Beauty Chef

(Chap 2)

.

Cast : Kim Jaejoong (26 tahun), Jung Yunho (28 tahun)

Other Cast : Jung (Shim) Changmin (3 tahun)

Genre : YAOI/Shonen-ai

Note : Cerita ini terinspirasi saat saya memasak. Ya walaupun nggak jago-jago amat masak. #apaan sih, abaikan! Berhubung Jaejoong itu sangat gemar memasak, akhirnya membuat saya mendapatkan ide cerita seperti ini. Mudah-mudahan kalian berkenan.

Warning : Cerita nggak jelas dan pasaran, typo(s)bertebaran, kesalahan eja, bahasa tak baku.

.

::: Cerita ini adalah YAOI, jadi bagi yang tak suka silakan minggat :::

.

.

Jaa, tanoshimi ni oyomi kudasai

.

.

.

DOUZO

:::

..

YUNJAE

..

::

Jantung keduanya berpacu cepat kala mata musang dan mata bulat itu bertemu pandang. Menghasilkan getaran-getaran aneh yang menyelimuti keduanya. Perasaan yang tiba-tiba saja muncul saat keduanya bertemu pandang seperti ini.

"Yeopo." lirih Yunho tanpa melepas pandangannya dari Jaejoong.

"Emm, a..apa kita berangkat sekarang? Na..nampaknya hari mulai gelap." kata Jaejoong terbata sesaat setelah memutuskan kontak mata dengan Yunho, Yunho sedikit kecewa dengan itu, karna ia kehilangan pemandangan indah dari mata Jaejoong itu.

"Ne, kajja kita ke kasir." jawab Yunho dan mulai mendorong trolinya menuju kasir sambil menggandeng Changmin. Dan dibelakangnya nampak Jaejoong yang juga tengah mendorong trolinya sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah.

.

.

Setelah menyelesaikan urusan pembayarannya, kini Yunho, Jaejoong dan Changmin dalam perjalanan menuju kediaman Jaejoong. Mereka berada dalam satu mobil, karna memang Jaejoong tak menggunakan mobilnya. Ia tadi naik taksi untuk pergi ke supermarket itu.

Didalam mobil Audy hitam milik Yunho, kini bisa dirasakan aura yang berbeda yang terjadi. Entahlah, nampaknya aura dalam mobil itu kini sedikit lebih hidup dari sebelumnya. Apakah itu semua akibat hadirnya seorang namja cantik ditengah-tengah HoMin?

"Helo cep, Helo cep nanti mau macak apa?" tanya Changmin yang kini tengah duduk dipangkuan Jaejoong. Bagaimana bisa? Itu jelas karna Changmin yang memaksa agar Jaejoong duduk bersamanya. Entah apa yang membuat bocah gembul itu melakukan hal itu, apa mungkin ia menyukai Jaejoong?

Jawabannya adalah, karna Changmin merasa senang saat tangan halus Jaejoong memeluknya. Rasanya seperti mendapat ketenangan yang tak pernah ia dapatkan dari sang appa, ataupun dari keluarganya yang lain. Entahlah, hanya saja Changmin merasa sangat hangat ketika tangan Jaejoong memeluknya seperti sekarang.

"Nde? Ah, tadi aku membeli bahan masakan untuk membuat nasi goreng nanas. Ditambah kerang, udang, brokoli dan adonan takoyaki." jawab Jaejoong sambil merapatkan pelukannya pada Changmin.

"Takoyaki?" beo Changmin sambil memiringkan sedikit kepalanya.

"Ne, itu masakan Jepang. Apa Minie sudah pernah mencobanya?" tanya Jaejoong karna merasa Changmin sedikit kebingungan dengan masakan itu,

"Anio, Min belum pelnah makan takoyaki." jawab Changmin sambil mempoutkan bibirnya sebal. Ternyata, belum semua makanan yang pernah ia coba, dan itu membuatnya sedikit kesal.

"Jinja? Wah, kalau begitu aku akan buatkan Minie takoyaki special. Bagaimana? Apa kau mau?"

