Malam itu aku terlalu lelah hingga aku merasa tak nyaman untuk tidur. Tulang-belulangku seakan remuk setelah dipaksa untuk menari seharian penuh. Semua orang di asrama sudah tertidur lelap. Tak terkecuali Jongin yang sekamar denganku. Aku berdiri termenung di daun jendela kamar. Kupandangi langit bertabur bintang di atas sana, dan sebuah rembulan yang bersinar dengan terang. Aku jadi teringat dengan sebuah lagu mandarin yang dinyanyikan oleh Deng Lijun atau yang lebih dikenal dengan nama Teresa Teng. Lagu itu mengisahkan sepasang kekasih yang mengikrarkan cinta mereka di bawah sinar rembulan. Lagu ini sangat terkenal. Meskipun (mungkin) kau tidak mengerti makna syairnya, aku yakin kau pasti pernah mendengarnya, setidaknya sekali dalam hidupmu.

Ni wen wo ai ni you duo shen

(kau bertanya seberapa dalam aku mencintaimu)

wo ai ni you ji fen

(seberapa besar cintaku padamu)

wo de qing ye zhen

(kasih sayangku ini nyata)

wo de ai ye zhen

(cintaku ini nyata)

yue liang dai biao wo de xin

(bulan lah yang melambangkan hatiku)

Airmata menggenang di pelupuk mataku ketika aku menggumamkan lagu ini. Entah kenapa aku jadi merindukan keluargaku di Beijing. Sudah lama sejak terakhir kalinya aku menghubungi mereka. Aku bahkan tak sekalipun memberitahukan kepada mereka tentang keikutsertaanku di agensi ini. Bukannya aku tidak mau memberitahukannya pada mereka, namun aku hanya ingin membuat kejutan untuk mereka saat aku debut nanti. Aku ingin pulang. Meskipun setelah tiba di rumah aku akan jarang sekali melihat kedua orang tuaku karena kesibukkan mereka, tapi aku ingin sekali kembali ke Cina. Aku rindu dengan kampung halamanku.

Setelah beberapa bulan menjalani masa pelatihan, sampai detik ini tak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa aku akan segera debut. Bahkan setelah datangnya Jongdae dan Baekhyun yang membuat jumlah kami genap dua belas orang, aku harus tetap menjalani pelajaran-pelajaranku yang entah kapan akan berakhir. Kurasakan hidup yang terbentang di hadapanku seperti jalan panjang yang tidak menuju kemana-mana. Kadang ketika aku berjalan pulang menuju asrama setelah seharian berlatih, lama aku berdiri di tepi jalan. Memandangi remaja-remaja seusiaku mengobrol melewatiku. Mungkin mereka hanya mau jalan-jalan menikmati suasana kota. Tetapi bagiku mereka pergi dari satu hal penting ke hal penting lain dengan tujuan hidup yang jelas. Sedangkan aku sebaliknya. Kegiatanku tak lebih dari sekedar berlatih menari dan menyanyi. Aku merasa sangat takut. Mungkin suatu hari nanti remaja-remaja di Seoul itu akan maju terus dalam tujuan hidup mereka yang pasti dan meninggalkanku.

Entah setan apa yang merasukiku malam itu. Tanganku seolah bergerak sendiri tanpa kuperintahkan. Memasukkan semua barang-barangku ke dalam sebuah koper dan membawanya keluar dengan megendap-endap. Hanya berbekal sisa uang 1500 Won, aku nekat kabur malam ini juga. Aku tak tau apakah uang itu bisa membawaku kembali ke Beijing atau tidak. Kalaupun aku harus menjadi seorang pengemis dan gelandagan di jalan, kurasa hal itu jauh lebih baik dibandingkan harus terkurung di asrama ini. Dengan hati berdebar, aku melangkahkan kaki perlahan-lahan. Dalam hati aku terus berdoa agar tidak ada orang yang melihatku. Namun sepertinya aku gagal.

"Kau mau kemana?" Suara itu menginterupsi langkahku.

Aku berhenti dan memejamkan mata. Berharap apa yang kudengar hanyalah ilusi semata. Namun setelah beberapa saat suara itu terdengar lagi, membuatku semakin yakin bahwa semua ini nyata.

