See you Again
.
.
-Story before-
.
"Zi Tao!"
Zi Tao mendengar seruan Jongin sebelum dirinya mendarat di lantai dan kepalanya membentur sesuatu yang keras. Sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Ia tidak dapat berbicara dan hampir tidak bisa bernapas.
"Zi Tao! Zi Tao kau baik-baik saja? hey, apa kau buta!"
Zi Tao mendengar suara Jongin yang cemas, tetapi ia tidak bisa menjawab. Ia sudah dapat bernafas dengan baik sekarang, namun satu hal yang membuatnya heran, kenapa sahabatnya itu meneriakinya buta? Bukankah dia memang buta?
"maafkan aku, aku tidak sengaja, sungguh. Maaf!" terdengar suara lagi. Suara asing. Kali ini suaranya terdengar lebih cemas lagi, "kau baik-baik saja, tuan?"
Zi Tao berusaha duduk. "Zi Tao, apa ada yang sakit?! Jawab Zi Tao … Zi Tao?"
"tanganku …" ucap Zi Tao ketika merasa sakit yang mulai menyerang tangan kanannya.
"oh lord! Lihat perbuatanmu!"
"aku sungguh tidak sengaja! Apa yang harus kulakukan?!"
Zi Tao tak mengetahui apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya mendengar Jongin yang terus mengumpat dan suara asing yang terus-menerus meminta maaf. "Kai …" panggilnya sambil menahan sakit. Tangan kanannya terasa seperti di tusuk-tusuk.
Tiba-tiba saja tubuhnya terasa melayang ke atas. "Kai!" Zi Tao berteriak kaget.
"hey apa yang kau lakukan?!"
Title : Story of Memory
Genre : (now) Brothership, and Friendship.
Rate : K-T
Author : Itshu
Cash : Huang Zi Tao, Kris Wu, Luhan (Kim Luhan), Kim Jongin (Kai), Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, Kim Jeonmyeon (Suho), and Yi Xing (Lay).
Note : di chap sebelumnya Luhan bermarga Huang, maaf itu salah. Marga dia Kim, sama kaya Jeonmyeon :v maaf ne, Itshu lupa.
Okay … Happy Reading~ :)
.
.
Zi Tao benar-benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tangannya yang masih sedikit sakit sudah di obati. Dokter yang baru saja mengobatinya berkata jika tangannya terkilir, dan dia tidak dapat menggunakannya hingga beberapa minggu kedepan.
"kau sudah lebih baik?" suara yang terdengar bersamaan dengan tepukan perlahan di pundaknya membuat Zi Tao kembali tersadar dari lamunannya.
"ya, sudah tidak sesakit tadi" jawabnya.
"baguslah, kita bisa pulang sekarang?"
"ya" Zi Tao mengangguk. Ia dapat mendenar helaan nafas panjang Jongin yang terdengar berat. "kau, kau juga boleh pergi. Kau sudah cukup bertanggung jawab," terdengar Jongin berbicara dengan seseorang. Zi Tao menajamkan pendengaran. Tidak ada jawaban apapun.
"ayo Zi Tao," Jongin meraih tangan kiri Zi Tao seraya membimbingnya berjalan.
"apa yang sebenarnya terjadi Kai?" tanya Zi Tao.
"saat di tangga ada orang bodoh yang terjatuh dan menubrukmu." Jelas Jongin kesal. "Ck, seperti tidak punya mata saja" terdengar gerutuan dari sahabatnya.
"apa dia baik-baik saja?"
"kenapa malah menanyakan keadaanya! Kau yang jadi korban di sini, dasar bodoh! Awas tangga turun," ucap Jongin memberi tahu. Zi Tao mengangguk paham seraya melangkahkan kakinya turun dengan perlahan.
"apa kita baru dari klinik?" tanya Zi Tao sembari berjalan. "ya, rumah sakit terlalu jauh" jawab Jongin.
"kita pulang saja okay? Lagi pula kita sudah terlambat," Jongin memandangi jam tangannya.
"terlambat?" Zi Tao langsung menghentikan langkah seraya merogoh arloji di sakunya, ia merabanya, menyentuh jarum penunjuk angka untuk mengetahui sekarang pukul berapa.
"jangan berbohong! Sekarang masih pukul tujuh!" Zi Tao tersungut-sungut kesal.
