[[FF YunJae] YAOI| M| MPreg| Part B| "My Body is Ours"]

Cast : Yun(26)Jae(23), Hanchul, Sibum and Other cast

Rate : M+

Gendre : Drama, Family/ M-preg

Legth : B

Author : RedBalloons5

Warning!

Typo(ss) Boy x Boy

NC!

Kata-kata yang digunakan menjerumuskan ke arah adegan dewasa. Jadi anak-anak (yang merasa belum dewasa seutuhnya ATAU yang merasa masih polos) daripada kepolosan kalian tercemari, ada baiknya jika kalian menutup Tab ini.

Jangan coba-coba baca jika belum terbiasa. Ini akan menyebabkan pusing, mual-mual dan sakit perut berhari-hari." -_- *apadehhh..

[Reeva YoosuminYunjaeshipper II : aku dedikasikan FF ini untuk mu. Terima kasih telah memberi tahu kecerobohanku. It's special for you..^^]

(a/n: Jika ada yang merasa karyanya saya plagiatkan. Ijinkan saya memohon maaf sebelumnya. saya benar-benar tidak bermaksud untuk itu. saya hanya menyalurkan apa yang telah menumpuk di otak saya. Di hapus segara jika itu terjadi. Sekian dan Terimakasih. Selamat membaca \^,^/)


In Heechul & Kibum's mind…

"Yun.. andweyo.." Yunho menarik kaki Jaejoong yang berusaha kabur dari atas ranjang berkelambu sutra.

Yunho menjilat bibir dan bertampang kakek-kakek mesum menindih Jaejoong yang ketakutan. "Jae.. ayo kita lakukan."

"Joonggie.." Yunho menyusup ke ceruk leher Jaejoong.

Tampang tolak-tolak mau Jaejoong tergambar dalam pikiran mesum nyonya Jung "Andweyo.. Yunhh.. Andweyohhh"

"ANDWE!" Kibum berteriak membuyarkan pikiran mesum mereka.

"Aku takut itu akan menyakiti joongie. aku rasa mereka butuh waktu. Kita tahu mereka menikah atas paksaan kita. pasti sangat sakit.. Hiks joongie ku yang malang." Sendu sedan Kibum mengherankan Heechul.

"Tenanglah Bummie. Yunho itu lelaki yang baik. Dia juga perkasa. Dia pasti bisa membuat Jaejoong jatuh cinta." Masih dengan konten mesumnya Heechul mencoba menenangkan Kibum.

Heechul berkata seolah mendapat ide baru, "Bagaimana kalau kita pisahkan mereka?"

"MWO?" Kibum menahan napasnya sejenak mendengar rencana Heechul.

"Bukan pisah bercerai maksudku. Kita buat seolah-olah ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka."


Yunjae berjalan menuju sebuah hotel sesampainya mereka di pulau cantik bernama Jeju. Mereka memutuskan berlibur untuk merasakan nikmatnya bulan madu sesuai titah duo uke cantik yang kini sedang tertawa-tawa memikirkan malam panas putra mereka. Paket liburan romantis yang umma Kibum pilih memaksa mereka menghabiskan 3 harinya di tempat yang juga di kenal dengan Tamra Island.

Jaejoong terlihat begitu antisias berada di balkon lantai 10 yang bisa langsung melihat pemandangan laut lepas. Biru yang terpendar serta metahari yang menyapanya dari balik kapas terbang membuatnya tak henti-henti melompat-lompat dan bersorak riang seolah baru menemukan apa yang ia cari.

"Yun, Lihat pemandangannya indah sekali." Jaejoong menyeret Yunho menuju teras atas kamar mereka yang dibatasi pintu kaca bergorden tipis yang melayang ketika tertiup angin.

"Aku lelah aku ingin istirahat." Yunho melepasakan rangkulan Jaejoong dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Wajah menyebalkannya juga tak luput menurunkan mood Jaejoong.

Kesal Jaejoong menatapi Yunho. "ish. Tidak asik!" Disambarnya koper coklat di dekat sofa lalu mengubek-ubek isinya demi mencari ponsel. Mengetik sms beberapa saat sebelum mengoleskan sunblock untuk melindungi kulitnya dari terik cahaya matahari siang itu.

Jaejoong mematut dirinya di cermin, ia bahkan dapat melihat pantulan tubuh Yunho yang tidur terlentang. "Aku akan pergi ke pantai. Kau ikut tidak?" Jaejoong merapikan poni tersampir ke kanannya agar lebih rapi. Perhatian terpenting bagi Jaejoong adalah keindahan dirinya di mata orang lain.

"Tidak." Singkat dan dingin jawaban Yunho menciptakan pout di bibir Jaejoong.

Dengan gemas Jaejoong menghentakkan kakinya keluar kamar. "Ya sudah. aku bersenang-senang sendiri saja. Bye-bye."

Tak acuh Yunho menyamankan kepalanya diatas bantal lalu terlelap. Begitu lelapnya Yunho hingga tak meyadari jika ponselnya bergetar beberapa kali di atas meja. kelelahannya tercipta hanya karena membawa banyak barang Jaejoong. 2 buah tas besar yang Yunho saja tak tahu apa isinya. Bagi Jaejoong kerempongan adalah hidupnya.

