Aku cuman pinjem characternya aja, Naruto milih Masashi seorang.

.

.

Crush

I like you, i just like you.

.

.

.

.

.

.

Aku tersenyum kecut ketika teman sekelas ku, Lee, menghampiriku dan mengajakku berkeliling perpustakaan. Bukan apa-apa tapi sesisi sekolah sudah tau bahwa Lee menyukaiku, dan itu terlihat aneh saat semua orang memandang ku dan Lee yang sedang berjalan berdua mengelilingi perpustakan. Lalu, Lee terlihat bersemangat sekali memberitahu buku-buku apa yang dia suka, padahal aku tidak menanyakannya. Dan, aku sudah menghapal isi-isi perpustakaan ini. Selain aku sering ke sini, aku juga selalu membantu Ayame-sensei –penjaga perpustakaan– membereskan buku-buku yang tidak beraturan. Jadi, aku tau secara keseluruhan letak-letak, bahkan seluruhnya isi perpustakaan yang mungkin luasnya sebesar aula jika sedang ada acara sekolah.

Lagi pula, aku sejak tadi tidak mendengarkan apa yang di katakan Lee. Pikiranku jauh menuju 3 hari yang lalu di saat sasuke mengakui perasaannya terhadap Konan-nee . Matanya menatap lembut Konan-nee, dan pipinya memerah ketika mengatakannya.

"Ya. Aku menyukai Konan."

Suka ya?

"Sakura-sa?"

EH?

"Sakura-san? Sakura-san tidak mendengarkan ku sejak tadi?" Tanya Lee menatapku bingung, "Apa Sakura-san lelah?"

Aku tersenyum, mungkin senyumku terlihat aneh sekarang. "Tidak, tidak, apa kita sudah selesai?"

"Sakura-san, kau tidak mendengarkan ku kan sejak tadi?" tanya Lee lagi, wajahnya terlihat sedih.

"Bu-bukan begitu a-aku ano i-"

"Sakura-san, terlihat sedih. Apa ada masalah? Kau bisa menceritakan kepadaku," Ucap Lee lagi dengan senyum lebarnya.

Hahhh, Lee kau orang yang baik.

Aku hanya tersenyum dan terus berjalan menuju pojok ruangan dimana tempat biasa aku membaca. Langkah ku berhenti ketika melihat Sasuke sedang berdiri di situ, dan ia tidak sendirian.

"Wah, bukannya itu Konan-sensei?" Ucap Lee cukup keras, buru-buru aku menariknya dan bersembunyi di balik lemari buku Arkeologi.

"Eh sepertinya ada yang memanggilku Sasuke?"

"Hn. Itu perasaanmu saja,"

Mereka terlihat mengobrol seru, entah kenapa aku sedikit cemburu melihat Konan-nee yang begitu dekat dengan Sasuke.

"Sasuke kau harus belajar yang rajin, jangan membolos terus. Kau tahu kau bisa saja tidak naik kelas. Aku sedikit ce-"

Deg.

Deg.

Deg.

Ucapan Konan-nee berhenti ketika tiba-tiba Sasuke menariknya dan memeluknya. Konan-nee terlihat kaget dan terkejut karena gerakan tiba-tiba Sasuke.

"Kau masih saja bawel,"

Rasanya aku ini menangis.

Konan-nee tersenyum, lalu lengan kanannya bergerak mengacak-acak rambut Sasuke dengan gemas.

"Kau sudah tumbuh besar, ne?"

Sasuke terlihat terkejut, dia hanya menatap Konan-nee yang sudah terlepas dari pelukannya. Lalu ujung bibirnya terlihat menarik kesamping membuat sebuah senyuman tipis.

Aku sudah tidak tahan lagi, dengan cepat aku pergi keluar dari perpustakan tampa menoleh kebelakang. Adegan tadi membuat hatiku sakit. Aku memang sudah tau Sasuke menyukai Konan-nee, dan aku sudah berniat untuk membantunya. Tapi? Kenapa aku tidak rela.

