Can i get new Appa, Eomma?

.

Cast : Jung Yunho (30 tahun)

Kim Jaejoong (27 tahun)

Kim (Shim) Changmin (3 tahun)

Other cast : Jung (Choi) Siwon (33 tahun)

Park Yoochun (26 tahun)

Kim Junsu (25 tahun)

Son Dongwoon (24 tahun)

Pairing : Yunjae, Yoosu

Genre : YAOI/Shonen-ai/Family/Humor/MPreg

Chapter : 5 (Lima)

Warning : cerita pasaran dan tidak jelas, judul tak nyambung dengan cerita, alur sesuai mood saya, typo(s)bertebaran, bahasa tidak baku dan tak sesuai dengan EYD.

.

.

Jja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

::

::

YUNJAE

::

::

"Jae-ah, jeongmal saranghaeyo. Aku menginginkan yang terbaik untukmu, dan aku juga menginkan kau meraih kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu kau akan bahagia, namun itu semua bukan denganku. Aku, akan melepaskanmu untuk meraih kebahagiaanmu itu Jaejoong-ah."

Deg

Jaejoong sangat terkejut dengan perkataan Siwon. Dirinya sungguh tak menyangka kalau Siwon akan berbicara seperti ini. Ditatapnya mata Siwon yang memancarka kesedihan yangbamat dalam.

"Hyung-"

"Gwencanha Jaejoong-ah, aku sungguh-sungguh dengan semua ini. Aku ingin kau mencari kebahagiaanmu, bersama Changmin. Aku ingin kalian mendapatkan kebahagiaan sendiri."

"..."

"Aku sudah merelakanmu Jaejoong-ah, aku sungguh merelakanmu. Berbahagialah."

"Hyung, hiks, a..aku-"

"Ssstthh. Gwencanha, aku baik-baik saja Jaejoong-ah."

"Ka..kau orang yang baik hyung, a..aku tak pantas mendapat cintamu itu. A..aku yakin, nanti kau akan mendapat orang yang lebih mengerti dirimu hyung. Mi..mianhae."

"Ne, arraseo."

"Mianhae dan gomawo hyung."

'Bahkan ucapan kalianpun sama, kalian memang ditakdirkan bersama'

"Jaejoong-ah, untuk terakhir kali, bolehkah aku memelukmu? Memelukmu sebagai sahabat?"

Jaejoong hanya mengangguk cepat lalu dengan cepat pula ia memeluk Siwon. "Gomawo Jae."

'Aku begitu mencintaimu Jaejoong-ah, aku melepaskanmu karna aku mencintaimu. Aku ingin kau berbahagia'

Siwon terus mendekap erat tubuh ramping Jaejoong, memeluk namja cantik yang sudah mencuri hatinya itu untuk yang terakhir kalinya.

.

.

Jung Yunho, namja dengan tatapan mata setajam elang kini tengah sibuk memasukkan beberapa macam makanan ringan kedalam troli yang didorongnya disalah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul. Senyum selalu menghiasi wajah tampan namja penyandang marga Jung ini. Kelihatannya dirinya tengah diliputi suasana hati yang sangat baik.

Kini ia tengah berjalan dideretan makanan ringan. Bisa dilihat berbagai macam makanan ringan berjejer rapi didalam rak. Perlahan namun pasti, dilangkahkannya kakinya menyisir rak demi rak lalu saat matanya menemukan makanan yang diinginkannya segera saja ia mengambil makanan itu dan memasukkannya kedalam troli.

"Kurasa Minie menyukai ini." gumamnya saat melihat sekotak besar kripik kentang dengan rasa barbeque dirak.

"Kalau ini, Junsu pasti menyukainya." pekiknya lagi saat matanya tak sengaja menemukan sebungkus biskuit dengan gambar bebek yang menjadi cover(?)nya.

Setelah dirasanya cukup-trolinyapun kini sudah penuh dengan berbagai macam maknanan-Yunhopun menyudahi acara belanjanya dan berjalan menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Dan sekarang disinilah ia didalam mobil Audynya dalam perjalanan menuju apartement namja pujaan hatinya.

Duapuluh menit melakukan perjalanan, kini Yunhopun sampai di kawasan apartement Bolero. Segera saja ia turun dari mobil sambil mengeluarkan semua belanjaan yang tadi dibelinya.

Ting

Pintu lift terbuka mengantarkan Yunho kelantai 5 tempat kamar Jaejoong berada. Tanpa pikir panjang dilangkahkannya kakinya menuju kamar no 507 dan setelah sampai, iapun memencet bel pintu.

Ting tong

Sementara didalam apartemen, Junsu dan Changmin tengah sibuk bermain game. Keduanya sangat asik bermain hingga tak mendengar suara bel pintu.

"Yak awas kau, minggir minggir. Biarkan aku lewat bocah."

"Chiluh. Jumma caja cana yang minggil. Bial Minie duluan."

"Yah, kenapa kau menabrakku bocah. Aiss."

"Haha, jumma pabo."

Ting tong

"Minggir, akhh, sedikit lagi, sedikit lagi."

"Jummaaaaa, mingggiiillll!"

"Yak, bocah awass."

"Chiluh."

Ting tong

"Minggir bocah!"

"Jumma culang! Jangan tablak mobil Minie dong!"

"Haha, rasakan itu bocah! Siapa suruh melawanku."

"Jumma jahat, ini lacakan!"

Ting tong

"Yak, apa yang kau lakukan! Cepat minggir."

"Chiluh. Minie cudah mau campe. Hole holeee."

"Yakkkkk!"

"Acikkk, Minie menang Minie menang."

"Cih, lagi-lagi aku kalah darimu bocah!"

"Hihi, Jumma pabo, bica kalah dali Minie. Weee-"

"Yak, kau bo-"

Ting tong

"Eh, ada yang memencet bel?" gumam Junsu saat telinganya mendengar suara bel.

Ting tong

"Ah, benar ada yang memencet bel. Chakaman, aku akan membuka pintu dulu ne."

"Jumma, ikut."

"Aiss, kajja." SuMin pun bergegas kedepan untuk membukakan pintu, karna nampaknya orang yang memencet bel itu sudah tak sabar. Terbukti karna sekarang orang itu memencet bel dengan brutal, hingga menyebabkan kebisingan.

Ting tong ting tong ting tong

"Iya sebentar, aiss, tak sabaran sekali." gerutu Junsu merasa kesal juga karna orang itu memencet bel dengan brutal.

Cekleekk

"Nuguse-, Yunho hyung?" Junsupun berteriak kaget saat ia membuka pintu, ia menemukan Yunho dengan wajah yang ditekuk dan memancarkan aura kesal yang kentara. Oh, tak tahu saja Junsu kalau Yunho merasa kesal karna dirinya sudah sangat lama menunggu diluar.

"APPA." kini teriakan Changminpun terdengar saat mata bulatnya melihat penampakan Yunho dari celah pintu. Segera saja ia menghambur keluar dan mendekap erat kaki Yunho. "Appa balu pulang?" tanyanya sambil tersenyum dan mendongak menatap Yunho.

"Ne, dan ini, appa bawakan oleh-oleh." jawab Yunho sambil tersenyum dan menggangkat kedua tangannya menunjukkan oleh-olehnya itu. Nampaknya ia sudah lupa akan kekesalannya tadi setelah melihat wajah bahagia Changmin. Tanpa ragu, digendongnya Changmin dengan sebelah tangannya yang bebas, setelah sebelumnya menyerahkan satu kantung belanjaan pada Junsu.

"Hari ini, appa sudah membeli banyak makanan. Appa membelikannya khusus untukmu."

"Jinja appa? Yeeyy, appa yang telbaik."

"Kajja hyung, masuklah."

Tanpa membuang waktu, Yunhopun masuk kedalam tanpa pernah melepaskan senyum diwajahnya.

::

::

YUNJAE

::

::

Ruang tamu apartement Jaejoong yang biasanya tertata rapi dan terawat dengan baik, kini tak ubahnya seperti kapal pecah yang baru saja terkena terjangan angin puting beliung. Lihat saja bantal-bantal yang berceceran dimana-mana, sofa yang sudah berpindah tempat dari tempatnya semula, dan jangan lupakan kertas-kertas dan bungkus-bungkus makanan yang berserakan disekitar karpet. Oh, sungguh pemandangan yang amat sangat membuat sakit mata.

Sementara kini, bisa kita lihat para tersangka pembuat onar itu masih setia membuat kotor ruangan itu. Terbukti dengan tiga namja beda usia itu kini masih makan dengan tenang sambil sesekali melempar makanan itu dan menciptakan perang. Oh, tak tahu saja mereka apa yang akan mereka alami jika sang pemilik rumah datang nantinya.

"Haha, lacakan ini, lacakan! Jumma pabo!"

"Yak, awas kau Changminie! Aku tak akan kalah darimu, hiaaa, rasakan ini."

Bruukk

"Nggak kena, nggak kena. Wee-"

"Yak, awas kau bocah! Ah, hyung! Awas, kau menghalangiku!"

"Kajja Minie, lari, appa akan menghalangi Junsu jussi. Kajja lari."

"Hahaha, appa, appa. Tolong Minie-, kyaaa, Cu-ie jumma monctel ngamuk. Waaa-"

"Kemari kau, rasakan ini!"

Plukkk

"Hahaha, rasakan itu pembalasanku bocah! Bagaimana rasanya? Enak bukan?"

"Huwaaa, appa~. Baju Minie kotol. Huwaaa, jumma nappeun!"

