Disclaimer : SnK selamanya tetep punyanya HAJIME ISAYAMA

Rating : T

BROTHER OR SISTER?

Chapter 2..

Disinilah sekarang Eren, berada diruang makan bersama keluarga dan calon ibu tiri dan kakak tirinya. Mungkin untuk beberapa orang memiliki keluarga baru adalah hal yang bagus, tapi apa kalian bisa bicara seperti itu kalau keluarga atau tepatnya kakak baru kalian adalah orang yang meninggalkan menyebalkan saat pertama bertemu? Mungkin Eren lebih suka memilih Keith Sadish sebagai kakaknya daripada seorang Rivaille.

"Senang sekali melihat kita semua berkumpul disini, walaupun belum resmi tapi kita terlihat seperti keluarga sungguhan. Betapa hangatnya hati ini." kata ayah Eren, Grisha Jaeger sembari memeluk dirinya sendiri dengan genit membuat Eren merasa menyesal punya ayah seperti dia.

'Ini sih bukan hangat, tapi panas membara. Apalagi antara mereka.' pikir Eren melirik dua manusia berambut hitam dengan tingkat kesadisan sama rata saling melempar tatapan tajam.

"Makanannya enak Eren?" Eren spontan beralih kearah pemanggil namanya, Hanji Zoe. "ini kubuat dengan tanganku sendiri setelah seminggu belajar masak." Eren memandang makanan dihadapannya, telur dadar dan nasi putih untuk makan malam? Belajar selama seminggu?

Eren memandang ayahnya minta penjelasan tentang menu malam ini, tapi nyalinya ciut saat melihat tatapan kolosal Grisha yang seakan berbicara 'Katakan enak atau kau tidur diluar!'

"Ah, iya enak Hanji-san." puji Eren sambil tersenyum canggung.

"Kau memang pintar, Hanjiku." Grisha mencubit pelan pipi Hanji, membuat pipi sikacamata hermaprodit itu sedikit memerah.

Eren menyipitkan mata tidak suka,'Ukh, dasar pasangan kacamata aneh, batinnya dalam hati.

"Ini semua berkat Rivaille, dia yang mengajarkanku memasak. Saat aku tidak ada dirumah dia yang mengerjakan semua tugas rumah." Eren ternganga tidak percaya, orang sesadis Rivaille memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah?

Didalam pikiran Eren Rivaille kini memakai celemek bergambar titannya dan memegang pisau tajam ditangannya yang penuh penuh darah, yang entah darah siapa itu. Eren menggelengkan kepalanya menghilangkan bayangan mengerikan diatas kepalanya.

"Wah, benarkah? Kalau begini kalian tidak akan kelaparan saat kami berdua pergi nanti." kata Grisha memandang dua anaknya itu.

"Eh, maksud Otou-san? Pergi?" tanya Eren tidak mengerti begitu juga Mikasa yang menghentikan kontes menatap dengan Rivaille dan beralih memandang Grisha hanya untuk minta penjelasan atas kata-katanya tadi.

"Iya, kami akan liburan ke Afrika untuk meneliti kehidupan gajah Afrika disana setelah kami menikah sekaligus berbulan madu." Grisha dan Hanji saling menempelkan dahi masing-masing sambil berpegangan tangan. "Dan kalian akan tinggal bertiga disini."

SING KRIK KRIK

Demi kepala Pixis yang botak permanen rasanya Eren ingin meminta ibunya untuk segera menjemputnya dari dunia ini menuju akhirat sana.

Dan untuk kedua kalinya malam itu Eren kembali bermimpi buruk tentang Rivaille. Kali ini Rivaille menyiksanya dengan memberikan hukuman membersihkan kamar mandi menggunakan sikat giginya, dan diakhiri dengan teriakan kolosal Eren yang membuat Mikasa kalang kabut.

Brother or Sister?

Eren akhirnya pergi kesekolah walaupun Mikasa harus menjaganya layaknya bodyguarad yang mondar mandir disekitarnya, kalau-kalau Eren masuk lubang galian pasalnya Eren kurang fokus pagi ini. Saat dirumah tadi, Eren beberapa kali terbentur hingga kepalanya agak membenjol, Mikasa yang overprotektif langsung melilit kepala Eren dengan perban walaupun tidak ada darah yang mengucur dari dahinya.

"Mikasa, Eren tunggu aku!" pemuda manis berambut pirang berlari menyusul dua orang berbeda marga itu.

"Ohayou Mikasa, Er_UWAA!" Armin ketakutan sampai terjungkal kebelakang.

"Armin, kau kenapa?" Eren mengulurkan tangan ke Armin yang disambut takut-takut oleh Armin.

"E-ren, wajahmu mengerikan! Hallowen sudah lewat beberapa hari, kau tahu?" katanya sambil gemetar.

"Hallowen?" Eren Mengernyitkan alisnya.

"Iya Armin, memangnya ada yang aneh dengan Eren?" Armin langsung ternganga OOC mendengar Mikasa. Tapi Armin maklum karena sehancur apapun penampilan Eren, dimata Mikasa Eren tetaplah paling tampan.

"Lihatlah sendiri." Armin memberikan cermin kecilnya pada Eren yang ditatap bingung oleh Eren, sejak kapan teman kecilnya itu menyimpan cermin didalam tasnya? Ah, sudahlah.

Eren memperhatikan wajahnya sebentar. "Hmm, wajahku tampan juga." Armin kejang-kejang dengan mulut berbusa.

"Eren, kantung matamu punya kantung mata!" sepertinya Armin terlalu banyak nonton Spongebobs. "Dan lihat rambut berantakan, wajahmu terlalu tirus dan pucat, lihat pakaianmu, astaga kau salah mengancingkan bajumu seharusnya kancing pertama dengan lubang kancing pertama bukan lubang kancing ketiga, Eren." Armin sekarang terlihat seperti ibu-ibu yang mengantar anaknya kesekolah dasar untuk pertama kali.

