"Pretend"

By: Lavenderviolletta

Naruto By Mashashi Kishimoto

Romance

Hinata.H x Sasuke.U

..

WARNING

.

OOC, Miss Typo

..

Happy Reading

Pagi hari menyelimuti acara sarapan kediaman Uchiha, Sasuke menatap kursi Hinata yang kosong, "apa dia masih belum bangun." Pikirnya, Sasuke mendecih sebal, hei untuk apa dia memikirkan gadis itu, tidak penting.

..

"Ohayo .. Okaasan.. Otousaan."

"Ohayoo.. " Sapa mereka bersaman

Hinata menarik kursi di depan Sasuke seraya mendudukinya, Pain dan Sasori berdiri di samping kiri dan kanan Hinata, kedua eksekutif pribadinya itu membawa beberapa barang Hinata, Sasori membawa beberapa berkas, yang diketahui bahwa itu adalah laporan dokumen perusahaan yang harus di periksa dan di tandatangan Direktur, sedangkan Pain membawa tas ransel Hinata yang berisi laptop dan tas slempang berisi buku-buku dan alat sekolah Hinata.

"Aku pergi dulu Okasaan, Otousaan."

"Hinata, tapi sarapanmu-"

"Ahh.. Sarapannya sangat enak sekali, saya menikmatinya, Arigatou." Hinata membungkukan setengah tubuhnya seraya pergi meninggalkan ruang makan.

Fugaku meneguk kopi hitamnya, "Seharusnya kau banyak belajar dari calon istrimu Sasuke."

"Dia bahkan sarapan sedikit dan sangat terburu-buru, okasaan sangat khawatir pada kesehatannya." Mikoto menghela nafas.

Sasuke tak merespon perkataan orang tuanya. Ia meneguk air putih dan menyusut mulutnya dengan tisue, acara sarapannya sudah selesai.

"Aku pergi."

...

Senior High School

"Kyaaaa .. Sasuke-kun.."

Suara para fans nya membuat telinga sang prince of school ini sakit, tak menghiraukan ia berjalan dengan santai seraya memasuki kelasnya, kelas yang tenang, karena siswa dan siswi disana berotak jenius, tak sekonyol dan sebodoh para fansgirl yang mengejarnya, Onyx nya menatap Hinata yang berkutat dengan laptop dan beberapa berkas kerjanya, ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, perlahan ia mendekati Hinata, ia ingin tau, apa yang tengah Hinata lakukan, apakah dia akan mengerti.

..

"Apa yang kau lakukan." Hinata berkata tanpa menatap Sasuke yang kini berdiri di samping mejanya, onyx itu memperhatikan setiap pergerakan tangan Hinata yang berkutat di atas laptop.

"Aku kasihan padamu." Hinata menghentikan aktifitas mengetiknya saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sasuke, perkataan itu membuatnya mengingat sesuatu, yahh .. Perkataan itu sama seperti yang pernah seseorang katakan padanya.

Teenggg ... (Bel masuk berbunyi)

..

Mikoto tengah siap dengan beberapa kotak bento nya, ia memutuskan untuk membawakan makan siang untuk Hinata dan Sasuke di jam istirahatnya, ia juga ingin memantau, bagaimana sikap Sasuke pada Hinata di sekolah, apakah keduanya baik-baik saja.

..

From: Sasori-kun

"Mikoto-sama datang membawakan makan siang."

Hinata menghela nafas, ia melihat Sakura yang datang memasuki kelas, mengajak Sasuke untuk istirahat bersama, mau tak mau ia harus menghentikan itu, ia berjalan menghampiri keduanya.

"Sasuke." Panggil Hinata, Sasuke dan Sakura berbalik, melihat Hinata yang berjalan ke arah keduanya.

"Aku ingin makan siang bersamamu di taman." Hinata memeluk satu tangan Sasuke, Sakura membulatkan matanya, namun ia tak bisa berkata apa-apa.

"Lepaskan tanganmu !" Sasuke melepaskan tangan Hinata kasar, namun Hinata kembali menariknya.

