Hello

.

.

Story Before …

.

.

"darimana saja kau?!" terdengar suara Jeonmyeon yang menggema dengan nada tak suka. Zi Tao menghentikan langkahnya, menggerakkan kepala tak menentu arah karena mencari sumber suara sang ayah tiri yang terdengar pecah di udara.

"aku menemui teman-temanku" jawabnya lirih.

"oh, begitu. Sementara aku sibuk dengan perusahaanku, kau malah bermain-main dengan kawan-kawanmu?!" Zi Tao menoleh cepat ke arah belakang tubuhnya dimana Jeonmyeon melangkah mendekatinya.

"bukankah itu memang keinginanmu?" Zi Tao berucap remeh.

"kau …"

"apa?! Aku tahu segalanya, tak usah menutupi kejahatanmu dariku!" Zi Tao memasang mimik tak suka.

"Aku tak dapat melihatmu, jadi kau tak perlu takut aku akan melaporkannya pada siapapun. Dan karena aku tak memiliki siapapun, kau tidak perlu takut aku akan meminta apalagi merebut perusahaan orangtuaku darimu! Cukup dengan tidak menggangguku!"

Dan usai mengatakannya, Zi Tao berlalu dengan tongkatnya …

.

.


. . .


.

.

Zi Tao meletakkan tongkatnya yang telah dilipat ke atas meja nakas. Perlahan namun pasti kakinya melangkah menuju ranjang, ia lalu merebahkan tubuhnya dengan perlahan. Mencoba menenangkan diri dari amarah yang tiba-tiba meluap dalam dadanya. Ia menghela nafas perlahan, memejamkan mata, mencoba melupakan kekesalannya.

Tak perlu memikirkannya.

Hiduplah dengan tenang.

Tenang …

.

.

Untuk apa dia mempertahankanmu?

Entah mengapa suara lelaki asing itu kembali terngiang di telinganya. Berputar dalam kepalanya seolah mencari jalan keluar. Semakin lama pertanyaan itu semakin membuatnya gelisah. Mengapa? Mengapa mengapa mengapa? Giliran suara itu yang berputar dalam rongga telinganya.

Zi Tao terdiam, mencoba mencari jawabannya.

"ssh …" ia mendesis kecil.

Jawaban itu tak kunjung ia dapatkan.

Kesal, Zi Tao langsung meraih bantal yang telah ia hafal letaknya dan langsung melesakkan kepalanya. "Aaa!" ia berteriak penuh kekesalan.

Namun tak ada yang mendengarnya.

Tak ada yang mendengarkan.

.

.


.

.

Title : Story of Memory

Genre : (for now) Friendship.

Rate : K-T

Chas : (now) Huang Zi Tao, Kris Wu, Luhan (Kim Luhan), Kim Jongin (Kai), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Kim Jeonmyeon (Suho), Yi Xing (Lay), Xiumin and Chen.

Author : Itshu and LouLou

Note :

*karena perasaan yang sedang galau, Itshu jadi blank buat lanjutin chap ini. Akhirnya Itshu minta 'bantuan' deh sama si LouLou. :3 (untung dia mau di susahin). Jadi maaf klo aga berbeda dari biasanya ya …

**kemarin ada yang bertanya, apakah boleh mendapatkan donatur dari orang hidup? Yang Itshu tahu di dunia kedokteran sih ga boleh, tapi di beberapa cerita dan kejadian (nyata), memperoleh donatur dari orang hidup itu diperbolehkan selama yang jadi donatur itu mau. Tapi sejauh itu sih bukan pendonoran organ tubuh yang bisa membuat orang yang mendonorkan mati seketika. Paling macam pendonoran mata, ginjal, sumsum tulang, dan hati. Sejauh yg Itshu tau sih begitu. Yah, mohon maaf kalau tak masuk akal. Waktu itu ide ini terlintas begitu saja tanpa Itshu kaji lebih dalam. Mian! :3

***Dan sebutan Sensei tidak hanya panggilan untuk guru, tapi juga dapat digunakan untuk orang2 yang di anggap memiliki kemampuan lebih dalam keterampilannya. Seperti dokter, dan mangaka (pembuat manga) pun dapat dipanggil sensei.