"Ni yao qu nar (Kau mau kemana)?" tanyanya sekali lagi kali ini dalam bahasa Mandarin.

Kuberanikan diri untuk menengok ke belakang. Dan aku merasa sedikit lega bahwa yang menemukanku adalah Yifan. Ya, setidaknya aku bisa merayu Yifan untuk merahasiakan hal ini dari siapapun agar aku tidak harus menjalani hukuman karena mencoba untuk kabur.

"Kau mau ke mana?" Yifan mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.

"A... aku..."

"Apa kau mau kabur?"

Aku tak menjawab. Aku terus menunduk semakin dalam, tak berani menatap wajahnya sedikitpun. Kudengar Yifan menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian menyeretku ke halaman depan asrama ini dan kami duduk di sebuah bangku taman. Menatap pagar besi yang mengelilingi asrama ini layaknya seorang narapidana yang meratapi nasib malangnya di dalam penjara.

"Kau belum tidur?" aku memulai.

"Tadinya aku sudah tidur. Namun aku terbangun karena mendengar seseorang menanyikan 'yue liang dai biao wo de xin'."

"Oh! Duibuqi. Apakah suaraku mengganggu tidurmu?"

Yifan tersenyum. "Tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu tidurku. Justru aku senang bisa mendengar suaramu."

Sesaat kami terdiam, hingga akhirnya Yifan memecah keheningan di antara kami. "Kau lihat pagar itu?" katanya sambil menujuk pagar besi di hadapan kami. "Aku bisa saja melompat keluar dari pagar itu kapanpun. Tapi aku tak akan pernah melakukannya. Karena masa depanku ada di sini."

"Masa depan kau bilang? Bagaimana kau bisa mengatakan hal yang seperti itu? Sampai detik ini mereka juga tak pernah memberikan kita kesempatan untuk debut." aku menyela.

"Baru berapa lama kau di sini? Apa kau lupa, aku sudah tiga tahun tinggal di sini. Bahkan Joonmyeon sudah lebih dari lima tahun. Kau pikir kami tidak lelah dengan semua ini? Menunggu dan terus menunggu."

"Tapi..."

"Dengarkan aku Luhan! Apa kau ingat manager-hyung pernah mengatakan bahwa kita akan debut dalam satu grub namun terbagi dalam subgrub masing-masing 6 orang. Dan jumlah kita sekarang sudah lengkap dua belas orang. Jika kau pergi dari sini, maka kau akan menghancurkan kita semua. Kita semua sudah seperti saudara. Apa kau tega meghancurkan mimpi saudara-saudaramu?"

"Masih ada siswa trainee lain yang lebih baik dariku."

"Tidak ada yang bisa menggantikanmu Luhan." ujar Yifan lirih.

Aku mendecih sebal. "Omong kosong!"

Yifan tertunduk. "Kita, kau dan aku lebih tepatnya. Kita tidak memiliki siapapun di sini selain mereka sebagai adik-adik kita. Apakah kau tidak pernah merasakan bagaimana perasaan mereka? Mereka juga lelah, sama sepertimu. Tapi mereka bertahan. Mungkin agensi merasa kita belum cukup mampu untuk didebutkan saat ini. Tapi aku yakin jika kita berusaha lebih keras lagi, kita akan bisa debut dengan segera."

Aku terdiam. Airmata yang dari tadi kutahan akhirnya meluncur deras di kedua pipiku. "Aku merindukan keluargaku, Yifan. Aku ingin pulang."

Sejenak Yifan menangkup wajahku dan menghapus airmata itu. "Jangan menangis." ucapnya lembut. "Bertahanlah. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama. Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Bukankah kita satu keluarga?"

Cukup lama Yifan menatapku dengan alis tebalnya. Dia menatapku sedemikian rupa seperti seorang pemusik menatap alat musiknya sesaat sebelum dia memainkannya dengan pemahaman dan penguasaan. Aku merasa dia bisa melihat ke dalam diriku seakan aku bagian dari dirinya. Betapa kau ingin menjadi alat musik yang dimainkannya!

