Can i get new Appa, Eomma?

.

Cast : Jung Yunho (30 tahun)

Kim Jaejoong (27 tahun)

Kim (Shim) Changmin (3 tahun)

Other cast : Jung (Choi) Siwon (33 tahun)

Park Yoochun (26 tahun)

Kim Junsu (25 tahun)

Son Dongwoon (24 tahun)

Pairing : Yunjae, Yoosu

Genre : YAOI/Shonen-ai/Family/Humor/MPreg

Chapter : 6 (enam)

Warning : cerita pasaran dan tidak jelas, judul tak nyambung dengan cerita, alur sesuai mood saya, typo(s)bertebaran, bahasa tidak baku dan tak sesuai dengan EYD.

.

.

Jja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

::

::

YUNJAE

::

::

"Kau mau jalan-jalan kemana?"

"Minie mau ke taman belmain eomma. Ne appa?"

"Sepertinya tak buruk. Bagiamana Joongie? Kita ketaman bermain?" tanya Yunho berharap-harap cemas dengan jawaban Jaejoong. Ditatapnya Jaejoong dengan pandangan memohon. Bahkan Changmin juga ikut memasang puppy eyesnya agar sang eomma mau.

"Ne baiklah. Kita akan jalan-jalan ke taman bermain besok." putus Jaejoong dan seketika membuat HoMin berteriak kencang saking senangnya. Senyumpun terlukis diwajah keduanya sambil berhigh five ria. Namun dibalik senyuman Yunho itu, ia menyeringai senang karna mangsanya masuk perangkap.

.

.

Mentari pagi yang menyilaukan, membuat seorang namja cilik menggeliat pelan terusik dari tidurnya. Nampak namja kecil itu terganggu tidurnya karna sinar matahari yang menyilaukan matanya.

"Eungh," lenguhan keluar dari bibir namja cilik itu, dan perlahan matanya terbuka. "Eom..ma." igaunya masih dengan mata yang setengah terpejam.

"Uum." lenguhnya lagi. Namun kali ini mata namja cilik itu terbuka pelan. "Eomma." panggilnya lagi dan segera setelahnya ia bangun dari tempat tidur dan bergegas menemui sang eomma.

"Eomma, Minie mau mandi~" teriaknya girang sambil berlari kecil keluar dari kamar. Dilangkahkannya kaki kecilnya berlari menuju dapur tempat dimana seorang namja cantik tengah sibuk dengan kegiatannya.

Brukk

Dan tubuh gembul namja cilik itupun dengan sukses mendarat di tubuh sang eomma.

"Minie-ah, kau sudah bangun?" tanya Jaejoong yang sedikit kaget karna Changmin datang tiba-tiba dan langsung memeluknya begini.

"Minie mau mandi, Minie mau jalan-jalan eomma." lapor Changmin sambil tersenyum manis.

"Aiss, Changminie. Ini masih pagi chagy. Bahkan eomma belum selesai memasak." jawab Jaejoong sedikit geli dengan anaknya itu. Bagaimana seorang Changmin yang bangun pagi hanya karna tak sabar ingin pergi jalan-jalan.

"Eoh? Tapi kita jadi jalan-jalan kan?" tanya Changmin lagi dan mendapat anggukan dari Jaejoong.

"Ne."

"Yakcok?"

"Yaksok. Kajja tidur lagi, kau ini. Ada maunya saja baru bangun pagi." kata Jaejoong pura-pura kesal dan mengusap pelan rambut Changmin. "Kka, kembali ke kamarmu."

"Chiluh. Minie mau bobo cama Cu-ie jumma caja." kata Changmin dan bergegas ke kamar Junsu, entah apa yang akan diperbuatnya, karna nampak senyum evil darinya saat berlari menuju kamar Junsu.

"Anak itu, ada maunya saja baru ia bangun pagi." gumam Jaejoong dan bersiap untuk melanjutkan kegiatannya, namun baru bebrapa detik kembali bergelut dengan masakannya, tiba-tiba suara lengkingan Junsu terdengar menggema di dalam apartement itu.

"YAK. KIM CHANGMIN! AWAS KAU BOCAH!"

"Astaga, ada apa?" teriak Jaejoong dan bergegas menuju kamar Junsu untuk memastikan keadaan disana. "Waeyo?" tanyanya lagi setelah sampai didalam kamar.

"Tanyakan saja pada anakmu itu hyung!" jawab Junsu pedas dan memasang wajah super masam.

"Waeyo Minie-ah?" tanya Jaejoong beralih menatap Changmin yang tengah duduk tenang di atas kasur Junsu.

"Ani, Minie cuma tepok pantat Cu-ie jumma, coalnya Minie mau main tapi Minie bangunin Cu-ie jumma gak bangun-bangun." jawab Changmin polos sambil nyengir kearah JaeSu.

"Astaga, kau ini. Eomma kan sudah bilang kembali tidur, kenapa malah main eoh."

"Minie gak ngantuk eomma."

"Hah, ya sudah. Sini sama eomma saja, jangan ganggu Su-ie jussi."

"Ne."

JaeMin pun segera keluar dari kamar Junsu tanpa lupa sebelumnya Jaejoong menyuruh Changmin untuk meminta maaf pada Junsu.

.

.

Jaejoong tengah menata hidangan sarapan dimejanya, beberapa kali ia nampak bolak-balik dari dapur ke ruang makan. Nampak Changmin yang juga ikut membantu pekerjaan sang eomma, entahlah namun pagi ini Changmin terlihat berbeda dari biasanya.

Bangun pagi dan ikut membantu sang eomma? Eoh, dua hal yang sangat amat jarang dilakukan seorang Kim Changmin dan bahkan itu bisa dihitung dengan jari.

"Ini taluh dimana eomma?" tanya Changmin saat dirinya kesusahan menaruh mangkuk makan miliknya.

"Taruh disni." jawab Jaejoong sambil menyentuh permukaan meja makan tempat dimana Changmin biasa duduk. Changminpun segera berlari memutar menuju tempat yang ditunjukkan Jaejoong lalu menaruh mangkuk makannya disana.

"Celecai. Eomma, Minie mau mandi." teriak Changmin lagi dengan semangat sambil berlari menuju sang eomma.

"Kau mau mandi? Ne kajja kita mandi bersama." jawab Jaejoong dan segera menggendong tubuh Changmin, membukakannya baju dan setelahnya memandikan anaknya itu. Ah, betapa senangnya Changmin bisa mandi bersama sang eomma, sudah lama ia tak mandi dengan eommanya itu.

Sepuluh menit membersihkan diri, kini JaeMin pun sudah rapi. Kini Jaejoong tengah merapikan rambut Changmin didepan cermin, sementara Changmin sedari tadi tak pernah berhenti berceloteh mengenai rencana saat jalan-jalan nanti.

"Minie juga mau beli mainan ne eomma, beli ec klim dan juga gula kapac." teriak Changmin girang saat membayangkan membeli makanan saat mereka jalan-jalan.

"Ne, kau boleh membeli semuanya. Sekalian saja kita kuras habis dompet tuan beruang itu." jawab Jaejoong terkikik sendiri dengan ucapannya.

"Hihi, appa beluang." kata Changmin mengikuti ucapan Jaejoong.

"Yak sudah sekesai." teriak Jaejoong bertepatan dengan suara bel dipintu.

Ting tong

"Sebentar." seru Junsu yang kebetulan berada dekat dengan pintu.

Cekeleekk

"Annyeong."

"Yunho hyung? Ah, kajja masuk hyung." ajak Junsu dan mempersilahkan Yunho untuk masuk. "Mau minum apa hyung?" tanya Junsu setelah mereka duduk diruang tengah.

"Anio, tak usah repot. Minie, eodiya?"

"Dicini appa~" teriak Changmin memotong pertanyaan Yunho, segera saja ia berlari kearah sang appa dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

"Kau sudah bangun?" tanya Yunho saat melihat Changmin yang sudah rapi. "Humm, kau sangat wangi." lanjutnya sambil menghirup wangi Changmin yang sangat mirip dengan aroma tubuh Jaejoong.

"Hihi, ne Minie cudah mandi appa. Minie ciap~" teriak Changmin girang dan memeluk sayang sang appa.

"Eomma eodiya?" tanya Yunho lagi karna tak melihat keberadaan Jaejoong.

"Aku disini. Kajja sarapan dulu, aku yakin kau belum sarapan." entah datang dari mana, Jaejoong tiba-tiba menyahut ucapan Yunho dengan sedikit ketus. Eoh, nampaknya namja cantik kita masih kesal dengan kejadian kemarin.

Yunho tak dapat berkedip melihat penampilan Jaejoong, eoh lihatlah bahkan sekarang Yunho tengah menatap lapar kearah Jaejoong. Bagaimana ia tidak terpesona, lihatlah Jaejoong. Ia hanya mengenakan kaos v-neck putih longgar yang mempertontonkan leher jenjangnya. Jangan lupakan celana skinny jeans yang membalut sempurna kaki jenjangnya.

"Yak, kau mau diam melototiku terus?" kesal Jaejoong karna Yunho tak merespon ucapannya, malah ia terbengong menatap Jaejoong.

"Hyung, hyung, Yunho hyung." bisik Junsu pelan karna menyadari Yunho yang diam tak bergerak.

Merasa bahunya diguncang, Yunhopun tersadar dan segera mengerjabkan matanya pelan, "Eoh? Ne, kajja kita sarapan." jawab Yunho sedikit salah tingkah dan bergegas menggendong Changmin menuju meja makan.

.

.

Setelah sarapan bersama, kini YunJaeMin sudah bersiap untuk pergi jalan-jalan. Terlihat kini Changmin yang tengah berlari kecil kesana kemari sembari menunggu sang eomma yang menyiapkan bekal makanan. Ya, kalian sudah tau sendiri bukan bagaimana cintanya Changmin pada makanan? Jadi tak mengherankan untuk Jaejoong membawa bekal seperti ini.

Junsu sendiri setelah selesai sarapan, sudah menghilang bersama Yoochun. Nampaknya dua sejoli itu ingin mengahabiskan waktu bersama. Mumpung Changmin juga sedang pergi bersama bumoninya. Kesempatan bagi mereka berdua untuk berduaan.