Jaejoong berdiri di depan lobi hotel. Ia bingung. Dia baru menyadari bahwa ia tidak tahu betul tempat itu apalagi jalan menuju pantai. Bukan Jaejoong namanya jika mudah menyerah begitu saja. Satpam berbaju putih di depan hotel menjadi incarannya untuk menjawab pertanyaan, bagaimana cara menuju tempat berpasir yang berada di pesisir laut tersebut. Jaejoong berbincang sejenak bersama namja bertubuh agak gempal itu sebelum kemudian melangkah penuh semangat ke tempat tujuan.

"Yahh. Pantai! Ombak aku datang!" Jaejoong berlarian di atas pasir saat melihat biru yang tarhampar jelas di hadapannya. Ia terkikik dengan tingkah konyolnya sendiri. Mendekak saat ombak memasuki laut dan berlari kesetanan saat gulungan ombak terhempas di bibir pantai. Melupakan orang lain yang akan mengangapnya namja kurang waras sekalipun. Berkaki telanjang Jaejoong mengambil beberapa photo selca dan pemandangan. Ia juga berlarian kesana kemari hingga ia kelelahan terduduk di atas pasir.

Terik matahari semakin menyengat membuat orang memilih berteduh dan menjauhi pantai. Hanya saja jaejoong masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Hingga 4 orang namja dari kejauhan menyeret langkahnya mendekati Jaejoong yang sedang asik dengan dunianya sendiri.

"Hei, noona cantik." Sapa salah satu pemuda dari gerombolannya yang memperhatikan gerak-gerik Jaejoong sejak sejam yang lalu. Menatap dengan tatapan predator seolah-olah Jaejoong santapan lezat tersaji dihadapan mereka.

Jaejoong berdiri ketika merasakan aura-aura tidak enak di belakangnya. "Mau apa kalian?" Jaejoong mundur selangkah ketika para namja itu tanpa keragu-raguan mengeliminasi jarak tubuh mereka dari tubuh Jaejoong.

"Jangan mengganguku!" galak Jaejoong berwajah marah.

"Jangan terlalu munafik noona. Kau pasti menginginkan sebuah malam panas bukan?" ucap frontal dan tak tahu malu salah satu namja gaya rambut sarang burung.

Jaejoong naik darah oleh kata-kata tak sopan mereka. Dia merasa direndahkan karena ungkapan yang dilontarkan namja berkaos putih bergambar pisang. Namja yang cukup keren. Tapi perbuatannya sama sekali tidak menujukan itu.

Jaejoong terperangah ketika mereka tak segan untuk semakin menujunya. "Jangan mendekat atau aku patahkan leher kalian!"

"Wah ternyata noona ini galak sekali. Bersenang-senanglah bersama kami. Kami yakin satu diantara kami bisa memuaskanmu." Bersahutan tawa gorombolan namja-namja itu membuat Jaejoong tak gentar.

Seorang diantara mereka menyentuh bahu Jaejoong hingga membuat Jaejoong berteriak, "YAK! BERANINYA KAU MENYENTUHKU!"

Bughhh

Jaejoong melayangkan tinjunya, telak mengenai pipi namja kurang ajar itu.

Tatapan nyalang melayang untuk Jaejoong. "Cuihh..Dasar.. mau main kasar rupanya."

"YAK LEPASKAN AKU!" 2 orang dari mereka memerangkap lengan Jaejoong. menciptakan rontaan Jaejoong menolak kungkungan mereka. Namun, Jaejoong ternyata tak cukup kuat untuk bisa melepaskan diri. Gerombolan itu malah tertawa-tawa atas ketidakberdayaan Jaejoong.

"Kau benar-benar manis noona." Si namja yang sepertinya merupakan ketua dari geng tersebut menyentuh pipi Jaejoong dengan ujung jarinya.

"Jauhkan tangan kotormu!" berang Jaejoong menjadi-jadi dengan masih enggan berhenti mencoba melepaskan diri. Rasa geli dan jijiknya bercampur jadi satu.

Bughh

Jaejoong menendang selangkangan namja itu dengan kuat, menimbulkan rontaan cukup keras digaungkannya. 2 namja yang sebelumnya memerangkap Jaejoong sontak melepaskan Jaejoong, menghampiri ketua mereka yang meraung kesakitan menjepit selangkangannya.

"Dasar kalian namja menjijikan! Hiattt.."

Pertarungan 4 lawan 1 pun tak terelakkan. Dengan tangan kosong Jaejoong mulai mengeluarkan jurus-jurus yang ia pelajari sejak SMA. Tendangan, tunju dan pukulan Jaejoong mendarat di tubuh mereka membabi buta.

"Satu lagi! aku ini namja! JANGAN PANGGIL AKU NOONA!"

Sebuah tendangan sukses mendarat diperut namja jalanan itu. Tak semua pukulan dari para namja itu dapat Jaejoong tangkis, beberapa diantaranya membuat Jaejoong terhuyung kebelakang akibat pukulan yang menganai wajahnya.

Saling baku hantam mereka mengroyok Jaejoong, sampai akhirnya 3 dari mereka sukses jajeoong robohkan dan seorang lainnya telah berlari tunggang langgang akibat ketakutan.

"Jangan pernah meremehkan Bishōnen!" Gertak Jaejoong tak mengacuhkan lagi mereka yang terkapar meringis kesakitan.

"Awww.." Jaejoong memegang pipinya yang agak membiru. Setitik darah segar merembes dari susut bibir kanannya yang terkena pukulan.

"Sebaiknya aku kembali ke hotel, sebelum malam." Jaejoong berjalan perlahan sambil memperbaiki penampilannya.

