[[FF YunJae] YAOI| M| MPreg| Special Part #Finish| "My Body is Ours"]
Couple : Yun(26)Jae(23), Hanchul, Sibum, Kim Yoobin as Jung Yoobin, Moonbin and Other cast
Rate : M+
Gendre : Drama, Family/ M-preg
Author : RedBalloons5
Warning!
Typo(ss)
Boy x Boy
NC!
Not for Children!
Not=TIDAK for=UNTUK Children=ANAK-ANAK
Jadi, anak-anak Jikalau kalian masih ingin menjadi polos silahkan tutuplah tab ini sebelum terlambat.
It's a special part, tapi jika bagi kalian (Readers) ini tidak jadi special. Mungkin aku akan mengganggapnya sebagai menu favorit sendiri. :'(
Dan special Redballoons5 update untuk mengucapkan Happy Birthday buat mami Jjungku tercinta. Selamat untuk launching Moldirnya juga.
Semoga mami Jjung selalu diberikan umur panjang, kesehatan, keselamatan dan perlindungan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Astungkara/Amin/Amien
Dan Redballoons5 tak henti-hentinya berharap TV5XQ bisa reunian secepatnya.
Tuhan memberkati.
(a/n: Fanfic ini saya buat segaja. Tapi jika saya diduga bahkan dinyatakan menjiplak apalagi sebagai plagiator. Saya hanya dapat meminta maaf atas ketidakseganjaan saya mempunyai ide cerita yang sama. Ingin saya menghapusnya? Saya akan pertimbangkan.)
Selamat membaca, semoga menikmati.. ^^/
My Body is Ours
.
.
.
Last Part:
"Jadi kau keluar untuk melacur?" frontal Yunho menatap benci pada Jaejoong.
Ucapan pedas Yunho kontan membuat Jaejoong merasa terhina. Tapi ia benar-benar lelah untuk bertengkar. Telebih di depan umum seperti itu.
"Yunho-shi, Aku bisa jelaskan semua." Yoochun coba mengambil alih suasana.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Aku melihat kalian bermesraan. Dan itu cukup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Dengan paksaan dan tanpa rontaan, Jaejoong berjalan di belakang Yunho yang menarik lengannya. Cengkraman Yunho pada tanganya cukup keras hingga membuatnya merasa kebas.
Yunho mendorong tubuh tak berdaya Jaejoong memasuki kamar. Yunho memerangkap tubuh Jaejoong kedinding setelah mendorongnya dengan cukup keras. Jaejoong bisa merasakan hembusan napas Yunho di wajahnya.
.
.
.
"KAU! apa yang lakukan bersama lelaki itu? BERANINYA KALIAN BERPELUKAN!" Bentak Yunho mencrengkram tangan Jaejoong disisi kanan dan kiri kepalanya.
Jaejoong menoleh ke samping tak kuat akan tatapan mengintimidasi yang Yunho tunjukan. Kedua matanya layak memancarkan Light Emplification by Stimulation Emision of Radiation (LESER) merah panas yang siap melelehkannya. Ia takut melihat Yunho yang seperti ini. Meski Yunho adalah namja yang menyebalkan, tapi Yunho sangat jarang menunjukan emosinya. Ini adalah kali pertama Jaejoong melihat dan merasakan langsung amarah Yunho yang meledak-ledak.
"Kau ingatkan janji kita? Kau yang mengingkarinya. Jadi biarkan sekarang aku menghukummu." Wajah Yunho berubah menyeramkan dengan aura sadis yang menajam. Setajam silet.
"Mphhhhhhh…" Yunho memaksa Jaejoong berciuman. Bahkan Yunho menyesap bibr cerry itu dengan begitu kuat, bergantian atas dan bawah. Hingga bibir Jaejoong terasa panas dan perih.
Jaejoong meronta. Tubuhnya bergerak-gerak mencoba melepaskan diri dari amukan si beruang marah. Namun pergerakan tubuhnya malah mengesankan gerakan mengoda.
"Yunhhh…" Yunho beralih menyesap leher Jaejoong. Merapatkan tubuhnya pada tubuh Jaejoong hingga Jaejoong dapat merasakan dadanya menyentuh dada Yunho.
Dengan kasar Yunho menanggalkan baju hangat Jaejoong dan membuangnya sembarang. Tangan Yunho berpindah mengerayangi tubuh Jaejoong kebalik kaosnya. Meremat-remat dada Jaejoong, beralih memelintir ujung nipple itu dengan jari-jari berorotnya. Bukan nikmat yang dirasakan Jaejoong melainkan hanya rasa sakit. Hingga Jaejoong kian gencar meronta menolak segala bentuk keinginan Yunho.
Ia. Jaejoong menginginkan Yunho bercinta dengannya. Memasukkan big junior Yunho kedalam hole sempitnya. Menumbuk prostastnya, mendesahkan nama Yunho dan ungkapan cinta berkali-kali sebelum Yunho menyemburkan cairan yang dihasilkan oleh sepasang testis di dalamnya. Membuatnya merasa penuh dan hangat. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Ditengah emosi yang mendominasi dan paksaan? Tidak.. Dia ingin melakukannya dengan lembut dan penuh cinta.
"Hentikan.. jebal.. Yunnie jebal.." memelas Jaejoong mendorong dada Yunho menjauh ketika Yunho terus menjamahnya tanpa henti. Yunho menaikkan kaos Jaejoong mengemut nipple pinknya. Menjilati dengan gerakan memutar, sesekali menggigiti ujung-ujungnya hingga merah.
Yunho menghentikan segala bentuk aktivitasnya saat pendengarnya menangkap permohonan Jaejoong. Yunho juga seorang manusia biasa. Semarah apapun, ia tetap punya hati dan perasaan.
"Wae? Kenapa kau menolaknya? Kau mengingkari janjimu! Apa sekarang kau lupa? Atau… kau ingin melakukannya dengan lelaki tadi? KATAKAN HAH?" Yunho berteriak tepat di depan wajah Jaejoong, membuat Jaejoong ketakutan bukan kepalang. Wajahnya memerah padam saat emosinya makin menuju puncak.
Jaejoong merapatkan kedua matanya berusaha menahan rasa takut. Ia seperti seorang istri kepergok berselingkuh oleh sang suami, tapi apa benar seperti itu? Ia bahkan tak tahu apa itu selingkuh. Batas apa yang bisa menjadikan sebuah tindakan menjadi kelakukan hina? Ia hanya berusaha mengungkapkan rasa sakitnya pada orang yang ia anggap bisa memberinya ketenangan. Tidak lebih.
Jaejoong dengan segenap keberanian diri membalas tatapan pembunuh Yunho. "Apa kau benar-benar menginginkan tubuhku? … APA AKU SAMA SEKALI TAK BERARTI APA-APA SELAIN TUBUHKU?" Jaejoong balas berteriak, menyobek kaosnya hingga memperlihatkan bagian dada yang hampir penuh bercak merah keunguan.