"Kau makan siang denganku Sasuke !" Nada suara Hinata terdengar memaksa

"Sasuke-kun, apa yang di katakan Hinata benar, aku sepertinya tak seharusnya berada disini, gomene." Sakura bermaksud pergi meninggalkan keduanya, namun Sasuke menahannya.

"Baiklah, aku makan siang bersamamu, tapi Sakura juga akan ikut bersama kita."

Hinata menghela nafas kesal, tidakah pemuda raven ini tau bahwa Mikoto akan datang, setidaknya Hinata telah berusaha, well apa yang bisa ia lakukan jika Sasuke tidak mau.

"Baiklah, setidaknya aku telah berusaha, jangan menyesal nantinya."

Sasuke menautkan alisnya, "apa maksudmu."

"Cepatlah, aku lapar, kau tau aku tadi sarapan sedikit."

...

Mikoto membuka kaca mata hitamnya saat melihat Sasuke dan Hinata berjalan menuju taman, namun ia menautkan alisnya saat melihat wanita berambut merah muda yang berjalan disamping Sasuke,

"Okaasan." Sasuke terkejut melihat Mikoto yang kini duduk di taman, Sakura melirik Sasuke, seolah bertanya apakah ini ibumu.

"Okaasan, kenapa disini?" Hinata menghampiri,

"Okasaan sangat khawatir karena kau sarapan sangat sedikit tadi pagi, belum lagi aktifitasmu yang padat."

Sasuke mendecih, ǰǰαϑΐ ini alasannya kenapa Hinata tiba-tiba mengajaknya istirahat bersama, sial .. Umpatnya, kenapa ia tak mengatakan bahwa ibunya akan datang.

"Sasuke, siapa dia?"

Tanya Mikoto penuh curiga,

"Dia, Sakura Haruno, dia temanku."

"Uhuk.." Hinata tersendak seraya tersenyum kecil, ia mengambil botol dan meminumnya cepat.

"Hinata-chan, kau baik-baik saja." Ujar Mikoto penuh khawatir.

"Hai." Hinata menatap Sasuke, ia menyeringai. Sasuke membalas tatapan Hinata dengan kesal, apa yang harus dilakukannya sekarang.

Mikoto memperhatikan penampilan Sakura, Sasuke yang merasa Sakura terintimidasi disini harus segera di bawanya pergi. "Sakura, bukankah kau akan mengambil buku di perpustakaan."

"Eh?" Sakura tak mengerti, namun melihat tatapan Sasuke akhirnya ia tau.

"Ha- Hai, Aku harus segera pergi, gomene Mikoto-sama, Hinata-chan."

"Bukankah kau bilang mau makan siang bersama kami? Ahh tidak lebih jelasnya bersama Sasuke." Hinata berkata seraya memakan bento yang di bawakan Mikoto,

"Kau-" Sasuke benar-benar hilang kesabaran, ia berjanji tak akan melepaskannya setelah kejadian ini, tentunya ia akan membuat perhitungan.

"Makanlah bersama kami, Okasaan membawa bento sangat banyak, tak mungkin aku dan Sasuke menghabiskan semuanya, tidak apa-apa kan? Okaasan?"

Mikoto tertawa kecil, "Tentu saja, ayo mari makan."

Mau tak mau akhirnya Sakura ikut bergabung dalam acara makan siangnya, hening ketika mereka makan, namun Mikoto bergelut dengan pikirannya sendiri, dia sangat penasaran dengan wanita yang terlihat dekat dengan Sasuke ini.

"Sakura-chan, apa kau teman sekelas Hinata dan Sasuke."

Sakura mengehtikan makannya, ia melirik Sasuke, kemudian melirik Hinata yang sedang asik dengan bentonya, "Tidak, saya di kelas berbeda."

Sasuke benar-benar sudah tidak tahan, ia ingin segera bell istirahat berbunyi, tapi kenapa lama sekali umpatnya.