Sepanjang perjalanan menuju hotel ia bisa melihat pasangan pengantin baru yang sedang becengkrama melewatinya. Bergandengan tangan, berangkulan, bahkan ada yang tak segan untuk berciuman di depannya. Iri pasti. Tapi ia hanya dapat mengela napas.


Jaejoong POV

Aku berjalan melewati jalan setapak yang diapit deretan pohon King Cerry Blossom di kanan dan kirinya. Yunho benar, ia tidak pernah salah memilih. Tempat ini benar-benar menarik. Akan tetapi pasti akan jauh lebih menyenangkan andai saja dia bersedia menemaniku jalan-jalan.

Namja menyebalkan itu membuatku semakin menyukainya. Tapi aku malah merasa ia semakin menjauhku. Sikap dingin dan prilaku tak acuhnya membuatku geram setengah mati. Terkadang-kadang pula ia menjadi hangat, apalagi ketika malam kami di ranjang membuatku seakan akulah orang yang paling berharga dalam hidupnya.

Apa tidak adakah sedikitpun perasaannya padaku? atau ini mungkin karena janji kami dulu? Benarkah sikap hangatnya hanya sebagai drama yang sedang ia mainkan? Aku benar-benar tidak tahu. Aku bingung. ottoukke?

Huhhh.. Sebaiknya aku membuktikannya malam ini! aku akan menjalankan rencana umma. reader-shi doakan joonggie! Jaejoong Hwaiting!

Flashback On

Author POV

Malam sebelum keberangkatan Jaejoong dan Yunho ke Jeju-Do..

"Jae kemarilah. Kami ingin berbicara penting denganmu." Panggil Heechul pada Jaejoong yang baru menapaki tangga terakhir di lantai satu.

Melangkah Jaejoong mendekati umma kim dan umma Jung yang duduk berdampingan di sofa. "Wae umma? Serius sekali."

"Umma ingin kau jujur pada kami dengan hubungan kalian. Kau dan Yunho baik-baik saja seperti kelihatannya kan?" Heechul merapatkan tubuhnya ke Jaejoong yang duduk diantara umma kim dan dirinya.

"Jae, kami hanya ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya terhadap perjodohan ini. umma tidak ingin kau menyiksa dirimu demi menyenangkan kami. Hiks.." melankolis Kibum. Ia benar-benar takut jika putranya tersiksa. Mana ada ibu yang rela bila anaknya disakiti. Hanya ibu dengan otak diambang batas kewarasan yang menginginkan anak yang lahir dari rahimnya menderita.

Dengan sedikit takut-takut Jaejoong bertanya. "umma waeyo? Kenapa tiba-tiba sekali kalian menanyakan ini?"

"Mianhae jae, umma hanya merasa kalian berakting di depan kami." Jujur Kibum yang sukses mendapat teriakan Jaejoong."UMMA!"

"Jae. Berceritalah sedikit, jika memang itu tidak benar. Lalu bagaimana hubungan kalian? Apa kalian melakukan 'itu' setiap hari?" masih dengan otak mesum yang tidak akan pernah karatan, Heechul mengintrogasi Jaejoong.

Jaejoong melemah seketika. Bola matanya bergerak gelisah. Dengan bimbang Jaejoong mulai menjawab, "Sebenarnya.. Umma mianhae." Jaejoong menunduk, ia takut menatap wajah umma kim dan umma Heechul. Benar-benar takut.

"Kenapa kau meminta maaf? Ada yang terjadi? Yunho menjadikanmu 'S*Slave'?" agak terkejut Heechul bersamaan aura penasarannya yang mulai meledak-ledak. Di otaknya sudah mulai bermunculan scene-scene BDSM yang biasa ia dan suaminya, Jung Hankyung praktekkan.

"Benarkah Joongie? Apakah Yunho merantaimu? Apa Yunho juga menggunakan cambuk? Vibrator bentuk apa yang sering ia pakai?" Kibum, namja yang kelihatannya polos itu mulai menunjukan jati dirinya.

"A.. ann.. aniya. Yunho bukan namja sadis seperti itu umma." gugup Jaejoong menunjukan ketidaksetujuannya mengibas-ngibaskan kedua tangan di depan dada.

"Apa Yunho mengalami masalah dengan 'itu'nya? Atau..jangan-jangan kau yang bermasalah dengan lubangmu?" Heechul kembali main tebak-tbak berhadiah.

"Umma.." Jaejoong agak merajuk. Sejujurnya percakapan itu sangat memalukan baginya. Namun, kali ini Jaejoong akan mencoba menekan rasa malu dan ragunya, dan mengatakan fakta yang terjadi di rumah tangganya. "Umma..Kami tidak pernah melakukannya sampai tahap itu. kami hanya melakukan Foreplay*."

"MWO? Kenapa bisa?" Kibum dan Heechul terkejut bukan main. Mulut mereka terbuka agak lebar menatap tak percaya dengan kata-kata putra semata wayang dan menantunya.

Heechul menebak, "Yunho Premature Ejaculation*?" sebut Heechul pada penyakit yang merupakan penyakit disfungsi seksual yang disebakbkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya karena pasangan yang terlalu bergairah.

"Aniya." Jaejoong menggeleng ringan. Bahkan Jaejoong tidak pernah melihat Yunho ereksi. Bagaiman ia bisa menjawab pertanyaan macam itu!

"Kau cepat lelah." Tebak Heechul lagi. Heechul sudah membayangkan Jaejoong yang tertidur sebelum Yunho berhasil memasukinya.

