"Pretend"
Created : Lavenderviolletta
Disclamer
Naruto by: Masashi Kisimoto
Hinata. H x Sasuke. U
Romance,Hurt/comfr
WARNING
..
OOC, MISS TYPO
..
Happy Reading
Hinata terkejut ketika pagi ini Sasuke berada di depan pintu kamarnya, Sasuke tersenyum tipis "Sudah siap?"
..
Dua orang berbadan besar menghalangi Hinata dan Sasuke ketika keduanya akan menuruni tangga, Sasuke menautkan kedua alisnya saat melihat kedua orang asing yang berada di rumahnya terlebih, menghentikan pergerakannya.
"Hinata-sama, silahkan kembali ke kamar anda." Ucap salah satu bodyguard itu.
"Apa?!" Hinata memiringkan kepalanya bingung.
"Hiashi-sama meminta kami untuk menjaga anda sampai acara pernikahan, anda tidak bisa keluar dari kamar anda, jadii silahkan untuk kembali."
"Apa? Hal konyoll apa ini !"
Hinata membentak kedua orang yang menghalangi jalannya, ia mengeluarkan ponselnya, memainkan jarinya disana dan dengan cepat menghubungi seseorang.
"Tousaan ! Aku tak mengerti kenapa aku tidak boleh sekolah?"/Apa-"/Tapi-" ..
Sasuke merebut ponsel Hinata, "Hinata akan baik-baik saja bersamaku, aku pastikan dia tak akan berulah sampa pernikahan nanti, mohon untuk mengizinkannya pergi ke sekolah bersamaku karena hari ini ada ujian praktek."
Sasuke tak mendengar ada jawaban dari sebrang telepon, ia hanya bisa mendengar helaan nafas Hiashi.
"Baiklah, jika terjadi apa-apa padanya kau orang pertama yang akan ku cari." Nada suara Hiashi terdengar seperti mengancam.
"Hn."
Kedua bodyguard itu menyingkir ketika mendapat perintah dari Hiashi untuk membiarkan Hinata pergi bersama calon suaminya, Sasuke memberikan ponsel Hinata dengan Hinata yang tersenyum senang menerimanya. "Arigatou."
..
KHS
Sasuke dan Hinata berjalan menelusuri koridor dengan tangan yang saling berpegangan erat, memang tak ada canda seperti yang ia lakukan ketika bersama Gaara, mereka hanya saling diam namun Sasuke menggenggam tangannya erat dan hal ini membuat jantung Hinata berdetak hebat, ia hanya bisa berdoa semoga Sasuke tak mendengar detakan jantungnya karena akan sangat memalukan baginya, yahhh walaupun mereka telah mengakui perasaannya masing-masing. Tapi sikap dingin antara keduanya masih begitu kental.
"Sasuke ... !"
Hinata dan Sasuke menghentikan langkahnya ketika mendengar nama seseorang berteriak memanggil nama Sasuke.
Onyx Sasuke memandang wanita berambut coklat di depannya itu datar ketika wanita itu berlari dengan nafas yang terengah-engah.
"Sasu- ke .. Ayah Sakura me- meninggal"
DEG ..
Sasuke melepaskan genggamannya pada Hinata dan seketika itu juga ia berlari meninggalkan sekolah, Hinata sempat mengejarnya sampai parkiran takut jika Sasuke mengemudikan mobilnya dengan arogan dan terjadi apa-apa padanya, namun Hinata terlambat, Sasuke telah meluncur menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Hinata terdiam melihat kepergian mobil Sasuke. Ia menatap jemarinya yang sebelumnya di genggam erat Sasuke dan genggaman itu hilang dalam hitungan detik. Yahh dia tau Sasuke masih sangat mencintai Sakura.
Teng !
Bel masuk berbunyi, ia menepis segala pikirannya, mungkin Sasuke melakukan itu karena ia panikk, walau bagaimana pun Sakura adalah orang yang pernah mengisi hatinya.
...
"Tch !"
Sasuke mendecih saat jalanan kini macet total, mobilnya sama sekali tak bisa bergerak, ia keluar dari mobilnya meninggalkan mobilnya dalam kemacetan, jarak rumahh Sakura tak terlalu jauh dari sini, ia memilih berlari.