"sudahlah, tanganmu sedang terkilir kan!? Lebih baik kita pulang saja, aku ingin tidur!"
"ya sudah kau pulanglah, aku akan ke toko sendirian" ucap Zi Tao sambil menyiapkan tongkat miliknya dengan sebelah tangan.
"mana bisa!" Jongin langsung menahan tongkat Zi Tao.
"aku bisa! Katakan, ini di mana?"
"kalau kau tersesat bagaimana! Lagipula bagaimana caramu mencari buku?!"
"aku buta, tapi tidak bodoh! Aku hafal jalannya, dan kau tahu itu. Dan aku juga bisa meminta tolong pada Takano untuk mencari buku yang kuinginkan. Jadi, sekarang, cepat katakan ini di mana!?"
"oh lord, ini sudah malam Zi Tao!"
"siang dan malam tak ada bedanya untukku Kim Jongin …"
"Sudahlah, kuantar saja, okay?"
"ck, dasar tidak punya pendirian!" omel Zi Tao.
"aku bukan tidak punya pendirian! Aku khawatir!"
Dan usai mengatakannya, Jongin kembali membimbing langkah Zi Tao melewati jalan. Sebenarnya bisa saja Zi Tao melakukannya sendiri, karena di sepanjang jalan besar di Tokyo tersedia jalan untuk orang buta. Namun begitulah Jongin, over protective. Semenjak penglihatannya menghilang dua tahun yang lalu, Jongin lah yang selalu berada di sampingnya selain Kyungsoo, Baekhyun dan Yi Xing Sensei. Menemaninya berjalan-jalan, membacakannya buku, hingga mengantarnya ke klub orang buta yang dilakukannya tiap dua minggu sekali.
.
.
"sampai, ingat ada tangga bukan?" Jongin kembali mengingatkan Zi Tao ketika akan memasuki toko buku.
"aku tahu Kai …" ujar Zi Tao lembut.
"selamat Datang … ah apa kabar Tao-san? Hooh … kenapa tanganmu!?" terdengar suara pekikan dari pelayan toko. Zi Tao tersenyum.
"hanya terkilir Takana-san," ujar Zi Tao tanpa ragu. Karena dia hafal betul jika Takana lah yang bertugas menyapa pelanggan di pintu masuk. Namun sayang, kali ini dia salah. "dia Takano, Zi Tao …" Jongin berbisik.
"heeh? Benarkah? Kau Takano?"
"ahahaha … aniki sedang sibuk, jadi tidak bekerja untuk sementara waktu."
"aaa … maafkan aku …" Zi Tao membungkuk minta maaf.
"tak apa-apa …"
"suara kalian mirip, apa wajah kalian juga serupa?" Tanya Zi Tao tersenyum.
"tidak, wajah aniki lebih tampan!" ujar Takano memberitahu.
"begitu ya? Benarkah itu Jongin?" Zi Tao menyenggol Jongin yang masih memegangi tangannya. Lelaki itu memandangi lelaki di hadapannya.
"ya, dia memang tak lebih tampan dari kakaknya," ucapnya seolah mencibir. "dia … terkesan cantik, hey umurmu lebih tua dariku bukan? kau sudah memiliki kekasih?"
Mendengar ucapan Jongin, wajah lelaki asli Jepang itu langsung memerah padam. Zi Tao mencubit pergelangan sahabatnya kesal. Rajin sekali lelaki berkulit tan itu menggoda para lelaki berwajah cantik! Gerutunya dalam hati.
"sakit Zi Tao!" kesal Jongin tak terima.
"demi tuhan Kim Jongin!" tutur Zi Tao kesal. "kuharap kau tidak tersinggung dengan ucapan sahabatku ini Takano-san" ucap Zi Tao lirih.
"t-tidak apa-apa Tao-san,"
"tentu saja, kau kan memang cantik! Kau manis sekali …" Jongin menggerling jahil. Membuat lelaki di hadapan Zi Tao kembali memerah padam.
"Jongin!" Zi Tao memekik tertahan. Kesal sekali akan tingkah sahabatnya yang satu itu. Kalau saja ia sedang tak berada di tempat yang dilarang berisik, ia pasti sudah meneriaki sahabatnya habis-habisan.
"ya ya ya, baiklah … maaf," lelaki tampan itu pun langsung menggiring sahabatnya ke rak buku novel meninggalkan sang pelayan toko yang membungkuk menutupi raut wajahnya.