"Minie jangan lari-lari, nanti kau terjatuh." tegur Yunho karna takut melihat Changmin yang berlari-lari seperti itu. Entah kenapa Changmin hari ini nampak sangat bahagia dan bersemangat. Terbukti sejak pagi tadi dirinya terus menerus tersenyum bahagia dan ceria.

"Hihihi, Minie gak akan jatuh appa." teriak Changmin masih sambil berlari-lari didalam apartementnya.

"Minie! Berhenti, atau kita tak jadi jalan-jalan!" bentak Jaejoong setelah dirinya selesai membereskan kotak bekalnya, dan langsung saja hal itu membuat Changmin mempoutkan bibirnya kesal dan menyudahi acara lari-lariannya.

"Kau sudah siap?" tanya Yunho pada Jaejoong setelah memastikan Changmin benar-benar sudah tak berlarian. Segera ia melangkah mendekat kearah Jaejoong dan mengambil kotak bekal yang tengah dibawanya.

"Ne. Aku sudah siap." jawab Jaejoong salah tingkah saat matanya bertemu pandang dengan mata Yunho yang menatapnya dalam.

'Sial, kenapa kau begitu tampan beruang!'

Yunho tersenyum tipis saat menyadari Jaejoong yang menatapnya tanpa berkedip, segera saja ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri satu kecupan dipipi ranum Jaejoong.

Cup~

"Kajja." ajaknya lagi lalu menggandeng tangan Jaejoong dan tak lupa menyuruh Changmin untuk berjalan duluan.

Jaejoong hanya bisa menundukkan wajahnya malu saat otaknya baru menyadari kalau Yunho sudah mencuri ciuman dipipinya.

Ting

Pintu lift terbuka dan mengantarkan keluarga bahagia itu dilantai dasar. Segera setelahnya Yunho mengambil mobilnya dan tak lupa menaruh semua bekal yang dibawanya tadi dijok belakang. Jaejoong dan Changminpun naik dikursi penumpang dan segera setelahnya mobil melaju dengan kecepatan sedang.

Diperjalanan, senyum tak pernah pudar dari wajah Yunho. Terlihat jelas kalau dirinya tengah bahagia. Apa kira-kira yang menyebabkan tuan Jung kita ini nampak begitu bahagia? Apakah karna ia bisa berjalan bersama orang yang disayanginya? Atau ada hal lain yang membuatnya begitu bahagia?

::

::

YUNJAE

::

::

Dua puluh menit dalam perjalanan, kini keluarga bahagia YunJaeMin pun sudah tiba ditaman bermain. Nampak binar bahagia dari Changmin saat mata bulatnya menangkap pemandangan taman bermain dihadapannya. Segera saja senyum ceria mengembang diwajahnya dan ia pun sudah tak sabar untuk turun dan segera bermain. Sementara YunJae hanya mengulum senyum saat melihat antusiasme Changmin itu.

"Appa, appa, kajja tulun. Minie mau main." rengek Changmin saat Yunho tak kunjung keluar dari mobil.

"Ne ne, baiklah. Kajja kita turun~" teriak Yunho tak kalah semangatnya dari Changmin. Segera ia turun dan membukakan pintu untuk JaeMin. Digendongnya Changmin dari pangkuan Jaejoong dan setelah menutup pintu iapun menggandeng hangat tangan Jaejoong dengan tangannya yang bebas. Dan dengan senyum mengembang diwajahnya, ditariknya pelan tubuh Jaejoong untuk berjalan disampingnya masih dengan tangan yang saling bertautan.

"Appa beli tiketnya dulu ne." kata Yunho dan menyerahkan Changmin pada Jaejoong. Iapun berlalu dari JaeMin menuju loket pembelian tiket. Tak lama berselang, Yunho datang dengan 3 tiket ditangannya dan mengundang pekikikan bahagia dari Changmin.

"Yeyyy, kajja macuk~" semangat Changmin dan meminta diturunkan dari gendongan eommanya. Setelahnya iapun dengan tak sabar meminta satu tiket dari Yunho dengan senyum mengembang diwajahnya.

"Kajja." ajak Yunho menggandeng tangan Changmin dan Jaejoong yang mengekor dibelakangnya.

Sesampainya mereka didalam, kembali Changmin tak bisa menyembunyikan rona bahagianya. Nampak matanya berbinar bahagia karna akhirnya ia bisa pergi ketaman bermain juga. Mengingat kesibukan Jaejoong, ia hampir tak pernah menghabiskan waktu bersama eommanya itu.

"Howaa, Minie mau naik cemua~" teriak Changmin sambil matanya menjelajahi semua wahana yang terhampar dihadapannya.

"Eomma, eomma. Lihat, lihat. Waaa, kelen!" pekik Changmin saat matanya melihat wahana bianglala dari kejauhan.

"Nanti kita bisa naik itu, sekarang Minie mau naik apa dulu hmm?" tanya Yunho yang kini sudah berjongkok dihadapan Changmin.

"Minie mau naik cemuanya appa, hihi, cemuanya."

"Semuanya? Ne, baiklah. Kajja kita mulai dengan naik komidi putar itu. Kajja." Yunhopun menarik tangan Changmin dan segera menuntun bocah itu sampai di wahana komedi putar. Setelah menunggu bebetapa lama, akhirnya mereka bisa naik.

"Eomma, kajja naik." teriak Changmin saat melihat sang eomma hanya diam didepan wahana.

"Kajja, Joongie naik. Waeyo? Kau takut?" kata Yunho dan segera saja mengundang kesal seorang Jaejoong.

"Yak, untuk apa aku takut!" protes Jaejoong dengan wajah yang kesal, dan setelahnya iapun naik menyebelahi Changmin.

"Yuhuhu, kajja jalan, jalan~" teriak Changmin bahagia sangat menikmati wahana komidi putar yang tengah dinakinya.

"Sekarang Minie mau naik apa?" tanya Yunho setelah mereka turun dari komidi putar. Changmin nampak berfikir sebelum akhirnya memutuskan untuk naik wahana khusus anak-anak lainnya.

"Acikk, wuuyyyy~"

Changmin tak henti-hentinya tersenyum bahagia saat bisa menaiki semua wahana yang ada ditaman bermain itu. Rasanya sangat membahagiakan bisa bermain sepuasnya, terlebih lagi itu bersama dengan eomma dan appanya. Sungguh kebahagiaan yang tak pernah Changmin bayangkan sebelumnya.

Rasanya sangat menyenangkan bisa pergi dengan appa dan eommanya, apalagi mereka pergi ketempat yang sudah lama ia ingin kunjungi.

Senyum selalu mengembang diwajah bulat Changmin, namun tak jarang pula ia memberenggut tak senang saat Yunho melarangnya naik wahana yang extreme, mengingat usia Changmin yang belum boleh menaiki wahana itu. Seperti sekarang, Yunho tengah membujuk Changmin yang kelihatannya kesal karna tak diizinkan naik wahana roller coaster dihadapannya.

"Huh, Minie mau naik itu appa." kekeh Changmin sambil menunjuk roller coaster dihadapannya. Bisa Changmin lihat betapa mendebarkannya jika bisa naik wahana itu, suara teriakan orang-orang yang naik itu sama sekali tak menggetarkan Changmin untuk bisa naik. Malah ia sangat ingin agar bisa naik wahana itu, padahal jelas-jelas kalau wahana itu hanya boleh dinaiki oleh orang dewasa.

Yunho sendiri sudah kewalahan dengan keinginan Changmin itu. Jaejoongpun tak banyak membantu karna Changmin nampaknya benar-benar tengah kesal.

"Kita naik wahana lain saja ne Minie-ah, wahana itu terlalu berbahaya untukmu chagy." kata Jaejoong berusaha membujuk Changmin.

"Chiluh. Minie mau naik itu!" teriak Changmin keras kepala. Dipoutkannya bibirnya kesal karna permintaannya kali ini tak dituruti oleh Yunho dan Jaejoong.

"Minie-ah, jangan begitu chagy. Wahana itu tak bisa kau naiki, nanti kalau kau sudah cukup besar, baru kau bisa naik wahana itu." kata Jaejoong lagi mencoba mengambil hati anaknya. Changmin menoleh pelan pada Jaejoong saat mendengar kalau dirinya boleh naik tapi kalau ia sudah cukup besar, dan itu membuatnya sedikit senang.

"Jinja? Kalo Minie udah becal Minie boleh naik itu?" tanya Changmin memastikan.

"Ne, tentu kau boleh naik chagy." jawab jaejoong lembut sambil mengusap pelan rambut tebal Changmin.

"Acikk, nanti kalo Minie uda gede, kita kecini lagi ne, eomma, appa?" tanya Changmin sambil memandang Yunho dan Jaejoong.

"Ne, tentu saja chagy."

"Tentu. Nah, sekarang lebih baik kita istirahat dulu, otte?"

"Chiluh, Minie macih mau main. Kajja appa, Minie mau kecana. Minie tadi liat ada penjual gula kapac, Minie mau~" rengek Changmin sambil menarik-narik ujung kaos Yunho.

"Kau mau gula kapas? Kajja kita beli." jawab Yunho sambil bersiap berjalan, "Kajja Joongie."

.

.

Setelah membeli gula kapas, YunJaeMin pun duduk disalah satu bangku ditaman bermain itu, dengan masing-masing membawa setangkai(?)gula kapas ditangan mereka. Nampak gula kapas Changmin paling besar diantara mereka bertiga, itu karna Changmin merengek meminta sang penjual agar membuatkannya porsi jumbo. Ck, ada-ada saja keinginan bocah gembul itu.

"Manic, gula kapacnya manic cekali." kata Changmin sambil terus memasukkan gula-gula itu kedalam mulutnya.

"Sampai rumah kau harus sikat gigi eoh. Jangan sampai gigimu berlubang nanti." nasehat Jaejoong dan hanya dianggap angin lalu oleh Changmin.

"Appa, Minie mau coba punya appa ne, coalnya punya appa walnanya beda." rengek Changmin saat melihat gula kapas Yunho yang berwarna putih, berbeda dengan gula kapas yang dibawanya dan dibawa Jaejoong yang sama-sama berwarna merah muda.