"Hmmm, lalu bagaimana bisa kau berteman dengan Sasuke? Jika kelas kalian berbeda eh?"

"Apa ada yang salah jika aku berteman diluar kelas? Sakura siswi yang berprestasi, dia pintar, mandiri, pekerja keras, ceria, dia-"

"Sooka.." Hinata terkekeh, "Aku sangat iri padamu Sakura-chan, Sasuke bahkan tak pernah memujiku seperti itu, kau pasti sangat tersanjung." Hinata berkata santai,

Sakura bersemu, pipinya merah, entah ia tersanjung atau menahan malu karena Hinata terus memojokannya, disamping itu tatapan Mikoto yang sulit diartikan membuatnya risih.

Tengggg .. (Bell masuk)

Sasuke menghela nafas lega, akhirnya masuk juga, gerutunya dalam hati.

"Okaasan, aku masuk, arigatou." Sasuke berjalan memasuki kelas bersama Sakura, Hinata tersenyum melihat keduanya jalan bersama, tapi Mikoto tak menganggap itu senyum, karena senyum Hinata bukanlah senyuman yang baik pikirnya, Mikoto semakin penasaran, ada apa sebenarnya pikirnya.

"Hinata-chan, apa wanita bernama Sakura itu-"

"Dia sahabat Sasuke, bukankah tadi Sasuke telah mengatakannya"

"Hai, tapi Okasaan merasa-"

"Itu hanya perasaan Okasaan saja, nee aku sudah terlambat, aku masuk dulu Okasaan, Arigatou."

"Hai, selamat belajar Hinata."

Hinta tersenyum seraya pergi meninggalkan Mikoto yang memandangnya di kejauhan.

..

"Eh?"

Hinata terkejut saat Sasuke tiba-tiba menarik tangannya, menyeretnya hingga kini mereka berdua berada di gudang sekolah yang sepi,

Bruk !

"Itai."

Hinata merintih menahan sakit ketika punggungnya menabrak dinding, Sasuke menghimpitnya hingga jarak keduanya kini sangat dekat, Hinata dapat merasakan hembusan nafas Sasuke yang memburu, ia juga bahkan bisa menghirup aroma tubuh Sasuke, bau yang memabukan setiap wanita yang menciumnya, pantas saja banyak wanita yang memburu dan juga Sakura yang tak mau lepas dari pria raven ini barang sebentar.

"Kau sengaja melakukan ini eh?"

Hinata melepaskan tangan Sasuke yang mencengkram kedua pipinya kasar, "Bukankah sudah ku katakan kau untuk makan siang bersamaku?"

"Tapi kau tak mengatakan bahwa Okasaan-"

"Apa kau menanyakan alasannya? Tidak kan?"

"…"

"Kau terlalu sibuk memikirkan kekasihmu."

Sasuke mulai memberi jarak, tak lagi menghimpit Hinata.

"Ku kira kau jenius, tapi otakmu masih di bawah standar, tak mungkin aku mengatakan Okasaan akan datang di depan Sakura bukan? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Mikoto-sama seorang yang pemilih, apa kau tidak berfikir bahwa Sakura akan baik-baik saja jika dia mengetahuinya."

Sasuke kembali terdiam,

"ohh.. kau membuat tanganku sakit." Hinata merintih, ia berjalan menjauhi Sasuke.

"Hm, satu lagi, soal perkataan di taman tadi, ketika kau begitu membela Sakura, aku sangat iri padanya, benar-benar iri."

Sasuke menatap Hinata datar,

"Aku cemburu padanya, tch.. sangat memalukan mengatakan ini di depanmu." Hinata kembali melangkah, Sasuke sedikit kaget mendengar pengakuan Hinata, namun ia kembali menepis, ia tak mau percaya begitu saja dengan apa yang Hinata katakan, gadis itu terlalu misterius, masih banyak hal yang tersembunyi darinya yang belum Sasuke ketahui, namun perkataan Hinata membuat hatinya gusar, dan sepertinya ia akan sulit untuk tidur malam ini.