"tak punyakah kau hobi yang lebih baik?!" gerutu Zi Tao.
"kenapa? Dia memang cantik, pantas dipuji!"
"lalu untuk apa menanyakan soal kekasihnya?"
"aku hanya ingin tahu lelaki cantik macam dia sudah memiliki kekasih atau tidak."
"pembohong," cibir Zi Tao.
"aish … sudahlah, novel apa yang kemarin ingin kau beli?"
.
.
Zi Tao meraba buku braille di hadapannya dengan perlahan. Membaca kata demi kata yang terangkai pada lembaran tebal buku khusus itu dengan hikmad. Ia sungguh bersyukur memiliki teman-teman yang baik seperti Jongin, Baekhyun, dan Kyungsoo. Di tengah kesibukan kegiatan mereka masing-masing, ketiga sahabatnya itu masih memperhatikannya dengan baik. Jongin yang setia mengantarnya kemanapun ia mau, Baekhyun yang dengan senang hati menerjemahkan berbagai macam buku novel kedalam huruf braille, sampai Kyungsoo yang setia menceritakan pemandangan langit di sore hari yang dulu sering ia pandangi.
"Zi Tao …" terdengar sebuah panggilan dari balik badannya.
"hum? Kenapa?" Tanya Zi Tao seraya memalingkan tubuhnya ke arah suara Luhan berasal.
"hey, kenapa tanganmu? Siapa yang melukaimu!" Luhan menatap luka sang kakak serius.
"ini bukan masalah besar, hanya sedikit terkilir. Tadi ada orang yang tak sengaja menabrakku." Jelas Zi Tao mencoba menenangkan.
"oh Zi Tao … sudah kukatakan berapa kali, jangan pergi seorang diri …" Luhan menyentuh tangan sang kakak perlahan.
"aku tidak pergi sendiri kau tahu? Kai bersamaku tadi."
"huh! Dia ceroboh sekali sampai kau terluka!"
"hey, jangan menyalahkannya! Dia juga khawatir padaku. Itu kecelakaan."
"kurasa kau harus memiliki body guard"
"Kai, Baekhyun, Kyungsoo, dan Yi Xing Sensei, ada empat body guard untukku ditambah dirimu, untuk apa aku memiliki body guard?!"
"mereka itu …"
"Luhan …"
"baiklah, baik …" Luhan mengalah. Sejenak lelaki berwajah cantik itu memandangi Zi Tao, memperhatikan matanya. Mata itu, mata emerald yang selalu bersinar meski telah kehilangan pendarnya, entah mengapa mata itu selalu menarik perhatian Luhan. Cantik, mirip sekali dengan mata mendiang ibunya.
Luhan terdiam memandangi wajah kakaknya. Heran sekali akan wajahnya yang malah memiliki kemiripan dengan wajah ibundanya yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
"Luhan?" panggil Zi Tao. "boleh aku menyentuh wajahmu?"
"lagi?" Luhan menaikkan alisnya, "kenapa tiap malam kau selalu meraba wajahku sih?"
"kau hobi sekali bertanya sih?" Zi Tao balik bertanya.
"ayolah adik kecil … apa aku harus mengejarmu terlebih dahulu?"
"adik kecil?!"
"ayolah sini …" Zi Tao mencoba menggapai-gapai Luhan.
"baiklah …" Luhan mengalah, menangkap tangan Zi Tao yang masih belum dapat menggapai wajahnya. Di arahkan kedua tangan kakaknya menangkap wajahnya. Luhan diam, membiarkan tangan Zi Tao merayapi wajahnya. Menelusuri lekuk wajahnya, seolah menggambarkan rupa adiknya dalam imajinasinya.
"kau pasti makin tampan ya?" ucap Zi Tao usai memegangi wajah Luhan.
"kenapa kau selalu memegang wajahku tiap malam?"
"menurutmu kenapa?"
"hey!"
Zi Tao tertawa kecil. Paham benar jika Luhan sudah berang akan kelakukannya yang suka balik bertanya. "aku ini tak bisa melihat. Aku takut jika aku lupa bagaimana rupamu. Jadi beginilah caraku melihatmu sekarang,"
"aku bahkan lupa wajahku sendiri. Bagaimana rupaku? Apa aku bertambah tampan sepertimu?" Zi Tao bertanya dengna nada bercanda. Sementara Luhan terdiam mematung karena ucapan kakaknya.