Malam itu aku dan Yifan terus mengobrol hingga menjelang pagi. Membicarakan apapun yang membuat kami nyaman berada di dekat satu sama lain. Aku menceritakan bagaimana keluargaku di Beijing dan segala aktifitas membosankan ayah dan ibuku. Dan Yifan pun demikian.

Aku baru mengetahui bahwa sebenarnya ia tak dilahirkan dengan nama Wu Yifan, melainkan Li Jiaheng. Semasa kecilnya kedua orangtuanya sering bertengkar. Bahkan tak jarang ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ibunya sering dipukul oleh ayah kandungnya ketika ia pulang dalam keadaan mabuk. Pada akhirnya ibu Yifan membuat sebuah keputusan yang cukup berat. Bercerai. Namun dua tahun kemudian, sang ibu menikah lagi dengan seseorang bermarga Wu. Mereka memutuskan untuk pindah ke Kanada setelahnya. Dan sejak saat itu Li Jiaheng mengubah namanya menjadi Wu Yifan.

"Apa kau merindukan ayah kandungmu?" tanyaku perlahan ketika ia telah mengakhiri ceritanya.

"Entalah. Sejak kami pindah ke Kanada, aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Mungkin jika kami bertemu di jalan, kami tak akan saling mengenal."

"Menangislah, jika kau ingin menangis."

Yifan menggeleng. Namun setitik air mata berhasil lolos dari sudut matanya. "Maaf, aku sudah membuatmu terbebani dengan ceritaku."

"Terbebani?" aku menaikkan sebelah alisku. "Siapa yang bilang seperti itu? Aku sama sekali tak merasa terbebani dengan ceritamu. Justru aku senang, setidaknya kau sudah bersedia membagi kesedihanmu bersamaku. Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita semua adalah saudara?"

Dia tak lagi merespon kata-kataku. Hanya menyunggingkan senyum ringan di sudut bibirnya. Aku balas memandangnya dengan sakit hati, meski sakit yang menyenangkan, jika hal seperti itu ada. Aku ingin mengatakan bahwa aku mengalami malam yang lebih menyenangkan daripada yang pernah kualami seumur hidupku. Aku merasa sedih jika ini semua berakhir, tetapi aku tetap bersyukur ini telah terjadi. Sejak malam itu aku sudah lupa bahwa aku sedang menantikan pertanda untuk masa depanku.

Dalam obrolan singkat bersama Yifan, aku telah berubah dari remaja tersesat yang hidup penuh kekosongan menjadi remaja yang memiliki tujuan hidup. Mungkin kedengarannya aneh jika obrolan ringan di malam hari bisa membawa perubahan semacam itu. Menjadi seorang penyanyi adalah sebuah batu loncatan untuk sesuatu yang lain. Aku bersedia menahan penderitaan selama pelatihan, menjalani semua beban berat demi kesempatan untuk bersama Yifan. Menemukan tempatku di dalam dunianya.

.

.

.

Di suatu pagi, saat aku terbangun dengan kepala pening, aku mendengar Joonmyeon berteriak-teriak di asrama. Membangunkan kami satu per satu dan menyuruh kami berkumpul di ruang tengah. Dia adalah leader utama kami, jadi mau tidak mau aku harus menuruti kata-katanya.

"Dengarkan aku," ia memulai. "Manager-hyung menghubungiku pagi-pagi tadi dan kalian tau apa?" ia menatap kami satu per satu. Tentu saja saat itu kami tidak tau. Kami bukan peramal yang bisa membaca pikiran orang.

"Hari ini kita harus datang ke kantor untuk meeting persiapan debut." lanjutnya.

Untuk sesaat kami semua membatu. Berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh leader kami. Dan tiba-tiba saja Chanyeol dengan suaranya yang menggelegar, membawa kami kembali ke dunia nyata.

"Astaga! Aku benar-benar tak menyangka bahwa kita benar-benar akan debut."

Kudengar di sisi lain Joonmyeon dan Tao menangis. Bukan karena sedih tetapi karena terlalu bahagia. Penantian panjang kami akan segera usai.

.

.

.

Meeting hari ini dipimpin langsung oleh produser kami, Lee Sooman. Tak lupa para petinggi perusahaan juga turut hadir dalam rapat yang membahas masalah teknis tentang debut kami.

