Waahh..
Ini benar-benar bukan waktu yang pas buat upload. Karena dari kemarin-kemarin geregetan dengan koneksi yang naik turun, walhasil saat ngelembur tugas gini dijadikan waktu buat upload deh.

Makasih ya buat semuanya yang uda mau baca ff geje ini. Makasih juga kepada pada reviewer, maaf kalau saya jarang balas komennya :D. Sekali lagi makasih ya buat semuanyaa..

Kalau ada yang bosan atau punya saran, silahkan kasih kritik membangun Anda di kolom review ya..
Makasih. Selamat menikmati :D

Douzo..


What happen to you?

#2

"minnie, tadi umma tidak terjatuh kan? Atau terbentur tembok?", tanya yunho pada anaknya sesampainya di ruang makan.

"ani", dengan wajah menyedihakan dan pipi yang menempel pada permukaan meja.

'boojaejoongieku kenapa ya? Kalau sakit biasanya gak mau ditinggalin walau sedetik saja. Nah ini', batin yunho. Suatu mukzijat terjadi jika jaejoong seperti ini. Benar-benar hal yang jarang terjadi, bahkan tidak pernah.

"appa, minnie lapal. Kenapa kita tidak makan sekalang? Hikshikshiks", isakan changmin pun mengembalikan yunho ke alam sadarnya.

"aish. Cup cup cup. Anak appa yang tampan tidak boleh menangis loo. Nanti tampannya hilang. Berhenti ya, ayo kita makan", ucap yunho sambil menghapus air liur changmin yang menetes.

'Heh, keluargaku ini benar-benar tak beres. Istri dan anakku, mereka sama-sama anehnya. Untung saja aku masih normal, jadinya masih bisa membimbing mereka', batin yunho lagi.

Selesai makan, yunho menyuruh changmin untuk mengerjakan tugas yang diberikan seosangnimnya. Sementara yunho mencuci piring-piring kotor yang ada. Tangan yunho memang sudah terampil dalam urusan mencuci piring, karena ketika jaejoong mengandung changmin, dialah yang mengurusi hampir semua pekerjaan rumah. Yunho teringat pada masa-masa jaejoong mengandung changmin dulu. Hari-hari yang mereka lalui benar-benar sulit. Kurangnya asupan gizi dan morning sickness yang berlebihan. Jaejoong mudah sekali lelah. Keadaannya sulit untuk membaik karena jaejoong tak tahan dengan bebauan makanan. Itulah yang menyebabkan sedikit gizi yang masuk ke tubuh jaejoong. Ngomong-ngomong soal mengandung, apakah, apakah jaejoong mengandung?

Deg

Yunho menghentikan gerakan spon penuh busa pada piring yang dicucinya. Apakah benar jaejoong sedang mengandung? Sedang hamil?

Pertama, jaejoong marah-marah. Padahal tadinya ia dalam kondisi yang baik-baik saja. Oke, itu yang dinamakan dengan mood swing. Mood swing. Check list.

Kedua, jaejoong tak mau makan walaupun sudah dipaksa. Nafsu makannya menurun. Check list.

Ketiga, jaejoong mengeluhkan pusing dan lelah. Eeerr, pusing dan mudah lelah termasuk ke dalam tanda-tanda hamil juga kan? Anggap saja iya. Oke, pusing dan mudah lelah. Check list.

'apa lagi?', batin yunho sambil menuliskan catatannya pada sebuah notes kecil. Tak lupa pula tampang berpikir serius yang nampak bodoh terpampang diwajahnya dan tak lupa sekarang ia masih berada di dapur kesayangan istrinya.

"sepertinya, bukti ini saja sudah mencapai enam puluh persen keakuratan. Ah, tidak-tidak. Anggap saja delapan puluh lima persen. Ya, kemungkinan boojaejoongieku hamil adalah delapan puluh lima persen. Aigoooo. Aku akan punya anak lagi. Hahahahaha".

"appa, jangan teliak kelas-kelas. Nanti tetangga sebelah malah dan datang kesini. Minnie capek belulusan dengan meleka", teriak changmin dari ruang keluarga. Ckckckck. Tipikal jaejoong sekali. (merujuk ke chapter awal).