"Sakura-san!"

Oh ya! Aku lupa dengan Lee! Bagaimana jika dia melihat adegan itu?

"Sakura-san, kau belari sangat cepat!" Ucap Lee sedikit ngos-ngosan. "Apa Sasuke punya hubungan dengan Konan-sensei ya, Sakura-san?"

Aku sedikit menegang mendengarnya.

Sasuke maafkan aku, aku mengingkar janji.

"Ne, Lee, jangan beritahu siapa pun ya?" ucapku. Lee terlihat bingung menatapku.

"Sakura-san, kenapa menangis?"

Eh? Benarkah?

Aku bisa merasakan cairan asing turun dari pipiku.

"Apa Sakura-san menyukai Sasuke-san?" aku sedikit terkejut dengan perkataan Lee. Buru-buru aku menggeleng dan menghapus air matiku.

"Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah mengobrol dengannya. Tapi, Lee, kau maukan berjanji dengan ku? Untuk tidak memberitahu kepada siapapun tentang kejadian hari ini?"

Lee tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. Aku tersenyum senang dan melanjutkan jalanku meninggalkan perpustakaan tersebut, meninggalkan Lee yang menatapku.

"Aku tau kau berbohong Sakura-san," Samar-samar aku mendengar suara Lee.

Ya, aku memang pembohong yang buruk.

.

.

.

Perasaan aku hari ini sungguh campur aduk. Selain kejadian tadi siang di perpustakaan, aku juga bertemu dengan Konan-nee, salah satu orang yang ingin aku hindari akhir-akhir ini. Dia mengajakku mengobrol tentang murid kelas satu yang susah menurut dan tidak mau mendengarkannya saat mengajar. Selama mengobrol aku hanya tersenyum kecil dan sesekali tertawa kecil. Tapi sepertinya Konan-nee menyadari perbedaan sikapku.

"Sakura-chan, apa kau sakit? Kau terlihat sedih hari ini? Apa kau punya masalah? Kau bisa bercerita denganku."

Apa wajahku sesedih itu? Masalahnya, kesedihkanku disebabkan olehnya, bagaimana aku bisa bercerita?

Prang!

Kaleng di genggamanku jatuh. Saat ini aku sedang berada dalam perjalanan pulang. Karena terlalu males menunggu bis yang akan datang pukul 5 sore nanti, aku memutuskan berjalan hingga stasiun dan memutuskan pulang menggunakan kereta.

Hah, aku menghelas nafas dan berjongkok mengambil kaleng kosong tadi yang tidak sengaja ku jatuhkan. Tapi ada tangan lain yang mengambilnya.

Eh? Sasuke?

Aku mendongakan kepalaku ke atas menatapnya yang sedang menunduk dan duduk di sepedahnya. Dia juga membalas tatapan ku dengan muka datarnya seperti biasa.

"Hhhmmfff,"

Eh?

Sasuke tertawa kencang hingga mengeluarkan air mata. Aku hanya menatapnya bingung, ada apa dengan wajahku?

"Wajahmu ketika mengambil kaleng tadi begitu serius, pink."

Oh begitu? Dia tertawa karena wajahku yang begitu serius? Apa se aneh itu?

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya ku,

"Pulang, dan aku melihatmu melamun,"

Aku hanya mengangguk mengerti, aku kembali melanjutkan perjalananku, menghindar darinya bukannya salah satu rencanaku? "Kalau begitu, Bye!"

"Ya. Bye,"

Tapi ada pertanyaan yang mengganjal dalam benakku. Apa perasaanya saat berpelukan dengan Konan-nee? Egoku terus menyuruhku berjalan tanpa menoleh tapi hatiku menyuruhku untuk berbalik dan menghampirinya.

Tapi kebanyakan wanita berpikir menggunakan hati kan?

"Sasuke," Panggilku kepadanya yang ternyata masih diam duduk di sepedahnya menataku.

"Hn?" sahutnya singkat seperti biasa.