"Kau benar, kita menikah untuk menciptakan keturunan bagi keluarga kita. …Kau benar Yun, aku hanya namja menyedihkan yang rela menjadi uke untukmu. AKU HANYA NAMJA BODOH YANG BERHARAP SUAMINYA MENCINTAINYA! KAU BENAR, AKU SALAH!" Jaejoong balas berteriak sambil mencrengkram dadanya yang terasa teriris. Ketahanan diri Jaejoong perlahan runtuh. Isakan Jaejoong lirih di kamar itu. Dia merasa dirinya terlukai dan terhina. Bahkan semakin dalam karena perbuatan Yunho kini. Belum sembuh benar rasa sakit hati akibat perlakuan Yunho sebelumnya, dan sekarang Yunho menumpahkan air cuka diatas irisan luka basah tersebut.
Yunho terpaku setelahnya. Otaknya sedang mencerna segala bentuk pernyataan Jaejoong. Ia masih tak percaya atas pernyataan cinta yang secara tidak langsung Jaejoong ungkapkan. Jaejoong berharap jika dia bisa mencintainya? Benarkah? Bisakah ia menyimpulkan jika Jaejoong juga mencintainya?
"Hikss… kau benar Yun.." Jaejoong belum berhenti berguman di tengah letupan emosinya.
Namun, seketika isakan Jaejoong terhenti ketika dia melihat cahaya lilin remang-remang di balik punggung Yunho.
Cahaya keemasan terpendar menyinari hingga ke sudut kamar. Lampu utama yang menempel dilangit-langit kamar menutup mata seolah benci memperlihatkan cahaya terang berderangnya.
Jaejoong terperangah melihat tak jauh sebuah meja putih yang diatasnya telah tersusun rapi makanan, dua buah gelas penuh cairan merah pekat, 3 buah lilin dengan api yang menari-nari. Jangan lupakan sebuah vas kaca panjang dengan karangan lili yang mekar nan elok.
Tatapan Jaejoong merujuk pada pemandangan indah itu. 'apa mungkin Yunho menghabiskan makan malam romantis bersama Seohyun?'
Yunho memutar tubuhnya menghadap meja saat menyadari Jaejoong terhenti berisak sebab tertarik pada meja bundar itu. "Aku yakin ini terdengar agak konyol. Aku menyiapkan semua ini untukmu."
Dengan langkah gontai, Yunho mendudukan dirinya di kursi dekat meja. Ia nampak sedikit putus asa dari caranya meminum anggur dalam sekali teguk dan membanting gelas ke meja.
Jaejoong semakin terbegong-begong saat melihat penampilan Yunho dengan jas mahal dan dasi kupu-kupu membaluti tubuhya dengan begitu elegan. Yunho berpenampilan begitu rapi. Sisiran rambutnya saja tampak tak biasa. Ia jauh terlihat lebih tampan dan berwibawa. Ditengah kekalutanya, sedari tadi Jaejoong tak menyadari itu sama sekali.
"Aku lelah sekali. Sebaiknya aku keluar mencari udara segar." Yunho melonggarkan dasi kupu-kupunya sebelum meninggalkan Jaejoong seorang diri.
Jaejoong dengan keheranannya mendekati meja. Lilin putih yang berdiri tegak diatasnya meleleh semakin banyak, menyiratkan 3 lilin yang menyebarkan aroma terapi tersebut telah berkorban menyianari kamar mungkin sejak 2 jam yang lalu. Tarian api kecilnya meredup akibat sumbu yang telah berada pada batas akhir hidupnya.
Jaejoong menemukan secarik kertas tertindih piring porselen yang masih tengkurap. Terlipat berbentuk hati dengan warna pink yang mendominasi.
Jaejoong membuka lipatan kecil itu dan memperoleh deretan kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam.
"to: My Wife, Jaejoongie."
"-Happy Birthday Kim Jaejoong. umurmu sekarang 24 tahun bukan? Kau tahu sekarang kau menjadi semakin tua. "Jaejoong tersenyum kecil saat membaca paragraf awal surat itu. Jari-jemari Jaejoong menghapus bekas air mata yang lengket di wajah kusutnya.
"Jaejoong, Jaejoongie. ..Aku harap kau selalu sehat dan diberi umur yang panjang di sisiku. Membangunkanku pagi-pagi sekali bahkan sebelum bulan pergi keperaduannya, memasakkan sarapan pagi yang hangat. Menghampiriku di kantor dengan sekotak nasi walaupun kau harus basah kuyup kehujanan, menjagaku saat aku tidak mampu menjaga diriku sendiri. Aku berterima kasih karena kesedianmu menemaniku. .
Kau tahu, aku bukan namja yang pintar mengungkapkan bagaimana perasaanku sesungguhnya. Aku terlalu naif jae.
Tentang Hubungan kita. Bukan berarti aku tidak ingin memilikimu seutuhnya. Kau yang memintaku berjanji dan aku tidak ingin mengingkarinya. Aku hanya tidak ingin menyakitimu hingga kau pergi meninggalkanku. Apabila aku pernah menyakitimu, sungguh aku tidak bermaksud untuk itu. Kau boleh marah bahkan membenciku. Tapi bolehkan juga aku untuk mencintaimu, dengan perasaanku menjagamu, melindungimu dan menjadikanku yang termanis dalam hidupmu.
Aku tidak tahu kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Hanya kata ini yang terpikirkan olehku..Jae, Kim, Jung Jaejoong.. Saranghae..
Jung Yunho."
.
.
.
Jaejoong menjatuhkan lunglai tubuhnya kekursi. Tenaganya seolah diserap oleh tiap bait kata yang tergores disurat itu. Ngilu dan perih di ulu hatinya begitu menyiksa. Sumber sakitnya berada dibagian kiri dadanya. Terasa dalam dan jika disentuh akan kian memilukan.
Sesaat kemudian, mata jaejoong kembali menangkap pemandangan lain yang hampir terhalangi vas bunga. Sebuah kotak berukuran tak lebih dari 135 x 10 -2 m3 berlilit pita transparan bergaris biru dan ungu. Jaejoong membuka kotak pink tersebut dengan hati-hati.
Didalamnya sepasang sepatu bayi hello kitty dan baju tidur pasangan bermotif hello kitty pula tersusun rapi, yang Yunho siapkan dan persembahkan khusus untuk istri cantiknya dengan begitu apik.
Mungkin lelah atau telalu sedih. Jaejoong hanya menatapi isi kado itu dengan air mata mengalir. Tanpa isakan dan tanpa raungan, tak tertahankan air mata itu jatuh membasahi pipinya.
Setelah terdiam cukup lama dalam keadaan itu, Jaejoong menghapus dengan kasar jejak air matanya, membuka sobekan kaos dan menyambar mantel abu yang tergeletak dekatnya. Dengan mata merah dan penampilan yang hampir mendekati kata hancur tak di hiraukan lagi. Jaejoong tegesa-gesa keluar kamar hotel. Ada hal yang jauh lebih penting dari hal sepenting penampilannya yang biasa dia begitu perhatikan.