"aish. Anak itu. Kalau saja ia tahu bahwa akan segera punya adik, pasti senang bukan kepalang. Xixixixixi".

"appa. Minnie melinding. Minnie takut. Cepat kesini. Sepeltinya ada aula jahat di lumah ini", teriak changmin –lagi.

"aish". Dengan kesal yunho membereskan piring yang sudah dicucinya dan meletakkannya dengan rapi pada rak piring. Dicopotnya apron yang melekat ditubuhnya dan segera meluncur menuju ruang keluarga dimana anaknya berada.

Ketika jam dinding menunjukkan angka sembilan, yunho mulai merasakan kantuknya. Diliriknya sang anak yang sudah tertidur menelungkup di atas hambal lembut dengan tangan yang masih ia pegang dan pipi gembulnya yang menempel di buku menyebabkan mulutnya terbuka sedikit. Imutnya.

"anakku dan boojae memang menggemaskan", ucap yunho pelan. Takut membangunkan pangeran kecilnya.

"karena appa juga sudah mengantuk, ayo kita pergi tidur", yunho mengangkat changmin dan menggendongnya dengan perlahan dan penuh kehatihatian. Yunho membawa changmin ke kamarnya (changmin). Setelah mengecup puncak kepala sang anak, yunho mematikan lampu kamar dan keluar menuju kamar yang ditempatinya nya bersama sang istri.

"sayang, sudah tidur?", tanya yunho pada jaejoong ketika memasuki kamarnya. Yunho melihat istrinya yang tidur dengan posisi memunggunginya saat ini.

"ehm, belum", jawab jaejoong dengan suara lemahnya. Jaejoong pun membalikkan badannya menghadap sang istri.

"apakah masih pusing?", yunho mengusapkan tangannya pada puncak kepala jaejoong yang ditanggapi jaejoong dengan anggukan kecil.

"sedikit".

Hening diantara mereka selama beberapa saat, sebelum akhirnya jaejoong menyampaikan apa yang ada dipikirannya.

"sayang, mianhe. Tadi aku sudah kasar padamu. Aku tidak sengaja", kata jaejoong sambil melingkarkan tangannya ke pinggang yunho yang sudah rebahan di sebelahnya.

"ne sayang, aku sudah memaafkanmu. Pasti tadi kepalamu sakit sekali. Mendengarkan cerewetku pasti membuat kepalamu tambah berdenyut".

Hening kembali menghiasi diantaranya.

"apa tidak lapar? Kau mau makan, sayang? Biar aku ambilkan", kata yunho yang mulai menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.

"ani. Aku tidak lapar. Hanya sedikit pusing saja. Pasti karena kelelahan tadi". Jaejoong kembali memeluk pinggang yunho dan menyamankan posisinya ke dalam pelukan hangat yunho.

'sepertinya istriku benar-benar hami. Sangat terlihat jelas dari tanda-tandanya", batin yunho.

Keempat, jaejoong manja sekali. Seperti saat mengandung changmin dulu. Tak mau jauh-jauh dariku. Kikikiki.

Yunho pun menuliskan tanda keempat di otaknya karena notes kecilnya sudah ia masukkan ke dalam laci.

Yunho senyam-senyum tak jelas sambil memeluk jaejoong, sementara jaejoong melepaskan pelukan suaminya dan menjauhkan badannya dari badan sang suami sambil mengendus-endus bebauan didekatnya dan suaminya.

"sayang, kamu belum mandi ya? Ish, jorok sekali. Mandi sana. Bau acem", ucap jaejoong sambil mendorong-dorong yunho dari sebelahnya hingga jatuh dari kasur.

"AAWWW. Sayang, ini sakit", protes yunho sambil mengelus pantatnya.

"kau bau. Mandi dulu kalau mau tidur denganku di kasur ini", kata jaejoong mutlak. Jaejoong pun menarik selimutnya menutupi tubunya sebatas leher.