Lee Sooman menerangkan bahwa grub kami bernama Exo dan akan di bagi dalam dua subgrub Exo-M dan Exo-K yang masing-masing terdiri dari enam orang. Exo sendiri berasal dari kata Exo Planet. Dikatakan oleh Sooman, bahwa kami adalah makhluk yang berasal dari Exo Planet. Diceritakan bahwa kami memiliki kekuatan supranatural yang berbeda satu sama lainnya. Aku tak akan menjelaskan banyak tentang hal ini, karena kau pasti sudah mengetahuinya *sebenarnya saya males nulis panjang-panjang XD* Kami hidup terpisah di dunia berbeda namun sebenarnya sama. Aku mengerti tentang konsep ini. Yang artinya Exo-M dan Exo-K sejatinya adalah sama. Meski dua grub yang berbeda, kami menyanyikan lagu yang sama dan menari dengan gerakan yang sama. Satu hal yang membedakan adalah bahasa. Exo-M akan menyanyikan lagu berbahasa Mandarin dan Exo-K akan akan menyanyikan lagu berbahasa Korea.

Tak hanya itu, agensi juga memberikan nama panggung untuk kami. Joonmyeon yang ditunjuk sebagai leader K mendapatkan nama panggung Suho, yang berarti penjaga. Dan aku yakin sekali bahwa Joonmyeon akan bisa menjaga membernya dengan sangat baik. Ia ditunjuk sebagai leader karena di antara kami semua, dialah yang menjalani masa trainee paling lama. Dan karena hal itulah, dia dianggap yang paling berpengalaman.

Sedangkan Kyungsoo mendapatkan nama D.O yang diambil dari nama marganya Do. Gaya penulisan nama D.O merupakan sebuah pencitraan Kyungsoo yang memiliki mata yang lebar dan bulat. Serupa dengan emoticon O.O

Jongin mendapatkan nama Kai. Kai dalam bahasa Mandarin artinya 'membuka'. Sebagai member pertama yang akan diperkenalkan ke publik, ia diharapkan bisa membuka jalan bagi Exo untuk melangkah menuju industri hiburan yang sesungguhnya. Meski namanya diambil dari bahasa Mandarin, bukan berarti dia akan menjadi member M.

Jongdae dan Minseok yang ditunjuk untuk bergabung dengan dengan grub M, masing-masing mendapatkan nama Chen dan Xiumin. Yah, kurasa hal itu agar nama mereka 'similar' dengan nama-nama orang Cina. Dan aku sedikit tak mengerti dengan nama Lay untuk Yixing atau pun Kris untuk Yifan. Aku tidak terlalu memperhatikan saat Tuan Lee Sooman menjelaskannya kepada kami.

Banyak orang yang mengatakan bahwa masa-masa menjelang debut adalah seperti ketika seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa orang-orang beranggapan seperti itu. Seekor ulat hanya perlu menenun kepompongnya dan tidur selama beberapa waktu. Sedangkan kami tak pernah sesibuk itu sebelumnya. Jadwal kami semakin padat setiap harinya. Shooting untuk teaser dan MV, rekaman, latihan, persiapan showcase dan sederet kegiatan lainnya yang menguras tenaga. Kami bahkan hanya tidur tidak lebih dari tiga jam selama satu hari penuh.

Aku boleh saja belum genap berusia dua puluh tahun kala itu, namun tampaknya bagiku aku sudah menjalani dua kehidupan. Hidup lamaku sebagai seorang mahasiswa telah berakhir beberapa waktu lalu, dan hidup baruku sebagai penyanyi baru saja dimulai. Aku tidak tau apakah ini masuk akal bagimu, tetapi pikiranku pada malam sebelum debutku seperti kebun yang bunga-bunganya baru mulai menyeruak dari tanah, sehingga masih belum bisa diketahui bagaimana nantinya. Aku merasa bergairah sekali. Dan tepat di tengah kebun dalam pikiranku berdiri sebuah patung. Patung seorang penyanyi yang merupakan gambaran penyanyi idealku. Aku ingin menjadi penyanyi seperti itu.

.

.

.