"Yah, Junsuie, kau membuat uri Minie menangis, yaaa. Rasakan ini, pembalasan dariku, hiaaa-"

Dan begitulah kerusuhan yang terjadi didalam apartement Jaejoong. HoMinSu dengan asiknya bermain perang-perangan yang menyebabkan ruang tamu dalam apartement itu sangat berantakan. Salahkan saja tuan Jung itu karna saking bahagianya sampai-sampai ia mengungkapkan kebahagiaannya itu dengan cara aneh bin ajaib seperti bermain perang-perangan.

Ting tong

"Chakaman. Sepertinya ada yang memencet bel." kata Yunho mengintrupsi kegiatan mereka saat mendengar ada orang yang memencet bel.

"Ah, hyung jangan mengalihkan situasi." jawab Junsu sambil bersiap melempar bantal kearah Yunho. Dan-

Plukk

Bantal itu mendarat dengan mulus diwajah Yunho.

"Haha, rasakan itu hyung!"

"Yah, awas ka-"

Ting tong

"Eh? Rupanya memang ada yang memencet bel. Chakaman, biar aku yang membukanya." kata Junsu dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Sementara Yunho dan Changmin kembali asik menyantap makanan ringan yang bertebaran disekelilingnya tanpa tahu apa yang akan terjadi pada nasib mereka.

Ting tong

"Ne, chakamaneyo!"

Ceklleekkk

"Kenapa lama sekali membukanya Junsuie! Kau sedang apa eoh?" gerutu Jaejoong sambil melangkahkan kakinya yang sudah pegal menunggu sedari tadi dan dengan wajah ditekuk kesal.

"Eh? Jae hyung? Kau baru pulang?" tanya Junsu lalu mengikuti langkah Jaejoong masuk ke dalam. "Hehe, tadi aku sedang bermain bersa-"

"IGE MWOYA!"

Teriakan nan menggelegar dari Jaejoong dengan cepat memotong ucapan Junsu, ketika dirinya menginjakkan kaki diruang tamu dan betapa kagetnya dirinya melihat keadaan ruang tamunya yang sangat kacau.

"APA-APAAN INI!" teriaknya lagi dengan aura hitam menguar dalam sekejap dari tubuhnya. Bisa dilihat kini mata bulatnya menatap horor sekeliling ruang tamunya sampai matanya berhenti tepat didua obyek yang tengah duduk diatas sofa yang juga tengah memandang dirinya.

"Eom..ma-" panggil Changmin takut-takut saat melihat sang eomma nampaknya sedang dalam mood yang kurang bersahabat.

"Jae, ka..kau baru pulang?" kata Yunho dengan suara sedikit bergetar dan bergidik ngeri saat pandangan matanya bertemu dengan mata Jaejoong yang melotot tajam.

"..."

"Ah Hyung, ka..kami tadi sedang bermain. Errr-"

"Aku tak mau mendengar penjelasan apapun! Kalian bertiga-" tunjuk Jaejoong pada HoMinSu, "Cepat bereskan kekacauan yang kalian buat atau kalian tak akan mendapatkan jatah makan malam!"

Dan tanpa menunggu lama lagi, HoMinsu pun dengan kalang kabut berpencar membereskan semua kekacauan yang mereka lakukan, sementara Jaejoong hanya menatap ketiganya dengan mata bulatnya melotot tajam, saat ada diantara tiga namja itu yang tak melakukan pekerjaannya. Oh, sungguh malang nasib kalian HoMinSu.

::

::

YUNJAE

::

::

Sementara menunggu HoMinSu menyelesaikan acara beres-beresnya, Jaejoongpun melangkahkan kakinya menuju dapur guna membuat makan malam. Yah, walaupun masih kesal dengan kelakuan HoMinSu itu, namun Jaejoong tetaplah Jaejoong. Ia tak akan tega membiarkan orang-orang yang disayanginya itu kelaparan nantinya. Termasuk namja dengan mata musangnya yang kini tengah sibuk dengan sapu dan kemoceng ditangannya.

"Hihi, kalau ia memakai celemek dan memegang kemoceng seperti itu, orang-orang tak akan menyangka kalau ia seorang manager diperusahaan besar Jung Corp." gumam Jaejoong terkikik geli saat melihat penampilan Yunho.

"Yak, Changminie! Jangan diam saja! Cepat bantu kami membersihkan ini. Kekacauan ini kau juga ikut andil kan!" teriak Junsu kesal melihat Changmin malah duduk santai sementara dirinya dan Yunho harus menguras tenaga membersihkan kekacauan itu.

"Minie cape jumma. Huh!"

"Yah, kau kira kau saja yang lelah? Aku juga lelah! Kalau kau terus diam tanpa membantu, akan kupastikan jatah makan malammu aku yang habiskan!"

Mendengar Junsu menyebut makan malam, langsung saja radar Changmin berfungsi dan dengan cepat memprotes ucapan Junsu.

"Andwae! Jumma jangan lakuc!"

"Makanya kau juga bantu kami! Sana, ambilkan tempat sampah itu."

"Huh, jumma celewet!"

Dengan berat hati, akhirnya Changmin melangkahkan kakinya mengambil tempat sampah yang ada dipojok belakang, namun saat melewati dapur, tak sengaja dirinya mendengar gerutuan sang eomma.

"Mwoya! Kenapa bahan makanan habis semuanya?"

Dan detik berikutnya Changmin pun sudah berteriak dengan kencang. "ANDWAEEE!"

"Aigoo, Minie-ah, kau mengagetkan eomma!" Jaejoong tersentak kaget mendengar teriakan dari Changmin, hampir saja ia kehilangan kendali dan tersungkur saking kagetnya.

"Apa malam ini kita tak makan eomma? Hiks, Minie kan lapal." kata Changmin sambil menahan airmata yang siap tumpah dari mata bulatnya.

"Mwo? Apa maksudmu changy?" tanya Jaejoong tak mengerti dengan perkataan Changmin.

"Tadi eomma bilang nggak ada makanan, itu altinya kita nggak makan eomma? Huwee,"

"Aigoo, jadi kau mendengar perkataan eomma tadi eoh?" Changmin hanya mengangguk sebagai jawaban, "Kau ini, apa kau hanya memikirkan makanan eoh? Tugas yang eomma berikan apa sudah selesai dikerjakan?"

"Belum, hiks."

"Waeyo?" tiba-tiba saja entah datang darimana, kini Yunho sudah berada disebelah Changmin. Rupanya tadi ia mendengar teriakan Changmin dan karna khawatir iapun menyusul Changmin.

"Huwaa, appa. Minie nggak bica makan, kata eomma makanannya habic. Huwaa, appa. Minie mau makan. Huweeee."

"Mwo? Kau berteriak hanya gara-gara itu?" tanya Yunho yang heran mendengar jawaban Changmin itu. Changmin hanya mengangguk dengan tangis yang semakin kencang.

"Yah, uljima. Kalau kita tak bisa makan dirumah, bukankah kita bisa pesan atau sekalian kita makan diluar hmm?" lanjut Yunho sambil tersenyum dan memandang Changmin.

Seketika tangis Changmin mereda saat mendengar perkataan Yunho itu. "Jinja appa?"

"Ne."

Changmin rupanya tak bisa berfikir jernih hanya karna mendengar tak ada bahan makanan dirumahnya. Padahal kalau ia bisa berfikir dengan baik, bukankah ini kesempatan untuk makan makanan enak? Jika sang 'appa' ingin mengajaknya makan diluar.

"Ne, Minie-ah. Kau ini, baru mendengar tak ada bahan makanan saja kau sudah histeris." kini Jaejoong ikut ambil bagian dalam perbincangan itu, terlihat ia tertawa pelan dengan tingkah Changmin itu.

"Baiklah, kajja kita lanjutkan pekerjaan yang tadi. Supaya kita bisa cepat makan malam! Kajja!"

"Uum, kaja appa!"

Pasangan HoMin pun lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka, bahkan Changminpun terlihat sangat bersemangat dari yang sebelumnya. Karna sekarang diotaknya sudah tersusun rapih makanan apa saja yang ingin dimakannya untuk makan malam nanti.

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah menyelesaikan kekacauan yang mereka buat tadi, sekarang Yunho, Changmin dan juga Junsu tengah duduk disofa karna kelelahan. Bisa dilihat kini ruang tamu yang tadinya berantakan bak kapal pecah, sekarang sudah lebih teratur. Tak ada lagi sampah berceceran dan semua sudah berada ditempatnya masing-masing.

Jaejoong yang melihat gurat kelelahan diwajah ketiganya, mau tak mau menyunggingkan senyum diwajah putihnya. Ia sedikit merasa geli saat melihat wajah kelelahan dari HoMinSu itu. Namun Jaejoong juga tak setega itu, setelah tadi memastikan semua pekerjaan sudah selesai dikerjakan ketiganya, iapun membuatkan jus jeruk untuk menghilangkan rasa lelah dari HoMinSu.

"Bagaimana rasanya? Melelahkan bukan?" kata Jaejoong sambil berjalan pelan membawa sebuah baki berisi jus jeruk untuk HoMinSu.

"Kau bisa lihat sendiri hyung, aku sungguh lelah. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku jadi kurus kering sepertimu hyung."

Pletak

"Akh, itu sakit hyung!"

"Rasakan! Siapa suruh mengataiku."

"Eomma, Minie cape-"

"Kau sudah tahu kan rasanya? Lain kali jangan membuat kekacauan seperti itu lagi, arra?"

"Ne eomma."

"Ah, itu jus jeruk buat kami? Kyaa, baiknya. Hyung memang yang terbaik." Junsu langsung memotong perbincangan JaeMin karna melihat jus jeruk yang sangat menggoda imannya. Segera saja ia menyambar satu gelas lalu pergi. Entah apa yang ingin dilakukannya.