"Eoh? Kau mau mencobanya?" tanya Yunho sambil menatap Changmin. "Baiklah. Buka mulutmu, aaa-"

"Aaa, ammm. Machita!" pekik Changmin girang. Eoh? Bukankah semua masakan selalu enak bagi Changmin, dan lagi bukankah semua gula kapas rasanya sama saja? Ckck, Changmin kau hanya beralasan bukan, katakan saja kalau kau juga menginginkan gula kapas milik appamu.

"Joongie, kau mau coba?" tanya Yunho sedikit modus pada Jaejoong.

Jaejoong segera menolehkan wajahnya saat mendengar Yunho memanggilnya, "Nde?"

"Apa kau mau mencoba gula kapas milikku?" tanya Yunho sambil tersenyum mesum pada Jaejoong.

"Ani, aku sudah punya." jawab Jaejoong cepat tak tahan dengan seringai mesum Yunho itu.

"Tapi eomma gula kapac punya appa itu enak, eomma haluc coba." kata Changmin ikut mengompori Jaejoong. Yunho hanya tersenyum tipis saat Changmin secara tak langsung membantunya.

"Ne baiklah, sini berikan padaku." jawab Jaejoong cepat.

"Ani, sini buka mulutmu."

"Eh?"

"Kajja eomma buka mulutnya, kayak Minie, aaa-" kata Changmin sambil membuka mulutnya lebar memberi contoh pada Jaejoong.

"Yah!"

"Joongie~"

"N..ne, aaa-"

Aumm

"Bagaimana?" tanya Yunho setelah menyuapi Jaejoong gula kapas itu.

"Biasa saja."

"Kau mau yang tak biasa? Sini biar aku berikan contohnya." kata Yunho dan berjalan memutar kesisi Jaejoong. "Ini, makanlah dari sisi sini." lanjutnya lagi dan memposisikan gula kapas itu ditengah-tengah mereka.

"Eoh? Memangnya rasanya akan berbeda kalau dimakan dengan cara itu?" tanya Jaejoong polos tak mengerti modus sang beruang yang kini sedang menyeringai.

"Tentu, makanya kau harus mencobanya." jawab Yunho berusaha meredam tawa kemenangannya.

"Baiklah, akan kucoba."

Dan Jaejoongpun mulai memakan gula kapas itu perlahan, Yunhopun melakukan hal yang sama di sisi lainnya. Semakin lama gula kapas itupun semakin menipis, akibat YunJae yang memakannya. Semakin menipis gula kapas itu, seringai semakin jelas tercetak diwajah Yunho, Jaejoong sendiri tak menyadari seringai itu dan terus saja memakan gula kapas itu. Semakin tipis gula kapas itu, otomatis wajah keduanyapun juga semakin dekat, hingga akhirnya Yunho diam tak melanjutkan makan gula kapas itu dan membiarkan Jaejoong makan sendiri, dan tepat saat wajah Jaejoong sudah berada didepannya, segera saja Yunho menarik keluar tangkai gula kapas itu bertepatan pula dengan Jaejoong yang membuka mulutnya guna memakan sisa gula kapas itu, namun-

Cup~

Bibir cherry Jaejoong dengan sukses membentur pelan bibir hati Yunho. Jaejoong membelalakkan matanya kaget menyadari apa yang baru terjadi. Dan segera saja ia mendorong bahu Yunho sehingga tautan keduanya terlepas.

"Neo micceoseo!" teriaknya lantang sambil mendelik sebal pada Yunho. Yunho sendiri bukannya takut dengan kemarahan Jaejoong, justru dirinya tertawa pelan saat melihat wajah Jaejoong yang kini sudah memerah.

"Yak! Apa yang kau tertawakan!" teriak Jaejoong merasa sangat kesal karna sudah ditipu oleh tuan beruang itu.

"Hihi, eomma lucu." kata Changmin yang juga ikut tertawa bersama Yunho.

"Yah, kalian kenapa menertawakanku. Aiss, jinja!"

"Haha, bagaimana Joongie? Rasanya lebih manis bukan?" tanya Yunho disela tawanya.

"Huh, a..aku mau ke kamar mandi!" jawab Jaejoong cepat tak tahan dengan suasana yang mengintimidasinya.

.

.

Setelah insiden gula kapas tadi, Jaejoong masih saja merasa kesal. Terbukti sedari tadi ia hanya menampakkan wajah masam dengan bibir terpout lucu. Tak tahu saja justru kalau ia melakukan pose itu, keselamatan bibirnya tak akan terjamin.

"Kalau kau memajukan bibirmu seperti itu terus, aku tak jamin kalau aku tak akan menerkammu lagi Joongie." kata Yunho sambil melirik pelan kearah Jaejoong dengan Changmin yang sudah berada digendongannya.

"Dasar mesum!" gerutu Jaejoong mencebil pelan kearah Yunho.

"Tapi kau menyukainya bukan?" goda Yunho dan membuat Jaejoong mendelik sebal padanya.

"Huh!"

"Eomma, Minie lapel~" lapor Changmin yang berada digendongan Yunho. Ah, rupanya bocah cilik itu merasa kelelahan karna belum makan, makanya ia minta digendong oleh sang appa.

"Omo, mian eomma lupa. Ini sudah siang. Pantas Minie lapar. Jaa, kita makan siang dulu eoh." jawab Jaejoong dan segera mengambil Changmin dari gendongan Yunho.

"Sana ambilkan makan siangnya. Aku tunggu disini." perintah Jaejoong pada Yunho dengan nada ketus, ah pastinya Jaejoong masih sebal dengan insiden gula kisseu tadi. Yunho hanya mengangguk tak berniat menggoda Jaejoong lagi.

"Ne, chakamaneyo." jawab Yunho dan berjalan pelan menuju mobilnya guna mengambil kotak bekal yang tadi dibawa Jaejoong.

Sembari menunggu, Jaejoong mengajak Changmin melihat-lihat toko yang ada didekat mereka. Dan saat melihat-lihat itulah, Jaejoong melihat sebuah boneka gajah besar yang dijual disalah satu toko. Segera saja matanya berbinar cerah dan berjalan mendekati boneka itu.

"Kyeopta~" pekiknya girang. Dielusnya boneka itu dengan tangannya yang bebas.

"Selamat datang nyonya, ah, apa nyonya menyukai boneka ini?" tanya seorang penjaga toko itu saat melihat Jaejoong yang terpesona dengan boneka gajah itu.

"Ah, ani. Aku hanya ingin melihat-lihat." jawab Jaejoong salah tingkah dan mulai berjalan keluar dari toko itu.

"Eomma kenapa gak beli?" tanya Changmin saat mereka sudah berada diluar. Changmin sangat tahu kalau eommanya penyuka gajah, makanya ia heran kenapa sang eomma tak membeli boneka itu.

"Ani, lain kali saja." jawab jaejoong berusaha ceria didepan Changmin, namin tetap saja ia sungguh menginginkan boneka itu.

Tak berapa lama, Yunhopun datang sambil menenteng kotak bekal yang tadi diambilnya, segera dilangkahkannya kakinya menuju tempat JaeMin berada.

"Joongie, Minie, kajja makan." teriaknya dengan suara yang sangat ceria.

"Kajja makan~"

Merekapun berjalan mencari tempat kosong untuk makan siang. Bisa dilihat kini sudah banyak pasangan keluarga yang memenuhi tempat makan yang khusus disediakan, sehingga YunJae sempat kesulitan mencari tempat kosong.

"Ah, disana kosong." teriak Jaejoong dan segera berjalan menuju tempat itu, dan tanpa menyadari tangannya yang tengah menarik pelan tangan Yunho.

Deg

Yunho terkesiap saat tangan halus Jaejoong menariknya pelan dan menggenggamnya hangat. Senyum pun mengembang diwajahnya.

"Ah, untung saja kita dapat tempat. Lihatlah, semua tempat begitu penuh." gerutu Jaejoong tak sadar masih menggenggam tangan Yunho.

"Ne, kajja kita makan." jawab Yunho dan membawa keluarga kecil itu duduk. "Wah, kelihatannya enak." pekik Yunho girang saat Jaejoong membuka kotak bekalnya, dan terpampanglah hasil masakan yang khusus dibuatnya untuk hari ini.

"Kimchi jigae?" gumam Yunho saat Jaejoong membuka kotak terakhir yang berisi kimchi.

"Ne, kau tak suka?" tanya Jaejoong pelan saat mendengar nada terkejut dari Yunho.

"A..ani, hanya saja itu makanan favoritku." jawab Yunho dengan senyum mengembang, "Kau tahu makanan kesukaanku?" tanya Yunho semangat menatap Jaejoong.

Jaejoong sendiri bingung, tak tahu kalau ternyata makanan itu adalah makanan favorit Yunho. Tak terasa senyum mengembang diwajahnya, karna secara tak sengaja membuat makanan kesukaan Yunho.

"Ani, aku hanya membuatnya." jawab Jaejoong akhirnya, walau sempat kecewa namun Yunho tetap tersenyum. Yah, walaupun Jaejoong tak sengaja membuat makanan itu, namun tetap saja itu suatu kebetulan yang tak biasa. Apakah ini tanda dari Tuhan?

"Ja, makanlah. Jangan sampai makanan ini habis duluan sebelum kau memakannya." kata Jaejoong saat melihat Changmin yang dengan rakus memakan semua masakan Jaejoong.

"Kalau semua makanan ini habis, bukankah masih ada kau yang bisa ku makan?" kata Yunho sambil tersenyum mesum ke arah Jaejoong, dan seketika membuat Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal.

"Yah! Dasar pervert!"

::

::

YUNJAE

::

::

Hari beranjak sore, namun YunJaeMin nampaknya masih betah berada ditaman bermain. Apalagi Changmin, sedari tadi ia terus merengek tak mau pulang, sebelum bisa menaiki semua wahana yang ada ditaman bermain itu.

"Appa, kajja ke lumah hantu. Minie mau macuk lumah hantu." teriak Changmin saat melihat wahana rumah hantu didepannya.

"Kau mau masuk? Apa kau tak takut?" tanya Yunho memastikan keinginan Changmin. Bukannya ia takut, hanya saja bukankah anak sekecil Changmin biasanya takut dengan hal-hal berbau hantu?