Hari ini kami meninggalkan Korea menuju Cina. Rencananya kami akan membuat sebuah pertunjukan di sana. Panggung pertama kami di Cina. Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia. Bagaimana tidak, setelah sekian lama aku meninggalkan negaraku, akhirnya aku bisa menginjakkan kembali kakiku di tanah kelahiranku. Ingin sekali aku berteriak untuk mengungkapkan betapa bahagianya aku, namun tentu saja hal itu tak bisa kulakukan.

"Hari ini kau tampak bahagia sekali, hyung?" ujar Sehun yang duduk tepat di sampingku.

"Tentu saja. Aku sudah menantikan saat seperti ini lama sekali."

"Kau sudah menghubungi orangtuamu?"

Tentu saja. Aku sudah mencoba menghubungi mereka beberapa kali dan meminta mereka untuk hadir di showcase kami. Namun mereka menolak. Ayah mengatakan bahwa ia sedang rapat penting di parlemen. Sedangkan ibu harus menghadiri sebuah kongres yang aku sendiri tidak tau apa itu. Kadang aku berfikir, mengapa mereka selalu lebih mementingkan pekerjaan sibandingkan dengan putranya sendiri. Kenapa mereka seperti itu? Sejak kecil aku hidup dan tumbuh bersama orang-orang yang dibayar khusus untuk menjagaku. Kenapa mereka tidak menjagaku dengan tangan mereka sendiri? Apa aku ini bukan anak mereka?

"Hyung, kau melamun?" Sehun mengibaskan telapak tangannya di depan wajahku.

Aku menggeleng.

"Apa aku sudah membuatmu sedih?"

Aku pastilah tampak sangat menyedihkan sekali hingga Sehun berkata seperti itu. "Tidak Sehun-ah." Aku berusaha bersikap tenang di hadapannya.

"Apa kau sakit?" Dia menatapku dengan pandangan khawatir.

Sekali lagi aku menggeleng. "Aku baik-baik saja."

Sepertinya dia tidak terlalu percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. Tampak jelas kekhawatiran di raut wajahnya. Ia hendak mengatakan sesuatu sepertinya, namun sebelum ia sempat mengutarakannya, sang pramugari memberitahukan bahwa kami akan mendarat dalam wakutu kurang dari lima belas menit.

.

.

.

Showcase kami di Cina dihadiri lebih dari tiga ratus orang. Jungshin mengatakan bahwa jumlah itu cukup banyak mengingat Exo yang belum memulai debutnya secara resmi dan banyak orang yang belum mengenal kami. Tentu saja aku merasa senang. Ini merupakan suatu awal yang baik untuk kami. Di atas panggung, aku mencoba mengutarakan betapa berterimakasihnya aku kepada mereka semua yang telah hadiri di showcase kami dan kepada mereka semua yang telah membantu kami sampai di titik ini. Meski aku yakin kata-kataku tak bisa mengekspresikan kepenuhan perasaanku. Aku berterimakasih kepada mereka semua untuk sesuatu yang bahkan hingga sekarang pun tak bisa kejelaskan

Tapi entah kenapa sebagian dari diriku merasa kosong. Ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa aku sedang tidak berasa di tempatku. Beijing dalam sekejab berubah menjadi sebuah kota asing bagiku. Aku tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi. Dan ketika melihat Tao yang menangis dipelukan ibunya, barulah aku menyadari apa yang terjadi.

Kota ini adalah kampong halamanku. Sama halnya dengan Yixing dan Tao. Yang membedakan adalah mereka berdua bersama dengan keluarga mereka, sedangkan aku tidak. Hal itulah yang membuatku merasa asing di sini. Seolah-olah tak ada seorangpun yang kukenal. Bukan hanya orangtua Tao dan Yixing yang datang langsung dari Qingdao dan Changsa, ibu kandung dan ayah tiri Yifan pun jauh-jauh menyebrangi benua hanya untuk melihat panggung perdana putra semata wayangnya itu. Sementara kedua orang tuaku yang sudah bertahun-tahun menetap di Beijing malah menyibukkan diri dengan pekerjaan dan mengabaikanku.

.

.

.

~~~ Bersambung ~~~

Terimakasih kepada semua yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan me-review chapter sebelumnya.

Kritik dan saran terus saya tunggu untuk perbaikan di masa depan.