"Armin, tenang." Mikasa memegang kedua bahu Armin, " Eren sebaiknya kau rapikan wajah dan pakaianmu sekarang."

"Baiklah." Eren merapikan penampilannya walaupun kantung matanya belum hilang, Armin akhirnya tenang.

"Sesuatu terjadi padamu, Eren?" Armin mencoba menebak-nebak dari raut wajah Eren, sepertinya Armin sekarang bekerja sampingan menjadi ahli penafsiran wajah.

Eren menunduk menyembunyikan iris emeraldnya dibalik poni belah tengahnya, "Aku dan Rivaille-senpai akan jadi keluarga, begitu juga dengan Mi_" pembicaraan Eren terhenti karena Armin berteriak histeris tanpa alasan, "Ma-maksudmu kau dan Rivaille-senpai akan menikah?!" lama kelamaan Eren ingin sekali menonjok wajah polos Armin.

"Arrgh, bisakan kau tidak memotong omonganku!" bentak Eren, "maksudku, Aku dan Rivaille-senpai akan menjadi keluarga, begitu juga Mikasa karena Rivaille-senpai itu anak angkat Hanji, calon istri ayahku." Armin mencerna perkataan Eren, entah kenapa otaknya yang sebenarnya dibawah Mikasa sedikit mengering sekarang.

"Ber-arti, kalian bertiga Akan menjadi saudara?" Eren dan Mikasa mengangguk Bersamaan. "Kalau begitu kau akan terkena siksa setiap hari oleh Rivaille-senpai, Eren." kata Eren dengan polos, sontak wajah Eren memucat mendengarnya.

Mikasa memijit bahu saudara angkatnya itu untuk mengurangi ketegangan. "Armin, tidak usah diperjelas dan jangan katakan pada siapapun." tambah Mikasa.

Brother or Sister?

Sosok berwajah datar layaknya teflon itu terlihat memandang keluar jendela memperhatikan murid-murid yang memasuki Trost High dari dalam ruangannya yang super duper bersih tanpa setitikpun debu karena dibersihkan setiap lima menit sekali.

TOK TOK

"Masuk." dari balik pintu terlihat gadis berambut karamel berwajah cantik memeluk beberapa berkas didadanya dan sebelah tangannya memegang gelas berisi kopi.

"Selamat datang kembali, Rivaille-Heichou." ucapnya sambil tersenyum manis. "Bagaimana kabar anda selama disana Heichou?" tanyanya, tangannya meletakkan minuman yang dibawanya tadi diatas meja Rivaille.

"Tidak ada yang istimewa, saat aku disana tidak ada yang membuatkanku minuman sepertimu, Petra." BLUSH, wajah gadis bernama Petra itu memerah bak kepiting rebus.

"Hei-chou." Petra malu sekaligus senang dipuji secara tidak langsung seperti itu, dia meremas berkas yang dibawanya hingga lecek saking senangnya.

"Apa kau membawanya?" Rivaille cepat-cepat meminta berkasnya takut semua dokumen itu dihancurkan oleh remasan Petra. "I-ini yang kau minta Heichou." Petra menyerahkannya ke Rivaille dengan wajah masih memerah, tapi Rivaille tidak peduli membuat Petra sedih.

"kenapa anda ingin meminta data tentang daftar siswa kelas 10, Heichou?" tanya Petra.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." mata kecil Rivaille terus menyusuri nama-nama yang tersusun didalam kertas itu, hingga dia berhenti pada sebuah nama 'Eren Jaeger'.

Nama : Eren Jaeger

Umur : 15 tahun

Kelas : 10-4

Klub yang diikuti : Tidak ada

Rivaille menyeringai sembari meletakkan kertas-kertas yang dibawa Petra diatas mejanya. "Apa semua siswa tahu kalau mereka diwajibkan mengikuti klub?" Petra mengangguk. "Hal itu diumumkan saat upacara penerimaan murid baru dan juga pemberitahuan kekelas setiap satu bulan sekali, Heichou." jelas Petra.

"Lalu kenapa ada murid bernama Eren Jaeger yang tidak mengikuti klub apapun?" Rivaille menunjukkan selembar kertas yang dilihat kedepan Petra.

"Ma-maafkan kami Heichou, anak itu sudah sering kami peringatkan tapi dia tidak mendengarkan kami sama sekali." Petra memainkan jarinya karena gugup. "Tapi akan kami tindak lanjuti sekarang, saya permisi." Petra berbalik menuju pintu tapi dia berhenti saat suara Rivaille menginterupsinya, "Tunggu, biar aku yang mengurus anak ini. Kau boleh kembali kekelasmu sekarang dan terima kasih atas dokumennya." Petra tersenyum dan berlalu keluar ruangan.

"Apa perasaanku saja, atau Rivaille-Heichou tadi menyeringai ya?"

Brother or Sister?

"Pelajaran Sir Irvin sangat membosankan." keluh Eren pelan. Mungkin ini sudah kesepuluh kalinya Eren bicara seperti itu, dia malah lebih sering memperhatikan rambut klimis gurunya itu dibandingkan pelajaran Matematikanya.

Mungkin berbeda dengan Armin yang begitu bersemangat mendengarkan semua perkataan dan memperhatikan gerakan guru berambut pirang tersebut, Armin dengan cepat mencatat semua perkataan Sir Irvin bahkan saat sang guru batuk pun Armin menuliskan kata UHUK dibuku tulisnya.

Mungkin alasan Armin membawa cermin tadi karena hari ini pelajaran Sir Irvin, jadi Armin perlu berdandan untuk menyambut guru Favoritnya itu. Eren hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan temannya itu yang sedikit menyimpang.