Changmin hanya tersenyum girang saat mendengar perkataan Jaejoong, tiba-tiba saja kekesalannya menghilang saat mendengar kalau chef idolanya itu akan membuatkan masakan istimewa untuknya.

Yunho yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan dua makhluk manis disebelahnya, diam-diam mengulum senyum bahagia. Ya bahagia. Ia merasa kalau mereka merupakan sebuah keluarga sekarang. Tentu saja ia sebagai kepala keluarga dan Jaejoong sebagai istrinya. Hanya memikirkannya saja Yunho jadi tersenyum sendiri.

Bagaimana ia tak berfikiran seperti itu? Lihatlah, bahkan Changmin dan Jaejoongpun cepat akrab walaupun mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu. Dan sekarang mereka sudah sangat akrab, bahkan Changmin nampaknya sedikit lupa dengan keberadaan dirinya saking asiknya mengobrol dengan Jaejoong.

Ditambah sikap Jaejoong yang terlihat sangat menyayangi Changmin. Entah itu benar atau hanya perasaan Yunho saja, ia merasa kalau Jaejoong sangat perhatian pada Changmin. Nampaknya namja cantik itu begitu perhatian dan sangat senang bersama dengan anaknya. Yunho sama sekali tak keberatan akan hal itu, malah ia sangat senang. Karna ada yang begitu menyayangi Changmin. Dan Changminpun kelihatannya tak keberatan dengan itu.

"Ah ya Jaejoong-ssi, dimana alamat rumahmu? Aku sampai lupa menanyakannya." kata Yunho saat dirinya tersadar belum menayakan alamat dari namja cantik itu.

"Nde? Ah mian, aku juga lupa. Keasikan mengobrol dengan Minie sampai-sampai tak memperhatikanmu Yunho-ssi." jawab Jaejoong dan tersenyum ramah pada Yunho. "Rumahku di daerah Gangnam perumahan Bolero." lanjutnya lagi.

"Perumahan Bolero? Ne, aku tahu daerah itu. Rupanya tempat tinggalmu berdekatan dengan daerah proyekku." jawab Yunho yang merasa senang mendengar kalau rumah Jaejoong ternyata berada satu kawasan dengan proyeknya.

"Ah begitu." jeda sejenak, "Em, mian Yunho-ssi, apa tidak merepotkanmu kalau kalian berkunjung kekediamanku? Bagaimana dengan istri anda, eomma Minie?" tanya Jaejoong baru menyadari kebodohannya yang tak berfikir tentang istri Yunho.

"Min ga punya umma. Kata appa, umma Min udah di culga."

Deg

Seketika Jaejoong menyesal telah menanyakan perihal eomma Changmin itu. Sungguh ia tak tahu kalau ternyata bocah gembul yang tengah dipangkunya ini sudah tak mempunyai seorang eomma.

"Mi..mian, aku tak tahu." lirih Jaejoong sangat menyesal. Dieratkannya pelukannya ditubuh Changmin, menyalurkan kehangatan yang ia miliki.

"Gwencanha Jaejoong-ssi. Anda memang tak tahu sebelumnya, jangan merasa bersalah seperti itu." jawab Yunho yang menyadari perubahan ekspresi dari Jaejoong. "Kejadiannya sudah 3tahun yang lalu, dan sekarang kami sudah cukup bahagia. Jadi, kau tak perlu merasa bersalah." lanjutnya mencoba menenangkan hati Jaejoong.

"Apa Minie pernah bertemu eomma?" tanya Jaejoong lagi sambil mendongakkan wajahnya kedepan berusaha melihat raut wajah Changmin.

"Ani. Min gak pelnah liat wajah umma. Tapi kata appa, umma cangat cayang Min, dan Min juga haluc cayang umma campe kapanpun." jawab Changmin dan diakhiri dengan senyum mengembang diwajah bulatnya. Melihat itu, Jaejoong sangat tersentuh dan tanpa ragu dikecupnya pelan pipi gembul Changmin.

Cup~

"Anak pintar." lanjutnya sambil mengelus pelan rambut tebal Changmin.