..

Hinata memalingkan wajahnya pada jendela ketika di dalam mobil, berkas yang ada di tangannya tak ia baca sama sekali, ia sibuk memandangi jalan di luar sana, pikirannya seolah melayang, Sasori melihat Hinata yang tengah melamun dari jendela spion, ia merasa ada yang tidak beres dengan tuannya.

"Berhenti Sasori-kun."

"Hm?" Sasori tak mengerti, namun ia terus melajukan mobilnya "Ini sudah hampir terlambat, lima menit lagi meetingnya mulai."

"Berhenti ! tidakah kau mendengar perkataanku?"

Sasori masih melajukan mobilnya, "Gomene Hinata-sama, meeting ini sangat,-"

"BERHENTI SASORI !" Hinata membentak Sasori kasar, Pain melirik Sasori yang juga meliriknya, dia pun akhirnya menghentikan mobilnya.

Hinata keluar dan berlari ke sebrang jalan, Sasori dan Pain mengejarnya, mereka merasa ada yang janggal dengan Hinata,

"Gomene Hinata-sama, aku tak bisa membiarkanmu pergi."

"Lepas !"

"Tidak, kembali ke mobil dan kita akan segera ke kantor."

"LEPASKAN SASORI !"

"Ada apa denganmu HINATA ! hal bodoh apa yang kau lakukan HAH !"

"Jaga bicaramu Sasori !" Pain menyadarkan, Sasori mengusap wajahnya, ia melepaskan cengkramannya pada tangan Hinata, "Gomene." Lirihnya.

Hinata tercekat kaget saat Sasori berbalik menyentaknya, ia benar-benar tak menyangka Sasori akan melakukan ini.

"Kau harusnya sadar, siapa kau dan siapa aku." Ujar Hinata pada Sasori yang tengah menatapnya penuh penyesalan, seketika ia berlari meninggalkan Pain dan Sasori setelah mengatakan itu,

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Pain kebingunan dengan sikap Hinata, terlebih setelah insiden ini.

"Sasori, sampai kapan kau bertahan seperti ini?"

Sasori menggeleng, "Aku tak bisa membiarkannya, aku harus selalu ada disampingnya, itu adalah janjiku padanya."

Pain terkekeh, "Hei, itu hanya janji seorang bocah berusia lima tahun, sudah berapa lama itu, Hinata-sama mungkin sudak tak mengingatnya, dia adalah tuanmu sekarang, dan kau bukan pangeran kodoknya lagi, kau sekarang hanya budaknya, kau anak yang cerdas, harusnya kau bekerja di kantor Hyuuga dengan kedudukan yang tinggi, aku yakin Hinata-sama akan memberimu posisi yang layak jika kau menginginkannya, apa kau ingin aku yang mengatakannya?"

"Berisik ! itu tak ada artinya sama sekali, aku bahkan meninggalkan kediaman Akasuna dan mengabdi pada Hyuuga selama belasan tahun, itu semua-"

"Karena Hinata eh? Lupakan Sasori, Hinata-sama akan menikah sebentar lagi."

Sasori mendecih, "Kau tau, perdebatan bodoh ini membuat kita kehilangan jejak Hinata." Sasori berlari meninggalkan Pain,

"Sasori." Lirih Pain, ia kemudian berlari, sama halnya dengan Sasori mereka mencari Hinata.

..

"Okaerina-.. kau-?"

Hinata tersenyum dengan nafas yang ter engah-engah, "Bisakah saya memesan air putih? Di luar sangat panas."

Pria bertato Ai di dahi itu tersenyum kecil, ia menarik satu kursi untuk mempersilahkan Hinata duduk.

Lima menit setelah menunggu akhirnya Hinata dapat meneguk air putih itu hingga membasahi kerongkongannya yang kering, "Arigatou." Ujarnya.

"Suatu kehormatan untuku, seorang putri berkelas sepertimu mau berkunjung di kedaiku." Gaara membungkukan sedikit tubuhnya, hal ini membuat Hinata terkikik geli.