Maaf kalau banyak bicara :3

Selamat membaca! ;)

.

.


.

.


.

.

Chanyeol meletakkan belanjaanya ke atas meja. Kedua mata hitamnya menyapu keseluruh ruangan yang nampak sunyi tak berpenghuni. "Kris?" lelaki bertubuh tinggi menjulang itu mencoba memanggil patner kerjanya. Namun tak ada jawaban. Kawannya itu seolah hilang entah kemana.

"kau sudah pulang?" tanya seseorang dari balik badannya.

"O! Se-sensei! K-kau disini?! Dimana Kris?" Chanyeol terbelalak kaget dan malah balik bertanya. Menatap penuh tanda tanya ke arah Xiumin yang tiba-tiba saja muncul dari ruang dapurnya.

"jadi ini yang kalian sembunyikan dariku hah?! Mengapa dia jadi begitu?! Kau pasti memaksakannya menggantikan tugasmu kan?!"

"a- aku tidak bermaksud begitu … dia sendiri yang menawarkan diri!"

"huh, sekali lagi kutemukan bocah itu sakit, kupecat kau!" jemari lentik sosok mungil itu mengacung hingga menyentuh dahi Chanyeol yang ditumbuhi beberapa keringat dingin. Lelaki jangkung itu hanya dapat membisu, berani apa dia kalau sudah membuat gurunya itu marah?

"lalu, kemana Kris?" Chanyeol mencoba mengalihkan pembicaraan. Menatap guru sekaligus atasannya yang telah menjauh darinya.

"dia kusuruh membeli obat" jawab Xiumin singkat seraya mengecek makanan dalam kantong belanjaan Chanyeol. "ck, bagaima bisa kalian memberi makan seperti ini pada anak sepertinya?! Kau mau membunuhnya secara perlahan?!" Xiumin menatap sengit berkotak-kotak Pocky rasa coklat dalam kantong belanjaan Chanyeol.

"itu bukan untuknya! Itu milikku!" Chanyeol buru-buru menyelamatkan makanan kesayangannya dari amukan sang sensei yang gerah akan kelakukannya yang—mungkin—akan membuat 'anak' kesayangannya jatuh sakit.

"kalau begitu berhenti memakannya! Itu bukan makanan pokok!" Xiumin membulatkan mata hingga nampak nyaris keluar, kedua tangannya segera meraih kantong belanjaan Chanyeol dan berusaha merebutnya. Tak kuasa atas kebiasaan muridnya yang senang mengkonsumsi makanan berpengawet yang satu itu.

"tidak mau!" Chanyeol enggan mengalah.

"Park Chanyeol!"

"sensei … jangan~!" Chanyeol mulai merengek.

"kalau kau mengambilnya aku akan mengundurkan diri dan beralih profesi!" mendengar ucapan bawahannya yang terdengar mengancam, Xiumin buru-buru melepaskan genggamannya.

Yeah, walau banyak asisten macam Chanyeol di luar sana. Tapi mencari asisten penurut dan sabar macam dirinya bukanlah hal mudah. Pekerjaanya sebagai mangaka yang amat 'rajin'—red: produktif—sering kali membuat beberapa asisten kewalahan dan angkat tangan bekerja di bawah namanya.

"huh! Dasar keras kepala! Awas kalau kau sakit, jangan pernah meminta pertolonganku!"

"siapa pula yang mau meminta bantuanmu, kalau aku sakit aku lebih memilih menjauh darimu!"

"apa?! Dasar bocah sialan!"

"hey sensei, tidakkah kau sadar teriakkanmu akan mengganggu bocah itu?" sebuah suara datar mengintrupsi guru mungil itu dari amukannya yang siap meledak. Xiumin mengalihkan pandangannya, sementara Chanyeol telah sampai di dapur untuk menyembunyikan semua persediaan 'makanannya' ke dalam 'brangkas' rahasiannya.