Yunho yang menyaksikan dengan jelas interaksi dua namja manis disebelahnya itu, hanya bisa tersenyum senang saat dengan terang-terangannya Jaejoong menunjukkan perhatian pada Changmin. Membuat dadanya bergemuruh cepat karna merasakan suatu perasaan yang sudah lama sekali tak dirasakannya.

"Karna Minie sudah jadi anak pintar, aku akan buatkan Minie makanan special. Kau boleh makan sepuasnya nanti. Apa kau mau?"

"Umm, ne Min mau~"

Dan sepanjang sisa perjalanan, Changmin semakin asik berceloteh riang dengan Jaejoong yang menjadi pendengar setianya.

::

:

BEAUTY CHEF

:

::

Dua puluh menit dalam perjalanan, akhirnya Yunho, Jaejoong dan Changmin tiba didaerah Gangnam tempat kediaman Jaejoong berada. Setelah memberitahu dimana letak kediamannya, sekarang Jaejoong tengah mengeluarkan semua barang belanjaannya dari bagasi mobil Yunho, sedikit kerepotan dengan kantung belanjaan yang banyak, Yunhopun membantu Jaejoong mengemasi belanjaannya itu.

"Gomawo." ucap Jaejoong setelah berhasil mengeluarkan semua barang belanjaannya. "Kajja masuk." ajakanya lagi pada Yunho dan Changmin.

Ceklekk

Jaejoong membuka pelan pintu rumahnya, menyalakan saklar lampu dan segera menyuruh dua tamu tak terduganya masuk ke dalam.

"Mian sedikit berantakan, aku hanya tinggal sendirian, jadi kadang karna kesibukanku aku jarang berada di rumah. Ah, silahkan duduk. Apa kalian mau kubuatkan sesuatu?" tanya Jaejoong sembari berjalan menuju dapur dan meletakkan semua belanjaannya diatas meja makan.

"Anio, tak usah repot-repot Jaejoong-ssi." jawab Yunho sambil menggandeng tangan Changmin mendekat kearah dapur. Tujuannya sih untuk membantu Jaejoong merapikan belanjaanya.

"Woaaa, dapul cep kelen~, cepelti dapul yang celing Min liat di tipi." kagum Changmin saat melihat dapur Jaejoong yang sangat elegan. Dengan berbagai macam alat memasak memenuhi tempat itu. Jangan lupakan keberadaan gelas-gelas kristal yang tergantung indah di atas rak, dan berbagai macam pisau potong dan juga kulkas big size 2 pintu.

"Haha, kau bisa saja Minie-ah." jawab Jaejoong dan mulai memasukkan bahan makanan yang dibelinya ke dalam kulkas.

"Mari biarku bantu Jaejoong-ssi." Yunhopun segera membantu Jaejoong saat dilihatnya Jaejoong akan memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Iapun berdiri menyebelahi Jaejoong dan mulai ikut memasukkan bahan-bahan itu.

"Panggil Jaejoong saja, agar terdengar lebih akrab."

"Ne, dan kau juga panggil Yunho saja, kurasa umur kita tak jauh beda."

"Ne."

Selagi memasukkan bahan-bahan itu ke dalam kulkas, nampak Changmin yang tak bisa berhenti bertanya-tanya berbagai macam hal pada Jaejoong, menyebabkan Yunho dan Jaejoong mengulum senyum saat mendengar pertanyaan lucu atau aneh dari namja paling cilik diantara mereka itu.

"Yak selesai." teriak Jaejoong girang dan segera menutup pintu kulkasnya. "Ryouri no jikan da yo." lanjutnya sambil tersenyum ceria pada Changmin. "Apa Minie mau membantu memasak?" tanyanya dan mendapat anggukan semangat dari Changmin.

"Emm, Min mau Min mau."

"Baiklah, ini pakai celemek ini dulu, agar bajumu tak kotor." Jaejoong menyerahkan satu celemek bergambar gajah berwarna merah pada Changmin. Untung saja ia masih menyimpan celemeknya sewaktu masih kecil, karna memang ia sudah sangat menyukai masak memasak semenjak batita.