"Apa kau hari ini merasa senang?"

Sasuke menatapku dengan bingung, "Kenapa kau menanyakan itu?"

Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal, "Entah, aku hanya ingin menanyakannya."

Hening sesaat...

Sepertinya dia tidak berniat mengobrol denganku, yasudah lah.

"Hari ini aku merasakan... apa itu perasaan yang aneh," Katanya tiba-tiba.

"Perasaan yang aneh?"

Dia seperti malu-malu mengatakannya,"Ya, Seperti perasaan cinta yang membingungkan?"

Oh begitu..

Aku tersenyum, mungkin ini akan terlihat aneh di mata orang, "Aku juga merasakannya, perasaan yang menyusahkan bukan?" kekehku hambar.

Tiba-tiba dia mengayuh sepedahnya ke arah ku dan memberi ku high five, wajahnya terlihat berseri-seri, dia menarik sudutnya bibirnya sangat lebar membuat cengiran yang terlihat lucu di wajahnya yang biasanya datar.

"Kalau begitu itu membuat kita menjadi teman, pink!"

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang langsung berubah 180 derajat. Tidak seperti biasanya yang dingin dan sok cool apa lagi di depan Konan-nee. Apa dia juga tersenyum selebar itu di depan Konan-nee?

Kenapa aku jadi deg-degan?

"Pink, kau tidak akan langsung pulang kan? Tunjukan aku tempat yang bagus untuk menyegarkan otak,"

Apa ini nge-date?

Aku menatapnya dengan kikuk, dia tiba-tiba berdiri dan pindah ke tempat kursi penumpang. Sepertinya aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

"–tapi kau yang mengayuh pedalnya seperti biasa,"

Tuhkan aku yang menggonceng dia...

Aku mulai menaikin sepedahnya dan mulai mengayuh, tapi? Kenapa tidak bergerak? Uhh dia sungguh berat. Apa dia tidak sadar, beratnya dia berapa? Tidak, Sasuke tidak gendut, tapi pasti dia berat dengan tingginya yang melebihi tinggi ku kan?

"Cepatlah pink! Jangan buatku menunggu!" omelnya dari belakangku,

"Kau sangat berat tau!" ah akhirnya aku bisa mengayuh meskipun masih pelan-pelan.

"Urusai! Cepat kayuh sepedahnya,"

Kita terus beradu mulut selama perjalanan, dengan aku yang mengayah dan dia yang hanya duduk santai dan sekali-kali mengomentari betapa lambatya aku mengayuh.

Sepertinya aku lupa rencanaku untuk menghindarinya.

.

.

.

"Wah! Laut!"

Aku mengatur nafasku yang masih belum beraturan karena mengayuh sepedah sampai ujung kota,dengan Sasuke yang ku gonceng dan beberapa tanjakan yang harus ku lalui –dengan sedikit bantuan Sasuke, dia mendorong sepedahnya sedangkan aku terus mengayuh agar sampai atas tanjakan. Lalu dia akan melompot ke kursi penumpang di sepedah dengan tiba-tiba membuat kami kembali turun dari atas tanjakan, dan akhirnya Sasuke harus turun lagi untuk mendorong sampai atas– dan akhirnya kita sampai di tempat tujuan. Pantai.

"Pink, aku ingin bermain air," ucapnya menoleh ke arahku yang masih duduk di sepedah dengan wajahku yang di tekuk karena kejadian di tanjakan tadi. Dia terkekeh geli melihat diriku ngambek, "Masih marah karena tanjakan tadi? Aku kan ikut memabantu dengan mendorong,"

"Tapi kan– ah sudah lah! Ayo kita bersenang-senang!" ucaku girang. Aku memarkirkan sepedah Sasuke, lalu melepas sepatu dan kaos kaki ku dan berlalu menuju pantai.

Sasuke mengerjap matanya bingung karena melihat tingkahku langsung seperti anak kecil, dia tersenyum tipis dan ikut mengejarku menuju pantai.