Xiumin menatap malas sosok lain muridnya yang memiliki wajah datar. "kenapa lama sekali!?" semprot Xiumin tanpa ampun. Seolah mengalihkan amarahnya dari Chanyeol ke Kris yang kini tengah menyapu wajahnya akibat 'hujan' lokal.

"apotek itu berjarak 5 blok dari sini, apa yang sensei harapkan dengan tenagaku yang nyaris habis ini?" Kris menjawab tenang seolah itulah jawaban paling lumrah dalam hidupnya. Membuat Xiumin memutar bola mata jengah sembari membatin 'apa-apaan dia?!'

.


.

Rumah merangkap tempat kerja yang biasanya sunyi itu kini berubah gaduh. Xiumin masih saja membujuk bocah lelaki bersurai madu yang tengah menyembuyikan tubuhnya di balik selimut tebal, wajahnya di menempel erat pada bantal, enggan mendengarkan Xiumin dan lebih memilih mengacuhkannya.

"yak! Cepat makan makananmu!" titah Xiumin kesal.

"tidak mau!" bantah lelaki di balik selimut.

"yaaaah!" Xiumin berteriak frustasi.

"berisik!" Chanyeol berteriak dari ruang kerjanya. "tenang lah sedikit sensei! Aku sedang mengerjakan bagian yang sulit!" lelaki bertubuh tinggi itu menekan-nekan kuas kecil di tangannya ke atas tinta dengan kesal.

"huuh … awas kau kalau kau tak meminum obatmu!" ancam Xiumin kemudian keluar dari kamar bocah itu.

Kris menatap Xiumin yang keluar dari kamar sepupunya sejenak. Mengambil satu stik Pock di dekatnya kemudian memasukkannya kedalam mulut, ia mengunyahnya perlahan sembari mengoleskan tinta di beberapa bagian kertas yang telah diisi gambar.

Xiumin memasuki ruang kerjanya. Segera menempati tempat duduknya, dan memulai kerjanya.

Setelahnya, ketiga lelaki itu sibuk pada pekerjaanya masing-masing. Xiumin yang berkutat dengan sketsa komiknya, Chanyeol yang sibuk merapihkan dan mempertebal sketsa Xiumin, juga Kris yang asik mem-blok sketsa yang telah lolos dari Chanyeol. Semuanya hanyut pada pekerjaanya masing-masing. Hingga akhirnya semua ketenangan itu—sedikit—terganggu akibat suara pintu di buka dan langkah malas yang memasuki ruang tengah.

"selamat pagi~" suara malas khas lelaki berambut coklat tua itu berhasil melenyapkan kesunyian sejenak yang telah kembali ke rumah berukuran lumayan luas itu. Tak ada yang menjawab, Chen—lelaki yang bertugas menyelesaikan gambar sketsa itu melangkah malas menuju bilik kerjanya yang bersebelahan dengan Kris. Di antara keempatnya—Kris, Chanyeol, Xiumin dan Chen. Memang hanya Xiumin dan Chanyeol saja yang memiliki ruang kerja sendiri. Sementara untuk Kris dan Chen cukup dengan bilik sedang yang tak terlalu terlalu tertutup.

Lelaki yang tak diketahui dari mana asalnya itu meletakkan kepalanya ke atas meja kerjanya, wajahnya nampak kelelahan. Matanya tertutup rapat seolah tak mampu di buka.

"bergadang?" tanya Kris.

"yeah, aku mati-matian menahan kantuk demi merampungkan komik vol 3 itu dan mengirimnya hari ini bersama komik-komik kiriman minggu lalu." Chen berbicara tanpa membuka matanya sedikit pun. "hoooh Kris … kenapa semua komik itu harus kita yang menyelesaikan sih?! Memang apa yang para pekerja magang lakukan di perusahaan?! Kenapa semua komik itu dikirim ke sini untuk pengecekan?! Memang kita apa?! Mesin pengecek?!" lelaki bertubuh kurus itu menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Sebagai pekerja ia merasa dirugikan karena pekerjaan yang harusnya dilakukan para pekerja di perusahaan penerbit komik itu yang malah di alihkan kepada mereka—dia dan Kris. Mengecek komik, sungguh itulah hal yang membosankan!