"Uum!"

"Apa aku juga boleh membantu?" tanya Yunho merasa sedikit tak dihiraukan oleh dua namja manis itu.

"Andwae! Appa diam caja dicana, appa kan gak bica macak." ketus Changmin dan menatap tajam sang appa. "Kalo appa ikut, nanti macakan Helo cepnya jadi gak enak." lanjutnya dan mulai naik kebangku sebelah Jaejoong.

"Gwencaha Yunho-ah, kau duduk saja disana. Dan biarkan kami memasak untukmu. Ne."

Deg

Jantung Yunho kembali berdansa ria saat melihat senyum menawan dari namja cantik yang kini sudah mulai menyiapkan bahan-bahan makanan dimeja counter dapurnya. Terlihat sangat jelas kalau namja cantik itu sangat cekatan dalam menyiapkan bahan-bahannya.

"Helo cep, ini apa?" tanya Changmin saat melihat satu bahan masakan yang tak diketahuinya.

"Ah, itu namanya asparagus, itu bisa dibuat untuk sup. Apa Minie sudah pernah mencobanya?"

"Acpalaguc? Emm-"

"Haha, tak usah dipikirkan. Jaa, sekarang kita mulai memasak~"

"Ah ah, tunggu Helo cep. Emm, Min mau Helo cep macak cepelti di tipi. Cebelum Helo cep macak, Helo cep kan ngomong dulu ke kamela."

"Eoh? Kau ingin seolah-oleh kita sedang dalam acara memasak?" tanya Jaejoong yang sedikit kurang paham dengan keinginan Changmin.

"Ne, ah appa. Appa jadi kamelamennya ya. Lekam cemua kegiatan Min dan Helo cep." pinta Changmin pada sang appa.

Dan Yunhopun dengan senang hati menuruti keinginan anaknya, bukankah itu sama saja dengan ia bisa menyimpan gambar seorang Kim Jaejoong?

"Baiklah, appa akan jadi cameramen." jawab Yunho dan mulai mengeluarkan iphone 5nya dan mengarahkan kameranya pada duo JaeMin. "Ready? Hana, dul, set."

Dan mulailah acara masak memasak itu dengan Jaejoong dan Changmin yang menjadi hostnya.

::

:

BEAUTY CHEF

:

::

Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu, terdengar dari arah ruang makan kediaman Kim Jaejoong. Nampak kini tiga orang namja tengah asik menikmati makan malam mereka dengan tenang. Berbagai macam masakan terhidang di meja makan dengan porsi yang lebih banyak dari yang sebelumnya.

Disalah satu bangku, nampak namja paling kecil diantara ketiganya tengah memasukkan dengan rakus semua masakan-masakan itu. Tangan kanannya tak berhenti menyuap masakan-masakan itu, sementara tangan kirinya dengan sigap mengambil masakan yang ada dihadapannya dan menaruhnya dimangkok makannya. Bahkan sekarang pipi gembulnya sudah membulat lucu karna kepenuhan.

"Bagaimana Minie-ah, bagaimana rasa masakannya?" tanya Jaejoong karna melihat Changmin sangat lahap makan. Dan itu membuatnya sangat senang, karna nampaknya bocah gembul itu menyenangi masakan yang dibuatnya.

"Ma..chi..ta..umm..ma..chi..ta." jawab Changmin terbata karna mulutnya yang sangat penuh.

"Aigoo, pelan-pelan makannya, nanti kau bisa tersedak." kata Jaejoong dan perlahan mengusap sisa makanan disudut bibir Changmin.

Deg

Jantung Yunho bergemuruh kencang saat matanya menangkap adegan Jaejoong yang begitu perhatian pada Changmin. Tanpa terasa senyum mengembang diwajahnya. Nampaknya tuan Jung kita ini sangat bahagia, terpancar dari aura yang tengah dikeluarkannya.

"Yunho-ah, bagaimana rasa masakannya?" tanya Jaejoong dan menatap Yunho dengan mata bulatnya.

