BIKOSOF SAOS TOMAT

douzo~

"Oh, jadi kalau berdalah-dalah pakai saos tomat ya? Minnie kila itu dalah benelan," ucap bocah kecil itu pada dirinya sendiri.

Saat ini dia sedang menikmati saluran televisi yang menayangkan behind the scene film-film action. Jangan tanyakan kenapa bocah kecil itu menonton tayangan untuk dewasa. Tadinya sang umma menemaninya menonton televisi, namun baru satu jam menemani, Jaejoong sudah terlelap dalam tidurnya. Alhasil bocah kecil itu menggonta-ganti channel seenaknya. Dan berhentilah ia pada tayangan yang sekarang ditontonnya.

"Kapan-kapan Minnie coba ah." Senyum lima jari tak lepas dari wajahnya. Seolah informasi yang baru saja didapatnya adalah hal yang benar-benar menabjubkan dan tak boleh dilewatkan. Yah, namanya juga anak kecil. Rasa ingin tahu mereka sangat besar, kan?

.

"Umma sedang apa?" tanya Changmin pada ummanya. Sejak tiba di dapur ia tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari apa yang dikerjakan ummanya.

"Umma membuat sup jagung, sayang. Nanti Minnie makan yang banyak, ya?" tanya sang umma yang justru terkesan memerintah. Sang anak hanya menatap ummanya kemudian menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia kembali fokus melihat ummanya yang sedang masak.

"Ohya, umma tadi buat kentang goreng loh. Minnie mau?"

"Mana umma?"

"Di meja makan." Tanpa bertanya lagi Changmin langsung melangkahkan kakinya ke arah meja makan dan dengan susah payah menaiki kursi yang cukup tinggi untuknya.

"Umma."

"Hmm."

"Umma taruh saos tomat Minnie dimana?" tanya Minnie sambil menarik-narik apron yang dikenakan ummanya.

"Eh, sepertinya dilemari itu. Sebentar umma ambilkan." Jaejoong pun menghentikan kegiatan mengaduk sup jagungnya.

"Ini saosnya. Buat apa? Mau dimakan dengan kentang goreng?" Changmin hanya menganggukkan kepalanya. Lucu. Lalu diapun mengambil semangkok kentang goreng yang sebelumnya sudah ia letakkan di kursi, lalu berlari ke ruang keluarga.

"Minnie, kalau sudah dibantu bilang apa?" terdengar suara Jaejoong lebih keras agar sang anak mendengar suaranya.

"Gomawo, umma," sahut Minnie tak kala kerasnya.

.

Hanya dalam hitungan menit saja semangkok kentang goreng sudah berpindah lokasi ke perut mungil milik Changmin. Ketika tangannya hendak mengambil kentang goreng di mangkok, ia mengerang kecewa lantaran kentang gorengnya sudah habis tak bersisa. Wajahnya pun tampak mengerut, bibirnya pun dimajukan. Tiba-tiba muncul ide cemerlang di otaknya. Wajahnya pun kembali ceria. Ah, perubahan mood yang drastis. Dasar anak kecil.

.

"Hiks, hiks. Ummaaa, hiks," dengan air mata yang tak berhenti mengalir, Changmin melangkahkan kaki mungilnya yang tertatih ke arah sang umma. Mendengar tangisan anaknya yang tak wajar, Jaejoong pun meninggalkan cucian piring begitu saja. Biasanya sang anak akan menangis dengan suara tingginya, tapi kali ini tak seperti biasanya. Suara tangisannya terkesan biasa-biasa saja.

Ketika Jaejoong melihat Changmin, ia menangkap sesuatu yang aneh dengan anaknya. Air mata yang tak berhenti mengalir, baju yang lusuh dengan noda dimana-mana serta..

"OMO! Minnie kenapa sayang? Jatuh dimana? Mana saja yang sakit? Sini umma obati." Jaejoong pun menjadi panik seketika. Ia yakin sekali tadi anaknya sedang menikmati kentang goreng buatannya, tapi kenapa sekarang anaknya dalam kondisi tragis seperti ini? Apa anaknya makan kentang sambil guling-guling di tanah?