"sudahlah, toh matamu tak lebih mengerikan daripada milikku kan?" Kris berucap datar sembari menunjuk kedua matanya yang memiliki kantung mata berlipat-lipat layaknya lemak di perut seorang ibu pasca melahirkan.

Chen menatap sahabat senasipnya sekilas. Benar memang, sebagai anak dari pemilik penerbit itu, Kris memang menghendel lebih banyak urusan. Dan semua itu telah berhasil membuat penampilannya tak pernah baik ketika masa penerbitan berlaku. Wajahnya yang tampan seolah hilang entah kemana digantikan wajah kuyu yang penuh kerutan di sana-sini.

"kau tidurlah, nanti tiga jam lagi akan kubangunkan. Kita bergantian saja. Kau setuju?"

Tanpa mengucapkan apa-apa Chen langsung saja melangkahkan kakinya menuju kamar Kris. Tak perlu di tanya apa yang ia lakukan. Sekarang ia pasti sudah terlelap di alam bawah sadarnya.

.

.


.

.


.

.

Zi Tao menggandeng tangan Baekhyun erat. Takut kalau saja tautannya terlepas dan dia akan tersesat di stasiun yang penuh sesak. "Tao, aku mau ke toilet dulu. Kau diam di sini oke? Jangan kemana-mana!" Baekhyun menempelkan tubuh Zi Tao ke salah satu dinding stasiun. "aku akan cepat kembali!" lelaki bertubuh kecil itu langsung bergegas menuju tempat tujuannya. Meninggalkan Zi Tao yang merapatkan tubuhnya sembari memegang tongkatnya erat. Entah mengapa lelaki bermata emerald itu merasa gelisah tak seperti biasanya.

"pencuri! Tangkap pencuri itu!" sebuah teriakan entah darimana asalnya terdengar di sekitar Zi Tao.

"hey, awas! Menyingkir dari sana!" kembali Zi Tao mendengar suara yang dilayangkan entah pada siapa. Ia bergeming, toh belum tentu teriakkan ditujukan pada dirinya kan?

Srek,

Bruk!

.

.

Zi Tao memejam. Meski tak akan melihat apapun sekalipun kedua manik indahnya membuka sempurna, instingnya menyuruhnya menutup mata. Tubuhnya terhimpit sesuatu. "hey, kau baik-baik saja?" tanya seorang pria.

"hey tuan?" sebuah tepukan kecil terasa di bahunya. Zi Tao membuka mata, ia mengenal suara itu.

"a-aku … aku baik-baik saja" ucap Zi Tao. Sayu-sayu ia mendengar kegaduhan di sekitarnya.

"tadi hampir saja. Tanganmu … tak sakit kan?" pria itu menatap tangan kanan Zi Tao yang masih dililit perban.

"tidak, terima kasih atas bantuannya." Zi Tao berniat membungkuk berterima kasih, namun tanpa ia ketahui lelaki itu berjarak terlalu dekat dengannya hingga kepalanya membentur dada pria di hadapannya.

"O! maaf!" Zi Tao refleks kembali membungkuk dan kembali membuat kepalanya terkatuk dada lelaki di hadapannya.

"O-oo! k-kau terkena lagi ya?!"

"tidak apa-apa, aku yang salah."

"Zi Tao! Zi- … hey! Siapa kau?!" Baekhyun yang baru kembali dari toilet langsung menatap was-was ke arah pria di hadapan sahabatnya.

"dia bukan orang jahat Baekhyun, dia tadi menolongku." Zi Tao mencoba meraih Baekhyun yang ia rasa berada di hadapannya.

"benarkah?" lelaki manis itu menatap sejenak sahabatnya. Namun tak lama ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pria di hadapannya. "hey tuan tinggi, kau tidak berniat macam-macam pada sahabatku kan?!" mata sipit Baekhyun membulat lebar.

"tidak" pria bertubuh tinggi itu menjawab datar.

'tuan tinggi?' Zi Tao membatin. Rasanya ia pernah mendengarnya beberapa tempo hari yang lalu.

