Semua karakter Shingeki no Kyojin ntu tetep punyanya abang Hajime, saya mah cuma minjeem..

Brother os Sister?

chapter 4

Bola mata emeraldnya terus menerawang bosan kelangit-langit ruangan. Kaki menjuntai dari lengan sofa, bergerak-gerak bergantian menendang udara. Sesekali helaan nafas terdengar dari bibir ranumnya, kemudian kembali tertekuk keatas.

Eren Jaeger, pemuda 16 tahun dengan rambut amber itu, kini sedang menghabiskan hari liburnya sendirian dirumah. Saudara tirinya, Mikasa, sedang melakukan kegiatan klub. Sang ayah, Grisha pergi bersama Hanji Zoe untuk persiapan terakhir pernikahan mereka. Sedangkan calon kakak tirinya, Rivaille ada urusan yang Eren tak tahu apa itu.

Matanya beralih dari langit-langit menuju benda bulat menempel didinding, yang kini menunjukkan pukul 09.43. Demi Titan berkolor, waktu semakin lambat saat dia tak melakukan apa pun.

"Bosannn...!"

"Seseorang, tolong jemput aku dari sini..!"

Ting Tong...

sepertinya tuhan mendengarkan permintaan Eren, dengan segera dia bangun dari sofa dan berlari cepat menuju pintu sambil bergumam 'terima kasih tuhan'.

Cklek..

Eren menaikkan sebelah alisnya melihat sosok didepannya.

"Kau?"

Brother or Sister?

"Ada apa?"

Rivaille sedikit menjauhkan telinganya dari handphone mengingat siapa yang menghubunginya sekarang.

"Aku bukan penjaga bayi, Hanji."

Suara Hanji dengan nada memohon terdengar dari seberang sana, Rivaille mendesah panjang. Akhirnya Rivaille mengiyakan permintaan dari ibu non biologisnya itu, daripada harus merusak gendang telinganya karena mendengar suara Hanji.

Rivaille mengambil jaket hitamnya, sesudah memastikan rumah aman untuk ditinggalkan, dia menguncinya dari luar dan beranjak pergi.

"Saatnya memberi makan anak-anak domba lagi."

Brother or Sister?

"Kau?"

Sosok itu berbalik, tersenyum pada Eren. Sebuah kotak terjulur ditangannya.

"Ohayou, saya dari jasa antar barang. Benar dengan kediaman Jaeger, ada kiriman untuk Grisha Jaeger."

Wajah Eren kembali tertekuk saat mengetahui yang datang adalah kurir antar barang, tapi dia mengiyakan pertanyaan sang kurir itu.

"Tunggu sebentar." kata Eren, dia berbalik kembali masuk kedalam rumah. Tak lama dia kembali dengan stempel ditangannya.

"Arigatou." ujar kurir itu dengan senyum terus terkembang diwajahnya.

"Ya, sama-sama." ucap Eren, "Dan jangan kembali lagi." gumamnya pelan.

"Kau bicara sesuatu?"

"Tidak."

BLAM

Pintu pun ditutup dengan keras, tepat didepan hidung kurir tak berdosa itu.

Ting Tong..

Demi titan berbulu dada, kalau saja bukan barang untuk sang ayah, Eren mungkin sudah melempar kotak itu kearah pintu dan berteriak 'PERGI KURIR, SIAL!'.

Dengan langkah gontai, pemuda berambut amber itu menuju pintu. Membukanya dengan cepat, "Ada apa lagi, pak kur_"

"Hai, Jaeger."

"Kau?"

Brother or Sister?

Jemari mereka bertemu tepat diatas kemasan roti melon, dietalase sebuah minimarket. Sayangnya bukan scene romantis yang biasanya terjadi difilm roman picisan yang akan terjadi, melainkan adu tatapan tajam dengan aura gelap dan membunuh yang saling dilemparkan kedua belah pihak.

"Menjauh dari rotiku, cebol."

"Seharusnya kau yang menjauh, nenek sihir."

Keduanya sama-sama tidak berniat melepaskan genggaman tangan mereka dari benda incaran, malah semakin kuat hingga plastik kemasan lecek dan hampir sobek.

"Maaf, roti melonnya masih banyak disebelah si_"

Pramuniaga itu langsung menghentikan ucapannya, senyum diwajahnya seketika luntur tergantikan wajah ketakutan. Apalagi alasannya kalau bukan karena tatapan kolosan dari Rivaille dan Mikasa. Alhasil dia memilih lari terbirit-birit daripada berurusan dengan duo barbarian itu.

setelah sang pramuniaga pergi, kedua kembali berkutat dengan roti melon malang yang kini sudah tak berbentuk lagi. Melihat bentuk roti yang tak mengundang selera, keduanya sama-sama melepas dan memilih roti melon lain yang ada dikedua sisinya, kemudian melangkah berlawanan arah.

