Can i get new Appa, Eomma?

.

Cast : Jung Yunho (30 tahun)

Kim Jaejoong (27 tahun)

Kim (Shim) Changmin (3 tahun)

Other cast : Jung (Choi) Siwon (33 tahun)

Park Yoochun (26 tahun)

Kim Junsu (25 tahun)

Son Dongwoon (24 tahun)

Pairing : Yunjae, Wonjae, Yoosu

Genre : YAOI/Shonen-ai/Family/Humor/MPreg

Chapter : 3 (tiga)

Warning : cerita pasaran dan tidak jelas, judul tak nyambung dengan cerita, alur sesuai mood saya, typo(s)bertebaran, bahasa tidak baku dan tak sesuai dengan EYD.

.

.

Jja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

::

::

YUNJAE

::

::

Tanpa disadari keempatnya, sang obyek pembicaraan tengah berdiri tak jauh dari mereka. Yunho hanya tersenyum menampakkan seringainya kala mendengar Junsu mendukung dirinya. Nampaknya jalan untuk mendapatkan namja cantik itu semakin terbuka lebar, setelah Changmin berada dipihaknya, kini Junsu, dongsaeng dari namja incarannya pun sudah membuka jalan baginya.

"Aku tak akan melepaskanmu, dan kali ini aku tak akan kalah darimu, hyung!"

.

.

Malam semakin larut, Siwonpun sekarang sudah berniat pulang. Setelah tadi sedikit kesal karna Yunho lagi-lagi mengacaukan semuanya. Bagaimana tidak, dirinya tadi dengan lantang menyerukan bersaing dengannya untuk memperebutkan namja cantik a.k.a Kim Jaejoong. Dunia Siwon serasa runtuh saat melihat kilat nyalang dimata dongsaengnya itu, ia paham benar kalau sekarang Yunho sangat berambisi. Sudah lama ia tak melihat kilat itu dimata dongsaengnya. Alhasil, setelah menguatkan hatinya, iapun memilih pulang sebelum ia lepas kendali menyerang dongsaengnya. Biarlah, mungkin Yunho hanya ingin sedikit bermain, mungkin ia tak serius dengan ucapannya.

"Hyung, hati-hati dijalan ne. Gomawo hari ini sudah mau menemani kami ke kebun binatang. Aku, sangat senang." kata Jaejoong sambil mengantar Siwon menuju parkiran. Ia bergelayut manja ditangan Siwon, menunjukkan pada namjachingunya itu kalau dirinya masih menyayangi Siwon.

"Ne, cheonma. Aku juga senang bisa menemani kalian. Ya, walau Changmin sama sekali tak mau berdekatan denganku, tapi aku cukup senang." jawab Siwon sambil tersenyum dan mengelus sayang rambut Jaejoong.

"Hyung, soal Yunho-"

"Sssttthh, jangan pikirkan omongan anak itu. Aku yakin ia hanya ingin bercanda dengan kita. Bukankah selama ini ia juga sering berbuat seperti itu?"

"Tapi hyung, aku sedikit takut."

"Eh?" Siwon segera melepas pegangan Jaejoong dilengannya, lalu beralih menatap namjachingunya itu. "Waeyo? Kenapa kau takut hmm?"

Jaejoong menunduk lemah sebelum menjawab pertanyaan Siwon, "Aku takut, kalau Yunho serius dengan ucapannya."

Siwon hanya diam menatap Jaejoong, tak jauh beda dengan Jaejoong, Siwonpun merasakan ketakutan yang sama. Entah kenapa, ia seperti merasa kalau Yunho sungguh-sungguh dengan keinginannya itu. Ditambah lagi kedekatan dongsaengnya itu pada Changmin. Ah, entahlah. Susah menggambarkan suasana hati Siwon saat ini.

"Percayalah Jae-ah, kalau memang kita ditakdirkan bersama, semua rintangan pasti akan bisa kita hadapi." kata Siwon menenangkan namjachingunya. Ah tak tahu saja Siwon, bukan masalah Yunho yang tengah mengganggu pikiran Jaejoong, tapi justru tentang Siwon sendiri. Jaejoong sadar, kalau ia merasakan sesuatu yang berbeda saat ia pergi bersama Yunho tadi.

"Ne hyung, arraseo." jawab Jaejoong sambil berusaha tersenyum. "Jja, kalau begitu hati-hati dijalan ne hyung." lanjutnya lagi saat Siwon sudah sampai dimobilnya.

"Ne, selamat malam. Annyeong."

Cup

"A..annyeong." ucap Jaejoong gugup karna Siwon tiba-tiba mengecup keningnya.

Sementara tak jauh dari pasangan itu, nampak Yunho yang tengah menatap Siwon dan Jaejoong dengan pandangan yang sulit diartikan. Wajahnya mengeras saat melihat Siwon mencium Jaejoong.

::

::

YUNJAE

::

::

Pagi hari yang sedikit berisik dari kediaman Kim. Nampak seorang namja yang paling cilik diantara namja lainnya tengah menangis keras sampai-sampai suaranya mengganggu ketenangan apartement itu. Kini Kim Changmin tengah menangis keras sambil berguling-guling diatas tempat tidurnya, akibat saat dirinya bangun tidur tadi, tak nampak sang 'appa' didekatnya, itulah sebab mengapa ia bisa menangis keras seperti ini. Ah, sepertinya uri Changmin benar-benar sangat menginginkan Yunho menjadi appanya eoh?

"Huweeee...huweeee...appaaa..appaaaa." tangis Changmin sambil berguling-guling dikasurnya. Bahkan sekarang kasurnya sudah basah akibat airmata yang sedari tadi tak berhenti mengalir dari kedua mata bulatnya.

"Yah yah, uljimayo Minie, uljima." kata Junsu mencoba menenangkan keponakannya itu.

"Appa...Minie mau appa..huweee..appa." tak menghiraukan seruan Junsu, Changmin tetap saja menangis, bahkan bertambah kencang.

"Astaga hyung, bagaimana ini? Changmin sepertinya ingin bertemu Yunho."

"Appa..appa..huwaaaa."

"Minie-ah, dengarkan eomma Minie, uljimayo." kini Jaejoongpun berusaha menenangkan anaknya, digendongnya Changmin dari tempat tidurnya, lalu menepuk pelan pantat montok anaknya.

"Appa..huweee..Minie mau...appa." masih menangis, kini Changmin malah sudah berontak didekapan eommanya. Jaejoong harus mendekap erat anaknya itu agar tak kehilangan keseimbangannya.

"Hyung, kau telpon saja Yunho, kasihan Minie menangis begini."

"Aisss, kalau aku menelponnya bisa-bisa dia ke-"

"HYUUUNG! KAU MAU MINIE SAKIT GARA-GARA KEBANYAKAN MENANGIS EOH? CEPAT TELPON YUNHO DAN SURUH DIA KEMARI!"

Gluupp

Jaejoong menelan saliva gugup saat melihat Junsu yang biasanya kalem kini tengah berteriak marah padanya. Apalagi suaranya yang tak bisa dibilang kecil itu sudah berhasil membuat telinganya sakit. Lebih baik ia menuruti perkataan dongsaengnya daripada membuat Junsu kembali berteriak.

"Ne ne, aku akan menelponnya. Ne Minie-ah, eomma telpon Yunho jussi ne, jadi Minie berhenti menangis. Arrachi?" kata Jaejoong kini kepada Changmin.

Changminpun menjadi lebih tenang saat Jaejoong mengatakan akan menelpon Yunho, hanya isakan kecil yang terdengar dari bibir bocah gembul itu. "Hiks hiks, appa."

"Nah, anak pintar, sekarang eomma telpon ahjussi nya ne."

Changmin hanya mengangguk pelan masih dengan mata merah dan isakan-isakan kecil. Ah, jelas sekali Changmin itu sangat kehilangan sosok Yunho.

Tuutt tuutt

"Ne yeoboseyo?"

"A..ah yeoboseyo, Yu..Yunho-ssi mian mengganggumu pagi-pagi begini, emm i..itu-"

Srakk

"APPA. APPA JAHAT, APPA TINGGALIN MINIE. HUWEE, APPA JAHAT!"

"Omo!" pekik Yunho diline seberang. Ia sangat terkejut tiba-tiba suara halus Jaejoong berganti dengan teriakan menggelegar seorang bocah sambil menangis sesenggukan. Telinganya sampai berdengung saat suara kencang Changmin mampir di telinganya. Diusapnya telinganya yang berdengung lalu kembali menempelkan ponselnya ditelinganya.

Jaejoong sendiri juga sangat terkejut karna tiba-tiba Changmin merebut ponselnya lalu berteriak kencang pada Yunho.

"Mianhaeyo, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Kau tahu kan aku harus bekerja, kalau aku menemanimu terus, bagaimana aku bisa bekerja?" kata Yunho berusaha memberikan pengertian pada Changmin.

"Chiluh! Appa jahat. Hiks hiks,"

Deg

Jantung Yunho bergemuruh kencang saat mendengar isakan Changmin, apalagi tangisan bocah itu karna dirinya. Yunho sangat sedih karena membuat bocah gembul itu bersedih, tanpa pikir panjang iapun bergegas pergi menemui Changmin.

"Ne ne, aku akan kesana. Jadi kau jangan menangis lagi ne. Chakamaneyo!"

Setelah memutuskan panggilan, Yunhopun segera mengambil jas yang tergeletak dikasurnya lalu bergegas menuju apartement Jaejoong. Untung saja ia sudah mandi dan rapih, jadi setidaknya ia tak perlu mengulur waktu lagi.

::

::

YUNJAE

::

::

Jaejoong hanya mengerucutkan bibirnya kesal melihat Changmin yang kini sudah duduk manis didekapan Yunho. Setelah tadi menelpon atasannya itu, tak sampai duapuluh menit berlalu, tiba-tiba saja Yunho sudah berada di depan pintu apartementnya, tak lupa dengan memencet berulang bel kamarnya.

