Hinata POV:

"Cukup.. Ini sudah keterlaluan tidak seharusnya aku mempercayai perkataan busuknya malam itu, tch .. Hontoni Baka Hinata.. Kau bahkan meneteskan air mata untuk pria brengsek itu.. menyedihkan.. !"

End of Hinata POV

"Pretend"

Created : Lavenderviolletta

Disclamer

Naruto by: Masashi Kisimoto

Hinata. H x Sasuke. U

Romance,Hurt/comfr

WARNING

..

OOC, MISS TYPO

..

Happy Reading

..

Sepasang zamrud itu melirik seorang wanita yang tengah asik memandang arah jendela dari pertama keduanya memasuki mobil, wanita bersurai indigo itu tak banyak bicara.. Namun Gaara juga tak ingin membuat pertanyaan yang salah, jadii dia lebih memilih diam, mengabaikan semua keinginannya untuk ingin tau apa yang sebenarnya siswi berprofesi directur ini pikirkan, mungkinkah kejadian di kelas tadi? .. Entahlahh .. Hey.. Dia hanya supir, untuk apa dia begitu ingin tau masalah tuannya .. Gaara memanuver mobilnya dengan kecepatan penuh menghindari pengemudi lainnya, ia harus membawa tuannya sampai di Hyuuga Crop tepat waktu .. Itulah yang harus dilakukannya saat ini.

Hinata berjalan malas memasuki lobi dengan Gaara yang mengikutinya di belakang, beberapa karyawan membungkukan setengah tubuhnya ketika bertemu dengan Hinata, namun Hinata mengabaikan ia hanya menatap lurus jalan di depannya, wajahnya tampak serius seperti memendam sebuah asumsi.. Merasa ada sesuatu bergetar di dalam tas Hinata yang dibawanya Gaara mengambil benda bernama ponsel itu dan memberikannya pada Hinata. Hinata menatap malas sederetan nomer yang tak dikenalnya, ia menatap Gaara sebelum dirinya menekan tombol hijau, namun pria bertato Ai itu hanya menatapnya datar.

"Moshi-moshi."

"Himeeeeeeeeee !"

Hinata menjauhkan sejengkal ponselnya dari telinganya, suara cempreng itu sedikit membuat telinganya sakit, namun sebuah senyum terukir di wajahnya yang semula flat ekspretion .. Ia mendekatkan kembali ponselnya pada pendengarannya "Nee Anata wa Naruto-kun des ka?"

"Haiii .. Himeeee ! Kau masih mengingatku kan?"

"Tentu saja, baka .. Minato-san mengatakan kau akan datang hari ini, dimana kau sekarang?"

"Di belakangmu ehehee .."

Hinata membalikan tubuhnya, ia kembali tersenyum senang saat melihat pria blonde bermata shappire dengan senyum matahari itu tengah berdiri di belakangnya, seketika itu ia melompat dan memeluk Naruto dengan amat erat, Gaara menyipitkan matanya melihat adegan yang menurutnya berlebihan.. Atau lebih tepatnya dia tidak menyukai pemandangan ini.

"Hinata-chan .. Aku merindukanmu."

Hinata melepaskan pelukannya, ia mencubit kedua pipi Naruto seraya mengacak rambut jabrik dari pria teman masa kecilnya itu, "Dimana Sasori?" Tanya Naruto lagi.

"Mungkin dia ada di ruangan Neji-nii, ayo kita temui dia, dia pasti sangat senang melihatmu disini."

Hinata menarik tangan Naruto tanpa ia menyadari ia telah mengabaikan Gaara yang berdiri tak jauh di depannya, "Hinata-chan, tunggu .. Pria itu-"

Hinata melirik Gaara .. Ahh ia benar-benar lupa akan adanya Gaara karena kehadiran Naruto, "Gomene, Gaara-kun dia Naruto dia teman kecilku sama seperti Sasori-kun."

Gaara menatap Naruto datar, tak berekspresi.

"Hallo..." Naruto menyapa Gaara seraya mengulurkan tangannya.

"Naruto."

"Gaara"

Hinata tersenyum melihat keduanya berjabat tangan walaupun Gaara terlihat tak tertarik sama sekali dengan pria teman kecilnya itu, ekspresi wajah datar vs cheerful itu membuatnya tertawa kecil.

"Hei apa dia pacarmu?" Naruto merangkul Hinata seraya membisikan pertanyaan yang membuat Hinata blushing.

"Tidak, dia hanya menggantikan posisi Sasori-kun untuk mengawalku."

