Can i get new Appa, Eomma?
.
Cast : Jung Yunho (30 tahun)
Kim Jaejoong (27 tahun)
Kim (Shim) Changmin (3 tahun)
Other cast : Jung (Choi) Siwon (33 tahun)
Park Yoochun (26 tahun)
Kim Junsu (25 tahun)
Son Dongwoon (24 tahun)
Pairing : Yunjae, Wonjae, Yoosu
Genre : YAOI/Shonen-ai/Family/Humor/MPreg
Chapter : 4 (empat)
Warning : cerita pasaran dan tidak jelas, judul tak nyambung dengan cerita, alur sesuai mood saya, typo(s)bertebaran, bahasa tidak baku dan tak sesuai dengan EYD.
.
.
Jja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
::
::
YUNJAE
::
::
"Appa akan berusaha untuk membuat eommamu menerima appa Minie-ah, kau tahu appa benar-benar sangat mencintai eommamu. Eommamu lah yang membuat appa berubah seperti ini. Gomawo Minie-ah, gomawo Joongie."
Yunho terus memeluk tubuh gembul Changmin, tanpa tahu kalau Jaejoong mendengar semua ucapannya. Bahkan kini Jaejoong sudah menitikan airmata mendengar ucapan Yunho. Disentuhnya dada kirinya yang bergemuruh kencang sambil bergumam-
"Mianhae."
.
.
Setelah seharian bermain bersama Kim Changmin, akhirnya tiba saatnya namja mata musang a.k.a Jung Yunho kembali ke rumahnya. Setelah Changmin tidur nyenyak karna kelelahan merakit gundam bersamanya, Yunhopun berpamitan pulang dan tak lupa sebelumnya menghadiahi Changmin kecupan sayang dan ucapan selamat tidur.
Kini Yunho sudah berada didepan pintu apartement Jaejoong, baru saja Yunho hendak mengatakan kalau besok ia akan menjemput Changmin kembali, namun suara pintu yang berdebamlah yang didapatnya.
"Aiss, aku kan belum mengatakan selamat malam." rutuk Yunho diluar pintu. Namun setelahnya, senyum mengembang diwajah tampannya, dan segera ia bergumam-
"Jalgayo Joongie."
Setelah mengucapkan itu, iapun beranjak dari sana dan segera pulang menuju rumahnya.
Sementara Jaejoong masih diam didepan pintu apartementnya, ia belum beranjak dari sana bahkan iapun mendengar lirihan suara Yunho yang mengatakan ucapan selamat tidur padanya. Tak terasa senyum manis tercetak diwajahnya.
"Jalgayo."
::
::
YUNJAE
::
::
Pagi-pagi sekali, Jaejoong sudah bangun dan berkutat didapur. Pagi ini, entah kenapa ia terlihat lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Bahkan ia bersenandung kecil saat mencuci bahan makanan yang diperlukannya. Oh ya, ada apa sebenarnya dengan Kim Jaejoong?
Suara serak tiba-tiba mengintrupsi kegiatan memasak Jaejoong, cukup kaget ia dengan kedatangan tiba-tiba namja imut yang sekarang tengah mengucek matanya karna masih mengantuk.
"Pagi hyung." ucap Junsu malas sambil menuangkan air putih kedalam gelas lalu meminumnya hingga tandas.
"Pagi Junsu-ie, kenapa sudah bangun hmm?"
"Aku haus hyung. Ini aku mau tidur lagi." jawab Junsu dan mulai melangkahkan kakinya ke sofa ruang tamu, ia malas jika harus kembali ke kamarnya.
Pagi menjelang, Jaejoongpun sudah siap dengan masakannya. Berbagai macam makanan sudah terhidang dimeja makannya. Kini tugasnya tinggal membangunkan namja cilik penyuka makanan alias buah hatinya. Ia yakin Changmin masih bergelung dengan selimutnya karena jam memang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Cekleekk
Jaejoong perlahan membuka pintu kamar Changmin, dilangkahkannya pelan kakinya beranjak menuju jendela kamar, dan setelahnya menyibak gorden agar cahaya matahari pagi bisa masuk.
"Eungh." lenguhan kecil terdengar dari Changmin saat sinar matahari pagi menyilaukan matanya. Jaejoong segera mendekat kearah Changmin lalu menyibak helaian rambut yang menempel dimata anaknya itu.
"Annyeong changy." ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Eungh." lagi-lagi hanya lenguhan kecil yang dikeluarkan Changmin. "Ap..pa." gumam Changmin saat tangan Jaejoong mengelus pelan kepalanya.
"Ini eomma changy." ucap Jaejoong dan terus mengusap kepala Changmin.
Changmin menggeliat nyaman saat merasakan dekapan hangat ditubuhnya, tak terasa senyum mengembang diwajahnya. "Appa." ucapnya lagi. Rupanya kini Changmin tengah bermimpi bermain bersama Appanya, sedari tadi ia mengira kalau sang 'Appa'lah yang mengelus dan mendekapnya.
Jaejoong sendiri hanya tersenyum melihat anaknya yang tersenyum manis dalam tidurnya. Diciumnya lembut pipi gembul Changmin.
"Irreona Minie-ah."
"Appa. Machita, makanan dicini cangat enak appa." gumam Changmin masih dengan mata terpejam.
"Eh?" Jaejoong mengernyit bingung saat Changmin malah berkata hal aneh, detik berikutnya ia tersadar kalau Changmin tengah bermimpi.
"Kau bermimpi eoh? Mimpi makan? Astaga Minie, dalam mimpipun kau tetap makan? Aigoo." Jaejong hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu.
"Humm, appa, ayam goleng ini machita. Minie mau lagi, aaa-"
Graukkk
"Waaaaa."
Segera saja suara teriakan Jaejoong menggema didalam kamar Changmin, setelah tadi tanpa sadar tiba-tiba Changmin sudah menggigit pergelangan tangannya. Changmin yang juga kaget dengan teriakan Jaejoong segera saja menangis kencang.
"Ada apa hyung!" teriak Junsu kencang saat mendengar teriakan kencang dari arah Changmin. Tanpa pikir panjang ia bergegas menuju kamar Changmin dengan wajah yang sangat panik.
Junsu sempat tertegun saat melihat Jaejoong yang terlihat mengelus tangannya dengan raut wajah kesakitan dan Changmin yang menangis sesenggukan diatas kasur. Namun segera ia sadar dan beranjak mendekati Changmin.
"Minie-ah, waeyo? Uljimayo, cup cup." Junsu berusaha untuk menenangkan Changmin, ditepuknya pantat Changmin agar anak itu berhenti menangis.
"Hyung, waeyo? Kenapa Minie menangis?" tanya Junsu pada Jaejoong yang nampak masih kesakitan.
"Ini, ia tadi menggigitku. Appo!" ringis Jaejoong sambil menyodorkan tangannya yang digigit Changmin. Bisa dilihat bekas gigi Changmin masih membekas ditangan Jaejoong, ditambah warna merah yang kontras dengan kulit putih Jaejoong.
"Mwo? Mphhfft." Junsu tak kuasa menahan tawanya saat mendengar penuturan Jaejoong, dirinya sudah hampir lepas kendali tertawa namun bisa ditahannya melihat Jaejoong yang kesakitan.
"Bagaimana bisa?" gumamnya lagi masih sambil menepuk pantat Changmin. "Cup cup Minie, uljima. Ireonayo." bujuk Junsu lagi dan menghapus jejak airmata dipipi Changmin.
"Hiks hiks." Changmin masih menangis, namun suaranya sudah melemah. Perlahan matanya terbuka sambil menarik(?)ingusnya yang sempat keluar.
"Ap..pa." lirih Changmin masih antara alam nyata dan mimpi. "Ayam." gumamnya lagi sambil tangannya menggapai-gapai Jaejoong.
Melihat anaknya ingjn digendong olehnya, membuat Jaejoong melupakan sakit yang dirasakannya dan beralih menggendong Changmin. "Nappeun! Kenapa kau gigit eomma humm? Sakit tahu!" adu Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya kesal. Diusapnya pelan pipi Changmin yang masih menyisakan airmata, lalu mengecupnya pelan.
"Ireona. Kau harus sekolah, eomma sudah membuatkan banyak makanan. Kajja mandi dulu."
"Eum, makan." igau Changmin masih setengah melek.
"Buka dulu matamu baru kau mandi. Aiss," kesal Junsu melihat keponakannya itu. "Sini mandi sama jussi, biar eommamu mengobati lukanya dulu. Kajja."
Changminpun bagai terhipnotis turun dari gendongan sang eomma dan berjalan lunglai ke arah Junsu. Junsupun menyodorkan tangannya hendak menggendong Changmin, namun-
"Waa, ayam ini lebih becal. Minie cuka, aaa-"
Grauukkk
Dan teriakan kencang nan melengking milik Junsulah yang menggema keseluruh apartement, dan mengakhiri pagi hari di kamar Changmin itu.
::
::
YUNJAE
::
::
Kim Changmin sudah duduk manis didepan meja makan. Tangannya sudah memegang sumpit dan sendok dikedua tangannya. Tangannya tak berhenti menghentak-hentakkan sendok itu kemeja, berharap acara sarapan cepat-cepat dimulai.