"Apa menu special di kedai ini?"

..

Sasuke melamun sepanjang perjalanannya mengantarkan Sakura, yah Sakura adalah seorang siswi yang juga bekerja paruh waktu, namun ia hanya bekerja sampai sore, dan jadwal kerjanya hanya 3 hari dalam seminggu.

"Sasuke-kun, kau baik-baik saja?" Sakura menatap Sasuke yang tengah mengemudi di sampingnya penuh khawatir.

Sasuke mengelus pipi Sakura lembut, "Hn." Ujarnya.

Perkataan singkat itu membuat Sakura bernafas lega, "Yokatta." Balasnya.

..

"Hinata-sama.." Sasori dan Pain kini berhasil menemukan tuannya yang tengah memakan ramen dengan lahapnya, mereka juga menemukan Hinata tengah makan di temani seorang pria.

Hinata menaruh sumpitnya, "Sugoi, kalian bisa menemukanku dengan cepat."

Tak ada jawaban dari Pain dan Sasori, mereka hanya bisa diam.

"Arigatou Gaara-kun." Hinata memberikan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya.

"Ini terlalu banyak." Gaara mengembalikan sebagian uang Hinata.

"Anggap saja itu bonus karena kau menemaniku makan." Hinata tersenyum, ia kemudian keluar kedai dengan Pain dan Sasori yang membuntutinya.

..

Sebuah mobil melaju dan berhenti tepat di depan Hinata, sebuah mobil ferarri berwarna biru gelap, dan Hinata mengenali mobil ini. Sasuke dan Sakura keluar dari mobil itu, Sakura menatap Hinata bingung, sedangkan Sasuke hanya menatap Hinata datar.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke penuh selidik.

"Untuk mengunjungi sebuah kedai, apa harus aku memberitahumu? Aku tak mengerti dengan sikapmu yang selalu ingin tau, aku bahkan tak tertarik kenapa kau berada disini." Hinata menatap Sakura, ujung bibirnya sedikit naik, terlihat itu sebuah seringai, "Kencan huh? Aku pikir seleramu tinggi, tapi baguslah.. memang disini tempat yang pas untuk kencan kalian, disini tempat yang menyenangkan walaupun tak semewah café bintang lima, tapi sepertinya kalian harus mencari tempat kencan yang baru karena aku mungkin akan sering kesini."

"Aku bekerja disini."

"Eh?" Hinata menautkan alisnya.

"Aku bekerja paruh waktu untuk membiayai sekolahku."

Hinata terdiam, dia merasa tidak enak dengan tuduhan-tuduhannya terhadap Sakura, ohh.. Sakura bahkan seperti dirinya, harus bekerja setelah sekolah, dan itu untuk menutupi kekurangan biaya sekolah, berbeda dengan dirinya yang dilimpahi kekayaan.

"Gomene, aku harus segera masuk." Sakura membungkukan sedikit tubuhnya, ia kemudian berjalan ke arah Sasuke, "Arigatou Sasuke-kun." Ujarnya dan memasuki kedai tempatnya bekerja.

Sasuke berjalan menghampiri Hinata, onyx nya memandang Hinata tajam.

"Sayang sekali, seorang putri terhormat sepertimu mempunyai lidah yang tajam dan perkataan yang tak secantik wajahnya, dari sekian banyaknya wanita di dunia ini, kenapa harus kau yang akan ku nikahi, tch.. benar-benar sial."

"Jaga bicaramu Uchiha-sama !" Sasori mencengkram kerah seragam Sasuke.

"Lepaskan Sasori ! kau tau berapa kali kau bertingkah tak sopan hari ini hah !" Hinata kembali membentak Sasori, Sasori melepaskan cengkramannya.

Sasuke terkekeh seraya membenarkan kerahnya yang berantakan akibat cengkraman Sasori, ia menatap Hinata yang tengah menatap jalan kosong, onyx nya cukup lama memandang Hinata, ia kemudian memasuki mobilnya dan menghilang di depan Hinata begitu saja.