"hey ayolah … jawab …"
"kau tidak tampan …" Luhan menatap wajah Zi Tao lekat. "kau …" perlahan jemari tangannya menyentuh permukaan wajah Zi Tao lembut.
"kau mirip Mama, cantik. Kau … cantik." Setetes airmata jatuh bergulir membasahi pipi Luhan.
.
.
-another side-
.
.
"heh Kris, kenapa wajahmu itu?!" Tanya Chanyeol seraya menyenggol bahu sahabatnya.
"oh diamlah Chanyeol, aku pusing!" Kris meninggikan suaranya.
"heh, kau sedang datang bulan?"
"serius Park Chanyeol!"
"ish, repot sekali berurusan denganmu di akhir bulan. Kau punya makanan?" lelaki blasteran Korea-Jepang itu mulai mencari-cari makanan ke dapur sabahatnya yang terbilang luas.
Sementara Chanyeol menggeledah ruang persediaan makanannya, Kris menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Merebahkan tubuh jangkungnya seraya menutupi matanya dengan punggung tangan.
"hey, dimana kau menyembunyikan stik-stik pocky itu?!" teriak Chanyeol dari dapur.
"cari sendiri!"
"ah, hey! Kau menghabiskan yang rasa coklat?!"
"bisa diam Park Chanyeol?!"
"oh baiklah … kurasa strobery tidaklah buruk," Dengan setengah hati lelaki berambut coklat kepirangan itu membuka bungkus stik rasa strobery itu dan memasukkan salah satunya kedalam mulut.
"kenapa kau seperti gadis datang bulan Kris?"
"bisa berhenti mengucapkan hal itu?"
"apa? Wajahmu memang begitu!" Chanyeol menunjuk wajah sahabatnya dengan stik pocky yang berada di tangannya.
"aku mematahkan tangan seseorang!"
"lalu? Apa kau di tuntut?"
"dia orang buta!"
"apa tuntutannya besar?!"
"ini bukan soal tuntutan Chanyeol …" geram Kris kesal.
"lalu? Dimana letak masalahnya?"
"dia lelaki itu!"
"lelaki itu apa?"
"lelaki itu …"
"lelaki yang berhutang padamu?"
"lelaki yang menemaniku ke Tropical Land!"
"oh," Chanyeol menjawab acuh seraya melangkahkan kaki ke kursi santainya.
"hey!"
"seriuslah … ini sudah dua tahun, apa yang kau harapkan darinya? Mengingatmu? Atau menyukaimu?! Ayolah … kau bahkan hanya bersamanya beberapa menit."
"tapi … aku merasa perlu mengenalnya."
"lalu? Sudahlah, ketimbang membahas itu lebih baik kerjakan tugasmu!"
Kris memberengut, berdecak kesal seraya bangkit dari tidurnya. Di tatapnya tumpukan-tumpukan komik di hadapannya, ada dua tumpukan yang komik yang belum ia baca. Matanya mendadak masam, membaca satu dua komik mungkin menyenangkan. Tapi membaca satu dua gunung komik sangatlah membosankan.
Perlahan dilangkahkan kakinya menuju meja kerja, memulai aktifitasnya mengecek komik-komik.
.
.
.
"Kau yakin sendirian di sini?" Luhan kembali menayakan hal yang sama itu untuk kesekian kalinya. Zi Tao tersenyum sembari menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sebal. Kenapa semua orang berlebihan menjaga dirinya sih?
"Luhan, ini bukan pertama kalinya kau meninggalkanku sendiri. Sudahlah bergegas, kau mau terlambat sekolah?" Zi Tao mendorong-dorong adiknya yang masih berada dalam jangkauannya.
"tapi kau pernah- ah, hey tuan … bisakah kau menolongku?" Luhan mengajak bicara seorang lelaki yang berdiri di samping Zi Tao. Lelaki itu menoleh, menatap Luhan dan Zi Tao secara bergantian.
"ya?" lelaki itu memiringkan kepala.
"kakakku tidak dapat melihat, dan tangan kanannya tengah terluka. Bisakah kau menolongnya menaiki bus? Aku takut dia salah memasuki bus atau sampai terhimpit sesama penumpang."
"bus apa yang akan kakakmu naiki?"