"Eren Jaeger, bisa kau maju kedepan menyelesaikan tugas ini?" Eren kaget, sedang Armin berdecih dan bergumam kesal 'Kenapa bukan aku!'

"B-Baik, Sir." Eren maju dan menatap papan tulis yang dipenuhi angka yang saling tumpang tindih menjadi suatu kesatuan yang mampu membuat beberapa urat sarafnya putus.

"Ng, maaf Sir aku tidak bisa." Eren menunduk dan menyerahkan spidol hitamnya pada Irvin.

"Aku harap kau lebih memperhatikan lagi, tapi aku senang kau masuk dipelajaranku hari ini, Jaeger dan teruslah seperti ini. Ini suatu kemajuan." puji Irvin sesekali menepuk kepala coklat Eren yang membuatnya malu, sedangkan Armin menelan bukunya mentah-mentah karena iri.

Yah, Eren akui dia jarang atau sangat jarang masuk kekelas untuk belajar. Tapi karena insiden Rivaille kemarin, dia lebih baik mengikuti pelajaran meskipun dengan mata terpejam sementara daripada harus berhadapan dengan monster cebol itu dan menutup mata untuk selama-lamanya.

Eren kembali ketempatnya, dan tanpa sengaja emeraldnya bersirobok dengan safir Armin yang kelihatan suram. Hingga akhirnya Irvin memanggilny, safirnya langsung berkilau dan Armin langsung melayang bak malaikat dengan senyum 1000 wattnya menuju depan kelas.

Brother or Sister?

Bisik-bisik terdengar saat sosok tampan berambut hitam dengan belahan poni berjalan membelah kerumunan dikoridor sekolah dengan wajah suram dan iris silvernya yang selalu menusuk tajam membuat murid perempuan berteriak histeris, tapi ada juga murid lelaki memekik senang, What?

"Lihat-lihat itu Rivaille-san, dia keren sekali." bisik seorang gadis kepada temannya.

"Dia sangat rapi dan harum."

Seorang gadis menunjuknya, "Lihat dia sangat pendek." dan gadis itu berakhir dengan kepala lebih dulu masuk kedalam tempat sampah.

"Rivaille-san sangat misterius dan tampan, andai saja dia jadi pacarku."

'Heh, dalam mimpimu, bocah.' pikir Rivaille. Dia terus berjalan tanpa peduli dengan omongan dari kanan kirinya, kaki mungilnya berhenti didepan kelas bertuliskan 10-4. Tanpa permisi dia masuk kedalamnya, semua murid yang masih berada didalam kelas menahan nafas mereka, bahkan beberapa murid mulai merapal mantra agar terhindar dari hukuman Rivaille.

Rivaille mendekati meja paling ujung, tempat pemilik surai coklat yang duduk membelakanginya bersama dua sahabanya.

"Kau tahu Armin, aku tidak bisa membayangkan kalau Rivaille jadi kakakku. Maksudku lihat badannya, kalau kami berjalan bertiga bisa-bisa kami disangka keluarga berencana." keluh Eren pelan agar tidak terdengar yang lain, Armin menepuk pundak Eren sekedar bentuk prihatin sedangkan Mikasa langsung menyembunyikan wajah malunya membayangkan dia menjadi suami istri sungguhan dengan Eren.

Tepukan dibahu Eren berhenti saat menatap sosok yang berdiri dibelakang Eren, keringat dingin mengalir deras begitu juga Mikasa yang langsung mengeluarkan aura membunuh.

"Mikasa, Armin ada apa?" tanya Eren bingung, Armin sudah menurunkan tangannya dari pundak Eren, tapi Eren bisa kembali merasakan seseorang memegang bahunya, "Cerita yang bagus, Jaeger. Bagaimana kau ikut aku dan kita bercerita diruanganku?" Eren meneguk ludah, kepalanya bergerak patah-patah menatap asal suara dibelakangnya. Oh demi muka kuda Jean, rasanya Eren ingin sekali meloncat melarikan diri lewat jendela kelasnya, dan Jean langsung berteriak "Woi jangan bawa-bawa Gue!"

"Ri-rivai-lle-senpai, ko-nichi-wa." Eren mengangkat sebelah tangannya yang gemetar untuk memberi salam.

"Ikut aku." perintahnya.

Mikasa memasang badan didepan Eren, "Tidak, memang dia salah apa?" wajahnya berubah sangar.

"Buka urusanmu Ackerman, Jaeger cepat aku tidak punya banyak waktu." Eren menepuk bahu Mikasa dan berbisik 'semua akan baik-baik saja' walaupun Eren meragukannya dan segera mengekor dibelakang Rivaille.

Brother or Sister?

Keduanya berhenti didepan sebuah pintu coklat dengan tulisan Ketua Osis tertempel didepannya. Rivaille masuk diikuti Eren yang gemetaran entah takut atau lagi nahan pipis.

Rivaille duduk dikursi kebesarannya dan mempersilahkan Eren duduk.

"Aku tidak melakukan kenakalan apapun hari ini Rivaille-san, dan aku minta maaf memanggilmu kecil." Eren langsung memajukan badannya kedepan Rivaille.

"Ini bukan masalah itu, tapi ini." Rivaille menunjukkan selebaran Berisi daftar klub, iris emerald Eren mengerjap-ngerjap kaget.

"Eh, ekstrakulikuler?"

"Kau tahukan semua murid wajib mengikuti klub, kudengar kau tidak mendengarkan anggota OSIS tentang pemberitahuan itu." Rivaille memandang horor Eren plus dengan wajah datarnya.

"Ma-af, tapi aku tidak tertarik dengan klub manapun." jujur Eren dengan wajah menatap kearah lain.