..

Mendengar kabar bahwa Hinata tak menghadiri meeting penting hari ini membuat Hiashi kembali ke jepang dengan mendadak, Hinata terkejut ketika ia melihat Hiashi tengah duduk di ruang tengah Uchiha, disana terdapat Mikoto, Fugaku dan juga Sasuke, Hiashi berdiri ketika Hinata memasuk ruangan itu.

"Otousaan-"

BRAK !

Hiashi melemparkan berkas laporan itu hingga mendarat di wajah Hinata dan tergeletak di lantai,

"Hiashi-kun." Mikoto berdiri seraya menghampiri Hinata ketika melihat Hiashi berlaku kasar padanya.

"Hal bodoh apa yang kau lakukan hari ini hah ! sejak kapan kau bertingah konyol seperti itu, kau tau dimana harga diri Hyuuga ketika kau tak menghadiri acara meeting tadi !"

"…" Hinata menunduk, tak berani menatap Hiashi yang tengah menatapnya murka.

"Katakan ! apa alasan kau tak menghadiri meeting tadi siang."

"…" Hinata masih tak menjawab.

"Sasori, Pain.. apa yang Hinata lakukan tadi siang."

Kedua eksekutif itu terdiam, sama halnya seperti Hinata mereka menundukan wajahnya.

"JAWAB !" bentak Hiashi.

"Gomene Hiashi-sama, aku mengajaknya melihat carnaval di taman kota, aku pikir carnaval itu hanya di adakan lima tahun sekali, untuk itu aku mengajak Hinata-sama kesana, aku mendengar Hinata-sama sangat ingin pergi kesana, sejak ia kecil, ia tak pernah melihat itu, jadi.. bila yang ada disalahkan atas semua ini, itu adalah saya." Sasori berlutut di depan Hiashi. Hinata, Pain dan juga Sasuke tercekat kaget, mereka bahkan tau Hinata pergi ke kedai tadi siang.

"Sasori.. apa yang kau lakukan ! Otousaan itu tidak benar, tadi siang aku kabur dan pergi ke kedai ramen-"

"Cukup !"

"Eh?" Hinata menautkan kedua alisnya.

"Lancang sekali, mulai hari ini segera tinggalkan kediaman Hyuuga dan jangan pernah kau perlihatkan batang hidungmu."

Sasori menengadah, ia menatap Hiashi sendu.

"OTOUSAAN !" teriak Hinata.

"DIAM ! mulai besok, tidak ada eksekutif lagi, Sasuke yang akan mengawalmu kemanapun kau pergi."

"EH?" Sasuke menatap Hiashi tak percaya, kenapa dia jadi kena imbas juga pikirnya.

"Pain, mulai besok kau kembali menjadi eksekutifku, kau harus ikut ke belanda bersamaku."

Pain membungkukan sedikit tubuhnya dengan lemas. "Hai Wakarimas Hiashi-sama."

"Tapi- Sasori-kun, Otousaan ku mohon, jangan usir dia Otousaan dia temanku satu-satunya." Hinata memeluk kaki Hiashi seraya menangis, Hiashi tak bergeming, ia melepaskan pelukan Hinata di kakinya hingga Hinata tersungkur, namun Hinata tak mau menyerah, ia kembali memeluk Kaki Hiashi, menghentikan langkahnya.

"Seumur hidupku, aku mengabdi padamu, tak ada satu pun perkataan yang ku bantah darimu, bahkan untuk urusan hati,cinta dan masa depanku, aku menyerahkannya padamu, aku sangat menurtimu Otousaan, ku mohon, sekali ini, hanya sekali ini saja, mau kah kau mengabulkan permintaan anakmu, seorang anak yang tak pernah membantahmu, keinginan putri kecilmu, hanya kali ini saja, ku mohon, jangan biarkan Sasori-kun meninggalkan kediaman Hyuuga, aku tak apa jika dia tak lagi mengawalku, tapi tolong jangan usir dia, kau tau dia mengabdikan hidupnya selama belasan tahun pada Hyuuga, tolong Otousaan,.. sekali ini saja, ku mohon."