Melihat ummanya yang panik setengah mati, Changmin akhirnya menghentikan aksi tangisnya. Ia pun memandang sendu ummanya. Tersirat rasa penyesalan diwajahnya. Sepertinya ia merasa berdosa sudah melakukan hal itu.

Jaejoong memandang heran anaknya. Lutut anaknya berdarah. Tapi aneh sekali. Setahunya darah tidak sekental itu. Sekental-kentalnya darah, masih bisa mengalir seperti air walau bergerak lambat. Kenapa darah anaknya tidak? Darah anaknya justru menggumpal disatu titik, sedikit demi sedikit turun ke bawah kakinya, tapi tetap saja menggumpal.

PLUK.

Jaejoong dan Changmin sama-sama memandang ke arah jatuhnya segumpal darah Changmin di lantai. Aneh. Jaejoong pun berinisiatif menyentuh darah anaknya dilantai. Permukaan jarinya menyentuh darah tersebut. Aneh. Dirasakannya darah tersebut dengan indera peraba pada jari telunjuk dan jempolnya. Kemudian di dekatkannya darah di tangannya ke arah hidung. Diendusnya bau darah tersebut. Aneh. Sedetik kemudian, Jaejoong langsung mengarahkan pandangan mematikannya pada sang anak.

"YAAAAHH. Kau menipu umma, eoh?"

Dan aksi kejar-kejaran pun terjadi. Ckckck. Such a childish umma.

.

Makan malam sudah siap di meja makan. Walau sudah lewat dari jam makan malam biasanya, makan malam harus tetap berlangsung, bukan? Sebelumnya Jaejoong kembali direpotkan dengan acara memandikan anaknya untuk kedua kalinya di sore hari yang kotor demi mendukung aksi jahilnya. Untung saja Yunho datang lebih telat dari biasanya. Jadinya tidak ada ceritanya menunggu makan malam untuk hari ini.

Saat ini keluarga kecil itu sudah duduk di tempatnya masing-masing. Jaejoong melayani anak dan suaminya tanpa banyak bicara. Sang anak menggenggam sumpit dan sendok di tangan kanan dan kirinya. Sementara sang kepala keluarga, Yunho, menatap istrinya yang nampak berbeda.

"Sayang, ada apa denganmu? Berbeda sekali," tanya Yunho.

Jaejoong hanya mendongak sebentar, menatap wajah suaminya. Selanjutnya ia kembali sibuk dengan mengambilkan lauk untuk suami dan anaknya.

"Tidak apa-apa." Semakin jelas saja di mata Yunho bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja.

"Cerita saja. Jangan disimpan sendiri." Beberapa saat kemudian, Yunho memimpin doa sebelum makan. Dengan antusias Changmin mulai menyuapkan masakan ummany ke dalam mulut mungilnya.

"Ada apa, sayang?" tanya Yunho sekali lagi.

"Aku kesal pada anakmu. Dia jahil sekali. Sudah ah, jangan dibahas lagi. Nanti kesalku tak hilang-hilang." Jaejoong dan Yunho pun melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan.

.

"Appa, lihat. Minnie punya gambal spombob. Baguskan?" pamer Changmin. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang kerja Yunho.

"Wah, ia bagus. Gambarnya mau Minnie apakan?"

"Mau Minnie gunting, trus Minnie tempel di dinding empuk," jawab Changmin dengan semangat. Dinding empuk? Selama ini yang Yunho tahu dinding tak ada yang empuk. Dinding kan keras, kecuali dilapisi karpet atau gabus. Oh, mungkin yang dimaksud anaknya adalah gabus yang ia tempel didinding kamar anaknya.

"Mm, nanti kalau sudah ditempel kasih lihat appa ya. Pasti bagus." Yunho mengusap lembut kepala anaknya. Tak menyangka anaknya sudah sebesar ini. Rasanya baru kemarin saja ia menggendong anaknya yang lemah dan hanya bisa menangis. Sekarang anaknya sudah bisa menggunting.

"Minnie mau pinjam gunting appa, ya."

"Oke, ini dia. Hati-hati pakainya. Jangan sampai menggores tubuh Minnie, ne?" kata Yunho menasehati anaknya.