"Ne, kalian sudah bekerja keras. Setidaknya ruang tamu ini sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab Jaejoong sambil tersenyum memandang semuanya.

Deg

Mata Jaejoong terpaku saat melihat Yunho yang juga tengah memandangnya. Dengan sedikit kikuk, ia memaksakan senyum lalu menyerahkan segelas jus jeruk itu pada Yunho.

"Mi..minumlah, aku yakin kau sangat kehausan." kata Jaejoong berusaha bersikap wajar.

Yunho mengambil jus itu lalu meneguknya habis tanpa lupa mengucapkan terimakasih terlebih dulu. "Gomawo."

"Eomma, juc buat Minie mana?"

"Eoh? Ah ne, mian eomma lupa. Ini, jus jeruk untuk anak eomma yang sudah mau bersih-bersih rumah. Yaaa, kajja mana tanganmu?" teriak Jaejoong sambil tersenyum ceria dan mengarahkan gelas jus itu kepada Changmin. Changmin terkikik geli mendengar suara Jaejoong, lalu dengan cepat tangannya menggapai gelas itu dan langsung meminumnya sampai tandas.

"Machita!" pekiknya girang lalu mengusap bibirnya menghilangkan jejak jus yang masih tertinggal.

"Nah, setelah ini Minie mandi ne. Lihat ini sudah sore."

"Uum, Minie mau mandi sama appa ne. Ne appa, Minie mandi cama appa ne." tanya Changmin sambil memasang puppy eyesnya kepada Yunho. Yunho hanya msngangguk sambil balas tersenyum pada Changmin.

"Ne, kajja kita mandi. Setelah mandi kita berangkat makan malam diluar."

"Holee, kajja appa."

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah tadi makan malam di Cojjee resto-salah satu restoran ternama di Seoul-sekarang kita bisa lihat keluarga bahagia YunJaeMin tengah berada di supermarket yang berada tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi itu.

Bisa dilihat kini Yunho tengah mendorong troli dengan berbagai macam bahan makanan dengan Changmin yang duduk santai didepan dan Jaejoong yang sibuk memilih bahan makanan. Ahh, mereka sungguh nampak seperti keluarga yang bahagia aniya?

"Apa lagi yang kurang Joongie?" tanya Yunho yang mulai membiasakan dirinya memanggil Jaejoong dengan Joongie, panggilan kesayangan darinya.

"Emm, aku membutuhkan beberapa kentang dan bawang bombay. Kajja kita kesebelah sana." jawab Jaejoong dan menunjuk satu arah lalu berjalan mendahului Yunho yang sedikit kesusahan mendorong troli karna beban yang terlalu banyak.

"Appa kajja ngebut, liat eomma cudah jauh di depan!" kesal Changmin dan mempoutkan bibirnya kesal.

"Ne, baiklah. Pegangan, appa akan sedikit negebut."

"Aaaaa, aciikkkk." teriak Changmin saat merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya karna sang 'appa' mendorong troli itu dengan cukup kencang. Namun-

Brukkk

"Ouchh!"

Saking asiknya mendorong troli, sampai-sampai Yunho tak melihat kalau ada seorang yeoja yang tengah berjalan pelan dihadapannya. Dan karna tak menyadari hal itu, alhasil Yunhopun menabrak yeoja itu dan menyebabkan sang yeoja jatuh tersungkur.

"OMO!" kaget Yunho yang menatap horor kejadian dihadapannya. Tanpa pikir panjang segera Yunho menghentikan trolinya dan bergegas menolong yeoja malang itu.

"Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tak sengaja." sesal Yunho dan membantu yeoja itu untuk berdiri.

"Kau ini, apa kau tak punya ma-" teriakan yeoja itu seketika berhenti saat mendongak dan mendapatkan sepasang mata musang namja tampan yang menabraknya itu berada sangat dekat dengannya. Mata yeoja itu langsung membulat sempurna saat menyadari siapa yang tengah membantunya berdiri.

"Yunho-ssi!" teriak lantang yeoja itu dan seketika senyum mengembang diwajahnya.

"Eh?" Yunho hanya mengernyit heran karna yeoja dihadapannya ini tahu namanya, padahal seingatnya dirinya tak mengenal yeoja itu.

"Yunho-ssi, apa kabarmu? Kyaa, senangnya kita bisa bertemu disini lagi." lanjut sang yeoja masih dengan senyum cerah diwajahnya. Tak menyadari aura gelap yang dipancarkan seseorang yang melihat adegan itu tak jauh dari keduanya.

"Emm, mian. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Yunho sopan karna tak enak, mungkin saja mereka pernah bertemu namun Yunho tak mengingatnya.

"Kau melupakanku Yunho-ssi? Jahat sekali. Aku Hyuna, Kim Hyuna. Kita pernah bertemu diplaygrup tempat anak kita sekolah." jawab yeoja itu-yang ternyata Hyuna-berusaha mengingatkan Yunho akan pertemuan mereka dulu.

"Eoh jinja?" kernyit Yunho masih tak mengingat dengan jelas yeoja dihadapannya.

"Ne. Apa kau tak mengingatnya?" tanya Hyuna lagi dan sekarang bahkan sudah bergelayut dilengan Yunho, membuat seseorang menatap mereka berdua kesal dan tak terasa meremas kantung sayuran yang ada ditangannya hingga remuk tak berbentuk.

Yunho yang merasa risih, berusaha melepaskan tangan yeoja itu dari lengannya, namun itu sangat susah karna Hyuna menggenggamnya lumayan kencang.

"Sedang apa kau kesini Yunho-ssi? Apa kau tengah berbelanja juga?" tanya Hyuna dengan senyum merekah diwajahnya.

"Nde? Ah iya, aku sedang berbelanja." jawab Yunho sekenanya dan memaksakan tersenyum pada Hyuna.

"Jinjayo? Waa, kau suami yang sungguh hebat Yunho-ssi." kata Hyuna lagi berbarengan dengan sebuah teriakan kencang dari Chanhmin.

"APPAA!" teriakan kencang menggelegar milik Changmin segera terdengar menggema di supermarket iu. Membuat semua orang yang berada disana menolehkan wajahnya kearah Changmin.

"Minie." panggil Yunho dan segera melepaskan pegangan Hyuna dilengannya dan bergegas mendekati Changmin.

"Appa! Kajja!" teriaknya lagi dan memasang wajah kesal menatap Yunho. Ah, rupanya Changmin kesal karna appanya malah berbicara dengan ahjumma genit itu.

"Ne, kajja ki-"

"Kyaa, Minie, kau ikut juga?"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hyuna sudah langsung memotong perkataan Changmin.

"Kau semakin tampan Minie-ah." lanjut Hyuna sambil berjalan mendekati Changmin.

"Huh! Jumma genit ngapain kecini!" ketusnya sambil menatap tak suka pada Hyuna. Dipoutkannya bibirnya kesal menatap Hyuna.

"Tentu saja berbelanja Minie-ah." jawab Hyuna sok akrab dengan Changmin.

"Huh! Appa, kajja~" rengek Chanhmin lagi dan segera ingin menghilang dari hadapan yeoja seksi itu.

"Yak Minie-ah, kenapa masih disini!" tiba-tiba saja Jaejoong datang entah darimana dengan membawa beberapa belanjaan. Jangan lupakan juga wajahnya yang ditekuk kesal dan aura gelap yang menguar darinya.

"Kajja!" ajak Jaejoong lagi dan mulai mendorong troli itu meninggalkan Yunho yang terus memanggilnya.

"Yak, Joongie, Joongie, aiss. Ah, mian Hyuna-ssi, aku harus mengejar keluargaku ne. Soal yang tadi, sekali lagi aku minta maaf." kata Yunho dan membungkuk sedikit sebelum akhirnya berlari mengejar Jaejoong yang sudah jauh.

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah berhasil mengejar Jaejoong dan Changmin, akhirnya kini mereka sudah berada didalam mobil Yunho dalam perjalanan pulang. Selama perjalanan pulang, nampak duo Kim a.k.a Jaejoong dan Changmin yang sama-sama masih menekuk wajah kesal dan sama sekali tak menyahut ketika Yunho mencoba mengajak mereka berbicara. Sepertinya eomma anak itu tengah kesal dengan Yunho.

"Apa kalian mau singgah kesuatu tempat dulu sebelum pulang?" tanya Yunho masih tak gentar mengajak JaeMin mengobrol.

"..."

"Bagaimana kalau cemilan malam?" tanya Yunho lagi berharap kali ini Changmin mau menjawabnya.

"..."

Namu sayang usahanya tetap sia-sia.

"Aisss, lama-lama aku bisa ftustasi kalau begini. Apa salahku sebenarnya? Kenapa kalian sama sekali tak mau berbicara denganku?" frustasi Yunho karna JaeMin sama sekali tak mau berbicara dengannya.

"..."

"Ya tuhan! Kim Jaejoong, Kim Changmin! Katakan apa yang salah denganku!"

"Huh! Appa nappeun! Appa dekat-dekat cama jumma centil itu. Appa kan cudah janji gak deket-deket lagi cama jumma centil itu."

Akhirnya, ada juga yang menyahut ucapannya.

"Mwo? Jadi karna itu kalian marah padaku?" tanya Yunho heran dan seketika menghentikan laju mobilnya.

Duk

"Yak! Kau mau menyelakai kami eoh!" teriak Jaejoong kesal karna Yunho berhenti tiba-tiba dan menyebabkan kepalanya membentur kaca.

"Mianhae aku tak bermaksud." sesal Yunho meminta maaf atas semuanya. Meminta maaf karena meladeni Hyuna dan meminta maaf karna berhenti mendadak.