"Apabila sampai besok kau tidak ikut kedalam klub manapun, maka aku akan menghukummu." dunia Eren serasa runtuh mendengar ultimatum Rivaille. Bagaimana memutuskan ikut sesuatu yang bahkan kau tidak tahu apakah kau menyukainya atau tidak dalam satu hari?

"Aku tidak menerima penolakan, bocah." Eren bisa merasakan ada ancaman disetiap perkataan Rivaille tadi.

"Sekarang sebaiknya kau kembali kekelasmu." perintahnya, Eren terkejut dan mengangguk pasrah dan berjalan menuju pintu.

"Tunggu." Eren menengok kaget, "Datanglah keruanganku setelah pulang sekolah."

"Un-tuk apa Sen-pai?" Eren tergagap menjawabnya.

"Tentu untuk hukumanmu karena tidak ikut klub hingga sekarang, atau kau berharap aku mengundangmu untuk minum teh bersama disini?" jawabnya gusar.

"Eh! Tentu tidak senpai! Aku permisi!"

Brother or Sister?

Saat Eren kembali kekelas pelajaran sudah dimulai, Eren pun meminta maaf pada Miss Rico selaku guru bahasa inggris karena terlambat. Untunglah dia tidak dihukum dan Eren kembali kekursinya dengan langkah gontai.

"Eren, kenapa wajahmu lesu?" Mikasa berbisik agar tidak terdengar. Eren tidak menjawabnya, dia malah menunduk menatap mejanya.

"Eren!" Mikasa menepuk tangan Eren. "Ah!" Eren tersentak kaget dan berpaling kearah Mikasa.

"Ada apa Mikasa?" tanyanya malas.

"Kau melamun, dan ceritakan apa yang dilakukan bocah cebol itu padamu?" tuntut Mikasa.

"Bisa nanti saja, aku lelah Mikasa." Eren membenamkan kepalanya dikedua tangannya diatas meja.

"Tapi, Eren_"

"Ackerman,! Aku tidak menyuruh bicara sekarang dan Jaeger kalau kau tidur dikelasku kupastikan kau pulang dengan tugas rumah lebih banyak!" kata Miss Rico dengan keras. Semua orang dikelas memandang mereka berdua, malu juga tapi lihat sisi baiknya, sekarang Eren bisa sedikit benafas lega karena dia tidak harus menjawab pertanyaan Mikasa sekarang.

Brother or Sister?

Saat waktu istirahat tiba Mikasa memaksa Eren menceritakan apa yang terjadi, tentu saja Eren tidak bisa mengelak.

"Aku kena hukuman lagi karena tidak ikut klub." keluhnya sembari merebahkan kepalanya dimeja. Tapi sedetik kemudian dia bangkit dan memandang Mikasa, "Mikasa, kau ketua klub kendo,kan?" tanyanya.

"Iya, memangnya kenapa Eren? Kau mau ikut klub kendo?" Eren mengangguk membuat Mikasa langsung tersenyum sumringah, dengan begini waktu bersama Eren akan lebih banyak pikirnya.

Berbeda dengan pikiran Eren, sebenarnya dia tidak mahir menggunakan pedang kayu dia juga agak malas mengikuti latihan. Kalau ada Mikasa dia bisa minta izin sakit agar bisa bolos latihan, lagipula Mikasa sangat percaya padanya. Baru kali ini dia beruntung memiliki saudara sehebat Mikasa, dan satu masalah terpecahkan.

"Jadi kau diperintahkan Rivaille-senpai agar ikut klub?" Eren mengangguk untuk menjawab pertanyaan Armin.

"Bagaimana kalau kau ikut klubku saja Eren?" tawar Armin.

"Memangnya kau ikut klub apa?" tanya Eren penasaran, dibenaknya Armin ikut klub pencinta Sir Irvin yang kerjanya menyembah foto lelaki itu sambil berkata 'Nikahi kami Irvin', oh Eren ingin tertawa dibuatnya.

"Aku ikut klub Matematika." jawab Armin enteng, Eren langsung menyilangkan tangannya didada membentuk hurup X.

Eren tahu kenapa Armin memilih klub Matematika tentu saja karena guru pembimbing klub itu adalah Sir Irvin. Eren bertaruh, Armin lebih banyak mengingat berbagai ekspresi Sir Irvin daripada rumus matematika yang carut marut itu. Ya agak tidak jauh dengan bayangannya tadi.

"Hei, ada apa ini?" tanya Jean sok dekat.

"Eh, Jean. Ini Eren bingung mau ikut klub apa disekolah ini." jelas Armin.

"Hm, begitu ya. Bagaimana dengan klubku, kami sedang kurang orang." lagaknya seperti seorang salesman pikir Eren.

"Memangnya klubmu apa? Jangan bilang klub pencinta kuda, karena wajahmu seperti kuda, hahaha." Eren tertawa terbahak-bahak diikuti Armin dan Mikasa yang berusaha menahan tawanya.

"Enak saja, klubku itu keren. Kalau kau masuk kesana kau akan disukai para gadis, kau juga akan terkenal dan selalu dikejar para gadis." Jean berkacak pinggang bangga.

"Kau bohong!" Jean tercekat mendengar kata-kata Eren, "Apa kau bilang? Aku tidak bohong, wajah bayi." ejek Jean kesal.

"Kalau klubmu sebegitu kerennya, kenapa sampai sekarang kau belum punya pacar dan aku tidak pernah melihatmu dikejar gadis manapun kecuali Sasha, itupun karena kau merebut makan siangnya." Skakmat, Jean tidak bisa bicara lagi.

"Eh, itu, karena_" Jean bingung harus menjawab apa. " Itu karena aku orangnya pemilih, Jaeger." lanjutnya sambil menyilangkan tangan didada.

"Atau aku rasa kau paling jelek diklubmu, Jean." ejek Eren, telunjuknya mengarah kewajah Jean. Anak ini tidak sopan batin Jean.