"Ani, Minie gak takut appa. Minie kan pembelani!" jawabnya lantang sambil tersenyum bangga.

"Ne, baiklah. Kajja kita masuk." jawab Yunho akhirnya setelah percaya kalau Changmin tak takut. "Kajja Joongie." ajak Yunho lagi karna tak melihat pergerakan dari Jaejoong.

"Loh, Joongie?"

"Eomma?"

"Err..a..anu, i..itu-"

"Waeyo Joongie?"

"Emm..i..itu, bi..bisakah a..aku tak usah i..ikut?" gagap Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho. Ditundukkannya wajahnya malu. Eoh? Apakah seorang Kim Jaejoong takut hantu?

"Kau takut?" tanya Yunho hati-hati agat tak menyinggung Jaejoong. Jaejoong hanya menggeleng lemah malu mengakuinya.

"Kau tak usah takut, ada aku disini. Percayalah padaku, ne?" kata Yunho mencoba meyakinkan Jaejoong. Eoh, Jaejoong sebenarnya tak takut, namun ia punya pengalaman buruk saat masuk rumah hantu. Maka dari itu ia enggan masuk rumah hantu lagi.

"Mideoyo." ucap Yunho lagi dan menyebabkan Jaejoong mendongakkan wajahnya. Entah kenapa, namun perasaan Jaejoong sangat yakin kalau ia bisa aman bersama Yunho. Dan ketakutannya tadipun menghilang saat menatap mata Yunho yang terlihat begitu meyakinkan.

"N..ne." jawab Jaejoong akhirnya dan mengangguk pelan.

"Kajja."

Yunhopun menarik pelan tangan Jaejoong dengan tangannya yang bebas, sebab sebelah tangannya sibuk menggendong Changmin yang kini tengah mengeratkan pelukannya ditubuh sang appa. Eoh, bukankah kau tak takut Changminie?

Tibalah giliran YunJaeMin untuk masuk kerumah hantu, baru beberapa langkah masuk kesana, suasana mencekampun langsung menyergap mereka. Nampak Jaejoong yang sedari tadi tak berhenti melepas pegangan tangan Yunho, malah ia semakin mengeratkan pegangannya. Takut kalau Yunho nanti meninggalkannya.

"HWAAAAA."

"KYAAAAA."

Teriakan bersahutan segera terdengar beberapa menit setelah YunJaeMin masuk, jangan ditanya lagi suara teriakan siapa itu. Jaejoong dan Changmin begitu terkejut saat mereka melewati satu pintu dan mereka segera disambut oleh hantu dengan wujub sadako. Segera saja suara melengking mereka yang terdengar membuat Yunho sedikit kaget karna keduanya berteriak tepat disebelah kupingnya.

"Kyaa, pelgi hantu jelek. Pelgi, pelgi." rancau Changmin saat dilihatnya sosok hantu itu mulai mendekat kearahnya. Segera saja ia melesakkan kepalanya ke bahu Yunho guna menghalangi pandangannya dari hantu itu.

Yunho hanya terkikik geli melihat tingkah Changmin itu, mengakunya berani namun ia malah bersembunyi dibahunya. Tak jauh beda dengan Changmin, Jaejoongpun sudah bergetar ketakutan disebelah Yunho. Nampak kini ia mengeratkan pegangannya dilengan Yunho, dan matanya tak lepas memandang takut pada sosok hantu-hantu itu. Yunhopun mau tak mau harus mengulum tawanya melihat ekspresi ketakutan Jaejoong itu. Menurutnya itu sungguh imut.

Cup~

"Tenang saja, mereka tak akan menyakitimu. Ada aku disini." kata Yunho setelah mencuri sebuah kecupan dipipi Jaejoong. Jaejoong hanya merenggut kesal karna Yunho sempat-sempatnya mencuri ciuman disituasi seperti ini.

Merekapun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri rumah hantu itu, dengan Changmin yang masih setia bersembunyi dibalik bahu sang appa, dan Jaejoong yang tak pernah lepas menggenggam lengan Yunho.

.

.

Setelah menyelesaikan perjalanan mereka dirumah hantu, nampak kini YunJaeMin tengah mengantri untuk masuk kedalam bianglala. Hari beranjak sore dan mataharipun sudah semakin tenggelam kembali keperaduannya. Wajah Jaejoongpun sudah sedikit lelah, namun melihat antusiasme Changmin yang masih sangat besar, mau tak mau iapun harus bersemangat. Entahlah, sepertinya namja cilik itu tak merasa lelah setelah seharian bermain. Apakah efek dari rasa bahagia yang dirasakannya?

Sementara Yunhopun tak kalah bersemangatnya dari Changmin. Nampak senyum terukir indah diwajah tampannya. Apalagi matanya tak pernah lepas memandang Jaejoong dan Changmin yang berdiri dihadapannya. Senyum tak pernah pudar menghiasi wajahnya, apalagi ditambah saat melihat Jaejoong yang tersenyum bercanda dengan Changmin, membuat hatinya berdebar kencang meluapkan kebahagiaannya.

"Berikutnya." panggil petugas wahana dan bertepatan dengan giliran YunJaeMin yang naik. Segera saja Yunho menggandeng tangan Jaejoong membantunya masuk kedalam bianglala itu.

"Acik, acik, Minie naik biangalay." teriak Changmin girang setelah berada didalam ruang bianglala itu.

"Bianglala chagy." ralat Jaejoong memperbaiki pengucapan Changmin.

"Apa kita bica campe diatac appa?" tanya Changmin kepada Yunho yang berada dihadapannya, dan tak menghiraukan perkataan sang eomma. Kini posisi mereka saling berhadapan, dengan Jaejoong yang duduk menyebelahi Changmin.

"Tentu saja, dan saat berada diatas nanti, appa akan tunjukkan sesuatu yang sangat indah." jawab Yunho yang diakhiri dengan senyum menawan diwajahnya. Dan tentu saja sambil menatap Jaejoong dengan senyum penuh arti.

Deg

Tiba-tiba saja jantung Jaejoong berdetak kencang saat melihat senyum Yunho itu, entah kenapa namun perasaannya merasakan nyaman saat menatap wajah tersenyum Yunho itu.

"Waa, ini belgelak lagi appa." teriak Changmin saat merasakan bianglala itu kembali begerak keatas. Bisa dilihat sekarang mereka sudah berada seperempat jalan menuju puncak.

Senjapun semakin turun menyisakan semburat jingga dilangit, menambah kesan romantis yang tercipta. Jaejoong tersenyum senang kala matanya menangkap siluet matahari yang hendak kembali keperaduannya. Sudah lama ia tak melihat sunset seperti ini, terlebih lagi ini dilihatnya bersama orang-orang yang ia sayangi.

"Indahnya~"

"Neomu yeoppo." gumam Yunho menyahut ucapan Jaejoong, bukan, jelas bukan pemandangan alam itu yang dipuji Yunho, melainkan pemandangan indah yang kini tersaji dihadapannya.

Jaejoong menolehkan wajahnya kesamping saat mendengar Yunho bergumam sesuatu, dan saat mata keduanya bertemu, tak terasa senyum tulus terlukis diwajah Jaejoong. Senyum tulus pertama yang ia tunjukkan kepada Yunho.

Ya, ia akui sekarang kalau ia sudah jatuh pada pesona seorang Jung Yunho. Dan ia bisa merasakan getaran aneh itu lagi saat matanya bertemu pandang dengan mata Yunho.

Yunhopun melakukan hal yang sama, tersenyum lembut memandang Jaejoong. Perlahan diulurkannya tangannya menyentuh tangan Jaejoong, dan menggenggamnya menyalurkan perasaan yang ia punya. Seluruh hatinya sudah ia mantapkan ia berikan kepada Jaejoong.

Greettt

Suara decitan bianglala itu terdengar bersamaan dengan berhentinya bianglala itu bergerak, membawa YunJaeMin dipuncak paling atas dari bianglala itu. Bisa dilihat kini matahari yang sudah sepenuhnya tenggelam, dan menyisakan semburat jingga dan langit yang perlahan mulai berubah warna. Lampu-lampupun kini sudah menghiasi sebagian daerah yang sudah gelap, dan menghadirkan pemandangan indah tersendiri. Bisa dilihat juga bianglala itu yang bercahaya dengan lampu berwarna-warni menghiasinya. Benar-benar suasana yang sangat romatic, membuat Jaejoong dan Changmin terpesona dengan pemandangan itu.

Yunho perlahan menghembuskan nafasnya gugup, moment inilah yang ditunggunya. Moment dimana mereka berada dipuncak bianglala dengan langit yang sudah mulai gelap dan lampu-lampu yang menjadi penghiasnya. Perlahan Yunhopun berjongkok pelan dihadapan Jaejoong.

"Jaejoongie~" ucap Yunho pelan dan membuat Jaejoong menolehkan wajah kearahnya. Dan betapa terkejutnya Jaejoong yang melihat Yunho kini tengah berlutut dihadapannya.

"Aku sudah menunggu saat ini untuk bisa mengungkapkan semuanya. Tentang perasaanku dan tentang rasaku."

"..."

"Jaejoongie, saranghae."

Deg

Jantung Jaejoong berdetak cepat tatkala mendengar perkataan Yunho tadi. Matanya membulat sempurna dan tak terasa ia balik menggenggam tangan Yunho.

"Kau tahu bukan, kalau aku sangat menyayangi kalian berdua. Dan aku ingin menjadi bagian dari kalian, aku ingin menjadi tempat kalian bersandar dan aku juga ingin menjadi pelindung bagi kalian."

"..."

"Joongie, jeongmal jeongmal saranghae. Kau adalah sumber kebahagiaanku. Kau dan Changmin adalah tujuan hidupku, aku sangat yakin akan hal itu."

"Yun..Yunho-"

"Ssstthhh, biarkan aku menyelesaikannya dulu Joongie."

"..."

"Aku sangat ingin menjadi seseorang yang penting bagi kalian, karna kalian adalah sesuatu yang sangat penting untukku."

"..."

"Karna itu-"

Srettt

"Joongie, would you marry me? Be my wife and life together till the end?"