"Changminie, hentikan tindakanmu itu. Kau mau membuat Su-ie jussi marah lagi eoh?" teriak Jaejoong dari arah dapur. Ya, setelah kejadian gigit tangan yang dilakukan Changmin terhadap Junsu tadi, langsung saja namja imut itu berteriak kesal dan marah pada Changmin. Changmin sendiri hanya cuek tak merasa bersalah sedikitpun, karna memang dirinya tak sadar sudah mencelakain ahjussinya itu.
"Minie lapal eomma. Makan makan!" teriak Changmin kencang dan membuat Junsu yang sedari tadi diam dikamarnya menjadi terpancing.
"Kau bocah! Gara-gara kau aku jadi harus memakai perban begini. Kau kira ini tak sakit eoh?" delik Junsu pada Changmin. Direbahkannya pantat montoknya dihadapan Changmin.
"Memangnya Minie tadi ngapain jumma?" tanya Changmin polos menatap Junsu.
"Masih bertanya Kim Changmin?" sadis Junsu menjawab pertanyaan Changmin.
Ting tong
Belum sempat membalas perkataan ahjussinya, suara bel dipintu mengusik keduanya. Lalu terjadilah perang mata antara Changmin dan Junsu yang masing-masing memerintahkan untuk membukakan pintu.
Ting tong
"Kenapa tak ada yang membukanya eoh? Kim Junsu, Kim Changmin, siapa saja cepat buka pintunya!"
Mendengar teriakan yang berasal dari Jaejoong, segera saja Junsu dan Changmin menghambur kedepan untuk membukakan pintu. Takut juga mendengar suara Jaejoong yang nampak mengeluarkan aura hitam.
"Aku yang buka, minggir kau bocah!" teriak Junsu sambil menjauhkan Changmin dari sekitar pintu.
"Ani, bial Minie yang buka, itu pacti appa." kata Changmin sambil berkelit dari Junsu.
"Tak mungkin itu appamu, itu pasti Chunie. Yak cepat minggir." tak mau kalah, Junsu lantas menarik tubuh montok Changmin dan bergegas membuka pintu.
"Aniii. Minie yang buka."
Duuukkk
Dengan sekuat tenaga Changmin menyeruduk Junsu dan menyebabkan namja imut itu tersungkur, beruntung kepalanya tak sempat mencium daun pintu. Meihat keadaan yang memungkinkan, Changminpun segera berlari menuju pintu, namun dengan segera pula Junsu menghentikan langkah bocah itu lalu menggendong Changmin.
"Pabo! Untuk apa kita berebut begini? Menyusahkan saja!" dengus Junsu baru sadar tindakan bodoh apa yang baru saja dibuatnya.
"Jumma memang pabo." celetuk Changmin dan mendapat deathglare dari Junsu. Junsupun segera meraih hendel pintu lalu memutarnya, tak lupa sebelumnya ia membuka kuncinya.
Ceklekk
Perlahan Junsu membukakan pintu itu hingga bergeser, membukanya dengan senyum mengembang berharap itu adalah Chunienya. Tak jauh bedanya dengan Junsu, Changminpun tersenyum manis kearah pintu, berharap kalau sang 'appa'lah yang datang.
Namun setelah pintu benar-benar terbuka, senyum diwajah keduanya seketika lenyap, tergantikan dengan wajah terkejut Junsu dan wajah malas dari Changmin.
::
::
YUNJAE
::
::
Acara sarapan pagi diapartement Jaejoong sedikit berbeda dari biasanya. Kini dimeja makan itu, sudah bertambah tiga orang namja yang ikut bergabung untuk sarapan. Ya, mereka adalah Yunho, Siwon dan Yoochun. Namja pertama yang datang adalah Siwon, berselang beberapa lama, datanglah Yunho dan Yoochun yang ternyata bertemu saat dilift. Mereka terkejut saat mendapati Siwon sudah berada diapartement Jaejoong, begitu juga dengan Siwon yang kaget melihat dongsaengnya berada disini.
Namun yang lebih membuat Siwon sakit adalah, kedekatan Changmin pada Yunho. Padahal tadi sebelum Yunho datang, Changmin sedikit mau bermain dengannya. Karna Siwon menghadiahkan bocah gembul itu sebuah mainan, namun kebahagiaan Siwon menguap sudah saat kata 'Appa' melengking keras dari mulut Changmin saat Yunho datang.
Sekarang bahkan Changmin sudah tak menghiraukannya lagi, terbukti dengan Changmin yang sudah duduk manis dipangkuan Yunho saat mereka sarapan bersama.
Untung saja Jaejoong memasak banyak untuk sarapan kali ini, entahlah mungkin ia punya firasat kalau Yunho akan datang lagi kerumahnya. Eoh? Firasat atau kau memang mengharapkannya Kim Jaejoong?
"Appa, mau itu." suara Changmin memecah keheningan yang sempat melanda meja makan itu. Segera saja Yunho mengambil sebuah kimbab yang diminta Changmin.
"Kau mau ini? Kajja buka mulutmu, aa-"
"Amm. Umm, machita." pekik Changmin girang melahap masakan eommanya. Sementara Yunho hanya tersenyum senang memandang Changmin yang lahap makan.
Diseberang mereka, nampak Jaejoong yang juga tersenyum senang melihat kedekatan HoMin, tanpa menyadari perubahan raut wajah Siwon yang memandang sendu Jaejoong.
'Kenapa kau tersenyum Jaejoong-ah?'
"Minie mau tambah lagi?" kini suara Jaejoong menginterupsi kunyahan Changmin, Changminpun menoleh pada Jaejoong lalu menganggukkan kepalanya antusias.
"Sini, kemarikan mangkukmu." Jaejoongpun mengulurkan tangannya untuk menaruh nasi dipiring Changmin, namun tiba-tiba suara Yunho menyela kegiatannya.
"Tanganmu kenapa?" tanya Yunho dengan nada khawatir yang sangat kentara. Ya, Yunho melihat tangan kanan Jaejoong yang terbalut plester gambar gajah dipergelangan tangannya. Segera saja radar protektif Yunho berbunyi nyaring.
"Ah, ini. Hanya luka kecil." jawab Jaejoong salah tingkah karna Yunho memperhatikannya. Segera ia menarik tangannya, namun terlambat karna Yunho sudah menahannya.
"Hanya luka kecil?" tanya Yunho sambil menatap tajam Jaejoong.
"N..ne." jawab Jaejoong ragu.
"Itu gala-gala Minie appa, tadi Minie gak cengaja gigit eomma." jawab Changmin takut sambil menundukkan wajahnya. Seorang Changmin bisa takut begini? Jelas, karna ia merasa bersalah pada eommanya itu. Gara-gara ia Jaejoong jadi terluka.
"Mwo?" pekik Yunho kaget atas jawaban Changmin. Changmin menggigit Jaejoong? "Kenapa bisa?" tanyanya lagi sambil kini mentapa Changmin, tanpa melepas pegangan tangan Jaejoong.
"Minie kila itu ayam goleng." jawab polos Changmin semakin menundukkan wajahnya.
"Mwo?" kali ini Yunho berteriak lebih keras. Astaga, anaknya ini benar-benar? Wait! Anaknya? Jadi tuan Jung ini sudah mengakui Changmin sebagai anaknya eoh?
"Ne hyung, ia juga menggigit tanganku, lihatlah!" kini giliran Junsu yang menyodorkan tangannya kepada Yunho dan langsung mendapat protek dari Yoochun.
"Kau juga digigignya Su-ie?" tanya Yoochun mulai heboh, "Yak bocah, kau ini. Kenapa kau menggigit Su-ie ku eoh!" marah Yoochun pada Changmin, tak terima kekasih montoknya itu dicelakai bocah gembul Changmin.
"Hei Park, berani kau membentak Changminie? Kau mau bertemu dengan Michael Jakson?" kata Junsu sadis dengan memasang wajah datarnya. Melihat itu Yoochunpun menelan saliva gugup. Well, walaupun sering bertengkar, namun Junsu sangat menyayangi Changmin.
"A..aku hanya bercanda. Jangan marah Su-ie." rajuk Yoochun supaya Junsu tak marah lagi.
"Kau ini, kenapa bisa gigit eomma dan Junsu eoh?" tanya Yunho lagi dan beralih menatap Changmin. Tak sadar kalau ia melapalkan kata eomma pada Jaejoong, serasa memanggil istri sendiri aniya?
Changmin mendongakkan kepalanya melihat Yunho, "Minie mimpi makan ayam goleng cama appa. Hihi." jawab Changmin dan diakhiri dengan kikikan kecil.
"Oya? Tapi kau sudah minta maaf pada eomma?" lanjut Yunho menatap lembut Changmin.
Changmin hanya menggelengkan kepala, lalu beralih menatap Jaejoong. "Eomma, mianhe. Jangan malah ne."
Jaejoong hanya tersenyum memandang Changmin, "Ania. Eomma tak marah, tapi ini sakit sekali." kata Jaejoong pura-pura menahan sakit tangannya.
