Can i get new Appa, Eomma?
.
Cast : Jung Yunho (30 tahun)
Kim Jaejoong (27 tahun)
Kim (Shim) Changmin (3 tahun)
Other cast : Jung (Choi) Siwon (33 tahun)
Park Yoochun (26 tahun)
Kim Junsu (25 tahun)
Son Dongwoon (24 tahun)
Pairing : Yunjae, Wonjae, Yoosu
Genre : YAOI/Shonen-ai/Family/Humor/MPreg
Chapter : 2 (dua)
Warning : cerita pasaran dan tidak jelas, judul tak nyambung dengan cerita, alur cepat, typo(s)bertebaran, bahasa tidak baku dan tak sesuai dengan EYD.
.
.
Jja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
::
::
YUNJAE
::
::
"EOMMA, MINIE PUNYA APPA. MINIE MAU AJUCCI INI JADI APPA MINIE, EOMMA, MINIE MAU APPA BALU." teriak Changmin menggelegar bertepatan dengan Jaejoong yang juga sampai diruang tamu.
Deg
Jantung Jaejoong berdetak kencang saat matanya melihat Changmin tengah menyeret seorang namja. Bukan, bukan terkejut dengan teriakan Changmin tadi, tapi dirinya terkejut dengan kehadiran namja yang tengah diseret Changmin itu.
"Neo! Apa yang kau lakukan disini?" teriak Jaejoong kencang sambil menunjuk wajah namja itu.
.
.
Jaejoong masih mengacungkan jari telunjukknya menunjuk namja yang tengah diseret Changmin. Mata bulat Jaejoong tambah melebar saat melihat namja itu hanya diam memandangnya juga. Namja itupun sama terkejutnya dengan dirinya. Oh, lebih dari apapun, kenapa namja ini tiba-tiba ada dirumahnya.
"Eomma, Minie mau ajucci tampan ini jadi appa Minie." teriak Changmin sambil tersenyum senang kearah Jaejoong. Nampaknya Changmin benar-benar sangat bahagia.
Seketika Jaejoong tersentak dari lamunannya dan berteriak, "Mwo?" Jaejoong membulatkan matanya lebar saat mendengar permintaan aneh nan ajaib dari anak sematawayangnya itu. Entah setan apa yang merasuki otak anaknya itu hingga meminta hal yang-menurutnya-sangat aneh.
Namja itupun tak kalah kagetnya dengan Jaejoong, iapun membulatkan matanya kaget sambil menatap Changmin yang terus menariknya mendekat kearah Jaejoong.
"Minie mau appa balu eomma." cengir Changmin lagi sambil terus menyeret namja itu mendekat kearah eommanya. Ditariknya namja itu yang terlihat masih terkejut, alhasil namja itupun pasrah saat dirinya ditarik oleh namja cilik gembul yang tak lain adalah Changmin menuju sofa dekat eommanya berdiri.
"Neo! Apa yang kau katakan pada anakku hah?" geram Jaejoong menunjuk tepat kewajah namja yang ditarik Changmin itu. Tak tahan lagi ia meredam amarahnya. Kilat marah jelas terlihat dikedua bola mata Jaejoong.
Namja itupun sedikit bergidik merasakan aura gelap yang seketika menguar dari namja cantik dihadapannya ini. Namun itu tak berlangsung lama, karena kini ia tengah sibuk memandangi wajah cantik namja dihadapannya. Mata musangnya menatap dalam mata bulat Jaejoong, bukannya takut akan kemarahan namja cantik dihadapannya, malah ia seperti terpesona pada namja cantik itu.
"Yak, Jung Yunho! Kenapa kau diam hah!" teriak Jaejoong lagi karena namja itu-yang ternyata musuh bebuyutannya dikantor, Yunho-sama sekali tak menjawab pertanyaannya, malah diam berdiri sambil menatapnya. Seakan tersadar Yunhopun segera mengerjabkan matanya pelan, lalu memalingkan wajahnya dari Jaejoong.
"Jawab aku Jung Yunho!"
"Hentikan teriakanmu itu! Kau bisa merusak pendengaranku dengan suara jelekmu itu!" bukannya menjawab, tapi Yunho justru menambah kekesalan Jaejoong. Dirinya malah dengan santai menatap Jaejoong lagi sambil menyeringai.
"Neo!" geram Jaejoong menahan luapan emosinya. Namun itu tak berpengaruh banyak bagi Yunho, namja tampan itu masih saja menyunggingkan seringainya.
"Waeyo? Apa ada yang salah dengan permintaan anakmu itu?" tanya Yunho santai sambil mulai berjongkok guna mensejajarkan dirinya dengan Changmin.
"Bocah manis, ireumi moeyo?" tanya Yunho pada Changmin dan mengabaikan tatapan membunuh eomma dari bocah yang tengah ditanyanya itu.
"Changmin, Kim Changmin imnida." jawab namja cilik itu sambil mengembangkan senyum lima jarinya. Ditatapnya 'appa impiannya' itu dengan mata bulatnya yang diturunkan dari eommanya.
"Jucci tampan, jucci tampan haluc jadi appa Minie ne." kata Changmin dan mulai mendekatkan dirinya lagi kearah Yunho. "Jucci tampan mau jadi appa Minie?" tanyanya lagi sambil mengerjabkan matanya memandang Yunho, sebuah harapan besar ada dalam mata itu.
Yunho sempat tertegun saat manatap mata bocah gembul dihadapannya ini, entah kenapa sedikit hatinya berdesir saat mendengar permintaan dari Changmin itu. Senyum terlukis diwajah Yunho sebelum menjawab pertanyaan Changmin itu.
"Aku-" jawab Yunho sengaja menggantungkan kalimatnya. Segera dirinya bangkit dan berdiri untuk menatap namja cantik yang masih terlihat kesal. Satu tangannya dimasukkan kedalam kantung jeansnya dan satunya lagi masih setia digenggam oleh Changmin. Seringai nampak diwajah tampannya, pertanda buruk untuk namja cantik dihadapannya.
"Tentu saja aku mau jadi appamu, Changminie."
Deg
Deg
Deg
Jantung Jaejoong mendadak berdetak kencang saat mendengar suara berat Yunho menjawab pertanyaan Changmin. Bukan, bukan karna terenyuh mendengar suara Yunho, namun ia terkejut karna mendengar apa jawaban Yunho. Mata bulat Jaejoong semakin melebar dan bibirnya membentuk huruf 'O' yang sangat besar. Mungkin saja lalat akan hinggap jika saja ia telat menutup kembali bibirnya itu.
"M..MWO?" teriak Jaejoong sangat amat keras hasil dari keterkejutannya. Ditatapnya Yunho dengan pandangan yang sulit diartikan. Percampuran antara rasa marah, benci, kesal, kaget dan...senang?
Yunho masih terus menatap Jaejoong dan sangat senang dengan perubahan ekspresi dari namja cantik itu. Seringai lagi-lagi terlukis diwajah tampannya. Mata musangnyapun memicing tajam menatap obyek dihadapannya itu.
"Neo micheosseo!" geram Jaejoong sangat kesal atas kelakuan Yunho. Bagaimana bisa ia mengatakan mau menjadi appa Changmin dan itu berarti menjadi-
"Andwae!"
Suaminya.
Jaejoong tiba-tiba berteriak sambil menggelengkan kepalanya. Disingkirkannya pikirannya itu lalu menatap tajam kearah Yunho.
"Jung Yunho, kau sudah gila eoh? Apa maksud ucapanmu itu hah?"
"Ucapan? Ucapanku yang mana?" tanya Yunho dengan wajah inoncent dan tak merasa bersalah pada Jaejoong. Ingin sekali rasanya Jaejoong bertindak kasar pada namja dihadapannya ini, meninjunya agar kesadaran namja itu kembali seperti semula. Namun ia tak melakukannya, mengingat masih ada Chanhmin didekatnya.
"Jangan memancing kemarahanku Jung Yunho-ssi!" geram Jaejoong berusaha menekan amarah yang memenuhi dadanya.
"Hahaha, baiklah-baiklah. Jadi, apa ada yang salah dengan ucapanku itu, nona Jaejoong?"
"Berhenti menganggapku yeoja!"
"Baiklah, Jaejoong-ssi. Dimana letak kesalahan dalam ucapanku hmm?" ucap Yunho lagi sambil menatap Jaejoong dengan senyum merekah diwajahnya.
"Neo!" Yunho benar-benar sedang menguji kesabaran namja cantik itu rupanya. Dilihat sekarang namja itu masih mengulum senyum memandang Jaejoong.
"Kau, kenapa menyanggupi permintaan Changmin hah?" jawab Jaejoong akhirnya dan berusaha menekan suaranya yang mulai meninggi. Walaupun ia sangat kesal, ia berusaha menutupinya dari Changmin.
"Aku, menyanggupinya? Tak ada alasan khusus, aku hanya kasihan melihat bocah itu. Nampaknya ia sangat mengharapkanku menjadi appanya." jawab Yunho santai dan mulai berjongkok kembali menghadap Changmin.
"Benar bukan?" tanyanya lagi ketika matanya bertubrukan dengan mata Changmin.
Changmin mengangguk dengan semangat, menyebabkan rambut tebalnya bergoyang lucu. "Ne." ucapnya ditengah-tengah anggukannya.