"Sudah kukatakan aku ini orangnya pemilih, mereka saja yang bukan tipeku." kata Jean membela diri. "Sebenarnya tipeku itu seperti_Mikasa." kata Jean malu-malu, tapi yang dimaksud tidak peduli dan sibuk memakan Bento. Jean hanya sweetdrop melihat sedangkan Armin dan Eren kasihan melihatnya.

"Lalu klubmu itu apa, Jean?" tanya sipirang Armin.

"Aku ikut klub sepakbola."ujarnya sambil membuat gerakan menendang dengan kakinya, sayangnya tendangannya terkena kaki meja akibatnya dia meringis kesakitan memegang kakinya.

"Hahaha, makanya jangan sok keren, muka kuda." Eren kembali tertawa terbahak-bahak memegang perutnya.

"PPff, kau tidak apa Jean?" Armin mencoba menahan tawanya dan membantu Jean berdiri.

"Sialan kau, Jaeger!" Jean kesal karena diejek terus oleh Eren, belum lagi Mikasa yang meacuhkannya dan malah memperhatikan Eren.

Eren masih terus memegang perutnya. "Ahaha, maaf Jean itu sangat lucu, tapi_" Eren mengangkat wajahnya dan menatap Jean, "_Terima kasih karena mengajakku." Eren tersenyum tulus dengan rona merah dipipinya akibat tertawa.

Jean terdiam ditempat melihat pemandangan didepannya, seorang Eren Jaeger yang awalnya kasar dan pembuat onar tersenyum padanya seperti anak kecil tanpa dosa.

Pemilik rambut abu-abu itu memerah seketika, "M-manis sekali." gumamnya pelan. Mikasa menyipitkan matanya tidak suka, sepertinya dia mendengar gumaman Jean.

"Eh, kau bicara sesuatu, Jean?" suara Eren membawa Jean kembali kealam sadar. "Ah, Ng tidak ada." Jean jadi salah tingkah, "Pikirkan baik-baik Eren, kalau kau mau kau bisa bergabung dengan klubku." tawar Jean sekali lagi dan berbalik pergi.

"Akan kuberitahukan nanti, arigatou Jean." teriak Eren dan kembali tersenyum, tapi Jean lebih memilih berbalik dan menjauh daripada berhadapan dengan sisi lembut Eren yang membuat jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat daripada saat dia memandang Mikasa.

"Apa yang terjadi padaku!" lirih Jean.

Brother or Sister?

Murid kelas 10-4 keluar berhamburan saat jam sekolah berakhir, untuk sebagian orang pulang sekolah sangat ditunggu karena itulah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan badan mereka. Mungkin Eren salah satunya, tapi kini dia harus menunda waktu istirahatnya karena sang ketua OSIS kecilnya sedang menunggu Eren diruangannya.

Mikasa sudah lebih dulu pergi keklub kendonya, sedangkan Armin pulang kerumah karena tidak ada kegiatan klub.

Eren terpaksa menyeret kakinya menuju tempat dimana Rivaille menunggunya. Dia sebenarnya enggan kesana karena ini menyangkut hukumannya nanti, rasanya Eren ingin pingsan saja tapi dia tidak punya pilihan kecuali ingin hukumannya dua kali lebih berat.

TOK TOK

"Masuk." terdengar suara rendah yang sangat familiar ditelinganya.

"Permisi, Rivaille-senpai." pemandangan yang bisa dilihat Eren saat memasuki ruangan adalah Rivaille duduk dikursi besarnya bersama seorang gadis manis berambut coklat karamel. Eren tidak tahu namanya, tapi gadis ini sering mendatanginya untuk memperingatkan tentang berbagai hal yang menyangkut pelanggaran peraturan.

"Hallo Eren, kita bertemu lagi. Dari wajahmu seperti kau tidak ingat siapa namaku, perkenalkan aku Petra Ral." Petra sedikit membungkuk untuk memberi salam.

"Aku Eren Jaeger, salam kenal." sapa Eren sambil ikut membungkuk.

"Baiklah, sekarang kita putuskan hukumanmu." potong Rivaille, "Kau akan menjadi petugas perpustakaan selama satu minggu dengan jadwal jaga setiap hari senin dan Rabu pada jam 12.00 sampai 12.50, kau mengerti, Jaeger." dia melirik Eren yang masih berdiri didepan pintu.

"Tapi bagaimana dengan waktu makan siangku, Senpai? Diperpustakaan dilarang membawa makanan." kata Eren tidak terima.

Rivaille mendecakkan lidahnya, "Aku tahu, bocah." matanya menyipit tidak suka pada Eren. "Kau bisa makan setelah selesai tugas, masih ada 10 menit hingga bel masuk." Eren menaikkan sebelah alisnya, makan dalam waktu 10 menit itu mustahil baginya. Walaupun urakan Eren terbiasa makan dengan teratur,10 menit tidaklah cukup.

"Tidak ada penolakan, Eren." kata Rivaille, Petra tertawa cekikikan melihat wajah pucat Eren. Kini Eren berpikir Petra sama jahatnya dengan Rivaille.

Eren hanya bisa menghela nafas panjang, melawan Rivaille adalah sia-sia. Dia harap dia bisa mengurus waktu makannya nanti.

"Eren, kau sudah memutuskan akan ikut klub apa?" tanya Rivaille.

Eren terkejut mendengar pertanyaan Rivaille, "Itu, sepertinya aku akan ikut klub kendo." jawabnya.

Rivaille menaikkan sebelah alisnya, "Kendo kau bilang?" Eren mengangguk.

"Heichou, Kendo itu kan_" kata-kata Petra terpotong saat sebelah tangan Rivaille terangkat memberikan isyarat berhenti bicara.

