annyeong..

setelah sekian lama, akhirnya saya muncul lagi :))

untuk teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya untuk baca, komen, fav dan follow ff ini, terima kasih banyak ya..

maaf gak bisa balas komennya satu persatu karena keterbatasan waktu penggunaan internet. jadinya, hanya bisa upload ffnya saja. #bow

maaf kalau ceritanya biasanya saja dan terkesan membosankan. tanda baca dan bahasa juga kurang diperhatikan.

what happen to you? #1

douzooo~

What happen to you?

"sayang, nanti aku tak bisa menjeput minnie. Ada rapat bersama para pimpinan direksi hingga sore hari. Kau bisa menjemput minnie kan, sayang?", tanya yunho pada istrinya.

"ya, tak masalah", jawab jaejoong singkat sambil melanjutkan sarapannya.

"nanti umma yang jemput minnie?" tanya changmin tak percaya dengan matanya yang berbinar-binar. "mampil ke kedai esklim ya umma?", pinta changmin dengan bambi eyes nya.

"aish, iya iya. Ayo cepat habiskan sarapanmu, minnie sayang." Jaejoong membersihkan remah-remah roti di sekitar bibir changmin.

"aku baru ingat. Sayang, mobilmu kan masih diservis. Nanti naik taksi saja ya?" kata yunho.

"iya, kau tenang saja, sayang. Sekalian saja nanti aku belanja bulanan."

"oke. Yang penting belanjanya jangan sampai lupa waktu loh."

Seperti yang sudah dibahas pada saat sarapan, kali ini jaejoong lah yang akan menjemput changmin di sekolahnya. Sebelumnya, jaejoong terlebih dahulu membuat daftar barang yang akan dibeli. Kalau tidak begitu, pasti jaejoong akan membeli barang-barang yang tidak penting. Lima belas menit sebelum kelas berakhir, jaejoong sudah sampai di sekolah changmin.

"ummaaaaaaa", teriak changmin dengan suara super kencangnya. Anak ini makan apa sih? Apa makan serpihan toa masjid? Oh, maaf. Ngaco. Hehehee :D

"minnie, kajja. Kau pasti sudah tidak sabar untuk melahap habis es krim di kedai kan?" kata jaejoong penuh antusias. Tak luput tangannya mencubit pelan hidung anaknya. Kelewat gemas, sepertinya.

"ne. Minnie sudah menyiapkan pelut kosong minnie untuk tempat tinggal esklim-esklim yang saaaaaaangat enak", jawab changmin dengan cengiran lebarnya.

"wah, kalau begitu, minnie harus makan dulu. Kalau makan es krim dengan perut kosong, minnie bisa sakit".

"urgh, padahal minnie kan mau memenuhi pelut minnie dengan esklim yang enak-enak". Jaejoong hanya tersenyum menanggapi ucapan sang anak. Jaejoong pun menggandeng tangan mungil changmin dan berjalan meninggalkan sekolah changmin.

"kajja. Kita berjalan kaki saja ya ke hypermarketnya, kan dekat?"

"ne. Umma".

"umma, pelut minnie sudah penuh. Dimana minnie akan membelikan tempat tinggal untuk esklim-esklim yang enak?" tanya changmin sedih. Pasalnya, ia menghabiskan satu porsi burger jumbo dan segelas besar soft drink. Belum lagi beberapa potong kentang goreng ummanya yang berakhir di perutnya.

"kalau begitu, sekarang kita belanja dulu. Setelah itu kita isi lagi perut minnie denngan es krim. Bagaimana?"

"ne ne ne, umma minnie".

Jaejoong dan changmin pun melangkahkan kaki mereka mengelilingi hypermarket, melaksanakan niatnya untuk berbelanja bulanan.

Setelah berbelanja kebutuhan harian dan bulanannya, jaejoong pun melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar hypermarket sambil mendorong troli besi berisi belanjaannya.

"umma. Belajaannya banyak sekali ya. Umma beli apa saja? Minnie jadi tidak bisa membantu umma", ucap changmin dengan raut muka sedihnya. Ingin sih membantu ummanya, tapi apa daya badannya kecil, tenaganya juga tak seberapa. Lihat saja belanjaan ummanya yang mencapai tiga tas plastik jumbo.

"kalau begini caranya, kau bukan hanya tidak membantu umma. Tapi kau malah menambah beban umma, minnie sayaaaaang", kata jaejoong deng sedikit *oke, agak banyak* rasa kesal. Pasalnya, tak hanya belanjaannya saja yang ada di troli besi, anaknya pun ikut-ikutan menjadi penumpang disana. Membuat beban yang didorong jaejoong menjadi dua kali lipat.

"kaki minnie capek umma. Masa minnie halus beljalan kaki lagi?" jawab sang anak. Hah, pintar sekali dia. Lain kali aku belanjanya sendiri saja. Kalau begini ceritanya, percuma tadi pagi aku membuat daftar belanjaan yang mau dibeli. Bisa batal rencanaku menghemat untuk membeli perhiasan cartier yang limited edition keluaran dua bulan mendatang, batin jaejoong.