"B-2, kupercayakan dia padamu tuan tinggi. Terima kasih, dan Zi Tao … sampai jumpa~" Luhan mencium pipi Zi Tao sekilas kemudian berlari meninggalkan halte. Zi Tao tersenyum kecil akan tingkah adiknya yang tak kunjung berubah.
"maaf jika adikku menyulitkanmu tuan tinggi," Zi Tao berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.
"itu bukan masalah untukku. Aku sedang tidak dalam kondisi terburu-buru, dan kita satu arah. Kemana kau akan pergi?"
"Taman Yoyogi" Zi Tao menjawab singkat. "apa kau baru berbelanja tuan?" Zi Tao menebak-nebak.
"he? Darimana kau tahu?!" lelaki bertubuh tinggi itu membelalakkan mata terkejut. Buru-buru ia duduk di samping Zi Tao sembari menatapnya lekat-lekat. Lelaki itu mulai memperhatikan, kemudian ia mengibaskan tangannya di depan Zi Tao, mencoba memastikan jika lelaki di sampingnya memanglah seorang tuna netra.
"aku mencium bau belanjaanmu," ucap Zi Tao santai.
"bau?" lelaki itu terheran-heran. "bagaimana bisa?!"
Zi Tao tersenyum, "ketika kau kehilangan salah satu panca indra yang kau miliki, panca indra yang lain akan menjadi lebih tajam. Dan hal itulah yang terjadi padaku."
Lelaki asing itu terdiam.
"bus-nya tiba, ayo …"
Zi Tao mengikuti lelaki asing yang menuntunnya memasuki bus. Ia menurut saja ketika didudukkan di salah satu kursi yang ada. Zi Tao melipat tongkat miliknya kemudian memasukkan kedalam saku mantelnya.
"jika boleh aku bertanya, bagaimana bisa kau kehilangan … penglihatanmu? Apakah sebuah kecelakaan?"
"tidak … bukan kecelakaan," Zi Tao tersenyum tipis. "aku terkena kanker otak. Penglihatanku sudah menurun sejak lima tahun yang lalu, dan hilang setelah operasi otak dua tahun yang lalu. Dan beginilah aku sekarang."
"kau pasti merasa sangat sedih, aku turut berduka atas penglihatanmu." lelaki asing itu kembali berujar.
Zi Tao tersenyum kecil. "tidak juga," jawabnya lirih. "Aku justru merasa beruntung." Lelaki bermata emerald itu melanjutkan, sehingga membuat lawan bicaranya keheranan.
"beruntung?!"
"ya, karena dengan begini aku tak perlu melihat orang-orang yang kubenci. Aku tak perlu merasa iri akan penampilan seseorang, dan aku juga tak perlu melihat senyuman adikku."
"adikmu yang tadi? Kau membencinya?!"
"ya"
"kenapa?!"
"karena ayahnya"
"ayahnya berarti ayahmu juga, bukan? Bagaimana bisa kau membenci orangtuamu sendiri?"
"ayahnya bukan ayahku. Kami berbeda orang tua, bahkan kami tak memiliki ikatan persaudaraan apapun. Terlebih dia akan merampas kehidupanku."
"apa maksudmu?"
"aku terkena kanker otak sejak usia sebelas tahun, dan dokter mengatakan jika aku hanya mampu bertahan selama lima tahun. Dua tahun kemudian penyakit itu semakin berkembang hingga mengganggu penglihatanku, dan bersamaan dengan itu, adikku diketahui memiliki kelainan jantung dan disarankan mencari donatur jika kondisinya memburuk secara tiba-tiba. Kau tahu tuan siapa yang terpilih menjadi donaturnya?"
Zi Tao memberi jeda yang cukup dramatis. "aku." Zi Tao tersenyum tersenyum miris, "kau mungkin tak tahu bagaimana perasaanku, tapi kau pasti mengerti maksudku. Kami sama-sama memiliki penyakit yang mematikan dan mampu merenggut nyawa kami secara tiba-tiba, tapi kenapa hanya dia yang diberi kesempatan hidup sementara aku yang bahkan telah berhasil mematahkan vonis dokter hanya dapat hidup tak lebih lama darinya?"
Kini gantian sang lelaki asing yang tersenyum tipis. "bagaimana kau bisa berkata seperti itu sementara hingga kini kau masih bernafas dan dapat bercakap-cakap denganku?"