"Kau yakin ikut kendo, Eren?" pertanyaan Rivaille membuat Eren sedikit ragu, apa maksudnya bicara seperti itu.

"Atau kau ikut klub kendo agar bisa tidak ikut latihan mengingat Mikasa Ackerman adalah ketua klubnya?" kata-kata Rivaille bagaikan pisau yang menancap langsung dikepalanya. Mahluk kecil itu selalu dapat membaca pikirannya, keringat dingin mengalir Dari pelipis hingga Mencapai dagunya.

"Kau mencoba Menipuku ya, bocah?" Rivaille menatap tajam Eren yang masih berdiri kaku.

"Ti-dak, aku tidak seperti itu."

"Aku tidak mengizinkannya, pilih klub lain." perintahnya.

"Tapi Senpai, aku tidak tahu mau ikut apalagi selain kendo. Lagipula itu hakku ikut klub manapun." Petra manggut-manggut setuju mendengar pembelaan Eren.

Rivaille berdiri dan memandang keluar jendela, pemuda berambut coklat itu membuat kepalanya sakit. Tiba-tiba mata kecilnya menyipit saat seseorang yang dia tahu bernama Jean kirstein berjalan dengan baju olahraga klubnya.

Dia berbalik dan berjalan menuju Eren, "Ikut aku sekarang." Rivaille menarik tangan Eren hingga membuatnya hampir terjungkal. "Tunggu Senpai." Eren tidak bisa lagi mengelak dan terpaksa mengikuti langkah Rivaille didepannya diikuti Petra.

Tidak lama mereka sampai dilapangan tempat klub sepakbola Berkumpul. "Kenapa kita disini?" Eren memandang sekeliling lapangan dengan bingung.

"Eren, apa yang kau lakukan disini?" Jean yang baru datang menepuk pundak Eren, membuatnya berbalik menatap Jean. Jean kemudian menatap orang yang berada didepan Eren, wajahnya kaget. "Eh, Rivaille-senpai." dia membungkukkan badannya memberi hormat pada senpai berwajah kaku itu yang hanya dibalas Rivaille dengan anggukan kecil.

"Ayo Eren." Eren kembali ditarik masuk kedalam lapangan sepakbola, semua orang klub memandang mereka dengan wajah bingung. Rivaille berhenti didepan gawang, dilepaskannya tangan Eren dan berjalan menjauhi gawang.

Jarinya bergerak memanggil pemuda berambut pirang, yang ditunjuk menoleh kanan kiri kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya untuk memastikan.

"Tentu saja kau, Thomas." Pemuda bernama Thomas itu langsung berlari menuju Rivaille.

"Maaf Senpai, anda memanggilku?"

"Berikan aku bola dan sarung tangan untuknya" ujarnya, "Tapi, Senpai_" bicaranya berhenti saat mata Rivaille menatapnya tajam. "Sekarang." Thomas pun langsung berlari sampai terjatuh karena ketakutan dan kembali lagi dengan bola dan sarung tangan, setelah meletakkan bola didepan kaki Rivaille dia berlari menuju Eren untuk memberikan sarung tangan.

"Eren, kau kuizinkan ikut klub kendo tapi dengan syarat_" kata-kata Rivaille menggantung membuat Eren semakin bingung. "_Asalkan kau menangkap satu saja daru tendanganku, tapi jika kau tidak bisa menangkapnya sebanyak tiga kali, kau akan kumasukkan kedalam klub itu." Rivaille menunjuk kearah kiri lapangan. Mata semua orang terbelalak tidak percaya termasuk Eren, apa Rivaille tidak salah? Itu adalah klub pemandu sorak!

Dengan rok pink berkibar dan pom pom ditangan mereka, jangan bilang Rivaille ingin Eren memakainya. "Kurasa jiwamu ada disana, bocah." ujar Rivaille dengan santai, wajah Eren memerah menahan kesal. Eren masih bisa sabar untuk perlakuan kasar Rivaille, tapi yang ini tidak bisa Eren tidak bisa membayangkan kalau semua orang disekolah mengira dia suka melakukan Crossdressing, demi titan bunting dia masih normal.

"Hentikan Senpai!" Eren berteriak kesal, dia lelah dengan sikap seenaknya Rivaille. "Kenapa Eren? Kelihatannya kau sangat bersemangat ikut cheerleader." sindir Rivaille.

Eren menunduk, tangannya terkepal kuat menahan amarah, giginya menggeretak keras. Eren mengangkat kepalanya memandang tajam kearah Rivaille dan menyeringai, mata Rivaille menyipit tidak suka.

"Jangan merendahkanku. Maju dan akan kukalahkan kau, Rivaille! Tatakae!" teriaknya tanpa embel-embel senpai, Rivaille mendecih.

"Kau menantangku? Baiklah, akan kukalahkan kau, bocah!" Rivaille melepas dan membuang ajsnya kesembarang arah, melonggarkan dasinya kemudian membuka dua kancing teratas seragamnya membuat dada bidangnya sedikit terekspos, teriakan histeris langsung terdengar dari murid perempuan yang entah kenapa sudah berkumpul disamping lapangan bahkan ada yang memotret layaknya paparazzi.

"Let's do it!" Rivaille mengambil ancang-ancang untuk menendang, Eren pun melebarkan kedua kakinya memasang kuda-kuda dan konsentrasi menatap bola.

"Tangkap ini, Bocah!" Rivaille menendang bola dengan keras menggunakan kaki kanannya, mata Eren fokus mengikuti arah bola.

Tendangan pertamanya agak melambung mengarah keatas tiang gawang. Eren melompat dan memanjangkan tangan kanannya keatas. "HIYAAA!" teriaknya, tapi Eren tidak percaya dengan apa yang dilihatnya arah bola yang seharusnya menabrak tiang atas gawang, kini menukik kebawah melewati bahu kirinya dan masuk dengan mulus.