Changminpun setelah tadi melihat Yunho didepan kamarnya, langsung saja ia menghambur kepelukan Yunho dan kembali menangis terisak, walaupun tak sekencang tadi. Dan sekarang, bocah gembul itu sudah bertengger(?)nyaman didada Yunho.

"Minie-ah, sudah sini. Biarkan Yunho ahjussi berangkat kerja ne. Bukankah kau juga harus sekolah hari ini?" kata Jaejoong coba membujuk anaknya itu. Biar bagaimanapun ia juga merasa tak enak pada Yunho, gara-gara anaknya Yunho jadi tak bisa berangkat ke kantor.

"Chiluh. Minie mau belangkat cama appa." kata Changmin sambil menggeleng pelan di dada Yunho.

"Aiss Minie-ah! Jangan buat eomma marah! Cepat mandi dan sekolah!" Jaejoongpun kini sudah kehabisan kesabaran, dirinya tak sengaja malah membentak Changmin.

"Hiks, huwee. Eomma jahat! Huweee."

"Yah, uljima uljima. Bukan maksud eomma membentakmu. Aiss jinja! Benar-benar merepotkan!" gumam Jaejoong sambil mengusap pelan rambut Changmin.

"Sudahlah, biarkan seperti ini. Kalau dia mau aku yang mengantarnya, aku tak keberatan. Asal dia senang dan tak sedih lagi." jawab Yunho sambil tersenyum hangat pada Changmin, "Kau mau aku yang mengantarmu? Kajja kalau begitu, mandi dulu lalu kita berangkat bersama. Otte?"

Seketika tangis Changmin berhenti dan berganti dengan senyuman. Ditatapnya Yunho dengan mata berbinar, "Jinja appa? Acikkk, Minie diantal eomma dan appa!"

Deg

Kini giliran jantung Jaejoong yang bergemuruh kencang saat Changmin dengan semangat mengatakan ia akan pergi bersama eomma dan appanya. Lihatlah, sekarang bahkan Yunho juga tengah tersenyum hangat padanya. Jaejoong bisa melihat kilat bahagia dari anaknya itu.

"Kajja kita mandi, kau sungguh bau karna belum mandi. Kajja!"

"Endong~" rengek Changmin berbuat manja pada sang 'appa'. Yunho hanya tersenyum tipis dan akhirnya menggendong Changmin dengan gaya supermen.

"Kajja, superman mau mandi. Waaa-" teriaknya girang sambil mengangkat tubuh montok Changmin lalu mulai berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Changmin? Ah, rupanya bocah gembul itu hanya cekikikan saat sang 'appa' menggendongnya dan mulai memandikannya dengan riang.

"Minie-ah, apa kau sungguh bahagia?" gumam Jaejoong sambil menatap wajah anaknya yang terlihat begitu bahagia.

::

::

YUNJAE

::

::

Yunho memasang wajah masam setelah dirinya memandikan Changmin. Bagaimana tidak kesal, tadi saat dirinya memandikan bocah kecil itu, malah Changmin dengan sengaja mencipratkan air kebadannya. Padahal ia sudah berpakaian rapi dan sudah memperingatkan Changmin agar tidak mencipratkan air padanya, namun sayang peringatannya hanya dianggap angin lalu oleh namja cilik itu. Karna yang terjadi adalah, Changmin malah dengan semangat mencipratkan air ke badan Yunho. Saking senangnya ia karna Yunho mau mengantarnya sekolah, ah uri Changmin benar-benar semangat.

Setelah insiden itu, akhirnya Yunhopun keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang basah. Sehingga menampakkan bentuk tubuhnya yang sempurna dengan abs yang terbentuk sempurna. Jaejoong sendiri hanya bisa melongo saat Yunho keluar dengan keadaan begitu. Dimatanya Yunho terlihat sangat sexy, apalagi rambut Yunho yang ikut basah-akibat percikan air Changmin-menambah kesan sexy dari namja Jung itu.

Tak terasa semburat pink muncul di pipi Jaejoong kala melihat pemandangan itu. Segera saja dipalingkannya wajahnya menghindari tatapan Yunho yang sedang menatapnya tajam.

"Waeyo? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Yunho karna Jaejoong menatapnya tanpa berkedip.

"Cihh, siapa yang melihatmu. Aku hanya ingin melihat Minie, apa kau sudah benar memandikannya!" jawab Jaejoong ketus menutupi kegugupannya.

"Kajja Minie, kita pakai baju dulu. Nanti Minie kedinginan, kajja." ajak Jaejoong lagi sambil mengambil Changmin dari gendongan Yunho.

"Chiluh, Minie mau pake baju cama appa. Nanti appa tinggalin Minie lagi." jawab Changmin sambil menatap Yunho. Rupanya Changmin tak mau ditipu lagi.

"Ne, kajja kita pakai baju." Yunhopun mulai melangkahkan kakinya masuk ke kamar Changmin dan mulai memakaikan anak itu baju.

"Hei dimana baju anak ini?" tanya Yunho karna tak berhasil menemukan baju Changmin.

Jaejoong melengos kesal sebelum menjawab pertanyaan Yunho, "Bisakah kau berhenti memanggilku hei dan anak ini pada Minie? Kami masih punya nama!" jawabnya ketus karna merasa kesal Yunho memanggilnya dengan hey. Bukankah dia punya nama?

"Bajunya ada disana. Sini biar aku saja yang ambilkan." lanjutnya dan beranjak menuju lemari pakaian Changmin.

"Eomma, Minie mau pake baju gambal beluang." seru Changmin saat Jaejoong mencarikan dirinya pakaian.

"Mwo? Gambar beruang?" tanya Jaejoong heran dengan permintaan anaknya itu.

"Ne gambal beluang cepelti appa. Hihi,"

"Yah bocah, kau masih menganggapku beruang eoh?" kesal Yunho pura-pura marah.

"Mwo? Yunho jussi seperti beruang?" tanya Jaejoong lagi sambil menatap Changmin dan Yunho bergantian, tak terasa ia juga terkikik geli saat mendengar gambaran Yunho yang mirip beruang.

"Ne eomma. Beluang itu milip appa, badannya becar."

"Umm, tapi benar juga ya. Haha, kau memang mirip beruang, sangat besar dan buas." jawab Jaejoong tanpa melihat Yunho yang sedang menatap kesal dirinya.

"Nah ini dia. Kajja pakai." Jaejoongpun perlahan mendekat kearah Changmin dan segera memakaikan baju bergambar beruang itu pada anaknya. Setelahnya, iapun beranjak menuju cermin dan mulai menyisir rambut tebal anaknya.

"Sudah selesai." teriak Jaejoong dan mulai menggendong Changmin. "Anak eomma tampan eoh?"

"Tentu, Minie celalu tampan." girang Changmin sambil tersenyum.

"Haha, ne kajja berangkat. Sebelum kau terlambat."

"Umm. Kajja appa." Changminpun turun dari gendongan Jaejoong dan berlari kecil menuju Yunho. Setelah sampai didepan Yunho, ia pun menggandeng tangan 'appa'nya itu sambil tersenyum manis.

"Kajja appa." teriaknya girang dan mulai menarik Yunho dengan semangat. "Kajja eomma." ucapnya lagi saat melewati Jaejoong dan menarik tangan Jaejoong dengan tangannya yang bebas.

Hari ini Changmin benar-benar merasa bahagia. Akhirnya keinginannya bisa terwujud, diantar sekolah oleh kedua orang tuanya. Yah, biarkan saja Changmin berfikir seperti itu, yang terpenting melihat Changmin bahagia, itu adalah prioritas utama bukan?

::

::

YUNJAE

::

::

Suasana mobil Yunho hari ini berbeda dari biasanya. Kali ini, bertambah dua makhluk manis yang mengisi mobil audynya. Biasanya hanya ada dirinya dan kesunyian yang menyelimuti disepanjang perjalanan, namun sekarang suasana didalam mobilnya berubah drastis. Dari yang awalnya suram sekarang malah ceria. Apa lagi yang menyebabkan kalau bukan Kim Changmin. Bocah gembul itu sekarang tengah berlonjak-lonjak gembira saking senangnya Yunho mau mengantar dirinya kesekolah. Sungguh menggambarkan sebuah keluarga yang harmonis eoh?

Awalnya Jaejoong menolak keras untuk berangkat bersama dengan Yunho, iapun menyuruh Junsu untuk mengantar Changmin seperti biasa, namun lagi-lagi Changmin berulah dan meronta-ronta saat Junsu mulai mengajaknya berangkat. Iapun mendekap erat tubuh Yunho sambil menangis kencang. Tak tega melihat keponakannya menangis seperti itu, Junsupun membujuk Jaejoong dan akhirnya Jaejoongpun setuju. Karna ia juga tak tega melihat anaknya menangis meraung begitu.

Alhasil, sekarang disinilah ia, duduk di dalam mobil audy Yunho dengan Changmin yang terus berlonjak-lonjak kegirangan dipangkuannya, membuat Jaejoong sedikit kesusahan gara-gara Changmin yang terlalu bersemangat. Apalagi sekarang Changmin tengah menyanyi-menyanyi lucu, dan tak jarang membuat Yunho dan Jaejoong tertawa karna kecadelan Changmin saat menyanyikan lagunya.

"Apa ia selalu sepeti itu jika mau pergi kesekolah?" kata Yunho mulai mengajak Jaejoong berbicara. Sekarang Changmin sudah duduk dengan tenang karna sedang menikmati sebuah roti isi. Tadi Changmin berteria keras saat dirinya melihat orang penjual roti isi, dan seketika ia ingin makan roti isi itu. Alhasil Yunho pun menepikan mobilnya disebelah penjual itu dan membeli beberapa potong untuk Changmin.