"Hai oppa." Sapa ramah Seohyun ketika berpapasan dengan Jaejoong di tengah lift yang mengarah turun. Senyumnya tergurat bahagia. Sebuah tas tangan berwarna hitam pekat menenteng di tangan kirinya. Penampilannya agak casual tak seperti pertama kali Jaejoong bertemu di kamar hotel dengan dress selutut berwarna merah hati.
"Oppa bagaimana makan malammu bersama Yunho Oppa? Apa kalian mengakirinya di ranjang? Xixixi. Aku sudah menduganya." Seohyun tertawa gemas membayangkan kata yang telah dilontarkannya.
"Oppa tahu tidak, Yunho oppa memintaku datang jauh-jauh dari Jerman hanya untuk menyiapkan makan malam romantis bersamamu hari ini. Mianhae, aku membantu rencana Yunho oppa untuk mengacuhkan oppa tadi siang. Oppa tidak marah kan?" senyum imut Seohyun memandangi wajah Jaejoong yang murung. Bangga sebab dapat membantu kakak Changmin yang dia idolakan sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Wajah Seohyun beralih sendu seirama guratan wajah Jaejoong. "Oppa wae? Apa terjadi sesuatu?"
"Ah.. aniya Seohyun-shi. Aku sangat berterima kasih. Yunho adalah namja yang sangat mencintaiku." Jaejoong berkata seolah kata-kata itu adalah untuk dirinya sendiri. Senyum Jaejoong pun terpasang terpaksa. Ia meratapi kebodohannya. Seharusnya ia tidak secepat itu marah dan membiarkan kecemburuannya yang tak beralasan merusak apa yang baru ingin ia mulai.
"Oppa aku harus pergi sekarang. Aku harus kembali ke Jerman malam ini. Oh Ia aku hampir lupa. Selamat ulang tahun oppa. Selamat menikmati bulan madumu. Jangan lupa oppa jaga kesehatan. Annyeong!" Seohyun terkekeh sebelum keluar dari lift. Ia melambaikan tangan pada Jaejoong sebelum pintu lift kembali menutup.
Tepat setelah bunyi "Ting" yang dihasilkan oleh lift. Jaejoong mendapatkan kesadaran secara penuh. Jaejoong telah menyadari posisinya dalam keadaan mereka saat ini. Terlambat untuk menyesalinya. Belum, ia belum terlambat. Ia tidak boleh terlambat.
Jaejoong berlari tanpa arah mencoba menangkap kehadiran Yunho yang mungkin berada tak jauh darinya. Peluh sebiji jagung mengalir di pelipisnya membuatnya seakan telah menempuh maraton 3 kali keliling kota Seoul. Napasnya terputus-tupus dengan uap mengepul terus menyembur dari bibir membirunya.
Ditengah hiruk pikuk malam di Jeju-do, ia terus berlari tak henti-henti. Berharap menemukan Yunho dan meminta penjelasannya.
Dia harus bicara empat mata dengan Yunho mengenai maksud kata cinta yang terukir di dalam surat pink itu. 'Benarkah? Benarkah Yunho mencintaiku?' kata-kata yang terus tergiang diotak Jaejoong. Kepercayaannya pada kata "Jae, Kim, Jung Jaejoong.. Saranghae.." Itu tak bisa terkumpul sepenuhnya, sebelum ia mendengarnya langsung dari mulut Yunho sendiri.
Dan mungkin jika itu benar, inilah saat yang paling tepat untuk mengungkapkan persaannya yang sama. Ia juga mencintai suaminya. Ia merelakan apapun sekarang dan menyerahkan diri penuh untuk pasangannya itu.
2 jam kemudian, Lelah Jaejoong menjadi-jadi karena setiap tingkungan dan jalanan yang ia lewati tak menemukan tubuh bahkan bayangan Yunho sekalipun, hingga dengan wajah masam menyerah Jaejoong berjalan lemas melewati jalan setapak menuju tempat favoritnya.
.
.
.
Jaejoong duduk di atas pasir menikmati hembusan angin laut dari bibir pantai. Helaian rambutnya yang berantakan semakin tak berwujud kala angin menghempaskannya tanpa henti.
Di tengah larutnya malam yang kian menghening, Jaejoong memeluk lututnya dan menenggelamkan wajah tergurat penuh lelah itu. 'Kenapa semuanya bisa serumit ini? apakah aku terlambat untuk menyesalinya?'
'Yunho, aku kedinginan. Aku ingin kau memelukku.' Jaejoong mengertakan pelukkan di lututnya. Mencari kehangatan yang sama saat Yunho memeluknya.
"Yunho kau dimana? Aku merindukanmu. Aku membutuhkanmu sekarang. aku ingin mengatakan bahwa aku juga mencintaimu." Jaejoong berujar lirih. Begitu pelannya bahkan suara tak lebih dari suara angin laut yang bertiup dan tenggelam oleh riuh ombak yang menglegar menghantam pantai.
Deg..
Jaejoong tersentak. Dia tak bisa mengerakkan tubuhnya. Dia juga tidak bisa membalikkannya sama sekali. Pergerakan tubuhnya terkuci oleh lengan kokoh yang mengapit tubuhnya dari belakang. Lembab lehernya mengelitik hingga otot-otot perutnya. Ujung-ujung rambut tajam menusuk-nusuk kulit sekitar leher dan pipi Jaejoong. Membuatnya mengerang ketika sepasang tangan besar nan kekar menyusup dan mengelus perutnya dengan gerakan nakal nan sensual.
Jaejoong terdiam saat sarafnya menyalurkan implus dan menyatakan aroma yang tak asing dibauinya. Jaejoong tersenyum kecil saat namja itu mengeratkan kungkungannya pada tubuh Jaejoong di antara sepasang kaki berototnya. Mereka terdiam hingga beberapa saat. Menikmati romantisme yang baru benar-benar mereka rasakan sekarang. Jaejoong mengelus lengan namja yang bertengger di perutnya.
"Yun.." Jaejoong memulai untuk membuka pembicaraan. Sepasang mata Jaejoong tak lepas memandangi laut yang menenang begitu pula pasangan indra pengelihatan namja terpanggil Yun oleh Jaejoong.
Jaejoong mengukir senyum termanis. Entah bagaimana ia harus menggambarkan rasa bahagia yang memenuhi dadanya saat ini.
"Kau tahu tidak apa yang paling aku sukai dari pantai?" Lanjut Jaejoong merebahkan tubuhnya ke belakang hingga kepalanya bersandar pada bahu kekar Yunho. Sesekali mencuri pandang dari ujung matanya melihat dagu juga sebelah wajah Yunho yang nampak begitu tampan.