Tidak hanya Eren yang takjub dengan tendangan Rivaille, penonton yang sedari tadi menonton pertandingan mereka tercekat dan kadang menahan nafas melihat kehebatan sang ketua OSIS mereka.

Eren menghentakkan kakinya kesal, Rivaille tersenyum penuh kemenangan. "Berdiri, Jaeger! Ini belum berakhir!" teriak Rivaille, dia kembali bersiap menendang.

"Kali ini tidak akan kubiarkan!" Eren kembali bersiap begitu juga Rivaille yang mulai kembali mengambil ancang-ancang untuk menendang dan dengan cepat bola itu mengarah kesudut atas kiri gawang.

'Kiri' batinnya, dengan cepat Eren melompat kekiri, tapi Eren kembali dibuat kaget karena bola kembali menukik kebawah sebelum Eren sempat menggapainya dan masuk kembali . Eren yang melompat tidak bisa berhenti dan menabrak tiang gawang dengan keras yang kemudian disusul oleh teriakan Jean.

Brother or Sister?

"Apa kau bilang, Eren dan Rivaille!" Mikasa melempar kotenya* sembarangan dan keluar meninggalkan arena setelah diberitahu Sasha tentang Eren dan Rivaille yang melangsungkan pertandingan tidak resmi dilapangan sepakbola sekolah.

Dengan masih mengenakan Hakama* dan Keiko-gi* Mikasa memacu kakinya cepat menuju tempar Eren tanpa mempedulikan panggilan Sasha dibelakang, giginya saling menggeretak satu sama lain karena amarah.

"Sialan kau, Rivaille." gumamnya kesal.

Tidak lama Mikasa sampai dilapangan yang sudah penuh orang, dia menyeruak masuk kedalam kerumunan dan pemandangan didepannya membuat jantungnya semakin berdetak cepat.

Eren berusaha berdiri tertatih dibantu Jean, darah mengalir dari dahinya dan berakhir menetes diseragam putihnya.

"Eren." Mikasa berlari memasuki lapangan berusaha mengangkat lengan kanan Eren, tetapi ditepis Eren dengan kasar. "Menjauh." gumamnya.

"Tapi kita harus membawamu keUKS sekarang, Jean bantu aku." Mikasa meminta bantuan Jean disebelahnya dan terus berusaha mengangkat Eren, walau Eren menolaknya.

"Kubilang menjauh Mikasa!" Eren berteriak, membuat Mikasa terdiam.

"Menjauh atau aku akan melakukan sesuatu yang kasar padamu." lirih Eren pelan dengan wajah masih tertunduk, tapi Mikasa dapat mendengar dan melihat mata Eren yang penuh dengan amarah.

"Sudah cukup Jaeger, aku tidak akan melawanmu." suara diseberang mereka membuyarkan perdebatan keduanya, Rivaille berdiri sambil melipat kedua tangannya didada. "Aku tidak melawan orang yang terluka." dia berbalik.

"Heh, kau tidak usah berbaik hati padaku. Kembali kemari dan lawan aku." tantang Eren yang kini berdiri sempurna disana, Rivaille berbalik menatap Eren tajam.

"Eren, hentikan sekarang juga." Mikasa menarik tangan Eren, "Mikasa, ini urusanku dan dia. Kumohon pergilah." Mikasa terdiam, Eren memohon padanya, dia menundukkan kepalanya hingga rambutnya menutupi matanya dan melepas tangan Eren.

"Kalau begitu, menanglah." Eren tersenyum, "Itu pasti."

Jean membawa Mikasa menjauh dan mendudukkannya dibench kemudian duduk disampingnya.

"Satu kesempatan lagi, bocah." Eren menggelindingkan bola kearah Rivaille.

"Ini sudah berakhir." kata Reiner tiba-tiba.

Jean menoleh kearah sang kapten, "A-apa maksudmu, Reiner?" pemuda berbadan besar itu menatap Jean dengan wajah pucat.

"Kau ingat saat pertandingan kita melawan tim Wallrose, dan saat itu kau sakit?" Jean mengangguk, "Memangnya kenapa, bukannya kalian saat itu menang telak 4-0." sahut Jean sambil tertawa kecil, menurutnya ini tidak ada hubungannya dengan sekarang.

"Kau tahu kan seberapa kuatnya pertahanan tim Wallrose itu? Saat itu kita memang menang, tapi sebelumnya aku sudah akan menyerah karena tanpamu kami tidak akan menang, tapi kemudian dia datang." lanjut Reiner.

"Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai penyerang andalan, kecuali_" Jean mengikuti arah tatapan Reiner dan jatuh pada sosok pemuda bertubuh kecil yang sedang berdiri angkuh ditengah lapangan dan sukses membuat keringatnya mengalir deras.

"_Dia. Dialah pembawa kemenangan telak untuk tim kita saat itu."

Rivaille langsung melakukan tembakan bola kearah Eren. Bola mengarah kearah kiri gawang, Eren bergerak kekiri tapi bola bergerak agak kekanan. Dengan secepat mungkin Eren kembali kekanan, mengulurkan tangan kirinya akhirnya Eren berhasil menggapai bola walaupun dengan dahi penuh darah..

Penonton menahan nafas saat Eren Menggapai laju bola dengan tangan kirinya, Rivaille menyeringai tipis "Masih belum." gumamnya.

Bola yang Eren coba tangkap berputar cepat ditangannya, "UKH" Eren meringis karena gesekan bola ditangannya.

'Ini terlalu kuat' batin Eren, akhirnya bola terlepas dari tangan Eren dan masuk kedalam gawang.

Eren terjatuh ketanah, sarung tangan yang dipinjamkan Jean terlepas dari tangan kirinya.

Penonton yang sedari tadi diam tiba-tiba bersorak sorai, kecuali Mikasa dan Jean yang langsung berlari menuju Eren.

