Aku memang diktator!

Yeay, ketemu lagi dengan saya yang membawa efef geje ini..

Maaf sebelumnya kalau ada salah ketik, cerita biasa-biasa saja dan sebagainya. Tak lupa saya ucapkan terima kasih buat reader yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita karangan saya ini. terlebih lagi buat reader yang mau memberikan reviewnya. Makasih banyak sudah mau menjadi penyemangatku :D

Selamat membaca..


Hari ini Yunho pulang lebih awal di banding hari-hari sebelumnya. Biasanya Yunho pulang dari kantornya sekitar jam lima sore atau bahkan lebih. Bahkan ia pernah pulang larut malam apabila ada proyek penting atau akhir bulan.

Sekarang masih jam setengah empat sore dan biasanya Changmin baru mandi. Pantas saja saat Yunho datang istri dan anaknya tak menyahut salam. Yunho pun mengistirahatkan tubuhnya pada sofa yang berada di ruang keluarga. Badannya letih sekali dan rasanya kesehatannya menurun karena beberapa hari terakhir ia terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan proyeknya.

Beberapa menit setelah Yunho memejamkan mata dan merilekskan tubuhnya, terdengar suara gaduh dari lantai atas, sepertinya berasal dari kamar Changmin. Terdengar suara Changmin yang menjerit-jerit dan meraung-raung menolak melakukan sesuatu.

Yunho yang merasa lelah, mulanya hanya membiarkannya saja. Namun suara Changmin bertambah keras saja. Merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada anaknya, Yunho pun memutuskan untuk mengecek ke lantai atas. Apa sebenarnya yang terjadi pada Changmin? Lalu kenapa Jaejoong tak mencoba untuk menenangkan anaknya? Aish, kalau Changmin tetap menjerit-jerit seperti itu, bisa dipastikan dalam hitungan detik kepala Yunho akan meledak dan menghancurkan Korea Selatan dan Korea Utara seperti bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Pada akhirnya, tidak akan ada peperangan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Yeaaay. =="

Sesampainya di depan kamar Changmin, Yunho menghela napas terlebih dahulu berusaha untuk menenangkan pikirinnya. Kepalanya sudah benar-benar berat dan menjadi semakin berdenyut-denyut karena teriakan sang anak. Tak lupa di tangannya sebuah sapu untuk memukul apa saja yang mengganggu sang anak. Dan ketika Yunho membuka pintu kamar changmin, hal pertama yang terpampang adalah ...

"AAAAAAAAAAAAAAAA... minnie tidak mauuuuuuu.. huaaaaaaaaaa...", teriakan cetar membahana badai angin topan menghancurkan seluruh desa terdengar dari mulut mungil Changmin. Super sekali.

Kamar berwarna kuning dengan hiasan kartun-kartun favorit anaknya terlihat amat sangat berantakan. Lampu tidur yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai, selimut dan sprei yang sudah acak-acakan, bantal di atas lemari, alat tulis yang berserakan di lantai. Sepertinya di kamar ini bernar-benar terjadi badai.

TAK

"AAUUU", merasa mendengar suara yang bukan berasal dari salah satu dari mereka, pasangan ibu dan anak itu pun menoleh ke arah pintu. Terlihat di sana Yunho yang memegang kepalanya dan beberapa detik kemudian badannya limbung dan

BRAK

"umma, appa kenapa?", tanya Changmin dengan wajah sedihnya melihat sang appa yang tak kunjung sadar. Tadi Jaejoong langsung menghentikan aksi kejar-kejarannya dengan sang anak ketika mendengar pekikan dari arah pintu yang ternyata adalah suaminya. Ia pun tambah terkejut melihat sang suami yang tiba-tiba pingsan.

"appa pingsan. Ini karena minnie tidak mau menuruti perkataan umma. Coba dari tadi minnie menuruti perkataan umma, pasti saat ini appa baik-baik saja", kata Jaejoong. Changmin langsung saja mengerucutkan bibirnya, tak luput pula air mata yang menggenang dan akan segera mengalir dari matanya. Ia merasa bersalah sekali pada appanya, tapi ia juga tak ingin menuruti keinginan ummanya. Kasihan sekali Changmin kecil ini, masih kecil sudah harus menghadapi pilihan yang cukup sulit.

Berbeda dengan Changmin, Jaejoong terlihat melamun sambil senyam-senyum geje membayangkan sang anak yang menuruti keinginannya. Padahal saat ini Yunho belum juga sadar dari pingsannya. Ckckckck, benar-benar keluarga yang aneh .

Matahari masih bersembunyi, masih menerangi belahan bumi lainnya dan melakukan salam perpisahan karena baru akan bertemu lagi tiga belas jam mendatang. Yunho nampak menggeliat dalam tidurnya. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Masih terasa pening dikepalanya serta denyutan dari jidatnya bekas lemparan buku kemarin sore di depan kamar anaknya. Yunho mendudukkan badannya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran dipan.

