingnya Deidara yang sibuk dengan adonan tepung yang dimintanya dari Mikoto. Sasori yang tengah memperbaiki bonekanya dan dibantu oleh Itachi. Dan di karpet berbulu, duduk Hidan yang sedang curhat tentang misinya pada Jashin-sama. Disampingnya, Kakuzu tengah duduk bersila menghitung upah dari misi yang tadi sore selesai mereka jalani.
"Adikmu kemana?" tanya Deidara pada Itachi.
Itachi mengangkat bahu, "Entahlah," jawabnya. Matanya masih fokus terhadap lengan boneka yang patah milik Sasori.
"Mungkin sibuk dengan istrinya, namanya juga pengantin baru," celetuk Kisame yang fokusnya dari layar televisi tidak teralihkan saat melihat seekor hiu yang tengah menyergap mangsanya.
Akatsuki memang tidak hadir saat upacara pernikahan Sasuke dan Sakura karena saat itu mereka tengah dalam misi yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, terkecuali untuk Itachi yang memiliki ijin khusus karena adiknya yang tengah menikah. Itachi juga belum menceritakan "tragedi malam pertama" yang dialami adiknya.
"Kita belum mengucapkan selamat," komentar Sasori, "aku juga belum memberikan Sakura hadiah pernikahan," gumamnya. Sasori memang lumayan dekat Sakura, mereka pernah bekerja sama dalam sebuah misi di desa Oto. Dia melihat Sakura sebagai adik perempuan yang tidak pernah dimiliknya.
"Sial," geram Deidara. Menaruh adonan yang sudah berubah bentuk menjadi seekor burung itu ia taruh karena panggilan alam yang tidak bisa ia lawan. "Kamar mandi tidak pindah tempat, 'kan?" tanyanya pada Itachi yang sibuk memasang lengan boneka Sasori.
Itachi mengangguk tanpa melihat ke arah Deidara. Deidara pun langsung meluncur ke tempat yang sudah sangat ia hapal di mana letaknya itu.
Sepuluh menit kemudian, Deidara keluar dengan perasaan lega yang luar biasa. Awalnya, ia akan kembali ke ruangan tempat teman-temannya berkumpul tapi diurungkannya. Dia ingin sedikit menjelajahi rumah ini sebentar, dan tujuannya adalah kamar Sasuke. Dia penasaran, Sasuke dan Sakura belum juga menampakkan diri semenjak Akatsuki tiba di rumah ini. Mungkin saja, ia akan menemukan sesuatu hal yang menarik nantinya.
Deidara tidak akan kesulitan menemukan letak kamar Sasuke, karena ia memang sudah sangat hapal setiap sudut rumah yang menjadi rumah keduanya ini.
Sekarang ia sudah berdiri di depan kamar yang diyakininya adalah kamar Sasuke, perlahan ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Dia menyeringai akan hal ini.
.
Sakura menguap, matanya mengerjap perlahan menyesuaikan pandangannya. Setelah duduk selama lima menit, ia kemudian turun dari kamar tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama karena Sakura hanya membasuh wajahnya, ia lalu mengambil handuk kecil yang terlipat di atas meja di samping tempat tidur untuk mengusap wajahnya.
Karena tidak menemukan Sasuke di kamar mereka, Sakura berniat untuk mencarinya di luar kamarnya. Sebelum melangkah ke arah pintu, ia menyempatkan diri untuk mengambil boneka dino yang tergeletak nyaman di kasur.
Baru saja ia akan menggeser pintu kamarnya, Sakura dikejutkan oleh kedatangan seorang pemuda dengan rambut pirang berkuncir. "Deidara-nii…"
Deidara yang berharap menemukan sesuatu yang menarik di dalam kamar Sasuke kini dikejutkan oleh seorang gadis kecil dengan rambut merah muda. Kalau dilihat seksama, gadis imut yang tengah menatapnya sangat mirip dengan Sakura. Apa jangan-jangan dia adalah anak Sasuke dan Sakura? Dan barusan ia dipanggil Deidara-nii. Bagaimana gadis ini bisa tahu namanya, ia semakin bingung.
Sakura yang tidak mendapat tanggapan apapun dari Deidara merasa kesal, ia menggembungkan pipinya marah dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Sakura sering melihat posisi Sasuke seperti ini jika ia sedang marah.
"S-Sakura…" panggil Deidara tidak yakin. Entah kenapa ia memanggil gadis di depannya ini dengan nama itu. Mungkin karena terlihat seperti Sakura versi mininya.
"Deidara-nii menyebalkan," gerutu Sakura lalu keluar melewati Deidara yang masih terbengong di depan pintu.
"Keajaiban sharingan," gumam Deidara masih mengira gadis itu adalah anak Sasuke dan Sakura yang terlahir dalam tujuh hari setelah pernikahan mereka.
.
"Itachi-nii. Sasuke-kun mana?"
Kehadiran Sakura membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arahnya. Mereka semua menatap Sakura dengan wajah bingung termasuk Deidara yang berdiri di belakang gadis itu. Tentu saja pengecualian bagi Itachi yang menyuruh Sakura untuk datang kepadanya.
Setiap langkah yang diambil Sakura tidak lepas dari tatapan semua pasang mata anggota Akatsuki. Setelah mengambil tempat duduk di samping Itachi, ia kembali menanyakan keberadaan Sasuke. "Aku tidak menemukan Sasuke-kun di kamar," tutur Sakura pada Itachi.