Dunia Jaejoong serasa berputar saat melihat mata Changmin yang berbinar menatap Yunho. Entah kenapa hatinya sedikit bergetar melihat binar kebahagiaan dari anaknya itu. Sudah lama ia tak melihat binar seperti itu dari anaknya. Tak terasa bahkan sekarang dirinya ikut tersenyum melihat itu, melihat bagaimana bahagianya Changmin menatap Yunho.
"Anak manis." ucap Yunho sambil mengelus pelan rambut Changmin, dan seketika membuat dada Jaejoong kembali bergemuruh kencang, melihat interaksi antara Yunho dan Changmin itu. Perasaan hangat tiba-tiba muncul didadanya. Bagaimana Yunho terlihat sangat tulus dan sayang saat mengelus rambut hitam Changmin. Dan senyum Yunho yang-baru pertama kali dilihatnya-nampak sangat tulus, tak pernah dilihatnya Yunho tersenyum setulus itu pada seseorang. Biasanya hanya ada seringai dan senyum palsu yang menghiasi wajah Yunho itu.
"Appa." teriak Changmin dan tanpa aba-aba langsung menyerang Yunho dan memeluk namja tampan-yang sangat ingin dijadikannya appa-itu dengan erat. Dibenamkannya wajahnya pada ada bidang sang 'appa'.
Deg
Kali ini giliran jantung Yunho yang berdetak sangat kencang, saat tubuhnya merasakan dekapan hangat tangan mungil milik namja kecil a.k.a Changmin. Perasaan hangat tiba-tiba menjalar didadanya. Tangan besarnya tiba-tiba sulit digerakkan, bahkan hanya untuk membalas dekapan hangat Changmin itu ia tak mampu. Ia masih terkejut atas sikap Changmin yang tiba-tiba itu.
Sama halnya dengan Yunho, Jaejoong juga nampak tertegun melihat Changmin tengah memeluk Yunho-namja yang menjadi musuh bebuyutannya dikantor-seperti itu. Mata besarnya sedikit berkaca-kaca, melihat keakraban dari pasangan namja beda usia dihadapannya itu. Entah kenapa, melihat Yunho dan Changmin dalam posisi seperti itu, nampak seperti Yunho dan Changmin memang benarlah seorang anak dan appa.
::
::
YUNJAE
::
::
Setelah perdebatan cukup alot antara Yunho dan Jaejoong-ditambah aksi menangis Changmin yang sangat sulit untuk dihentikan-akhirnya dengan sebuah kesepakatan Jaejoong bersedia agar Yunho ikut bergabung dengan dirinya dan Changmin untuk pergi ke kebun binatang. Walaupun awalnya Jaejoong berteriak-teriak untuk mengusir Yunho dan diakhiri dengan tangis Changmin yang sangat kencang.
"Eomma, kajja kita pelgi. Minie mau main, eomma." rengek Changmin sambil menarik-narik ujung kemeja Jaejoong. Jaejoong sendiri sekarang tengah berada didapur dan tengah memasukkan bekal makanan yang akan dibawanya pergi.
"Sebentar lagi ne changi, eomma masih menunggu teman. Minie ingat bukan?"
Changmin hanya mengembungkan pipinya sebal saat mendengar kata 'sebentar' dari eommanya, bahkan semenjak tadi ia sudah mendengar kata itu lebih dari sepuluh kali, tapi teman eommanya itu sama sekali belum datang.
Dimana Yunho? Ah, rupanya namja tampan itu tengah berada diruang tengah sambil memainkan ponsel touchscreennya dan tak lama sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Minie bocan!" rajuk Changin lagi sambil menghentakkan kakinya dan menyilangkan tangannya didepan dada. Ditatapnya eommanya itu dengan pandangan kesal lalu berlari kencang keluar dari dapur.
"Yah, Minie, mau kemana?" teriak Jaejoong yang kaget karna tiba-tiba Changmin berlari.
"Appa~" teriak Changmin menggelegar dan sempat membuat Yunho-yang diteriaki Changmin-terlonjak saking kagetnya. Bahkan ponsel ditelinganya hampir terjatuh andai saja ia tak erat menggenggamnya.
"Ne Dujun-ah, mian aku tak bisa datang. Aku lupa aku ada janji dengan seseorang. Mianhae, kapan-kapan aku akan datang bermain kerumahmu, jja, annyeong."
Klik
Yunho buru-buru mematikan ponselnya sebelum Changmin berteriak kembali. Baru saja ia memberikan kabar pada Dujun kalu dirinya tak bisa datang kerumahnya.
"Ne Minie, waeyo? Kenapa memanggilku eoh?" kata Yunho sambil merentangkan tangannya bersiap menyambut kedatangan Changmin.
Plukk
Dan dengan sukses badan montok Changmin menubruk pelan badan kekar Yunho lalu dengan sigap Yunho memeluk tubuh Changmin dan mengangkatnya lalu mendudukkannya dipangkuannya. Senyum mengembang diwajahnya saat melihat wajah cemberut Changmin.
'Apa ini rasanya menjadi appa?'
"Waeyo? Kenapa mukamu ditekuk begitu?" tanya Yunho sambil mencubit pelan pipi Changmin.
Changmin meringis saat merasakan pipinya ditarik Yunho, namun segera ia mempoutkan bibirnya lagi saat melihat Yunho yang tengah menertawakannya.
"Minie bocan. Minie mau pelgi liat cinga." ucap Changmin dengan tangan terlipat didadanya.
Melihat itu senyum tipis terlukis diwajah Yunho, "Kau mau bermain? Bukankah kita harus menunggu teman eomma dulu? Baru setelah itu kita bisa pergi." jawab Yunho sambil mengelus pelan puncak kepala Changmin.
'Eomma? Yang benar saja? Aku terdengar seperti memanggil istriku sendiri. Mwo? Istri. Yak, apa yang kau pikirkan Yunho!'
Kalian pasti heran mengapa Yunho sama sekali tak kaget atas panggilan Changmin pada Jaejoong? Itu karena dirinya memang sudah mengetahui semua informasi tentang namja cantik itu. Dulu, saat Jaejoong baru menjadi pegawai diperusahaan appanya, Yunho sudah mencari tahu semua informasi tentang namja cantik itu. Bukan, bukan karna dirinya tertarik pada namja cantik itu, namun memang sudah menjadi kebiasaan Yunho untuk mencari tahu identitas para pegawai perusahaan sedetail mungkin. Jadi tak heran bukan kalau dirinya tak kaget atas panggilan 'eomma' yang diteriakkan Changmin itu.
"Tapi Minie bocan. Teman eomma datangnya lama."
"Bersabarlah. Kalau kau bosan, bagaimana kalau sekarang kita bermain? Eoh? Kau bermain denganku?"
Changmin menatap Yunho dengan pandangan berbinar, wajahnyapun sudah tak ditekuk seperti tadi. Segera tanpa aba-aba, Changmin mendorong tubuh Yunho dan menyebabkan namja dewasa itu terjungkal kebelakang, dan tanpa aba-aba lagi Changmin segera menyerang Yunho dengan tangan mungilnya. Oh, tak tahu saja Yunho, ia baru saja memberi umpan pada macan yang sedang kelaparan.
::
::
YUNJAE
::
::
Suara desahan dan teriakan nampak memenuhi apartemen tempat dimana Kim Jaejoong dan keluarga kecilnya tinggal. Jaejoong yang tadinya sibuk menyiapkan makanan yang akan dibawanya pergi kini hanya bisa melongo dengan bibir yang terbuka lebar. Bagaimana sekarang dilihatnya, dua orang namja yang tadinya berpenampilan rapi, kini malah terlihat seperti dua korban bencana alam yang berhari-hari tak dievakuasi dari tempat kejadian.
Bagaimana tidak? Lihatlah pakaian yang dikenakan keduanya, sangat kusut dan lecek. Jangan lupakan tatanan rambut yang tadinya disisir rapi, kini terlihat sangat berantakan dengan rambut yang mencuat kesana-sini. Wajah kedua namja itu terlihat sangat kelelahan. Ani, bukan keduanya, hanya salah satu namja-yang lebih dewasa-saja yang terlihat kelelahan. Sementara namja satunya terlihat senang bahkan memasang seringai diwajah kecilnya.
"O..mo..na. Apa yang kalian lakukan?" kata itulah yang pertama kali terdengar dari namja cantik itu. Padahal tak ada setengah jam dirinya menyiapkan makanan dan membiarkan dua namja itu diam diruang tamu, sekarang bahkan ruang tamunya yang biasanya tertata rapi, kini terlihat seperti kapal pecah. Dengan barang-barang yang bertebaran dimana-mana.
"Eomma." teriak namja cilik-yang baru saja turun dari tubuh tegap namja dibawahnya-sambil berlari menuju arah Jaejoong. Direntangkannya tangannya meminta Jaejoong untuk menggendongnya.
"Minie-ah, waeyo?" tanya Jaejoong kepada anaknya yang kini sudah bergelayut manja dilengannya.
"Ania eomma. Minie tadi habic main kuda-kudaan dengan jucci tampan." jawab Changmin sambil nyengir kearah Yunho.
Yunho? Ah, ya. Namja itulah yang tadi diajak Changmin untuk bermain. Ia pikir Changmin akan mengajaknya bermain mobil-mobilan atau permainan lainnya yang tak membutuhkan tenaga banyak. Mengingat usia namja cilik itu tak lebih dari 3 tahun, tapi apa? Ia justru diajak bermain gulat oleh namja cilik itu serta permainan lainnya yang hanya berisi pertarungan.