Dengan tenaga seadanya, jaejoong melanjutkan langkahnya sebelum anak tertampan, terpintar, terbaik, dan ter-ter lain miliknya memaksanya berhenti dan berbelok ke arah etalase yang memajang boneka tokoh kartun kesayangannya. Masih ingatkan? Itu loh, si spongebob.

"umma, minnie mau spombob yang itu yaaa.. minnie kan belum punya yang seperti itu', tunjuknya pada boneka spongebob yang sedang nyengir dengan tangan sebelah kanannya memegang rakit jaring untuk menangkap ubur-ubur dan tangan kirinya yang memegang ubur-ubur.

"ne ne ne? Minnie kan belum punya. Yaaaa?", lagi-lagi jurus anak kucing minta dipungut yang ditampilkan oleh changmin. Arrrggh, tidak dapat diragukan lagi dua bulan mendatang ia tidak bisa membeli perhiasan cartier limited edition kalau diporotin seperti ini oleh changmin. Sepertinya jaejoong harus mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu yunnie sayangnya itu. Ckckck.

"oke. Tapi lain kali kalau mau membeli boneka atau mainan ketika bersama appa saja ya. Umma kan tidak punya uang. Yang banyak uangnya itu appa. Ne?" kata jaejoong dengan ilmu sesatnya.

"okeeeeee".

Setelah membayar boneka yang diingainkan changmin, changmin pun menarik-narik ujung baju yang digunakan ummanya.

"ada apa minnie?", tanya jaejoong sambil memasukkan uang kembalian ke dalam dompetnya.

"nanti minnie mau boneka ini di kasur minnie ya umma"

"ne, nanti umma pindahkan boneka di kasur minnie ke lemari."

"tapi lemari biru minnie kan sudah penuh, umma. Kalau begitu, kita beli lemari kuning saja untuk boneka-boneka yang ada di kasur minnie, ne. Kajja umma, kita beli lemari kuning untuk minnie. Kajja, kajja." Dengan semangat empat lima changmin menarik ujung ummanya menuju tempat meubel. Sementara jaejoong hanya melotot. Yang berperan sebagai umma sebenranya siapa? Kenapa anaknya dengan seenak jidat meminta untuk membeli lemari. Dengan lemas jaejoong mengikuti anaknya, tak lupa mendorong troli besi berisi belanjaannya tadi yang sekarang bertambah boneka changmin.

"aaaaa, lemari kuning minnie. Umma, ayo bawa pulang. Itu lemari kuning minnie", kata changmin dengan teriakan mautnya. Tak ayal mengundang pandangan-pandangan kesal para pengunjung hypermarket tersebut. Sementara jaejoong hanya bisa membungkukkan badannya sebagai permohonan maaf atas kelakuan anaknya.

"minnie, jangan teriak-teriak seperti itu. membuat umma malu saja". Changmin hanya mempoutkan bibirnya sebagai wujud protes terhadap ummanya.

"pokoknya lemari kuning minnie harus dibawa pulang. Titik." Kata changmin mutlak tak menerima penolakan. Haaaah, lagi-lagi sang anak berlaku seenaknya. Untuk kali ini saja jaejoong akan menuruti permintaan bossy anaknya, dan tidak akan ada kata untuk 'kapan-kapan'. Cukup sekarang.

Setelah membayar lemari kuning yang diingankan changmin, jaejoong pun hendak meninggalkan tempat tersebut sebelum sebuah ide muncul dibenaknya.

"eh, maaf. Apakah boleh menitipkan belanjaan kami sekalian dengan pengiriman lemarinya? Nanti saya tambahkan uang fee nya", tanya jaejoong ragu.

"oh, ne. Tentu saja nyonya. Itu tak masalah."

Oke. Belanja hari selesai, tinggal satu tempat yang belum dikunjungi. Kedai es krim.

Dengan langkah santai jaejoong dan changmin melangkahkan kakinya keluar hypermarket dan melanjutkan langkahnya menuju kedai es krim langganan mereka. Walaupun agak jauh, jaejoong memutuskan untuk jalan kaki saja. Irit, pikirnya.

"wah, ternyata sudah hampir petang ya. Tidak terasa kita sudah menghabiskan enam jam di dalam sana", gumam jaejoong namun masih bisa didengar oleh changmin.

"langitnya mulai gelap ya umma", kata changmin.

"ne. Ayo cepatkan langkahmu, minnie. Apa minnie tidak lapar?", tanya jaejoong khawatir. Pasalnya changmin tak makan apa-apa setelah burger tadi.

"ani. Minnie tidak lapar umma. Nanti minnie makan es klim yang banyak bial minnie gak lapal."

"minnie mau es klimnya pake mangkok yang besssaaaaall lasa vanila, coklat, sama stobeli ya noona", kata changmin kepada petugas wanita di kedai tersebut. Petugas itu pun tersenyum menanggapi changmin.

"apakah ada pesanan yang lainnya?"

"mmm, aku pesan lemon dingin saja satu gelas."

"baiklah. Kalau begitu pesanan akan kami antar secepatnya".

"noona", panggil changmin ketika sang petugas meninggalkan mejanya.