"Wahh! Rasanya kaki ku jadi segar," ucapku ketika aku membasahi kaki ku ke air laut. Aku melihat ke arah samping melihat Sasuke yang mengikuti ku. Aku tersenyum melihatnya, tanpa sadar aku menendang air laut ke arahnya membuat sebagian pakaiannya menjadi basah.

"Oi pink! Kau menyebalkan!" dia menatapku tajam, aku hanya tersenyum melihatnya dan berlari menjauh yang sepertinya di kejar olehnya.

Untuk saat ini aku ingin melupakan perasaanku kepada Sasuke. Aku ingin melupakan perasaanku yang tidakterbalas. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Sasuke tanpa ada rasa aneh yang berdenyut dalam hatiku. Tapi jika aku ingat-ingat Sasuke belum pernah memanggil nama kecil ku. Dia pasti memanggil 'Haruno' saat pertama kali kita belum terlalu dekat, dan sekarang dia memanggil ku'pink' sesuai warna rambutku.

Meskipun dia tersenyum ke arah ku, tapi aku mengira itu adalah senyuman antar teman. Tidak seperti senyumnya ke arah Konan-nee. Senyum tulus yang di dasarkan dengan cinta. Tapi aku harus bagaimana? Egois? Memaksanya bersama ku? Melupakannya?aku tidak akan pernah bisa melupakannya.

Sejak kecil aku sudah mulai tertarik dengan Sasuke, dan akhirnya bisa sampai sekarang. Aku menyukainya bukan karena dia yang tampan, dan aku tidak benci dengannya karena dia berandalan. Aku hanya menyukainya sebagai Sasuke. Apa aku bisa mengatakan semua isi hatiku kepadanya? Jika itu membuat kita menjadi jauh lebih baik aku pendam rasa ini sampai kakek nenek. Tapi dengan dekat seperti ini saja sudah membuatku sangat senang, sangat.

Sasuke kau melihatku sebagai apa?

"Pink! Sudah cukup aku lelah," ucapnya dengan nafas yang ngos-ngosan karena mengejarku. Dia melemparkan tubuhnya ke pasir tanpa memperdulikan seragamnya yang nanti yang kotor.

Aku berhenti berlari dan berlalik duduk di sampingnya yang berbaring merlentangkan tangannya. "Kau cemen Sasuke,"

"Terserah kau saja,"

Aku terkekeh geli melihat wajahnya yang berkeringat juga memerah karena terlalu lelah. Dia terlihat sangat tampan dan sexy pada posisi seperti itu.

Blush!

Apa-apaan itu! Aku berpiikir yang aneh-aneh.

"Sasuke apa kau tidur?" aku mengguncangkan tubuhnya ketika melihat dia menutup mata. Tidak ada respon darinya, aku semakin mengguncangkan tubuhnya dengan kuat.

"Sasuke!"

"SASUKE!"

"HEI SASUKE!"

"Ck, kau sangat berisik pink!" akhirnya dia bersuara tapi tetap tidak membuka matanya.

"Jangan tertidur di sini kau bisa masuk angin," ucapku, apa ada nada ke khawatiran di dalam ucapan ku tadi?

"Kau bawel seperti Konan,"

Deg.

Deg.

Deg.

Apa? Seperti Konan-nee?

Aku jadi ingat kejadian di perpustakaan tadi. Di saat kita sedang bersama, pikirannya masih saja ke arah Konan-nee? Kenapa rasanya sakit sekali? Apa aku tidak pernah di pikirannya? Kenapa aku di bandingkan dengan Konan-nee?

"Hei, pink? Kenapa kau jadi pendiem?"

Aku hanya menunduk lesu menatap kakiku yang ku tekuk.

"Pink?"

Hening...

Sepertinya Sasuke tidak berniat memanggilku lagi, dia memang cepat tidak peduli ya..

"Sasuke?"

"Hn?"

Aku mulai berdiri dan menatapnya yang sedang menatapku bingung, tubuhnya yang tadi berbaring menjadi duduk dengan lengannya yang menahan tubuhnya.