"Ck. Cepat jalan, kau tak lihat Minie sudah mengantuk!" teriak Jaejoong lagi dan melihat Changmin sudah membuka tutup matanya mengantuk.

"Ne baiklah, tapi sebelumnya maafkan aku ne. Aku tak bermaksud membuatmu dan Minie kesal." jawab Yunho dan mulai menjalankan kembali mobilnya.

"Apa kau marah gara-gara insiden Hyuna tadi?" lanjut Yunho karna tak mendengar jawaban dari Jaejoong.

"Ani, untuk apa aku marah." ketus Jaejoong dan mengubah posisi duduk Changmin agar anaknya itu bisa nyaman. Karna sekarang Changmin sudah tertidur pulas dipangkuannya.

"Lalu kenapa kau tak mau bicara padaku tadi?" tanya Yunho lagi hang rupanya masih tak percaya kalau Jaejoong marah bukan karna itu.

"Aku sedang malas bicara padamu." jawab Jaejoong ketus tanpa menatap Yunho.

"Jinja? Apa kau yakin kau tak sedang cemburu eoh?" tanya Yunho menggoda Jaejoong.

"Mwo? Jangan berfikir yang macam-macam tuan Jung! Untuk apa juga aku cemburu. Hah, dalam mimpimu saja tuan!" ketus Jaejoong merasa kesal Yunho mengiranya cemburu. Yang benar saja, seorang Jaejoong cemburu dengan Yunho? Tak akan mungkin!

Ahh, Jaejoong sudah jelas telihat kalau kau cemburu pada Hyuna. Apa namanya kau yang marah tak jelas dan menekuk wajah saat melihat mereka berdua? Ayolah, akui saja perasaanmu Jaejoong.

"Oh ya? Padahal aku sudah senang kalau kau cemburu. Bukankah itu artinya kau juga menyukaiku?" kata Yunho PD dan membuat Jaejoong menolehkan wajahnya seketika.

"Mwo? Menyukaimu? Haha, kau sudah gila eoh Yunho-ssi! Mana mungkin aku menyukaimu! Kau itu sungguh terlalu percaya diri." kesal Jaejoong dan siap memberi Yunho deathglare terbaiknya.

"Oya? Benar kau tak menyukaiku?" tanya Yunho lagi dan kembali menggoda Jaejoong. Perlahan didekatkannya wajahnya kearah Jaejoong, untung sekarang mereka tengah terjebak trafic ligh.

Jaejoong melebarkan matanya horor melihat wajah Yunho yang semakin dekat dengannya, ditambah lagi seringai mesum yang ditunjukkan Yunho itu membuat Jaejoong bergidik ngeri. Walaupun berusaha menjauhkan wajahnya dari Yunho, namun entah kenapa rasanya susah sekali. Bahkan tangannya juga tak bisa digerakkan karna tertahan tubuh montok Changmin.

Semakin lama wajah Yunho semakin dekat, dan Jaejoongpun kian melebarkan matanya. Jantungnya berpacu cepat tak tahu apa yang akan dilakukan Yunho padanya. Semakin dekat, semakin dekat, hingga-

Cup~

Yunho mengecup pelan pipi tembam Changmin yang sudah tertidur pulas dipangkuan Jaejoong. Seringai tercetak diwajahnya kala melihat raut Jaejoong yang menurutnya sangat lucu. Sementara Jaejoong hanya bisa mengerjabkan matanya saat menyadari apa yang baru saja terjadi.

Loading please

1 detik

2 detik

3 detik

"YAK! JUNG YUNHOOOO!"

::

::

YUNJAE

::

::

Sepuluh menit di perjalan, kini Yunho dan Jaejoong sudah tiba diapartment Jaejoong. Masih dengan memasang wajah kesal, Jaejoong keluar dari mobil Yunho dan tak lupa membanting keras pintu mobil itu saat dirinya sudah diluar.

"Cepat keluarkan barang-barangku!" teriaknya keras pada Yunho karena masih merasa sangat kesal karna dikerjai Yunho tadi. Yunho sendiri hanya tersenyum kecil melihat sikap Jaejoong yang menurutnya sangat unik itu.

"Baiklah. Tapi sini, biar aku saja yang menggendong Minie. Aku lihat kau kelelahan." jawab Yunho dan mulai mengeluarkan kantung-kantung belanjaan dari mobilnya.

"Kajja." ajak Yunho setelah dirinya mengeluarkan kantung itu, lalu mengambil alih Changmin dari Jaejoong. Digandengnya tangan Jaejoong dengan tangan kirinya yang bebas dan mulai melangkah masuk kedalam. Jaejoong awalnya memberontak namun gandengan tangan Yunho sangat kuat sehingga iapun akhirnya mengalah dan membiarkan namja Jung itu menggandengnya masuk kedalam.

Ting

Pintu lift terbuka, Yunho dan Jaejoongpun masuk masih dengan bergandengan tangan. Tak ada yang bersuara dalam lift, sampai akhirnya Yunho memulai percakapan.

"Aku minta maaf soal kejadian di supermarket tadi. Sungguh, aku tak ada maksud apapun. Aku bahkan tak mengingat siapa yeoja itu." kata Yunho sambil melirik sekilas Jaejoong.

"..."

"Jangan pernah ragukan perasaanku padamu Joongie. Aku benar-benar sangat menyayangi kalian. Aku merasa hidup kembali saat berada didekat kalian. Sungguh, aku merasakan kebahagiaan yang dulu tak pernah aku dapatkan." lanjutnya dan semakin mengeratkan genggamannya pada Jaejoong. Menunjukkan pada Jaejoong kalau dirinya sungguh-sungguh dengan ucapannya.

"..."

"Kau bisa pegang kata-kataku Joongie. Aku tak akan pernah menyakitimu."

"..."

"Joongie~"

"Na, na mollayo. Bagiku sekarang, yang terpenting adalah kebahagiaan Changmin. Aku akan berusaha membahagiakan Changmin. Dan kalau memang Changmin menyukaimu, aku tak bisa berbuat apa. Aku hanya ingin melihat Changmin tersenyum, karna bagiku Changmin adalah segalanya bagiku."

"..."

"Asal Changmin bahagia dan bisa tersenyum, aku juga pasti akan bahagia."

"Joongie, dengarkan aku." jeda sejenak, "Kau bisa lihat seberapa besar aku menyayangi kalian berdua?" tanya Yunho dan mendapat anggukkan dari Jaejoong. Yunho tersenyum melihat jawaban Jaejoong.

"Kalau kau bisa melihat itu, maka izinkalah aku untuk bisa membuatmu merasakan juga apa yang aku rasakan. Aku yakin kau nantinya juga akan merasakan apa yang sekarang tengah aku rasakan. Jadi Jaejoongie, bukalah perlahan hatimu untukku. Berikanlah ruang kosong dihatimu padaku, agar aku bisa mengisinya."

Jaejoong mendongakkan wajahnya saat mendengar permintaan tulus yang diucapkan oleh Yunho. Entah kenapa dadanya berdesir hangat kala mendengar kalimat itu terucap dari Yunho. Mungkin memang benar Jaejoong juga mulai menyukai Yunho, hanya saja ia masih belum menyadari itu semua.

"Joongie." lirih Yunho saat dirinya menatap juga mata bulat Jaejoong yang tengah menatapnya. Seakan terhipnotis, Yunhopun tanpa sadar mulai mendekatkan wajahnya pada Jaejoong. Tak ada niat jahil atau menggoda kali ini, ia benar-benar melakukannya dengan tulus dan penuh cinta.

Perlahan jarak keduanya mulai menipis, Jaejoongpun juga seakan terhipnotis dengan mata musang Yunho yang memancarkan kesungguhan didalamnya. Mereka berdua sama-sama mengagumi keindahan mata masing-masing dan tak menyadari kalau jarak keduanya sudah tak ada.

Perlahan Yunho memiringkan wajahnya ke kiri sementara Jaejoong perlahan memejamkan matanya menunggu saat itu tiba. Dan-

Cup~

Bibir beda bentuk itupun sukses menyatu dalam ritme yang yang pelan dan tubrukan yang pelan. Awalnya keduanya hanya diam menempelkan bibir mereka, namun akhirnya dengan pelan Yunho menggerakkan bibirnya memanggut bibir Jaejoong.

Yunho merasa sangat bahagia sekarang, karena akhirnya dirinya bisa juga merasakan bibir Jaejoong yang selama ini selalu diinginkannya. Akhirnya ia bisa merasakan bagaiamana rasa bibir Jaejoong itu yang ternyata sangat manis dan sangat pas dalam kulumannya.

Jaejoongpun demikian. Dirinya begitu tersentuh dengan perlakuan Yunho padanya. Tak ada paksaan yang Jaejoong rasakan saat bibir hati Yunho memanggutnya pelan dan dalam. Hanya ada ketulusan dan perasaan cinta yang dalam yang Yunho berikan dalam ciuman itu. Hati Jaejoong bedesir hangat dan menimbulkan getaran asing dalam hatinya, yang Jaejoong sendiri tak mengerti perasaan apa itu.

Lama mereka saling memanggut, akhirnya Yunho melepaskan tautan keduanya. Ditatapnya Jaejoong yang kini tengah berusaha mencari pasokan oksigen yang menipis diparu-parunya akibat kegiatan yang baru saja dilakukannya. Dielusnya pelan pipi putih Jaejoong yang kini terlihat semburat pink mewarnainya.

"Kau sungguh manis Joongie. Gomawo." ucap Yunho bersamaan dengan pintu lift terbuka dan membawa mereka ke lantai 5. Dan Yunhopun melangkah pelan keluar lift dengan tangan yang masih setia menggandeng Jaejoong dan perlahan menuntunnya menuju kamarnya.