"Ani, biasanya ia malah sangat susah untuk diajak sekolah. Karna biasanya Junsu yang mengantarnya." jawab Jaejoong sambil membersihkan remih roti yang bertebaran disekitar baju Changmin.

Tak ada lagi percakapan yang terjadi selama sisa perjalanan, Yunho tetap fokus menyetir sedangkan Jaejoong tengah merpikan penampilan Changmin sebelum mereka tiba disekolah Changmin.

"Kita sampai." teriak Yunho sesaat setelah ia memarkirkan mobilnya didepan playgrup tempat Changmin sekolah.

"Ah, itu Kyunie. KYUNIEEEE." teriak Changmin tiba-tiba saat matanya menangkap kehadiran sahabat baiknya diplaygrup itu. Iapun segera meminta keluar dan segera berlari kearah sahabatnya yang nampak tengah berlari juga kearah gerbang.

"Kyunie." teriak Changmin lagi karna sahabatnya itu berlari kecil hendak masuk kedalam.

Merasa ada yang memanggil, Kyuhyun-sahabat Changmin-menolehkan wajahnya dan seketika senyumnya mengembang saat melihat sahabatnya yang tengah berlari menuju dirinya.

"Minie-" teriaknya tak kalah heboh dengan Changmin. Iapun sekarang membelokkan langkahnya menuju Changmin dan berhenti setelah ia dan Changmin bertemu.

"Minie, Cu-ie jumma eodiya?" tanya Kyuhyun karna tak melihat Junsu datang bersama Changmin.

"Dilumah, hali ini Minie diantal cama appa dan eomma." jawab Changmin sambil nyengir kearah Kyuhyun, menampakkan deret giginya yang rapi.

"Oh, eomma dan appa Minie? Eodi?" tanya Kyuhyun lagi karna tak melihat kedua orang tua Changmin.

"Oh itu-" ucapan Changmin terputus karna tak melihat keberadaan Yunho dan Jaejoong disampingnya. "Eomma eodiya? Eomma-" teriak Changmin kencang karna ternyata eommanya masih berada jauh dibelakangnya.

"Eomma cini." teriak Changmin lagi, dan iapun kembali kearah Jaejoong untuk menarik eommanya itu agar bertemu dengan Kyuhyun, tak lupa juga ia menarik tangan Yunho yang baru turun dari mobil dan dengan semangat menarik keduanya kearah Kyuhyun.

"Kyunie, ini appa dan eomma Minie." seru Changmin saat mereka sudah tiba didepan Kyuhyun. Kyuhyun hanya memandang Yunho dan Jaejoong dengan pandangan yang berbinar, ah entah apa yang ada dipikiran namja cilik itu. Namun bisa dilihat kalau ia sangat terpesona dengan bumonim sahabatnya.

"Annyeong, Kim Jaejoong imnida, aku adalah eomma Changminie, salam kenal Kyuhyunie." ucap Jaejoong sambil berjongkok dan mengelus pelan pipi tembam Kyuhyun.

"Appa. Ayo kenalan cama Kyunie." ajak Changmin dan menarik Yunho agar ikut berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya pada Kyuhyun. Yunhopun hanya mengikuti kemauan Changmin.

"Jung Yunho imnida. Salam kenal anak manis." ucap Yunho sambil mengusap lembut kepala Kyuhyun. Kyuhyun sendiri hanya tersenyum manis pada Yunho.

"Lee Kyuhyun imnida. Waa, ajucci dan ajumma tampan dan cantik." ucapnya sambil tersenyum menampakkan deret gigi susunya yang rapih. Yunho dan Jaejoong yang mendengar itupun hanya bisa tersenyum canggung.

"Hah..hah..Lee Kyuhyun! Dasar bocah nakal! Kenapa kau berlari seperti itu hah?" tiba-tiba saja entah datang dari mana, seorang namja-yang tak kalah tampan dari Yunho-datang sambil sedikit ngos-ngosan.

"Hihihi, jucci kejal Kyunie ne?" sahut Kyuhyun sambil tertawa cekikikan.

"Ini salah satu alasanku kenapa tak mau mengantarmu bocah!" marah namja itu tadi yang ternyata ahjussi dari Kyuhyun.

"Hehe, mehrong!"

"Yak kau!"

"Dongwoon-ah?" belum sempat melayangkan kekesalannya pada Kyuhyun, sebuah suara sudah mengintrupsi gerakan ahjussi Kyuhyun itu.

"Eh? Yunho sajangnim?" pekik namja itu-yang ternyata Dongwoon-sambil menatap kearah Yunho. "Sajangnim kenapa bisa disini?" lanjutnya lagi sambil membungkuk memberi hormat. Tapi tak melihat keberadaan Jaejoong-yang masih berjongkok-disebelah Changmin.

"Aku sedang mengantar anak ini." kata Yunho sambil mengusap kepala Changmin.

"Eh, Minie?" tanya Dongwoon heran, ia memang sudah mengenal Changmin karna setiap kali ia mengantar Kyuhyun, ia selalu bertemu dengan anak penyuka makanan itu,

"Annyeong jucci." jawab Changmin sambil tersenyum memamerkan deret gigi susunya.

"Kau sendiri, sedang apa disini?"

"Aku sedang mengantar bocah ini, Gikwang hyung tak bisa mengantarnya, jadilah aku yang disuruhnya mengantar." jawab Dongwoon sambil mendelik sebal pada Kyuhyun.

"Ah, jadi Kyuhyun ini keponakanmu eoh?"

"Ne begitulah, kalau Minie sendiri, apa dia keponakanmu hyung?"

"Anio jucci, Minie bukan keponakan appa, tapi ajucci ini appa Minie," jawab Changmin girang sambil menarik tangan Yunho dan menggenggamnya.

"Oh, jadi Yunho sajangnim appamu?"

"..."

"MWO? APPA?" teriak Dongwoon kencang saat baru menyadari kalimat Changmin.

"Umm, dan ini eomma Minie." lanjut Changmin sambil menarik tangan Jaejoong yang terlihat sedang menundukkan wajahnya.

"MWO? Eo..eomma? Bu..bukankah kau Jae..Jaejoong hyung?" pekik Dongwoon membahana. Dibulatkannya matanya kaget mendengar berita yang baru saja diterimanya.

"Annyeong Dongwoon-ah." jawab Jaejoong sedikit gemetaran dan meringis kecil. Sekarang tamatlah riwayatnya. Sementara Yunho hanya tersenyum penuh arti melihat Jaejoong yang salah tingkah itu. Dan Dongwoon hanya menatap sosok Yunho dan Jaejoong secara bergantian. Berbagai pertanyaan bergelayut di otaknya.

::

::

YUNJAE

::

::

Yunho dan Jaejoong kini tengah berada didalam mobil audy Yunho. Setelah tadi memastikan Changmin masuk ke kelasnya, segera Yunho dan Jaejoong meluncur ke kantor. Tanpa lupa sebelumnya Yunho memberitahu Dongwoon kalau mereka akan membicarakan hal ini dikantor.

Disinilah sekarang Yunho dan Jaejoong, terjebak dalam kecanggungan yang sangat kental. Jaejoong yang sangat kesal hari ini, sementara Yunho yang terlihat senang. Suasana yang sangat bertolak belakang diantara keduanya.

Jaejoong menatap sinis kearah Yunho, atasannya itu benar-benar membuatnya kesal. Sudah mengatakan hal yang tak mengenakkan pada Siwon, bahkan tadi ia tak menyangkal apapun saat Changmin mengatakan kalau dirinya adalah appa dari bocah itu. Jaejoong tak habis pikir, apa yang sebenarnya ada dalam otak seorang Jung Yunho. Bisakah sekali saja ia tak bertindak aneh yang memancingnya untuk menambah daftar hal yang membuatnya membenci nama Jung itu.

Yunho yang merasa dipelototi Jaejoongpun akhirnya memalingkan wajahnya menatap namja cantik itu, "Wae? Kenapa menatapku dengan wajah seperti itu?" tanya Yunho dengan suara yang datar.

"Neo! Aku tak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam otakmu. Kenapa kau selalu diam dan hanya tersenyum menanggapi omongan Changmin itu hah? Kau tak pernah membantahnya sehingga semua orang yang mendengarnya akan salah paham mengira kau benar-benar adalah appanya. Kau, apa maumu sebenarnya!"

Jaejoong terengah-engah mengutarakan kekesalannya. Ia sudah tak bisa menahannya lagi sekarang. Ia benar-benar kesal. Ditatapnya tajam Yunho yang juga menatapnya datar. Seringai kecil terbentuk dibibir hati Yunho.

"Sudah? Atau ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanyanya sambil tetap fokus menyetir.

Jaejoong masih mengatur nafanya yang terengah-engah, masih sambil menatap Yunho iapun kembali mengeluarkan suaranya, "Kau, bisakah sekali saja tak membuatku emosi dan merasa kesal hah? Tak bisakah?"

Yunho tersenyum simpul sebelum menjawab, "Justru aku sangat senang untuk membuatmu kesal, itu menjadi hiburan tersendiri bagiku." jawabnya cuek tanpa melihat Jaejoong yang kembali murka atas jawaban yang didengarnya itu.

"Mwo? Kau sangat aneh tuan Jung! Aku bukan badut!"

"Kau memang bukan badut, tapi kau sungguh lucu." jawab Yunho menahan tawa saat melihat Jaejoong yang memberenggut kesal. "Wajahmu sangat jelek saat kau marah, dan itu adalah pemandangan yang menyenangkan bagiku." lanjutnya masih berusaha menahan tawanya.

"..."

Yunho melirik sekilas Jaejoong yang masih memberenggut kesal, masih dengan mengulum senyum dibibirnya. Entahlah, memang ia sangat senang jika melihat Jaejoong kesal kepadanya. Ia sangat senang melihat ekspresi wajah Jaejoong yang sangat mempesona itu.