Deg

Deg

Deg

Jantung Jaejoong berdetak cepat, kala menatap Yunho yang kini tengah berlutut dihadapannya sambil menyodorkan sebuah kotak beludru merah. Tak perlu waktu lama untuk menyadari apa yang terjadi. Jaejoong hanya menatap nanar Yunho, namun tak dipungkiri hatinya sangat senang sekarang.

"Joongie, apa jawabanmu?" desak Yunho yang sudah tak sabar ingin mendengar jawaban Jaejoong. Ia sangat yakin kalau Jaejoong juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.

"Joongie~"

Jaejoong hanya menatap dalam mata Yunho, mencari kesungguhan didalamnya. Bukannya ia tak percaya dengan Yunho, namun kali ini ia ingin memastikan lagi sebelum mengambil keputusan. Keputusan kali ini sudah menyangkut masa depannya, tak hanya dirinya melainkan juga jagoan kecilnya yang kini juga tengah menatap Yunho dengan pandangan bahagia. Entah Changmin mengerti atau tidak, namun yang jelas raut wajahnya menunjukkan perasaan bahagia yang kentara.

"A..aku-" jawab Jaejoong terbata. Kembali ditatapnya Yunho yang tengah berharap-harap cemas menanti jawabannya. Sungguh, Yunho sudah merencanakan semua ini, dan ia sangat berharap rencananya ini berjalan sempurna dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.

Jaejoong menolehkan wajahnya menatap Changmin yang juga kini tengah menatap dirinya juga. Senyum mengembang diwajah bocah cilik itu saat matanya bertemu pandang dengan Jaejoong. Hemm, nampaknya bocah cilik itu sedikit mengerti akan keadaan eomma dan appanya itu. Tak terasa Jaejoongpun tersenyum membalas senyuman Changmin, dan iapun sudah mantap dengan keputusannya.

'Minie-ah, awalnya eomma melakukan ini untuk kebahagiaanmu chagy. Tapi ternyata, eomma juga bisa merasakan apa yang kau rasakan chagy. Dan eomma harap, keputusan ini benar untuk kita berdua'

"Joongie~" desak Yunho lagi karna Jaejoong tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"..."

"..."

"Yes, yes i would Jung!"

Loading please

1

2

3

"Ja..jadi?"

"..."

"Kau menerimaku?" tanya Yunho setelah menyadari semuanya.

"Ne. Aku akan tagih kata-katamu itu Jung. Buat aku dan Minie menjadi hanya satu-satunya tujuan hidupmu." jawab Jaejoong lagi sambil memandang Yunho, dan senyum tulus terukir diwajahnya saat melihat wajah Yunho yang nampak sangat bahagia itu.

"Saranghae, Jaejoongie."

"Nado, saranghae."

Dan terucaplah kata itu dengan lancar dari mulut Jaejoong. Yunho merasa amat sangat bahagia sekarang, senyum bahagia tercetak jelas diwajahnya. Perlahan, dikeluarkannya cincin yang tadi disodorkannya pada Jaejoong. Dan setelahnya, meraih tangan Jaejoong dan menyematkan cincin itu dijari manis Jaejoong sebagia tanda pengikat hubungan mereka.

"Jeongmal saranghae." ucap Yunho lagi sambil mengecup sekilas tangan Jaejoong, membuat Jaejoong tersipu malu.

Kini pandangan Yunho beralih pada Changmin, ditatapnya bocah gembul itu yang sedari tadi tak berhenti tersenyum manis. Apakah Changmin kini bisa merasakan aura bahagia yang menguar diantara kedua orang tuanya?

"Changminie~" ucap Yunho dan perlahan menggenggam tangan bocah cilik itu.

"Ne appa." jawab Changmin tanpa melepas senyumnya.

"Izinkan appa untuk masuk kedalam kehidupan kalian, dan izinkan appa untuk membahagiakan kalian. Apa kau bersedia mengizinkan appa untuk itu semua?" tanya Yunho masih tetap menggenggam tangan Changmin. Changmin yang tak sepenuhnya mengerti dengan ucapan Yunho, hanya mengangguk semangat.

"Izinkan appa untuk hidup bersama kalian ne." lanjut Yunho dan perlahan mengusap sayang kepala Changmin.

"Ne appa."

"Kalau begitu-"

Srett

Yunho mengambil sebuah kotak lagi dari sakunya, dan menyodorkannya pada Changmin. "Bukalah." perintahnya dan segera Changmin menyambar kotak itu lalu membukanya.

"Woaaa," pekik Changmin girang saat melihat apa yang ada didalamnya. "Ini untuk Minie?" tanyanya lagi sambil menatap Yunho.

"Ne. Kajja pakai." ucap Yunho dan membantu Changmin memakai sebuah kalung bermatakan sebuah cincin yang terdapat didalam kotak itu.

"Kalungnya baguc appa." pekik Changmin saat Yunho selesai memakaikannya kalung itu.

"Kalung itu, adalah tanda pengikat kita. Lihat, appa dan eomma juga memakainya." kata Yunho sambil menunjukkan cincin dijarinya dan jari Jaejoong.

"Jinja? Waa. Kelen." pekik Changmin girang.

"Ini adalah tanda pengikat kita, dan tanda kalau sekarang kita adalah sebuah kekuarga." kata Yunho yang rupanya tak hanya melamar Jaejoong sebagai pendampingnya, ia juga 'melamar' Changmin dan meminta supaya ia bisa masuk ke dalam kehidupan bocah cilik itu.

"Dan ada satu kejutan lagi." kata Yunho sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Sekarang." ucapnya lantang dan seketika dari arah barat, muncul sebuah letusan dan diakhiri dengan ledakan menggema diudara. Bisa dilihat kini langit yang awalnya gelap perlahan berubah warna seiring dengan bunyi ledakan itu.

"Huwaa, kelen~" pekik Changmin girang saat matanya menangkap warna-warni hanabi (kembang api) yang menyinari langit malam. Matanya berbinar senang saat melihat hanabi itu meluncur dengan indahnya dari bawah dan segera meledak menciptakan harmoni warna-warni yang indah.

Yunho tak bisa mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini. Diterima oleh orang yang sangat kau cintai dan bisa terus melihatnya tersenyum bahagia, sungguh hal inilah yang begitu diinginkan Yunho.

Kini Yunho kembali menatap Jaejoong yang tengah asik memandang hanabi itu bersama Changmin. Mengagumi keindahan alami yang dipancarkan oleh Jaejoong. Perlahan senyum mengembang diwajahnya dan dengan perlahan disentuhnya tangan Jaejoong dan membuat Jaejoong menolehkan wajahnya kearah Yunho.

"Saranghae." ucapnya pelan dan perlahan mendekatkan wajahnya kewajah Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya bisa terpaku mendengar suara Yunho yang entah sudah keberapa kalinya mengucapkan kata-kata itu.

Semakin dekat jarak keduanya, dan Jaejoongpun sudah bisa merasakan hembusan nafas Yunho yang mengenai wajahnya. Perlahan dipejamkannya matanya bersamaan dengan aroma mint segera tercium olehnya. Dan detik berikutnya, ia bisa merasakan benda kenyal yang menyentuh permukaan bibirnya.

Dilatari warna-warni hanabi yang tak pernah berhenti menghiasi langit, Yunho membagi rasa cintanya pada Jaejoong dalam ciuman lembut. Tak ada nafsu lebih didalamnya, hanya saling menempel dan menyatukan perasaan cinta keduanya. Jaejoong sudah tak ragu lagi dengan hatinya, karna sekarang ia sudah yakin sepenuhnya kalau Yunho adalah orang yang baik untuk dirinya dan Changmin.

"Nado saranghae." ucap Jaejoong setelah tautan keduanya terlepas. Kembali mereka menikmati sajian hanabi dihadapan mereka, dengan tangan yang saling terkait satu sama lain.

::

::

YUNJAE

::

::

YunJaeMin kini tengah berjalan pelan keluar dari taman bermain. Senyum bahagia terljhat jelas diwajah ketiganya. Nampak kini Changmin berjalan riang diantara kedua orangtuanya, dengan tangan yang digandeng erat oleh Yunho dan Jaejoong.

"Apa itu semua kau yang melakukannya?" tanya Jaejoong setelah sekian lama mereka tak bersuara.

Yunho menoleh kearah Jaejoong dan setelahnya tersenyum penuh arti. "Ne, dan juga bantuan dari dongsaengmu."

"Junsu?" tanya Jaejoong tak mengerti.

"Ne, ia dan Yoochun, hanabi." jawab Yunho dan diakhiri dengan senyum manis.

"Appa. Apa setelah ini kita bica tinggal belcama?" tanya Changmin tiba-tiba. Segera saja itu membuat Yunho menghentikan langkahnya.

"Waeyo?"

"Coalnya appa dan eomma Kyunie juga tinggal belcama. Kata congcaenim, kalo kelualga itu haluc tinggal catu lumah appa." jawab Changmin sambil tersenyum memamerkan deret giginya.

"Ne, tentu appa akan tinggal bersama kalian. Tapi itu nanti ne, setelah appa dan eomma menikah." jawab Yunho sambil mengusap sayang kepala Changmin.

"Hum? Menikah? Ya cudah, appa dan eomma cepet-cepet nikah. Bial kita bica tinggal baleng." jawab Changmin dan seketika membuat Jaejoong melototkan matanya kaget.

"Aigoo Minie, menikah tak semudah itu chagy. Banyak yang harus dipersiapkan dan lagi-" Jaejoong segera menghentikan kalimatnya ketika sebuah pikiran melintas diotaknya.

"Harus ada restu orang tua." jawab Jaejoong lemah namun masih bisa didengar oleh Yunho.

Yunho langsung menoleh kearah Jaejoong dan menatap Jaejoong yang menunduk. Ia yakin itu semua ada hubungannya dengan lirihan suara Jaejoong tadi.

"Ne, Minie. Menikah itu tak semudah yang kau pikirkan, harus banyak persiapan yang dilakukan. Tapi appa berjanji, secepatnya appa akan mewujudkan itu. Kau harus percaya pada appa ne." kata Yunho menatap Changmin.

"Umm, ne appa." jawab Changmin dan tersenyum pada Yunho.

"Dan kau Joongie, kau juga harus percaya padaku. Semuanya akan berjalan dengan baik. Mideoyo." ucap Yunho lagi dan kini menatap dalam Jaejoong.