::

::

YUNJAE

::

::

Suara kicauan burung terdengar nyaring dari halaman rumah Jung. Dan bisa kita lihat disalah satu kamar, seorang namja dengan mata musangnya tengah mematut diri didepan cerminnya. Jung Yunho kini tengah merapikan penampilannya didepan cermin, dengan setelan jas formal hitam dan kemeja biru laut didalamnya, membuat penampilan Jung Yunho terlihat segar.

"Kau memang tampan!" pujinya pada diri sendiri. Rupanya tokoh utama kita ini sangat narsis.

Beginilah sekarang kebiasaan seorang Jung Yunno. Setiap pagi ia akan bangun lebih pagi dari biasanya, dan setelah berpakaian lengkap iapun akan segera meluncur ke apartement Bolero tempat dimana sumber kebahagiaannya tinggal.

Kembali Yunho merapikan penampilannya, disemprotkannya parfume keseluruh tubuhnya dan setelahnya menyisir rapi rambutnya. Namun senyum tiba-tiba terlukis diwajahnya saat tak sengaja dirinya menyentuh permukaan bibir hatinya. Seketika bayangan kemarin malam terlintas diotaknya dan membuatnya menyunggingkan senyum bahagia.

"Rasanya sangat manis. Lebih manis dari permen." gumamnya dan segera setelahnya ia menyambar tas kerja dan kunci mobil di meja nakas.

"Pagi sekali Yunho-ah, kau mau kemana hmm?" tanya Siwon saat dilihatnya Yunho turun dari lantai atas dengan senyum merekah diwajahnya.

"Ah, hyung. Aku akan berangkat hyung." jawab Yunho sekenanya dan segera berlalu dari hadapan Siwon.

"Berangkat kantor pagi-pagi begini?" heran Siwon dan segera menurunkan koran pagi yang tengah dibacanya. "Kau mau berangkat kantor atau pergi kerumah calon istrimu eoh?" goda Siwon dan langsung mendapat kekehan dari Yunho.

"Kau tahu saja hyung. Ya sudah, aku berangkat ne. Sampai ketemu dikantor."

Dan setelahnya, Yunhopun bergegas menuju mobilnya dan bersiap berangkat menuju apartement Jaejoong.

'Kau nampak sangat bahagia dan berbeda dari yang dulu. Yunho-ah, berbahagialah'

.

.

Sementara di apartement Jaejoong, kegaduahan terjadi diantara penghuni apartement itu. Bisa kita lihat sekarang, Changmin yang tengah berlari kecil menghindari Junsu yang ingin memandikannya. Bahkan walaupun dalam keadaan naked, tetap saja Changmin berlari dan tak merasa risih sama sekali.

"YAK. KIM CHANGMIN. BERHENTI KAU BOCAH!" teriak Junsu menggelegar dan menyebabkan beberapa benda bergetar karna suaranya. Sementara Changmin tak menghiraukan teriakan ahjussinya itu, tetap saja ia berlari menghindari Junsu dan sekarang sudah menuju dapur tempat dimana sang eomma tengah melakukan rutinitasnya.

"Haha, jumma jelek, weee~" ejek Changmin dan segera memeluk kaki sang eomma dan menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Jaejoong.

"Kemari kau bocah. Sini mandi dulu. Kau kan mesti sekolah." tak gentar, Junsupun terus mengajak Changmin mandi, karna dirinya juga harus mandi dan mengerjakan pekerjaannya. Oh ya, Junsu sekarang sudah mulai bekerja menjadi penulis artikel disalah satu majalah ternama Seoul. Jadi dirinya tak perlu berangkat ke kantor karna memang ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dirumah.

"Chiluh chiluh. Hihi."

"Yak Changminie." bentak Jaejoong merasa terganggu dengan aksi anaknya itu. Kegiatan memasaknya jadi terganggu karna Changmin bersembunyi dibaliknya dan menyebabkan dirinya kesusahan memasak.

"Hihi, jumma jelek. Wee, wee."

"Changminie! Berhenti dan cepat mandi! Atau eomma tak memberi jatah sarapan!"

"Chiluh chiluh. Wee-" seakan tak takut dengan ancaman sang eomma, Changmin pun malah semakin mengeratkan pelukannya dikaki Jaejoong. Menghindari Junsu yang sudah kewalahan dengan aksi Changmin.

"Eoh begitu!" desis Jaejoong dan detik berikutnya ia mematikan kompor dan mulai menjewer telinga Changmin.

Srett

"Waa, eomma appo, appo eomma, huweee."

"Mwo appo?" tanya Jaejoong dan tak melepas jewerannya ditelinga Changmin.

"Huwee, eomma appo. Hiks, hiks, appo." tangis Changmin sambil tangannya memegang tangan Jaejoong yang setia menjewer telinganya. Sementara Junsu sudah tertawa terpingkal melihat keponakannya itu dijewer oleh eommanya sendiri.

"Appo eomma, hiks hiks."

"Eomma akan lepaskan tapi kau harus mandi arra! Kau ini, sekali saja jangan berbuat nakal bisa tidak?" tanya Jaejoong yang rupanya sudah kesal juga karna kenakalan Changmin. Dirinya memang sangat memanjakan Changmin, namun kalau kenakalan anaknya itu semakin hari semakin keterlaluan, mau tak mau Jaejoong harus bertindak keras sedikit agar anaknya itu tak berlaku semaunya.

"Ne hiks, eomma."

"Minie mau jadi pintar kan? Jadi kalau mau jadi anak pintar Minie nggak boleh nakal. Jangan merepoti jumma terus. Arra?" tanya Jaejoong yang sudah melepaskan jewerannya dan mulai berjongkok dihadapan Changmin.

"Ne, Minie gak akan nakal lagi eomma. Hiks."

"Sudah sudah, sana cepat mandi. Setelah mandi, kita akan sarapan."

"Uum."

"Kajja Mi-"

Ting tong ting tong

"Eoh, ada yang datang. Chakaman, aku buka pintu dulu." kata Junsu dan mulai melangkah keluar menuju pintu, dan tanpa disadarinya Changmin mengikuti dari belakang.

Ceklekk

"Annyeong."

"Ah, hyung. Kau rupan-"

"APPA~" teriakan kencang dari Changmin seketika memotong ucapan Junsu, dan setelahnya Changmin sudah berada didekapan Yunho.

"Aigoo, kenapa kau tak menggunakan pakaian eoh?" tanya Yunho yang heran melihat Changmin tak mengenakan sehelai benangpun. "Kau bisa kedinginan." lanjutnya lagi dan berjalan pelan kedalam.

"Minie mau mandi appa. Makanya Minie gak pake baju." jawab Changmin tersenyum manis.

"Eoh, jadi kau mau mandi? Ya sudah, sana mandi dulu. Appa akan tunggu disini ne."

"Uum, kajja jumma."

"Ne hyung, tunggu sebentar ne. Jae hyung sedang masak didapur. Kajja Minie."

MinSupun melangkah riang kedalam kamar mandi, dengan Changmin yang dengan patuhnya menurut semua ucapan Junsu. Ah, kenapa tak dari tadi saja anak itu bersikap baik, jadinya ia tak perlu mendapat jeweran dari sang eomma kan?

Sepeninggal MinSu kekamar mandi, Yunhopun melangkahkan kakinya kearah dapur. Niatnya untuk melihat apa yang dilakukan namja cantiknya itu. Namun apa daya, hasratnya timbul saat melihat Jaejoong dari belakang yang nampak sangat imut dimatanya. Dengan celemek bermotif beruang yang sangat pas ditubuhnya dan jangan lupakan tangan putihnya yang dengan cekatan memotong bahan makanan.

Grepp

Dan tanpa sadar iapun sudah mendekap hangat tubuh Jaejoong itu.

Takk

Jaejoong sangat terkejut karena tiba-tiba saja sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang, saking kagetnya ia sampai menjatuhkan spatula yang tadi digunakannya untuk mengaduk sup. Segera saja ia bersiap berteriak pada sang tersangka, namun aroma mint yang segera tercium oleh hidungnya, menyadarkan dirinya siapa yang tengah memeluknya itu.

"Biarkan seperti ini Joongie, sebentar saja. Jebal~" lirih Yunho sambil mengeratkan pelukannya pada Jaejoong dan melesakkan wajahnya diceruk leher Jaejoong.

"Yu..Yunho~" desis Jaejoong saat mendengar suara bass Yunho tepat ditelinganya.

"Sudah lama aku ingin melakukan ini, namun selalu saja ada halangan. Dan kali ini, biarkanlah seperti ini Joongie~"

Jaejoong diam tak bergerak, tiba-tiba ia juga merasa hangat saat merasakan tangan kekar Yunho mendekapnya seperti ini. Ditambah lagi jantungnya yang berdetak kencang mengekspresikan bagaimana keadaannya.

Jaejoongpun membiarkan Yunho memeluknya seperti itu, sementara dirinya kembali melanjutkan acara masaknya yang tertunda. Agak sedikit kesusahan memang dirinya melakukan kegiatannya-mengingat Yunho yang memeluknya dengan erat-namun entah kenapa ia tak bisa marah dan malah membiarkan Yunho tetap dalam posisinya. Tak terasa senyum mengembang diwajahnya.

Namun, tanpa mereka berdua sadari, Junsu dan Changmin yang baru saja selesai mandi, melihat dengan jelas kegiatan mereka berdua. Dan Changminpun sudah ingin berteriak memanggil appanya, namun dengan cepat Junsu memotongnya.

"Ap-, mmppfftt."