Brother or Sister?

Eren Jaeger bersenandung sepanjang jalan, senyum terkembang diwajahnya. Sosok dibelakangnya hanya diam dan sesekali menghela nafas panjang.

"Oi, Aku tidak berniat mengajakmu jalan-jalan, Eren."

"Aku tidak peduli." kata Eren santai, "Yang penting aku bebas dari rasa bosan."

Eren tiba-tiba berbalik menghadap langsung pemuda tinggi yang tadi berjalan dibelakangnya, akibatnya pemuda itu hampir menabraknya.

Senyum manis tersungging diwajah Eren, "Arigatou, muka kuda."

BLUSH

Seketika wajah Jean bersemu merah, namun dia segera membuang muka kearah lain. "Men-Menjauh dariku, dan jangan panggil aku muka kuda, wajah banci!" Jangan senyum itu lagi pikirnya.

"Ha'i, Ha'i, Jean-kun." Jean bersyukur ketika Eren segera berbalik dan berjalan meninggalkannya, dengan begitu Eren tidak akan melihat wajah Jean yang kini menyerupai warna syal kebanggan Mikasa.

"Sialan kau, Eren." lirihnya.

Brother or Sister?

"Apa maksudmu mengikutiku, pendek."

Rivaille memicingkan matanya tak suka, "Lebih baik aku mengikuti kambing daripada kau." cibirnya.

Mikasa memutar matanya bosan, "Lalu kenapa kau mengekor dibelakangku, hah!"

Rivaille berjalan melewatinya, tanpa mempedulikan bentakan Mikasa, "Tanyakan saja pada Grisha dan Hanji saat mereka pulang."

Mikasa tak punya pilihan dan mengikuti Rivaille dari belakang, tapi mendadak Mikasa merasakan tubuhnya diseret paksa menuju gang kecil disebelahnya. Mulutnya pun sengaja dibungkam hingga dia tak bisa berteriak, tentu Mikasa berontak, sayangnya tubuh kecil Rivaille menyimpan tenaga yang lebih besar darinya, akhirnya perlawanan Mikasa sia-sia.

Sekejap gerakan Mikasa berhenti, maniknya tak berkedip menatap dua pemuda tinggi yang dikenalnya, melewati mereka yang kini bersembunyi.

'Eren dan kirstein?'

Rivaille melepaskan Mikasa ketika Eren dan Jean menjauh dari mereka, "Apa yang terjadi?" tanya Rivaille.

"Kukira kirstein mulai berani mendekati Eren." ucap Mikasa sinis.

Mata kelabu Rivaille beralih menatap Mikasa, seringaian terbentuk dibibirnya. "Apa kau punya pikiran sama denganku?"

Mikasa berganti menatap Rivaille, "Jangan kau kira aku tidak memikirkan hal itu, pendek." Jawabnya dengan seringaian yang tak kalah mengerikan.

Keduanya pun sama-sama diam, namun memiliki satu tujuan yang sama didalam hati.

'Kau akan mati muka kuda.'

Brother or Sister?

"Kita mau kemana, Eren?" tanya Jean, sayangnya Eren tak menjawab. Dia terus berjalan dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya sedari tadi, dia lebih mirip orang gila sekarang.

"Berhentilah mengeluh seperti kakek tua yang kelelahan karena berjalan jauh, Jean." ejeknya.

"Aku bukan kakek-kakek, bodoh!"

"Karena itu berhentilah mengeluh." Jean akhirnya memilih bungkam.

Jean berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Eren, "Hei, bagaimana lukamu?" tanyanya.

Eren menyentuh plester luka didahinya, "Agak mendingan, luka seperti ini bukan apa-apa." jawabnya.

"Baguslah, berhentilah membuat orang lain khawatir." gumam Jean.

"Ha'i."

Setelah sepuluh menit berjalan kaki, Eren dan Jean tiba didepan bangunan bercat merah dan biru dengan papan nama 'Angel Cafe'. Saat masuk kedalamnya mereka sudah disambut senyuman manis gadis berpakaian maid.

"Irrasaimashen, untuk berapa orang?" jari Eren membentuk huruf 'V', pelayan itu langsung mengerti dan mengantarkan mereka kesebuah meja disudut ruangan.