"Eh, emm. Mashita, masakanmu sangat enak Jaejoong-ah."

Deg

Kali ini jantung Jaejoong yang berdetak kencang. Saat mendengar Yunho memanggilnya dengan panggilan yang akrab seperti itu. Tak terasa semburat merah tercetak di wajahnya yang segera dipalingkannya karna melihat Yunho yang menatap dirinya tanpa berkedip itu.

"Huwaa, machita! Macakan Helo cep benel-benel enak." pekik Changmin girang saat semua makanan itu berpindah ke perutnya.

"Kenyangnya~" teriaknya lagi dan menghadirkan tawa YunJae.

"Minie, harus bilang apa sama Hero chef?" kata Yunho saat melihat Changmin sudah selesai makan.

"Emm, gomawo Helo cep." teriaknya Changmin girang sambil tersenyum cerah pada Jaejoong, membuat Jaejoong balas tersenyum dan mengusap pelan rambut tebal Changmin yang memang duduk disebelahnya.

"Ne, cheonmayo."

"Khamsa hamnida Jaejoong-ah, masakanmu benar-benar enak. Pantas saja kau bisa menjadi chef terkenal seperti ini." kali ini Yunho ikut ambil bagian sambil tersenyum manis pada Jaejoong.

"N..ne, cheonmayo." jawab Jaejoong terbata karna melihat senyum Yunho yang terlihat sangat manis dimatanya.

::

:

BEAUTY CHEF

:

::

Dua hari berlalu semenjak HoMin makan malam bareng dirumah Jaejoong. Dan dua hari pula duo namja Jung itu kelihatan uring-uringan, entah apa yang membuat keduanya merasa uring-uringan begitu. Hal besar apa yang sampai membuat seorang Jung Yunho uring-uringan dan tak bersemangat bekerja begitu? Bahkan hari ini ia tak berangkat ke kantor dan memilih diam dirumah bersama Changmin. Apa karna dua hari ini mereka sakit?

Yak, mereka memang sakit. Namun bukan sakit yang seperti itu. Mereka sakit lebih tepatnya merindukan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kim Jaejoong, sang chef idola Changmin itu. Mereka begitu merindukan Jaejoong karna tak bisa kembali bertemu dengan namja cantik yang dua hari yang lalu sudah membuat mereka merasakan bahagia.

Tapi tentu rasa rindu yang mereka rasakan berbeda satu sama lain. Kalau Changmin, jelas ia sangat merindukan rasa masakan yang dimasak Jaejoong itu. Ia begitu ketagihan akan masakan Jaejoong. Baginya masakan Jaejoong benar-benar masakan terenak yang pernah ia makan. Lain anak, lain juga dengan sang appa.

Kalau Changmin merindukan rasa masakan Jaejoong, beda halnya dengan Yunho yang merindukan sosok Jaejoong itu sendiri. Ia akui, ia sedikit tertarik dengan namja dengan mata besar yang sangat menawan itu. Sejak pertama kali melihatnya, ia rasa ia sudah menyukai namja cantik itu. Ia begitu mengagumi sosok Jaejoong yang dimatanya terlihat sangat menawan itu. Bahkan ia juga seperti kecanduan dengan senyuman Jaejoong itu. Ia sangat ingin bisa setiap hari melihat senyuman menawan namja bermarga Kim itu.

"Haa~, Min kangen macakan Helo cep." keluh Changmin dan merebahkan dirinya disofa. Mereka berdua sekarang memang tengah berada diruang keuarga, sambil menonton acara televisi yang bahkan sama sekali tak niat mereka tonton.

"Nado Minie-ah, appa juga merindukan Hero chef~" sahut Yunho sambil duduk menyebelahi Changmin.

"Min mau ketemu Helo cep lagi, Min pengen makan macakan Helo cep lagi!" teriak Changmin sedikit keras saking frustasinya karna keinginannya tak terpenuhi.

"Hemm, apa kau sangat ingin bertemu dengan Hero chef?" tanya Yunho dan mendapat anggukan dari Changmin, "Apa kau menyukai Hero chef?" tanya Yunho lagi penasaran dengan tanggapan anaknya itu.