"Sssttthh, diamlah. Biarkan appa dan eommamu seperti itu." kata Junsu sambil membekap mulut Changmin. "Biarkan mereka seperti itu. Aku rasa, eommamu sudah mulai bisa menerima appamu Minie-ah."

Changmin sebenarnya tak mengerti apa maksud Junsu, namun melihat appa dan eommanya yang kelihatan sangat hangat, tak terasa senyum terlukis diwajah bulatnya.

'Semoga ini awal yang baik bagi kalian hyungdeul'

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah mengantar Changmin masuk ke sekolah, sekarang YunJaepun berangkat ke kantor. Ditengah perjalan nampak Jaejoong yang sering tertawa dan tersenyum, dan membuat Yunho merasa senang dengan perubahan hubungan diantara mereka. Yunho merasa amat senang karna sekarang Jaejoong sudah mau bicara lepas padanya, dan tak ada kecanggungan lagi diantara keduanya.

"Makan siang nanti, enaknya kita makan dimana?" tanya Yunho sambil mengemudikan mobilnya menuju kantor.

"Kita makan siang dikantor saja, ini, aku sudah menyiapkan makan siang." jawab Jaejoong sambil mengangkat kotak bekal ditangannya.

"Kau membawa bekal?" tanya Yunho heran dengan kebiasaan namja cantiknya itu.

"Ne, sejak dulu aku memang sering membawa bekal. Aku sudah membuatkan lebih untuk kita makan bersama." jawab Jaejoong dan diakhiri dengan senyum mengembang diwajahnya.

"Uh, manisnya uri Joongie." manja Yunho saat mendengar kalau Jaejoong juga membuatkannya bekal. Dan tak terasa merekapun sudah tiba didepan kantor, Yunhopun dengan segera keluar dari mobilnya dan berputar menuju kursi penumpang, lalu membukakan pintu untuk Jaejoong.

"Aigoo, tak perlu seperti itu. Ini sudah dikantor!" kata Jaejoong yang sedikit kaget dengan kelakuan Yunho tadi.

"Gwencanhayo. Kajja kita masuk." ajak Yunho dan mulai menarik tangan Jaejoong untuk jalan bersamanya. Namun, baru satu langkah, tiba-tiba sebuah teriakan nyaring menggelegar memanggil nama Yunho.

"YUNHO OPPAA!"

Bruukkk

Detik berikutnya Yunho merasakan sesuatu menubruk tubuhnya dan menyebabkan pegangan tangannya pada Jaejoong terlepas. Jaejoong hanya menatap horor pemandangan dihadapannya. Mulutnya terbuka lebar karna Yunho yang dipeluk erat oleh seorang yeoja.

"Yunho oppa, bohoshipo. Bogoshipo oppa." girang yeoja itu masih setia mendekap erat tubuh Yunho.

"Emm, mi..mian. Bisahh..ka..u..le..pash..kan..pe..luk..han..mu?" kata Yunho terbata karna sesak.

"Ups, mian oppa." kata yeoja itu lagi dan melepaskan pelukannya. "Gwencanha oppa?" tanya yeoja itu lagi dan melihat kearah Yunho.

"Nde?"

"Kyaa, oppa. Kau makin tampan saja!" teriak yeoja itu lagi dan senyum mengembang diwajahnya.

"Neo-"

"Ne oppa?"

"Eunji? Eunji-ah? Benar ini kau?" teriak Yunho saat menyadari siapa yeoja yang memeluknya itu. Dan seketika ia tersenyum lebar saat menyadari kalau itu adalah Eunji.

"Ah, nado. Bogoshipoyo." kata Yunho dan tanpa sadar memeluk yeoja itu. Dan kontan saja membuat mata bulat namja cantik yang sedari tadi masih berada didekatnya membulat sempurna karna melihat Yunho yang nampak bahagia saat bertemu dengan yeoja itu.

"Kapan kau kembali?" tanya Yunho lagi tanpa menyadari perubahan aura yang terjadi dari namja cantik disebelahnya. Bahkan nampaknya Yunho sedikit melupakan keberadaan namja cantik itu.

"Kemarin oppa, dan aku segera kesini saat aku tak menemukanmu dirumah tadi." jawab Eunji tak kalah girang.

Yunho dan Eunjipun terlibat percakapan yang lumayan panjang sampai-sampai tak menghiraukan kehadiran namja cantik yang kini sudah menatap kesal kearah Yunho dan mempoutkan bibirnya kesal.

"Ck, dasar beruang pabo!" gerutunya kesal dan berjalan meninggalkan pasangan itu dengan menghentakkan kakinya kesal.

::

::

YUNJAE

::

::

Jam makan siang tiba, Yunho kini tengah berjalan pelan menuju ruangan dimana Jaejoong berada. Setelah dirinya sampai, dengan cepat ia melesak masuk dan segera berdiri dihadapan Jaejoong. Untung teman-teman diruangan Jaejoong sudah pergi terlebih dulu ke kantin, apa jadinya kalau mereka sampai tahu kalau Yunho datang menemuinya?

"Joongie, kajja kita makan siang." ajak Yunho sambil tersenyum tak menyadari aura yang dikeluarkan Jaejoong.

"..."

"Kajja Joongie, aku sudah tak sabar ingin makan masakanmu." ajak Yunho lagi saat melihat pergerakan dari Jaejoong.

Baru saja Jaejoong hendak berjalan, sebuah suara sudah duluan memanggilnya.

"Jae hyung." teriak namja dengan jidat lebar yang dengan seenak jidatnya itu masuk keruangan Jaejoong tanpa melihat ada orang lain disana.

"Eoh? Yunho sajangnim?" pekik Yoochun kaget saat baru menyadari kehadiran atasannya itu.

"Ne Yoo-"

"Kajja Chunie, kita makan siang." Jaejoongpun dengan cepat memotong ucapan Yunho dan segera menarik Yoochun dan mengajaknya untuk makan siang bersama.

"Yah yah, Joongie. Aiss. Ada apa dengannya!" keluh Yunho dan mulai mengejar JaeChun yang sudah masuk kedalam lift.

.

.

Dikantin kantor

Nampak kini Yunho tengah memandang tajam kearah Yoochun yang duduk diam disebelah Jaejoong. Yoochun merasa sangat gelisah dalam duduknya karena tatapan tajam Yunho yang seakan ingin mengulitinya. Apalagi ditambah aura hitam yang menguar diseluruh tubuh Yunho itu, membuatnya menelan saliva gugup.

"Ja..Jae hyu..hyung." gugup Yoochun memanggil Jaejoong.

"Waeyo Chunie?"

"Err.. I..itu."

"Yak Joongie, kenapa malah memberikan makan siangnya pada Yoochun! Katanya kau membuatkannya untukku!" kesal Yunho yang sedari tadi dicuekin oleh Jaejoong. Bagaimana tidak kesal, jika makan siang yang tadi katanya khsusus dibuatkan oleh Jaejoong untuknya, kini malah berakhir dimakan oleh sang pegawai dengan jidatnya yang lumayan lebar itu. Ditambah dengan Jaejoong yang sama sekali tak mau berbicara dengannya.

"Hyung, a..aku sudahan ne." kata Yoochun pelan takut dengan tatapan Yunho.

"Wae? Kenapa tak mau makan? Cepat habiskan atau kau tau apa akibatnya!" desis Jaejoong berbahaya dan kembali melanjutkan makan siangnya.

Yoochun lagi-lagi menelan saliva gugup saat mendengar suara Jaejoong yang mendesis begitu. Lebih baik ia melanjutkan makan siangnya daripada harus melihat Jaejoong yang marah dengannya.

'Sial! Kenapa aku terjebak dalam situasi begini. Yunho sajangnim yang tengah cemburu dan Jae hyung yang tak dalam mood baik'

"Joongie, kau ini kenapa sih? Bukankah tadi pagi kau baik-baik saja? Katanya kau mau makan siang bersama denganku? Tapi kenapa malah memberikan bekal itu pada Yoochun?"

"..."

"Yak, Jaejoongie, aku bicara padamu!"

"Kau itu berisik sekali. Ini tempat makan bukan tempat untuk mengomel." ketus Jaejoong tanpa melihat kearah Yunho. "Selera makanku jadi hilang, sudah Chunie aku duluan ne."

"Yah Joongie, Joongie. Aiss. Tunggu Joongie~" dan Yunhopun mengejar Jaejoong meninggalkan Yoochun dengan segala keheranannya.

"Apa itu? Aku ditinggal sendirian?" gumamnya sambil melihat kepergian hyungdeulnya.

.

.

"Joongie, Joongie. Yak, tunggu sebentar."

Srett

"Yak, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" bentak Jaejoong tak suka karna Yunho tiba-tiba menariknya. "Apa maumu!" teriaknya masih dengan kekesalan yang sangat kentara.

"Sebenarnya kau kenapa eoh? Sedari tadi kau mengacuhkanku, dan sekarang kau marah-marah padaku." jawab Yunho tak kalah kesal. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Jaejoong marah-marah seperti ini padanya.

"Tanyakan saja pada dirimu sendiri." ketus Jaejoong dan masih berontak dari Yunho.

"Sungguh aku tak tahu apa salahku Joongie, kalau kau tak mengatakannya bagiamana aku bisa tahu kesalahan ku dimana." kata Yunho dengan suara yang sedikit melemah. Ia sadar tak ada gunanya berbicara dengan keras dengan keadaan Jaejoong yang dalam mood buruk itu.

"Huh!"

"Joongie~" lirih Yunho dan mulai meraih tangan Jaejoong. "Mianhae jika aku berbuat salah padamu, tapi sunggu Joongie aku tak tahu letak kesalahanku dimana. Jadi, bisakah kau memberitahunya agar aku tak mengulanginya hmm?"