Jaejoong balas menatap dalam mata Yunho, mencari kesungguhan disana. Dan ia menemukannya. Seketika perasaan ragunya terhapus dan percaya kalau Yunho pasti bisa mengatasinya.

"Ja, hari semakin gelap. Kajja kita pulang."

"Ne~" jawab Jaejoong dan Changmin bersamaan, lalu setelahnya mereka berjalan riang menuju parkiran dengan senyum yang mengembang.

::

::

YUNJAE

::

::

Keesokan paginya

Pagi yang cerah mengawali seluruh aktivitas dikediaman keluarga Jung. Nampak semua anggota keluarga tengah berkumpul diruang makan menikmati sarapan yang sudah tersedia. Pemandangan yang sangat jarang terjadi mengingat kesibukan Mr. dan Mrs. Jung yang tak sepenuhnya selalu berada di Korea.

Kini tiga orang namja dan satu orang yeoja tengah asik memakan sarapan masing-masing dengan diam tanpa suara. Karna memang begitulah aturan yang diterapkan dalam keluarga itu.

Trang

Suara sendok dan garpulah yang terdengar menggema diruang makan nan luas itu. Nampak salah satu dari tiga namja disana, selalu mengumbar senyum yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya.

"Apa ada yang membuatmu bahagia, sampai kau selalu tersenyum begitu Yunho-ah?" terdengar suara berat milik kepala keluarga Jung menggema setelah mereka menyelesaikan sarapannya. Memang Mr. Jung sedari tadi sudah memperhatikan Yunho yang selalu tersenyum seperti orang tak waras.

"Ne abeoji. Ada sesuatu yang membuatku sangat bahagia." jawab Yunho dan lagi-lagi diakhiri dengan senyum mengembang diwajahnya.

"Apa hal yang membuatmu sampai terlihat sebahagia itu Yunho-ah?" kali ini sang nyonya rumah, ikut ambil suara sambil menatap putra keduanya itu.

"Ne eomonim. Aku, sangat bahagia. Dan, aku juga mempunyai hal yang ingin kusampaikan pada abeoji dan juga eomonim." jawab Yunho dan perlahan menatap kedua orang tuanya itu.

"Ne, apa itu Yunho-ah?" tanya Mr. Jung dengan wibawa yang tegas namun berkharisma.

Yunho menarik nafas dalam sebelum mengutarakan maksudnya. Ia tak boleh mundur lagi, karna sekarang sudah waktu yang tepat. Perlahan diangkatnya wajahnya yang tadinya tertunduk, lalu menatap pelan mata sang hyung-Siwon-lalu tersenyum kecil dan mengangguk. Siwon hanya tersenyum kecil mengetahui maksud dari dongsaengnya itu.

"Eomonim, abeoji-" ucap Yunho dan menatap orang tuanya bergantian. "Aku, ingin menikah."

"..."

"..."

"..."

Semua orang diruangan itu hanya diam mendengar penuturan Yunho, semua masih mencerna apa yang baru saja Yunho katakan.

"Aku ingin menikah abeoji, dan aku ingin meminta restu dari abeoji dan eomonim." lanjut Yunho lagi dan sedikit membungkukkan badannya.

"Siapa yeoja itu?" tanya Mr. Jung setelah sekian lama terdiam.

Yunho mengangkat sedikit wajahnya lalu memandang teduh Mr. Jung. "Ia adalah salah satu pegawai di kantor abeoji." jawab Yunho tanpa memberi tahu identitas Jaejoong.

Mendengar itu, Mr. Jung sedikit menaikkan alisnya. Pegawai dikantor? Setahunya, Yunho tak pernah sekalipun terlihat dekat dengan orang lain, keculai dengan asistennya yang bernama Dongwoon itu. Mr. Jung memang memantau perkembangan kedua anaknya, dan beliau tahu kalau selama ini Yunho selalu bersikap cuek terhadap bawahannya. Namun sekarang tiba-tiba ia mengatakan ingin menikah dengan salah satu pegawainya?

"Aku mohon, restuliah kami abeoji, aku sangat mencintainya." kata Yunho sambil memandang penuh harap ke Mr. Jung.

"Aku memberikan kebebasan padamu Yunno-ah, namun kau tahu bukan kalau Siwon belum menikah? Dan aku tak ingin kau melangkahi hyungmu." kata Mr. Jung dengan tegas.

"Tapi abeoji-"

"Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan Siwon jika kau melangkahinya untuk menikah duluan?" lanjut Mr. Jung masih dengan suara yang tegas.

"..."

"Mian abeoji, abeoji tak perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Aku sungguh ikhlas jika Yunho melangkahiku dan menikah lebih dulu. Karna aku ingin melihat Yunho bahagia abeoji." kata Siwon ikut memberikan pendapatnya. Bagaimanapun ini menyangkut dirinya, ia tak ingin kembali membuat Yunho merasa kecewa akan sikap abeojinya yang selalu menomorduakan Yunho.

"Tapi aku tak suka jika Yunho melangkahi hyungnya sendiri." jawab Mr. Jung nampak sedikit emosi. Ya emosi, ia sungguh tak ingin melihat Siwon dilangkahi oleh dongsaengnya sendiri. Itu membuat dirinya sedikit tak suka, entah kenapa namun ia sangat ingin agar Siwon tak dilangkahi Yunho.

"Abeoji, jika abeoji terus bersikap seperti ini, kasihan Yunho. Apa abeoji tak memikirkan perasaan Yunho juga? Jangan hanya memikirkan perasaanku saja abeoji, aku sungguh tak mempermasalahkan ia mau melangkahiku atau tidak. Kumohon abeoji, mengertilah."

"Kau tak mengerti Siwon-ah. Kau itu adalah anak tertua. Sudah seharusnya kaulah yang mendapatkan perhatian yang utama."

"Abeoji, Yunho juga anakmu abeoji, sudah seharusnya pula Yunho mendapatkan perhatian yang sebanding denganku. Jangan hanya karna aku anak pertama dikeluarga ini, sehingga kalian memperlaukanku berbeda dengan Yunho. Kalian tahu, abeoji, eomonim, apa kalian tahu selama ini secara sadar atau tidak kalian sudah menyakiti hati Yunho. Kalian selalu menomorduakan dirinya dan mengesampingkan keinginannya. Apa kalian pernah bertanya apa yang diinginkan Yunho, apa yang diharapkan olehnya? Apa kalian pernah sekali saja memikirkan tentang Yunho?"

"..."

"Kumohon abeoji, kali ini. Kali ini, kesampingkanlah fakta kalau aku adalah anak pertama dikeluarga ini. Biarkan Yunho menggapai kebahagiaannya. Sudah cukup selama ini ia hanya menjadi bayang-bayangku dimata kalian."

"Hyung-"

"Gwencanha Yunho-ah, mian selama ini hyung tak pernah bisa berbuat banyak. Tapi kali ini, hyung akan memastikan kau mendapat kebahagiaanmu itu Yunho-ah. Mideoyo."

"Ne hyung."

"Abeoji, pikirkanlah permintaanku tadi. Aku sungguh ikhlas jika Yunho mendahuluiku. Aku bahkan sangat senang jika ia benar-benar sudah mendapatkan pasangan hidupnya, aku turut bahagia."

"..."

"Abeoji-"

"Ne, arraseo." potong Mr. Jung cepat setelah mencerna semua perkataan Siwon. "Mian Yunho-ah. Abeoji benar-benar berfikiran sempit. Selama ini abeoji tak pernah tahu apa yang menjadi keinginanmu. Selalu membandingkan dirimu dengan hyungmu. Maafkan sikap abeoji dan eomonim selama ini."

"Anio abeoji, kalian adalah orang tua yang baik. Mian jika aku tak bisa membanggakan kalian." jawab Yunho sambil memandang Mr. Jung dalam.

"Cheonmayo. Maafkan kami juga Yunho-ah." kali ini Mrs. Jung tak bisa menyembunyikan keharuannya. Ya ia sadar sekarang, bahwa selama ini mereka lebih mementingkan Siwon diatas segalanya. Dan mereka tak sadar secara tak langsung mereka sudah menyakiti Yunho.

"Jadi abeoji merestuiku?" tanya Yunho dan berharap-harap cemas.

"Ne, bawalah calon istrimu kemari besok. Kami ingin mengenalnya." jawab Mr. Jung dan seketika membuat senyum mengembang diwajah Yunho yang tadinya sedikit mendung.

"Ne, arraseo abeoji. Gomawo, nanti saat makan siang, aku akan mengenalkannya pada abeoji dan eomonim." jawab Yunho mantap sambil menatap penuh rasa terima kasih ke bumonimnya.

"Gomawo hyung." ucapnya lagi dan kini berpaling kearah Siwon. Senyum mengembang diwajah Yunho saat matanya bertemu dengan mata Siwon.

'Raihlah kebahagiaanmu Yunho. Aku akan selalu mendukungmu'

::

::

YUNJAE

::

::

Aura bahagia terasa kuat menguar dari tubuh seorang namja dengan mata musang yang tajam. Jung Yunho-nama namja itu-kini tengah berada diperjalanan menuju rumah sang kekasih hati. Nampak aura bahagia itu terus menguar dari tubuhnya, dan tak lupa senyum manis yang selalu terpatri diwajah tampannya.

Hari ini ia akan membawa kabar yang membahagiakan untuk namja cantik pujaan hatinya itu. Ia sudah mengantongi restu dari orangtuanya untuk bisa meminang sang namja cantik. Namun satu hal yang dilupakan oleh cast utama kita ini. Ia lupa memberitahu kedua orangtuanya, kalau sang calon menantu adalah seorang namja dan terlebih sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak.

"Joongie, Minie~" gumam Yunho disepanjang jalan. Eoh, nampaknya Yunho benar-benar merasa bahagia sekarang. Perjuangannya selama ini ternyata membuahkan hasil sesuai dengan harapannya.

Tak terasa sepuluh menit diperjalanan, kini ia sudah sampai dikawasan apartement Bolero. Segera ia memarkirkan mobilnya dan setelahnya bergegas masuk lift menuju lantai 5 tempat pujaan hati tinggal.