"baiklah, terima kasih telah menolong sahabatku. Kami permisi. Ayo Tao …" Baekhyun meraih tangan kiri Zi Tao seraya menariknya menuju peron dimana kereta yang akan mereka tumpangi datang.

.


.

"Baekhyun?" tanya Zi Tao begitu keduanya telah duduk nyaman di kursi shinkansen yang akan membawa keduanya menuju Osaka. "ya?" jawab Baekhyun sembari menatap Zi Tao.

"lelaki tadi itu, apakah dia lelaki yang kau lihat di halte itu?" tanya Zi Tao.

"bukan, mereka memang tinggi. Tapi wajah mereka berbeda. Kenapa?" Baekhyun balik bertanya.

"tidak, hanya bertanya saja."

.


.

"Chanyeol, Chanyeol-ah … Chanyeol bangunlah … kita sampai!" Kris membangunkan Chanyeol dari tidur panjangnya selama perjalanan mereka menuju Osaka. Kedua lelaki yang memiliki tubuh sama tinggi itu mendapat tugas keluar daerah untuk mengecek beberapa masalah pengiriman di Osaka yang harus segera diselesaikan. Merepotkan, begitu pikir Kris. Tapi apa yang dapat ia perbuat selain mematuhi suruhan ayahnya?

Yeah, meskipun pada dasarnya hanya Kris seorang yang mendapat tugas tersebut. Chanyeol mau tak mau harus ikut serta agar Kris tak tersesat di Kyoto karena tak mampu berbahasa kansai (dialek Osaka).

"hoaah … haah … aku masih lelah~" Chanyeol merentangkan tangannya hingga tanpa sengaja mengenai seseorang yang tengah berjalan di lorong.

"akh!" pekik seorang lelaki seraya memegangi kepalanya yang menjadi korban.

"O! Maaf! Aku tidak- ee … kau?!" Chanyeol menatap lelaki tunanetra di belakang lelaki yang tengah mengaduh.

"yak! Appeunda~" Baekhyun yang tengah kesakitan menggumam dalam bahasa korea.

"O! Kau orang korea?!" Chanyeol mengalihkan pandanganya ke arah lelaki pendek di hadapannya.

"Dasar bodoh!" umpat Baekhyun kesal.

"hey-"

"maaf, bisakah kalian tidak menghalangi jalan?" potong suara kesal di balik badan lelaki tunanetra yang membisu tak tahu apa yang tengah terjadi.

.


.

"aku sungguh minta maaf! Maafkan aku!" Chanyeol kembali membungkuk untuk kesekian kalinya. Baekhyun melengos, enggan menjawab dan lebih memilih diam. Pipinya mengembung kesal. Sebal!

"yak! Sesama warga korea bukankah seharusnya saling memaafkan?!" Chanyeol yang merasa telah mengakui kesalahannya merasa jengah.

"baik aku memaafkanmu puas?! Sudah sana jangan mengikuti kami!" omel Baekhyun galak dan penuh penekanan. Membuat beberapa pasang mata menatap haran ke arah kedua lelaki yang memiliki beda tinggi yang cukup signifikan itu.

"siapa yang mengikutimu! Ini halte! Wajar jika aku juga di sini, dasar cebol!" Chanyeol berujar asal. Membuat lelaki kecil di samping kanannya membulatkan mata sengit. Jari kanannya membentuk gunting, ingin sekali mencolok kedua mata bulat lelaki di sampingnya yang berhasil menyulut amarahnya.

"apa kau bilang?! Ucapkan sekali lagi!" tangan kanan Baekhyun mulai meninggi. Bersiap menusuk kedua mata lelaki tinggi di hadapannya jika ia kembali mengucapkan kata-kata yang mengusik kemarahan dalam dirinya.

"Baekhyun …" Zi Tao yang telah berhasil meraih lengan baju sahabatnya langsung menariknya menjauhi Chanyeol. "sudahlah …" ucapnya menenangkan.

"dasar bodoh" desis Baekhyun masih tak mau mengalah.