"..."

"Joongie~"

"Hentikan memanggilku begitu! Kau itu sama saja! Sungguh tak peka! Dasar beruang pabo!" bentak Jaejoong dan menepis tangan Yunho yang tadi menggenggam tangannya.

"Mwo? Beruang pabo? Yak, apa-apaan itu, masa kau mengataiku dengan beruang pabo?" kata Yunho tak terima dengan Jaejoong yang mengatainya pabo.

"Kau itu benar-benar pabo."

"Joongie, ayo katakan, kenapa kau marah padaku hmm?"

"Huh, siapa yang marah padamu!"

"Kalu bukan marah, lalu apa namanya? Kau mengacuhkanku dan bahkan tak mau memandangku. Lalu kau mengataiku pabo dan berteriak kencang. Jelas semua itu menunjukkan kau marah padaku Joongie."

"Sudah kubilang hentikan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Panggil saja yeoja-yeoja itu dengan panggilan mesra itu. Aku muak mendengarnya." jawab Jaejoong dan tanpa sengaja malah berterus terang pada Yunho.

"Mwo? Yeoja-yeoja itu?" tanya Yunho tak mengerti dengan pembicaraan Jaejoong.

"Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kau tak pergi saja sana temui yeoja itu. Mengapa malah mengikutiku kesini. Pasti yeoja itu masih menunggumu sekarang. Sana pergi!"

"Aigoo, Joongie. Jadi kau marah karna kejadian tadi pagi? Kau cemburu eoh?" tanya Yunho baru loading dengan keadaan.

"Mwo? Siapa yang marah! Heh, dengar ya tuan jung, jangan pernah bermimpi aku cemburu denganmu. Ck, seperti tak ada hal lain saja. Cemburu denganmu? Cih!" dengus Jaejoong sebal dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Lalu apa namanya kalau bukan cemburu? Kau marah-marah dan tak mau bicara denganku, jelas sekali kalau kau cemburu nyonya Jung!"

"Yak, siapa yang kau panggil nyonya Jung?" marah Jaejoong karna Yunho seenaknya saja mengganti marganya.

"Tentu saja Jaejoongieku yang yeopo ini." goda Yunho dan menangkup pipi Jaejoong dengan kedua tangannya.

"Yak jangan sembarangan! Suruh saja yeoja itu yang menjadi nyonya Jung!" kesal Jaejoong dan menepis tangan Yunho dari pipinya.

"Nde? Ah, dia memang sudah menjadi nyonya Jung Joongie." jawab Yunho tersenyum penuh arti pada Jaejoong, dan seketika Jaejoong membulatkan matanya kaget.

"MWO? Yah, Jung Yunho! Apa maksudmu hah! Kau sudah mempunyai istri dan kau masih berani mendekatiku?" murka Jaejoong dan bersiap untuk menghajar Yunho. "Rasakan ini, hiahh, rasakan rasakan!"

"Aww, aww, Joongie appo, appoyo. Yah, yah, dengarkan aku dulu Joongie. Aw, bukan seperti itu." Yunhopun berusaha berkelid dari amukan Jaejoong yang memukulnya secara bertubi-tubi.

"Apa lagi hah!"

"Dia itu sepupuku Joongie, sepupuku Jung Eunji."

"MWO?"

"Ne, dia itu sepupuku Eunji, ia baru datang dari Jepang. Kalau kau tak percaya kau bisa menanyakannya langsung dengannya." jawab Yunho dan seketika membuat Jaejoong menghentikan pukulannya.

"Aku tak mungkin bisa berpaling lagi darimu Joongie. Kau adalah segalanya untukku. Kau dan Changmin adalah sumber kebahagiaanku sekarang."

'Aiss, jadi aku salah? Yeoja itu hanya sepupu beruang ini? Astaga Jaejoong, mau kau taruh dimana mukamu sekarang!'

"Joongie~"

"A..aku mau pergi, jam makan siang sudah habis." kata Jaejoong mencoba kabur dari dekapan sang beruang. Namun-

Srett

"Mau kemana Joongie?" tahan Yunho sambil menarik lengan Jaejoong yang hendak kabur. "Kau tak bisa kemana-mana Joongie." lanjutnya dan mulai mendekatkan wajahnya pada Jaejoong.

"Ma..mau apa ka..kau?" cicit Jaejoong ngeri dengan seringai yang ditunjukkan Yunho.

"Ani, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu." jeda sejenak. "Apa kau menyukaiku Joongie?" tanya Yunho deduktif sambil semakin mendekatkan dirinya pada Jaejoong.

"Ya..yah, be..berhenti!"

"Jawab pertanyaanku Joongie."

"A..aku, yak! Mana mungkin aku menyukaimu pabo!"

"Oh ya? Begitukah?" tanya Yunho tak percaya sepenuhnya pada jawaban Jaejoong. Ia sangat yakin kalau Jaejoong sebenarnya juga menyukainya, hanya saja Jaejoong belum menyadarinya. Buktinya sudah jelas, dua kali Jaejoong marah hanya karna Yunho berdekatan dengan yeoja lain. Itu membuktikan kalau Jaejoong tak suka kalau Yunho dekat-dekat dengan yeoja lain.

"Katakan dengan lantang Joongie, katakan kalau kau memang tak menyukaiku." paksa Yunho lagi dan semakin mendekatkan wajahnya pada Jaejoong.

Glup

Jaejoong menelan susah payah salivanya, melihat Yunho yang sangat dekat dengannya membuat dirinya susah bernafas.

'Astaga, jangan mendekat pabo! Kau tahu jantungku seakan mau copot kalau kau semakin dekat denganku'

"Joo-"

"Pabo! Masih haruskah aku menjawabmu hah! Apa otakmu itu tak berfungsi dan tak bisa menyerap dengan baik semua yang terjadi!" ketus Jaejoong masih tak mau mengakui semuanya. Bukannya tak mau mengakui, hanya saja ia masih malu dengan insiden sepupu tadi dan ia juga sedikit gengsi mengakui perasaannya.

"Jadi?"

"Pikir sendiri dengan otak bodohmu itu beruang!" bentak Jaejoong dan mempoutkan bibirnya kesal.

Cup~

"Arraseo." jawab Yunho cepat setelah berhasil mencuri satu kecupan dibibir cherry Jaejoong. "Sudah kukatakan bukan, aku pasti bisa membuatmu merasakan juga apa yang aku rasakan."

"Huh!"

"Dengarkan aku Joongie, mungkin aku tidaklah sempurna, tapi aku akan berusaha untuk menjadi sempurna untuk dirimu dan juga untuk Changmin. Aku akan berusaha menjadi seseorang yang akan membahagiakan kalian, dan akan memberikan kalian apa yang selama ini menghilang dari hidup kalian."

"..."

"Saranghae Jaejoongie."

Deg

Jaejoong merasakan perasaan yang begitu hangat saat mendengar suara bass Yunho saat menyatakan perasannya itu. Degup jantung Jaejoong berdetak kencang dan matanya tiba-tiba saja menghangat.

"Jaejoongie, apa jawabanmu?" tanya Yunho lembut dan memasang senyum yang tambah membuat jantung Jaejoong berdetak kencang. "Joongie~" kata Yunho lagi berharap-harap cemas.

"Na.."

"Hmm?"

"Na...peun! Huh! Kau menyatakan cinta ditempat seperti ini? Kau sungguh tak romantis Jung!" jawab Jaejoong dan segera berbalik dan meninggalkan Yunho. Oh, sebenarnya dimana mereka berada? Ternyata oh ternyata, mereka tengah berada didepan sebuah pintu dengan tulisan 'MAN' didepannya. Kalian pasti sudah bisa menebak bukan ditempat apa mereka sekarang?

Yunho hanya bisa bengong mendengar ucapan Jaejoong. Namun detik berikutnya senyum terlukis diwajahnya sambil menatap punggung Jaejoong yang semakin menjauh dari pandangannya.

::

::

YUNJAE

::

::

Siang berganti senja dan menyisakan semburat jingga dilangit sore. Nampak semua karyawan Jung Corp telah bersiap pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan namja cantik kita yang tengah membereskan semua peralatan kerjanya dan bersiap pulang.

"Kau belum pulang Jae?"

Srett

Jaejoong menolehkan kepalanya kesumber suara, dan dilihatnya sang atasan a.k.a Jung Siwon tengah berdiri dihadapannya dengan senyum mengembang diwajahnya. Ah, walaupun ia nampak tesenyum di depan, namun sebenarnya hatinya masih belum tertata sempurna.

"Oh? Hyung? Ani, sebentar lagi aku pulang." jawab Jaejoong sambil terus memasukkan peralatan kerjanya. Ya walapun sudah resmi berpisah, namun mereka tetap menjalin hubungan baik. "Kau sendiri belum pulang hyung?" tanya Jaejoong lagi dan kini sudah bersiap untuk pulang.

"Ani. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan." jawab Siwon dan mendapat anggukan dari Jaejoong.

"Kau terlalu keras bekerja hyung. Istirahatlah yang cukup, jangan terlalu memaksakan diri." lanjut Jaejoong sambil tersenyum memandang Siwon. "Emm, kalau begitu aku duluan ne hyung. Sepertinya Chunie sudah menungguku."

"Ne baiklah, hati-hati dijala-"

"Joongie-ah." belum sempat Siwon menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara sudah lebih dulu memotongnya. "Kajja kita pulang." lanjut suara itu lagi yang kalian sudah pasti tahu siapa itu.

"Ah hyung kau belum pulang?"

"Ne, masih ada beberapa hal yang harus kukerjakan."