Sementara Jaejoong sendiri hanya diam, ia sudah kehabisan kata-kata untuk menyadarkan namja dihadapannya itu. Alhasil ia memilih diam dan tak memprotes lagi perkataan Yunho. Ditolehkannya wajahnya keluar jendela dan menikmati pemandangan jalanan hingga akhirnya mereka tiba di Jung Corp. Tanpa mengatakan apapun lagi, Jaejoong segera membuka pintu, melesat keluar dan tak lupa sebelumnya membanting keras pintu mobil audy hitam Yunho.

Yunho hanya tersenyum kecil melihat kebringasan Jaejoong, tak lama iapun ikut turun dan mulai berjalan pelan masuk ke kantor. Senyum terus menghiasi wajah tampannya.

"Kau benar-benar membuat hariku berwarna." ucapnya sambil menatap punggung Jaejoong yang semakin menjauh.

::

::

YUNJAE

::

::

Dongwoon menatap dengan penuh tanda tanya pada namja mata musang yang menjadi atasannya itu. Sedari tadi ia sudah memikirkan berbagai pertanyaan yang akan ditanyakannya pada Yunho. Berbagai pikiran-pikiran aneh sempat melintas diotaknya. Dari yang normal sampai yang sedikit ekstream. Setelah menunggu lama Yunho memulai percakapan yang tak kunjung terjadi, alhasil Dongwoonpun berdeham pelan dan memulai percakapan.

"Jadi, apa benar yang dikatakan Changmin tadi, sajangnim?" tanya Dongwoon yang terlihat masih penasaran. Memang Yunho dan Dongwoon sangat dekat, sehingga kadang Dongwoon sampai lupa kedudukan Yunho sebagai atasannya.

Yunho menggeser sedikit kacamata yang bertengger diwajahnya, menatap Dongwoon sebentar dan setelahnya kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Yak hyung, aku bertanya!" ketus Dongwoon karna Yunho sama sekali tak menjawab pertanyaannya.

"Kau tau ini masih dikantor Son Dongwoon!" jawab Yunho sedikit mendengus. "Kau seperti yeoja-yeoja penggosip saja." cibirnya dan langsung membuat Dongwoon kesal.

"Yak, jangan samakan aku dengan yeoja penggosip begitu. Aku kan hanya penasaran apa benar yang dikatakan Changmin kalau kau adalah appanya. Kalau benar kau adalah appanya, tapi kenapa aku tak pernah melihatmu mengantar Changmin. Dan apalagi eomma Changmin, oh, demi apapun, bukankah orang yang dikenalkan Changmin itu adalah Kim Jaejoong? Staf management anak buah Siwon sajangnim? Dan kalau memang Jaejoong eomma Changmin dan kau appanya, berarti kau dan Jaejoong itu-"

"Bisakah kau hentikan omongan melanturmu itu Son Dongwoon! Kau membuatku telingaku sakit!" seketika lengkingan keras Yunho memotong omongan Dongwoon sambil dirinya menatap tajam karyawannya itu.

Dongwoon hanya menelan saliva gugup kala menyadari atasannya marah. Langsung saja ia diam tak lagi bersuara.

"Aku akan menjelaskannya nanti, saat jam makan siang tiba. Sekarang, kau keluar dan kerjakan laporan yang kemarin aku minta. Aku yakin kau sama sekali belum mengerjakannya!"

Dongwoon hanya nyengir saat Yunho tahu kalau ia belum mengerjakan laporan itu, segera saja ia berbalik dan tanpa lupa membungkukkan badannya.

"Dasar anak itu, sampai kapan ia akan bersikap begitu." Yunho hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian Dongwoon. Ia memang sudah sangat hafal dengan kebiasaan buruk karyawannya itu.

"Hah, bocah itu, kira-kira sedang apa ya dia?" gumam Yunho tiba-tiba. Disandarkannya tubuhnya pada kursi kerjanya sambil melipat tangannya dibelakang kepalanya.

"Ck, kenapa tiba-tiba aku memikirkan bocah itu. Aiss, aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya." lanjutnya sambil tersenyum membayangkan wajah Changmin.

::

::

YUNJAE

::

::

Changmin menghembuskan nafas kesal sedari tadi. Mata bulatnya memicing tajam merasa kesal dengan keadaan. Bibir mungilnya mempout lucu dan kedua tangannya disekap didadanya. Ukh, sungguh pemandangan yang menggemaskan jika dilihat dari sisi manapun, berbanding terbalik dengan suasana hati Changmin yang tak bersahabat.

Lagi-lagi kali ini ia dibohongi oleh sang 'appa'. Yunho tadi berjanji padanya untuk kembali menjemputnya saat sekolahnya usai, dan berjanji mengajaknya makan siang bersama. Namun apa yang didapat bocah gembul itu? Justru kini dihadapannya malah muncul ahjussi yang selalu saja dipanggilnya ahjumma dengan senyum cerianya-yang terlihat bodoh dimata Changmin. Melihat Junsu yang tersenyum begitu, malah membuat bibir Changmin bertambah mengerucut sebal.

"Aiss, hentikan wajah cemberutmu begitu Minie sayang. Wajah tampanmu terlihat jelek kalau kau cemberut begitu." ujar Junsu mencoba mengambil hati Changmin agar bocah itu mau pulang bersamanya.

Alih-alih mendengarkan apa kata ahjussinya, justru Changmin semakin kesal dan merapatkan tangannya didadanya.

"Aigoo, apa uri Changminie lapar? Kajja kita makan dulu sebelum pulang." ajak Junsu lagi dan mulai beranjak mendekati Changmin.

"Chiluh!" jawab Changmin sedikit ketus dan menangkis tangan Junsu yang ingin meraihnya.

"Eh, waeyo? Apa Minie tak lapar eoh?"

"Chiluh. Minie mau pulang cama appa!" rajuk Changmin sambil melengoskan kepalanya malas menatap Junsu.

"Appamu kan sedang bekerja Minie. Minie tak boleh begitu." kata Junsu mencoba memberi pengertian pada Changmin.

"Tapi appa cudah janji cama Minie tadi. Hiks," Astaga, sekarang bahkan bocah itu sudah kembali akan menangis hanya karna Yunho tak menepati janjinya.

Melihat sang keponakan sepertinya akan menangis, segera saja Junsu menenangkannya. "Apa kau begitu ingin Yunho ahjussi menjadi appamu?" tanya Junsu mencoba mengalihkan pikiran Changmin. Changmin hanya mengangguk lemah sambil memasang wajah ngambek.

"Kenapa Minie ingin Yunho jussi jadi appa Minie?" tanyanya lagi sambil berjalan mendekati Changmin. Diraihnya Changmin, mengangkatnya lalu memangku bocah gembul itu.

"Coalnya Appa tampan. Cama cepelti Minie." jawab Changmin sambil terkikik kecil. Mulai nampak senyum menghiasi wajah gembulnya menggantikan wajah cemberut yang tadi ditampakkannya.

"Oya? Tak ada hal lain yang membuatmu menyukai Yunho jussi agar jadi appamu?" tanya Junsu lagi sambil mencubit pelan pipi tembam Changmin.

"Emmm," Changmin nampak berpikir dan meletakkan telunjuknya dipelipis kanannya, "Appa cangat baik. Mau ajak Minie jalan-jalan dan temenin Minie belmain." teriaknya girang sambil tersenyum senang. "Minie mau Yuno appa jadi appa Minie."

"Ne ne, arraseo."

"Jumma juga cenang Yuno appa jadi appa Minie?" tanya Changmin sambil menatap Junsu dengan mata bulatnya.

"Emm," Junsu nampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan Changmin, "Tentu. Asal kau bahagia." jawabnya lagi sambil mencium gemas pipi tembam Changmin. Changmin hanya terkikik geli menerima ciuman bertubi-tubi dari Junsu, setidaknya kali ini ia nampak sudah melupakan tentang Yunho yang lupa menjemputnya.

"Hihi, geli. Haha."

"Kau lapar? Kita makan bagaimana?"

Changmin mengangguk antusias dan mulai turun dari pangkuan Junsu. "Kajja jumma!" teriaknya girang dan mulai menarik Junsu untuk segera pergi.

"Kajja." jawab Junsu dan mulai melangkahkan kakinya kekuar dari playgrup. Namun baru beberapa langkah berjalan, langkah keduanya terhadang sebuah mobil yang berhenti tepat didepan keduanya. Baru saja Junsu hendak memprotes si pengemudi itu, namun Changmin sudah lebih dulu berteriak kencang,

"APPAAAA!"

::

::

YUNJAE

::

::

HoMin plus Junsu kini tengah asik menikmati bermacam-macam makanan yang tersaji dihadapan mereka. Apalagi Changmin, nampak bocah gembul itu makan dengan kecepatan diluar batas. Bahkan saat mulutnya masih penuhpun ia kembali melesakkan makanan lain kedalamnya, membuat pipinya menggembung lucu karna tak cukup ruang menampung makanan itu.

Sementara SuMin yang tengah asik makan, nampak Yunho hanya tersenyum senang memperhatikan keduanya. Keduanya terlihat kompak sekarang, yang biasanya mereka hanya bertengkar, namun disaat seperti ini justru mereka nampak kompak.

Ah ya, kalian berfikir kenapa HoMin plus Junsu bisa makan bersama? Itu karna tadi Yunho datang menjemput Changmin. Saat dirinya tengah memikirkan bocah gembul itu, disaat itulah ia teringat janjinya untuk menjemput Changmin. Tanpa pikir panjang, iapun tancap gas menuju playgrup tempat Changmin belajar.

"Apa makanannya enak?" tanya Yunho sambil tersenyum menatap Changmin. Diusapnya pelan sudut bibir Changmin, membersihkan sisa makanan yang ada disana.