"Jinja? Cini bial Minie tiup." Changminpun menjulurkan tubuhnya yang dipangku Yunho kedepan, guna menggapai tangan eommanya lalu meniupnya dengan lembut.
"Huufff huufff, macih cakit?" tanya Changmin.
Jaejoong menggeleng lemah, dan tersenyum, "Ani, sudah tak sakit lagi. Gomawo changy." ucap Jaejoong dan mengusap lembut pipi tembam Changmin. Sementara Yunho juga tersenyum melihat itu, tak terasa tangan keduanya masih bertautan.
"Cepat sembuh." ucap Yunho pada Jaejoong sebelum melepas tangannya dari tangan Jaejoong dan tak lupa mengusap pelan luka Jaejoong itu.
Blusshhh
Seketika Jaejoong merona saat mendapat perhatian begitu dari Yunho. Ditundukkannya cepat wajahnya menghindari semua orang menyadari perubahan wajahnya.
'Astagaaaa! Kenapa dengan diriku!'
Sementara Junsu dan Yoochun hanya mengulum senyum melihat adegan YunJae barusan, rupanya dua sejoli itu merasa senang dengan hubungan YunJaeMin.
"Dengan jussi, kau tak mau minta maaf?" tanya Junsu sambil menatap Changmin yang bersiap makan kembali.
"Eh? Kenapa Minie mecti minta maap cama jumma?" tanya polos Changmin.
"Kau kan juga mengigitku bocah." gemas Junsu karna Changmin lupa dengan perbuatannya pada lengan montoknya.
"Chiluh. Minie kan gak calah. Tangan jumma montok jadi Minie kila itu ayam benelan."
"Yak, Kim CHANGMINIE."
Dan teriakan Junsulah yang terdengar nyaring dimeja makan itu, membuat semua yang berada disana tertawa mendengar jawaban yang diberikan Changmin. Semua nampak bahagia, mereka sudah nampak seperti keluarga aniya?
Tapi, sepertinya kita melupakan sesuatu? Ah ya, Siwon. Bukankah masih ada namja berlesung pipi itu bergabung disana? Astaga, mereka benar-benar melupakan kehadiran Siwon disana. Bahkan authorpun sepertinya melupakan keberadaan cast yang satu itu.
Bisa dilihat kini, ditengah kebahagiaan yang dirasakan semua orang dimeja makan itu, hanya Siwon saja yang menampakkan wajah sedih. Ia merasa seperti orang asing ditengah keluarga itu. Apakah dirinya begitu tak berharga dimata keluarga Jaejoong? Apakah ini balasan dari Tuhan karna bumonimnya selalu memanjakan dirinya dirumah sementara Yunho harus mendapat perlakuan berbeda. Beginikah yang dirasakan Yunho tiap bersama dengan keluarganya? Tersingkir dan tak dihiraukan?
'Yunho-ah, apa seperti ini perasaanmu dulu?'
::
::
YUNJAE
::
::
Jaejoong merasa sangat bersalah pada Siwon, karna sedari tadi ia melupakan kehadiran namjachingunya itu. Ia baru sadar saat tadi Siwon meminta izin ke kamar mandi, ia sempat tersentak baru menyadari kehadiran namjachingunya itu. Segera saja ia menjadi merasa bersalah ditambah lagi tadi interaksinya dengan Yunho. Ia sangat yakin kalau Siwon melihat semua itu.
Sekarang mereka sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, sementara Changmin berangkat sekolah. Changmin tersenyum lebar karna kali ini lagi-lagi ia akan diantar oleh eomma dan appanya.
"Minie cudah ciap!" lapornya girang pada Yunho saat dirinya keluar dari kamar, lengkap dengan ransel dipunggungnya. Senyum cerah terlukis diwajahnya.
"Kajja appa, Minie belangkat cama appa ne." ucapnya girang sambil menarik tangan Yunho agar berdiri dari duduknya.
"Minie-ah, kau berangkat bareng jusii saja ne. Biarkan appamu pergi ke kantornya." sela Junsu sebelum Changmin menyeret Yunho pegi menjauh.
"Chiluh. Minie mau diantel cama appa! Huh!" rajuk Changmin sambil mempoutkan bibirnya. "Kajja appa eomma!"
"Changmin, bagaimana kalau jussi saja yang mengantar Changmin dan eommamu, bagaimana?" tawar Siwon pada Changmin saat melihat keengganan Changmin pergi bersama Junsu. Ya, mencoba peruntungan, siapa tau Changmin mau pergi bersama dengannya.
"Chiluh. Minie gak mau pelgi cama jucci belicik." jawab Changmin keras hingga membuat Yunho dan Siwon sedikit terlonjak.
"Ne, Changminie hanya mau berangkat bersamaku." kata Yunho dengan wajah kemenangan jelas tercetak diwajahnya. Ditatapnya Siwon hyungnya dengan seringainya.
"Ck, tapi kali ini aku datang untuk menjemput mereka. Bukankah aku ini kekasih Jaejoong huh?" kata Siwon tenang menantang Yunho.
"Dan aku appa Changmin!" jawab Yunho tak mau kalah. Ditatapnya Siwon dengan pandangan meremehkan.
Siwon tentu kaget mendengar itu, namun segera ia mengendalikan diri. "Tapi hari ini aku yang akan mengantar Jaejoong." putus Siwon dan beranjak dari hadapan Yunho menemui Jaejoong yang baru keluar dari kamarnya.
Srett
"Eh?"
Jaejoong sangat kaget karna tiba-tiba Siwon menariknya seperti ini. Entah kenapa dengan namjachingunya itu. Mungkin ia kesal karna tadi sempat diacuhkan oleh Jaejoong.
"Appa, eomma kajja belangkat." teriak Changmin lagi saat melihat Jaejoong keluar kamar.
"Yak, aku yang akan mengantar mereka." ketus Yunho lalu beranjak mendekati Jaejoong dengan menyeret Changmin tanpa sengaja. "Kajja." kata Yunho dan mengambil sebelah tangan Jaejoong yang bebas,
"Ani. Biarkan aku yang mengantarnya." Siwon tetap pada pendiriannya lalu menarik Jaejoong kembali mendekat kearahnya.
"Tapi Changmin ingin aku yang mengantar mereka. Kajja." tak mau kalah Yunho pun menarik tangan Jaejoong kembali kearahnya.
"Ap..pa." lirih Changmin sedikit takut dengan teriakan disekitarnya.
"Aku duluan yang mengajaknya."
"Tapi Changmin ingin aku yang mengantar."
Terjadi tarik-menarik dengan Jaejoong yang diperebutkan, sementara Junsu dan Yoochun hanya bisa menonton, mereka tak mau ikut campur dalam urusan para hyungdeulnya itu.
"Yak, yak, lepaskan! Aku berangkat sendiri!"
"ANDWAE!" teriak Siwon dan Yunho bersamaan dan seketika tangis Changmin pecah mendengar keributan itu.
"Huwaaa,, huwaaa,"
"CHANGMINIE. Yak, lepas!"
Plak
Jaejoong sekuat tenaga menghempaskan kedua tangan yang menahan lengannya, segera setelah pegangan Yunho dan Siwon lepas ia beranjak kearah Changmin dan memeluk anaknya itu.
"Uljima uljima, cup cup, ini eomma. Uljimayo."
"Hiks hiks, huwee, Minie takut."
"Mian, jangan menangis ne."
Yunho yang tadinya diam akhirnya ikut berjongkok disebelah Changmin. "Mianhae, kau takut? Mian." ucap Yunho lalu mengelus punggung Changmin.
"Appa, jangan teliak-teliak. Minie takut." kata Changmin dan merentangkan tangannya kearah Yunho. Yunhopun mengerti keinginan Changminpun, mendekap bocah gembul itu sambil mengelus sayang rambut tebalnya.
"Mianhae, kajja kita berangkat. Nanti kau terlambat." ajak Yunho dan setelahnya berdiri.
"Eomma~" rengek Changmin menatap Jaejoong, Jaejoong sendiri sedang berfikir. Ia bingung antara mengantar anaknya atau berangkat bersama Siwon. Ia merasa tak enak pada Siwon jika berangkat dengan Yunho, namun jika ia berangkat bersama Siwon bisa dipastikan Changmin akan menangis.
"Emm, Minie, eomma-"
"Biarkan eomma berangkat bersama Siwon ahjussi ne, Minie berangkat bersama appa saja. Eotte?"
Deg
Deg
Jantung Siwon dan Jaejoong berdetak kencang saat Yunho mengatakan kalimat itu. Bukankah itu berarti Yunho mengizinkan Siwon mengantar Jaejoong? Tapi bukankah tadi ia begitu kencang melarangnya? Tapi kenapa sekarang?
Siwon memandang Yunho dengan sejuta pertanyaan, tak biasanya Yunho mau mengalah seperti itu. Ditambah lagi kata appa yang dilapalkannya, membuat Siwon tertegun dan tak mampu berfikir apapun. Sangat kaget tentunya.
"Eotte?" tanya Yunho lagi pada Changmin. Changmin sempat cemberut sesaat, namun setelah berfikir lama akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Ne, tapi nanti appa haluc jemput Minie lagi."