"Cafe maid?"

Eren mengangguk, "Aku sudah lama ingin kesini, kata Armin Shortcake disini enak." katanya, "Lagipula, dia akan memberiku satu potong gratis kalau aku kemari dengan membawa pelanggan lain."

"Armin pemilik cafe ini?"

Eren menggeleng sambil terus mengedarkan matanya kesekeliling cafe, tak lama dia melambaikan tangannya tinggi, "Armin!"

Jean mengikuti arah pandangan Eren, tapi dia tak melihat pemuda pirang itu dimanapun. Hanya pelanggan lain yang duduk dimeja mereka dan gadis-gadis manis dengan rok renda, sedari tadi mondar mandir disekitar mereka.

Jean kembali menatap Eren, wajahnya terlihat kesal, "Oi, kau mau menjahiliku ya, aku tak melihat Armin dimanapun."

"Hai Eren." sapa seorang gadis.

"Hai, aku menagih janjimu." ujar Eren dengan senyum lebar. Jean berbalik kebelakang, alisnya terangkat.

"Ah, Jean kau ikut kemari?"

Jean menatap gadis itu dari atas sampai bawah, rambut pirang panjang dengan aksen twintail, wajah manis, rok warna biru laut berkibar diatas lutut, stocking putih dan sepatu hitam berhak.

Demi tuhan, Jean tidak pernah mengenal gadis semanis ini sebelumnya, tapi kenapa gadis itu tahu namanya. Mungkin karena aura ketampanannya yang terlihat oleh gadis itu pikirnya, dan author rasa itu tak mungkin.

"Jean, kau baik-baik saja?"

Pertanyaan itu menyentak Jean kealam sadar, "Ah ya baik, tapi kau siapa?"

Gadis itu tertawa kecil, dia kemudian mendekat kewajah Jean dan berbisik, "Ini aku, Armin."

Brother or Sister?

"Hoo, jadi sipirang Arlert itu punya hobi seperti ini?"

"Kurasa tidak, dia hanya ingin mandiri tanpa uang dari kakeknya." jelas Mikasa tanpa mengalihkan pandangannya dari tiga sosok disudut ruangan lainnya. Dia dapat melihat wajah shock Jean, saat tahu gadis itu Armin.

"Ohayou, anda berdua mau pesan apa?" sapa seorang pelayan.

"Teh." jawab Rivaille singkat, "Samakan saja." sambung Mikasa tanpa melepas pandangan dari Eren.

"Baiklah. Teh, dua. Ada yang lain?" keduanya menggeleng. "Ano, sebelumnya maaf, tapi peraturan disini dilarang memakai topi didalam ruangan.

"Berisik, mau dicincang!" ucap keduanya kompak namun pelan. Pelayan itu menelan ludah, dengan segera dia menjauh dengan wajah pucat.

Mata tajam keduanya kembali mengawasi Eren dan Jean, Armin sudah kembali bekerja. Kini keduanya sedang menyantap Shortcake pesanan mereka, Jean memakannya sambil sesekali melirik kearah Eren, sedangkan Eren melahapnya tanpa peduli pada hal lain.

Keduanya hampir meledak marah, ketika Jean dengan malu-malu menyapu bekas cream disudut bibir Eren dengan ibu jarinya. Eren awalnya terlihat terkejut dan risih, tapi kemudian dia tersenyum, alhasil wajah Jean kembali merona.

Sudah tak terhitung berapa kali umpatan dari bibir keduanya, plus cakaran tercipta diatas meja Mikasa dan Rivaille duduk. Keduanya berusaha menahan diri untuk mencabik-cabik pemuda berwajah kuda itu. Sepertinya pengendalian diri yang luar biasa sangat dibutuhkan saat ini.

Rivaille berdecak kesal ketika matanya menangkap sosok gadis berambut pirang twintail bergerak kearah mereka, "Ini gawat, sipirang itu kemari!"

Brother or Sister?

"Kau kenapa Lisa, wajahmu pucat."

"Armin, aku tidak mau mengantar makanan dimeja nomor 13, aku takut." cicitnya.

Armin memperhatikan meja nomor 13, disana ada dua orang. Yang satu sepertinya laki-laki, auranya terasa sangat menakutkan. Dia memakai hoodie dan masker menutupi mulutnya. Seorang lagi, Armin tak tahu dia laki-laki atau perempuan, pasalnya dia duduk membelakangi Armin, ditambah topi menutupi kepalanya. Mencurigakan.

"Baiklah, biar aku saja."