Jelas saja Yunho tak akan berani berbuat macam-macam pada bocah cilik itu. Mengingat dirinya namja dewasa yang sangat pantang untuk menyakiti anak dibawah umur. Maka dari itu ia memilih mengalah dan membiarkan Changmin untuk menang melawannya. Namun apa yang didapat? Changmin justru menyerangnya dengan brutal karena merasa tak ada perlawanan dari Yunho, hingga menyebabkan namja itu kewalahan dan akhirnya harus merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan namja cilik itu.
"Ternyata aku salah dengan mengalah darinya. Tak kusangka ia akan dengan senang hati menyerangku." desis Yunho dengan wajah yang sulit diartikan, percampuran rasa kesal, marah dan...bahagia?
Perlahan dirinya bangkit dari duduknya dan sedikit merapihkan penampilannya yang sangat kacau akibat dari pertarungannya dengan Changmin.
Jaejoong hanya tersenyum kecil melihat raut wajah kesal dari Yunho itu. Bisa ia rasakan betapa kesalnya namja tampan itu terhadap anaknya. Junsu saja yang notabene merupakan pamannya akan merasa sangat kesal dengan tingkah Changmin. Apalagi Yunho yang baru bertemu dengannya?
"Kau lebih baik rapikan penampilanmu, kau terlihat sangat kacau." ucap Jaejoong sabil menatap Yunho, "Dan kau Minie," kini pandangannya beralih menatap Changmin dalam gendongannya. "Cepat minta maaf pada ahjussi."
Changmin hanya tersenyum kecil pada Jaeoong dan mulai turun dari gendongan eommanya, berjalan mendekati Yunho lalu memeluk kaki namja itu sambil bergumam, "Jucci payah. Bica kalah dali Minie."
Dan detik itu juga Yunho rasanya ingin menguliti Changmin.
::
::
YUNJAE
::
::
Tepat pukul 11.00 siang, Siwon baru tiba dikediaman Jaejoong. Karena mengalami kemacetan saat diperjalanan dan dirinya yang tadi harus pergi ke kantor untuk mengambil bahan rapat esok hari. Kini, Siwon sudan tepat berada didepan pintu apartement Jaejoong, dengan seikat lily putih dan satu kantung makanan untuk anak namjachingunya itu. Ia ingat ucapan Jaejoong kalau anaknya itu sangat menyukai makanan.
Ting tong
Siwonpun memencet bel pintu kamar Jaejoong berharap cemas akan reaksi anak Jaejoong nantinya. Ini adalah yang pertama bagi Siwon untuk bertemu langsung dengan putra namjachingunya itu. Awalnya Siwon memang sedikit kaget karna tak menyangka namja cantik incarannya itu sudah memiliki anak. Ia kira kalau Jaejoong dulu menikah dengan seorang yeoja dan menghasilkan anak dari hubungannya itu. Namun ternyata ia salah, setelah menyuruh Junhyung orang kepercayaannya untuk mencari tahu semua tentang namja cantik itu, akhirnya ia tahu kalau ternyata Jaejoong menikah dengan seorang namja dan Jaejoonglah yang mengandung dan melahirkan anaknya-yang seingat dirinya bernama Changmin-hingga kejadian naas terjadi pada suaminya itu. Justru Siwon sangat senang mendengar berita itu-berita kalau Jaejoong bisa mengandung-karena dengan itu bukankah ia bisa memiliki anak nantinya bersama pujaan hatinya itu.
Ah, bermimpilah tuan Siwon.
Ting tong
Lama tak ada yang membukakan pintu, Siwonpun sekali lagi memencet bel pintu kamar Jaejoong dan tak lama kemudian pintu kamarpun terbuka dan menampakkan wajah seorang namja tampan dengan mata musangnya. Seketika Siwon membulatkan matanya kaget karena menemukan namja itu yang membukakan pintu apartement Jaejoong, selanjutnya iapun berteriak-
"Yunho?"
::
::
YUNJAE
::
::
Siwon menatap tajam kearah dongsaengnya merasa kesal dengan kehadiran dongsaengnya itu diapartement Jaejoong. Entah apa yang bisa membawanya sampai ketempat kekasihnya itu tinggal, namun yang lebih membuatnya iritasi adalah, keakraban yang terjalin antara Yunho dan Changmin anak dari Jaejoong. Siwon bisa melihat bagaimana kedekatan Changmin dengan Yunho, ia hanya bisa menghela nafas berat saat menyadari Changmin yang bahkan tak memperdulikan kedatangannya. Siwon jadi merasa tak kasat mata didepan dua namja itu.
"Jadi-" ucap Siwon memulai percakapan, "Apa yang membuatmu sampai berada disini, Yunho?" tanya Siwon dengan nada kesal sangat kentara, bagaimanapun juga ia sangat kesal karena mengetahui Yunho berada dirumah Jaejoong sementara tadi dirinya mengatakan akan pergi kerumah teman.
Yunho hanya memandang sekilas pada hyungnya itu dan mulai kembali bermain dengan Changmin, "Kau sendiri, apa yang membawamu sini, ke kediaman pegawaimu?" tanya Yunho sarkatis dengan nada yang dingin.
Siwon hanya menatap sebentar kearah Yunho sebelum matanya berpindah menatap Changmin dan tersenyum, "Karena pegawaiku itu, adalah kekasihku."
Deg
Yunho dengan cepat memutar wajahnya menatap Siwon. Menatap hyungnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Kaget? Tentu. Terkejut? Sudah pasti. Cemburu? Entahlah, mendengar kalau Jaejoong adalah kekasih hyungnya sedikit membuat hati Yunho menjadi panas. Entah karena apa, bukankah wajar jika hyungnya itu memiki kekasih? Yang tak wajar adalah, kenapa justru Jaejoonglah yang menjadi kekasih hyungnya itu?
Hei Yunho, apa ada masalah dengan itu semua? Jaejoong adalah kekasih hyungmu? Tak ada yang aneh bukan, kecuali kalau kau memiliki rasa lain terhadap namja cantik itu.
"Sudah kuduga." gumam Yunho, dipalingkannya matanya dari wajah hyungnya lalu menatap Changmin yang masih serius bermain dihadapannya.
"Kau sendiri, bagaimana caranya kau disini? Setahuku kau dan Jaejoong-"
"Aku salah masuk kamar." jawab Yunho memotong ucapan Siwon, "Dan anak ini," ucapnya lagi sambil menunjuk Changmin, "Menyeretku masuk kedalam."
Siwon hanya menatap Yunho dengan pandangan menyelidik, seolah mengatakan aku-tak-sepenuhnya-percaya.
"Kalau kau tak percaya, terserah." ucap Yunho lagi seperti bisa membaca pikiran Siwon.
"Bukannya aku tak percaya, hanya saja ini terlihat sedikit, aneh!" ucap Siwon lagi sambil terus menatap Yunho.
Changmin yang sedari tadi sibuk bermainpun akhirnya berbicara dan menatap Siwon dengan pandangan sedikit kesal.
"Ajucci belicik." gumam Changmin dan mempoutkan bibirnya kesal, sedari tadi ia mendengar Siwon berbicara terus. "Eomma!" teriak Changmin lagi dan segera beranjak dari duduknya saat melihat Jaejoong yang baru keluar dari kamar.
"Mian hyung aku sedikit lama. Ah, bagaimana kalau sekarang kita berangkat? Sebelum hari semakin siang?" ucap Jaejoong sambil memandang Siwon. Sementara Changmin sudah meloncat gembira didepan kaki Jaejoong.
"Acikk acikk, kita belangkat. Kajja eomma, appa!"
Deg
Jantung Siwon rasanya berdetak kencang saat Changmin menyebutnya appa. Apakah itu artinya ia sudah diterima oleh bocah gembul itu? Bisa dilihatnya kini Changmin yang perlahan berjalan kearahnya sambil tersenyum manis, bukankah tadi ia seperti tak menghiraukan kehadirannya? Tapi sekarang? Oh, rupanya dewi fortuna sedang berpihak pada Siwon eoh? Siwon sudah menyambut Changmin yang tinggal selangkah lagi berada didekatnya. Tapi, tunggu! Hei, kenapa bocah itu malah melewatinya dan berjalan terus kearah-
"Appa, kajja,"
'M..mwo? A..appa? Kenapa Changmin memanggil Yunho appa?'
Yunho tersenyum saat Changmin sudah berada disampingnya, diusapnya lembut puncak kepala Changmin sebelum akhirnya ikut berdiri dan menggandeng hangat tangan bocah gembul itu. Yunhopun menyeringai saat melihat wajah Siwon yang terlihat shock atas apa yang baru dilihatnya. Ia yakin kalau dipikiran hyungnya itu berbagai macam pertanyaan bermunculan.
Sementara Jaejoong, dirinya menepuk pelan keningnya karena melupakan keberadaan Yunho disekitarnya. Ia merutuki kebodohannya karena melupakan kehadiran namja perusak suasana itu. Dan bisa ia lihat kini, seringai tercetak diwajah Yunho dan itu artinya sebuah pertanda buruk baginya.
"N..neo, kenapa Changmin menanggilmu-"
"Appa?" potong Yunho sebelum Siwon menyelesaikan kalimatnya, "Karena aku adalah appa Changmin yang baru." ucap Yunho tegas sambil memasang seringai diwajahnya menatap Jaejoong yang pucat pasi ditempatnya.