"Em, baiklah. Kajja Joongie."

Srett

Plakk

"Huh! Shireo! Aku pulang dengan Chunie saja." seru Jaejoong dan menampik tangan Yunho yang ingin menggandengnya, segera setelahnya ia berjalan kencang dan tak lupa mempoutkan bibirnya masih merasa kesal dengan insiden siang tadi.

Sementara Yunho? Ah, dirinya hanya bisa melongo karna Jaejoong kembali ngambek padanya. Namun ia tak mengejar Jaejoong, biarlah sekarang Jaejoong menenangkan diri dulu.

"Kalian bertengkar?" tanya Siwon yang menyaksikan live action tadi.

"Nde? Ah, ania. Ia hanya sedikit salah paham." jawab Yunho sambil terkekeh kecil. "Ya sudah hyung, aku pulang dulu ne. Jaga kesehatanmu, dan jangan terlalu serius bekerja." nasehatnya sebelum melangkah pergi dengan senyum yang tak pernah pudar diwajah tampannya.

.

.

Jaejoong sampai dengan selamat dikediamannya. Masih dengan raut kesal diwajahnya, Jaejoong melangkah masuk keapartemnentnya dengan langkah kaki yang menghentak-hentak. Uhh, uri Jaejoong. Sebenarnya kenapa dia terlihat seperti anak gadis yang sedang datang bulan ne? Sangat sensitif.

Bruukk

Jaejoong menghempaskan tubuhnya disofa apartementnya sesaat setelah dirinya masuk rumah. Bahkan dirinya tak membalas sapaan yang Junsu berikan saat membukakan pintu tadi.

"Jae hyung kenapa Chunie?" tanya Junsu merasa sangat heran dengan kondisi hyungnya itu. "Kenapa ia pulang denganmu? Bukannya ia betangkat bersama Yunho hyung tadi?"

"Mollayo. Dari siang tadi moodnya memang sangat buruk." jawab Yoochun sambil mendekatkan wajahnya pada Junsu dan-

Cup~

Satu kecupan berhasil dilayangkan namja jidat itu pada Junsu.

"Ck kau ini. Sana pulang, dan gomawo sudah mengantarkan Jae hyung." kata Junsu dan mengusir sang namjachingu.

"Yak, kejam sekali dirimu. Bukannya mengizinkanku masuk malah aku diusir. Kekasih macam apa kau itu?" cemberut Yoochun karna dirinya diusir dengan tidak elitnya oleh Junsu.

"Ani, kau bau. Sana pulang lalu mandi." Junsupun sedikit mendorong bahu Yoochun dan detik berikutnya hanya suara debaman pintu yang terdengar.

Blamm

"Yak! Aiss, kejam sekali sih!" gerutu Yoochun kesal. "Walaupun begitu, aku tetap menyayangimu Su-ie. Saranghaeyo." teriak Yoochun lagi dan setelahnya ia berjalan pelan pulang kerumahnya.

Lima belas menit berlalu, kini Jaejoong tengah sibuk membuat makan malam, dirinya tengah sibuk mengaduk sup sementara Changmin dan Junsu tengah mandi.

Ting tong

Terdengar suara bel yang dipencet, membuat Jaejoong menghentikan kegiatannya dan mulai keluar untuk membukakan pintu, masih dengan celemek yang melekat ditubuhnya.

Ting tong

"Ne chakaman." teriak Jaejoong karna sang tamu sedikit tak sabaran.

Ceklekk

"Annyeong."

"Ck, kau lagi. Mau apa kesini?" ketus Jaejoong setelah melihat siapa yang datang. Moodnya tiba-tiba kembali rusak gara-gara kedatangan namja dihadapannya ini.

"Aiss Joongie, aku kesini karna merindukan kalian. Ah, Minie eodiya?" tanya Yunho-sang tamu-dan dengan seenak jidat Yoochun masuk kedalam.

"Yah, siapa yang menyuruhmu masuk! Aiss, jinja!"

"Minie, ini appa chagy." teriak Yunho karna tak menemukan Changmin dimana-mana. Namun detik berikutnya-

"APPA!"

Teriakan Changmin terdengar dari arah kamar mandi karna mendengar suara Yunho. "Minie macih mandi appa."

"Ah, kau masih mandi. Mandi yang bersih eoh!" teriak Yunho lagi sambil tersenyum. Melihat Yunho yang sangat perhatian begitu pada Changmin, tak terasa ia tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.

"Ada yang bisa kubantu Joongie?" tanya Yunho sambil berjalan mendekati Jaejoong. Dirinya tak bisa tahan untuk tak berdekatan semenit saja dengan Jaejoongienya.

"Ania, kau duduk saja. Aku tak mau kau mengganggu kegiatan memasakku." jawab Jaejoong tetap ketus, walaupun sebenarnya ia merasa gugup karna Yunho berada dikdekatnya.

"Eum, baiklah. Aku akan diam disini sambil memperhatikanmu memasak ne, Jaejoongie."

"Ck, terserahmu."

.

.

Setelah tadi makan malam bersama, kini YunJaeMin tengah berada diruang keluarga. Junsu sendiri sudah masuk ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Memang kebiasaan mereka setelah selesai makan, mereka akan bersantai di ruang keluarga. Seperti sekarang, nampak Yunho dan Changmin yang tengah asik bermain bersama sementara Jaejoong tengah berkutat dengan laptopnya.

"Joongie, besok hari libur, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan. Sudah lama bukan kita tak pergi jalan-jalan?" tanya Yunho memulai percakapan. Diliriknya Jaejoong yang masih tetap sibuk dengan laptopnya itu.

"Eoh? Jalan-jalan?" tanya Jaejoong balik, tanpa melepaskan pandangannya dari arah laptop.

"Kalau sedang bicara, tataplah lawan bicaramu itu Joongie." kesal Yunho karna Jaejoong malah asik dengan laptopnya tanpa memandang dirinya. "Lagipula besok hari libur, beristirahatlah sebentar, jangan kerja terus."

"Ck, ne ne tuan bear." jawab Jaejoong malas dan beranjak dari duduknya. "Kau mau jalan-jalan Minie?" lanjutnya bertanya pada Changmin dan ikut duduk menyebelahi anaknya.

"Umm, Minie mau!" jawabnya girang sambil tersenyum memamerkan deret gigi susunya.

"Kau mau jalan-jalan kemana?"

"Minie mau ke taman belmain eomma. Ne appa?"

"Sepertinya tak buruk. Bagiamana Joongie? Kita ketaman bermain?" tanya Yunho berharap-harap cemas dengan jawaban Jaejoong. Ditatapnya Jaejoong dengan pandangan memohon. Bahkan Changmin juga ikut memasang puppy eyesnya agar sang eomma mau.

"Ne baiklah. Kita akan jalan-jalan ke taman bermain besok." putus Jaejoong dan seketika membuat HoMin berteriak kencang saking senangnya. Senyumpun terlukis diwajah keduanya sambil berhigh five ria. Namun dibalik senyuman Yunho itu, ia menyeringai senang karna mangsanya masuk perangkap.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hohoho,, saya kembaliii.. Osoku natte hontouni gomennasai.. Gomennasai untuk keterlambatannya, kemarin saya sempat mengalami serangan WB.. Tapi untunglah segera berakhir dan saya bisa melanjutkan cerita ini ^^

Apa ada yang masih menunggu kelanjutan FF ini? Kriikk krriikkk

Ada yang tahu maksud seringai Yunho itu apa? Apa yang bakal dilakukan Yunho saat mereka ditaman bermain? Penasaran? Kalo penasaran silahkan ditunggu chap berikutnya ne #modus

Apa YunJae momentnya sudah pas? Part mana yang kalian suka? Favorit saya adalah saat Yunho meluk Jaejae didapur itu, haha, momentnya pas banget dan bahkan saya senyum-senyum sendiri waktu ngetiknya. Hoho,, kebayang aja gimana romantisnya mereka berdua.. Ukhhh,, irii #lari peluk Dongwoon

Arigatou gozaimasu bagi kalian yang sudah membaca, memfollow, dan memfavoritkan ff ini, dan big thank's juga buat :

Himawari Ezuki , dhian930715ELF , teukieangle , Vic89 , diya1013 , 6002nope , yuezz4 , Guest , Junghyejung , J , iru iru g , Anik0405 , Ny Cjo Evil , yoon HyunWoon , hana sukie , SimviR , YJboo , danactebh , RedsXiah , jihee46 , zhe , PiePilly , Jungsooah , haruka-chan , 3kjj , ajid yunjae , chinderella cindy , vampireyunjae , Yunholic , okoyunjae , Ryukey , Kim eun neul , myeolchi gyuhee , Jaena , SiDer Tobat , VoldeMIN vs KYUtie , My beauty jeje , Jung neul neul , Hana-Kara , bumkeys , yunjaejaeho , akiramia , subarashihito , t , merry jung , wookie nach , magnaeris , BLUEFIRE0805 , 9194YJS , nickeYJcassie , geelovekorea , Kim RyeoSungHyun , Na BearBoojae , Augesteca , nana6002 , kjhwang , hatakrhanahungry , Boojaejoongie is mine , Desty Cassie , Dennis Park , farla 23 , Zheyra Sky , CAsshiper Jung , Ai Rin Lee , RiRy Fujoshi , Saltybear , arza

Arigatou karna sudah memberi review di chap 4 kemarin. Mohon reviewnya kembali ne untuk chap ini.

Salam juga buat kalian new reader, and thanks juga bagi sider yang sudah mau membaca lanjutan cerita ini. Lain kali kalo bisa monggo atuh direview, supaya saya bisa kenal kalian juga ^^

Minnasan, Review onegaishimasu...