Sambil mengendus badannya, yunho pun memasuki kamar mandi di dalam kamarnya. Rasanya, badannya tidak terlalu bau. Tadi dia sudah mandi kok. Tapi, dari pada tidur di sofa yang dingin –karena tak ada jaejoong di sebelahnya-, lebih baik ia mandi saja.

Selesai mandi, yunho mengenakan baju tidurnya sambil sesekali melihat istrinya yang memandangi dirinya. Setelah selesai, yunho pun naik ke ranjang dan rebahan di sebelah jaejoong. Dan pada saat itu pula jaejoong langsung menutup –memencet- hidungnya dengan erat. Menghindari udara masuk melalui indera penciumannya.

"sayang, kamu pakai sabun apa? Kenapa bau begini? Sana-sana. Aku tak mau tidur denganmu. Kau bau. Sana-sana, nanti aku kehabisan napas kalau tak melepas hidungku", kata jaejoong. Dan dengan sadisnya, lagi-lagi jaejoong mendorong yunho.

"sayang, aku memakai sabunku yang biasanya. Ini wangi kok. Wangi yang kau sukai kan. Ini kamu sendiri yang memilihkannya untukku".

"aku tidak suka. Bau sekali. Kalau mau tidur denganku. Madi lagi! Pakai sabunku saja. Sabunmu bau", kata jaejoong kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Kali ini menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya.

Dengan raut muka sedih, yunho kembali memasuki kamar mandi, mandi lagi. Dengan sabun jaejoong yang jauh sekali dengan kesan manly. Mungkin kalau teman-temannya tau, ia pasti diledekin.

Ketika yunho berdiri di bawah guyuran air shower, yunho kembali mendapatkan sebuah ilham.

Kelima, jaejoong tidak menyukai wewangian tertentu. Istri kakaknya juga seperti itu ketika mengandung keponakannya. Dulu jaejoong juga begitu ketika mengandung changmin, kalau dulu jaejoong tidak tahan dengan bau makanan. Tidak suka dengan wewangian tertentu. Check list.

Setelah ritual mandi keduanya, yunho keluar dari kamar mandi dengan badan agak menggigil. Jaejoong yang melihat suaminya seperti itu langsung mendudukkan dirinya.

"yunnie, sayang, mian ne sudah membuatmu seperti ini. Aku tidak bermaksud mengerjaimu. Hanya saja, aku benar-benar tak menyukai baumu. Membuatku mual", kata jaejoong dengan wajah sedihnya.

"ah, ne. Tak masalah, sayang. Aku mengerti. Sekarang aku hanya butuh bergellung di dalam selimut tebal. Brrr, ini benar-benar dingin".

"kenapa tidak menggunakan air hangat?"

"tidak terpikirkan". 'karena aku memikirka hal lain sayang. Kekekekeke'.

Yunho pun menyamankan posisinya di kasur dengan balutan selimut tebal dan pelukan hangat istrinya. Tiga menit berlalu, yunho pun mulai membuka pembicaraan.

"apa sudah tidak masalah dengan bauku yang sekarang, sayang?", tanya yunho.

"ne, aku suka baumu yang sekarang. Sabun kesukaanku. Mulai sekarang, kau harus memakai sabun yang sama denganku ne?", kata jaejoong sambil mencium pipi yunho denga kilat.

"mmm, sayang. Aku punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu".

"apa itu?"

"mmm, eerrr. Aku rasaaa..."

"ne,"

"aku rasa, kau".

"aku? Kenapa?"

"kau hamil"

"aku hamil?"

"ne"

"dengan siapa?"

"hah?"

"apa?"

"maksudmu apa?"

"yang mana?"

"ah, lupakan".

"yasudah!"

"maksudkukauhamilkarenakuyangberartiyangkaukandungyaanakku".

"sayang, bicara yang jelas. Ku mohon. Aku sudah mengantuk, indera pendengaran dan penglihatanku mulai tidak berfungsi dengan baik".

"oke. Mungkin kau hamil. Besok kita periksa ya?", kata yunho dengan senyum yang menghias wajah lelahnya.