"Benarkah?"

"Umh .." Hinata mengangguk.

"Aa yokatta." Ujar Naruto seraya berjalan bersama Hinata masih dengan posisi tangannya yang merangkul pundak Hinata erat, "Dimana si pemain boneka itu."

Gaara mendecih dalam hati ia menatap punggung Hinata dan juga Naruto yang berjalan di depannya, dia merasa iri pada pria blonde yang tampak selalu ceria dan agresif itu sedekat ini dengan Hinata mungkinkah dia cemburu?

..

Sebuah mobil ferarri keluaran terbaru dan berwarna biru gelap itu terparkir indah di depan sebuah restoran italia, yah .. Malam ini Sasuke mengajak Sakura untuk makan malam bersama merayakan aniv hubungan mereka yang sudah berumur 2tahun itu, Sakura tampak berbinar melihat dirinya dan juga Sasuke di sambut oleh pelayan-pelayan yang ada disana, restoran itu juga tampak sepi tak ada satu orangpun disana, hanya mereka berdua.

"Sasuke-kun." Sakura kembali di buat takjub saat tiba-tiba lampu mati dan di gantikan oleh cahaya lilin yang menghiasi meja bundar dengan ukuran lebih besar dari meja-meja lainnya, lilin-lilin itu teratata indah membentuk LOVE bebarengan dengan matinya lampu,lilin, tertampil juga sebuah infocus besar yang menunjukan foto-foto dirinya bersama Sasuke ketika mereka bersama, Sakura memeluk Sasuke erat seraya menatap infocus yang menampilkan gambar-gambar dirinya bersama kekasihnya itu.

"Aishiteru Sasuke, aku sangat bahagia."

"Kau menyukainya?"

"Sangat menyukainya, Arigatou."

..

Gaara benar-benar merasa kesal hari ini, semenjak kehadiran Naruto Hinata mengabaikannya, terlebih seperti saat ini Hinata yang biasanya duduk di sampingnya kini malah duduk di belakang bersama Naruto, ohh .. Dia benar-benar menjadi seorang supir, ..

"Ahh .. Manshion Hyuuga .. Aku sangat merindukanya .." Teriak Naruto dengan menggeliatkan tubuhnya.

"Kau tidak ingin aku mengantarmu ke manshion Uchiha?" Gaara mendekati Hinata,

Hinata tersenyum kecil, "Untuk apa, disini rumahku disana hanya menumpang, hanya menjadi benalu."

"..."

"..."

Kedua bola mata berbeda warna itu menatap Hinata garis wajah wanita bersurai indigo itu menyiratkan kesedihan Hinata terkikik ketika melihat Gaara dan Naruto yang menatapnya intens.

"Hei kenapa kalian melihatku seperti itu."

"Hn.. Sampai besok." Gaara memasuki mobilnya

"Arigatou Gaara." Teriak Naruto lagi dan hanya di balas tatapan datar oleh Gaara.

...

Naruto menahan Hinata ketika akan memasuki rumahh, Shappire itu menatap lavender penuh curiga.

"Ada yang tidak beres dengan perjodohanmu?"

Hinata tersenyum, "Tidak ada."

"Kau tak bisa membohongiku Hinata."

Hinata menarik nafas malas, "Apa aku pernah main-main dengan perkataanku?"

"Aku tidak tau, tapi aku tau kapan kau berkata jujur dan kapan kau berbohong."

"..."

"Perjodohan ini menyakitimu eh?"

"..."

"Apa pria itu brengsek !?"

"Eh?! Berhenti mengintrogasiku Naruto.. Kau membuatku kesal !"

Hinata berjalan memasuki rumahnya seraya menepis tangan Naruto yang menahannya, Naruto menatap Hinata sejenak sebelum dirinya memasuki rumahh juga, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

...

"Oyasumi"

Sasuke mengacak puncak kepala setelah mencium keningnya lembut, Sakura tersenyum dan berjalan memasuki rumahnya, namun baru beberapa ia melangkah ia berbalik.

"Sasuke."

Sasuke melirik Sakura dengan pintu mobil yang sudah di bukanya, ia menatap Sakura yang kini berjalan menghampirinya.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."

"..."

"Aku sangat bahagia malam ini, sungguh aku sangat bahagia Sasuke, tapi... Kenapa kau tak melamarku?"

"..."

"Mh.. Maksudku, aku sempat berpikir akan ada sepasang cincin dan-"

"Besok akan ku berikan untukmu."

"Eh?"