"Siap tuan!" kata Yunho sambil menghormat kecil pada Changmin, menyebabkan kikikan kecil keluar dari bibir Changmin.
"Kajja belangkat." teriak Changmin lalu berjalan mendekati eommanya. "Eomma Minie belangkat." ucapnya sambil menyalami Jaejoong dan mencium pipi eommanya.
"Cu-ie jumma, Chunie jucci, anyong." lanjutnya lagi sambil tersenyum cerah pada duo YooSu. "Anyong jucci belicik." walaupun sedikit tak suka dengan Siwon, namun Changmin masih mempunyai sopan santun, ia pun berpamitan sebelum berangkat pada Siwon.
"Annyeong." kini giliran Yunho yang mengucapkan salam, lalu beranjak dari apartement Jaejoong sambil menggandeng tangan mungil Changmin.
::
::
YUNJAE
::
::
Beberapa saat setelah Yunho dan Changmin menghilang dari apartement Jaejoong, segera Yoochun juga ikut pamit untuk berangkat ke kantor. Awalnya Siwon menawari Yoochun untuk berangkat bersama, namun Yoochun menolak dan berangkat duluan.
Kini, tinggal Jaejoong dan Siwon yang tersisa. Merekapun berangkat beberapa menit setelah kepergian Yoochun. Disinilah mereka, dalam mobil CRV Siwon, lengkap dengan kecanggungan yang kentara.
Jaejoong bukannya tak mau mengajak Siwon mengobrol, entah kenapa, sekarang ia merasa sedikit canggung jika harus berbicara dengan Siwon. Apakah efek kejadian tadi pagi? Jawabannya tentu bukan, karna akhir-akhir ini hubungan Jaejoong dan Siwon memang kurang hangat.
Siwon melirik sekilas Jaejoong yang duduk disebelahnya. Otaknya masih berputar memikirkan alasan apa dibalik Yunho mengizinkan Jaejoong berangkat bersamanya. Tentu ada alasan dibalik itu semua, namun sampai sekarang ia tak menemukan alasan itu.
Bosan dengan keadaan canggung seperti itu, akhirnya Siwon berusaha mengajak Jaejoong mengobrol.
"Apa kita akan diam terus seperti ini?" ucap Siwon dan membuat Jaejoong menolehkan wajahnya menatap Siwon.
"Emm, mianhae hyung. Aku tak bermaksud." jawab Jaejoong sambil membungkukkan sedikit.
"Gwencanha."
Lagi, hanya kesunyian yang ada didalam mobil Siwon. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jaejoong sibuk memikirkan bagaimana sekarang perasaan dirinya kepada Siwon. Karna ia menyadari, semenjak kehadiran Yunho dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu hal berbeda. Suatu hal yang tak pernah dirasakannya saat bersama Siwon.
Siwonpun demikian, ia tengah memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan namja cantik yang tengah duduk disebelahnya ini. Bagaimanapun ia sangat mencintai Jaejoong, namun ia juga tak boleh egois. Ia sadar, sikap Jaejoong sedikit berubah akhir-akhir ini. Tak pernah ia melihat sorot mata Jaejoong yang sangat bahagia ketika bersama Yunho dan Changmin, sungguh ia merasa sangat sedih saat melihat sorot bahagia itu bukan karna dirinya. Namun ia juga tak boleh egois, jika memang Jaejoong belum bisa bahagia dengannya, maka ia merelakan Jaejoong dengan yang lain.
"Jae/Hyung."
Jaejoong dan Siwon sama-sama terkejut saat menyadari mereka berkata bersamaan. Segera saja Jaejoong menyurun Siwon untuk bicara duluan.
"Ani, kau saja duluan Jae." kata Siwon sambil tersenyum lembut.
Jaejoong nampak berfikir sejenak sebelum menjawab, "Baik hyung." jeda sejenak, "Aku tahu, mungkin setelah ini kau akan sangat membenciku hyung. Aku tahu, aku memang sudah sangat keterlakuan jika mengatakan hal ini."
"..."
"Hyung, aku ingin kita-"
"Kita sampai." dengan cepat Siwon menyela ucapan Jaejoong. "Kita bicarakan hal ini nanti." lanjutnya dan mulai keluar dari mobil.
"Ne." Jaejoongpun ikut keluar dan setelahnya mereka berdua masuk ke dalam kantor. Sebenarnya Siwon hanya mengalihkan keadaan. Ia belum siap mendengar apa yang dikatakan Jaejoong, karna ia tahu dengan jelas hal apa yang ingin dikatakan namja cantik itu.
'Mianhae. Tapi, aku benar-benar belum siap. Biarkanlah aku sedikit lebih lama bersamamu'
::
::
YUNJAE
::
::
Jam menunjukkan pukul 11.00 siang, nampak Yunho kini tengah bersiap pergi. Diliriknya sekilas jam Rollex dipergelangan tangannya, sebelum memutuskan untuk menelpon seseorang.
"Bagian keuangan Son Dongwoon imnida."
"Dongwoon-ah, aku akan keluar sebentar. Kalau ada yang mencariku katakan untuk bertemu besok."
"Ne sajangnim. Ada yang lain?"
"Ani."
Tuut tuut tuut
Setelah memberitahu Dongwoon kalau ia akan keluar, segera Yunho menyambar jas dikursi kerjanya lalu berjalan keluar ruangan menuju parkiran.
Ting
Pintu lift terbuka, padahal ini bukan lantai tujuannya. Ah, rupanya ada seseorang yang ingin masuk dan menggunakan lift ini.
Deg
Pandangan mata Yunho terpaku saat orang yang menghentikan lift itu masuk kedalam. Matanya terus memandang sang obyek bahkan sampai kini obyek itu sudah berada disampingnya.
"Sampai kapan kau mau menatapku?" ujar orang itu merasa jengah Yunho terus memandangnya.
Yunho terkesiap dan segera mengalihkan pandangannya dari orang itu. "Kau mau kemana?" tanya Yunho setelah berhasil menguasai detak jantungnya yang menggila.
"Aku ada tugas keluar."
"Tugas keluar?"
"Ne. Siwon sajangnim menyuruhku untuk mengunjungi perusahaan cabang."
"Oh begitu."
"..."
"I..ini sudah jam makan siang. Apa kau tak mau makan siang terlebih dahulu?" tanya Yunho sambil melirik Jaejoong disebelahnya. Agak gugup saat mengutarakan ajakannya itu. "Kebetulan aku akan menjemput Changmin. Sekalian aku akan mengajaknya makan siang. Apa kau mau ikut?"
Jaejoong segera mengalihnya pandangannya pada Yunho, memandang namja tampan itu dengan alis yang bertautan.
"Kau akan menjemput Changmin?" tanyanya penuh selidik.
"Ne, aku akan menjemputnya." jawab Yunho sambil memasang senyum diwajahnya dan membuat Jaejoong tersipu.
'Aiss, bagaimana bisa aku malu melihat senyumannya. Kim Jaejoong, sadarlah'
"Bagaimana? Kurasa Changmin akan senang jika eommanya ikut menjemput." lanjut Yunho masih dengan senyum diwajahnya.
Deg
Deg
Jantung Jaejoong tak mau berhenti berdebar melihat senyuman Yunho. Segera dipalingkannya wajahnya dari arah Yunho. Melihat Jaejoong yang tersipu, membangkitkan sisi jahil Yunho.
"Bagaimana?" tanya Yunho lagi dan kini sudah menghadap Jaejoong. Perlahan namun pasti, dicondongkannya tubuhnya kearah Jaejoong sehingga mempersempit jarak keduanya. Seringai tercetak diwajah Yunho sambil menyebut dekuktif nama Jaejoong.
"Bagaimana, Kim Jaejoong?"
Jaejoong terkesiap saat mendengar Yunho menyebut namanya, segera ditolehkannya wajahnya menatap Yunho. Dan matanya membulat sempurna saat matanya bersibobrok dengan mata musang Yunho yang berada sangat dekat dengannya.
Deg
Wajah Jaejoong semakin memerah dengan sendirinya, bisa dilihatnya kini Yunho yang semakin mendekat kearahnya. Dan sialnya, kenapa ia sama sekali tak beranjak dari posisinya, malah diam terpaku menunggu wajah Yunho yang semakin dekat kearahnya. Ia seperti tersedot kedalam manik musang Yunho. Begitu pula dengan Yunho, dirinya seakan lupa niatnya tadi ingin mengerjai Jaejoong. Sekarang ia malah terlarut dalam pesona mata bulat Jaejoong.
Perlahan jarak diantara keduanya semakin menipis, bahkan kini Jaejoong bisa merasakan deru nafas Yunho yang berhembus dikulit wajahnya. Jangan lupakan aroma mint yang menguar dari tubuh Yunho, membuat jantung Jaejoong berdetak kencang. Matanya berkedip lucu melihat Yunho yang semakin mendekat kearahnya.