Zi Tao menghela nafas. Berpergian berdua dengan Baekhyun saja memang agak menyulitkan. Terutama jika hal seperti ini terjadi, tak terhitung berapa kali mereka nyaris berada dalam masalah gara-gara Baekhyun yang mudah sekali marah jika tinggi badannya di bawa-bawa. Dan Zi Tao tak mampu berbuat apa-apa selain menenangkan sahabatnya dan berharap amarahnya reda. Karena jika tidak, sudah pasti akhirnya akan terjadi baku hantam.

"umh, maafkan temanku." Ucap sebuah suara di samping Zi Tao yang tak lain tak bukan adalah Kris. "dia kelelahan, jadi kurasa tidak dapat berfikir jernih. Maaf ya," ia melanjutkan.

"tidak, temanku juga salah." Tutur Zi Tao. Baekhyun yang mendengarnya merasa tak terima. "enak saja, aku tidak salah!"

"kau memang salah! Dasar-"

"Baekhyun/Chanyeol!" Zi Tao maupun Kris meneriaki masing-masing sahabatnya kesal. Kekanakan sekali sih?!

Kedua lelaki yang tengah bersiteru itu saling melempar death glare. Mendengus, kemudian membuang muka ke arah berlawanan. Membuat Kris yang melihatnya menatap malas, sementara Zi Tao diam tak tahu.

Kris mengalihkan pandangannya ke arah Zi Tao yang masih menatap lurus punggung Baekhyun. Kedua matanya berkedip tak percaya. Setelah dua tahun dibayang-bayangi sosok manis pemuda tanggung yang ia temui di kebun binatang, bertemu dengannya tanpa sengaja hingga membuat tangannya terluka, dan kini, dia kembali menemuinya dan berada di sampingnya sambil memandanginya.

Zi Tao menoleh tiba-tiba, membuat Kris yang tengah menatapnya segera mengalihkan pandangannya karena merasa di tatap Zi Tao. Karena sekalipun ia tak dapat melihat, mata berwarna emerald itu seolah memiliki cahaya hingga mampu membuat siapa saja yang melihatnya silau karenanya.

"maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Suaramu tak asing di telingaku." Zi Tao berkata.

Kris terdiam, mencoba berfikir. Ia ingin sekali berkata 'ya! Kita pernah bertemu dua tahun yang lalu, kau waktu itu menjadi pemanduku! Aku Kevin!' tapi mana mungkin dia menjawab begitu, memang lelaki di hadapannya ini mengingatnya? Lagi pula, sosok yang kenal itu berbeda. Yang ia ketahui, lelaki bermata emerald itu bernama Edison dan bukan bernama Zi Tao yang tengah menatapnya kini. Dan dia dapat melihat, tidak seperti lelaki di hadapannya ini. Kris kenal betul mata emerald bersinar itu, karena saat bersama Edison dulu, kedua mata itulah yang paling lama ia tatap. Tapi dengan 'sosok' dan nama yang berbeda itu, Kris merasa ragu jika lelaki di hadapannya kini memang Edison. Lelaki yang telah menghantui tidurnya selama dua tahun ini.

Tapi Kris merasa jika lelaki ini Zi Tao.

Tapi … apa itu benar dia?

"hallo? Tuan? Kau masih di situ?" Zi Tao yang tak kunjung mendapat respon dari Kris kembali bersuara.

"ah, kita …"

"Kris! Bus kita sudah tiba!" Chanyeol memberi tahu.

"um … sebenarnya …"

"haish! Kris!" kesal akan tingkah laku kawannya yang lama, Chanyeol langsung mendekati Kris dan Zi Tao dengan langkah cepat. Ia meraih saku mantelnya, mengambil sebuah kartu nama kemudian memberikannya pada Zi Tao yang diam tak tahu apa-apa.

"nah, pria bermata hijau … kau dengar suaraku? Aku lelaki yang membantumu menaiki bus beberapa hari yang lalu. Namaku Chanyeol." Chanyeol menjabat tangan kiri Zi Tao yang memegang kartu nama pemberiannya. "dan lelaki yang berada di sampingmu ini Kris, dia yang menolongmu di stasiun tadi. Dia juga yang mematahkan tanganmu."Chanyeol dengan seenak hatinya menggerakkan tangan kiri Zi Tao menepuk pundak Kris.