"Eren." Jean memapah tubuh ringkih Eren menuju UKS, sedang Mikasa berjalan mendekati Rivaille, "Kau puas sekarang melihatnya seperti ini ketua OSIS Rivaille yang terhormat." sindir Mikasa sinis yang hanya dibalas dengan wajah datar tanpa emosinya. Mikasa berlari meninggalkannya menyusul Eren dan Jean.

Brother or Sister?

"Untunglah tidak parah." Petra memasang perban didahi Eren yang terluka membuatnya sedikit meringis. Saat ini mereka sudah diUKS dengan Petra yang mengobati lukanya.

Eren hanya menunduk, "Arigatou kalian semua keluar, aku ingin sendirian sekarang." kata Eren, tapi seperti biasa Mikasa tidak langsung menurutinya hingga Petra menarik tangannya, Mikasa hanya bisa mengangguk mengerti.

Hanya tersisa Eren sendirian duduk ditepi ranjang dan detak jarum jam bersamanya dalam diam. Tidak lama lelehan air asin mengalir dari kedua mata emeraldnya menganak sungai menuruni pipi dan dagunya, Eren menggigit bibir wajahnya menahan suara isakan.

"Tidak salah menangis setelah mengalami kekalahan, Eren. Semua pernah melakukannya." Eren mendongakkan kepalanya, Rivaille berdiri didepan pintu dengan kedua tangan terlipat didada.

"Kau juga sebaiknya pergi, aku ingin sendirian." usir Eren, tapi bukannya pergi Rivaille malah berjalan mendekati pemilik rambut coklat itu

"Aku tidak menuruti perintah bocah sepertimu." Rivaille mendekatkan wajahnya kewajah Eren, "Ku-bilang pergi!" Eren mendorong tubuh Rivaille, sayangnya walaupun kalah tinggi dengannya kekuatan Rivaille lebih besar daripada dirinya.

Tangan Rivaille bergerak menuju pipinya, membuat Eren tersentak kaget. "Kau menang, aku tidak akan mencampuri urusanmu untuk ikut klub apapun yang kau mau." ibu jarinya menghapus jejak airmata diwajah Eren, rona merah merambat dipipi Eren membuatnya semakin manis walau dengan beberapa luka diwajahnya.

"Asal kau melakukannya dengan benar." lanjut Rivaille masih dengan wajah sedatar lantai marmer sambil mengacak rambut Eren, membuat rambut coklatnya berantakan. Eren hanya terdiam menerima perlakuan Rivaille padanya.

Rivaille berhenti dan menjauhkan tangannya dari kepalanya, entah kenapa Eren terlihat tidak rela Rivaille berhenti mengacak rambutnya.

"Sebaiknya kau pulang dan mandi, kau sangat kotor dan bau." Rivaille mengibaskan tangannya didepan wajah seolah-olah menjauhkan bau Eren darinya.

Eren merenggut menatapnya, dihapusnya sisa airmatanya dengan tangannya. Dicobanya bangkit dari ranjang dengan kedua kakinya yang masih agak gemetar, "Kau merepotkan, bocah." Rivaille menahan lengan Eren dan memapahnya keluar ruangan UKS. Eren menurut, dilihatnya Rivaille yang sesekali mengumpat sebal, Eren sedikit tertawa melihat ekspresinya.

Rivaille menyadari Eren tertawa dan tersenyum tipis, "Kau pasti senang melihatku tersiksa seperti ini kan." ujar Rivaille, Eren tersenyum memandang Rivaille yang berada beberapa centi dibawah lengannya.

"Maaf Senpai, tapi wajahmu sangat lucu." kata Eren jujur, matanya menutup, kemudian membuka kembali menampakkan sepasang emerald cemerlang.

"Aku tidak menyadarinya, tapi dibalik kesadisanmu menghukumku kau sering membantuku menjadi lebih baik, terima kasih Rivaille-senpai." ungkap Eren sambil terus tersenyum kemudian menatap kedepan, Rivaille hanya mendengus geli.

"Aku yakin kau bisa menjadi kakak yang baik untukku dan Mikasa setelah ayahku dan Hanji-san menikah." iris kelam Rivaille terbuka sepenuhnya mendengar perkataan Eren, dadanya mulai sesak. Eren benar mereka akan menjadi kakak adik Dalam waktu dekat.

Rivaille membuka mulutnya untuk berbicara, tapi dibatalkannya dan lebih memilih menatap lantai dibawahnya sambil terus memapah Eren. Hingga kakinya berhenti didepan loker dimana Jean, Mikasa dan Petra menunggu mereka.

Eren melepaskan tangannya dari Rivaille tidak lipa berterima kasih dan berjalan menuju Mikasa, mereka pun beranjak pergi meninggalkan Petra yang bergerak kesamping Rivaille.

"Tadi itu pertandingan yang bagus." puji gadis berambut karamel itu, "Aku pulang duluan ya Heichou." Petra melambaikan tangannya, berrlalu pergi menyusul Eren dan yang lainnya kemudian mereka menghilang dibelokan gerbang sekolah.

Mata Rivaille menyipit, alisnya berkerut, dia menggigit bibirnya sejenak, dan kemudian mulutnya mulai terbuka.

"Selamanya aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai adikku, Eren Jaeger."

Bersambung...

Hina saya, siksa saya, tapi jangan bunuh saya. Fic abal-abal ini kembali berlanjut dengan kegajean yang teramat sangat dan lamanya masa update dikarenakan ngadatnya otak saya, tapi masih aman untuk dikonsumsi..

Thank's to :

Chijou Akami, Clover letter, yuzueiri, ShilaFantasy dan yang lainnya, (mungkin) yang mereview fic saya, salam kenal yaa untuk kalian semua..

Last, Read n Review please..