Tittle : Do you love me, Takachan ?
Warning : OOC, garing,
Pairing : Takao Kazunari X OC
Disclaimer : Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Hari ini adalah hari dimana aku dan takachan akan kencan. Yah inilah kencan pertama kita.
Aku berdandan secantik mungkin. Aku mengenakan kaos putih yang ku padukan dengan rok pendek bewarna orange. Aku mengenakan sepatu boots selutut. Aku sengaja mengeraikan rambut sebahuku.
Dan kau tau, ini adalah pertama kalinya aku mengenakan rok. Biasanya aku selalu mengenakan celana. Entah itu celana panjang atau pun celana pendek.
"Mai..?" Ibu memanggilku dengan wajah yang kebingungan.
"Iya, ada apa okaa-san ?" Aku bertanya dengan menyunggingkan senyuman manisku.
"Nee-chan, ada apa dengan kau, apa kau sedang sakit ?" Ledek adik lelakiku.
Aku hanya terdiam dan tetap menyunggingkan senyuman manisku. Aku tahu mereka semua pasti heran.
"Okaa-san, otou-san, aku pamit dulu, ittekimasuuuu~ " kataku semangat dan bergegas ke stasiun.
Ayah hanya terkejut dan tak mengatakan apa apa. Mungkin ayah berfikir bahwa aku ini telah berubah menjadi peri cantik.
30 menit lagi waktuku bertemu dengan takachan. Aku sudah tak sabar.
"Aku sudah tak sabar" gumamku senang.
Aku pun sampai di depan stasiun. Aku langsung saja mencari lelaki berambut raven.
Tapi aku tak melihatnya. Aku duduk dan menghela nafasku "ahh, takachan belum datang yah"
Sudah 20 menit lebih aku menunggunya. Sekarang sudah jam 10.20, tapi aku belum juga melihat batang idung takachan.
"Takachan, osoi" gumamku sambil melirik jam tanganku.
Aku tetap menunggunya, tiba-tiba saja awan menjadi mendung. Sepertinya hari ini akan turun hujan. Ramalan cuaca hari ini tak tepat.
Rintik hujan pun mulai turun. Semakin lama hujan semakin deras. Aku berteduh di depan super market di sebelah stasiun.
"Takachan" kataku pelan menahan tangis.
Sudah dua jam lebih aku menunggu takachan, tapi dia tak juga datang. Takachan, kau pembohong!
Aku berlari, berlari dan berlari. Hujan turun begitu derasnya. Dingin, dingin. Aku terus berlari tanpa menghiraukan hujan yang terus mengguyur.
Keesokan harinya. Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi, rute saat ini berbeda. Aku mengambil arah memutar, biasanya aku suka sekali lewat jalan yang selalu takachan lewati.
Badanku lemas. Rasa dingin yang sejak kemarin aku rasakan belum juga hilang. Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di bangkuku.
Salah satu dari temanku menghampiriku. Dia sahabat terbaikku.
"Mai, doushite ? Muka mu terlihat pucat" tanyanya khawatir.
"Eh, begitu kah ?" Aku berpura-pura kaget.
"Iya, apa kau sakit ?"
"Tidak, aku tidak apa apa kok"
Sebenarnya aku merasa sedikit pusing. Mungkin karena efek kemarin. Ah, rasanya aku benci sekali mengingat hal yang terjadi kemarin.
"Mai, apa benar kau tak apa apa ?" Tanya rei khawatir.
"Iya, aku tidak..."
Tiba-tiba saja pandangan disekitar ku menjadi hitam gelap. Ada apa ini ?. Aku merasa ada seseorang berteriak. Tapi, lama kelamaan suara itu pun menghilang.
Sambil memegang kepala yang terasa sakit, aku membuka mataku "ini ?"
"Kenapa aku bisa disini ?" Tanyaku dalam hati yang masih memeriksa pandangan ke seluruh ruangan.
Mataku terhenti saat melihat seseorang sedang tertidur di sebelah ranjangku. Muka nya begitu terlihat cape. Rambutnya yang basah karena keringat.
Aku tahu bahwa dia adalah lelaki yang tak ingin ku temui saat ini. Aku sedih, marah, kecewa, pada dirinya.
Lelaki itu terbangun, dan terkejut saat mata kami saling bertatapan. Aku buru-buru membuang muka.
"Mai, kau tak apa apa ?" Tanya takachan dengan ekspresi khawatirnya. Aku tak menjawab.
"Mai, mai.." Dia terus memanggilku. Aku tak menatapnya. Tak menjawabnya. Aku hanya terdiam menahan tangis yang keluar.
"Mai, gomen. Aku tahu kau marah padaku, namun untuk saat ini lihat aku, jawab aku mai" dia berteriak dengan nada yang bergetar.
"Takachan, bagimu aku ini apa ?" Tanya ku pelan.
"Mai, kau itu pacarku" jawab takachan begitu jelas.
"Pacar ? Aku ini pacar takachan ? Tapi, kenapa kau cuek padaku ? Kenapa kemarin kau bohong padaku ? Terus kenapa kau terlihat begitu bahagia saat bersama lelaki hijau si maniak oha-asa itu?" Teriakku pada takachan sambil mengeluarkan air mata.
Yah saat ini aku menangis. Takachan terkejut saat melihatku menangis. Dia menunduk lama sekali, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Ne, takachan, apa aku ini jelek ? Atau tuhan sedang marah padaku ?" Aku bertanya pelan.
Takachan tak menjawabnya. Takachan menangis dan tiba-tiba saja memelukku. Tangannya gemetar, nafasnya ngos ngosan.
"Mai, maafkan aku" katanya lirih. "Maafkan aku" dia mengulanginya lagi.
Aku terdiam. Aku merasa bersalah. Takachan menangis karena aku ?. Takachan yang selalu tersenyum, saat ini menangis. Aku payah.
Dilain pihak. Di depan pintu uks, ada lelaki jangkung dengan rambut berwarna hijau sedang mengamati kami.
"Bakataka" gumamnya pelan dan langsung meninggalkan tempatnya berdiri tadi.
Takachan melepas pelukannya. Dan tiba-tiba saja takachan menciumku. Hanya sebentar bibir kami saling bersentuhan.
"Mai, maafkan aku, bukannya aku tak ingin menjawab apa yang kau tanyakan. Hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat" jawab takachan lembut dan langsung meninggalkan ku sendirian di ruang uks.
akiyama taiga : ahhaha~ arigatou ne w aku lanjutkan sebisa ku, dan aku akan berjuang lebih.
ikanatcha96 : iya, abisnya aku bingung, tapi aku akan coba buat yang panjang deh hehe
makasih untuk yang baca, semoga ff ini bisa berlanjut sampai kita nenek"/kakek" /bukan/
sebenarnya ingin uploadnya kemaren waktu takachan ultah, tapi gak sempet T^T , maafkan aku huhuhu *nangis dipojokan*