"nah, sudah bukan? ayo, kau lama sekali!" Omel Chanyeol seraya menyeret paksa Kris dari samping Zi Tao yang masih mematung mencerna ucapan lelaki jangkung yang kini melenggang menuju bus bersama sahabatnya yang terlihat tak mau meninggalkan halte. Kris merasa belum puas.

"yak! Sebentar Chanyeol!" Kris berusaha melepaskan diri dari eratan tangan sahabatnya.

"ishh! Ini bus terakhir tahu! Kau mau tertinggal?! Pekerjaan kita masih banyak!"

"tapi-"

"aku tahu, sudah ayo masuk dulu!" Chanyeol bersikeras menarik sahabatnya yang mulai membuat para penumpang di belakang mereka merasa kesal. Akhirnya Kris menuruti Chanyeol dengan berat hati.

Melihat tingkah kedua lelaki jangkung itu, Baekhyun hanya diam dengan salah satu alis tertaut lebih tinggi. Heran. 'dasar pria-pria aneh' ia mendumal dalam hati. Sementara Zi Tao masih berkutat dalam pikirannya sendiri. 'jadi dia pria yang tadi menolongku? Dan dia juga lelaki yang membuat tangan kananku patah? Jadi itu dia, tapi mengapa …'

"hey lelaki bermata hijau! Kertas di tangamu itu kartu nama Kris! Dia juga penah pernah bertemu denganmu dua tahun yang lalu! Di kebun binatang Tokyo! Tropical Land! Dia- hempf~ yak!" mulut Chanyeol di bekap Kris secara paksa.

"huh, apa-apan mereka. Membuat malu saja. Aneh" gerutu Baekhyun.

"dua tahun yang lalu …? Kebun … binatang?" Zi Tao bergumam sendiri.

"Tropical … Land …"

Mata lelaki bermata emerald itu membulat. "Dia …"

'lelaki itu?!'

"Tao, bus kita datang."

.

.


.

.


.

.

Jeonmyeon menatap sebuah foto kusam di dalam laci kerjanya. Foto yang menampilkan tiga orang lelaki dan dua wanita muda yang tengah tersenyum itu membuat hatinya bergemuruh kesal. Kebencian itu kembali menyelimutinya. Tangan kanannya mengambil foto itu perlahan.

"berani kau lukai Zi Tao, hal yang serupa akan kulakukan pada putramu" Jari telunjuk Jeonmyen menyentuh wajah seorang pria paling sipit di antara ketiga pria yang ada dalam foto itu perlahan.

"kenapa kau memihak orang yang salah Yi Xing …" lelaki yang memasuki usia 35 tahun itu berucap lirih penuh penekanan.

"kalau begitu, selanjutnya kau juga akan merasakan hal yang sama!" jemarinya beralih menyentuh wajah lelaki berdimple yang memeluk lelaki sipit dengan satu tangan.

"benarkah kau mampu melakukan hal itu padaku?" sebuah kekehan kecil terdengar meremehkan.


"maaf Suho, aku mencintai orang lain. Aku … a-aku tidak mungkin mencintaimu …"

"lalu siapa yang kau cintai? Xia Lee?"

"tidak, …"

"Zi Xiu? K-kau … kau mencintai-"

"aku …"

. . .


"mengapa kau harus mencintainya … ?" suara lirih itu nyaris tak terdengar siapapun.

.

.

.


.

.

.

-TBC-

.

.

.

Ottoke?

Banyak typo? Ada kenjanggalan?

Ada pertanyaan?

.

.

Thanks for : dewicloudsddangko, Aswshn, fitriws21, anisa. 1, TaoKYU, peachpetals, exopandahuang, and Kirei Thelittlethieves.

-juga untuk readers deul yang lain, yg tak tersebut dan tak dapat d sebutkan (?)-

.

Tinggalkan jejak ne?

Salam~!

-Itshu-