"ne?"

"minnie mau mari-mari coklat dibawahnya yaaaa.."

"ah, ne. Baiklah. Tunggu disini ya adik tampan. Pesanan akan segera datang", petugas itu pun berlalu setelah sebelumnya mengusap kepala changmin karena gemas.

Changmin pun menunggu pesanannya dengan anteng. Sementara jaejoong mengambil smartphone dari tasnya. Wajahnya pun menunjukkan raut cemas ketika melihat beberapa panggilan tak terjawab dan belasan pesan dari suaminya. Jaejoong pun memutuskan menghubungi suaminya agar suaminya tidak cemas.

"yoboseo"

"sayang, kau dimana? Kau dan minnie baik-baik saja kan? Kenapa smsku tak dibalas? Aku juga menghubungimu berkali-kali"

"yunnie, mian ne. Aku jadi lupa waktu begini. Sekarang aku dan minnie sedang di kedai es krim langganan kita."

"ah, ne. Syukurlah kalau begitu. Apa perlu aku kesana juga?"

"tidak perlu, sayang. Kau pasti capek. Biar nanti aku dan minnie naik taksi saja. Oh ya, yoon ajhumma memasak untuk makan malam tidak?"

"sepertinya masak. Cepatlahlah pulang, lalu kita makan malam bersama, ne?"

"ne. Yoboseo. Saranghae, yunnie."

"nado saranghae, boo."

Tepat setelah jaejoong menutup teleponnya, pesanannya pun datang. Changmin pun langsung memakan es krimnya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Sementara jaejoong hanya melihat sang anak sambil sesekali menyeruput minumannya.

"sudah habis, umma".

"ah, ne. Anak umma pintar. Bersihkan dulu bibirmu, lalu kita pulang ne. Appa sudah menunggu di rumah".

"neeee".

"APPAAAAAAAAA", teriak changmin sesampainya di rumah. Changmin berlari ke arah appanya sambil merentangkan tangan minta digendong. Yunho pun dengan senang hati menggendong anaknya.

"aigooo. Anak appa yang tampan baru pulang, eoh? Meninggalkan appa sendiri di rumah. Padahal appa sangat kesepian dan merindukan minnie", kata yunho panjang lebar.

"mian ne appa. Jangan sedih, ne." Ucap changmin sambil menyentuh pipi appanya dengan tangan mungilnya. Sedangkan yunho memasang wajah merajuk pura-puranya.

"appa jangan salahkan minnie, ne? Ini semua salahnya umma. Umma yang mengajak minnie belkeliling di malket tadi". Sementara objek yang dibicarakan pun memelototkan doe eyesnya.

"yaaaaaaaaa. Dasar anak nakal", teriak jaejoong menanggapi ucapan ajaib anaknya.

"aish. Sudah, sudah. Ayo minnie mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bersama, ne?", tanya yunho yang hanya dijawab anggukan oleh changmin. Changmin pun merebahkan kepalanya ke bahu sang appa.

"kau juga, sayang. Mandi dulu, ne? Biar segar".

"apa minnie sudah lapar? Lihat, malam ini banyak masakannya, ne?, kata yunho pada changmin sambil mendudukkan anaknya di salah satu kursi di ruang makan.

"ne. Minnie lapal sekali, appa. Ayo makan. Makan makan makan", kata changmin sambil menghentakkan ujung sendok yang dipegangnya ke permukaan meja. Ckckck, anakku tak ubahnya para pendemo di depan gedung DPR, batin yunho.

"sebentar, ne. Appa panggil umma dulu. Minnie tunggu sampai appa dan umma datang, ne? Kita makan bersama." Yunho pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan istrinya, meninggalkan changmin yang menahan tiap tetesan air liurnya dengan susah payah.

"sayang, kau belum selesai mandi?", tanya yunho sambil membuka pintu kamarmya. Namun tidak ada jawaban yang diterimanya. Yunho justru melihat istrinya tiduran di kasur.

"sayang, jangan tidur dulu. Makan malam dulu yuk." Ajak yunho pada istrinya.

"kalian berdua saja yang makan. Aku sedang tidak enak badan." Jaejoong pun memejamkan matanya dan menyamankan posisinya di kasur. Secara spontan yunho menempelkan punggung tangannya ke dahi, pipi dan leher jaejoong secara bergantian. Hangat.

"sayang, makan dulu, ne. Biar sakitmu tak tambah parah!"
"aish. Kalau aku bilang tidak ya tidak. Sudah sana, pergi. Duuuhh. Kepalaku tambah pusing saja." Gerutuan jaejoong membuat yunho syok. Barusan istri tercintanya menyuruhnya untuk pergi? Apa benar? Tumben sekali. Biasanya kalau sakit seperti itu, sang istri akan sangat amat manja padanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya?

TBC

okeeee..

part 1 cukup sampai disini dulu yaaa

apa yang sebenarnya terjadi pada jaejoong?

lalu bagaimana nasih changmin di ruang makan?

mohon dinanti ya untuk kelanjutannyaaa :D

makasi sudah mau baca, dipersilahkan meninggalkan reviewnya..

:DD