::
::
YUNJAE
::
::
YunJaeMin plus Siwon kini tengah berada didalam mobil Yunho. Awalnya Jaejoong berencana untuk mengusir Yunho pulang dan pergi hanya bertiga dengan Changmin dan Siwon, namun apadaya Changmin melarangnya dan berteriak histeris saat Jaejoong memisahkannya dengan Yunho. Dan bisa dipastikan setelah itu, Jaejoong tak akan tega melihat anaknya menangis seperti itu dan dengan wajah teramat kesal menyuruh Yunho ikut masuk mobil Siwon.
Namun lagi-lagi Changmin beraksi, dirinya sama sekali tak mau berdekatan dengan Siwon, alhasil dirinya kembali meronta meminta pergi menggunakan mobil 'appa'nya. Dan disinilah mereka sekarang, dengan posisinya Yunho menyetir, sementara disebelah pengemudi nampak Jaejoong yang tengah memangku Changmin-tentu ini hasil dari rengekan Changmin.
Ingin rasanya Siwon menyate(?)Changmin karena permintaannya yang sangat aneh itu, namun diurungkannya mengingat ia adalah anak dari namja cantik yang merupakan kekasihnya.
Awalnya Siwon berniat untuk membatalkan kepergiannya menemani Jaejoong, namun melihat puppy eyes yang ditunjukkan Jaejoong, akhirnya meluluhkan hati Siwon dan akhirnya iapun ikut dalam rombongan itu. Walaupun dengan kedongkolan yang luar biasa.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, merekapun tiba di kebun binatang. Segera setelahnya Changmin dengan semangat menarik Yunho untuk masuk, mengabaikan kehadiran eommanya yang terlihat sedikit kesal karena perhatian Changmin sudah beralih darinya.
"Kajja appa, Minie mau liat cinga. Kajja." Changmin terlihat sangat antusias. Dirinyapun dengan semangat pula menarik Yunho untuk membeli tiket masuk. Jaejoong dan Siwon sendiri sudah jauh tertinggal dibelakang, karena Changmin seakan melupakan kehadiran dua orang itu.
Jaejoong merasakan perubahan besar dalam diri namjachingunya-Siwon. Setelah tadi-entah setan dari mana-Yunho mengumumkan dengan bangga kalau dirinya adalah appa baru dari anaknya, kini Siwon menjadi lebih pendiam dan sepertinya namja dengan lesung pipi itu berusaha memendam sesak dihatinya. Bisa dilihat bagaimana Siwon yang menatap tajam Jaejoong sesaat setelah Yunho mengatakan hal itu. Meminta penjelasan dari ucapan namja yang notabene adalah dongsaengnya. Belum lagi tatapan mata Siwon yang nampak sedih kala melihat interaksi dari Yunho dan Changmin yang nampak begitu intim.
"Hyung-" rintih Jaejoong sepelan mungkin. Dirinya tak pernah melihat Siwon yang seperti ini. Dilihat dari sudut manapun, keadaan ini sama sekali tak menguntungkan baginya.
"Hyung, apa hyung marah padaku?" tanya Jaejoong hati-hati. Bagaimanapun sekarang suasana hati Siwon sedang tak menentu, salah memilih kata bisa berakibat fatal.
"Hnn." geram Siwon tanpa menjawab sama sekali pertanyaan Jaejoong. Dirinya tetap menatap lurus kedepan tepat kearah dua namja beda usia yang nampak sangat bahagia.
Melihat itu Jaejoong merasa sangat sedih, tak biasanya Siwon akan bersikap ketus begini padanya. Semua ini gara-gara Yunho, namja sok yang sudah seenaknya mengatakan hal aneh pada Siwon.
"Mian hyung, a..aku juga tak mengerti kenapa Minie bersikap begitu pada Yunho. Tapi aku yakin itu tak akan lama. Aku akan membuatnya melupakan Yunho dan ki-"
"Aku rasa tak mungkin." jawab Siwon tiba-tiba memotong ucapan Jaejoong. "Lihatlah, anakmu sepertinya sangat menyukai Yunho, dan Yunhopun-" Siwon berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, sambil menatap Yunho dan Changmin yang sudah berjalan jauh didepan mereka, "Sepertinya juga menyukai anakmu Jae."
Jaejoong seketika merasakan sesak yang sangat didadanya, melihat orang yang di-, ani melihat orang yang mencintainya terlihat sangat terpuruk atas apa yang terjadi. Ya, memang Jaejoong belum sepenuhnya mencintai Siwon, dirinya menerima Siwon karena Siwon sangat perhatian dan menyayangi dirinya. Ia memang menyukai namja dengan lesung pipi itu, namun belum menginjak yang namanya cinta.
"Aku tak pernah melihat Yunho, tersenyum bahagia seperti itu." lanjut Siwon lagi masih menatap dongsaengnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Yunho, namja yang selalu menjadi sainganku dalam berbagai hal. Sedikit banyak menjadikanku paham bagaimana sifatnya, terlepas dari kenyataan kalau kami adalah saudara kandung. Setiap kali, kami selalu bersaing dalam segala hal, bersaing dalam merebutkan sesuatu." Jaejoong berpaling dan menatap Siwon, menunggu namja itu melanjutkan kalimatnya.
"Sampai sekarang, tak pernah sekalipun aku melihat Yunho begitu bahagia dan bisa tertawa selepas itu." kata Siwon sambil tersenyum getir melihat kebahagiaan Yunho, "Selama ini orang tuaku selalu menomer satukan diriku dan mengenyampingkan Yunho. Kalau tidak dengan usaha sendiri, Yunho tak akan bisa meraih posisi seperti sekarang, terlepas ia adalah putra dari appaku. Selama ini, tanpa keinginannya, ia selalu menjadi posisi nomor dua dalam keluargaku, jadi tak mengherankan kalau ia menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Akupun tak pernah ingin menjadikan Yunho bayang-banyangku, dan membuat bumonimku selalu mengenyampingkan Yunho, hanya karna aku adalah putra pertama generasi Jung. Tak seharusnya aku mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Yunho."
'Ternyata begitu, pantas saja Yunho sangat dingin terhadap semua orang. Ia, hanya terjebak dalam perasaan dinomor duakan, dan tak ingin orang lain juga menganggapnya dibawah'
"Sekarang, setelah begitu lamanya, aku bisa melihat senyum bahagia darinya lagi, aku, aku tak tahu apa aku harus senang atau sedih, karna kenyataan hal yang membuat Yunho bahagia kembali adalah-" Siwon tak bisa melanjutkan kata-katanya. Semua kata-katanya seolah tercekat ditenggorokannya. Seolah jika ia mengutarakan kata-kata itu, hanya akan menambah luka hati yang belum sepenuhnya sembuh.
"Untuk kali ini, bolehkah aku egois, Jaejoong-ah?"
::
::
YUNJAE
::
::
Yunho dan Changmin tengah menatap kesal kearah sepasang kekasih yang baru saja menginjakkan kaki mereka masuk ke dalam kebun binatang. Terlihat keduanya tengah menatap tajam pasangan itu dengan tangan terlipat didada dan wajah cemberut menyiratkan ketidaksukaan mereka.
Sedangkan pasangan kekasih itu hanya diam menatap HoMin dengan pandangan yang seolah menyampaikan kalimat-kenapa-menatap-kami-seperti-itu?-yang tentu saja tak berhasil didengar oleh Yunho dan Changmin.
"Eomma lama cekali, Minie bocan!" keluh Changmin saat pasangan kekasih itu-yang tak lain adalah sang eomma dengan Siwon-tepat berdiri dihadapannya.
Ternyata kekesalan bocah gembul itu tak lain karena Jaejoong dan Siwon sangat lama datang menemuinya. Sehingga menyebabkan waktunya berkurang untuk melihat semua binatang yang ada di kebun binatang itu. Sedangkan Yunho, kesal karena melihat Siwon yang terus menempeli eomma Changmin itu, entah kenapa dirinya sangat kesal melihat pasangan Siwon-Jaejoong itu.
"Habis Minie jalannya sangat cepat, eomma jadi tak bisa mengejar, untung ada Siwon ahjussi, jadi eomma tak tersesat untuk mencari Minie." jawab Jaejoong sambil membelai lembut puncak kepala Changmin, ia hanya ingin agar Changmin melihat kebaikan dari Siwon, setidaknya ia berusaha untuk membuat Changmin melihat keberadaan Siwon.
"Mianhaeyo." ucapnya lagi karna Changmin masih dalam mode ngambek.
"Mianhae ne Changminie, oh ya. Kenalkan aku Siwon, tadi saat dirumah kita belum sempat berkenalan aniya?" kata Siwon berusaha untuk mendekatkan diri pada Changmin.
"Jucci belicik." ketus Changmin menjawab perkataan Siwon, dirinya masih kesal karna eommanya terlambat datang.
"Aigoo Minie-ah, tak boleh begitu sama jussi. Cepat minta maaf!"
"Chiluh!" elak Changmin dan membuang wajahnya kesamping, "Kalo jucci itu tak ikut kita tak akan telambat!" ucapnya lagi sambil menjulurkan lidahnya kearah Siwon. "Mehrong!"
"Aiss anak ini. Siapa yang meng-"
"Sampai kapan kalian mau berdebat hal konyol begitu?" tiba-tiba suara Yunho menginterupsi perkataan Jaejoong, "Kalau kau terus protes dan memarahi Changmin begitu, kita akan benar-benar terlambat. Hari semakin siang!" ucap Yunho lagi dengan suara dingin dan pandangan yang menusuk tajam.