"Semula memang terencana seperti itu tapi cincinnya tertinggal di kamar." Jawab Sasuke bohong,

"Benarkah?" Sakura terlihat sangat senang mendengarnya.

"Hn, masuklah.. Angin malam ini tak baik untuk kesehatanmu."

"Arigatou Sasuke .. Tottemo Arigatou.. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan jika tak ada kau, tetaplah bersamaku, ku mohon."

Sasuke tak membalas pelukan Sakura, ia menatap kosong pandangan di depannya, ia tak bisa menjawab .. Pelukan Sakura mengerat, dengan perlahan ia membalas pelukan kekasihnya, Sasuke merasakan cairan hangat membasahi tuxedonya, Sakura menangis .. Mungkin ini tangisan bahagia .. Tapi? Bukankah ia seharusnya juga bahagia? Tapi kenapa ia merasa semuanya hampa, ia tak tau apa yang harus dilakukannya.. Terbesit bayangan ketika apa yang dilakukannya pada Hinata siang tadi, ketika ia menyeret Hinata membawa Hinata di depan Sakura dan mencium Sakura.. Apa Hinata baik-baik saja pikirnya, apa yang sedang di lakukan wanita bersurai indigo itu saat ini.

...

Hinata menatap langit malam itu kosong, kedua tangannya ia lipat di dada, besok lusa adalah acara pernikahannya dengan Sasuke, sebuah pernikahan yang terjadi karena bisnis bukan karena landasan cinta .. Sebuah pernikahan yang di impikan semua orang adalah pernikahan dua insan yang saling mencintai .. Hinata teringat ketika Sasuke meyakinkan dirinya malam itu, ia merasa itu adalah sebuah ungkapan perasaan yang tulus .. Perasaan bahagia itu hanya di dapatkannya dalam hitungan jam .. "Jika saja kau benar-benar mencintaiku aku mungkin akan sangat bahagia saat ini Sasuke." Hinata tersenyum menatap langit.

...

"Hinata tidak pulang bersamamu?"

Sasuke menutup kembali pintu kamar Hinata saat ia menyadari seseorang memanggilnya.

"Okaasan sangat khawatir padanya, dimana dia Sasuke?"

"..."

"Sasuke !" Bentak Mikoto ketika Sasuke hanya diam.

"Dia sudah dewasa, jika dia ingat dia akan pulang dengan sendirinya."

"Apa !"

"Aku lelah Okaasan, tolong biarkan aku sendiri." Sasuke menutup pintu kamarnya rapat. Ia melemparkan tubuhnya pada kasur elastis itu, wajahnya menatap kosong langit-langit kamar .. Sepulangnya dari mengantar Sakura ia selalu teringat dengan Hinata, namun ketika ia pulang ia tak mendapati Hinata ada di kamarnya, kamar Hinata kosong .. Apa mungkin dia sangat terpukul.

Sasuke mengambil ponselnya, tanpa pikir panjang ia menelepon kediaman Hyuuga.

"Moshi-mosi dengan kediaman Hyuuga."

"Apa Hinata-sama ada disana?"

"Hai, Hinata sama baru saja pulang bersama teman masa kecilnya yang juga akan menetap disini."

"..." Sasuke diam ia mencerna perkataan maid itu.

"Maaf ini dengan siapa? Ada pesan untuk Hinata-sama?"

"..."

"Tuan?"

"Hm .. Gomene, bisa kau memberitahuku siapa temannya itu?"

"Eh? Ano .. Tapi tuan siapa? Jika tidak ada hubungannya dengan keluarga Hyuuga saya tak bisa memberitaumu."

"Uchiha Sasuke, calon suaminya."

"Eh? Gomene tuan .. Telah lancang, pria itu bernama Naruto Namikaze mereka berteman baik ketika kecil."

"..."

"Tuan?"

"Hn, Arigatou.. Jangan katakan pada siapapun bahwa aku menghubungi kediaman Hyuuga malam ini."

"Hai wakarimas."

Tut .. Tutt .. Tutt ..

..

"Namikaze?" Ujar Sasuke pada dirinya sendiri ..

.

..

...

KHS..

Sasuke menautkan alisnya saat ia melihat Hinata kini berjalan dengan seorang pria blonde bermata shappire yang tak di kenalnya, namun wajah pemilik warna kulit tan itu tak asing lagi .. Dia pernah melihatnya yah.. Dia pernah bertemu dengan pria itu.