Ting

Pintu lift terbuka dan mengantar Yunho ke lantai 5 tempat Jaejoong tinggal. Dilangkahkannya riang kakinya menuju kamar no 507 dan saat ingin memencet bel, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

"Yunho hyung?"

Yunho segera menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya, dan menemukan seorang namja berdiri diseberangnya. "Dujun-ah!" teriak Yunho saat menyadari siapa namja itu.

"Ternyata benar kau hyung, sedang apa disini?" tanya Dujun dan berjalan pelan mendekat kearah Yunho.

"Ah itu-"

"Ah, karna hyung sudah disini, kajja main ke kamarku. Bukankah dulu hyung tak jadi main kesini?" kata Dujun cepat memotong ucapan Yunho. "Tak ada penolakan hyung." lanjut Dujun dan tanpa aba-aba menarik Yunho, menyeretnya masuk ke kamar apartementnya.

Well, setidaknya Yunho harus menuruti keinginan Dujun kali ini. Karna bukankah secara tak langsung, Dujunlah yang membuat dirinya bisa bertemu dengan Changmin?

.

.

Sementara Yunho yang tengah diseret paksa oleh Dujun, kini seorang namja cilik yang kita ketahui bermama Kim Changmin tengah duduk gelisah dimeja makan. Nampak wajah bulatnya sedikit ditekuk dan bibirnya maju beberapa centi.

"Huh, appa lama!" gumamnya dan sesekali melihat kearah pintu depan apartementnya.

"Changminie, waeyo? Kenapa sedari tadi kau melihat ke arah pintu terus eoh?" tanya Junsu yang sedari tadi heran melihat tingkah Changmin itu.

"Huh. Minie lapel, appa lama!" adunya pada Junsu dan kembali menekuk wajahnya.

"Aigoo, jadi kau menunggu appamu eoh? Ckckck, apa kau sangat merindukannya?" tanya Junsu sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Changmin.

"Minie, Su-ie kenapa belum sarapan?" tanya Jaejoong yang baru selesai mandi dan kini hanya mengenakan handuk sebatas pinggang yang mempertontonkan tubuh mulusnya. Ah, beruntungnya kau Jaejoong, tuan beruang belum tiba diapartementmu, kalau saja ia melihatmu dalam keadaan seperti itu, sudah bisa dipastikan keselamatanmu tak akan terjamin.

"Minie nunggu appa, eomma. Appa lama!" adu Changmin pada Jaejoong.

"Eoh? Jadi kau belum sarapan karna menunggu appa?" tanya Jaejoong yang entah sadar atau tidak memanggil Yunho dengan sebutan 'appa'.

"Ne, Minie mau makan baleng appa." jawab Changmin lagi sambil melirik-lirik makanan yang tersaji dihadapannya.

"Hemm, ya sudah kita tunggu sebentar lagi, siapa tahu appa masih dijalan ne. Sudah, eomma pakai baju dulu ne." jawab Jaejoong dan perlahan menuju kamar untuk mengganti pakaian.

Tak berapa lama, Jaejoong sudah rapi dengan kemeja baby pinknya, ditambah celana kain putih yang menambah manis penampilannya. Sudah bisa dipastikan kalau Yunho melihatnya nanti, ia tak akan bisa menahan keinginannya untuk melahap Jaejoong.

"Appa belum datang juga?" tanya Jaejoong setelah ikut bergabung dengan SuMin. Bisa dilihatnya meja makan itu yang hanya terisi oleh Junsu dan Changmin.

"Ne eomma, appa belum datang." jawab Changmin yang terlihat sudah sangat kelaparan. Ah, uri Minie manis sekali, ia begitu ingin makan bersama sang appa dan mengorbankan perutnya yang sudah keroncongan minta diisi.

"Ya sudah, kita sarapan saja. Eomma rasa appa tak bisa datang, mungkin terkena macet." jawab Jaejoong berusaha membuat Changmin ceria lagi. "Wae? Apa Minie tak mau makan?" tanya Jaejoong saat melihat Changmin tak mau menyentuh makanannya. Eoh? Sebegitunyakah Changmin ingin makan bersama sang appa?

"Minie mau makan cama appa." jawab Changmin dan menatap mata bulat sang eomma, eoh, bahkan kini Jaejoong bisa melihat mata Changmin yang sedikit berkaca-kaca. "Eomma~"

"Aigoo Minie, uljima. Eomma telpon appa ne. Nanti kita marahi appa karna terlambat datang. Cup cup, uljima." jawab Jaejoong segera saat melihat anaknya itu akan menangis. Tanpa pikir panjang segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi tuan beruang yang tak jelas kabarnya itu.

Tuut tuut tuut

"Yeoboseyo."

"Yak, dimana kau sekarang!" jawab Jaejoong cepat tanpa membalas ucapan Yunho, dan sedikit berteriak.

"Ouch, kenapa berteriak? Aku sedang berada di-"

"Jangan banyak alasan, cepat kesini. Minie tak mau makan jika tak ada kau bersamanya." jawab Jaejoong cepat memotong ucapan Yunho.

"Aku tak-"

"APPA~" Belum sempat Jaejoong menyelesaikan kalimatnya, suara Changmin sudah memotong ucapannya.

"Ne Minie-ah, sebentar lagi appa sampai. Chakamaneyo."

"PALLIII!" teriak Changmin lagi dan setelahnya sambungan pun terputus.

"Kita tunggu appa ne, kau mau minum susu dulu?" tanya Jaejoong dan Changmin hanya menggeleng.

"Minie mau tunggu appa!" putusnya telak dan tak bisa diganggu gugat.

Sementara Junsu? Ah rupanya Junsu sedikit kesal karna acara sarapan mereka harus tertunda karna permintaan Changmin.

Ting tong

"Itu appa!" teriak Changmin girang saat mendengar suara bel pintu, segera saja ia berlari untuk membukakan pintu disusul Jaejoong dibelakangnya.

Ceklek

"APPA!"

Brukk

"Omo, Minie!"

"Appa lama! Minie kan lapel!" adu Changmin setelah berada digendongan Yunho.

"Mian, tadi appa kerumah teman appa sebentar. Mianhaeyo." kata Yunho dan mencium pelan pipi tembam Changmin.

"Pagi Joongie~" ucapnya lagi setelah mencium Changmin dan kini pandangannya beralih ke Jaejoong yang berdiri dihadapannya.

Cup~

"Kau semakin cantik dengan baju itu." kata Yunho setelah memberi morning kiss pada Jaejoong.

"Ck, jangan menggodaku. Cepat sarapan, setelah itu kita antar Minie sekolah." jawab Jaejoong cepat karna salah tingkah sehabis dikecup oleh Yunho.

"Ne appa, kajja makan~"

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah sarapan bersama, kini YunJae pun bersiap mengantar Changmin sekolah. Changmin nampak sangat antusias kali ini, sedari tadi ia menyuruh Yunho untuk mengurusinya. Ia sedikit ingin balas dendam pada sang appa karna telat datang dan menyebabkan ia terlambat sarapan.

"Bukan yang ini appa, tapi yang gambal cupelmen." teriak Changmin kencang saat sang appa lagi-lagi salah mengambilkan dirinya buku.

"Astaga Minie, bahkan semua bukumu bergambar superman, jadi buku yang mana yang harus appa ambil?" geram Yunho frustasi karna Changmin sedari tadi terus menyalahkannya.

"Ada apa ribut-ribut? Suara kalian terdengar hingga diluar." jawab Jaejoong yang sudah selesai menyiapkan bekal makan bagi Changmin dan setelahnya masuk ke kamar guna melihat kegiatan dua namja beda usia itu.

"Aiss, aku pusing mengambilkan bukunya. Selalu ia menyalahkan apa yang ku ambil." adu Yunho pada Jaejoong dan berjalan pelan kearah Jaejoong. Ah, modus eoh tuan Jung?

"Ck, kau ini. Kau tahu, Minie hanya mengerjaimu. Sebenarnya semua buku itu sama saja, tak ada yang khusus dan kau boleh membawa yang mana saja. Karna semua itu buku yang sama." jawab Jaejoong sambil menggelengkan kepalanya tak percaya Yunho bisa diperdayai oleh anaknya.

"Yak, kau mengerjai appa eoh? Terima ini, appa tak akan memaafkanmu." teriak Yunho tiba-tiba dan segera menerjang Changmin dan mulai menggelitiki anak itu.

"Hihi, appa geli, geli. Hihihi, geli appa."

"Tak akan, appa masih marah!" jawab Yunho dan semakin mengencangkan kelitikannya.

Jaejoong hanya geleng-geleng kepala melihat aksi ayah dan anak itu, daripada pusing lebih baik ia menyiapkan keperluan Changmin dan membiarkan dua namja itu masih bertarung diatas kasur.

.

.

Setelah aksi perang gelitik tadi, sekarang YunJaeMin sudah berada dimobil Yunho dalam perjalanan menuju playgrup tempat Changmin belajar. Nampak Changmin sedari tadi tertawa kencang saat Yunho mengeluarkan joke-joke yang bisa membuat balita itu tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang dibicarakan keduanya, namun itu menjadi pemandangan indah tersendiri bagi Jaejoong.

"Sudah sampai!" teriak Yunho saat mereka sudah sampai didepan gerbang playgrup, dan segera saja Changmin turun dan bersiap masuk kedalam.

"Eomma, appa, Minie macuk ne~" teriaknya girang dan tersenyum memamerkan deret gigi susunya.

"Ne, hati-hati ne chagy. Nanti eomma dan appa akan jemput. Jadi tunggu disini saja, arra?" kata Yunho dan mengusap pelan rambut Changmin.

"Ne appa." jawab Changmin mantap dan tersenyum manis.

"Selamat belajar." kata Jaejoong sambil berjongkok dan mengecup pipi Changmin.

Cup~

"Jangan nakal." ucap Yunho dan juga berjongkok guna mencium pipi Changmin.

Cup~

"Daa eomma, daa appa." teriak Changmin dan mulai berlari masuk kedalam kelas, sembari terus melambaikan tangannya menatap bumonimnya.

"Kajja, kita juga berangkat." kata Yunho saat Changmin sudah benar-benar masuk kedalam kelas.

"Ne."

Sementara didalam kelas, nampak kini Changmin sudah duduk manis di tempat duduknya sembari menunggu sang sahabat baik datang.