"Aniya…..Bukan masalah seperti itu umma. Aku..Aku melakukan kesalahan umma... Aku menyuruhnya berjanji untuk tidak memasukkan '..itu'nya ke lubangku." Pelan ujar Jaejoong penuh ketakutan mengungkapan apa yang sebenarnya. Tapi menurutnya ini adalah waktu yang paling tepat. Ia juga sudah lelah untuk menahan diri mendengar namanya di desahkan Yunho tiap malam.

"Kau tidak mencintai Yunho?" tanya Kibum tanpa basa-basi. Alasan paling

"Umma bisa mengerti bila joongie membenci perjodohan ini. jika Joongie merasa tertekan, sebaiknya kita akhiri saja." Nada ketus Heechul menunjukan bahwa ia sedang dilanda kemarahan. Ia merasa bahwa Jaejoong sangat tidak menyukai Yunho menjadi suaminya.

"Aniya bukan seperti itu umma. Aku mencintai Yunho. bahkan sangat." Kata Jaejoong membuat Heechul kembali duduk ketika hendak pergi dengan keputusasaan.

"Awalnya. Ia, aku tidak mencintai Yunho bahkan aku benci. Karena perjodohan ini memaksaku berpisah dengan Hyun Joong. Dan hal itu juga menyebabkan aku tidak bisa merelakan tubuhku begitu saja. ." Perasaannya tiba-tiba berubah ketika memulai untuk bercerita. Ia menyatakan bagaimana tertekannya ia penerima nasib cintanya yang ditakdirkan oleh orang tuanya.

"..Tapi perlahan sikap dingin Yunho membuatku jatuh cinta. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku mulai tersenyum saat ia memelukku ketika tidur, membagi kehangatan tubuhnya." Kehangatan menjalari tubuh Jaejoong hingga ke ubun-ubun. Ia membayangkan tubuh Yunho yang mendekap tubuhnya erat ketika hari malam. Tak luput dengan aroma tubuh Yunho yang menyengati indra penciumannya dan hembusan napas Yunho yang terkadang mengenai pipi mulusnya ketika tubuh mereka dekat.

"..Umma mianhae. aku benar-benar bodoh. Walaupun aku mencintai Yunho aku juga tidak bisa memaksa Yunho untuk melakukannya. Aku takut Yunho tidak mencintaiku." Jaejoong mengakiri ceritanya dengan guratan duka menghiasi wajahnya.

Kibum memeluk putranya. Ia turut merasakan kemalanggan Jaejoong.

Tiba-tiba Heechul tersenyum di akhir cerita Jaejoong.

"Kau tahu kisah cinta ibumu bahkan lebih menyedihkan. Ia bahkan hampir bunuh diri karena dijodohkan dengan appamu. ….Kibum punya pacar sebelumnya sama sepertimu. Bahkan Kibum sudah berjanji menikahi pacarnya itu. tapi ketika kakek dan nenekmu mengalami keterpurukan ekonomi mereka terpaksa menjual ibumu pada ayahmu.

Untungnya Siwonnie bukanlah namja bejat. Ia menjadikan Kibum ratu dalam rumah tangganya. Butuh 2 tahun untuk Kibum menyerahkan diri seutuhnya dengan ayahmu. Kau tahu bahkan setelah itu Kibum rela menjadi "S" seutuhnya untuk Siwon."

Jaejoong hanya bisa terdiam mendengar cerita Heechul tentang ibunya. Ia tahu perjodohan ibu dan ayahnya. Tapi, tidak lebih dari itu.

"Siwon lelaki yang baik dan setia. Itu cukup membuat umma jatuh cinta. Joongie.. umma mengerti bagaimana rasanya dijodohkan dengan namja yang sama sekali tidak kau sukai. Oleh karena itu, umma sempat tak sependapat dengan appamu terhadap penjodohan ini. Tapi berpandangan dari pengalaman umma dan appa. Umma rasa waktu yang kau butuhkan sudah lebih dari cukup untuk saling mencintai dan berbagi Joongie. Cobalah untuk memulainya duluan." Usul Kibum mencoba memberi Jaejoong pengertian. Ia membelai rambut bloode Jaejoong sayang. Ia tersenyum saat mata Jaejoong menatap kearahnya dan membalas senyumannya.

"Umma yakin kalian tidak pernah sekalipun berbagi kata-kata romantis selama ini. jika kau malu mengungkapkannya. Cobalah dengan tindakan dan kejutan-kejutan kecil. Seperti mengoda.. hehe." Saran Kibum diselingi tawa kecil.

Jaejoong menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya sekaligus. "Aku sudah pernah melakukannya umma. Bahkan Yunho mungkin sudah kebal. Kemeja transparan, obat perangsang, bahkan aku rela bertelanjang di depannya. Tapi yang aku dapat hanya sebuah kecupan dan hisapan."

Putus asa Jaejoong yang tenyata tidak sepolos yang umma-ummanya bayangkan.

Dari sekian banyak ide yang ada di pikiran Heechul semua tereliminasi dengan tidak elitnya. Mereka bertiga sudah berputus asa dengan saling berselonjoran di sofa. Pikiran mereka penuh dengan imanjinasi-imanjinasi kegagalan Jaejoong mengoda Yunho. Yunho adalah namja yang tangguh untuk ditaklukan.

"Berarti rencana terhadap orang ketiga pun dibatalkan. Aku takut itu semakin membuat Yunho membenci Joongieku." Ucap Kibum lagi-lagi membuat rencana yang telah mereka rancang jauh-jauh hari hancur berkeping-keping.