Sedikit lagi, jarak keduanya sudah sangat tipis. Bahkan sekarang badan Yunho sudah menubruk pelan badan kecil Jaejoong. Wajah Jaejoongpun sudah tegang, Yunho bisa merasakan aroma vanila yang menguar dari tubuh Jaejoong. Sedikit lagi, wajah mereka hampir bertemu, bahkan hidung keduanya sudah saling bersentuhan. Yunho sudah siap memiringkan wajahnya sementara Jaejoong perlahan memejamkan matanya. Sedetik lagi bisa dipastikan kedua bibir beda bentuk itu akan bertemu, namun-
Ting
Suara dentingan lift menyadarkan Jaejoong yang dengan cepat membuka kembali matanya dan segera mendorong kuat Yunho hingga Yunho terjungkal kebelakang. Dibelalakkannya matanya kaget baru loading dengan apa yang terjadi.
Sementara Yunho hanya merapikan sedikit jasnya yang berantakan akibat dorongan kuat Jaejoong. Setelah pintu lift benar-benar terbuka, seringai kembali muncul diwajahnya. Diliriknya sekilas Jaejoong yang berjalan mendahuluinya sambil menghentakkan kakinya kesal. Terlihat jelas Jaejoong tengah menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kau sungguh lucu."
::
::
YUNJAE
::
::
Changmin tersenyum senang saat dilihatnya mobil Yunho perlahan masuk kedalam halaman playgrupnya. Mata bulatnya terus memperhatikan mobil Yunho itu hingga mobil itu berhenti dan dari dalamnya keluarlah sosok sang 'appa' yang juga tengah tersenyum cerah. Entah apa yang membuat uri Yunho ini tersenyum cerah begitu, apa karna insiden lift tadi eoh tuan?
Setelah turun dari mobilnya, segera Yunho melangkah masuk kedalam playgrup. Bisa dilihat semua mata ibu-ibu murid memandangnya dengan tatapan kagum. Bahkan ada yang tak sengaja meninggalkan anaknya dibelakang dan malah mendekat kearah Yunho.
"Kyaa, tampannya. Aku baru melihatmu disini. Perkenalkan namaku, Hyuna. Kim Hyuna." kata seorang yeoja seksi sambil menatap Yunho penuh minat. Ia bahkan lupa pada sang anak yang ditinggalkannya dibelakang.
"Ah, ne." jawab Yunho sekedarnya.
"Kau apa salah satu orang tua murid?" tanya Hyuna lagi masih gencar mendekati Yunho.
Yunho sebenarnya sangat risih dengan yeoja itu, tapi ia berusaha bersikap baik dihadapan semuanya.
"Ne, aku ap-"
"APPAAAAA!"
Teriakan kencang nan melengking milik Changmin seketika terdengar memecah keributan yang terjadi semenjak Yunho menginjakkan kaki di playgrup itu. Segera dengan langkah menghentak dan wajah yang tak bersahabat, Changmin menghampiri Yunho dan memasang wajah tergalaknya. Ah, walau berusaha menampilkan wajah garangnya, namun tetap saja hanya keimutan yang terpancar diwajah gembul Changmin.
"Appa! Kajja pulang!" teriak Changmin lagi didepan Yunho sambil melipat kedua tangannya. Ditatapnya Yunho dengan pandangan kesal dan bibir terpout lucu. Yunho sendiri hanya mengulum senyum melihat tingkah Changmin, ah nampaknya anak itu marah karna ia mengobrol dengan yeoja seksi dihadapannya ini.
"Ah, ne kajja kita pulang." jawab Yunho masih menahan senyumnya.
"Ajumma centil, ini appa Minie. Ajumma centil jangan ganggu-ganggu appa Minie ya! Huh!" bahkan sempat-sempatnya uri Changmin memarahi Hyuna yang masih berdiri disebelahnya. Apalagi ia memarahi Hyuna dengan mendelik sebal pada yeoja itu serta menggembungkan pipinya.
"Aigoo, Changminie jangan begitu. Ah mian nona, dia memang sering begitu. Nah, kajja Minie kita pulang. Annyeong!" Yunhooun langsung menyeret Changmin sebelum anaknya itu kembali berteriak.
"Kyya, jadi itu appanya Changmin?"
"Tampan sekali. Pantas saja Changmin jadi anak yang tampan begitu. Lihatlah appanya, begitu tampan dan keren."
Begitulah komentar-komentar ibu-ibu disana saat Yunho dan Changmin melintas didepan mereka, sangat terkagum-kagum dengan ketampanan Yunho. Sementara Yunho hanya mengangguk kecil saat melintasi ibu-ibu itu, sedangkan Changmin menatap ibu-ibu itu dengan wajah sangar dan pandangan tak suka.
"Huh! Appa nappeun!" rengek Changmin setelah mereka masuk ke dalam mobil.
Mendengar Changmin merajuk, seketika membuat Yunho menolehkan wajahnya kearah Changmin. "Eh? Nappeun? Memangnya appa melakukan salah sama Minie?" tanya Yunho sudah mulai terbiasa menyebut dirinya appa dan memanggil nama kecil Changmin.
"Ne. Appa deket-deket cama ajumma centil itu!" kata Changmin masih dengan mood ngambek. Menyilangkan tangan didada dan mengembungkan pipi.
"Eoh? Jadi kau marah?" tanya Yunho mengulum senyum, ia senang karna Changmin sedikit cemburu padanya.
"Huh! Appa tak boleh deket-deket ajumma lain. Appa cuma boleh deket cama eomma!" putus Changmin sedikit posesif. Ditatapnya Yunho dengan mata bulatnya yang sedikit memincing tajam. "Minie gak cuka!" lanjutnya lagi.
"Mmfffthhh, hahahaha." tawa Yunho seketika meledak saat mendengar nada posesif dari Changmin. Bahkan ia sampai mengeluarkan airmata. Ia heran kenapa anak sekecil Changmin bisa memiliki kadar kecemburuan begitu besar.
"Hiks, hiks, huwaaaaa."
Dan tangis Changmin pun meledak juga karena melihat Yunho malah menertawakannya. Changmin merasa sedih karna sang 'appa' malah menertawakan dirinya. Uri Changminie sungguh perasa.
Yunho menghentikan tawanya sesaat setelah mendengar Changmin menangis, kini ia malah panik karna tak tahu cara menghentikan anak-anak menangis.
"Yah, yah, uljima. Kenapa kau malah menangis. Uljima, uljima." kata Yunho sambil menggendong Changmin lalu memangkunya.
"Huwee, hiks, hiks, huwaaa."
"Uljima. Uljima. Ne, appa tak akan dekat-dekat dengan ahjumma itu ne. Sekarang Minie berhenti menangis ne. Cup cup."
"Huweee, hiks, hiks, huweee."
"Yah, kenapa malah tambah keras. Cup cup, Appa janji tak akan dekat-dekat ahjumma itu." kata Yunho karna Changmin tak kunjung berhenti menangis.
"Hiks, hiks, yak..hiks..cok?" jawab Changmin masih terisak.
"Ne, yaksok." jawab Yunho mantap sambil tersenyum pada Changmin. "Lagipula, tak ada yang bisa menandingi kecantikan eommamu." lanjut Yunho masih tersenyum.
"Ja, sekarang Minie mau apa hmm? Bagaimana kalau kita makan siang?"
"Hiks, eom..ma."
"Eomma? Minie mau makan siang bereng eomma?"
"U'um. Hiks,"
"Kalau Minie mau makan siang bareng eomma, berhenti menangis ne. Nanti eomma juga ikut sedih kalau melihat Minie menangis." kata Yunho dan menghapus lelehan airmata Changmin. "Nah, kalau begini kau tampan kan!" lanjutnya sambil tersenyum.
"Minie memang tampan!"
"Ne kau memang tampan."
"Um, Minie tampan cepelti appa." cengir Changmin menampilkan deret gigi susunya.
"Ne. Jaa, kita berangkat."
"Kajjaa, makaaaannnn."
Dan Yunhopun melajukan mobilnya menuju tempat makan tanpa lupa memindahkan Changmin dikursi sebelahnya.
::
::
YUNJAE
::
::
"EOMMMAAAA." teriakan kencang nan melengking milik seorang bocah gembul yang kini tengah berlari menuju seorang namja cantik yang terlihat sibuk dengan kertas-kertas ditangannya, sontak membuat semua orang yang ada disana menolehkan kepala ke asal suara. Tak terkecuali namja cantik yang diteriaki bocah gembul itu.
"Minie?" kaget Jaejoong heran melihat anaknya kini sudah berlari kearahnya.
"Eomma." pekik Changmin lagi saat dirinya sudah tiba disebelah Jaejoong. Langsung saja didekapnya kaki jenjang Jaejoong dengan erat.
"Minie, kenapa kau bisa disini? Siapa yang mengajakmu kemari?" tanya Jaejoong dan berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.
"Minie dateng cama appa." jawab Changmin dengan senyum diwajahnya.
"Eh? Appa?"
"Uum, appa cini." kini teriakan Changmin beralih pada sosok namja tinggi yang tengah berbicara dengan seorang namja lain di pintu masuk. Merasa ada yang memanggil, Yunhopun menghetikan pembicaraannya dan melangkah menuju tempat Changmin.
"Kajja kita jalan sekarang?" tanyanya setelah sampai dihadapan JaeMin.