..
Teng ,,
Jam istirahat berbunyi, seperti biasa Hinata menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang, terlintas di pikirannya pagi tadi bahwa hari ini ia akan makan bento bersama dengan Sasuke, tapi takdir berkata lain ia kembali dalam kesendiriannya, "Kami-sama, apa aku memang terlahir untuk sendiri." Lirihnya entah pada siapa, ia tersenyum tipis seraya memasukan satu persatu onigiri ke dalam mulutnya.
..
Seorang tetangga yang berdekatan dengan rumahh Sakura mengatakan bahwa ayahnya telah di kuburkan, dan saat ini Sakura sedang ada di pemakaman ayahnya. Mendengar itu Sasuke kembali berlari untuk menemui Sakura, ia teringat ponselnya tak ia aktifkan semalaman tadi. "Tch .. Damn !" Umpatnya.
..
"Siang ini ada meeting bersama Aburame Croup, jadii makanlah yang banyak."
Hinata mendongakan kepalanya ketika mendengar seseorang berkata, ia tersenyum mendapati seorang pria yang biasa tertidur di atas pohon itu "Gaara-kun."
Gaara melompat dan kini berada tepat di hadapan Hinata, tanpa meminta izin pada pemiliknya ia mengambil kotak bento Hinata dan memakannya, Hinata hanya terkikik melihat Gaara yang memakan makanan sisanya begitu lahap.
"Makanan se enak ini kenapa hanya dimakan sedikit, sayang sekali." Ucapnya lagi dengan terus menghabiskan makanan itu.
"Nee Gaara-kun, kau menghabiskannya?"
"Hm, dari pada di buang, kau tau berapa banyak orang yang mati karena kelaparan."
Hinata kembali terkikik,
"Aku mendengar ayah Sakura meninggal, dia tak masuk hari ini."
"Aku tau." Hinata kembali terdiam.
Gaara melirik Hinata melalui ekor matanya, ia mendapati Hinata masih mencoba untuk bersikap tegar, tapi matanya tak bisa membohongi Gaara ia tau Hinata tidak baik-baik saja karena ini.
Tengg ... (Bell masuk istirahat)
"Aku menunggumu di parkiran pulang sekolah nanti."
Gaara pergi setelah mengatakan itu meninggalkan Hinata yang masih terdiam di taman.
...
Sepasang onyx itu menatap sendu seorang wanita berambut merah muda yang tengah menangis di depan sebuah makam, hari ini langit tak begitu terang dan sepertinya hujan akan segera turun mengingat langit begitu gelap, Sasuke perlahan mendekat, ia melepaskan blezer sekolahnya untuk menutupi kepala wanita berambut pink itu dari hujan yang sudah mulai turun, Sakura mendongak ketika seseorang datang meneduhkannya, ia memandang Sasuke dengan tangisan yang masih membasahi wajahnya.
"Gomene Sakura."
Sakura menangis dalam pelukan Sasuke, ia menangis sejadi-jadinya disana Sasuke hanya mengeratkan pelukannya semakin erat, ia juga mengecup puncak kepala Sakura dan membelai punggungnya sesekali untuk menenangkannya.
"Kita pulang, hujannya semakin deras." Bujuk Sasuke pada kekasihnya, namun Sakura menggeleng, ia masih tetap ingin berada disana seolah tak ingin beranjak dari tempat peristirahatan terakhir ayahnya.
"Nanti kau sakit." Ujar Sasuke lagi dengan menangkupkan kedua tangannya pada wajah Sakura "Hm?" Gumamnya seolah kalimat ajakan.
"Kau tau .. Hanya dia yang aku punya .. Hanya dia satu-satunya, aku bahkan tidak mempunyai saudara, aku bahkan belajar keras dan mengumpulkan uang untuk dapat mengambil sekolah kedokteran nanti, aku bahkan belum membuatnya bahagia, ǰǰαϑΐ untuk apa? Untuk apa lagi hidupku sekarang .. Kau tidak mengerti Sasuke .. Hikss .. Otousaann .."
Sasuke hanya diam, dia tau Sakura sangat terpukul akan hal ini.
"Tak ada gunanya aku hidup sekarang."
"..."
"Lebih baik aku mati saja."