Mengabaikan tatapan bingung dari teman-temannya, Itachi mengusap kepala Sakura sayang. Mumpung tidak ada Sasuke, pikirnya. "Dia mungkin keluar, Sakura," jelasnya.
"Kemana?" Sakura kembali bertanya karena tidak puas atas jawaban yang diberikan Itachi.
Kakuzu yang pada dasarnya tidak tertarik dengan apapun kecuali misi dan uang kini mengalihkan fokusnya pada Sakura dan Itachi setelah memasukkan dompetnya ke dalam saku. "Siapa sebenarnya bocah itu, Itachi?" tanyanya sedikit penasaran.
"Sebentar lagi dia pulang, Sakura." Itachi benar-benar mengabaikan pertanyaan Kakuzu atau mungkin itu adalah pertanyaan yang ada di seriap kepala teman-temannya.
"Itachi-nii menyebalkan," gumam Sakura lalu turun dari sofa dan pergi ke dapur. Sakura memang mempunyai mood yang sedikit buruk jika baru bangun dari tidur, dan orang yang dicarinya pasti Sasuke.
"Sepertinya kau akan mulai mendongeng," kata Sasori pada Itachi. Ia juga bingung, apa yang sebenarnya telah terjadi.
Itachi mendesah, "Semoga saja Sasuke tidak akan membunuhku setelah ini," gumamnya kemudian.
.
.
Dengan kantung belanja di tangannya, Sasuke masuk ke komplek Uchiha dengan tenang. Setelah membuka pintu, keningnya berkerut bingung saat melihat begitu banyak sepatu yang berjejer rapi di atas rak kecil yang berada di samping pintu. Perasaannya tidak enak, apalagi saat mendengar suara tawa yang berasal dari dari dalam rumah.
Membuang sepatunya sembarangan, Sasuke cepat masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke sumber suara. Matanya mengejang saat melihat kakaknya dan teman-teman menyebalkannya tengah tertawa.
"Aku kasihan pada adikmu, berarti dia belum menyentuh Sakura sama sekali," ujar Deidara di sela-sela tawanya.
Itachi membenarkan, "Sasuke sampai frustasi dengan "tragedi" yang dialaminya," imbuhnya.
Tawa orang-orang di ruangan itu kembali meledak, masing-masing membayangkan malam pertama Sasuke yang seharusnya menjadi sangat berkesan berubah menjadi bencana. Karena kepala orang berbeda-beda, maka versi "tragedi malam pertama" pun berbeda di setiap kepala anggota Akatsuki.
Telinga Sasuke menjadi sangat panas mendengar setiap komentar yang di dengarnya, bisa-bisanya mereka menjadikan dirinya menjadi bahan lleucon seperti itu. Dia tahu, mereka semua menyadari keberadaannya, karena ia tidak menyembunyikan chakra. Tapi, Itachi dan yang lainnya terus saja membahas tentang malam itu. Dan Sasuke berniat untuk membunuh Itachi karena sudah menyebarkan berita tentang tragedi yang dialaminya.
Sasuke berdehem untuk menarik perhatian orang-orang yang tengah menertawakannya, tapi tidak digubris. Karena itu, ia sengaja menjatuhkan sebuah guci yang cukup besar hingga pecah.
Brakk…
Ruangan itu sejenak sunyi, mereka sedikit terkejut dari suara pecahan yang ditimbulkan karena perbuatan Sasuke.
"Aku akan membunuhmu, Itachi," geram Sasuke menatap taam kakaknya, lalu melenggak santai menuju dapur.
"…"
"Sial sekali dia," gumam Kakuzu merujuk pada Sasuke.
"Dia pasti sangat frustasi," gumam Sasori, " tapi setidaknya, Sakura masih murni sampai saat ini," imbuhnya lega. Dia masih tidak rela, jika Sakura sekarang telah menjadi seorang Uchiha.
Hidan ikut nimbrung, "Itu karma dari Jashin-sama."
"Dia benar-benar marah," desah Itachi.
.
.
Tsuzuku…
.
.
Maaf kalau chap ini tidak ada humornya (bikin fic humor itu susah banget bagi saya), dan maaf juga kalau masih banyak typo.
Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan meripiu chap sebelumnya..
Uchiha Shesura-chan, Melody in Sky10, Uchiha jidat, Arisa Sakakibara, Himetsuka, Daffa Arfy, Rhikame, a first letter, hamster-pink, khoirunnisa740, Tohko Ohmiya, Natsuyakiko32, Kawaguchi Ryuume, Kumada Chiyu, gadisranti3251, aiko, iya baka-san, manusia 42 kilogram, Aragon 1001, Lely Ta, me, akbar123, Fivani-chan, franceour, Uchiha Yui-chan, nyakoi-chan, CN Bluetory, hanazono yuri, Akira Fly, kHaLerie Hikari, Raditya, BcherryPurpLe, Kiki RyuEunTeuk, gadiezt, Neko DarkBlue, Kim Keyna, Tiya-chan, Lala yoichi, AngelRyeong9, Uchiha Se, hahaha, Zee Uchiharuno, Natsumo Kagerou, Riuchi, Lhylia Kiryu, Marchioness Phantomhive
.
Concrite, riview?