Rencananya mereka akan meminta tolong Hyun Joong untuk mendekati Jaejoong dan membuat Yunho cemburu. Tapi mengingat kondisi yang terlihat sekarang, rencana itu mesti hanya memperparah keadaan.

"Joongie, mianhae umma ne, umma membuat Joongie menderita." Heechul mengenggam tangan Jaejoong. ia bisa merasakan betapa lelahnya Jaejoong dengan rumah tangga yang ia jalaninya. Selama ini mereka hanya melihat drama kebahagiaan yang dimainkan Yunho dan Jaejoong di depan mereka. Tak pernah terbesit sedikitpun pikiran buruk bagaimana Jaejoong dan Yunho harus menahan hasrat mereka masing-masing.

"walaupun sulit umma.. Joongie ingin mendapatkan Yunho seutuhnya. Joongie akan mencobanya lagi!" raung semangat Jaejoong berhasil membuat senyum Heechul mengembang. Heechul tersenyum lega. Ia tidak akan pernah menyesali pilihan suaminya pada Jaejoong sebagai menantunya. Dengan karakteristik sikap dan kepribadian yang dimiliki Jaejoong, Heechul percaya Jaejoong pasti bisa membahagiakan Yunho.

"Bulan madu lah ke tiga kalinya. Umma percaya kali ini joongie pasti berhasil."

Flasback end

Kamus Author:

(*Foreplay: istilah foreplay digunakan untuk menyatakan tindakan sebelum menuju adengan 'inti'. Seperti: membuka pakaian, mencium, bercumbu dan oral sex (Setiawan, 2007). Yang yadong pasti mengerti. Jika kurang jelas, silahkan tanyakan pada MR. Google.)

(*Premature Ejakulation: Ejakulasi Dini.)


Jaejoong mengatur napasnya beberapa kali sebelum membuka pintu kamar mandi. Ia mempersiakpan diri untuk mengoda Yunho lagi. Bersiap sedia dengan kemeja yang dibasahkan, celana jeans ketat membiarkan kaki jenjangnya dan lekuk tubuhnya terekspos sexy.

Cklekkk..

Jaejoong tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia bahkan telah mengunci pintu kamar mandi agar nantinya Yunho tidak kabur saat inti hubungan mereka. Langkah pertama yang umma Heechul himbaukan padanya.

"Yunhhh…" mendesah. Jaejong mendesah seseksi mungkin.

Jaejoong melangkah seanggun mungkin membuat gerakan erotis. Namun langkah Jaejoong terhenti ketika melihat seorang yeoja yang duduk berhadapan di sofa bercengkrama dengan suaminya. Yunho tersenyum simpul saat si yeoja mengungkapkan sesuatu yang lucu.

"Kau mandi lama sekali." Yunho menoleh kearah jaejong yang berdiri tak jauh darinya. Yunho berkata dengan nada datar menyempurnakan letak kacamatanya.

"Kau tak bawa banju ganti? Kenapa memakai kemeja basah?" tanya heran Yunho melihat ketidakwajaran prilaku Jaejoong.

Yunho seolah mendapat ilham ketika melihat tatapan Jaejoong yang tertuju pada Seohyun. "Oh ia. Perkenalkan ini Seohyun. Teman sekelas changmin sewaktu di universitas." Lanjut Yunho memperkenalkan yoeja cukup manis itu.

"Seohyun. Perkenalkan namja pabo itu istriku. Dia Kim Jaejoong. Maaf kau melihatnya dengan keadaan sedikit memalukan." Kenal Yunho pada jaejong yang masih terdiam. Benar saja kata Yunho bila melihat penampilan memalukan Jaejoong pasti orang lain berpura-pura semuanya tampak biasa dan normal-normal saja. Aneh dan mengenaskan. Bagi Yunho, penampilan Jaejoong mendekati kata itu.

"Annyeong oppa. salam kenal. senang bisa bertemu denganmu.." Seohyun berdiri lalu membungkuk sebagai tanda hormat. "Yunho oppa. Istrimu sangat cantik." Puji Seohyun sukses membuat Yunho terkekeh geli. Jangan tanyakan Jaejoong bagaimana kondisi Jaejoong sekarang. ia masih sama. Berdiri dengan kepalan tangan yang mengerat di kiri dan kanan tubuhnya.

"Maaf aku tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian. Aku baru saja kembali dari amerika setelah 2 tahun." lanjut Seohyun dengan senyum penyesalan.

"Oh ya Seohyun. Kau akan mulai bekerja sama dengan perusahaan kami senin depan. Bla.. bla.. blaa.." Tak merespon apapun Jaejoong menatapi Yunho dan Seohyun yang kembali serius bercakap-cakap.

Tess..

Setetes air mata Jaejoong jatuh begitu saja saat Yunho tak memperdulikannya lagi. Yunho malah semakin asik mengobrol dengan Seohyun. Yunho nampaknya juga tak bergeming saat Jaejoong melangkah melewatinya menuju pintu keluar.

"Oppa. oppa mau kemana?" tanya Seohyun yang melihat Jaejoong di depan pintu keluar.

Sapaan Seohyun membuat Yunho menoleh kearah Jaejoong. "Hei jae, kau mau keluar? Kalau kau mau keluar, belikan aku beberapa kaleng bir. Bir di sini tidak enak."

Jaejoong yang berhadapan dengan daun pintu hanya bisa diam. Perasaannya benar-benar rusak. Melihat senyum dan tawa Yunho yang lepas bersama Seohyun membuatnya iri. Yunho tak pernah sebahagia itu di depannya.

Blam..