"Saat angin laut berhembus seperti ini," Jaejoong memejamkan matanya sejenak merasakan semilir angin laut. "Aku seolah merasakan hembusan napasmu menerpa wajahku. Aroma mint, kesegaran, dan kesejukan. Menyamankan tubuhku yang letih setelah seharian beraktivitas. " Tak lepas Jaejoong melukis senyum di bibir. Degup jantungnya beraturan juga seirama degup jantung Yunho yang dapat ia rasakan berdetak di punggunggnya.
"Saat memandang laut lepas yang tiada berujung. Aku seakan-akan menangkap ketajaman matamu yang mampu menyeret dan menenggelamkanku dalam palung terdalamnya."
Jaejoong menarik napas sesekali sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Saat menapaki pasirnya. Aku bisa merasakan hangat, sehangat tubuhmu yang setiap malam memelukku selembut ini."
"Yun.. Aku.. mmmphhhh.." Yunho menyambar bibir Jaejoong setelah membalikan tubuh Jaejoong. Yunho menangkup pipi kiri Jaejoong yang duduk menyamping, usaha menyamankan Jaejoong diposisinya.
Yunho mencium Jaejoong dengan lembut. Benar-benar berbeda dengan cuiman penuh amarah Yunho sebelumnya. Tanpa ingin mendominasi dan mengintimidasi, Jaejoong terhanyut ciuman itu, ia pun membalas lumatan Yunho pada bibir bawahnya.
"Jae, aku minta maaf atas perlakuan kasarku." Yunho menatapi kedua mata Jaejoong setelah ciuman itu berakhir. Seakan-akan ingin menorobos masuk hingga relung hati terdalam Jaejoong. Hendak menemukan makna yang tersirat dalam tatapan mata itu.
Jaejoong menggeleng dengan air mata yang membendung. Mulutnya seakan kelu untuk mengucapkan sepatah kata saja. Ini bukan waktunya untuk meminta maaf. Bagi Jaejoong pula, kesalahan sejatinya tidak terletak diantara salah satu dari mereka. Tapi murni kesalahan mereka bersama.
"Aku bertemu Yoochun sebelum menemukanmu terdampar disini. Ia bicara seperti kaset rusak ketika menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi diantara kalian. Kau tahu dia bahkan berkata kalau kau pasti mencoba menggodaku dengan kemeja basah dan celana ketat. Itu benar-benar lucu." Yunho tertawa sembari mencubit pelan ujung hidung bangir Jaejoong. Senyuman Yunho menyatakan ketulusan dan sanggup membuat Jaejoong terpana.
"Sejujurnya aku hampir tidak bisa mengendalikan diri untuk menyerangmu ketika itu juga. Aku bahkan berpura-pura membenarkan letak kacamatku untuk mengalihkan detak jantungku yang membabi buta." Ungkap Yunho lagi. Lelaki normal manapun jika disungguhkan pemandangan menggiurkan seperti itu pasti ingin segera mencicipinya. Tapi sayang Yunho sebagai namja, ia terlalu kuat mengendalikan diri.
"Jae, tidak apa-apa jika bahkan selamanya aku harus mengendalikan hasratku. Asalkan kau di sisiku, bagiku lebih dari sekedar cukup. Aku mencintaimu. Saranghae."
Jaejoong mendekap tubuh Yunho dengan kedua sisi tangannya melingkar di leher Yunho. "Nado Yunnie. Namja pabo, namja menyebalkan, namja es batu! Aku juga mencintaimu."
Jaejoong tertawa riang dengan tumpahan air mata yang meluber hingga membasahi jas Yunho. Ia merasa dunianya kini dipenuhi oleh hujan mahkota bunga mawar merah. Waktu seakan tiba-tiba berhenti berputar dan hanya ada mereka berdua sedang berbagi kasih. Seumur hidupnya baru kali ini ia menjadi sedemikian bahagia. Cinta? Semuanya benar karena cinta.
Yunho mengelus rambut Jaejoong membalas pelukan manis itu. Ia juga tak luput tertawa. Sama persis perasaannya sekarang seperti Jaejoong. Bahagia yang ia ingin gapai tertangkap sudah. Ia akan menggenggam serta menjaganya hingga akhir.
Jaejoong melonggarkan pelukannya mencoba menatap kedua sisi mata suaminya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Yunho dengan perlahan untuk merasakan bibir hati itu lagi. Terciptalah kembali sebuah cuiman. Mencium Jaejoong adalah hal paling menyenangi Yunho dan mencium Yunho menjadi moment paling menyenangkan Jaejoong.
Sentuhan bibir Jaejoong di bibir Yunho menjadi, kepala mereka bergerak kekiri dan kekanan saat balas-membalas ciuman mereka memanas. Apalagi ketika Jaejoong meremat rambut Yunho dengan jari-jari lentik yang biasa ia bawa ke salon seminggu sekali.
Disela ciuamannya Yunho memasukkan tanganya ke balik jaket yang dikenakan Jaejoong. Yunho mengelus kulit halus itu, mulai bagian perut hingga dada membangkitkan gairah Jaejoong. Karenanya Jaejoong harus menahan erangan ketika Yunho memelintir nipplenya yang menegang.
"Mpkccckkkkhhh.." Jaejoong kembali mengerang saat jari-jemari Yunho bermain di sekitar pusarnya. Geli dan nikmat adalah rasa yang menyalur hingga ubun-ubunnya kini. Membangunkan sikecil di sarangnya.
Dengan gerakan cepat Yunho mengalihkan ciumannya ke leher Jaejoong. menghisap, sesekali menjilat bahkan tak segan-segan untuk mengigiti bagian kulit dagu Jaejoong. Menciptakan kembali lingakaran merah sembarang yang menjadi penghias tubuh Jaejoong. Jaejoong pasti dilarang mengenakan kaos V neck kesayangannya untuk beberapa hari kedepan. Mungkin sebulan? atau lebih? Kalian pasti tahu malam pertama ini akan jadi awal untuk malam-malam panas selanjutnya bagi pasangan yang menikah setahun lalu itu. Yah.. bisa dibilang awal mereka membuat anaklah. Kekeke ^^
Perlahan dengan bibir yang masih mengembara di sekitar leher Jaejoong, Yunho merebahkan tubuh ramping itu ke atas pasir. Jaejoong benar-benar pasrah ketika Yunho membuka kaitan baju hangatnya membuat bagian dadanya terekspos. Hisapan Yunho makin menggila di nipple Jaejoong hingga Jaejoong tak kuasa untuk tak mendesahkan nama Yunho. "Yun.. ahhh.. Geli. Yun ahh..".
Yunho semakin tersulut nafsu saat meraba batang Jaejoong dari luar celananya. Tonjolan itu terasa basah akibat precum Jaejoong yang merembes keluar. Jaejoong mendesah lega saat Yunho menanggalkan seluruh penutup bawah tubuhnya. Junior kecil itu telah ereksi saat ciuman kedua mereka berlangsung. Ujungnya terhiasi cairan precum membuat Yunho lapar ingin segera melahapnya.