Zi Tao terdiam, sementara lelaki itu kembali melanjutkan perkataanya. "Kehidupan bukan sesuatu yang dapat manusia perhitungkan, kau mungkin akan menjadi pendonor bagi adikmu, tapi apakah semua itu sudah menjadi kepastian? Tidak! Kau jangan berkecil hati begitu, kematian dapat datang kapanpun tuhan berkehendak. Begitu pula keajaiban."
Zi Tao tak mampu berkata-kata. Lelaki itu tersenyum, kemudian menyentuh pergelangan tangan Zi Tao perlahan. "berapa umurmu sekarang?"
Lama Zi Tao menjawab. "tujuhbelas,"
"hum … tujuhbelas ya? Kau divonis saat sebelas tahun, dinyatakan hanya mampu bertahan lima tahun, melakukan operasi di tahun keempat, yang sudah berlalu dua tahun yang lalu. Benar?" Zi Tao mengagguk.
"jika ayahmu hanya ingin menjadikanmu donator adikmu, untuk apa dia mempertahankanmu? Bukankah akan lebih mudah jika langsung melakukan pencangkokan?"
Ting!
"aah … kau sudah sampai, mau kubantu turun?"
Tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicaranya, lelaki asing itu kembali menuntun Zi Tao menuruni bus. "tuhan memiliki rahasia, begitu pula manusia. Rahasia manusia selalu diketahui tuhan, tapi rahasia tuhan tak akan pernah manusia ketahui. Apapun yang terjadi, sebisa mungkin, nikmati hidupmu tanpa menyimpan rasa dendam pada orang lain. Kau tak perlu mengetahui keburukan seseorang, cukup ketahui kebaikannya dan biarkan tuhan yang membalas segala kejahatannya." Zi Tao merasakan tepukan halus di bahu kirinya beberapa kali.
"mungkin aku tidak layak mengatakan hal ini padamu, tapi … hiduplah dengan tenang. Sampai jumpa!"
Dan yang kemudian Zi Tao dengar adalah deru mesin bus yang kembali melaju. Lelaki asing itu telah pergi, menyisakan Zi Tao yang berdiri di halte yang sepi karena jam kerja telah terlewat sejak beberapa jam yang lalu.
"dendam ya?" Zi Tao bergumam sendiri. Hingga tanpa ia sadari, ada seorang lelaki bertubuh mungil di samping kirinya yang telah memandanginya sedari tadi.
"Tao, siapa lelaki itu?"
"Pierce?" Baekhyun membaca judul novel yang kini di tangannya dengan keheranan. "ini buku yang kau katakan minggu lalu itu?" lelaki berperawakan kecil itu mulai membolak-balik buku milik sahabatnya secara acak. Mencoba membaca beberapa bait secara tak runtun. Kebiasaan buruknya yang hobi membaca buku secara tak teratur memang Zi Tao ketahui sejak lama, namun ia tak tahu jika Baekhyun kini tengah melakukannya. Karena saat ini, ia justru tengah sibuk memakan tempura bersama Kyungsoo yang sudah bergabung bersama keduanya.
"sekarang musim semi, apakah sudah ada sakura yang membuka kuncupnya Kyungie hyung?" Zi Tao bertanya di tengah acara makannya yang menyebabkan beberapa remah tepung keluar dan menempel pada bibirnya.
"belum, ini masih awal musim semi Tao-nie. Semua kuncup masih menutup," Kyungsoo memberitahu sembari membersihkan remah-remah tepung yang mengotori bibir Zi Tao.
"apakah banyak orang disini?"
"um … lumayan, masih ada beberapa sekolah yang libur, jadi ada beberapa remaja di sini. Nanti kau pulang bersamaku saja okay?" Kyungsoo beralih membersihkan tangan Zi Tao yang berlumuran minyak sisa tempura. "minum?" Zi Tao mengangguk. Memberikan tangannya ke arah depan menunggu gelas yang diambilkan Kyungsoo.
"hati-hati, masih penuh …" Kyungsoo mengingatkan.
Usai minum, Zi Tao menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo. "maaf Kyungie hyung, aku sudah berjanji pada sensei untuk pulang bersamanya."
"baiklah …" Kyungsoo hanya tersenyum tipis.
"ah, kalian disitu rupanya … maaf aku terlambat, aku lupa dimana tempat yang kalian maksud," tiba-tiba saja muncul seorang lelaki bertubuh tinggi yang langsung duduk disamping Bekhyun.