"Umm, macita!" pekik Changmin girang dan kembali melanjutkan makannya.

"Pelan-pelan saja." ucap Yunho lagi dan menyenderkan badannya sambil terus tersenyum menatap Changmin.

"Kau tak makan Yunho-ssi?" tanya Junsu yang sedikit masih merasa canggung dengan Yunho.

Yunho menolehkan kepalanya saat didengarnya Junsu bertanya, "Ah, ne. Aku masih kenyang, emm-"

"Junsu, Kim Junsu imnida. Mian aku lupa mengenalkan diriku." jawab Junsu sambil tersenyum menghadap Yunho.

"Ne gwencanha. Jung Yunho imnida. Dan kau bisa memanggilku hyung."

"Ne Yunho hyung."

"Jja, lanjutkan makanmu."

Junsupun kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda sedikit, sambil sesekali omelan keluar dari mulutnya karna cara makan Changmin yang berantakan.

"Aaaaa, kenyang!" teria Changmin kencang sambil mengusap pelan perutnya yang nampak sedikit buncit dari sebelumnya. Senyum puas tercetak di wajah gembulnya. "Gomawo appa." teriaknya lagi dan kali ini tersenyum memandang Yunho.

"Gomawoyo Yunho hyung." timpal Junsu dan tersenyum pula pada Yunho.

"Ne cheonmayo. Tunggu sebentar, aku akan membayar makanan ini." Yunhopun segera beranjak dari meja menuju kasir untuk membayar makanan mereka, meninggalkan Junsu dan Changmin yang nampak sangat kekenyangan.

"Howaa, Minie kenyang. Makanannya mashita ne jumma."

"Ne sangat enak, sayang Jae hyung tak ikut makan bersama." sahut Junsu sambil menyeruput sisa minumannya.

"..."

"Minie-ah, apa kau benar-benar ingin agar Yunho menjadi appamu?" tanya Junsu tiba-tiba.

Changmin menoleh sebentar sebelum tersenyum lebar, "Tentu! Minie cangat ingin!" pekiknya girang.

"Haa, aku juga ingin Yunho hyung menjadi appamu Minie-ah. Lihatlah, kita bisa makan enak seperti ini sering-sering kalau ia menjadi appamu. Belum lagi kau akan diajak jalan-jalan naik mobil."

Changmin hanya terdiam mendengar semua ocehan Junsu. Mata besarnya berbinar cerah mendengar hal-hal menarik yang diucapkan Junsu jika Yunho benar-benar menjadi appanya.

"Hanya saja, nampaknya eommamu tak mau kalau Yunho hyung menjadi appamu."

"ANDWAE!" teriak kencang Changmin saat Junsu selesai bicara.

"Yak bocah! Jangan mengagetkanku! Kau membuatku tuli!"

"Andwae! Eomma haluc mau Yuno appa jadi appa Minie! Minie gak mau appa lain!"

"Ne ne, arraseo. Aku tahu! Tapi eommamu sekarang sedang dekat dengan Siwon hyung."

"Minie gak mau ajuuci belicik itu yang jadi appa Minie." pekik Changmin dengan wajah kesal. Dipoutkannya bibirnya sambil menyilangkan kedua tangannya setelah mendengar Junsu menyebut nama lain yang menurut Changmin ahjussi berisik.

"Kau ini. Jangan berteriak terus, lihatlah semua orang melihat kearahmu."

"Bialin. Minie kan kecal!"

"Baiklah, kalau kau ingin Yunho jussi menjadi appamu, bagaimana kalau kita bekerja sama eum?" tanya Junsu sambil tersenyum penuh arti pada Changmin.

Changmin yang tadinya cemberut sedikit mengubah raut wajahnya lalu memandang Junsu nampak sedikit tertarik dengan ucapan ahjussinya itu.

"Bagaimana, kau mau tidak bekerjasama denganku?" tanya Junsu lagi karna tak mendengar jawaban apapun dari Changmin.

Changmin nampak berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Junsu, "Emm, Minie mau!" putusnya girang sambil tersenyum lebar pada Junsu. "Pokoknya Minie mau Yuno jucci jadi appa Minie."

"Bagus, anak pintar! Mulai sekarang kita kerja sama ne, supaya eommamu dan Yunho ahjussi bisa bersama."

"Umm."

"Deal?" tanya Junsu sambil menyodorkan tangannya.

"Dil!" jawab Changmin sambil menjabat tangan Junsu.

"Hah, kau ini." Junsu tertawa mendengar kecadelan Changmin mengucapkan kata Deal.

"Wah wah, ada apa ini? Seperti aku melewatkan sesuatu?" tanya Yunho tiba-tiba saat kembali dari urusannya. Ia sedikit heran melihat SuMin bersalaman seperti itu apalagi ditambah keduanya saling tersenyum girang.

"Ah ah, appa kajja kita belmain. Minie ingin belmain appa." kata Changmin tak menghiraukan pertanyaan Yunho. Malah sekarang ia sudah bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat kearah Yunho dan menarik ujung jas yang Yunho kenakan.

"Eh, kau mau bermain? Tapi kau baru pulang sekolah, apa kau tak lelah?" tanya Yunho sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Changmin.

"Ani. Minie gak cape appa. Kajja kita main, Minie ingin belmain!" keukeuh Changmin pada Yunho sambil memasang mode ngambek.

"Hei Minie, bukankah Yunho ahjussi harus bekerja. Kau tak boleh begitu. Bagaimana kalau Minie main sama jussi saja eoh?" bujuk Junsu saat melihat Changmin ngambek.

"Chiluh. Minie maunya main cama appa. Hiks, hiks."

"Gwencanhana-yo Junsu-ah, aku tak apa." jawab Yunho sambil melihat Junsu, "Kajja, kau ingin kemana hmm?"

"Jinja? Appa mau belmain cama Minie. Aciikkk."

"Ne, lalu kau mau kemana sekarang?"

"Emm, Minie ingin kemana caja, acal Minie cama appa." jawab Changmin sambil tersenyum lebar.

"Emm, baiklah. Kajja kita pergi. Kajja Junsu-ah!"

"Eh, aku juga ikut?" tanya Junsu kaget sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ne tentu, kajja!"

"Kajja jumma!"

"Baikkah, kajja!"

Dan kini mereka bertigapun pergi menghabiskan waktu, tanpa tahu apa yang akan terjadi nantinya.

::

::

YUNJAE

::

::

Seorang namja cantik tengah merenggut kesal. Wajah cantiknya ditekut sedemikian rupa dan aura hitam menguar disekitarnya. Matanya tak henti-hentinya berpindah-pindah melirik jam dipergelangan tangannya dan melihat kearah pintu apartementnya. Dihentakkannya kakinya kesal karna tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.

"Kalian kemana eoh?" gumamnya terus-menerus.

Kembali ia mondar-mandir didepan pintu apartementnya, sebelum akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

Tuut tuut tuut

"..."

"Yak Kim Junsu! Kenapa kau tak mengangkat panggilanku hah!" teriak namja cantik itu a.k.a Kim Jaejoong kesal sambil memandang layar ponselnya. Bagaimana tidak kesal, saat dirinya pulang bekerja ia sudah tak mendapati Junsu dan Changmin di apartementnya. Awalnya ia kira Junsu mengajak Changmin berjalan-jalan sebentar. Namun semakin ia menunggu malah Junsu dan Changmin tak kunjung tiba, bahkan sekarang hari sudah sorepun kedua namja Kim itu tak menunjukkan batang hidungnya. Sebagai kakak dan eomma yang baik, tentu ia sangat menghawatirkan keadaan dua orang yang sangat disayanginya itu aniya?

Sementara Jaejoong tengah kesal karna tak tahu dimana dan bagaimana keadaan Junsu dan Changmin, sekarang kedua tersangka itu malah tengah asik berjalan-jalan bersama dengan seorang namja tampan dengan mata musang yang tajam.

Ya, Junsu dan Changmin sekarang masih bersama dengan Yunho. Sedari tadi mereka berkeliling tanpa mengenal waktu. Sekarangpun mereka tengah berada disalah satu pusat perbelanjaan di Seoul.

"Huwaa, appa Minie cenang cekali. Minie belum pelnah kecini." teriak Changmin girang saat melewati estalase-estalase toko didalam mall itu.

"Huwa, lihat appa lihat!" teriaknya lagi saat melewati estalase mainan, segera saja ia berlari menuju kaca dan menempelkan wajahnya menatap robot yang terpajang diestalase itu.

"Huwaaa." pekiknya kagum dengan mata bersinar melihat mainan-mainan itu. "Keleennn." gumamnya sambil tersenyum.

Yunho hanya tersenyum kecil melihat tingkah Changmin. Dilangkahkannya kakinya menuju Changmin lalu berjongkok disebelahnya.

"Apa kau mau maianan itu?" tanya Yunho sambil mengelus pelan rambut tebal Changmin. Changmin sendiri hanya menganggukkan kepalanya tanpa melepas pandangannya dari pajangan robot itu.

"Kajja masuk." ajak Yunho dan menarik tangan mungil Changmin untuk masuk kedalam. "Junsu-ah, kajja."

"Ne hyung."

Changmin sangat antusias masuk kedalam, kaki kecilnya terus melangkah menyusuri semua rak-rak disana. Tangan mungilnya pun tak pernah lepas menarik Yunho kesana-kemari guna mengikuti keinginannya melihat berbagai mainan disana. Yunho sebenarnya cukup lelah karna ditarik kesana-kemari oleh Changmin, namun melihat betapa antusianya Changmin membuat dirinya senang juga. Junsu sendiri sudah berpisah dari mereka, karna tak bisa mengimbangi langkah Changmin yang tak kenal lelah.

"Appa lihat." teriak Changmin saat melihat sebuah mainan robot gundam. "Kelen." ucapnya lagi sambil tersenyum cerah.