"Kajja Minie, lebih baik kita main berdua saja. Biarkan pasangan ini menikmati waktunya berdua." Yunho segera meraih tangan Changmin dan mulai mengajaknya berjalan masuk kedalam. Sementara Siwon dan Jaejoong dengan segera mengikuti langkah dua namja itu, sebelum bocah itu bertambah marah nantinya.
::
::
YUNJAE
::
::
Yunho dan Changmin sangat asik memperhatikan berbagai macam binatang yang ada dikebun binatang itu. Senyum tak pernah lepas di wajah keduanya. Pemandangan yang sangat jarang bisa ditemui ketika Yunho nampak sangat bahagia dan tersenyum sepanjang hari. Siwon saja sampai heran kenapa dongsaengnya itu bisa sangat bersemangat seperti itu, tak jauh beda dari Siwon, Jaejoongpun heran kenapa anaknya sangat cepat akrab dengan orang asing seperti Yunho.
Kini Yunho dan Changmin tengah asik melihat beruang madu yang ada didalam kandangnya. Changmin terus berteriak kencang saat beruang itu mulai berjalan mendekat kearahnya dan seketika membuka lebar mulutnya sehingga menampilkan taringnya yang tajam.
"Howaaaa, daebak!" teriak Changmin kencang dan matanya nampak berbinar. Yunho sendiri tersenyum senang saat melihat Changmin yang begitu antusias. Dirinyapun mengusap pelan kepala Changmin.
"Beluang itu milip appa." kata Changmin tiba-tiba sambil menunjuk salah satu beruang yang tengah tidur dikandangnya.
Yunho sedikit mengernyit bingung karna Changmin menyamakannya dengan beruang, walaupun Changmin sepertinya mengejek dirinya, namun entah kenapa ia sama sekali tak marah.
"Aku mirip beruang itu? Yang benar saja!"
"Hihi, milip! Badan beluangnya becar sepelti badan appa!" kata Changmin lagi sambil cekikikan. Ditutupnya mulutnya saat dirinya tertawa.
"Yak! Apa katamu bocah! Kau mengatai badanku besar eoh? Padahal aku sudah rajin olahraga!" kata Yunho pura-pura marah. "Karna kau sudah mengataiku, kau harus dapat hukuman!"
Seketika Yunho menggelitiki Changmin yang berada dihadapannya. Changmin terkikik geli dan menggeliatkan badannya menghindari serangan Yunho. Namun Yunho tak mau kalah, ia terus menggelitiki Changmin sampai anak itu benar-benar kehabisan tenaga.
"Haha..geli..geli..ha..ha."
"Bocah nakal, berani mengataiku eoh! Rasakan ini!" ucap Yunho lagi dan menambah gelitikannya pada badan Changmin. Walaupun berkata sedikit kasar, namun berbanding terbalik dengan wajah Yunho yang menampakkan kebahagiaan. Ia terlihat sangat senang bermain dengan Changmin.
"Ampun..ha..ampun appa. Hihi."
"Kau bilang apa aku tak mendengarnya." kata Yunho masih terus menggeliti Changmin.
"Ampun appa, haa."
"Shireo!" ucap Yunho lagi dan semakin gencar mengerjai Changmin.
Sementara Yunho dan Changmin terus bercanda seperti itu, tak jauh dari mereka nampak Jaejoong dan Siwon yang menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya sama-sama heran dengan tingkah HoMin, namun jauh dari itu, Jaejoong dan Siwon merasa senang atas kebahagiaan kedua orang itu. Tak terasa bibir keduanya melengkung membentuk sebuah senyuman.
::
::
YUNJAE
::
::
Setelah berkeliling melihat semua binatang yang ada di kebun binatang itu, kini Changmin nampak kelelahan akibat aktivitasnya itu. Sekarang ia sudah ada digendongan Yunho karna Changmin menolak saat Siwon menawarkan dirinya untuk menggendong dirinya. Nampaklah sekarang Changmin seperti bayi kangguru yang menempel didada Yunho.
"Eomma, Minie lapal." rengek Changmin sambil menatap Jaejoong yang berjalan dibelakangnya.
"Ne kalau begitu kita makan disana ne." Jaejoongpun melangkahkan kakinya lebih dulu mencari tempat untuk makan, karna memang dirinya tadi sudah menyiapkan bekal makan untuk mereka semua. Dibelakangnya nampak Siwon dan HoMin yang mengekor.
Jaejoong dengan sigap menaruh bekal makanannya dan menyusunnya. Tempat ini memang menyediakan tempat untuk berpiknik sambil menikmati pemandangan binatang-binatang. Setelah semua selesai, Jaejoongpun menyodorkan kotak bekal-bermotif beruang-pada Changmin.
"Minie, kajja makan sama eomma." kata Jaejoong dan hendak mengambil Changmin dari pangkuan Yunho.
Namun Changmin menolak dan malah merapatkan dirinya kedada Yunho. "Minie mau makan cama appa." jawab Changmin sambil tangannya meraih kotak bekal sodoran Jaejoong.
"Appa, cuapi Minie ne?" ucap Changmin lagi sambil menatap Yunho. Yunho hanya diam sambil menatap mata bulat Changmin. Detik berikutnya sebuah senyum terlukis diwajah Yunho lalu dengan sigap mengambil kotak bekal dari tangan Changmin.
"Hihi, gambal beluang." celetuk Changmin saat melihat gambar yang ada dikotak bekalnya.
"Yak, beruang lagi eoh!" ucap Yunho pura-pura marah.
"Appa, aaaaaa~"
Mendengar Changmin yang membuka mulutnya meminta makan, Yunhopun dengan sigap menyendok bekal makan itu-yang ternyata nasi goreng-dan menyodorkannya pada Changmin.
"Machita! Appa juga makan!" pekik Changmin dan menyuruh Yunho makan juga. "Macakan eomma itu cangat enak, jadi appa haluc makan juga!"
"Masakan eomma? Apa kau yang memasaknya?" tanya Yunho pada Jaejoong.
"Ne, ini semua aku yang memasaknya, wae?"
"Ania, heran saja. Apa masakanmu benar-benar enak eoh?" kata Yunho lagi seakan meragukan masakan Jaejoong.
"Tentu saja. Coba saja makan kalau kau tak percaya!"
"Baiklah."
Yunhopun mengambil satu sendok penuh nasi goreng dikotak bekal Changmin, lalu memasukkan kemulutnya, mengunyahnya pelan dan menelannya.
'Enak sekali, apa benar dia yang memasak?'
"Bagaimana?" tanya Jaejoong ketus. Rupanya ia sedikit kesal karna Yunho meragukan rasa masakannya.
Yunhopun tersenyum tipis sampai-sampai tak terlihat sebelum menjawabnya, "Lumayan." jawabnya datar dan mulai menyuapi Changmin kembali.
"Huh, menyebalkan!"
"Masakanmu sangat enak Jae, bahkan aku tak heran kenapa Changmin mempunyai nafsu makan yang baik. Itu semua karna rasa masakan eommanya yang sangat enak." jawab Siwon berusaha membuat mood namja cantik itu kembali.
Jaejoong hanya tersenyum mendengar perkataan Siwon yang mencoba menghiburnya. "Ne hyung, kajja lanjutkan makanmu." Siwon mengangguk dan mulai melanjutkan kembali makannya.
"Eomma, ayo cuapi appa. Appa kan cuapin Minie, jadi appa tak bica makan cendiri. Kajja eomma cuapi appa."
"Uhukk..uhukkk." seketika Jaejoong tersedak minumannya saat mendengar permintaan Changmin. "Mwo?" teriaknya lagi sambil membulatkan matanya tak percaya.
"Eomma cuapi appa. Appa kan belum makan." ucap Changmin lagi sambil memasang puppy eyesnya.
"Yah, dia sudah besar Minie, untuk appa eomma menyuapinya!"
"Tapi appa belum makan. Nanti kalau appa cakit gimana?" kata Changmin lagi tak mau kalah.
"Ta..tapi-"
"Hiks, eomma tak mau cuapi appa? Huwee, eomma jaat. Kacian appa kelapalan. Huwee."
"Yah yah, uljimayo. Aiss, menyusahkan saja. Ne ne, eomma akan suapi Yunho jussi ne." kata Jaejoong akhirnya menyetujui usul Changmin, daripada Changmin menangis lebih baik ia menuruti permintaan anaknya itu.
Siwon dan Yunhopun hanya terdiam mendengar perdebatan kecil ibu dan anak itu. Tapi seketika raut wajah mereka berubah saat mendengar keputusan Jaejoong. Siwon memasang wajah kesalnya, sementara Yunho menyunggingkan senyum kemenangan diwajahnya. Entah kenapa ia malah senang saat Jaejoong menyetujui usul anaknya. Ah, bahkan kalau tak disuapipu sebenarnya ia bisa makan sendiri. Tapi ia juga senang dengan usul Changmin itu.
"Hee." cengir Changmin senang saat mendengar persetujuan eommanya.
"Sini, buka mulutmu." ucap Jaejoong ketus saat menyodorkan sesendok nasi goreng kehadapan Yunho. Walaupun berkata kasar, namun sejujurnya jantung Jaejoong bergemuruh kencang sekarang. Entah kenapa ia malah sedikit gugup saat memikirkan dirinya menyuapi Yunho. Terlihat seperti seorang istri yang menyuapi suaminya.
'Jaejoong pabo! Apa yang ada diotakmu!'
Sementara Yunho sendiri sedang mengulum senyumnya, melihat tangan putih Jaejoong terulur kearahnya. Dan seketika seringai tercetak diwajahnya saat matanya beralih memandang Siwon yang nampak geram melihat adegan dihadapannya.