"Aciikkk acikk,, kajja appa, eomma." Changmin pun dengan semangat menarik tangan Yunho dan Jaejoong sudah tak sabar untuk makan.
"Eh, eh. Chakaman. Minie, eomma masih bekerja changy. Tak bisa pergi begitu saja." kata Jaejoong berusaha memberi pengertian pada Changmin. Yah, walaupun ini memang sudah jam makan siang, namun ia terbiasa menyelesaikan terlebih dahulu segala pekerjaannya.
"Eomma gak mau makan baleng Minie?" tanya Changmin dengan mata yang mulai berair, nada ucapannya pun terdengar sedih.
"A..ani. Bukan begitu. Tapi pekerjaan eomma belum selesai."
"Gwencanha, tadi aku sudah meminta izin pada Yoseob agar kau istirahat makan siang. Jadi, setelah makan siang kau bisa lanjutkan kembali pekerjaanmu."
"Ta..tapi-"
"Apa kau tak sedih melihat Changmin? Ia sangat senang tadi saat kukatakan akan makan bersama." kata Yunho dengan cepat memotong ucapan Jaejoong.
"Eom..ma." rengek Changmin sambil menatap Jaejoong dengan puppy eyesnya.
'Astaga. Minie-ah, bukannya eomma tak mau makan denganmu changy, tapi kenapa mesti dengan, aiss'
"N..ne, ba..baiklah. Kita akan makan bersama." putus Jaejoong setelah berperang batin dengan hatinya. Ah, bukannya Jaejoong tak mau makan dengan Changmin, bahkan sudah lama ia tak makan siang bersama dengan anaknya itu, namun lebih dari itu, ia hanya sedikit merasa gugup. Bagaimana tidak gugup jika yang diajak makan adalah namja yang membuat jantungnya akhir-akhir ini tak karuan. Apalagi ditambah insiden lift tadi, membuat Jaejoong benar-benar malu bertemu dengan Yunho.
"Acikkk, eomma makan baleng kita. Kajjaaaa."
Yah, pada akhirnya Jaejoongpun mau makan bersama dengan HoMin, mengundang teriakan bahagia dari Changmin dan senyum bahagia dari Yunho.
::
::
YUNJAE
::
::
YunJaeMin kini tengah makan disalah satu restoran cepat saji yang ada di kota Seoul. Terlihat jelas kalau Changmin sangat senang, senyum selalu terpatri diwajah bulatnya. Apalagi ditambah makanan super lezat yang tersaji dihadapannya, membuat nafsu makannya meningkat.
Jaejoongpun tak kalah bahagianya, karna akhirnya ia bisa makan siang juga dengan anaknya itu. Sudah lama ia tak bisa makan siang bersama karna pekerjaan. Tak jauh beda dengan JaeMin, Yunhopun amat merasa senang, karna kali ini ia bisa makan siang bersama namja cantik dihadapannya ini. Saat sarapan mereka makan bersama, sekarang makan siangpun mereka juga makan bersama. Sungguh, kebahagiaan yang tak pernah Yunho bayangkan. Mereka sudah terlihat seperti keluarga aniya?
"Machita, eomma coba ini." terdengar suara Changmin memecah kesunyian yang sedari tadi terjadi, segera Jaejoong mendekatkan wajahnya pada Changmin lalu memakan suapan dari anaknya itu.
"Ne mashita. Jja, lanjutkan makanmu."
"Umm."
Merekapun kembali makan dalam diam, sesekali terdengar suara Jaejoong yang memarahi Changmin karna makan dengan cepat.
"Eomma, Minie mau ec klim." rengek Changmin setelah menghabiskan seluruh makanan yang ada dimejanya. Sekarang ia malah ingin makan es krim lagi.
"Mwo? Es krim? Yah Minie, kau sudah sering minum es krim, nanti kau sakit bagaimana?"
"Tapi Minie mau ec klim. Huuhh. Appa, Minie boleh minum ec klim kan?" tak putus asa, Changminpun meminta pada Yunho agar dirinya boleh minum es krim. Ditatapnya Yunho dengan puppy eyesnya.
"Ne, kau boleh minum es krim, tapi hanya sedikit arraseo?"
"Jinja appa? Acikkkk, makan ec klim. Gomawo appa, appa yang telbaik!" kata Changmin tersenyum manis kearah Yunho lalu memeletkan lidahnya saat menghadap Jaejoong sambil berseru, "Eomma jelek! Mehrong!"
"Yah, anak nakal!" kata Jaejoong pura-pura kesal. "Kenapa kau membolehkannya makan es krim? Kalau ia sakit bagaimana?" ketus Jaejoong pada Yunho. Ia sedikit sebal karna Yunho malah memberi izin Changmin makan es krim.
"Sudahlah, toh aku hanya memberinya makan es krim setengah dari porsi biasanya." kata Yunho santai dan bengkit dari duduknya. "Aku akan membayar ini dulu, kalian tunggulah diluar."
"Appa, ec klim-"
"Ne, setelah ini kita beli es krim ne. Sekarang Minie tunggu diluar dulu ne sama eomma."
"Uum."
Setelahnya, Yunhopun beranjak dari duduknya menuju kasir untuk membayar, sementara Jaejoong dan Changmin segera keluar dan menunggu Yunho didepan restoran.
"Eomma~" rengek Changmin sambil menerik tangan Jaejoong.
"Hemm? Waeyo?" tanya Jaejoong sambil berjongkok dihadapan anaknya.
"Hali ini Minie cangat cenang. Eomma mau makan belcama Minie dan appa." sahut Changmin sambil tersenyum hingga matanya menyipit.
"Ne, eomma juga senang changy."
"Jinja eomma? Eomma juga cenang?"
"Hemm. Tentu, kalau Minie senang, eomma juga pasti akan senang."
"Eomma, Minie cayang cama eomma, tapi Minie juga cayang cama Yuno appa. Minie cayang kalian beldua." lanjut Changmin sambil memeluk Jaejoong secara tiba-tiba.
"Eh?" Jaejoong hanya mengernyit heran kenapa tiba-tiba anaknya jadi bersikap begini.
"Eomma~" rengek Changmin lagi, "Apa eomma juga cayang Yuno appa?"
Deg
Pertanyaan spontan Changmin sukses membuat jantung Jaejoong berdetak kencang. Tak menyangka kalau anaknya akan bertanya hal seperti itu. Bisa dirasakan pelukan ditubuhnya semakin mengeras saat Changmin berkata demikian.
"Eomma~"
"N..ne? A..ah, eo..eomma, emm, mollayo Minie. Eomma belum mengerti perasaan eomma sendiri. Tapi yang terpenting sekarang, asal Minie bahagia, eomma pasti akan ikut bahagia, karna eomma sangat sayang pada Minie. Arraseo?"
"Uum." Changmin hanya menganggukkan kepalanya mengerti mendengar ucapan Jaejoong.
'Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaanmu, changy'
Tanpa mereka berdua sadari, Yunho sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka dan mendengar semua yang mereka bicarakan. Senyum perlahan mengembang diwajahnya saat mendengar ucapan Changmin.
'Aku juga sangat sayang padamu Minie. Aku harap, eommamu bisa membuka perlahan hatinya'
"Ekhhmm, apa ada hal yang aku lewatkan?"
Seketika Jaejoong terlonjak saat mendengar suara bass dibelakangnya, segera saja ia menoleh dan mendapati Yunho sudah berada dibelakangnya.
"Appa." teriak Changmin dan melepas pelukannya pada Jaejoong dan berlari menuju Yunho.
"Kajja kita pulang."
"Uum." Yunhopun menggandeng tangan kanan Changmin dan mengajaknya berjalan.
"Eomma~" panggil Changmin sambil meraih tangan Jaejoong dengan tangan kirinya yang bebas. "Kajja." teriaknya girang dan berjalan dengan senyum terkembang diwajahnya. Ia tak berhenti tersenyum memandang tangannya yang digenggam erat oleh Yunho dan Jaejoong.
::
::
YUNJAE
::
::
Sepuluh menit selama diperjalanan, akhirnya YunJaeMinpun sampai diapartement Jaejoong. Jaejoong menyuruh Junsu untuk menunggu Changmin dilobi, karna setelah ini ia harus bekerja kembali. Namun seperti biasa, Changmin akan melakukan banyak cara agar dirinya tak terpisah dengan appanya.
Akhirnya, setelah Yunho berjanji akan kembali menemuinya nanti setelah pulang kerja, Changminpun mau dibujuk untuk tak merengek lagi dan YunJaepun bisa berangkat ke kantor.
Disinilah mereka sekarang, di mobil Yunho dengan Jaejoong yang terus-menerus melihat keluar jendela, mengontrol detak jantungnya yang tak bisa diajak kompromi.
"Gomawo untuk hari ini." kata Yunho tiba-tiba. Dipalingkannya wajahnya sebentar untuk melihat Jaejoong. "Aku sungguh merasa senang." lanjutnya sambil tersenyum manis kearah Jaejoong.
Jaejoong hanya diam mendengar ucapan Yunho, entalah kenapa ia serasa berat untuk mengatakan sesuatu.