"tidak. Aku tidak hamil. Terima kasih atas sarannya. Aku mengantuk dan butuh tidur. Selamat malam. Love you. Cup". kecupan singkat di bibir yunho menjadi penutup bincang malam antara yunho dan jaejoong. Jaejoong pun menyamankan tidurnya dipelukan yunho dan memejamkan matanya.

"kalau tidak diperiksa bagaimana aku memastikan boojaejoongie hamil atau tidak?".

Hari ini adalah hari minggu. Bebas dari bekerja dan bisa bersantai bersama keluarga. Hari ini keluarga kecil yunjaemin memutuskn untuk menghabiskan hari libur di rumah saja. Hal ini dikarenakan sang nyonya yang sedang tidak enak badan.

"umma, ayo kita ke taman komplek", kata changmin penuh semangat sambil lompat-lompat. Khas anak kecil.

"ani, minnie. Umma sedang tidak enak badan. Lebih baik kita di rumah saja ya". Saat ini jaejoong sedang menikmati kegiatan pagi favoritnya yaitu memasak.

"minnie bosan, ummaaa".

"sekarang minnie bangunkan appa ne, suruh appa mandi. Setelahnya kita sarapan bersama. Arasseo?", perintah jaejoong. Tak lupa kedua tangannya menarik sudut-sudut bibir changmin membentuk senyum. Anak itu mudah sekali merajuk kalau keinginannya tidak dikabulkan.

Dengan langkah malas changmin berjalan menuju kamar appa dan ummanya. Menjadi anak baik dengan mendengarkan perkataan ummanya dan membangunkan appanya yang masih tertidur.

"appa, ireona. Minnie lapal. Sebaiknya appa cepat bangun bial minnie bisa cepat makan". Setelahnya changmin pun meninggalkan sang appa dan kembali menuju dapur. Yunho yang sebenarnya sudah bangun namun masih menikmati istirahatnya –tiduran- menjadi heran sendiri. Biasanya changmin akan mencak-mencak tak karuan, tak lupa pula suaranya yang menyamai toa masjid meneriakinya untuk segera bangun. Pasi terjadi sesuatu. Yunho pun langsung mendudukkan dirinya. Melakukan sedikit peregangan dan beranjak menuju kamar mandi.

Setelah mandi dengan bersih menggunakan sabun milik jaejoong, yunho pun melangkahkan kakinya ke depan lemari. Badannya hanya terbalut handuk di pinggangnya dan handuk lainnya yang disampirkan di lehernya. Karena hari ini adalah hari libur, yunho pun mengambil baju santai di lemarinya. Memilah-milih baju apa yang ingin dia pakai saat ini.

Kegiatan pilah-pilih baju yunho terhenti ketika tangannya tak sengaja menyentuh sebuah benda panjang pipih yang masih terbungkus kemasan. Diambilnya benda tersebut. Dibacanya tulisan yang tertera pada kemasan.

"tespack. Alat penguji kehamilan yang telah teruji. memahami keinginan anda", dengan seksama yunho membaca satu per satu kata yang tercetak pada kemasan. Dibolak-baliknya tespack tersebut.

"ah, bodohnya aku. Ini alat tes kehamilan", kata yunho spontan. Bodohnya. Padahal jelas-jelas tadi sudah ia baca. Ckck.

"kalau begitu aku suruh saja jaejoong menggunakan tespack ini untuk membuktikan hipotesaku. Asiiiikk". Yunho yang kelewat girang pun melompat-lompat seperti anak kecil. Tanpa disangka-sangka, handuk yang melilit di pinggang seorang jung yunho jatuh tergeletak di lantai. Semilir angin berhembus dari jendela mengenai badannya yang tak terbalut apapun. Secepat kilat yunho mengangkat kembali handuknya dan melilitkan handuk tersebut dengan asal. Ia pun mengambil asal kaos di lemarinya dan mengenakannya secepat kilat untuk segera bertemu dengan jaejoong. Tak lupa pula dengan tespack yang ia taruh disaku celana pendeknya.

Maaf kepotong disini..

untuk #WhatHappenToYou ini panjang sekali yaa..

hehehehe