"Minie~" dan yang ditunggupun akhirnya datang.

"Kyunie~" sapa Changmin saat Kyuhyun-sang sahabat-sudah duduk disebelahnya sambil tersenyum cerah.

"Minie kenapa cenyum-cenyum begitu?" tanya Kyuhyun yang heran melihat Changmin senyum-senyum sendiri begitu.

"Minie lagi cenang Kyunie." lapor Changmin pada Kyuhyun.

"Wae? Apa Minie habic ngelampok kulkas?" tanya Kyuhyun innoncent mengira sahabatnya itu senang karna berhasil mengambil semua makanan dirumahnya,

"Ani. Tapi Minie cenang kalna appa mau tinggal cama Minie." jawab Changmin ceria dengan aura bahagia disekitarnya.

"Eoh? Jadi celama ini appa Minie tinggalnya dimana dong?" tanya Kyuhyun tak paham dengan maksud sang sahabat.

"Molla. Minie gak tahu lumah appa dimana." jawab Changmin polos dan mengangkat bahunya. "Dan appa kacih Minie ini kemalin." lanjut Changmin sambil menarik kalung dengan liontin cincin yang sama dengan yang dikenakan oleh YunJae.

"Waaa, kelen~" pekik Kyuhyun dengan mata berbinar saat melihat kalung Changmin itu, perlahan diangkatnya tangannya ingin menyentuh kalung itu, namun dengan cepat Changmin kembali memasukkan kalung itu kedalam bajunya.

"Kyunie gak boleh pegang, itu benda belhalga bagi Minie." jawab Changmin sok dewasa, entah ia mengerti atau tidak dengan apa yang dikatakannya itu.

"Huh pelit!" cibir Kyuhyun merasa tak senang dengan kelakuan Changmin. "Teluc?" tanya Kyuhyun lagi karna merasa Changmin belum selesai bercerita. Eoh, kau ternyata perhatian ne Kyuhyunie.

"Minie juga kemalin main ke taman belmain. Woaaa, Minie bica naik cemua maianan dicana. Kyunie pelnah kecana?" tanya Changmin antusias.

"Ani, Kyunie belum pelnah main kecana. Umma dan appa cibuk, Woonie jucci juga cibuk." jawab Kyuhyun dengan sedikit nada merajuk didalamnya.

"Hihi, gwencana Kyunie. Nanti kita kecana cama-cama ne kalo udah becal. Minie mau naik lolel coctel, coalnya kata eomma Minie boleh naik itu kalo Minie uda gede." kata Changmin menghibur Kyuhyun dan membuat janji untuk masa depan mereka.

"Ne, nanti kita naik cama-cama." jawab Kyuhyun lantang dan sudah kembali ceria. "Teluc Minie main apa lagi?"

"Minie naik biangalay becal~" pekik Changmin tanpa tahu kalau kata-kata salah, "Teluc teluc, waktu nyampe diatac, appa ngacih ini ke Minie dan eomma, teluc habic itu, wussss, ada kembang api meledak di atas." kata Changmin sambil memperagakan kembang api yang kemarin dilihatnya itu. Diposisikannya tangannya diatas meja dan setelahnya menaikkannya secara perlahan keatas lalu saat sudah berada diatas, iapun membuka jarinya sambil berteriak, "Duarr. Lalu langitnya jadi walna-walni." jelasnya girang dan tersenyum sangat amat cerah.

"Kelen, Kyunie jadi pengen liat."

"Hihi, kapan-kapan Minie culuh appa buat lagi ne, lalu kita liat baleng-baleng." jawab Changmin dan segera membuat Kyuhyun memekik girang.

"Yeyy, yeyy. Yakcoke!"

"Umm, yakcok."

Dan kembali, Changmin menceritakan pengalamannya kemarin bermain ditaman bermain. Dengan senyum yang selalu tercetak diwajahnya dan tak jarang sambil melompat bahagia. Membagi kebahagiaan yang dirasakannya itu kepada sang sahabat.

::

::

YUNJAE

::

::

Setelah mengantar Changmin ke palygrupnya, kini Yunho dan Jaejoong tengah berada diperjalanan menuju Jung corp. Nampak keduanya berbicara ringan dan sesekali terdengar tawa dari keduanya. Nampaknya hubungan mereka semakin hari semakin berjalan baik dan semakin bertambah hangat. Terbukti dengan Jaejoong yang lebih banyak tersenyum sekarang, sangat berbanding terbalik dengan awal mereka bertemu.

"Ah ya Joongie, siang nanti aku ingin mengajakmu kerumahku. Abeoji dan eomonim ingin mengenalmu." kata Yunho setelah cukup lama mereka bersenda gurau.

"Nde? Bertemu orangtuamu?" tanya Jaejoong memastikan kembali, dan Yunho hanya mengangguk mengiyakan. "Apa tak terlalu cepat?" tanya Jaejoong lirih.

"Ania, malah lebih cepat lebih baik. Aku sudah tak sabar ingin membuatmu mengganti marga menjadi Jung." jawab Yunho asal dan mengundang dengusan dari Jaejoong.

"Huh!"

"Aku ingin kau mengenal orangtua ku dengan baik, dan aku juga akan mengajak Changmin bersama." jawab Yunho dan perlahan menggenggam tangan Jaejoong. Ia sangat yakin kalau namja cantiknya itu pasti tengah ragu. Yah, mengingat bagaimana keadaan dirinya yang seorang namja dan bahkan sudah memiliki anak.

"Mideoyo. Bumonimku sudah memberikan restu, dan mereka hanya ingin mengenal calon menantu mereka seperti apa." jelas Yunho mencoba meyakinkan Jaejoong.

"A..aku, aku takut Yunho-ah." jawab Jaejoong akhirnya dan balas menggenggam tangan Yunho.

"Tak perlu takut, karna apapun yang terjadi, akan kupastikan kalau kau tetap akan menjadi nyonya Jung!" putus Yunho mantap dan diakhiri dengan suara yang tegas. "Dan setelah itu, aku akan datang menemui orang tuamu dan memohon restu dari mereka." lanjutnya sambil tersenyum memandang Jaejoong yang juga menolehkan wajahnya mengahadap Yunho.

"Kau serius?"

"Tentu. Aku tak pernah berbohong akan kata-kataku Joongie." jawab Yunho dan setelahnya iapun mendekatkan dirinya ke arah Jaejoong. Untung sekarang mereka berada ditrafict light.

Cup~

Yunhopun mencium pelan kening Jaejoong memberi kekuatan pada namja cantiknya itu. "Mideoyo." ucap Yunho dan mendapat anggukan percaya dari Jaejoong.

Chu~

Kali ini Yunho kembali mencium Jaejoong dibibirnya dan membuat Jaejoong seketika menutup matanya, menikmati sentuhan Yunho yang seakan memberi tahu dirinya kalau semua akan baik-baik saja, dan ia hanya perlu mempercayai Yunho, dan percaya pada kekuatan cinta mereka.

"Saranghae." ucap Yunho setelah tautan keduanya terlepas. Tersenyum memandang Jaejoong dan dibalas senyum tulus dari Jaejoong.

"Nado saranghae."

Dan Jaejoopun harus bersiap untuk menyiapkan mentalnya bertemu dengan keluarga Yunho. Menyiapkan yang terbaik dari dirinya dan berharap semua akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang Yunho katakan.

.

.

.

.

.

.

.

TBC or END ?

.

.

.

TBC aja dehh :D

Oh great,, saya kembali dengan chap panjang again :D

Entah kenapa saya selalu membuat cerita FF ini selalu panjang disetiap chapternya.. Tapi rata-rata respond kalian semua suka ne dengan cerita yang panjang-panjang :)

Okehh, ini dia maksud seringai Yunho diakhir chap kemaren.. Hoho, rata-rata tebakan kalian benar semuanya.. Yeyy,, tepok tangan buat kalian \(^o^)/

Kemarin ada yang minta buat ChangKyu moment, uda saya buat ne. Dan untuk yang minta adanya pasangan untuk Siwon, sabar ne. Masih diusahain mendatangkan pasangannya :) ada yang nanya kenapa ga ada konflik, itu karena saya mau buat cerita yang ringan aja, jadi nggak terlalu banyak konflik. Ada yang nanya ini MPreg? Jelas dong, itu saya sudah jelaskan diawal ya :)

Bagaimana untuk Chap ini? Momentnya cukup maniskah? Part mana yang kalian suka? Kalo saya, paling suka waktu adegan gula kapas itu.. Yunho bener-bener modus dan Jaejoong yang kelewat polos dan ga ngerti modusnya Yunho. Hohoho,, Tapi semua part saya suka koo #secara saya yang nulis. Haha

Arigatou gozaimasu bagi kalian yang kemaren sudah nyempetin review di chap sebelumnya,, dan jangan lupa juga review lagi dichap ini ne~~ Big thank's buat :

vampireyunjae , YunHolic , Vic89 , Iynfinity7 , Hana - Kara , nunoel31 , hanasukie , Yjboo , zhe , Junghyejung , SiDer Tobat , yoon HyunWoon , snowumochi , teukieangle , VoldMIN vs KYUtie , Lady Ze , bumkeyk , dhian930715ELF , Angle Muaffi , danactebh , Saltybear , Niiraa , BLUEFIRE0805 , CuteCat88 , Kjhwang , diya1013 , okoyunjae , PhantoMiRotiC , subarashihito , t , merry jung , RedXiah , chinderella cindy , Anik0405 , Casshipper Jung , Ai Rin Lee , meirah1111 , Kim RyeoSungHyun , princesssparkyu , magnaeris , kimberly lavenders , Ria , Ria , My beauty jeje , Baby Panda Zi TaoRis EXOtics , Changcimin , yoonjaepark

Doumu arigatou untuk kata penyemangatnya. Semoga masih berkenan melanjutnya reviewnya dichap-chap depan.

Thanks juga bagi yang sempet follow, favorit cerita ini.. Saya semakin cinta dengan kalian :D dan untuk sider,, ayo dong ucapkan sesuatu buat saya,, supaya saya bisa mengenal kalian lebih dalam.. Supaya saya juga bisa tahu tanggapan kalian mengenai cerita ini..

Ja, minna san, review onegaishimasu ^^