"Lay sensei? Kau kah itu?" Zi Tao menolehkan kepalanya ke arah Yi Xing berada.
"ya, ini aku Tao-nie," Yi Xing menjawab sembari merogoh dari saku mantelnya.
"kenapa kau terlambat lagi sensei?" Kyungsoo bertanya.
"aku lupa dimana letak pohon sakura yang kau maksud ini," guru muda itu tersenyum hingga lesung pipinya terlihat begitu ketara. "semua pohon terlihat sama." Ia melanjutkan.
"ah- Tao-nie, coba kau diam dulu." Yi Xing beranjak dari duduknya dan beralih ke belakang Zi Tao. Di tangannya nampak sebuah kalung berwarna platina yang akan ia pakaikan di leher Zi Tao. "nah, bagaimana menurut kalian. Cocok untuk Tao-nie?" tanya Yi Xing usai memakaikan perhiasan baru bagi murid kesayangannya itu.
Baekhyun mengalihkan pandangannya dari novel di hadapannya, sementara Kyungsoo memandanginnya sembari tersenyum. "sangat cocok, sensei" Kyungsoo menjawab. "ya, aku juga setuju dengan Kyungsoo senpai." Baekhyun akhirnya menjawab.
"baguslah, nah Zi Tao, jangan pernah kau lepaskan kalung itu okay? Berjanji padaku!" Yi Xing memeluk Zi Tao dari belakang.
"baik, aku mengerti sensei …" Zi Tao berucap manis.
"tapi sensei?" suara Baekhyun terdengar ganjil, "kenapa kau hanya memberikan hadiah untuk Tao saja? Mana untuk aku dan Kyungsoo senpai?" Baekhyun mengerucutkan bibir kesal. Lucu sekali. Membuat Yi Xing terkekeh beberapa saat hingga merogoh kembali saku mantelnya dan mengeluarkan empat buah gelang serupa yang juga berwarna platina dan memiliki ukiran nama berbeda di masing-masing permukaannya.
"kemarikan tanganmu," ucap Yi Xing pada Baekhyun. Ia memasangkan sebuah gelang bertuliskan nama Baekhyun.
"dan Kyungsoo?" Yi Xing beralih pada muridnya yang lain. Kyungsoo memberikan tangannya dengan senyum kecil di bibirnya.
"nah, berikan yang ini untuk Jongin." Yi Xing memberikan sebuah gelang dengan ukiran nama Jongin pada Kyungsoo. "dan Tao-nie, berikan ini untuk Luhan okay?" kembali ia memberikan sebuah gelang serupa namun dengan nama berbeda pada Zi Tao.
"terima kasih Sensei!" Baekhyun mencium pipi Yi Xing sekilas. Membuat sang empunya tertawa kecil kemudian balas mengacak ramburnya sayang.
"anggap saja hadiah awal ajaran baru, kemarin aku belum memberi kalian hadiah bukan?" ucap Yi Xing santai.
"bukankah liburan kemarin sensei sudah mengajak kami ke Osaka sebagai hadiah liburan?" Kyungsoo memiringkan kepala.
"ho- benarkah?!" Yi Xing membulatkan mata.
"dasar pelupa," Baekhyun bergumam lirih. Meskipun tak terlalu terdengar yang lain, Yi Xing mendengarnya dan menghadiahkan sebuah jitakan sebagai bonus untuk murid termudanya itu.
.
.
.
"hati-hati, kepalamu …" Yi Xing mengulurkan tanganya untuk melindungi kepala Zi Tao yang nyaris terkatuk pintu. "ku antar?"
"tidak usah sensei, aku bisa sendiri."
"baiklah, tapi aku akan pergi setelah kau masuk. Aku akan menunggumu disini," Yi Xing memasang senyum meskipun Zi Tao tak dapat meliahatnya.
"baik, aku masuk. Selamat malam sensei, terima kasih untuk hari ini"
"sama-sama"
Zi Tao melangkah memasuki rumah dengan bantuan tongkat miliknya. Melangkah perlahan sambil mengira-ngira benarkah langkah yang ia ambil. Ketika tongkatnya mengenai pintu, tangan kirinya beralih menyentuh permukaan kayu dan mulai mencari gagang pintu. Ketika ia mendapatkannya, ia membukanya dengan perlahan dan hati-hati.