"Hei, masih ada aku kau lupa eh?"
Sasuke membalikan tubuh Sakura menginginkan emerlard itu menatapnya
"Kau lupa keberadaanku Sakura."
Sakura menatap onyx itu sendu buliran bening di pelupuk matanya tumpah, Sasuke kembali memeluk wanita rapuh yang terus menangis itu, keduanya berpelukan disaat hujan mengguyur hebat.
...
Hinata merasa resah malam ini, ia melirik jam menunjukan angka sembilan, namun Sasuke masih juga belum kembali ponselnya juga tak dapat di hubungi, ia sangat cemas mengingat Sasuke menjalankan mobil dengan arogan begitu mengetahui kabar pahit itu, ia hanya berdoa semoga tak terjadi sesuatu yang buruk pada calon suaminya.
"Sasuke."
Hinata berdiri dari duduknya ketika Sasuke melewati ruang utama Uchiha, seluruh tubuhnya basah kuyup, Hinata mendekat ia menaruh punggung tangannya di kening Sasuke "Kau demam." Ujarnya, Sasuke tak membalas ia hanya menatap Hinata kosong, "Aku akan siapkan air hangat untukmu."
...
Selesai dengan aktifitas mandinya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur besar itu dengan masih mengenakan handuk kimono.
Suara ketukan pintu dari luar membuatnya harus membuka pintu kamar, ia melihat Hinata membawakan secangkir coklat panas dengan bubur dan juga ada obat pereda demam dalam nampan itu. Tanpa mendapat izin dari Sasuke Hinata menerobos memasuki kamarnya dan meletakan nampan itu disamping meja kamar tidurr Sasuke.
"Otousaan dan Okasaan pergi sore tadi."
Sasuke mendudukan dirinya di sofa, ia memijit keningnya.
"Aku tak tau mereka kemana, sampe sekarang Mikoto-sama belum membalas pesanku."
"..."
"Aaaa." Ucap Hinata seraya menyuapkan bubur itu pada mulut Sasuke.
"Aku tidak lapar."
"Makanlah sedikit, jika Okaasan tau kau demam seperti ini dia pasti akan cemas."
Sasuke akhirnya menurut dan membuka mulutnya, Hinata tersenyum ketika Sasuke menghabiskan bubur buatannya.
"Kau yang membuatnya?"
"Umh .." Ujarnya mengangguk seraya memberikan segelas air putih dan beberapa butir obat pereda demam.
"Arigatou Hinata."
"Aaa .. Sasuke, bagaimana dengan Sakura? Apa dia baik-baik saja."
"Keadaannya buruk, " ia menatap Hinata , "Hanya ayahnya yang dia punya satu-satunya di dunia ini."
"..."
"Selain aku."
Hinata mengigit bibir bawahnya, apa maksud Sasuke mengatakan ini padanya.
"Hinata, ada yang ingin aku bicarakan serius denganmu."
Deg ..
Entah kenapa ia merasa takut, takut dengan pembicaraan yang akan Sasuke katakan padanya, takut jika Sasuke akan meninggalkannya.
"Gomene, aku masih harus membereskan beberapa laporan untuk meeting besok."
Hinata meninggalkan Sasuke begitu saja, Sasuke menghela nafas, ia mengusap wajahnya gusar, dia sangat bingung dengan posisinya saat ini antara Hinata atau Sakura, dia tak bisa meninggalkan Sakura tapi dia juga tak sanggup untuk kehilangan Hinata, apakah itu egois?"
Ia mendecih .. Kenapa dirinya berada di posisi yang sulit, apa yang harus ia lakukan sekarang.
...
Pagi menjelang, Hinata menautkan kedua alisnya saat melihat meja makan yang kosong, kemana Sasuke pikirnya, apa ia telah pergi ke sekolah terlebih dulu?
"Ohayou.."
Suara maskulin itu membuyarkan lamunan Hinata, ia tersenyum menatap Obsidan yang tengah menatapnya lembut.
"Ohayou .. Itachi-niisan."
Itachi menarik kursi di samping Hinata dan memulai sarapan paginya dengan mengoleskan slei kacang pada roti tawar, "Sasuke pergi pagi sekali, kau tau dia pergi kemana?"