Kehangantan melingkupi junior Jaejoong tatkala Yunho menggunakan mulutnya memanjakan junior Jaejoong. "Yunnhh.. Akhhh.. Akhhh.."
Jaejoong bahkan menaik-turunkan pinggulnya bersamaan saat Yunho semakin menghisap dan memainkan lidahnya menggelitiki junior Jaejoong.
"Akhh.. ahhh.. ahhh." Jaejoong mengigiti bibir bawahnya mencoba menahan desahannya tapi tak berhasil jua. Tubuhnya menyatakan nikmat yang tiada tara saat ini.
"Akhhhh.." selang beberapa waktu kemudian, Jaejoong menyemburkan cum hangatnya di dalam mulut Yunho. Tanpa merasa jijik sedikitpun Yunho mengalirkan cairan Jaejoong dalam kerongkongannya. Dada Jaejoong naik turun secara cepat menghisap oksigen dengan rakus demi kebutuhan paru-parunya yang mendesak.
"Gomawo Yunnie.." Jaejoong menarik lengan Yunho untuk menindih tubuhnya.
Jaejoong menyeringai mendekatkan bibirnya di telinga Yunho kemudian berbisik. Jaejoong juga memberikan ransangan pada Yunho dengan meniupi telinganya. "Yun, disini tidak ada kamar mandi. Kau tidak akan bisa kabur."
"Jae, kau nakal sekali."
"Akhhhh.."
.
.
.
"Akhhhh.. akhhh.. akhhhh.." Rambut lepek Jaejoong terus bergoyang seirama genjotan Yunho pada holenya. Diremas oleh jaejoong pasir-pasir tak berdosa yang menjadi alas tidurnya untuk menyalurkan rasa sakit dan nikmat pada lubangnya. Apalagi setelah Yunho menyentuh titik terindah di dalam tubuhnya, ia benar-benar merasa melayang ke langit ketujuh.
Yunho memegangi paha jaejoong saat tubuhnya dengan tak terkendali lagi untuk semakin cepat menggerakan pinggulnya.
"Fastersshhh Yunn..akhhh akhhhh.." kata bitchi Jaejoong makin membuat Yunho menggila.
"Yeah Jae.. You're so tight.. akhhh.. ahhhh.." aura panas yang menguar dari tubuh mereka tak terasa akibat angin laut bersuhu rendah terus berhembus.
"Yunhhhh.. akhhhh.. ahhhh.. akhhhh.." Jaejoong menarik Yunho untuk bebagai sebuah ciuman. Sesekali beradu lidah dan mengabsen deretan gigi masing-masing pasangannya.
Deburan ombak mengiringi desahan demi desahan yang mereka keluarkan ketika menikmati malam pertama indah yang tak terduga sebelumnya.
"Akhhhhh…" teriak Yunho klimaks untuk yang pertama kalinya di dalam Jaejoong. Menyemburkan benih-benih kehidupan ke rahim Jaejoong yang diharapkan mampu menciptakan Jung junior yang begitu didambakan oleh duo ajumma-ajumma rempong keluarga mereka.
Cup
Yunho mencuim kening berpeluh Jaejoong penuh rasa. Ia melentangkan tubuhnya di samping Jaejoong yang sama teregah-egah setelah melepaskan persatuan mereka.
Mereka berdua beradu tawa ketika memandangi langit timur yang makin keemasan. Suara ayam berkokok milik masyarakat sekitar menyambut sang surya yang hendak bangkit dari pembaringannya.
"Sebaiknya kita kembali ke hotel sebelum orang melihat tubuh indahmu terkapar disini.." posesif Yunho kemudian menyempurnkan letak celana dan menyelimuti tubuh Jaejoong dengan jas hitamnya.
Yunho mengendong Jaejoong menuju hotel. Jaejoong menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu Yunho dengan senyum tak pernah lepas di muka memerahnya. Ia benar-benar merasa bahagia dan malu disaat bersamaan.
Jaejoong masih bisa mengingat junior besar Yunho yang baru pertama kali ia lihat mengacung dihadapannya. Pertama kali pula ia merasakan junior itu tertanam memenuhi lubang perawannya. Dan pertama kali ia bisa merasakan ada cairan asing masuki tubuhnya hingga mengalir dari holenya.
.
.
.
Yunho membaringkan tubuh Jaejoong diranjang mereka. Rasa lelah Jaejoong mengakibatkan ia terlelap tanpa menyadari Yunho mencuri ciuman di bibir membengkaknya.
Yunho perlahan menidurkan tubuhnya di samping Jaejoong, menyelimuti tubuh setengah telanjang tersebut, memeluknya dan menutup kedua matanya menggapai mimpi kemudian.
Malam ini malam pertama mereka. Benar-benar sesuai ingin Jaejoong. Lembut dan penuh cinta. Yunho bahkan mengungkapakan pernyataan cintanya berkali-kali ditengah aksi panas mereka. Desahan Jaejoong pula membalas cinta Yunho membuatnya terus menginginkan lebih.
Yang paling penting dari hubungan mereka adalah kejujuran pada perasaan mereka masing-masing. Ini tentang rasa kasih pula rasa saling mencintai di antara dua namja yang tak tahu bagaimana cara mencintai dengan benar. Hanya menuruti ego dan pikiran yang menurut mereka bisa membuat pasangannya merasa nyaman. Padahal itu hanya menyakiti dan membuat pasangannya merasa buruk.
.
.
.
"Mission sucsess!" Seru Heechul sedang menonton layar kotak di ruang tengah rumah keluarga Kim. Kibum sedang menelpon Seohyun untuk mengucapakan terima kasih.
"HAHAHAHAHA! Mereka benar-benar hot!" Heechul tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Yunho tak terkendali menggarap tubuh istrinya.
Mari tebak! Video apa yang sedang ditonton oleh umma Jung?
Suara desahan yang keluar dari televisi besar itu adalah suara desahan Jaejoong dan Yunho dengan volume televisi mendekati penuh. Membuat seluruh isi rumah dapat mendengarnya, olehnya para cicak dan nyamuk pun memilih mengungsi berharap tak mendegar suara merangsang itu. Mereka bisa-bisa melakukan pesta NC di rumah besar yang dihuni oleh nyonya mesum dan nyonya innoncent.
"Rencana Changmin berhasil. Sesuai dengan perkiraanya. Walau rencana yang terakhir melenceng dan mereka harus melakukannya di pantai." Ungkap bahagia Heechul menoleh kedatangan Kibum mendekatinya.