Jaejoong membanting pintu cukup keras, menciptakan gema di lorong pintu.

Ia hanya bisa mematung selama beberapa detik sebelum tubuhnya merasakan dingin yang luar biasa menyapa kulitnya.

Berada di luar kamar hotel dengan atasan basah di awal musim dingin. Orang dengan kewarasan di bawah rata-rata macam apapun tidak akan bersedia melakukannya. Bahkan pagi ini pembawa berita di salah satu acara gosip kesukaan umma kim dan Jung menyiarkan akan turun salju malam ini.

Jaejoong meratapi nasibnya kini. Ia tidak mungkin masuk kembali dan menyaksikan percakapan 2 orang yang memanaskan hatinya. Tapi ia juga tidak bisa hanya berdiam diri di tempat mematikan itu.

Dalam waktu kurang dari lima menit bibir Jaejoong telah membiru. Ia duduk di depan lobi hotel dengan secup kopi hangat di tangannya. Uap menyembur dari mulutnya ketika menghebuskan napas. Berkali-kali ia mengusap-ngusap tubuh bergetarnya sendiri untuk mengapai kehangatan.

Pluk..

Hangat. Kesan pertama Jaejoong ketika sebuah jaket tebal memerangkap tubuh kurusnya. Ia menoleh mencari pemberi jaket itu.

"K… kau? Mau apa kau kemari? Kau mau mengodaku lagi?" gelak Jaejoong menatapi tampang namja yang berdiri di sampinya kini. Ia bahkan sudah siap untuk menyerang namja itu.

"ANIYA.. kau jangan berburuk sangka dulu. Aku kasihan melihatmu." Ucap namja itu panik. Namja berjubah hitam itu merupakan ketua gerombolan namja yang menggoda Jaejoong tadi siang di pantai.

"Jangan mengasianiku. Aku bahkan terlalu menyedihkan untuk itu." ketus Jaejoong.

"Hei, suamimu dimana? Bukankah kau seharusnya bersama suamimu?" tanya namja itu santai itu duduk di sebelah Jaejoong.

"Dari.. dari mana kau tahu?" agaknya Jaejoong terkejut dengan pertanyaan itu. 'mana mungkin dia tahu aku punya suami?' ungkap batin jaejooong.

Takut-takut namja itu bercerita. "Sebenarnya..Aku adalah suruhan umma Jung. Perkenalkan aku Yoochun. Park Yoochun." Yoochun meyodorkan tanganya meminta jabatan tangan Jaejoong.

"Kau!" Jaejoong berdiri dengan kilat kemarahan. Ia merasa di tipu.

"Tenang dulu. Aku bisa jelaskan." Yoochun coba menenangkan Jaejoong.

"Aku keponakannya umma Jung. Yah, sekaligus sepupu Yunho. Yunho mungkin tidak mengenaliku. Aku baru kembali dari amerika setelah 12 tahun menetap disana bersama keluargaku. Umma Heechul menyuruhku untuk menggangumu karena ia ingin Yunho meninggalkan kesan romantis saat aku mengodamu. Tapi malah kau memukuli kami hingga babak belur. Maaf juga karena seorang diantara anak buahku lepas kendali hingga meninjumu."

HASHIMMM..

"Kau flu?" tanya Yoochun ketika melihat lelehan ingus mengalir tak elit dari hidung memerah Jaejoong.

"Aku kedinginan." Jujur Jaejoong mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri.

Yoochun memperhatikan kondisi jaejong yang tak jauh-jauh dari kata mengenaskan. "kau kenapa?"

"Lihatlah." Jaejoong menunjukan kemeja basah yang ia pakai.

"Kau tercebur di mana?" tebak namja berjidat cukup lebar itu. bukan cukup. Memang sangat lebar. *chunsas mari kita cipok-cipokan. -.-v

"aku tidak tercebur bodoh! Aku.. aku.." terputus-putus ucap Jaejoong. ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Itu tentu saja sangat memalukan.

Yochun terkekeh geli melihat tingkah aneh Jaejoong. "Ya sudah, dari pada kau mati kedinginan. Sebaiknya kita cari baju ganti untukmu. Ah.. kita ke pasar tradisional dekat sini."

"Tunggu dulu. Aku meninggalkan dompetku kamar hotel. Dan aku tidak mau kembali kesana." Ucap Jaejoong membuat yochun menyegit heran.

"Kau sedang bertengkar dengan Yunho?"

Jaejoong tidak menjawab. Ia memilih diam. Ia tidak tahu kata yang tepat untuk mengambarkan keadaanya sekarang. ia tidak bertengkar dengan Yunho sama sekali. Bahkan tidak pernah.

Yoochun berpikir sejenak sebelum memutuskan. "Baiklah. ini sekaligus sebagai permohonan maafku. Aku akan membelikanmu baju. Bagaiamana?" permintaan persetujuan Yoochun.

"aku rasa tidak buruk." Jaejoong mengikuti langkah Yoochun menuju tempat yang ia arahkan. Jaejoong sejujurnya belum bisa mempercayai namja itu sepenuhnya. mengingat ia datang begitu tiba-tiba. tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Daripada ia mati kedinginan.

Jaejoong menatap takjub dengan keadaan pasar menjelang malam itu. kelip lampu dari beberapa lapak pedagang memberi kesan indah di matanya. Jaejoong melihat seorang anak dengan permen digengamnannya dan tersenyum tatkala kedua orang tuanya saling bercanda bersamanya. Keindahan Hidup itu Sederhana.