Changmin menolehkan wajahnya kearah Yunho saat mendengar pertanyaan Yunho, "Ne. Min cuka Helo cep, coalnya Helo cep pintel macak." jawab Changmin tersenyum girang dan menampakkan deret gigi putihnya.

"Apa kau juga menyayanginya?"

"Uum, Min juga cayang Helo cep. Hihi." jawab Changmin dan diakhiri dengan kekehan kecil darinya.

"Nado, appa juga menyukai Hero chef." kata Yunho dan perlahan membalikkan badannya sehingga menghadap Changmin. "Appa mau bertanya sesuatu. Kau harus jawab yang jujur, oke?"

"Oke!"

"Bagaimana kalau seandainya Hero chef itu menjadi eommamu?"

"Umma?" beo Changmin tak mengerti dengan maksud sang appa.

"Ne, apa kau mau kalau Hero chef jadi eommamu? Kalau Hero chef jadi eommamu, maka setiap hari kau bisa makan masakannya. Kau juga bisa terus bertemu dengannya dan bisa bermanja-manja dengannya. Buakankah Minie suka kalau dipeluk Hero chef?"

Changmin mengangguk antusias saat ia mengerti maksud dari perkataan appanya itu. Matanya berbinar cerah saat mendengar kalau dirinya bisa makan masakan Hero chefnya setiap hari jika idolanya itu menjadi eommanya.

"Jinja? Apa kau senang jika Hero chef jadi eommamu?"

"Ne, Min mau. Min cayang cama Helo cep, Min cuka kalo Helo cep peluk Min. Hihi~"

Ternyata benar apa yang dirasakan Yunho, kalau Changmin anaknya merasa nyaman saat Jaejoong memeluknya. Dan ia juga merasa senang kalau Changmin mau kalau Jaejoong menjadi eommanya. Entah kenapa, yang jelas Yunho sangat ingin menjadikan Jaejoong sebagai eomma Changmin. Ia yakin kalau Jaejoong bisa menyayangi anaknya dengan tulus. Namun, yang jadi masalahnya sekarang, bagaimana caranya agar ia bisa membuat Jaejoong merasakan apa yang ia rasakan.

"Kalau begitu, kau harus membantu appa supaya Hero chef bisa bersama kita. Kau mau kan?"

Changmin mengangguk setuju dengan perkataan appanya, dan merekapun mulai menyusun cara untuk bisa bertemu kembali dengan sosok cantik itu.

::

:

BEAUTY CHEF

:

::

"CUT!"

Teriakan keras nan kencang dari seseorang menggema diseluruh ruangan bernuansa putih dengan berbagai macam peralatan masak didalamnya. Bisa kita ketahui kalau namja yang berteriak tadi sedikit kesal, terbukti dengan wajahnya yang sangat keruh serta aura hitam yang menguar dari tubuhnya.

Sementara sang obyek yang diteriaki hanya bisa membungkuk meminta maaf, merasa kalau namja itu marah karna dirinya.

"Jeosonghamnida, jeosonghamnida." kata orang itu sambil membungkuk memohon maaf atas kesalahannya.

"Hari ini kau terlihat aneh Jae hyung, ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya namja tadi dan perlahan mendekati sang pelaku yang membuatnya marah.

"Anio Dongwoon-ssi, naneun gwencanhayo." jawab orang itu-Kim Jaejoong-sambil membungkukkan badannya kembali.

"Baiklah, istirahat sebentar. Dan kau Jae hyung, kuharap take selanjutnya kau sudah bisa kembali seperti biasanya." kata Dongwoon dan berlalu dari hadapan Jaejoong.

"Ne." jawab Jaejoong singkat dan melangkahkan kakinya untuk beristirahat.

"Jae hyung, gwencanhayo? Kau kelihatan tak bersemangat hari ini." tanya seorang namja pada Jaejoong.

"Hah~, ne Jun-ah. Aku merasa sedikit tak bersemangat. Entahlah, aku juga tak mengerti." jawab Jaejoong dan duduk menyebelahi Junhyung.