Rencana apa lagi? aku rasa cerita ini telah dirancang oleh umma Jung sejak awal. Tidak murni rencana Heechul. Melainkan rencana putra bungsunya, Jung Changmin. Saat Jaejoong mencurahkan isi hatinya di sofa ruang tengah waktu itu. Si monster food menguping dan mendengarkan sedetail-detailnya cerita Jaejoong. Setelah Jaejong pergi meninggalkan Kibum dan Heechul ke kamarnya. Changmin datang dan menawarkan kerjasama pada Umma-ummanya. 8 porsi daging sapi panggang dan 5 cup ramen sehari dalam sebulan, aku rasa tidak cukup bagi Changmin sebagai sogokkan.
Seohyun dan Yoochun adalah peran pembantu dalam cerita itu. Meski tak semua dapat berjalan sesuai rencana karena akhirnya Jaejoong dan Yunho malah bercinta dipantai. Yoochun terpaksa harus men set ulang kamera tersembunyi yang ia pasang di kamar Yunjae ke pantai.
"Chullie hyung. Terima kasih. Aku bahagia melihat Jaejoong-ku sekarang. Dia begitu 'pas' dengan Yunho." Kibum mendudukan dirinya dan merebahkan kepalanya di pundak Heechul, namja yang dianggapnya menjadi kakak terbaik yang ia miliki.
"Bummie. Aku juga berterima kasih. Terima kasih telah memberikan Jaejoong untuk Yunho-ku." Heechul mengelus kepala Kibum penuh sayang.
Akhirnya apa yang mereka paling harapkan bisa terwujud. Mereka penuh ketidaksabaran menunggu hasil proses perkembangan benih yang telah Yunho urai di dalam Jaejoong. Yang terpenting dalam rencana mereka bukan itu, melainkan dapat melihat putra mereka saling berbagi kasih dan cinta. Melanjutkan rumah tangga mereka tanpa paksaan dan beban lagi. Hingga saat salah satu dari mereka pergi tak ada penyesalan. Hanya kebahagiaan yang akan menyambut mereka dipintu masa depan.
.
.
.
Siwon dan Hankyung berjalan memasuki rumah usai mengerjakan proyek baru untuk perusahaan mereka. Ketika akan membuka pintu, pendengaran mereka mengangkap sesuatu yang aneh berasal dari dalam rumah. Mereka merinding bukan main dan wajah mereka berubah merah padam karena berburuk sangka.
'Kibum, apakah dia melakukannya dengan lelaki lain?'
'Heechul benarkah dia berselingkuh?'
Hankyung dan Siwon saling melempar pandang. Dari pandangannya pasangan namja yang pernah menjadi idol saat SMA tersebut seolah bisa mengartikan firasat yang sama mereka pikirkan.
Brakkk..
Kedua kaki namja berstatus seme kece ini kompak menendang pintu rumah. Membuat kunci pintu rusak secara tidak berprikepintuan(?). Tepampanglah tampang innoncent Kibum dan Heechul menoleh ke sumber kegaduhan.
Siwon dan Hankyung melangkah cepat-cepat menujui istri mereka terbakar emosi dipuncak ketinggian. Napas mereka tertarik lebih cepat akibat otak yang membutuhkan kadar oksigen lebih banyak daripada biasanya.
Wajah memerah Hankyung dan Siwon berubah seketika, ketika melihat layar televisi yang menyajikan tontonan dewasa bergendre romantis di tepi pantai. Rahang bawah Siwon dan Hankung hampir saja terjatuh. Kedua matanya melebar beberapa centi dan tubuh mereka menengang saat menyaksikan permainan erotis nan estetis tersaji nyata di mata mereka.
Heechul memantikan televisi sesegera mungkin setelah mengetahui apa yang sedang dipandangi oleh suaminya. Wajahnya berubah panik. Heechul pasti kena marah kerena keusilannya pada putranya sendiri.
"Bukankah itu Jaejoong dan Yunho?" tanya Siwon ketika kesadarannya kembali terkumpul hampir 100%.
"N..ne Siwonnie." Kibum tersulut rasa takut. Ia pasti juga kena marah. Siwon sudah melarangnya ikut campur dengan urusan rumah tangga anak mereka. Karena Siwon tahu perjodohan itu amat menyakitkan, Siwon ingin hubungan Yunho dan Jaejoong berjalan secara alami tanpa paksaan pihak manapun.
"Chullie apa yang kalian lakukan pada mereka?" Hankyung masih berdiri menatap Kibum dan Heechul bergantian. Perasaannya marah akibat telah berburuk sangka kini berubah menjadi perasaan marah yang berbeda. Ia sudah menduga ini terjadi, tapi ia tidak menginginkannya sama sekali.
"Kami.. kami hanya mempersatukan mereka." Terbata-bata Heechul coba jujur. ia sudah ketakutan setengah mati. Melihat tatapan mata Hankyung yang menatapnya layak buaya siap menerkam anjing puddle yang mengigil di tepi danau.
Siwon dan Hankyung melempar pandang lalu menggangguk. Berjalan langkah panjang menuju Heechul dan Kibum yang saling berpelukan.
Happ
Siwon dan Hankyung mengendong tubuh istri mereka masing masing. Ditengah rontaan yang tak menjadi penghalang bagi seme-seme 40 tahunan ini melempar senyum melangkah menuju kamar yang nantinya menjadi tempat terciptanya desahan dan erangan.
Siapa yang menduga, jika video yang diputar di televisi tadi membuat Hankyung dan Siwon honry mendadak. Sungguh membangkitakan hasrat kelaki-lakian mereka. Jadi untuk itu, mari kita biarkan umma-umma nakal kali ini mendapat hukumannya.
.
.
.
Gemericik air menyapu lantai tergiang ditelinga Yunho ketika pagi tiba. Menganggu tidur lelapnya yang kurang dari 2 jam. Ia mengeliat sebelum menyumpal kepalanya dengan tumpukan bantal. Ia masih terlalu mengantuk sehabis kegiatan membakar kalori kemarin malam.
10 menit berlalu tapi gemericik air itu belum juga menunjukan tanda-tanda akan menghening. Yunho mengacak rambutnya frustasi akibat tak bisa mengambil waktu istrihatnya dengan tenang.
"Jae-ah.. Kau mandi lama sekali." Panggil Yunho mencoba duduk di pinggir ranjang. Mengucek-ngucek matanya sambil sesekali mengeluarkan uapan kantuk.
Yunho berjalan menuju cermin mencoba menunjukan seberapa tampannya ia pada kaca beraksa itu. "Jae-ah.."
"Jaejoongie." Yunho menyeret kedua kaki bertulangnya menuju sumber kebisikan perusak mimpi indahnya.
"Jae, kau di dalam kan? Aku ingin buang air kecil Jae!" Bohong Yunho menggetok-ngetok pintu dengan sendi telunjuk kanannya sambil melukis senyum aneh.
"Jaejoongie, setidaknya menyahutlah." Tak sabaran Yunho ingin membuka pintu kamar mandi. Membuat kegaduhan ketika pintu yang seharusnya di geser ia dorong. Otaknnya mungkin tidak bisa berfungsi dengan sempurna lagi karena bayangan Jaejoong yang terus-menerus menghimpit kewarasannya.