"Jae. Kita ke toko itu saja." tunjuk Yoochun pada salah satu tempat yang menjual pakaian.

Setelah memilih baju hangat. Mereka mampir ke sebuah lapak pedagang yang menjual makanan kecil. Jaejoong nampak begitu tertarik dengan makanan bulat panjang. Wajahnya agak memerah saat membayangkan milik Yunho. tapi ia segera menghilangkan pikiran kotornya. Bisa-bisanya ia mememikirkan laki-laki yang bahkan tak pernah memikirkannya sama sekali.

"Panas, panas.." Jaejoong meniupnya berkali-kali.

"Kau tidak sabaran sekali jae." Senyum simpul yoochun melihat Jaejoong. di mata yoochun Jaejoong adalah namja yang unik.

"Tapi ini enak. Yochun-shi." panggilan pertama yang lontarkan Jaejoong pada namja bersuara husky itu.

"Yoochun-shi? kau formal sekali. Panggil aku Yoochun-ah atau chunnie.?"

"Mwo chunnie?hahahaha cumi saja sekalian!" ledak tawa Jaejoong menutup mulut dengan punggung tangannya.

"Ish kau ini." Yoochun mengacak rambut Jaejoong gemas.

Jaejong terdiam saat ia merasakan tindakan tak wajar yochun terhadap dirinya. Mereka bertukar pandang. Yoochun merasa aneh tatkala Jaejoong hanya terdiam seperti itu.

"Apa ada yang salah? Kau sakit?" panik Yoochun menatapi keseluruhan Jaejoong.

"Aniya.." kilah Jaejoong. ia merasa degup jantungnya bertambah kencang. Ia merasa disayangi. Yunho tidak pernah melakukan itu padanya.

"Setelah ini kita akan kemana? Ada tempat yang ingin kau kunJungi? Atau sebaiknya kita kembali ke hotel saja sebelum suamimu mencarimu." Usul Yoochun saat melihat mendung di wajah Jaejoong.

"Kita pergi ke pantai saja Chun-shi. aku suka dengan laut." Mentari mulai bersinar diwajah Jaejoong saat mengumamkan kata laut dalam pernyataanya. Membayangkan angin semilir dan sapuan ombak membuatnya merasa nyaman.

"Tapi Jae. Ini sudah semakin larut." Sanggah Yoochun sebagai bentuk pertimbangannya.

"Aku ingin sekali Chun-shi." tatap Jaejoong penuh harap.

"Ehm.. baiklah. Kita pergi ke restoran di bibir pantai saja. Aku dengar restoran itu menyediakan makanan laut yang enak. Aku lapar." Yoochun menarik tangan Jaejoong.

Mereka berjalan sambil bergandengan. Mereka seolah tak menyadari apapun. Bahkan ketika seorang palayan restoran menghamipiri mereka membawa daftar menu.

"Tuan dan nyonya selamat menikmati bulan madu di restortan kami. Silahkan memilih menu yang diinginkan. Hari ini ada menu special untuk pasangan. Sebotol anggur putih dan lobster pedas manis."

"Kami bukan pasangan pengantin baru noona!" Jaejoong agaknya tersinggung dengan ucapan pelayan itu.

"ah.. ohh.. Mianhae.. saya minta maaf atas kelancangan saya." Kikuk yeoja itu membungkuk beberapa kali. Ketakutan memancar kuat darinya. Ketidaksopanannya bisa membuatnya kehilangan pekerjaan.

"Tidak apa-apa. apakah kami benar-benar seperti pasangan pengantin baru?"

"Mwo?" jaejong terkejut dengan tindakan tiba-tiba Yoochun yang merangkul bahunya.

"Aku ingin paket pasangan itu. aku benar-benar menginginkan anggur." Yoochun menyerahkan kembali daftar menu penuh senyum.

"Sekali lagi saya minta maaf." Penuh nada penyesalan yeoja itu kembali membungkuk. "Saya permisi tuan nyonya. Jika ada yang dipesan lagi silahkan panggil saya." Yeoja itu berlari kecil menuju meja kasir. Dengan tingkah semakin memalukan bercerita pada temannya tentang kejadian barusan.

"Dia yeoja yang polos." Ungkap Yoochun sembari memutar letak duduknya menghadap pantai. Ia sedang memandang jauh ketengah laut tanpa melepaskan rangkualnya pada tubuh Jaejoong. Jaejoong memperhatikan wajah Yoochun dalam diam. Hangat, Yoochun begitu menghangatkannya. Walapun tak bisa menghangatkannya sehangat tubuh suamninya.

Sebelum sebuah bunyi nyaring dari kantong Yoochun mengalihkan perhatiann mereka.

Yoochul merogoh sakunya dan menjawab panggilan. "Yeobseyo."

"Ah ne ajumma. Aku sedang bersama Jaejoong. dia lupa membawa ponselnya. Ne. baik ajumma." Sahut Yoochun yang dapat di dengar Jaejoong.

"Jae. Heechul umma ingin bicara denganmu." Yoochun menyerahkan ponselnya pada Jaejoong.

Jaejoong menerimanya lalu mendekatkan posel itu ke telinganya. "Yeobseyo."

"JAEJOONGIE!" teriak Heechul di seberang telepon. Jaejoong menjauhkan ponsel saat suara keras itu hampir memecahkan gendang telinganya. Heechul begitu kawatir pada Jaejoong karena tidak dapat menghubungi menantu cantiknya sejak tadi pagi.