Yunho mengarahkan pandangannya kearah Changmin, lalu tersenyum. "Kau mau itu?"

"Eh?" kini Changmin terlihat kaget mendengar ucapan Yunho. "Bolehkah?" tanyanya lagi dengan pandangan berbinar.

"Kalau kau suka, ambillah." jawab Yunho sambil tersenyum dan mengelus rambut Changmin.

"Jinja appa? Waaa, gomawo appa."

Pluk

Sebuah dekapan hangat mendarat ditubuh Yunho. Yunho tersentak kaget mendapat pelukan tiba-tiba dari Changmin, namun segera ia sadar dan membalas pelukan Changmin.

"Cheonma. Kajja, pilihlah yang kau suka."

Changmin segera melepas pelukannya dan berjalan menuju deretan gundam itu, mulai memilih mainan yang sangat diidamkannya. Senyum terus mengembang diwajahnya saat memilih gundam-gundam itu. Tangan kecilnya meraih gundam itu dengan mata berbinar.

'Aigoo, bahkan aku mau membelikannya mainan? Yang benar saja. Apa aku benar-benar sudah menganggapnya anakku? Oh Yunho, apa yang kau pikirkan!'

Tak terasa senyum mengembang diwajah tampannya saat melihat antusias Changmin. Iapun ikut berjongkok disebelah bocah itu sambil memperhatikan gundam ditangan Changmin.

"Yang ini apa yang ini ya?" gumam Changmin sambil menimbang dua gundam ditangan kanan dan kirinya. Wajahnya nampak berfikir keras gundam mana yang ingin dibelinya. "Hemmm."

"Apa kau kesulitan memilih?" tanya Yunho saat melihat Changmin sibuk menaik turunkan tangan kanan dan kirinya. Changmin segera menolehkan kepalanya kearah Yunho, ditatapnya Yunho dengan mata bulatnya sambil mengangguk.

"Kalau kau suka keduanya, kenapa tak ambil keduanya?" jawab Yunho sambil menatap Changmin.

Changmin membulatkan mata kaget mendengar perkataan Yunho, boleh membeli keduanya? Oh, demi seluruh isi kulkas dirumahnya, tawaran Yunho sangat menggoda imannya. Namun seketika perkataan Jaejoong melintas diotaknya.

'Jangan serakah! Itu tak baik. Pilihlah barang sesuai dengan kebutuhanmu, arra?'

"Ani appa, kata eomma Minie gak boleh celakah. Jadi Minie haluc pilih catu."

Deg

Jantung Yunho berdetak kencang saat mendengar perkataan Changmin. Matanya membulat kaget, tak menyangka Changmin akan berkata seperti itu. Jaejoong memang eomma yang sangat baik. Bisa membuat anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut seperti ini. Tanpa sadar senyum tulus terukir diwajah tampannya.

"Ne, kau memang tak boleh serakah. Ja, kalau begitu kau pilih yang mana eum?"

"Emm," Changmin nampak berfikir. "Menulut appa gundam bilu ini atau yang melah?" tanyanya sambil mengangkat gundam itu kehadapan Yunho.

"Yang biru bagus, tapi aku lebih suka yang merah. Bagaimana?"

Changmin nampak berfikir sebentar, tak lama senyumpun terkembang diwajahnya. "Ne yang melah memang kelen appa. Minie mau gundam melah ini appa." pekiknya girang sambil menyodorkan gundam merah itu pada Yunho. Yunhopun mengambilnya dan memanggil pelayan untuk membungkus gundam itu.

"Gomawo appa." ucap Changmin sambil tersenyum menatap Yunho.

"Ne cheonma. Kajja." Yunhopun menggandeng tangan Changmin dan melangkah menuju kasir.

"Jumma. Kajja." teriak Changmin saat melihat Junsu masih asik melihat-lihat.

"Eh? Kau sudah selesai?" tanya Junsu balik sambil melangkah mendekat ke arah HoMin.

"Ne jumma."

"Aku akan membayarnya dulu, kalian tunggulah diluar."

"Ne hyung/Appa."

Junsu dan Changminpun keluar dari toko itu menunggu Yunho menyelesaikan urusannya. Disaat menunggu itulah, Junsu melihat toko aksesoris dan boneka disebelah toko yang baru saja mereka masuki. Bersamaan dengan itu sebuah ide melintas diotak Junsu.

"Hei Minie-ah, eommamu menyukai boneka bukan?" tanya Junsu pada Changmin. Changmin hanya menganggukkan kepala sambil matanya menjelajah semua toko-toko.

"Bagaimana kalau kau suruh Yunho jussi membelikan eomma boneka? Hitung-hitung untuk membuat eommamu menyukai Yunho jussi!"

Seketika Changmin menghentikan aksi jelajahnya lalu menatap Junsu. "Jinja? Ne, Minie cetuju!"

"Bagus! Setelah ini, kau katakan pada Yunno jussi ne."

"U'um." Changmin hanya mengangguk senang membuat rambutnya bergoyang-goyang. Tak lama, Yunhopun keluar sambil menenteng kantung belanja besar ditangannya. Menyadari sang 'appa' datang, Changmin segera berlari menuju Yunho lalu memeluk kaki kiri Yunho.

"Eh? Waeyo?" tanya Yunho kaget karna Changmin tiba-tiba bergelayut di kakinya.

"Appa, Minie mau beli boneka." rajuk Changmin manja semakin mempererat pelukannya dikaki Yunho.

"Kau mau beli boneka?" tanya Yunho sedikit ragu.

"Ne. Tapi bukan buat Minie, tapi untuk eomma. Eomma cangat cuka boneka gajah." jawab Changmin dan kini mendongak menatap Yunho.

"Mwo? Eommamu menyukai gajah?" pekik Yunho kaget baru mengetahui kegemaran namja cantik incarannya itu. "Jinjayo?"

"Ne appa. Appa maukan beliin eomma boneka gajah? Ne appa." rajuk Changmin lagi sambil memasang puppy eyesnya. Membuat Yunho tak bisa menolaknya. Oh, bahkan jauh dilubuk hati Yunho, ia sangat ingin membelikan Jaejoong hadiah.

"Baiklah kajja."

"Holeyy, appa beliin eomma boneka. Aciikkk. Kajja jumma."

Mereka bertigapun kini kembali memasuki toko boneka dan mulai memilih boneka yang ingin diberikan kepada eomma Changmin itu a.k.a Kim Jaejoong.

::

::

YUNJAE

::

::

Matahari semakin turun keperaduannya, menyisakan semburat jingga dilangit yang beranjak petang. Kini, didalam sebuah mobil audy, nampak Yunho, Changmin dan Junsu yang tengah tertawa lepas.

"Lalu, lalu Jae hyung pergi dengan wajah sangat kesal dan malu. Haha, pokoknya itu kejadian yang sangat memalukan bagi Jae hyung. Euy kyang kyang."

Yah, mereka tengah menertawakan Jaejoong, menertawakan kebodohan Jaejoong dulu. Yunho yang biasanya dingin dan terkesan sombongpun, sekarang malah sudah tertawa lepas. Hal yang sangat jarang dilakukannya. Bahkan Changminpun ikut menertawakan eommanya.

"Jinja! Hyungmu itu sungguh lucu Junsu-ah. Sangat unik." ucap Yunho ditengah-tengah tawanya.

"Ne, Jae hyung memang begitu. Kekanakan dan polos." jawab Junsu sambil menahan sakit diperutnya akibat kebanyakan tertawa. "Ahh, perutku." keluh Junsu merasa sakit dibagian perutnya. "Akhirnya aku bisa tertawa lepas begitu. Sudah lama aku tak tertawa seperti tadi." lanjut Junsu dan menyeka airmata yang menetes dipipinya.

Yunho segera menolehkan kepalanya mendengar perkataan Junsu. Ia membenarkan perkataan namja imut tersebut. Ia juga sudah lama tak tertawa lepas seperti tadi. Ah, bukannya sudah lama, namun hampir sudah tak pernah sama sekali. Ia akui, berdekatan dengan semua kekuarga Kim itu, menjadikan dirinya berbeda dari sosok Yunho yang dulu. Sekarang ia lebih sering tersenyum dan tertawa setelah mengenal keluarga Kim itu. Iapun bersyukur akan hal itu.

"Gomawo." desis Yunho pelan hampir tak terdengar.

"Appa, Minie lapal." teriak Changmin tiba-tiba. Memang sejak makan siang tadi, dirinya sama sekali belum makan apapun. Tak salah bukan kalau sekarang ia lapar.

"Ne sebentar lagi kita sampai, kau tahan ne." Changmin hanya mengangguk mendengar jawaban Yunho. Tak berapa lama, akhirnya merekapun tiba diapartement, dengan cepat Changmin turun dan berlari menuju lift. Rupanya ia sudah sangat kelaparan.

"Yak Changminie, jangan berlari. Ini, kau suruh siapa yang membawakan barang-barangmu eoh?" teriak Junsu kesal. Changmin sendiri hanya nyengir kuda saat mendengar teriakan ahjussinya. Segera ia berbalik dan mengambil tas sekolahnya.

"Kajja hyung." ajak Junsu pada Yunho. Dan merekapun menyusul Changmin yang sudah nangkring didepan lift.

Ting

Pintu lift terbuka dan mengantar tiga namja beda usia itu kelantai 5. Merekapun berjalan pelan dan berhenti tepat didepan kamar 507. Segera setelah sampai, Junsu memencet bel pintu sementara Changmin sudah menggedor pintu dengan btutal.

"Eomma eomma, buka pintunya Minie lapal." teriak Changmin heboh.

Ceklek

"Eomma." Changmin segera menghambur masuk kedalam dan menubruk tubuh kecil eommanya, tanpa merasakan aura hitam pekat yang menguar dari tubuh sang eomma.