"Arigatou, Armin." ucap Lisa, seraya memeluk temannya itu.

Armin berjalan mendekat, dengan nampan berisi dua teh pesanan tamu misterius. "Maaf lama menunggu, ini pesanan anda berdua."

"Terima kasih." jawab sipria bermasker.

"Maaf, disini dilarang memakai topi, jadi saya harap anda melepasnya." kata Armin sopan, "Dan juga saya harap anda tidak merusak property cafe." lanjutnya saat melihat bekas cakaran dimeja.

'Tamu ini mengerikan' batin Armin. Sebenarnya dia sedikit takut, tapi dia harus memberanikan diri. Dalam hati Armin terus bergumam 'Aku laki-laki'.

Tamu yang ada dikanan Armin, terlihat mengambil kertas dan pena dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu, kemudian menyerahkannya pada Armin.

Dengan seksama Armin membacanya, matanya menatap bergantian dari laki-laki berhoodie lalu ke sipenulis surat, kemudian beralih kedua pemuda berisik yang duduk disudut ruangan lainnya. Tak lama dia tertawa kecil, "Sedang bermain menjadi mata-mata, nee Mikasa."

Brother or Sister?

"Jean, dari tadi kulihat wajahmu memerah, kau suka Armin?"

BRUSSS

"Hei, hati-hati, bodoh!" Eren menyeka semburan air teh Jean diwajahnya dengan tissue.

"Tentu tidak, bodoh."

Pemuda manis itu menyeringai, "Apa kau yakin, kurasa Armin sangat manis?" dia menaik turunkan alisnya berulang kali.

"Berhenti menggodaku, atau kau bayar makananmu sendiri." wajah Eren berubah memelas layaknya anak anjing.

Eren memajukan tubuhnya kearah Jean, menangkap kedua tangannya, "Jangan lakukan itu Jean-sama, kumohon." godanya, kemudian tertawa kencang.

"Kubilang hentikan menggodaku, sialan!" bentak Jean dia menepis genggaman tangan Eren, "Lagipula ada orang lain yang kusuka."

"Benarkah, apa orang itu Mikasa?" tanya Eren penasaran.

Jean menunduk, "A-Aku suka pada_"

"AWW!"

Eren mengernyit, "Ada apa Jean?" tanyanya.

Jean mengelus lehernya, sesuatu mengenai lehernya dengan kencang. Mungkin semacam batu atau apa. Dia memperhatikan sekitar, tak ada yang mencurigakan.

"Ada apa, dan siapa orang yang kau suka?" tanya Eren lagi.

"Nanti saja, sebaiknya kita pergi sekarang."

Brother or Sister?

"kirstein sialan, beraninya dia memegang tangan Eren!" gerutu Mikasa, cangkir ditangannya hampir pecah akibat kuatnya genggaman tangannya.

"Dasar bodoh, dilihat dari manapun Eren yang menggenggam tangannya. Penglihatanmu sudah rusak rupanya." katanya, kemudian kembali menyesap tehnya.

Sebuah ide terlintas diotaknya, "Berikan aku kertas dan suruh Armin membawakan sedotan untukku, sekarang." perintahnya.

Dengan terpaksa gadis berparas oriental itu menuruti perintah pemuda berambut kelabu itu, dan meminta Armin memberinya sedotan. Segera saja Rivaille membentuk kertas menjadi gumpalan bola kecil, memasukkan kedalam sedotan, mengarahkannya keleher Jean dan meniupnya kencang.

Segera saja mereka mendengar ringisan Jean dari seberang sana. Saat Jean mencari pelakunya, mereka bersikap seolah-olah tak tahu apapun.

"Lumayan tepat, kurcaci."

Rivaille mendecih, "Aku tak tahu harus senang atau marah mendengar pujianmu, wanita jadi-jadian."

Mikasa tersenyum sinis, tapi kemudian dia menyampirkan tas punggungnya cepat, "Pendek, mereka bergerak."

Brother or Sister?

"Arigatou, berkunjung lagi ya Eren, Jean."

Eren melambaikan tangannya pada Armin, lalu berjalan menjauh diikuti Jean.

Setelah kedua menjauh, Armin mendatangi Mikasa, "Jean bilang Eren yang mengajaknya pergi, Jean sebenarnya hanya ingin berkunjung kerumah kalian." rupanya Mikasa meminta Armin mengorek informasi tentang mereka, "Mereka juga tidak tahu akan kemana setelah ini."