"darimana saja kau?!" terdengar suara Jeonmyeon yang menggema dengan nada tak suka. Zi Tao menghentikan langkahnya, menggerakkan kepala tak menentu arah karena mencari sumber suara sang ayah tiri yang terdengar pecah di udara.
"aku menemui teman-temanku" jawabnya lirih.
"oh, begitu. Sementara aku sibuk dengan perusahaanku, kau malah bermain-main dengan kawan-kawanmu?!" Zi Tao menoleh cepat ke arah belakang tubuhnya dimana Jeonmyeon melangkah mendekatinya.
"bukankah itu memang keinginanmu?" Zi Tao berucap remeh.
"kau …"
"apa?! Aku tahu segalanya, tak usah menutupi kejahatanmu dariku!" Zi Tao memasang mimik tak suka.
"Aku tak dapat melihatmu, jadi kau tak perlu takut aku akan melaporkannya pada siapapun. Dan karena aku tak memiliki siapapun, kau tidak perlu takut aku akan meminta apalagi merebut perusahaan orangtuaku darimu! Cukup dengan tidak menggangguku!"
Dan usai mengatakannya, Zi Tao berlalu dengan tongkatnya. Ia tak mengetahui jika ada seseorang yang tengah menahan tangan ayah tirinya yang nyaris menamparnya.
"lepaskan tangaku," desis Jeonmyeon pada lelaki yang masih mencengkram pergelangan tangannya.
"berani kau lukai Zi Tao, hal yang serupa akan kulakukan pada putramu" suara rendah namun tajam itu terdengar mengancam. Dengan kasar lelaki itu melepaskan cengkraman tangan Jeonmyeon.
"berani kau lakukan itu akan kugantung dia dihadapanmu!"
"kalau begitu, selanjutnya kau juga akan merasakan hal yang sama!"
"cih, beginikah caramu menunjukkan rasa cintamu? Dengan melindungi anaknnya?" Jeonmyeon tersenyum mengejek, "menjijikan" matanya menyipit tajam.
"dan beginikah caramu membalaskan dendamu? Dengan menyakiti anaknya?" sosok yang bertubuh lebih tinggi dari Jeomyeon itu balik menatap tajam. "sangat kekanakan!"
"keluar dari rumahku!" suara Jeonmyeon terdengar ke hampir seluruh ruangannya.
"tak usah berteriak sekencang itu sayang …" lelaki berwajah manis itu menyentuh wajah Jeonmyeon perlahan yang segera ditepis sang empunya, "kau hanya melukai tenggorokanmu." Lanjut pria itu seraya melangkahkan kakinya.
"ah- aku hampir lupa," lelaki itu menghentikan langkahnya. "satu saja pesanku Jeonmyeon. Tao-nie tak dapat melihat, tapi aku melihat apa yang tak dapat dilihatnya. Dan aku dapat membuat anakmu mendapat luka terlebih dahulu sebelum kau melukai Tao-nie. Ingat itu baik-baik, sampai jumpa!"
"keparat kau Yi Xing!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Ottoke?
Sudah menjawab pertanyaan readers sebelumnya?
Masih banyak kah typo dan kejanggalan yang kalian dapati?
.
.
Silakan sampaikan! :)
-Itshu-
Mian ne… kalau alur, dsb membuat readers-deul bingung. Itshu masih amatir. Belum terlalu paham gimana buat alur/plot yg baik. Jadi mohon bantuannya.
Author bukan apa-apa tanpa readers. Tanpa reader, gak akan ada yg ngehargain karyanya, gak akan ada yang ngasih masukan buat kesalahannya, gak akan tahu dimana kekurangannya. Juga hal-hal lainnya.
Itshu masih baru, belum ada apa-apanya. Masih gampang terbuai sama pujian, dan masih malas mengedit tulisan. Jadi masih banyak kesalahan. Karena itu mohon kemakluman. :)
Maaf kalau terkesan bagaimana, tapi beginilah perasaan Itshu setelah belajar menjadi reader untuk komentar2 yg readers deul berikan. Itshu sadar masih harus banyak intropeksi.
.
.
Thaks untuk ...
Kirei Thelittlethieves, scarleciazeal, anisa. 1, dewicloudsddangko, Nasumichan Uharu, Aswshn, kriswu393, Wu Zi Rae KTS , juga readers2 lainnya yang tak dapat Itshu sebutkan (dan juga tak Itshu ketahui).
Sekian.
Next?