"Hinata." Lirih Sasori, ia meneteskan air matanya.

"Baiklah, hanya untuk sekali ini saja."

Hinata menengadah menatap Hiashi, "Arigatou.. Arigatou Otousaan.. hiks.. Arigatougozaimas."

..

Hiashi termenung di dalam kamarnya, perkataan Hinata masih terngiang di telinganya, ia sadar ia memperlakukan Hinata seperti boneka selama ini, tapi ini memang takdir, Hinata terlahir sebagai putri tunggal, tak ada lagi penerus Hyuuga selain Hinata, untuk itu Hiashi melatih Hinata dengan keras. "Gomene Hinata, ini semua demi kebaikanmu, demi Hyuuga, demi ribuan karyawan Hyuuga dan juga keluarga mereka, semua bergantung padamu, Gomene, menjadikanmu seperti ini." Hiashi memeluk foto Hinata dan juga Hikari, ibu dari Hinata yang meninggal setelah melahirkannya. "Gomene Hikari, aku membuat anak kita menderita, tapi ini adalah takdirnya, takdir seorang Hyuuga."

..

"Sasori-kun." Hinata berlari menyusul Sasori yang tengah berjalan di pekarangan Uchiha dengan membawa koper besar, dia akan kembali ke kediaman Hyuuga dan menjadi eksekutif Neji.

PLAK !

Sasori mengelus pipinya saat Hinata menamparnya kasar.

"Apa yang kau lakukan hah ! kau sadar dengan tindakan bodohmu hari ini, apa kau sadar atas itu semua !"

Sasori tersenyum, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Hinata,

"Aku sangat sadar." Balasnya lembut.

"Bodoh !"

"Bahkan untuk menjadi orang gila sekalipun, itu tidak apa asal aku bisa melindungimu."

Hinata memeluk Sasori erat, tangisannya pecah disana, Sasori membalas pelukan Hinata seraya membelai rambut indigo itu lembut, "Kau jelek jika menangis putri kodok." Sasori meringis kesakitan saat Hinata mencubitnya.

"Sampai kapan pun kau akan tetap menjadi pangeran kodok yang bodoh."

"Tak apa, asal selalu bisa bersamamu dan melindungi putri kodok yang keras kepala."

Hinata melepaskan pelukannya, ia menatap Sasori, "Kau jelek sekali." Canda Sasori, Hinata tersipu, ia kembali membenamkan wajahnya di pelukan Sasori dengan Sasori yang kembali memeluknya.

"Arigatou Sasori-kun, Arigatou, kau adalah satu-satunya sahabat terbaiku."

Sasori tersenyum hambar, ia tak menjawab, memang bukan hanya sahabat yang di inginkan Sasori, ia menginginkan hubungan yang lebih, namun ia sadar siapa dirinya, selama masih bisa bersama Hinata dan melindunginya, itu sudah cukup, mencintai seseorang tidak harus selalu memilikinya kan? #Pepatah.

..

Onyx hitam itu memperhatikan kedua insan yang tengah berpelukan di bawah sana, Sasuke mendecih, ada hubungan apa antara Hinata dengan pengawalnya itu pikirnya, mereka tampak seperti sepasang kekasih, Sasuke meremas kaleng sodanya kesal, ia bahkan sampai tak mengira kekesalannya itu membuat kaleng itu penyok karena genggamannya, dan lagi perasaan apa ini, apakah ia cemburu? Bukankah ia tak menyukai Hinata? Lalu kenapa ia begitu resah? Sasuke melempar kaleng penyok itu sembarang.

"ARGH !" teriaknya frustasi..

.

..

.

TBC

Arigatou Minaa.. maaf tidak bisa membalas review kalian satu-satu, arigatou untuk semua yang telah membaca terlebih untuk para reviewers,.. kalian semangatku.. Khamsahamidaaaa… #bungkukbungkuk