Hap
Nyam
Nyam
Yunhopun mengunyah pelan nasi goreng itu sambil matanya tak lepas memandang Jaejoong. Ia tersenyum disela kunyahannya.
"Mashita! Kenapa rasa makanan ini jadi lezat saat kau yang menyuapiku ne?" ucap Yunho setelah menelan habis nasi goreng itu, dan membuat Jaejoong berblushing ria mendengar perkataannya. Sementara Siwon membulatkan matanya cengo mendengar sang dongsaeng menggombali kekasihnya seperti itu.
::
::
YUNJAE
::
::
Setelah makan siang yang diwarnai sedikit insiden manis-setidaknya menurut Changmin, sekarang rombongan kecil itu kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi sisi kebun binatang yang belum terjamah. Apalagi tadi Changmin ingin sekali melihat singa, binatang favoritnya. Disinilah sekarang mereka, didepan kandang singa yang menampakkan si raja hutan itu yang tengah berjalan-jalan dengan lenggoknya menegaskan kalau dirinyalah sang penguasa hutan.
Changmin sedari tadi tak henti-hentinya berteriak kagum saat hewan favoritnya itu mengaum dan menunjukkan taringnya dihadapan bocah itu, walaupun ia sangat menyukai singa sesuai dengan karakter kartun favoritnya-Alex dalam kartun Madagaskar-tapi ia sama sekali tak tahu seberapa buas hewan satu itu. Maka dari itu, iapun tersenyum senang saat singa itu mengaum dihadapannya dan membuka lebar mulutnya. Tak tahu saja Changmin, kalau dalam kepala singa itu, dirinya adalah mangsa empuk untuk memenuhi kebutuhan makannya. Dengan tubuh montok Changmin, singa itu seperti disuguhi daging empuk dihadapannya.
"Howaaa, kelen. Cinga itu becar cekali." pekiknya girang sambil menunjuk-nunjuk singa itu. Sekarang dirinya sedang berada digendongan Yunho, tadi ia merasa kelelahan makanya ia meminta gendong pada Yunho. Dan entah kenapa Yunho hanya menuruti keinginan bocah kecil itu, dirinya hanya ingin agar Changmin merasa senang disamping ia juga kasihan melihat Changmin yang nampak kelelahan.
"Appa, liat cinganya menguap, apa dia mengantuk?" kata Changmin polos saat sang singa membuka lebar mulutnya, dipikiran Changmin singa itu sedang menguap karna mengantuk, padahal kenyataannya singa itu sedang kelaparan dan berniat memangsa Changmin yang berada tepat dihadapannya.
"Anio, singa itu tak mengantuk. Ia hanya kelaparan." jawab Yunho dan sedikit melompat karna badan Changmin melorot digendongannya.
"Appa Minie ngantuk." ucap Changmin lagi dan kini mulai memejamkan matanya sedikit dibahu Yunho, "Eomma, ngantuk." ucapnya lagi saat melihat Jaejoong yang berdiri tak jauh darinya.
"Anak eomma ngantuk? Kajja sini, gendong sama eomma saja. Kasihan Yunho jussi keberatan denganmu." Changmin menggeleng pelan sebelum matanya benar-benar tertutup, tanda dia sudah tertidur.
"Gwencanha, biarkan saja ia bersamaku. Sebaiknya kita pulang, ia nampak kelelahan." jawab Yunho sambil membetulkan posisi Changmin digendongannya. Ditatapnya namja cilik itu yang kini benar-benar sudah terlelap digendongannya.
"Kajja."
Merekapun berjalan bersama menuju parkiran. Sementara Siwon masih termenung ditempatnya. Ia merasa sedikit sesak saat melihat adegan tadi. Entah kenapa, dimatanya Yunho dan Jaejoong plus Changmin nampak benar-benar seperti keluarga. Ia tersenyum getir sebelum mengikuti langkah YunJae menuju parkiran.
::
::
YUNJAE
::
::
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Jaejoong, Yunho bergumul dengan pikirannya sendiri. Sekarang ia tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Changmin sendiri sudah berpindah kepangkuan Jaejoong dan duduk jok belakang, sementara sekarang Siwon yang menduduki jok disebelah Yunho.
Yunho masih sibuk berkutat dengan pikirannya. Ia tengah berfikir, untuk apa dirinya mau dengan susah payah mengikuti kehendak Changmin ke kebun binatang, bagaimana dirinya yang terlihat sangat memanjakan Changmin, bagaimana dirinya yang kesal melihat kedekatan Siwon dengan Jaejoong. Semua pikiran itu berputar-putar diotaknya. Ia belum menemukan alasan apa yang menyebabkan dirinya bersikap begitu.
Diliriknya Jaejoong yang tengah memangku Changmin dijok belakang melalui kaca mobilnya, dan seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat bagaimana perhatiannya Jaejoong pada anaknya itu. Saat Changmin tengah tertidur, Jaejoong dengan sayang menyibak poni yang menutupi mata Changmin. Terlihat ia sangat perhatian dan menyayangi Changmin dengan lembut.
Tak terasa Yunho tersenyum saat melihat adegan itu. Hatinya sedikit terenyuh melihat pemandangan itu. Segera dialihkannya lagi pandangannya menuju jalanan dan berkonsentrasi menemukan jawaban atas berbagai macam pertanyaan yang kini bergelayut diotaknya.
"Eung," lenguh Changmin dalam tidurnya.
"Cup Minie-ah, ini eomma changi." kata Jaejoong lembut dan menepuk pelan pantat montok Changmin.
Changmin kembali terlelap dalam tidurnya dan sebelumnya menggumamkan sesuatu, "Yuno appa." sambil tersenyum lembut.
Deg
Dengan cepat Yunho kembali melihat Jaejoong dan Changmin lewat kaca mobilnya, dengan jantung yang bergemuruh kencang. Apalagi saat melihat Jaejoong yang tersenyum dengan lembut sambil mengusap pelan rambut Changmin memberikan ketenangan pada anaknya itu. Dan sekarang Yunho baru sadar jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
Ya. Sekarang ia paham alasan kenapa ia dengan senang hati mau menuruti permintaan Changmin, mengapa dirinya seakan ingin memanjakan Changmin, mengapa dirinya sangat ingin melihat Changmin tersenyum dan tertawa bahagia, terlebih lagi, mengapa dirinya merasa kesal saat mengetahui hyungnya berpacaran dengan Jaejoong dan perasaan kesalnya saat melihat kedekatan Siwon dan Jaejoong itu. Sekarang ia paham kenapa.
Hanya satu hal yang bisa menggambarkan jawaban dari pertanyaannya itu. Karna ia-Jung Yunho-ternyata menyukai ani, bahkan sekarang ia berani berteriak didalam hatinya bahwa ia mencintai Jaejoong dan Changmin, dan sudah menganggap mereka bagian dari dirinya. Ia sadar bahkan ia sudah sejak dulu menyimpan perasaan khusus pada Jaejoong, hanya saja ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya itu.
Terlebih lagi sekarang, ia bertemu dengan Changmin. Entah kenapa, semenjak bertemu dengan Changmin, Yunho sangat menyayangi bocah gembul itu. Ia menyukai setiap hal yang dilakukan oleh anak itu padanya. Ia sangat senang jika bisa melihat bibir tipis bocah itu melengkung membentuk sebuah senyuman.
Ya Yunho sadar, kalau dirinya sudah mencintai Changmin dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia begitu menyayangi Changmin dengan segala kepolosan dan keevilan yang ada pada dirinya. Tak terasa Yunho tersenyum saat menyadari semuanya. Iapun sekarang bertekad untuk bisa menyatukan dirinya dengan keluarga kecil itu. Entah bagaimana caranya, yang jelas ia sangat berambisi untuk itu. Kali ini, ia tak akan kalah dari hyungnya yang ia tahu sangat ingin menjadikan Jaejoong sebagai pendampingnya.
Siwon sedikit merasa aneh dengan dongsaengnya, saat tak sengaja ia menoleh dan mendapati Yunho tengah tersenyum sendiri. Dan detik berikutnya, ia cukup terperangah saat melihat Yunho yang sudah memalingkan wajahnya menatap diriya sambil menyeringai.
::
::
YUNJAE
::
::
YunJaeMin plus Siwon akhirnya sampai di kawasan apartemen Bolero, segera setelahnya Jaejoong menggendong Changmin keluar dari mobil dan menggendongnya pelan masuk ke dalam. Saat Jaejoong kesulitan membawa Changmin keluar mobil, Siwon dengan sigap mebantu Jaejoong. Dengan perlahan dituntunnya Jaejoong pelan keluar dari mobil.
"Gomawo." ucap Jaejoong setelah dirinya berhasil keluar dari mobil.
Siwon hanya tersenyum dan mulai mengantar Jaejoong masuk ke dalam. Sementara Yunho hanya menatap Siwon dan Jaejoong dengan pandangan yang sulit diartikan. Lebih baik, ia juga mengikuti pasangan itu untuk memastikan Changmin selamat sampai rumahnya. Ah, kau hanya beralasan tuan Jung. Katakan saja kau hanya tak ingin agar hyungmu dan Jaejoong lebih lama berduaan.
Ting
Pintu lift terbuka dan mengantarkan rombongan itu menuju lantai 3 dimana kamar Jaejoong berada. Setelah sampai didepan pintu kamar, dengan sigap Siwon memencet bel kamar Jaejoong. Tak berapa lama pintu kamar terbuka dan menampakkan jidat lebar dari seorang namja.