Glup

Sementara Changmin tak merasakan aura gelap yang dikeluarkan eommanya, justru Junsu dan Yunholah yang kini tengah gugup dan menatap horor pada Jaejoong. Seketika bulu kuduk mereka meremang saat melihat wajah Jaejoong yang sangat jauh dari kata bersahabat. Terlihat jelas dimata bulat Jaejoong, kalau dirinya tengah diliputi rasa kesal, marah dan khawatir. Ditatapnya dua namja yang masih setia mematung didepan pintu kamarnya dengan tatapan tajam setajam golok.

"Err, hyu..hyung." cicit Junsu memberanikan diri menyapa Jaejoong. "Ah, mian kami baru pulang. Tadi kami-"

"Cepat masuk lalu mandikan Changmin. Setelah itu kita makan!" ucap Jaejoong cepat memotong ucapan Junsu. Segera saja Junsu kabur kedalam dan menyeret Changmin menjauh dari sang eomma, meninggalkan Yunho yang entah bagaimana nasibnya nanti.

"Boleh aku masuk?" tanya Yunho sambil tersenyum mencoba mencairkan hati Jaejoong. Namun itu sama sekali tak berpengaruh besar, justru Jaejoong semakin menatapnya tajam dengan wajah dingin yang sangat menyeramkan.

"..."

"Aku tadi menjemput Changmin dan mengajaknya makan siang, setelahnya kami pergi jalan-jalan dan tak terasa hari sudah petang." ucap Yunho lagi mencoba memberi penjelasan pada Jaejoong. Jaejoong tetap tak bergeming, masih menatap tajam Yunho.

"..."

"Ternyata pergi bersama dengan Changmin membuat aku lupa waktu. Menyenangkan sekali bisa pergi dengannya." lanjut Yunho merasa senang menceritakan perasaannya hari ini. Sedikit melupakan fakta kalau Jaejoong masih kesal.

"..."

"Ah, aku jadi melantur." kata Yunho sambil menggaruk kepala belakangnya. Diliriknya Jaejoong yang masih tetap dengan posisinya. Ditatapnya mata bulat Jaejoong yang entah kenapa malah membuatnya terpesona.

"A-"

"Kau tahu, aku sangat khawatir saat aku tahu Changmin tak ada dirumah. Aku sangat khawatir karna tak tahu keberadaannya dimana. Ditambah tak ada kabar apapun dari kalian yang memberitahuku kalau kalian mengajak Changmin jalan-jalan. Kau tahu, bagaimana rasanya seorang ibu yang tak mengetahui bagaimana kabar anaknya. Kau tahu bagaimana perasaanku hah? Apa kau tahu?"

Jaejoong dengan cepat memotong perkataan Yunho, ia sudah tak bisa mengontrol emosinya dan alhasil iapun malah membentak Yunho. Sudut matanya sudah tergenang airmata, namun cepat-cepat dihapusnya agar tak jatuh.

"Aku sangat khawatir kau tahu? Aku tak mempermasakahkan kalau kau ingin mengajaknya jalan-jalan. Tapi tak bisakah kau memberitahuku terlebih dahulu? Tak bisakah kau memberitahuku agar aku tak merasa khawatir dan menduga-duga hah!"

Tes

Jaejoong benar-benar tak bisa mengontrol emosinya, bahkan sekarang airmata sudah menetes dipipinya. Diluapkannya semua kekhawatiran dan kekesalannya kepada Yunho, ia sungguh kesal terhadap Yunho yang seenaknya sendiri mengajak Changmin tanpa memberitahunya. Sebenarnya ia hanya khawatir mengenai anaknya itu, ia hanya khawatir mengapa Changmin belum datang padahal hari sudah malam. Ia hanya khawatir karna tak biasanya Changmin seperti itu. Jadi tak salah bukan kalau sekarang ia marah-marah dan meluapkan kekesalannya itu dengan berteriak pada sang tersangka utama?

Yunho yang tak menyangka Jaejoong akan marah-marah dan berteriak seperti itu, hanya mampu melongo dan membulatkan matanya. Memang ia sudah biasa melihat Jaejoong yang berteriak marah, namun kali ini hanya nada kekhawatiran dan kecemasan yang terdengar dalam teriakannya. Apalagi ditambah setetes kristal bening yang meluncur membasahi pipi putihnya, membuat Yunho diliputi rasa menyesal.

Yunhopun tak sadar, kini melangkahkan kakinya mendekat kearah Jaejoong. Barang bawaannya dibiarkan jatuh begitu saja didekat kakinya. Segera tanpa aba-aba, diangkatnya tangannya menyentuh wajah Jaejoong dan mengusap lelehan airmata disana.

"Mianhae." hanya kata itulah yang mampu diucapkannya, ditatapnya Jaejoong dengan lembut. "Mianhae, aku tak bermaksud membuatmu khawatir." lanjutnya dan kini perlahan mengangkat tangannya dan memeluk tubuh Jaejoong yang bergetar.

'Hangat. Tubunnya sangat hangat'

Jaejoong masih terisak pelan, iapun tak sadar kalau sekarang ia sedang berada didalan pekukan seorang Jung Yunho. Ia malah merasa nyaman berada dalam dekapan Yunho.

Sementara Yunho sekarang tengah menenangkan Jaejoong, ia akui ialah yang bersalah dalan hal ini. Maka dari itu, tadi iapun tak sadar telah mengucapkan kata maaf, kata yang sama sekali tak pernah diucapkannya selama ini. Ia sungguh merasa bersalah melihat Jaejoong seperti itu, sangat khawatir dan cemas.

"Tenanglah, aku tak akan mengulanginya. Mianhae." ucap Yunho sambil terus mendekap Jaejoong dan mengelus punggung Jaejoong.

Mereka terus berada diposisi seperti itu, tanpa tahu kalau sepasang mata tengah mengawasi mereka sedari tadi. Senyum mengembang diwajah orang itu lalu tanpa menimbulkan suara ia melangkah pergi.

"Semoga ini awal yang baik." gumamnya sepanjang perjalanan.

::

::

YUNJAE

::

::

Jaejoong kini tengah memanaskan makanan didapur, setelah teriakan Changmin menggelegar dan membuatnya tersadar, segera saja ia mendorong tubuh Yunho yang tengah mendekapnya hingga terjungkal kebelakang. Iapun sangat terkejut karena hal itu, namun otaknya cepat berfungsi dan segera saja ia berteriak kesal.

Sekarang disinilah ia, tengah menghangatkan makanan yang tadi dibuatnya untuk makan malam. Sementara tangannya sibuk mengaduk makanan, pikirannya kembali menerawang saat dirinya tengah didekap Yunho.

Blushhh

Hanya dengan membayangkannya saja ia sudah berblushing ria. Ia tak sadar kalau ia hanya pasrah dipeluk oleh Yunho. Tak henti-hentinya ia merutuki kebodohannya itu.

"Paboya Jaejoong! Kenapa kau malah diam saja saat dia memelukmu! Aiss, kenapa aku tak melawan eoh!" gumamnya pada diri sendiri.

"Tapi, kenapa rasanya nyaman?" lanjutnya sambil menyentuh pelan dada kirinya, "Disini, berdebar kencang." ucapnya lagi.

'Bahkan saat bersama Siwon hyung, aku tak pernah merasa begini'

"Eomma, makan makan! Minie lapal eomma. Lapaaallllll!"

"Omo!" Jaejoong tergelak dari acara melamunnya saat mendengar teriakan Changmin, segera saja ia mematikan kompor lalu menata makanan dimeja makan. Changmin sendiri sudah duduk manis dimeja makan sambil menggenggam sendok dan sumpit ditangannya.

"Aigoo, anak eomma. Kenapa sudah duduk disini eoh? Kau sangat lapar?" tanya Jaejoong sambil menaruh makanan itu dimeja.

"Minie lapall lapall! Huh!" dengus Changmin sambil melengoskan kepalanya.

"Aigoo, chakamaneyo. Sebentar lagi siap."

Jaejoongpun kembali melanjutkan menyiapkan makan malam, setelah semua selesai iapun memanggil Junsu untuk ikut bergabung.

"Loh, Yunho hyung eodiya?" tanya Junsu karna tak melihat Yunho ada dimeja makan.

"Appa lagi mandi jumma." kata Changmin sambil berusaha meraih sebuah ayam goreng didepannya.

"Changminie! Sabar sebentar, tunggu Yunho jussi dulu!" kata Junsu memperingati Changmin. Jaejoong sendiri hanya diam entah kenapa setelah insiden pelukan tadi ia menjadi gugup walau hanya mendengar nama Yunho.

"Tapi Minie lapal!" ucap Changmin kesal karna acara makannya tertunda.

"Kau ini, tunggu sebentar lagi saja, sebentar lagi juga Yunho jussi selesai mandi."

Tepat setelah berkata demikian, Yunho masuk ke ruang makan bermaksud untuk pamit pulang, karna nampaknya hari sudah malam.

"Aa, appa palli palli. Minie cudah lapal, kajja!"

"Eh?" kernyit Yunho bingung.

"Kajja hyung, ikut makan bersama kami. Anggap saja ini ucapan terima kasih dari kami karna sudah mengajak kami jalan-jalan tadi." kata Junsu tak menyadari perubahan raut wajah Jaejoong.

"Mengajak kami jalan-jalan? Oh ya, aku lupa kalau seharian tadi kalian asik berjalan-jalan sementara aku disini menunggu dengan khawatir karna tak ada kabar dari kalian! Ck, sungguh ironi." ucap Jaejoong sambil tertawa masam.

"Mi..mian hyung. Kami tak bermaksud membuat hyung khawatir. Mungkin kami terlaku asik sehingga lupa memberitahu hyung." jawab Junsu dengan rasa menyesal sangat kentara. Ditatapnya Changmin yang juga tengah menundukkan wajahnya. Mungkin merasa menyesal juga sama seperti ahjussinya.