"Aku benar-benar merasa menjadi seorang appa jika berhadapan dengan Changmin. Keceriaannya membuatku juga ikut ceria, setiap senyumnya membuatku juga tanpa terasa ikut tersenyum. Sudah lama aku tak merasakan persaan seperti ini, rasanya begitu menyenangkan." cerita Yunho tanpa sengaja. Bahkan ia bercerita dengan senyum diwajahnya.
"..."
"Ah, kenapa aku jadi bercerita begini." lanjut Yunho salah tingkah, malu dengan perbuatannya yang bercerita mengenai perasaannya. Diliriknya Jaejoong yang tak bergeming duduk disebelahnya.
"..."
"Cheonamneyo."
"Eh?"
"Terimakasih juga karna kau mengajak kami makan siang. Aku yakin Changmin pasti sangat senang tadi. Gomawo, karna sudah membuat Changmin senang." jawab Jaejoong sambil tersenyum kecil, walau ia tak menatap Yunho.
"Cheonma. Aku juga senang jika bisa membuat ia senang." jawab Yunho sambil memandangi lama wajah Jaejoong yang tersenyum. Untung saja sekarang sedang lampu merah, jadi tindakan Yunho tak membawa kejadian buruk.
"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi itu?" tanya Jaejoong setelah cukup lama mereka terdiam.
"Tentu. Aku sangat yakin dan aku tak pernah main-main dengan ucapanku." jawab Yunho sedikit keras karna Jaejoong masih meragukan perasannya.
Mendengar nada Yunho yang sedikit meninggi, membuat Jaejoong menolehkan wajahnya menatap Yunho. "Kau sungguh-sungguh?" Yunho hanya mengangguk tanpa menjawab.
'Ne, aku tahu kau sangat serius. Terlihat dari caramu memperlakukan Changmin'
Selama sisa perjalanan, tak ada perbincangan lain yang terjadi. Yunho berkonsentrasi dengan lalu lintas, sementara Jaejoong tengah berfikir keras mengenai perasaannya.
"Kita sampai." kata Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong tersentak karna rupanya sedari tadi ia melamun dan tak memperhatikan sekitar.
"Eh?"
"Kita sudah sampai, kajja turun."
"N..ne."
Keduanyapun turun dari mobil, tanpa tahu seseorang tengah memperhatikan mereka semenjak tadi, dan perlahan orang itupun melangkah mendekat kearah YunJae.
"Yunho-ah, aku ingin bicara."
Deg
Jaejoong hanya menatap horor orang yang baru bicara dengan Yunho itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
::
::
YUNJAE
::
::
Dua orang namja tengah berdiri saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam yang seolah-olah bisa membunuh keduanya hanya dengan saling tatap begitu. Dua namja yang sama-sama tampan dan terlahir dari keluarga dan menyandang marga yang sama. Jung Siwon dan Jung Yunho. Keduanya kini berada diruangan Siwon.
Ya, tadi saat Yunho baru tiba dikantor, Siwon langsung mengajak dongsaengnya itu bicara empat mata. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya kepada Yunho, dan tentu saja semua itu berhubungan dengan namja cantik yang kini tengah duduk cemas dikursi kerjanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Yunho to the point. Ia tak ingin membuang waktu kalau hal yang ingin dibicarakan oleh hyungnya itu tak penting.
"Apa kau menyukai, ani, apa kau mencintai Jaejoong?" tanya Siwon to the point juga. Ia sadar, tak ada gunanya bicara panjang lebar pada Yunho dalam mood Yunho yang tak baik.
Yunho tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan Siwon, "Untuk apa kau mengtahui itu? Bagaimana perasaanku, untuk apa kau ingin tahu hal itu?"
"Jawab saja pertanyaanku. Apa kau mencintai Jaejoong?"
"Ck, apa untungnya jika aku menja-"
"Cukup kau jawab iya atau tidak." potong Siwon cepat sedikit kesal dengan Yunho karna tak kunjung menjawab.
"Ne, aku mencintainya. Bahkan sangat! Tak hanya dirinya, aku juga sangat mencintai Changmin. Dan aku sudah menganggap Changmin sebagai anakku sendiri, sebagaimana Changmin menganggapku sebagai appanya!"
Nyuut
Sakit rasanya hati Siwon saat mendengar langsung dari mulut Yunho kalau dirinya mencintai namja cantik yang kini masih berstatus sebagai kekasihnya. Perasaannya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku sungguh merasa bahagia berada diantara keluarga mereka. Keluarga mereka sangat hangat. Perasaan bahagia ini, perasaan yang tak pernah kudapatkan dari keluargaku sendiri. Kau tahu, aku sungguh merasa sangat bahagia, dan aku tak akan membiarkan perasaan bahagiaku ini menghilang lagi. Aku akan mempertahankannya, bagaimanapun caranya."
Siwon hanya diam mendengar semua ucapan Yunho. Dirinya membenarkan ucapan Yunho barusan. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Yunho yang selalu mendapat perlakuan tak adil dikeluarganya sendiri. Dan sekarang, ia bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari keluarga Jaejoong, jadi apa ia tega untuk memutuskan kebahagiaan Yunho itu? Walau bagaimanapun, ia dan Yunho adalah saudara. Ia begitu menyayangi dongsaengnya itu.
"Apa kau puas dengan jawabanku, hyung?"
Siwon seketika mengangkat wajahnya saat mendengar Yunho memanggilnya dengan hyung, hal yang sangat jarang dilakukan Yunho.
"Ne, aku sangat puas dengan jawabanmu. Dan aku juga bisa melihat bagaimana perasaanmu yang begitu tulus pada Changmin."
"..."
"Maafkan aku, selama ini aku tak pernah memahami apa yang kau rasakan. Selama ini aku hanya diam melihatmu diperlakukan tak adil oleh eomma dan appa. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Sekarang aku bisa mengerti bagaimana perasanmu dulu, dan itu sungguh menyesakkan."
"..."
"Aku senang akhirnya kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Walaupun itu bukan dariku, terlebih lagi bukan dari eomma dan appa, kuharap kau akan bahagia selamanya."
Yunho mengernyitkan dahinya kebingungan mencerna maksud hyungnya itu, belum sepenuhnya memahami apa yang diinginkan Siwon.
"Jagalah kebahagiaanmu itu, perjuangkan hingga iapun merasakan hal yang sama."
"Apa maksudmu?" tanya Yunho akhirnya, ia benar-benar tak mengerti maksud dari Siwon itu.
"Jaejoong dan Changmin, berbahagialah dengan mereka. Buat ia bisa menerimamu sepenuhnya, buat ia merasakan kebahagiaan yang sedang kau rasakan. Bahagiakan dia, karna sampai saat ini, aku belum bisa membuatnya bahagia."
"Ja..jadi ma..maksudmu?"
"Ne. Aku akan merelakan, ani, aku akan menyerahkan Jaejoong untukmu. Anggaplah ini permintaan maafku karna sejak dulu aku tak pernah mengerti perasaanmu. Maafkan aku tak bisa berbuat banyak karna sikap eomma dan appa dulu."
"Kau yakin?" tanya Yunho sedikit tak percaya.
"Apa kau ingin aku menarik kembali ucapanku?" tantang Siwon balik dan seketika membuat Yunho mendelik sebal.
"Kau sudah memberikannya padaku, kau tak boleh menarik kembali kata-katamu itu, hyung!"
"Ck, kau ini."
"..."
"Berbahagialah! Aku sudah mengorbankan perasaanku, kuharap kau tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku, begitu mencintai Jaejoong, namun aku sadar aku tak bisa membuatnya bahagia. Tapi denganmu, aku melihat sinar bahagia itu darinya. Aku memang sakit hati sekarang, tapi yang paling penting sekarang adalah, aku ingin melihat orang yang aku cintai bahagia. Itu, sudah cukup bagiku."
"..."
"Kita sudah tak muda lagi Yunho-ah, dan aku yakin aku bisa mengatasi perasaanku ini nantinya. Aku tak mau egois dengan mempertahankan hubungan ini."
"..."
"Aku tak akan mengatakan ini dua kali." jeda sejenak, "Berbahagialah dengan Jaejoong dan juga Changmin." Siwon tersenyum saat mengucapkan itu, walaupun menahan pedih dihatinya, namun ia cukup senang karna bisa membuat dua orang yang disayanginya itu bahagia.
"Aku tak akan menyia-nyiakannya. Kau bisa pegang kata-kataku."
"Ne, aku percaya."
"..."
"Hyung-" panggil Yunho dan mencoba tersenyum pada Siwon. "Mianhae dan gomawo."
Siwon hanya tersenyum mendengar ucapan Yunho, walaupun Yunho hanya mengatakan dua hal itu, namun ia sangat mengerti maksud dari ucapan dongsaengnya itu. Perlahan senyum mengembang diwajahnya, walaupun masih merasakan sakit, namun ia yakin kalau hal ini adalah benar untuk dilakukannya.
'Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Yunho-ah, semoga kau bahagia'
::
::
YUNJAE
::
::
Jaejoong sedari tadi duduk gelisah dimeja kerjanya, matanya tak henti-hentinya melirik ruangan Siwon. Tempat dimana beberapa menit yang lalu dimasuki Yunho dan Siwon. Jaejoong menerka-nerka apa yang ingin dikatakan Siwon pada Yunho, ia sungguh sangat penasaran dengan hal itu.
"Jaejoong-ah, waeyo? Kau terlihat sangat panik?" tanya Hyunseung yang heran melihat sikap Jaejoong.
"Anio. Gwencanhayo." jawab Jaejoong mencoba tersenyum dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Ceklekk
Suara pintu terbuka membuat Jaejoong segera menolehkan wajahnya kearah ruang kerja Siwon. Dan seketika matanya membulat saat melihat Yunho keluar dengan senyum cerah menghiasi wajah tampannya, tak sadar Jaejoong malah terus menatap Yunho.
Deg
Jantung Jaejoong berpacu cepat saat Yunho balik menatapnya dan tersenyum manis kepadanya. Bisa dilihat kini Yunho beranjak dari tempatnya dan berjalan pelan keluar ruangan, tanpa lupa sebelumnya melempar senyumnya kepada Jaejoong.
"Ada apa dengannya? Kenapa Yunho sajangnim bertingkah aneh seperti itu?" kata Hyunseung merasa heran dengan sikap atasnnya itu.
"Jaejoong? Hei Jaejoong?"
"Eh, nde?"
"Kau melamun?"
"A..ani."
"Ya sudah, ayo kembali bekerja."
"N..ne."
Jaejoongpun kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun pikirannya masih bergentayangan mengenai apa yang dibicarakan Siwon dan Yunho.
.
.
Siang berganti senja, menyisakan semburat jingga dilangit sore. Jam sudah menunjukkan waktunya pulang kerja, semua pegawai Jung Corp pun bersiap meninggalkan rutinitas mereka dan pulang kerumah masing-masing. Tak terkecuali dengan Jaejoong.
Kini dirinya tengah merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang karena semua teman-temannya juga sudah pulang, sebelum suara seseorang menginterupsi kegiatannya.
"Jaejoong-ah."
Jaejoong segera menolehkan wajahnya keasal suara, lalu tersenyum saat matanya bertemu dengan mata tegas milik Siwon.
"Hyung-" jawab Jaejoong dan mulai berbalik menatap Siwon.
"Apa kau sudah mau pulang?" tanya Siwon dan mulai mendekat kearah Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk sebagai jawaban, masih merasa sedikit canggung.
"Kajja aku antar."
"N..ne."
Disinilah mereka sekarang, didalam mobil CRV Siwon, keduanya masih diam sibuk dengan pikiran msing-masing. Banyak hal yang ingin keduanya ungkapkan, namun mereka sama-sama bingung harus memulainya dari mana.
Jaejoong lebih banyak melihat keluar kaca mobil sambil memikirkan bagaimana caranya mengutarakan maksudnya. Sementara Siwon berkonstrasi dengan jalannya, walau tak dipungkiri hatinya sedikit sesak jika memikirkan hal-hal yang akan dikatakannya pada namja cantik disebelahnya ini.
"Emm, Hyung, ada hal yang ingin aku katakan padamu. Bisakah kita bicara sebentar?"
"Ne." jawab Siwon singkat, ia sungguh tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Jaejoong.
'Mungkin memang ini saatnya Jae-ah, aku harus siap'
Siwon menghentikan mobilnya disebuah taman tak jauh dari tempat tinggal Jaejoong. Setelah menyuruh Jaejoong turun, Siwonpun menyusul dan mengajak Jaejoong duduk disalah satu bangku yang ada disana.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Siwon saat mereka sudah duduk.
Jaejoong menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah pada Siwon, namun ia harus mengatakannya sekarang. Ia tak mau lebih lanjut menyakiti Siwon.
"Hyung-" cicit Jaejoong berusaha berbicara pada Siwon. "Mianhae. Maafkan aku kalau sikapku akan menyakitimu hyung. A..aku ingin kita-"
"Sarangaheyo."
"Eh?"
"Kau tahu Jae-ah, aku benar-benar mencintaimu. Kau adalah segalanya bagiku. Kau memberiku banyak hal, membuatku merasakan apa itu kebahagiaan. Aku sangat bahagia saat bersamamu."
"..."
"Mianhae selama ini aku tak bisa membuatmu merasa bahagia, aku tak bisa membuatmu tersenyum setiap harinya. Mianhae, aku terlalu egois terhadap perasaanku sendiri dan tak pernah melihat dari sisimu. Mianhae, jeongmal mianhae."
"Hyung, kau tak salah apapun, justru aku yang harus minta maaf. Aku tak bisa membuatmu bahagia dengan kekuranganku."
"Jae-ah, jeongmal saranghaeyo. Aku menginginkan yang terbaik untukmu, dan aku juga menginkan kau meraih kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu kau akan bahagia, namun itu semua bukan denganku. Aku, akan melepaskanmu untuk meraih kebahagiaanmu itu Jaejoong-ah."
Deg
Jaejoong sangat terkejut dengan perkataan Siwon. Dirinya sungguh tak menyangka kalau Siwon akan berbicara seperti ini. Ditatapnya mata Siwon yang memancarka kesedihan yangbamat dalam.
"Hyung-"
"Gwencanha Jaejoong-ah, aku sungguh-sungguh dengan semua ini. Aku ingin kau mencari kebahagiaanmu, bersama Changmin. Aku ingin kalian mendapatkan kebahagiaan sendiri."
"..."
"Aku sudah merelakanmu Jaejoong-ah, aku sungguh merelakanmu. Berbahagialah."
"Hyung, hiks, a..aku-"
"Ssstthh. Gwencanha, aku baik-baik saja Jaejoong-ah."
"Ka..kau orang yang baik hyung, a..aku tak pantas mendapat cintamu itu. A..aku yakin, nanti kau akan mendapat orang yang lebih mengerti dirimu hyung. Mi..mianhae."
"Ne, arraseo."
"Mianhae dan gomawo hyung."
'Bahkan ucapan kalianpun sama, kalian memang ditakdirkan bersama'
"Jaejoong-ah, untuk terakhir kali, bolehkah aku memelukmu? Memelukmu sebagai sahabat?"
Jaejoong hanya mengangguk cepat lalu dengan cepat pula ia memeluk Siwon. "Gomawo Jae."
'Aku begitu mencintaimu Jaejoong-ah, aku melepaskanmu karna aku mencintaimu. Aku ingin kau berbahagia'
Siwon terus mendekap erat tubuh ramping Jaejoong, memeluk namja cantik yang sudah mencuri hatinya itu untuk yang terakhir kalinya.
Merelakan orang yang kau cintai, memanglah tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu hati yang kuat dan keyakinan diri untuk bisa melakukannya. Melepas orang yang kau cintai untuk meraih kebahagiaannya sendiri, itulah arti cinta yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Kore de owarimasu
(END) ?
.
.
.
.
.
.
or
TBC ?
Konnichi wa minna san.. Ogenki desuka? Hehe
Saya datang kembali membawa chap 4.. Adakah yang menunggu kelanjutan FF ini? Hohoho
Huwahh, akhirnya saya membuat Wonjae pisah,, saya kejamkah kepada Siwon karna memisahkannya dengan orang yang begitu dicintainya? Mianhae ne Siwon-ssi,, saya terlalu cinta dengan YunJae jadi saya menistakan dirimu disini..
Bagaimana moment YunJaenya? Apakah kalian suka?
Terimakasih banyak bagi kalian yang sudah baca, review, follow n favorit FF ini.. Special thank's buat :
YunHolic , park yooki , Merry Jung , SimviR , tukangbaca , Guest , haruka-chan , Edelweis , bumkeyk , Guest , Himawari Ezuki , iru iru g , kim neul neul , Ny Cho evil , VoldeMin vs KYUtie , yoon HyunWoon , diya1013 , Anik0405 , yzj84 , 9194 YJS , akiramia , Gyujiji , Zen Ikkika , okoyunjae , Lady Ze , riska012 , Jeje Kim , PhantoMiRotiC , anf , dhian9307ELF , magnaeris , zhe , vampireyunjae , cottoncandyme , jung neul neul , Junghyejung , BLUEFIRE0805 , teukiangle , Rara , Hana-Kara , pumkinsparkyumin , nickeYJcassie , uknowsay , Minhyunni1318 , Dennis Park , gdtop , cinderella cindy , Zheyra Sky , ReadsXiah , farla 23 , siimalind , SiDer tobat
Doumo arigatou sudah memberikan review di chap sebelumnya. Saya harap kalian tinggalkan jejak lagi nde di chap ini, supaya saya tahu bagaimana kesan kalian dengan chap ini.. ^^
Tak lupa juga Big Thank's buat kalian silent readers yang sudah nyempetin baca walaupun tanpa meninggalkan jejak di FF ini. Tapi kalau bisa marilah tuangkan satu dua patah kata untuk chap ini supaya saya bisa mengenal kalian ^^
Akhir kata, Gomawo dan silahkan menikmati chap ini. Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian ne ^^
Review onegaishimasu ^^