"Ah, hyung, kau baru tiba?" kata namja jidat lebar itu sambil membuka lebih lebar pintu kamar Jaejoong.
"Ne, kami baru pulang. Su-ie eodiya?" tanya Jaejoong dan mulai melangkah masuk, "Hyung masuklah." lanjutnya lagi mengajak Siwon masuk kedalam.
"Oh, ada sajangnim ju-, KYAAA!" seketika Yoochun menjerit keras saat dengan tak berprikemanusiaannya seorang namja menyerobot masuk ke dalam kamar Jaejoong dan sedikit mendorong bahunya.
"Yak, apa-apaan ka-, Sajangnim?" baru saja ia hendak memaki orang yang sudah seenaknya masuk kedalam dan dengan keras mendorongnya, namun semua tergantikan dengan teriakan kencang saat dirinya menemukan wajah yang sangat tak asing dimatanya.
"Yu..Yunho sajangnim? A..apa yang ka..kau lakukan disini?" tanyanya lagi setelah berhasil meredakan keterkejutannya. Namun ia malah gugup.
Yunho yang ditanyaipun hanya diam mengacuhkan pertanyaan karyawannya itu. Dirinya dengan cuek malah mendaratkan pantatnya pada sofa yang ada disana.
"Sajangnim?" tanya Yoochun lagi karna merasa heran atasannya yang terkenal selalu bercekcok dengan Jaejoong malah sekarang dengan tenangnya berada didalam kamar Jaejoong.
"Mwo? Tadi aku pergi ke kebun binatang dengan mereka." jawab Yunho cepat dan dengan wajah datar. Segera saja Yunho memainkan ponselnya tak berniat lagi berbincang dengan Yoochun.
Yoochun sendiri hanya bisa bengong mendengar jawaban datar dari Yunho. Ditatapnya atasannya itu dengan pandangan terheran-heran. "Sajangnim pergi bersama Jae hyung? Ke..kenapa bisa?" gumamnya lagi dan seketika pandangannya beralih menuju Siwon, meminta penjelasan dari atsannya itu.
Siwon yang mengerti dengan tatapan Yoochun, hanya mengangkat bahu tanda tak ingin ikut campur. Cukup kali ini ia lelah setelah berperang batin melawan hatinya. Sekarang yang ia inginkan hanyalah ketenangan.
"Chunie siapa yang datang?" tanya Junsu yang baru selesai dari acara mandinya. Dihampirinya Yoochun yang tengah bengong diruang tamu. "Waeyo Chunie?" tanya Junsu lagi karna Yoochun tak menjawab pertanyaannya.
"Eh nuguya?" tanya Junsu saat matanya menemukan dua namja tampan yang tak dikenalnya. "Apa kalian mau meminta sumbangan?"
Oh great, apa tampang tampan dari dua namja itu pantas menjadi orang penagih sumbangan? Yang benar saja Kim Junsu.
"Mwo? Haha, kau salah paham. Aku Siwon dan itu Yunho. Kami adalah atasan Jaejoong dan Yoochun di kantor." jawab Siwon kalem sama sekali tak tersinggung dengan tuduhan Junsu.
"Ah, jadi kau yang bernama Siwon hyung? Jae hyung sering sekali membicarakanmu." kata Junsu lagi sambil mempethatikan Siwon dari atas kebawah.
"Yak yak, kenapa kau melihat Siwon sajangnim seperti itu eoh? Tak sopan!" gerutu Yoochun menyadari tindakan tak sopan dari kekasihnya.
"Hehe, aku hanya penasaran, kenapa Jae hyung mau berpacaran dengannya."
Gubrakkk
Apa sebenarnya yang ada diotak uri Kim Junsu?
"Ck, kau ini. Daripada kau melakukan hal tak jelas, lebih baik kau buatkan tamu kita minuman. Sana, buatkan minuman untuk Siwon dan Yunho sajangnim!"
"Aiss kenapa aku? Kenapa tak kau saja? Kan kau yang mengusulkan?"
"Kau tuan rumah disini Junsu-ie baby."
"Shireo, kau saja yang buat Park. Aku mau mengganti baju dulu." dan dengan cepat Junsu sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya. Hah, kalau begini jadilah Yoochun yang menyiapkan minuman untuk kedua tamu tak terduga itu.
"Tunggu sebentar ne sajangnim." ucapnya sebelum pergi menghilang ke dapur.
::
::
YUNJAE
::
::
Jaejoong sedang menidurkan Changmin di kamarnya. Setelah tadi dirinya memastikan Changmin benar-benar tertidur, barulah ia keluar dengan perlahan tak ingin membuat anaknya itu terbangun.
Ceklek
"Hyung!"
"HUWAA."
"Eh hyung? Waeyo?"
"Jun..su! Kau mengagetkanku pabo!"
Pletak
"Aww. Appo hyung!"
"Jangan mengagetkanku, kau tahu Changmin baru saja tidur! Ck!"
"Mian hyung, aku tak bermaksud."
"Sudahlah, kajja kita kedepan. Aku tak mau kalau sampai Minie terbangun dengan suaramu itu!" kata Jaejoong sambil menyeret Junsu menuju ruang tamu.
Sementara itu di ruang tamu, nampak tiga orang namja tengah sibuk mengobrol, ah bukan tiga namja, tapi dua dari tiga namja yang ada disana. Hanya Siwon dan Yoochun saja yang nampak asik mengobrol, sementara Yunho tengah sibuk sendiri dengan dunianya.
"Mian membuatmu menunggu hyung." kata Jaejoong saat dirinya sudah berada diruang tamu. Segera ia mendudukkan pantatnya di sofa sebelah Yoochun.
"Ania, bagaimana Changmin? Apa sudah tidur?" tanya Siwon sambil tersenyum hangat pada Jaejoong.
"Sudah hyung, ia sangat lelap. Mungkin kelelahan."
"Ah ya hyung, anu, i..itu-"
"Wae Chunie? Kenapa kau gugup begitu?" tanya Jaejoong karena aneh melihat Yoochun yang gugup begitu.
"Kau tak kesambet kan Chunie?" tanya Junsu dengan wajah innoncentnya.
"Aiss, aku tak kesambet Su-ie baby! Anu, itu hyung, kenapa Yu..Yunho sajangnim bisa bersama denganmu?" tanya Yoochun takut-takut sambil melirik kearah Yunho-yang rupanya sudah selesai dengan urusannya-dan sekarang tengah menatap Yoochun dengan wajah datarnya.
Seakan tersadar, Jaejoong menepuk pelan dahinya baru teringat kalau Yunho masih berada disini. Aiss, kenapa ia selalu lupa dengan kehadiran namja perusak suasana itu. Ia harus extra hati-hati agar namja itu tak mengucapkan hal-hal aneh seperti tadi.
"Ah ya, itu tadi, kami tak sengaja bertemu dijalan." jawab Jaejoong asal tanpa menatap Yunho. Terang saja ia tak betani menatap Yunho, karna sekarang namja mata musang itu tengah menatap intens dirinya.
"Bertemu dijalan?" ulang Yoochun memastikan.
"Ani. Aku tak bertemu dijalan dengannya, tapi aku memang datang kesini." ucap Yunho dan semakin membuat Yoochun kebingungan. "Aku salah masuk kamar dan saat Changmin membuka pintunya, ia menyeretku masuk kedalam." ucap Yunho lagi dan mulai menyandarkan punggungnya ke sofa belakangnya. Ditatapnya wajah Jaejoong yang sekarang tengah was-was menantikan kalimat selanjutnya yang akan diucapkannya.
"Dan anak itu-" ucap Yunho dan sengaja menggantungkan kalimatnya. "Memintaku-"
"Ye?"
"Untuk menjadi-"
"HUWAAAAAA, APPPAAAA."
Tiba-tiba saja teriakan Changmin menggelegar dan menggema didalam apartement Jaejoong, membuat semua orang yang ada disana terlonjak kaget dan menutup telinga mereka mendengar teriakan kencang Changmin itu.
::
::
YUNJAE
::
::
Changmin masih sesenggukan dalam dekapan Yunho. Ya, tadi bocah gembul itu berteriak karena takut Yunho akan meninggalkannya. Astaga, bahkan Yunho belum menjadi appanya, tapi kenapa dirinya sangat takut kehilangan Yunho. Maka dari itu, sekarang Changmin terus mendekap Yunho agar namja itu tak pergi dari sisinya.
Jaejoong dan Siwon hanya melihat adegan itu dengan perasaan campur aduk. Jaejoong yang melihat kedekatan Changmin dengan Yunho sedikit terenyuh karena tak biasanya Changmin mudah dekat dengan orang asing. Sementara Siwon, ah, hati namja itu seakan mencelos saat melihat kedekatan HoMin. Nampak dimatanya Yunho sangat cocok menjadi appa bagi Changmin. Sementara YooSu yang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hanya menatap penuh tanda tanya pada Jaejoong dan Siwon.
"Eungh, ap..pa." lenguh Changmin dan semakin mengeratkan pelukannya pada dada Yunho.
"Ne, aku disini." jawab Yunho sambil mengusap pelan rambut Changmin. "Waeyo?"
"Ap..pa, hajima." ucap Changmin lagi dan kini menatap mata Yunho. "Hajima."