Setelah berterima kasih, Mikasa dan Rivaille pergi. Armin mungkin bisa maklum dengan Mikasa, tapi kenapa Rivaille ikut-ikutan juga.

"Akh, jangan-jangan dia sama seperti Mikasa!" teriak Eren tiba-tiba, semua pelanggan dan maid lainnya menatapnya heran.

"Armin berhenti berteriak dan kembali bekerja!"

"Hehe, Ha'i Sunny-Senpai."

Brother or Sister?

Eren memperhatikan Jean yang sejak tadi terlihat mengawasi sekeliling taman tempat mereka berada sekarang, "Kau kenapa Jean?"

"Aku merasa ada yang mengawasi kita sejak tadi." jawabnya. Eren ikut melihat sekeliling mereka yang agak sepi, mengingat ini siang hari.

"Mungkin perasaanmu saja."

GUK GUK..

Eren menurunkan pandangannya kearah kaki, matanya berbinar seketika, "Anak anjing!" tangannya langsung mengangkat anak anjing berjenis beagle itu tinggi-tinggi.

"Lucu sekali, Jean lihat ini." Eren mengarahkan anak anjing itu kewajah Jean, anak anjing itu menyalak dan menjilati mulut Jean.

"Yak, menjijikan. Jauhkan dia dariku."

"Berbahagialah Jean, masih ada yang mau menciummu meski itu adalah anjing." tawa meluncur dari bibir Eren.

pemuda berambut coklat meyeka mulutnya dari liur anjing itu. "Lebih baik aku menciummu daripada anjing." celetuk Jean. Eren tersentak, anjing itu terlepas dari tangannya dan pergi.

"Apa yang kau bilang tadi Jean?"

"Memangnya tadi aku mengata_" untuk kesekian kalinya wajah Jean bersemu merah, dia baru menyadari apa yang dia katakan sebelumnya.

Suasana menjadi agak canggung, keduanya memilih diam. Akhirnya Eren memilih kembali melangkahkan kaki, "Se-Sebaiknya kita pulang, mungkin Mikasa sudah pulang sekarang."

Langkah Eren terhenti, dia berbalik dan mendapati Jean menangkap pergelangan tangannya.

"A-Ada apa Jean?"

"E-Eren, ka-kata-kataku tadi itu serius." ujarnya terbata, "Karena a-aku menyukai_"

"Awas anjing lepas!" kedua berbalik, seekor anjing pitbull berlari cepat kearah Jean dan Eren.

"GYAAAA, lari Jean!"

Brother or Sister?

Mikasa geram untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana tidak, dia menyaksikan Jean memegang pergelangan tangan Eren dengan begitu erat seakan Eren adalah miliknya, "Akan kubunuh muka kuda itu!"

Mikasa hampir keluar dari persembunyian dibalik pohon, kalau saja Rivaille tidak menariknya kembali. Mikasa langsung memicing tak suka dan mengeluarkan protes, tapi Rivaille punya rencana yang lebih baik.

Dia berjalan menuju seorang kakek yang tengah tertidur dibangku taman bersama seekor anjing pitbullnya yang berusaha lepas dari tali kekang dilehernya.

"Sabar anjing manis, aku akan melepasmu."

Jemari Rivaille dengan cepat melepaskan pengait anjing itu, dan ajaibnya anjing ganas itu dengan cepat jinak ditangan Rivaille. Mungkin anjing itu tahu, Rivaille bisa lebih ganas daripada dia.

Pengait pun akhirnya lepas, "Sekarang balas budilah, kejar orang itu!" tanpa babibu lagi anjing itu berlari menuju Eren dan Jean.

"Awas anjing lepas!"

Eren dan Jean kalang kabut, bahkan beberapa orang yang lewat langsung berlarian menjauh. Saking ketakutannya Jean dan Eren terpisah. Eren berhenti, menyenderkan tubuhnya dipohon untuk mengatur nafasnya.

"Sekarang kesempatan kita, bawa Eren pulang."

Mikasa pun dengan cepat mengejar Eren, menangkapnya dan memukul tengkuknya hingga Eren tak sadarkan diri. Dengan mudah dia menggendong Eren dibahunya layaknya karung beras. "Maafkan aku, Eren."

Diapun kembali ketempat Rivaille, "Aku mendapatkannya."

Rivaille mengangguk puas, mereka pun berjalan menuju arah pulang, meninggalkan Jean yang tak tahu berlari kemana.

TBC..

Maaf atas keterlambatannya, dan terima kasih untuk semua yang mereview di chap sebelumnya..

Read dan Review, bila berkenan...