"Oke, appa." Dengan kecepatan kilat Changmin meninggalkan ruangan appanya.

.

Setengah jam berlalu. Ketiga anggota keluarga kecil itu sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yunho sibuk dengan pekerjaan kantornya, Jaejoong sibuk dengan tontonan televisinya, dan buah hati mereka yang juga sibuk dengan gambar spongebob miliknya.

"Hueee, hiks, hiks, hueeee." Tangis Changmin lagsung terdengar ke seluruh penjuru rumah. Yunho yang terkejut mendengar tangisan kencang anaknya langsung berinisiatif untuk melihat apa yang sedang terjadi. Baru saja ini mendorong kursinya ke belakang, sang anak telah berdiri di pintu ruang kerjanya.

"Hiks, hiks, appaa.."

Yunho yang tak tega melihat anaknya menangis, langsung menyegerakan dirinya menghampiri si kecil.

"Minnie kenapa, eum?"

"Hiks." Yunho memeriksa anaknya dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Ia benar-benar khawatir sekarang.

"Tangan Minnie kenapa disembunyikan? Minnie menyembunyikan apa? Sini appa lihat ya." Bujuk Yunho pada anaknya.

"Hiks, hiks, sakiitt." Dengan ekspresi kesakitannya serta isak tangis dan air mata yang tak berhenti mengalir semakin menambah kekhawatiran Yunho. Apa tangan anaknya tergores gunting. Gunting itu baru saja ia beli, mata pisaunya pasti masih tajam.

"Appa lihat ya sayang. Minnie jangan menangis lagi." Dengan perlahan Yunho memegang tangan kiri Changmin dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menghapus air mata yang mengalir di wajah tembam anaknya.

DEG.

Tangan anaknya penuh darah. Pasti benar dugaannya. Tangan kanan anaknya tergores gunting, lebih parahnya tertusuk ujung gunting. Darahnya banyak sekali. Dengan cekatan Yunho menggendong dan membawa Changmin ke arah dapur.

"Jae, cepat ambilkan alkohol dan kasa. Tangan Minnie berdarah."

Jaejoong hanya menolehkan kepalanya ke arah dapur. Dengan malas ia melangkahkan kakinya.

"Kau periksa dulu dengan teliti. Awas tertipu." Kata Jaejoong sambil menatap sinis anaknya. Sementara sang anak yang masih sesenggukan hanya memandang ummanya dengan tatapan polosnya.

"Maksudmu apa jae? Tangan Minnie tertusuk ujung gunting. Darahnya banyak sekali." Setelah mengatakan hal tersebut, Yunho memperhatikan tangan kiri Changmin dengan seksama. Aneh.

"Coba lihat baik-baik."

Dilihatnya lagi tangan Changmin. Mengapa warnanya aneh seperti itu? Didekatkannya tangan mungil Changmin ke hidungnya. Diendusnya bau darah itu. Seketika mata Yunho membulat. Ditatapnya sang anak yang juga menatapnya dengan pandangan polosnya. Dicoleknya darah sang anak kemudian ia rasakan darah tersebut.

"YAAAH. Kau mengerjai appa, eoh?"

Dan selanjutnya tawa membahana terlontar dari mulut kecil Changmin karena sang appa yang tak henti-hentinya menggelitik perut dan punggungnya.

"Benarkan kataku. Jangan mudah percaya pada evil itu." Jaejoong lantas meninggalkan keduanya menuju ruang keluarga. Nampaknya acara televisi lebih menarik perhatiannya. Ckckck. Beginilah kehidupan keluarga kecil Jung.

END.

waaa~
makasi buat temen-temen yg uda mau baca..
makasi yang buaaaanyaak banget buat temen-temen yang uda nyempatin review, juga buat yg ngefollow sama ngefav..
makasi uda ngasih support buat aku :D

maaf ya, baru bisa sekarang upload ffnya..
kemaren2 lagi sibuk sama tugas dan acara, jadinya giliran ada waktu kosong bawaannya tidur mulu..
mohon reviewnya ya, tapi gak maksa kok ^^