Tiba-tiba suara manis menyerobot. "Jae bagaimana keadaanmu? apa yang terjadi Jae? Bagaimana rencanamu? Gagal lagi ?" umma kim dan umma Jung sedang berebut gagang telepon.

"Ne umma. Seperti yang umma katakan." Jawab lemah Jaejoong.

"Wae? Yunho menolakmu lagi?" Heechul menerka-nerka.

Jaejoong mengela napas sebelum menjawab, "Bahkan lebih buruk dari itu umma." Yunho menolak Jaejoong secara tidak langsung. Bagaimana ia bisa membawa seorang gadis ke kamar mereka di saat Jaejoong telah mempersiapkan dirinya dengan sepenuh hati.

"Jae kau tidak boleh menyerah. Coba lagi.." Beri semangat Heechul pada istri putra sulungnya.

"Joongie menyerah saja umma. Joongie merasa tidak kuat lagi." penuh putus asa Jaejoong dengan mata berkaca-kaca Jaejoong berusaha menjawab.

"Jae.." ucap berbarengan Kibum dan Heechul turut merasakan kepedihan Jaejoong.

"Umma. Aku akan pulang saja besok pagi dengan penerbangan pertama. Aku rasa Yunho masih mengurusi bisnisnya disini." Ijin Jaejoong pada kedua umma tercintanya.

"Baiklah jae. Setelah itu. kita selesaikan di rumah saja. Berhati-hatilah. Yoochun akan mengurus kepulanganmu besok." Heechul menyesali kejadian yang menimpa kehidupan rumah tangga Jaejoong.

Jaejoong menyerahkan ponsel Yoochun kembali setelah percakapannya berakhir dengan umma kim dan umma Jung.

Jaejoong nampak terdiam sejak saat itu. ia merasa ini adalah akhir dari hidupnya. Sungguh sesak terasa dadanya mengingat kejadian dalam kamar hotel sebelumnya.

"Chun-Shi. menurutmu apakah aku cantik?" tanya Jaejoong tanpa semangat sedikitpun. Tatapannya menerawang entah kemana.

"Kau cantik. Sangat cantik." Yoochun jujur akan kejujurannya. Namun, agak keheranan yoochun melihat mendung yang menjadi hujan di mata Jaejoong.

"Tapi kenapa seolah Yunho tidak melihatku. Apakah aku kurang menarik? Apa ada dari diriku yang terlihat menjijikan?" air mata Jaejoong mengalir deras. Ia menutup wajahnya. Ia malu menangis seperti itu. Bagaimanpun ia tetaplah seorang namja. Seharusnya ia kuat. Tapi dengan beban seberat itu. Menyimpannya terus-menerus hanya akan semakin menyakiti perasaannya.

Yoochun yang seakan bisa menerka makna yang tersirat dari ucapan sendu Jaejoong perlahan mendekat dan memeluk tubuh rapuh Jaejoong. lembut elusan tangan Yoochun pada punggung Jaejoong seolah Jaejoong bisa rusak.

"Tenanglah jae. Tidak baik kau seperti ini." ungkapan sebisa Yoochun menghentikan isakan Jaejoong. Jaejoong hanya mampu menumpukan kepalanya pada bahu Yoochun. Menyandarkan tubuh dan jiwanya yang lelah.

"YAK! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU!" tiba-tiba Yunho menarik tubuh Jaejoong dari dekapan yoochun. Jaejoong terkejut bukan main apalagi yoochun.

Tubuh Jaejoong menegang ketika Yunho menghempaskan tubuhnya menjauhi yoochun.

Dengan mata merah penuh amarah, Yunho memandang nyalang pada yoochun.

"Jadi kau keluar untuk melacur?" frontal Yunho menatap benci pada Jaejoong.

Ucapan pedas Yunho kontan membuat Jaejoong merasa terhina. Tapi ia benar-benar lelah untuk bertengkar. Telebih di depan umum seperti itu.

"Yunho-shi, Aku bisa jelaskan semua." Yoochun coba mengambil alih suasana.

"Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Aku melihat kalian bermesraan. Dan itu cukup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Dengan paksaan dan tanpa rontaan, Jaejoong berjalan di belakang Yunho yang menarik lengannya. Cengkraman Yunho pada tanganya cukup keras hingga membuatnya merasa kebas.

Yunho mendorong tubuh tak berdaya Jaejoong memasuki kamar. Yunho memerangkap tubuh Jaejoong kedinding setelah mendorongnya dengan cukup keras. Jaejoong bisa merasakan hembusan napas Yunho di wajahnya.

Kelam bola mata Yunho menatapi tajam mata Jaejoong mencoba mengintimidasi Jaejoong.

Dengan terengah-egah Yunho membuka percakapan. "Kau. Apa yang lakukan bersama lelaki itu? beraninya kalian berpelukan. Kau ingat kan janji kita? kau yang menginkarinya. Jadi biarkan sekarang aku menghukummu."

-END-


[JANGAN BUNUH AUTHOR. .]

SIAPKAN BEKAL DAN PERALATAN..* KABURRRRRRR


Ini belum finish sepenuhnya, akan ada special part. Special Part akan di post sesegera mungkin.. tunggu ne.. ^^

Yang NC, yang NC..

TERIMA KASIH KEPADA:

"kim anna shinotsuke", Yuu si fujoshi, leeChunnie, yoon HyunWoon, GanymedeSeth, Himawari23 , missjelek, ShinnaJaejoong, kitybear, zhe , Taeripark, , exindira, NicKyun, cindyshim07, hanasukie, 3kjj, Jaejung Love.