"Kau ini tidak sabaran sekali." Jaejoong memunculkan kepalanya dengan tubuh berbalut handuk sedada yang coba ia sembunyikan di balik pintu. Sebuah handuk mini bertengger di atas kepalanya sebagai pengering rambut seusai dikeramasi.
Sexi, lebih dari itu Yunho hanya bisa terpaku. Bahu lebar Jaejoong yang telanjang penuh tanda keungguan dihiasi tetesan-tetesan bening air jatuh dari rambutnya. Wajah segar Jaejoong dengan rona merah muda di pipi. Dan juga dua bola mata hitam besar yang memancarkan spektrum pelangi tiada henti.
Kaki jenjangnya yang kemarin menendang Yunho ketika ia mengerang kesakitan akibat lubangnya yang di pompa oleh sang suami, menapaki lantai keramik dengan begitu mengoda. Padahal berdiri biasa saja. Tapi bagi Yunho pose seperti itu mampu menaikkan libidonya hingga level tertinggi.
Glup..
Yunho memaksa ludahnya yang mengandung air, ptialin, buffer, dan glikoprotein masuk ke kerongkongannya. Matanya tak henti melepas pandang dari tubuh indah Jaejoong yang menguarkan aroma vanilla rasa stroberry.
"Jae.." serak Yunho mencoba menyebut nama sang pujaan hati. Kerongkongannya terasa kering dan otot-otot tulang rusuknya berkontasi dan berelaksasi secara tidak beraturan. Sesuatu di bawah sana telah mengamuk minta segera dibebaskan.
"Yun.. Waeyo?" Jaejoong bingung melihat wajah memerah Yunho menyebabkan tangan dinginya menyentuh kening Yunho agak khawatir.
Sentuhan Jaejoong membuat jantung Yunho memompa darah ke otak dan paru-parunya makin gila.
'Tidak bisa.. aku tidak bisa tahan lagi.' Yunho beradu argumen dengan pikirannya sendiri. Ia coba memperkuat benteng pertahanannya untuk bertahan dari bisikan-bisikan yang ingin membuatnya merasakan kenikmatan yang sama seperti malam lalu.
"A.. Ak..aku." Yunho berkata terputus-putus. Otakknya sedang kalut seolah kabel-kabelnya mengalami konsleting.
Cup
Jaejoong menjinjit untuk mengapai bibir Yunho. Disaat pertemuan bibir dengan bibir itu, Jaejoong memeluk tubuh Yunho. Jaejoong menggerakan bibirnya menginginkan balasan. Namun Yunho tak kunjung membalas, menyebabkan Jaejoong melepaskan tautan bibir mereka.
Jaejoong tersentak kaget saat Yunho menarik tubuhnya merapat dan berbisik ketelinganya, tubuh Jaejoong kian menegang tatkala Yunho meremas-remas bokongnya.
"Jae, jangan katakan kau mau menggodaku. Karena ku pastikan kau akan menyesalinya."
.
.
.
"Huweee… Oppa.." seorang gadis kecil yang berada di dekat sang kakak menangis meraung-raung.
"Yoobinnie, jangan menangis." Sang kakak yang memegangi lututnya yang berdarah memberi perhatian pada si yeoja.
"Moonbin-ah.. Yoobin ah. Kalian di mana?" teriak seorang namja cantik dari kejauhan. Wajahnya diluputi kecemasan tak terperi, mengedarkan pandangannya ke setiap pelosok sudut taman berumput hijau.
"Umma. Huwee.. Umma.. hiks.. hikss." Gadis itu belum berhenti menangis. Ia berlutut dengan kedua tangan yang mengeratkan pegangan pada lengan sang kakak.
Jaejoong menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan isakan kecil itu sebelum menemukan dua malaikatnya terduduk di bawah pohon.
"Moonbin-ah, Yoobin-ah." Jaejoong berlari kearah mereka dengan perasaan agak lega. Jaejoong memeluk putra dan putri kecil yang berhasil ia lahirkan.
Malam pertama Jaejoong dan Yunho membawa keharmonisan di dalam rumah tangga mereka. Setidaknya kurang lebih 4 bulan kemudian Jaejoong positif memiliki janin dalam rahimnya. Berarti seekor benih Yunho sukses membuahi sel telur Jaejoong.
Anak laki-laki Yunjae yang pertama bernama Jung Moonbin. Tampan, lucu, menggemaskan dan pintar. Kromosom Jung Yunho mendominasi dalam sel-sel Moobin.
3Tahun kemudian ketika Moonbin masih suka berebut nipple Jaejoong dengan ayahnya. Yoobin dinyatakan akan lahir kedunia. Cucu Kedua Heechul halmony ini jadi yeoja cantik berpipi cubby dengan senyuman semanis sang umma. Perjuangan berat harus Jaejoong lalui untuk melahirkan putrinya itu. Jaejoong beberapa kali pingsan dan mengalami pendaran cukup serius sebelum seminggu harus opname di rumah sakit. Male Pregnant dengan kandungan yang lemah membuat fisik dan psikisnya terguncang. Yunho melakukan bisnis keluar negeri selama sebulan. Jaejoong membutuhkan dan merindukan suaminya begitu sangat.
Jaejoong melepas pelukannya dan memandangi keseluruhan Yoobin dan Moonbin. "Kalian baik-baik saja? Kalian pergi kemana? Umma sudah katakan untuk tidak bermain jauh-jauh. Kalian membuat halmony Kim menangis ketakutan." Cerewet Jaejoong.
"Lututmu kenapa Moonbin?" Jaejoong memperhatikan luka lecet di lulut Moonbin.
"Moonbin dan Yoobin ingin kembali ke tempat piknik tapi Moonbin tersandung dan jatuh umma. Jadi, kami diam disini. Mianhae umma." Ujar Moobin menunduk. Moonbin merasa bersalah karena membuat orang-orang yang ia sayangi panik.
Terkisah Moobin mengejar Yoobin yang berlarian mengerjar kupu-kupu biru hingga jauh. Moonbin yang melihat hal tersebut kemudian segera menyusul Yoobin takut jika adik cantiknya akan mengalami kejadian buruk. Hingga apa yang kini terlihat terjadi.
"Sekarang kita kembali ke tempat piknik. Umma akan membersihkan lukamu." Jaejoong mengendong Moonbin dipunggungnya dan menggandeng Yoobin di sebelah kirinya.
Perasaannya sekarang lega telah dapat menemukan anaknya kembali. Mereka menghilang sejak sejam yang lalu membuat acara piknik yang saharusnya diliputi kebahagian berubah jadi kepanikan dan rasa cemas. Kibum sampai-sampai pingsan karena berpikir yang tidak-tidak terjadi pada cucu kesayangannya.
"APPA!" teriak Yoobin memanggil Yunho yang sibuk dengan ponsel di telinganya.