Hinata menggeleng, ia memakan roti strawberry nya dan mengunyah pelan.
"Biar aku yang mengantarmu."
"Eh?"
"Kebetulan aku tidak terlalu sibuk, dan aku juga ingin tau seperti apa suasana KHS itu."
"Arigatou Itachi-nii."
Itachi tersenyum, ia mengacak puncak kepala Hinata "Sasuke beruntung mempunyai calon istri secantik kau Hime."
Hinata blushing mendengar Itachi menggodanya. "Itachi-nii, berhenti menggodaku."
Itachi terkekeh sambil menyantap rotinya, seketika hening melanda keduanya.. Yahh baik Hinata maupun Uchiha sulung itu memilih untuk tak bersuara ketika makan.
...
KHS
"Arigatou Oniichan."
"Hn."
Hinata membungkukan setengah tubuhnya pada Itachi yang masih berada di dalam mobil, setelah berpamitan ia meninggalkan Itachi dan berjalan memasuki KHS, Itachi melihat Hinata yang berjalan semakin jauh sampai bayangan wanita bersurai indigo itu sudah tak terlihat oleh kedua onyxnya, matanya menyipit saat melihat Sasuke berada tak jauh di depannya dengan seorang gadis bermata emerlard.
"ǰǰαϑΐ ini alasanmu pergi sangat pagi."
Sasuke dan Sakura berbalik dan melihat Itachi kini tengah berdiri di belakang mereka dengan kedua tangan yang menyilang di dada.
"Kau meninggalkan calon istrimu hanya karena wanita-"
"Bukan urusanmu ! Baka Aniki."
Itachi terkekeh ketika Sasuke memotong pembicaraan dan membentaknya.
"Terserah, apapun yang kau suka lakukanlah sesukamu." Itachi berkata Santai, ia melirik Sakura dengan tatapan malas sebelum dirinya meninggalkan kedua sejoli itu.
"Sasuke-kun." Lirih Sakura dengan menundukan kepalanya, kedua tangannya mengepal.
"Tidak seharusnya kau menjemputku."
"..." Tidak ada jawaban dari Sasuke, tapi satu tarikan tangan di rasakan Sakura, Sasuke menggenggam tangannya erat.
...
Wanita bersurai indigo itu tersenyum mendapati Gaara berdiri diambang pintu kelasnya, pria bertato Ai itu berjalan menghampiri Hinata yang tengah duduk di bangkunya.
"Ohayo."
"Ohayo Gaara-kun."
"Bagaimana kabarmu?"
"Eh?"
"Aku melihat kau kurang sehat akhir-akhir ini."
Hinata tertawa kecil, "Aku hanya sedikit lelah."
"Hm, Yokatta."
"Gaara-kun, apa hari ini Namikaze Minato akan datang?"
"Aa .. Aku lupa mengatakannya, Kurenai-san mengatakan anaknya yang akan menggantikannya untuk meeting siang ini."
"Sooka?" Hinata tersenyum senang,
"Anda mengenalnya? Direktur?"
"Tentu saja, dia teman masa kecilku."
Cklek ..
Suara pintu kelas yang terbuka membuat Hinata dan Gaara menoleh ke arah pintu, Obsidan kelam itu menatap keduanya,
"Aku akan menemuimu lagi saat istirahat nanti."
"Umh.." Hinata mengangguk dan Gaara tersenyum seraya meninggalkan kelas.
..
Hinata menatap punggung Sasuke yang duduk di depannya, ia mengeluarkan kotak bento yang telah disiapkan Mikoto dan Sasuke lupa membawanya, perlahan ia melangkahkan kakinya dan duduk disamping Sasuke, tatapan datar itu dibalas Hinata dengan tatapan lembut.
"Kau meninggalkan ini." Ujarnya dengan menyodorkan kotak bento milik Sasuke.
"Arigatou."
"Sasuke, siang ini aku ada meeting bersama Namikaze, tidak apa-apa jika kau tak bisa mengantarku, aku bersama Gaara, tapi .. Aku harap kau bisa menyempatkan waktumu untuk membeli cincin pernikahan kita."
"..."
Hinata menunduk saat Sasuke tak juga menjawabnya, ia melanjutkan untuk kembali bicara.