"Kalau kau memang menyukai Konan-nee, kenapa kau tidak langsung memberi tahunya? Kenapa kau harus berputar-putar dalam permainan hidupmu sendiri?" ucapku tanpa sadar.

Sauske menatapku, dia mulai berdiri dan melihat ke arahku. "Apa maksudmu?"

"Kau tau? Kau hanya mempersulit dirimu dengan hanya tersenyum dan memeluk Konan-nee tanpa tau perasaanya terhadapmu. Kau memperlakukan hal manis kepadanya, tetapi dia hanya menganggapmu sebagai adik yang sudah bertumbuh menjadi besar!"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, apa maksudmu, hah?" Sasuke mulai menambah volume suaranya, sedikit membentak kepadaku. Dia sedikit terkejut ketika aku mengatakan memeluk.

"Kau tidak mengerti, aku juga merasakan hal yang sama dengan mu," ucapku lirih.

"Dengan siapa?"

Aku menggeram sebal melihat wajahnya yang pura-pura bodoh. Oke dia memang tidak mengetahui perasaanku. Tetapi, kenapa dia pura-pura tidak mengerti dengan maksud pembicaraan ku tentang Konan-nee.

"Siapa?! Siapa orang yang kau suka?" tanyanya sedikit memaksa, kenapa Sasuke menjadi seperti itu? Kenapa Sasuke jadi ingin tau siapa yang ku sukai?

"KAU! KAU ORANGNYA! KAU PUAS?"

Sasuke terkejut dengan perkataanku. Tubuhnya sedikit menegang.

"Aku menyukaimu, sejak dulu. Tapi aku terlambat, kau tahu? Aku hanya tidak ingin kau merasakan hal yang sama sepertiku," aku bisa merasakan mataku yang berkaca-kaca, "Kau memang idiot! Bodoh! Tidak peka! Pecundang! Kau laki-laki yang paling Idiot yang pernah ku temui!"

Setelah aku memakinya aku berlari meninggalkannya, meninggalkan pantai tanpa menoleh ke arah belakang. Aku lepas kontrol. Aku pergi karena malu, karenanya akhirnya mengatakan apa yang ku rasakan padanya selama ini. Padahal aku belum terlalu dekat dengannya tapi aku sudah memakinya, bahkan tiba-tiba aku menyatakan kalau aku suka denganya. Pasti dia berpikiran aku aneh, aku tidak tau malu.

Ya aku memang tidak tau malu, dan aku tidak peduli.

Karena perasaanku sedikit lega setelah mengatakan semua isi hatiku.

.

.

.

Sasuke menatap Sakura pergi dengan pandangan yang sulit di artikan. Tangannya terkepal kuat, kepalanya sedikit pusing memikirkan perkataan gadis pink tadi. Helaan nafas panjang menjadi perusak keheningan sesaat. Tatapannya mulai terlihat sendu memikirkan Sakura yang tadi mulai berkaca-kaca, seolah ada perasaan aneh di dada sebelah kirinya.

"Ya, aku memang idiot–"

"–aku bahkan tak tau apa yang ku rasakan sekarang–"

"–Sakura"

Jawabnya setelah sekian menit kepergian Sakura, meninggalkannya dengan gejolak perasaan yang menyesakkan.

.

.

.

.

.

EH? CUMAN 4? YAUDALAH.

OCC YA? HAHAHHAHHA

Bagus ga? Engga ya? Yaudahlah...

Aneh pasti ya? Banget? Huhuhuh aku jadi sedih

Btw, makasih ya udah ngasih tau ke typo-annya. Semoga yang ini gaada typo. Aku bikinnya juga udah malam dan ngantuk banget.

Oke makasih ya yang udah baca,

Tapi please lah review.

Aku juga pengen di review jangan cuman di baca doang, sedih tau.

REVIEW YA!

Words: 2193.

11 Januari, 2013. 23:06

FNI