PUK

Sebuah kain pengompres yang masih terasa basah jatuh ke pangkuannya. Dalam suasana remang dengan penerangan ala kadarnya oleh lampu tidur, Yunho dapat melihat istri dan anaknya disamping kiri dan kanannya yang tertidur dengan pulas. Karena merasa haus, Yunho pun bangun dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Tak lupa ia membetulkan selimut yang dikenakan anak dan istrinya.

Sesampainya di dapur, Yunho membuka lemari es dan mengambil botol air dan meneguk separuh isinya. Ia juga mengambil mangkok yang berisi potongan buah buahan. Yunho melihat jam yang terpajang di dinding dapur. Jam sudah menunjukkan jam empat pagi, pantas saja ia merasa lapar. Ia pingsan atau tertidur selama kurang lebih dua belas jam. Pasti istri dan anaknya khawatir karena dirinya yang tak kunjung sadar. Makanya tadi ia melihat mereka di samping kiridan kanannya di kasur.

Setelah beberapa kali memasukkan potongan buah ke mulutnya, terdengar langkah kaki yang yunho yakini milik istrinya. Dan benar adanya, pemilik langkah itu, Jaejoong, terlihat berjalan ke arahnya. Hal pertama dilakukan Jaejoong adalah meneguk air dari botol yang sama yang tadi diambil oleh Yunho.

"sayang, kamu sudah baikan?", tanya jaejoong sambil meletakkan punggung tangannya di dahi sang suami.

"sudah, sudah tidak panaskan?", tanya Yunho yang hanya dijawab deheman oleh Jaejoong.

"sebaiknya kau istirahat dulu, sayang. Kau terlalu memaksakan diri. Aku tak ingin kau sakit seperti dulu, jangan sampai terulang lagi", kata Jaejoong sedih. Ia jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Yunho jatuh sakit dan hampir saja membuatnya kehilangan sang suami karena tekanan darah yang sangat rendah dan maag akut yang diderita sang suami. Sebutir air mata menetes dari mata indah Jaejoong disusul dengan butiran air mata lainnya, ia benar-benar tak ingin kehilangan suaminya. Yunho pun menghapus air mata yang mengalir dari mata indah Jaejoong dan berusaha menenangkannya.

"sssttttt, jangan menangis sayang. Aku tak akan meninggalkanmu dan Changmin, Ok?", kata Yunho. Jaejoong mencoba untuk menghentikan tangisannya dan berubah menjadi sesenggukan kecil. Ia meraih dan menggenggam tangan Yunho dan menempelkannya di pipi kanannya.

"pokoknya kau tak boleh bekerja selama beberapa hari kedepan dan aku tidak menerima penolakan", kata Jaejoong dengan penekanan di akhir kalimatnya yang hanya ditanggapi tawa oleh Yunho.

"kau ini seperti diktator saja. Aku saja yang kepala keluarga tidak pernah bersikap otoriter".

"biarkan saja, kau kan nakal sekali. Ini kan demi kebaikan kita semua".

"iya ummanya Changmin. Appanya Changmin hanya bisa setuju saja. Ummanya Changmin galak sih, hahaha". Keduanya pun tertawa menanggapi kalimat yang dilontarkan Yunho.

"ohya, sayang. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin sore?", tanya Yunho penasaran.

"kemarin ya? Kau tahu? Aku memaksa minnie untuk melakukan sesuatu untukku", kata Jaejoong dengan serius.

"melakukan apa? Ck, kau ini benar-benar diktator sayang", kata Yunho menanggapi.

"biarkan saja. Aku menyuruhnya mengenakan dress anak perempuan", kata Jaejoong tanpa beban.

"hah? Dress perempuan? Yang benar saja. Hahahaha. Anak kita kan tampan abis. Masa pakai baju perempuan. Kau ini ada-ada saja, sayang", Yunho pun tak bisa berhenti tertawa. Di pikirannya melintas Changmin dengan pakaian perempuan super cute. Hahahaha. Dasar orang tua geje.

"coba kau bayangkan. Pasti lucu sekali. Hihihi".

"memangnya kau dapat baju perempuan dari mana?", tanya Yunho.

"beli donk. Mana mau aku mencuri. Kemarin sepulang menjemput Changmin di sekolah, kami pergi ke mall untuk berbelanja bulanan. Di sana aku melihat gadis kecil yang sangat imut dengan dress selututnya. Makanya aku berinisiatif untuk memakaikan Changmin dress juga. Hihihihi".

"kau ini jahil sekali. Pantas saja Changmin juga jahil. Mmm.. sayang, kau benar-benar ingin memiliki anak permepuan?".

"memangnya kenapa?", tanya Jaejoong curiga. Ia mulai menangkap hal-hal mencurigakan dari gelagat dan cara berbicara suaminya.

"aku masih mampu lo membiayai satu anggota baru di keluarga kita", sahut Yunho dengan santai.

"YAAAAAAA", teriak Jaejoong menanggapi perkataan suaminya. Tak ayal kemunculan matahari di ufuk timur diiringi oleh teriakan mengaduh Yunho karena tubuhnya yang dipukuli botol bekas minum mereka tadi.

Ckckckck, Jung family benar-benar aneh, pemirsa.

Sekian dulu dan terima kasih.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :D

Minta reviewnya yak? ^^.