"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Junhyung lagi karna tak puas dengan jawaban Jaejoong.

Jaejoong menoleh pada Junhyung dan menatap sahabatnya itu dalam, haruskah ia bercerita pada Junhyung mengenai apa yang mengganggu pikirannya? Ah, kalau ia bercerita pasti Junhyung akan menertawainya.

"Bicaralah padaku hyung, aku akan mendengarkannya." kata Junhyung seakan mengerti dengan keraguan dimata Jaejoong.

"Ck, kau ini." jeda sejanak. "Baiklah, sepertinya tak ada salahnya jika bercerita denganmu."

"Ne."

"Kau tahu, dua hari yang lalu aku tak sengaja bertemu dengan seorang anak kecil yang manis. Dan katanya ia sangat menyukai acaraku." cerita Jaejoong sambil membayangkan kembali pertemuannya dengan Changmin.

"Lalu?"

"Kau tahu? Dihari itu juga, ia ingin berkunjung ke rumahku untuk memakan masakanku. Haha, dan anehnya, kenapa aku malah dengan senang hati mengajaknya berkunjung ke rumahku dan terlebih lagi aku memasakkannya makan malam.

"Kau tahu sendiri bukan kalau aku tak biasanya bersikap begitu, denganmu saja kadang kala aku tak bisa terbuka, tapi kenapa dengan anak itu aku sangat terbuka dan lagi-"

"Dan lagi?" tanya Junhyung karna Jaejoong tiba-tiba Jaejoong menggantungkan kalimatnya.

"Dan lagi, kenapa jantungku berdetak kencang kala menatapnya?"

"MWO?"

Seketika Junhyung berteriak kencang saat mendengar perkataan Jaejoong, eoh demi apapun, kenapa juga Jaejoong berbicara seperti itu!

"Jangan berteriak pabo! Kau lihat semua orang melihat kearah kita!" gemas Jaejoong karna teriakan Junhyung itu.

"Apa kau pedofil hyung?" tanya Junhyung tak menjawab pertanyaan dari Jaejoong.

"Mwo? Pedofil? Yak, jaga bicaramu Yong Junhyung!" geram Jaejoong tak sadar dirinya juga sedikit menaikkan suaranya. "Kenapa kau berfikir kalau aku pedofil hah!"

"Habisnya kau bilang kalau jantungmu berdetak kencang saat menatapnya? Buakankah itu artinya kau memang penyukai anak kecil hyung?"

"MWO?"

"Yak hyung, kenapa sekarang malah kau yang berteriak!"

"Kau bodoh atau apa! Kapan aku bilang aku menyukai anak itu!" emosi Jaejoong karna Junhyung mengira dirinya seorang pedofil.

"Yah yah, hentikan teriakanmu, kau mau Dongwoon marah mendengar kita ribut disini?" kata Junhyung yang sedikit takut mereka terkena semprot Dongwoon.

"Kau yang mulai!"

"Ne ne, mian. Lalu, siapa orang yang bisa membuat jantungmu berdetak begitu?" tanya Junhyung lagi dan kali ini sedikit mengalah dari Jaejoong. Ia tak ingin kalau Dongwoon marah dan membentak mereka.

"Emm itu..i..itu,"

"Nuguya?"

"A..appa dari anak itu."

Loading please

1

2

3

"MWO?"

Pletak

"Akh, appoyo!" dengus Junhyung merasakan sakit dikepalanya akibat jitakan yang dilayangkan oleh Jaejoong.

"Jangan mengagetkanku pabo!"

"Ck, jadi kau menyukai appa anak itu?" tanya Junhyung lagi walaupun masih sedikit dongkol karna Jaejoong menjitaknya.

"Emm..molayo, aku tak tahu. Tapi yang jelas, aku sangat senang melihatnya tersenyum. Rasanya jantungku mau copot karna berdebar sangat keras. Dan lagi, aku sangat menyayangi Changmin. Entahlah, tapi sejak pertama melihatnya, aku sudah merasa menyayanginya. Ia anak yang pintar dan menggemaskan." cerita Jaejoong panjang lebar sambil tersenyum cerah membayangkan dua namja Jung yang selama dua hari ini memenuhi kepalanya.