Tangan Yunho berhenti mengusap rambut Changmin, kemudian dirinya beralih menatap mata bulat Changmin. "Kau mau aku tetap disini?" tanya Yunho dan mendapat anggukan lemah dari Changmin. "Ne, aku tak akan pergi." jawab Yunho lagi dan seketika membuat wajah Changmin sumbringah.
"Yaksok?"
"Ne, yaksok!" ucap Yunho sambil tersenyum. "Jja, sekarang kau harus tidur ne. Aku akan menemanimu."
Changmin segera mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Tanpa lupa mendekap erat tubuh Yunho agar Yunho tak pergi darinya. Senyum mengembang diwajah tampannya, nampaknya uri Changmin tengah bahagia eoh?
Tanpa disadari Yunho, kini Jaejoong dan Siwon tengah menatap kedekatan HoMin tadi dengan pandangan berkaca-kaca. Ani, bukan keduanya, tapi hanya Jaejoong seorang. Dirinya sangat terenyuh melihat Changmin yang nampak bahagia bersama Yunho, walaupun mereka baru saja bertemu. Entah apa yang ada dipikiran Jaejoong, namun hatinya merasa hangat kala melihat kedekatan HoMin. Rasanya ia bisa melihat gurat kebahagiaan diwajah anaknya itu.
"Jae-ah, mereka nampak sangat bahagia. Kedekatan mereka, sangat alami dan seperti memang sudah seharusnya. Aku merasa mereka sangat dekat, seperti ada benang merah yang menghubungkan keduanya."
"Hyung~"
"Apa ini pertanda dari Tuhan agar aku menyerah Jae-ah?"
::
::
YUNJAE
::
::
Setelah memastikan Changmin benar-benar tertidur, dengan perlahan Yunho keluar dari kamar Changmin dan berjalan pelan menuju ruang tamu. Tanpa lupa sebelumnya membenarkan posisi tidur Changmin, menyelimutinya dan terakhir mengecup pelan kening bocah gembul itu, sebelum benar-benar keluar darisana.
"Aku benar-benar nampak seperti seorang appa." gumam Yunho saat dirinya keluar dari kamar Changmin. Senyum terpatri diwajahnya sambil memandang Changmin yang sudah tertidur pulas.
Sementara itu di ruang tamu, nampak Yoochun tengah mengobrol serius dengan Jaejoong serta Siwon. Sungguh ia sangat penasaran dengan yang sebenarnya terjadi.
"Jadi hyung-" ucap Yoochun memulai percakapan, "Aku sangat penasaran. Kenapa Changmin memanggil Yunho sajangnim-"
"Appa!" potong Junsu cepat sambil meletakkan telunjuknya dipelipis kanannya, khas pose orang berfikir. "Memangnya sejak kapan hyung menikah dengan Yunho itu? Kenapa aku tak tahu?"
Gubrakk
"Su-ie baby, bukan seperti itu. Jae hyung tak pernah menikah dengan Yunho sajangnim, maka dari itu kau harus mendengarkan dulu penjelasan Jae hyung, jangan kau memotong ucapanku."
"Haruskah?"
"..."
"Baiklah, kajja cerita hyung."
"Ne hyung, ceritakanlah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Jaejoong menghela nafas sebentar sebelum menjawabnya, "Aku juga sama kagetnya dengan kalian. Saat Minie tiba-tiba mengatakan kalau ia ingin Yunho menjadi appanya." jawab Jaejoong sambil melirik sekilas Siwon. "Aku tak tahu kenapa Yunho bisa sampai didepan rumahku tadi siang, saat itu aku tengah berada didapur dan Changminlah yang membukakannya pintu. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya, namun yang aku tahu setelah Minie membukakan pintu, tiba-tiba saja ia berteriak kencang dan mengatakan kalau ia mempunyai appa baru, dia berteriak dengan sangat bahagia, kalau dia ingin Yunho menjadi appanya."
Yoochun dan Junsu hanya diam mendengarkan cerita Jaejoong, sesekali keduanya menatap Siwon yang nampak memancarkan aura kesedihan diwajahnya.
"Jadi, Changminlah yang pertama kali menginginkan Yunho menjadi appanya?" tanya Yoovuhn menyimpulkan semua omongan Jaejoong, sementara Jaejoong hanya mengangguk lemah.
"Ya sudah, kalau memang Minie yang memintanya, kenapa hyung tak kabulkan saja? Toh Yunho juga nampaknya sangat menyayangi Minie, dan yang lebih penting Yunho itu sangat tampan." jawab Junsu denga wajah innoncent tanpa memperhatikan perasaan seorang namja yang kini semakin menunjukkan wajah depresinya.
"Y..yah apa yang kau katakan Su-ie, bagaimana bisa! Bukankah Jae hyung sudah mempunyai Siwon sajangnim? Jangan berkata hal-hal yang tidak-tidak baby!" ucap Yoochun merasa kesal dengan ucapan kekasihnya yang tak tahu keadaan.
"Ya kan hyung tinggal putuskan saja Siwon itu, jadi apa masalahnya?" jawab Junsu lagi benat-benar tak tahu situasi, "Lagipula aku lebih menyukai Yunho itu, dia sangat manly dan tampan, dan lagi ia nampaknya sangat menyayangi Minie. Bahkan Minie juga sudah menyukai Yunho. Ah ya, bukankah hyung lebih memilih pendamping yang disukai Minie eoh?"
Deg
Perkataan terakhir Junsu benar-benar membuat ketiga namja itu diam ditempatnya. Bisa dilihat kini semua mata memandang kearah Jaejoong. Ya memang benar, Jaejoong pernah mengatakan kalau ia akan memilih pendamping yang disukai oleh anaknya. Dan lihatlah, tanpa mempunyai otak encerpun semua juga bisa melihat, kalau Changmin sangat menyukai namja mata musang itu.
Jaejoong hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan Junsu, lidahnya terlalu kelu bahkan hanya untuk mengucapkan sesuatu. Siwon sendiri juga tak bisa mengatakan apapun, ia ingat dengan jelas kalau Jaejoong pernah berkata seperti itu.
Tanpa disadari keempatnya, sang obyek pembicaraan tengah berdiri tak jauh dari mereka. Yunho hanya tersenyum menampakkan seringainya kala mendengar Junsu mendukung dirinya. Nampaknya jalan untuk mendapatkan namja cantik itu semakin terbuka lebar, setelah Changmin berada dipihaknya, kini Junsu, dongsaeng dari namja incarannya pun sudah membuka jalan baginya.
"Aku tak akan melepaskanmu, dan kali ini aku tak akan kalah darimu, hyung!"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Chap 2 end.. Gimana readers? Moment YunJaeMinnya dapet kan? Haha.. Saya paling suka part dimana Jaejoong nyuapin Yunho,, ditambah gombalan Yunho diakhir itu.. Kyaaa,, Jaema pasti salah tingkah tuh.. Wkaka,, ide bagus Changmin mempersatukan appa dan eommanya.. Great job ^^
Lalu part favorit kalian yang mana? Saya pengen tahu kesan kalian.. Hehehe
Adakah yang merasa kesal karna saya memasangkan Siwon dengan Jaejoong? Waah, tenang saja.. Diakhir tetap Jaejoong dengan Yunho,, saya tak akan tega memisahkan YunJae.. Hehe
Disini sudah ketahuan kan sebenarnya Yunho suka sama Jaejoong, dulu awalnya dia nggak berani ngungkapin kalo dia suka Jaejoong, terbukti saat chap 1 kemaren dia menggumamkan yeopo saat berada di kantin. Tau kan readers maksudnya? Yup, yang dilihat Yunho itu adalah Jaejoong.. Haha
Chap depan berisi gimana Yunho mulai menunjukkan perasaannya pada Jaejoong.. Ditambah bantuan Changmin tentunya.. Jja, kalau penasaran dengan aksi Changmin menyatukan bumonimnya,, silahkan ditunggu kelanjutannya nde ^^ #modus
Doumo arigatou gozaimasu buat kalian yang sudah follow, favorit dan review cerita ini di chap 1 kemaren.. Tanpa kalian mungkin saya nggak akan melanjutkan FF nan gaje ini.. Sekali lagi gomawoyo buat :
.
VolddeMIN vs KYUtie , RyGratia , 3204KKB , Junghyejung , clouds06 , missjelek , Jung hani , iru iru g , onlyloveherylau , Ryu , SimviR , Anik0405 , Vic89 , Guest , Vionic KrisTao Maniac , Shiro20 , ajid yunjae , Shin Min Gi , Park yooki , danactebh , KJhwang , Yunjae Believer , yoon HyunWoon , diyas , meyy-chaan , Aydashifa , merry jung , Rara , Jung Bita , anastasya regiana , farla 23 , azahra88 , toki4102 , haruka-chan , Na BearBooJae , nunoel31
.
Big thanks atas kesan kalian, dan jangan lupa tinggalkan kesan lagi nde untuk chap 2 ini ^^
Tak lupa ketinggalan juga, gomawo bagi kalian silent readers, tanpa kalian mungkin FF ini juga tak akan saya lanjutkan.. Sebenarnya saya sangat ingin mengetahui identitas kalian dalam bentuk Review,, supaya kita bisa saling mengenal.. ^^
Jja, akhir kata silahkan menebak kelanjutan cerita ini dan jangan lupa tinggalkan jejak ne. Kalau ada readers yang punya ide untuk menyatukan YunJae juga boleh memberikan sarannya. huhuhu ^^
Minna san, onegaiitashimasu ^^
Denpasar, 11 September 2013