Yunho melepas napas lega saat melihat istrinya bersama dua jagoan kecilnya. Yunho berlari menghampiri mereka. Menggendong Yoobin dan memeluk Jaejoong dan Moonbin sekaligus.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Yunho sembari melepas pelukkanya.
"Untunglah kalian baik-baik saja. Aku hampir saja menyuruh Senghyun datang bersama anak buahnya dari kantor pusat polisi Seoul untuk mencari kalian." Lanjut Yunho.
"Ayo kita kembali ke tempat umma dan appa." Yunho memboyong Jaejoong menuju tempat Heechul bersama Hankyung dan Kibum bersama Siwon sedang duduk menanti dengan harap-harap cemas.
4 orang tua yang kini berusia hampir berkepala 5 itu berubah ceria saat melihat Yoobin dan Moonbin yang dalam keadaan selamat dapat ditemukan kembali.
Jaejoong dan Yunho menurunkan Moonbin dan Yoobin untuk duduk di kursi dekat sepasang halmony dan haraboji mereka. Suasana haru pun membuai di kerumunan itu. Mereka menciumi gemas pipi Yoobin dan Moonbin bergantian sebelum Jaejoong datang membawa kotak P3K bertujuan untuk membersikan luka lecet Moonbin.
Acara yang awalnya adalah acara piknik keluargapun kembali sesuai harapan. Dua uke yang kini berstatus nenek-nenek itu sedang asik mengodai seorang namja muda bertipe seme yang lewat depan mereka. Sedangkan suami-suami mereka malah sibuk dengan dunia mereka bermain kartu bersama Moonbin yang duduk di pangkuan sang appa di atas tikar yang di gelas di tengah taman.
Yoobin merogoh sesuatu dari tas punggungnya. Dengan polosnya Yoobin menyerahkan sebuah kaset rekaman video kepada Jaejoong.
"Umma, kemarin Yoobin melihat Heechul halmony dan Kibum halmony tertawa-tawa menonton ini. Umma, apakah video ini kartun sejenis Tom and Jerry yang sering kita lihat? Tapi Yoobin melihat umma dan appa yang sedang bermain sesuatu di dalamnya. Umma nanti kita pulang kerumah nonton bersama ya! Yoobin juga ingin main permainan sepeti umma dan appa." Pinta Yoobin pada Jaejoong yang sedang merapikan kotak putih berlabang salib merah miliknya. Yoobin tak sabar membayangkan kartun lucu yang biasa Jaejoong putarkan akan ia tonton sebentar lagi.
"Video apa Yoobinnie?" Jaejoong memangku Yoobin menerima video rekaman itu membolak-balikannya sejenak penasaran sebelum menemukan sebuah label putih yang bertuliskan "YUNJAE FIRST NIGHT IN JEJU-DO".
Jaejoong membelalakan matanya melihat tulisan hangul itu setelah otak pintarnya dapat mengingat kejadian 6 tahun lalu di pulau kecil ketika ia menghabiskan malam panasnya untuk pertama kali bersama Yunho.
Jaejoong mengerutu lalu berteriak, "UMMAAAAAAAA!".
Finish
.
.
.
Terima kasih yang tak terhingga RedB5 juga ucapkan kepada reviewers FFN yang mereview part B: leeChunnie, Himawari23 , , PandaMYP, 3kjj , kim anna shinotsuke, hanasukie, exindira, Yuu si fujoshi, kim shendy, Jaejung Love, zhe, Dhea Kim, DarkLiliy, aoi ao, vherakim, liankim10 , , HISAGIsoul, anastasya regiana, , zee konstantin, JasGriffo25, NicKyun, quinniee, jaena, yeppodevil, hye jin park, irengiovanny, Devi Cassie (Nae Halmony) :P, mimi2608, adindapranatha, kim vinansia, nickeYJcassie, Guest, Jenny, Lilin Sarang Kyumin, FaMinhyuk, Shim Chaeri, Dan readers yang menfollow atau memfavoritkan Fanfic ini.
.
.
.
(: Kotak Author :)
[Aku ingin menjawab pertanyaan Jaejung Love sunbae dan Nayuya sunbae yang bertanya kepadaku "kenapa judulnya my body is 'OURS' bukan My body is 'YOURS'? "
Bukankah judulnya terdengar hampir sedikit agak aneh dan tidak umum? Alasan utama RedBalloons5 memang itu, menjadikannya khusus dan menarik. Bukankah judul harus dibuat semenarik mungkin?
Alasan lainnya bisa RedBalloons5 jelaskan:
Ini seperti rumus matematika,
1+1=2
Jika
1=Mine; 1nya lagi=Yours; dan 2=Ours;
Maka
Mine + Yours = Ours
Penjelasan:
"Ours berarti milik Kita, milikku (Mine) dan milikmu juga (Yours).
Secara sederhana aku hanya berpikir tentang keogisan (Mine) dan rasa berbagi (Yours)..
Saat aku berpikir milikku adalah milikku dan aku berhak atas semua yang aku nyatakan menjadi milikku. Ketika aku sudah merasa memilikinya aku akan menjaganya dan melakukan yang terbaik.
Makna Ours ini aku menggambarkannya dari sudut pandang Jaejoong.
Kata Mine aku ungkapkan dengan Jaejoong yang tidak merelakan 'hole'nya dirasuki Yunho. keegoisan Jaejoong muncul ketika ia merasa tubuhnya adalah miliknya dan ia berhak sepenuhnya melakukan apapun pada tubuh itu.
Yunho juga tak kalah egois. Ia tidak membiarkan Jaejoong didekati, disentuh, bahkan direbut oleh yang lain. Baginya, ketika Jaejoong telah menjadi miliknya begitu pula tubuhnya maka ia akan menjaga itu. Dan disinilah aku menjadikannya Yours. Milik Yunho.
Ketika masing-masing keegoisan itu menjadi satu, aku melukiskannya dengan keinginan untuk saling memberi. Tubuh Jaejoong adalah milik dirinya sendiri dan milik Yunho pula. Sehingga Jaejoong akan menjaga dirinya dan Yunho menjaga Jaejoong sebagai wujud cinta dan juga kewajibannya sebagai sang pemilik.
Milikku adalah milikku dan milikku adalah milikmu. Jadilah kata Ours. Milik kita".]
[Panjang lebar sekali, namun bisa dipahami kah? Mianhae Nayuya sunbae dan Jaejung Love sunbae. Aku masih belajar menjadi penulis yang baik. Jika kata-kata ini tidak bisa menjelaskan pertanyaan sunbae, dengan segala kebodohanku aku hanya bisa meminta maaf. :'(]
RedBalloons5 MENGUCAPKAN TERIMA KASIH kepada seluruh READERS, LIKERS, DAN REVIEWERS.
Author mengundurkan diri.
Sekian. Sampai jumpa dilain kesempatan. Jangan lupa tinggalkan jejak. Annyeong. ^^/