"Kurasa kau jatuh cinta padanya hyung." jawab Junhyung santai sambil merapikan sedikit tatanan rambut Jaejoong. Ah ya, aku lupa memberitahu kalau Junhyung itu adalah seorang stylist sekaligus sahabat Jaejoong.

"Mwo? Jangan bercanda Jun-ah, mana mungkin aku jatuh cinta padanya." jawab Jaejoong mencoba menampik apa yang dirasakannya.

"Kau jangan mengelak hyung. Aku rasa, memang sudah saatnya kau memikirkan tentang pasangan hidup. Bukankah usiamu sudah cukup matang untuk itu?"

"..."

"Dan lagi, aku bisa melihat gurat bahagia saat kau menceritakan mereka, dan aku bisa menyimpulkan kalau kau merasa nyaman berada ditengah-tengah mereka. Beda sekali saat kau bercerita tentang orang lain."

"Apa terlihat seperti itu?" tanya Jaejoong menoleh pada Junhyung.

"Ne. Sangat terlihat jelas." jawab Junhyung tegas dan menepuk pelan bahu Jaejoong.

"Jaejoong hyung, sebentar lagi take 7, bersiaplah." teriak seorang kru memperingati Jaejoong.

"Ne."

"Pikirkanlah hyung. Aku akan mendukung apapun keputusanmu." kata Junhyung dan tersenyum memberi semangat pada Jaejoong.

"Ne, gomawo Jun-ah."

Jaejoongpun berjalan kembali ke stage dan mulai kembali melakukan shooting. Dan shootingpun berjalan lancar, karna mood Jaejoong sudah kembali seperti semula.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hallowww,, saya kembali membawa chap 2.. Bagaimana bagaimana? Ada yang ngerasa alurnya cepat? Hohoho...

Banyak yang bilang YunJae jatuh cinta pada pertanyaan pertama eoh? Ne, YunJae memang terlibat cinta dalam pandangan pertama, apa ada yang pernah mengalami hal semacam ini juga? #kirrrr

Bagaimana untuk chap ini? Favorit saya saat Jaejoong cium Minie di mobil itu. Keliatan banget kalo Jaejoong mulai peduli sama Minie. Minie juga seneng banget deket-deket sama idolanya huh. Dan juga adega saat Jaejoong ngobrol bareng Junhyung dan Junhyung ngira Jaejoong pedofil, entahlah saya hanya membayangkan adega itu lucu.. Haha.. Favorit kalian?

Terima kasih bagi kalian yang kemarin uda sempetin baca dan review. Doumo arigatou buat :

missjelek , gwansim84 , RedsXiah , Futa lagi g bisa login , Dee chan-tik , tyunjae , hanasukie , teukieangle , SimviR , Guest , Guest , nunoel , ifa g arunda , PandaMYP , Vic89 , anastasya regina , RyGratia , danactebh , diahmiftachulningtyas , yoon HyunWoon , zhe , oeat , shotix , hyukkie - chan , oeat , BooMilikBear , cho hanna , Ria , Rea , diyas , Hana - Kara , ahrahenry897 , yoonjaepark , FiAndYJ , YongWook Kim , Kimura Shiba , Lovely Junchan , jo , Na BearBooJae , Taeripark , YunHolic , manize83 , jae sekundes , aliensparkdobi , Dennis Park , koukei8696 , haruko2277 , ShinJiWoo920202 , artaulinata , dhian930715ELF , akiramia44 , lanarava6223 , cintiya , jaena , Guest

Terimakasih untuk reviewnya di chap kemarin. Jangan lupa untuk reviewnya lagi ne di chap ini. Gomawo ~~

Terimakasih juga bagi silent readers yang uda nyempetin baca cerita ini.. Untuk chap ini,, ayo dong berikan pendapat kalian.. Supaya kita saling mengenal..

Ja, minnasan review onegaishimasu~~

.

Denpasar, 14 Desember 2013