"Eomma, mianhe. Minie gak mau eomma malah. Hiks, mian."

"Minie tahu, eomma sangat khawatir karna tak melihat Minie saat eomma pulang? Eomma sungguh khawatir Minie. Eomma sangat cemas." ucap Jaejoong sambil menatap Changmin dalam. "Sekarang Minie janji ne sama eomma, kalau Minie mau bermain Minie harus memberitahu eomma, jangan buat eomma khawatir dan cemas lagi. Yaksok?"

"Ne eomma. Yakcok." janji Changmin sambil membuat pinky promise dengan Jaejoong.

"Ja, kalau begitu sekarang kita makan. Minie laparkan?"

"Ne, appa juga makan ne?" ucap Changmin sambil menatap Yunho. Yunho terkesiap saat mendengar Changmin memanggilnya, sedari tadi ia hanya memperhatikan Jaejoong yang memberi pengertian pada Changmin.

"Ah, emm, aku harus pulang. Ini sudah malam, maaf merepotkan kalian, dan terimakasih sudah mengizinkanku membersihkan diri." ucap Yunho dalam sekali tarikan nafas dan sambil menatap Jaejoong.

Deg

Jantung Jaejoong berdesir saat matanya bertatapan dengan mata musang Yunho. Segera dipalingkannya wajahnya menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba muncul diwajahnya.

"Emm, duduklah. Makan malam dulu sebelum kau pulang." ucap Jaejoong tanpa menoleh pada Yunho. Yunho yang mendapat lampu hijaupun segera mengambil kesempatan itu, sebelum Jaejoong kembali berubah pikiran.

"Gomawo." ucap Yunho setelah duduk menyebelahi Junsu. Acara makan malampun kini berlangsung berbeda. Bertambah satu orang yang ikut makan malam disana. Nampaknya Jaejoong sudah tak mempermasalahkan lagi kejadian tadi sore, yang terpenting adalah sekarang Changmin sudah berada didekatnya lagi.

::

::

YUNJAE

::

::

Malam semakin larut, setelah acara makan malam tadi, kembali Changmin menahan Yunho agar tak pulang. Ada saja cara Changmin agar 'appa'nya itu tetap berada dirumahnya. Seperti sekarang, ia meminta Yunho untuk merakit gundam yang baru dibelinya itu.

"Appa appa, kajja kita lakit gundamnya. Kajja appa." kata Changmin sambil menarik-narik kaos yang dikenakan Yunho.

Yunho sebenarnya sudah kelelahan seharian ini jalan-jalan, iapun berniat pulang. Namun karna kasihan pada Changmin, akhirnya ia pun mau tetap tinggal dan menemani bocah itu merakit gundam.

"Ini dipacang dimana appa?" tanya Changmin saat dirinya kebingungan merakit gundam itu.

"Aku juga tak tahu, hemm kita lihat petunjuknya." jawab Yunho dan mulai membaca petunjuk yang ada dikemasannya.

Tak jauh dari keduanya, nampak Jaejoong yang tengah menatap HoMin dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya tiba-tiba memanas merasakan sesak didadanya.

"Minie-ah, apa kau senang changy?" gumamnya dan menyeka airmata yang ingin tumpah dari matanya. "Apa kau sangat ingin ia jadi appamu hmm?" gumamnya lagi sambil berusaha tersenyum.

"Eomma hanya ingin yang terbaik bagimu changy. Eomma akan senang kalau kau bahagia." Jaejoong mengusap kasar wajahnya agar tak nampak lagi lelehan airmata disana.

Deg

Jantung Jaejoong bergemuruh kencang saat melihat Yunho kini tengah mengacak pelan rambut Changmin, lalu untuk pertama kalinya Yunho memanggil Changmin dengan namanya.

"Yak, kau memang pintar Changminie. Daebak!" ucap Yunho lantang sambil mengusap pelan rambut Changmin. Senyum mengembang diwajahnya membuat matanya nyaris menghilang.

'Omo, jantungku. Kenapa berdetak kencang?'

Jaejoong menyentuh dada kirinya tempat dimana jantungnya tengah berdetak dengan kencang, sambil matanya terus menatap kearah Yunho dan Changmin.

"Apa yang sebenarnya kurasakan? Apa mungkin kalau aku-"

"Appa, appa cayang Minie?"

Jaejoong menghentikan perkataannya saat didengarnya Changmin bertanya pada Yunho. Segera saja ia menguping perbincangan dua namja beda usia itu.

"Ne, tentu saja aku sayang padamu." jawab Yunho sambil tersenyum dan mengecup pipi tembam Changmin.

"Hihi, kalo appa cayang Minie, belalti appa juga cayang eomma?"

Jaejoong semakin menajamkan pendengarannya guna mendengar apa jawaban Yunho, ia sangat penasaran apakah selama ini Yunho hanya bermain-main dengannya atau ia serius dengan segala perkataannya. Tak terasa jantungnya bergemuruh kencang menanti jawaban Yunho.

"Tentu, tentu appa menyayangi eommamu."

Deg

Deg

Jantung Yunho dan Jaejoong sama-sama bergemuruh kencang dengan alasan yang berbeda saat mendengar jawaban Yunho. Yunho yang terkejut dirinya melapalkan kata 'appa' pada Changmin, sedangkan Jaejoong yang kaget karna jawaban Yunho yang menyatakan kalau Yunho menyayangi dirinya juga.

Apalagi Yunho mengatakannya dengan senyum tulus memandang Changmin. Bisa Jaejoong lihat ketulusan dari ucapan Yunho itu, tak terasa senyum mengambang diwajahnya. Ya, ia akui ia merasa senang atas ucapan Yunho, entah kenapa ia merasa Yunho benar-benar serius akan ucapannya.

"Appa sangat menyayangi kalian berdua." lanjut Yunho sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Changmin. Didekapnya hangat bocah gembul itu, sambil mengusap kepalanya sayang.

"Appa, Minie cayang appa."

"Ne, appa juga sayang padamu, Minie."

Yunho semakin mempererat pelukannya, "Minie-ah, apa kau benar-benar senang jika aku menjadi appamu?" tanya Yunho masih dengan mendekap Changmin. Changmin hanya menganggukkan kepalanya didada Yunho, "Aku juga sangat ingin menjadi appamu Minie-ah. Kau tahu, aku merasa sangat senang bisa bergabung dalam keluargamu ini. Keluarga yang hangat dan penuh dengan kasih sayang." lanjut Yunho bermonolog sendiri. Changmin yang tak mengerti apa yang dimaksud Yunhooun hanya mengangguk-nganggukan kepalanya tanpa melepas pelukan Yunho padanya.

"Appa akan berusaha untuk membuat eommamu menerima appa Minie-ah, kau tahu appa benar-benar sangat mencintai eommamu. Eommamu lah yang membuat appa berubah seperti ini. Gomawo Minie-ah, gomawo Joongie."

Yunho terus memeluk tubuh gembul Changmin, tanpa tahu kalau Jaejoong mendengar semua ucapannya. Bahkan kini Jaejoong sudah menitikan airmata mendengar ucapan Yunho. Disentuhnya dada kirinya yang bergemuruh kencang sambil bergumam-

"Mianhae."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Osoku natte, hontou ni gomennasai ! (-.-")

Hahhh,, akhirnya bisa update juga.. Mian untuk keterlambatan update,, saya sudah mulai aktif kuliah jadi konsentrasinya kepecah untuk tugas dan melanjutkan FF ini.. #ngeles Semoga kalian masih pada inget cerita dan masih betah nungguin FF ini ya.. ^^

Bagaimana untuk chap ini, terlalu panjangkah? Moment HoMinnya apa kalian suka? Disini sudah mulai ketahuan bukan bagaimana perasaan Jaejoong yang sebenarnya?

"Mianhae." kira-kira untuk apa Jaejoong meminta maaf? Dan kata maaf itu kira-kira untuk siapakah?

Haha, kalo penasaran silahkan ditunggu kelanjutannya,, semoga chap selanjutnya bisa lebih cepat.. Doakan saja ^^

Terimakasih bagi kalian semua yang uda sempet mampir, follow, favorit plus review dichap kemarin. Special thank bagi :

Jung Bita , bumkeyk , YunHolic , ifa p arunda , RyGratia , Kira is Jung Dabin Naepoppo , Merry Jung , SimviR , Gyujiji , babekyu88 , Shin Min Gi , Himawari Ezuki , zhe , toki4102 , danactebh , Vic89 , diya1013 , riska0122 , jung neul neul , yoon HyunWoon , magnaeris , Hana-Kara , VoldeMin vs KYUtie , BooBear , Junghyejung , diyas , haruka-chan , Thean , mybabywonkyu , cottoncandyme , Guest , 9194YJS , vampireyunjae , uknowsay , akiramia , jenny , Guest , iru iru g , Lady Ze , Rara , PhantoMiRotic , kjhwang , Anik0405 , kim eun neul , Na BearBooJae , hazuki , Guest , My Beauty Jeje , Fitri , anf , nickeyjcassie , Vionic KrisTaoManiac , Guest

Yang sudah nyempetin review di chap 2 kemaren. Jeongmal gomawo buat untaian kata kalian di review itu.. Saya jadi senyum-senyum sendiri membaca review kalian ^^

Terimakasih juga buat kalian para silent reader,, yang sudah meluangkan waktu untuk membaca FF ini.. Kalo kalian berkenan silahkan tinggalkan jejak kalian ya agar kita bisa saling mengenal.. ^^

Akhir kata tinggalkan jejak kalian dan tinggalkan kesan untuk chap 3 ini ya.. Saya sangat mengaharapkan review dari kalian,, setidaknya berikan dukungan bagi kami para author karna membuat suatu cerita itu tidaklah gampang..

Review onegaishimasu...

Denpasar, 1 Oktober 2013