"Kita bahkan harus mencoba baju pengantinnya."
"..."
"Hei? Kau mendengarku kan?" Hinata menatap Sasuke dengan wajah yang tak mengerti.
"Aku tak bisa menikah denganmu."
"Eh?"
"Aku mencintai Sakura."
"Apa!?"
"Yang aku cintai hanya Sakura Haruno, bukan Hinata Hyuuga."
Hinata tercekat, Sasuke berdiri dan bermaksud pergi meninggalkannya,
"Kau hanya kasihan padanya."
Sasuke menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Kau mencintaiku Sasuke."
Sasuke masih terdiam, ia membatu.
"Hanya karena ayahnya meninggal .. Kau terpaksa kembali padanya."
"..."
Hinata berjalan menghampiri Sasuke, ia menatap tajam onyx yang menatapnya sendu.
"Benar begitu eh?"
"..."
"Hanya karena kau kasihan padanya, kau mengorbankan perasaanmu?"
"Apa yang kau soal perasaanku, wanita asing."
"Eh?"
"Kau bukan siapa-siapa di bandingkan Sakura yang telah selama ini menemaniku, kau datang tiba-tiba, kau merusak hubungan kami, memisahkan kami, dan kaulah yang kasihan Hyuuga."
"Sasu-"
"Kau punya segala yang kau inginkan, segalanya.. Kau bisa membeli ratusan atau bahkan ribuan pria tampan yang kau mau, tapi kau tak bisa membeliku."
Hinata terkekeh, "kata-katamu terlalu berlebihan."
"Ini kenyataan, dan kau harus menerimanya."
Sasuke kembali berjalan namun Hinata kembali menghalanginya.
"Aku tau kau mencintaiku Sasuke, aku sangat yakin pada perkataanmu malam itu, dan segalanya berubah ketika ayah Sakura meninggal."
"Tch .. Kau naif."
"Kau yang terlalu membodohi dirimu sendiri."
"Kau tak percaya?"
"Apa?"
Set..
Sasuke menarik tangan Hinata, membawanya berlari menuju kelas yang berada di lantai 4, Sasuke melepaskan tangan Hinata ketika dirinya kini berada di depan Sakura, yah mereka kini berada di kelas Sakura, Sakura berdiri dari kursinya, kaget dengan kedatangan Hinata dan Sasuke.
"Sasuke Hmp-"
Seluruh kelas sontak membulatkan matanya kaget saat Sasuke mencium Sakura, Gaara tak tertarik pada pemandangan romantis yang sedang dilihat orang banyak, ia lebih memilih menatap Hinata yang kini juga tengah menatap Sasuke yang berciuman dengan Sakura.
"Cukup !" Hinata berkata lirih, namun semua orang dapat mendengar suaranya.
Sasuke melepaskan ciumannya, "Apa kau bisa percaya sekarang eh?"
"Hai .. " Hinata tersenyum hambar, namun tangannya sedikit mengepal. Matanya terlihat berkaca, namun dengan sekuat tenaga ia menahan agar air mata itu tidak tumpah.
"Arigatou."
Hinata berbalik, dan keluar meninggalkan kelas, Gaara bermaksud untuk mengejarnya namun ia sadar Hinata membutuhkan waktu sendiri untuk saat ini,
Zamrud Hijau milik Gaara menatap tajam Uchiha yang berada di kelasnya, "Arigatou, telah memberiku kesempatan untuk memilikinya, dan jangan harap kau bisa merebutnya kembali dariku pecundang."
Gaara menubruk bahu Sasuke dan Sasuke hanya bisa diam, ia tak tau apa yang harus di lakukannya sekarang, baginya ini semua ia lakukan untuk orang yang ia cintai, untuk seorang Haruno, tapi apakah ia benar-benar tak mencintai Hyuuga Hinata? Lalu? Apakah perkataannya malam itu? Tentang ia mengatakan bahwa ia mencintai Hinata? Dan akan melepaskan Sakura? Sasuke .. Dia benar-benar gusar, dengan langkah kosong ia meninggalkan kelas, Sakura menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh.
..
TBC
Gomeneee .. Lama updatenya .. Semoga chapter ini tidak mengecewakan ;) arigatou Minaaaa \(^▿^)/ see u the next chap..