"Ahhh .. Kelas yang nyaman .. Sayang aku tak se pintar kau Hime, benar-benar sekolah yang diskriminatif." Naruto mengerutuctkan bibirnya kesal karena ia berbeda kelas dengan Hinata.

"Berhenti mengeluh Naruto-kun."

"Baiklahh .. Heii .. Jika aku ingin satu kelas dengan Gaara apa bisa?"

"Entahlah.."

"Pasti bisa ,, aku akan menemui kepala sekolah seksi itu lagi .. Jaaa"

Hinata tersenyum kecil ketika Naruto meninggalkan kelasnya .. Sekeluarnya Naruto Sasuke berbalik, ia berdiri dari tempat duduknya mendekati Hinata.

Onyx itu menatap Hinata sendu, seperti ingin menyampaikan sebuah permintaan maaf yang mendalam namun tak bisa ia ungkapkan, hanya bisa diam.

Menghiraukan Sasuke yang kini telah berdiri di depannya Hinata lebih asik mengerjakan tugas Anko sensei yang belum sempat ia kerjakan .. Ia mengabaikan Sasuke baginya Sasuke adalah mahluk yang abstrak anggap saja tidak ada.

"Kenapa kau tidak pulang?"

"Aku pulang." Hinata menghentikan aksi menulisnya tanpa menatap Sasuke, "Ke rumahku." Ujarnya lagi seraya melanjutkan menulis dan membuka halaman berikutnya.

"Kau seharusnya pulang ke manshion Uchiha."

"Tch .. Itu bukan tempatku."

"Disana tempatmu."

Hinata meletakan pulpennya di atas tumpukan kertas, ia berdiri menatap Onyx yang mentapnya serius.

"Kau tak usah takut meski aku tak tinggal bersamamu Perusahaan ayahmu akan tetap aman."

Hinata berjalan meninggalkan Sasuke, menurutnya berada di depan Sasuke lebih lama hanya membuat perutnya mual.

"Hinata."

Sasuke menarik tangan Hinata, menghentikan pergerakan kakinya.

"Aku punya alasan, semua ini-"

"Pernikahan kita akan tetap berlangsung mau tak mau kita akan tetap menjalankannya."

"..."

Sasuke terdiam, Hinata berbicara dengan tangannya yang tahan Sasuke dan posisi tubuh yang membelakangi pria berambut raven itu.

"Hanya sampai Uchiha bisa bangkit kembali, Hanya sampai Uchiha seperti dulu.. Setelah itu aku akan menghilang."

Sasuke memutarkan tubuh Hinata, ia menatap Lavender yang tak menatapnya itu serius. Hinata lebih memilih menatap dinding yang berada di belakang Sasuke.

"Apa maksdumu?"

"Jangan kau pikir aku melakukan ini karenamu, tidak sama sekali.. Aku hanya melihat Itachi-nii,Mikoto-sama dan Fugaku-sama, jika pemilik Uchiha hanya kau saja aku tak akan sudi bertahan sejauh ini."

"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"

"Cengkraman tanganmu di bahuku membuatku sakit, bisa kau lepaskan !"

Sasuke melepaskan kedua tangannya, "Hinata, apa yang sebenarnya-"

"Tidak ada."

"Hinata-"

Hinata berjalan meninggalkan Sasuke yang masih dalam keadaan bingung, sejuta pertanyaan membelenggu di otak pria jenius itu, kesal karena Hinata mengacuhkannya ia melempar kursi hingga membentur dinding, Hinata diam menghentikan langkahnya namun ia tak berbalik.

"ARGH ..!" Teriak Sasuke prustasi.

Hinata mematung tiga langkah lagi ia berhasil keluar kelas namun entah kenapa langkahnya terasa berat.

"Kau tak mengerti .. Kau tak tau.. Kau tak mengenaliku .. Karena kau memang wanita asing."

"..."

"Kau pikir aku tak merasakan apa yang kau rasakan eh? Kau tak akan pernah mengerti Hinata."

"..."

"Kau tak mengenaliku, yang kau tau aku hanya seorang pecundang, seorang pria brengsek.. Begitu eh?"

Hinata menarik nafas, ia kembali melangkahkan kakinya untuk keluar kelas akan tetapi dengan sigap Sasuke menahannya, menarik Hinata kasar dan membanting pintu kelas hingga tertutup rapat, Sasuke menghimpit Hinata dengan tubuhnya merapatkannya ke dinding hingga tak ada celah untuk keduanya bernafas, ia mengambil dagu Hinata dan menyatukan bibir keduanya paksa, Hinata meronta namun tenaga Sasuke lebih kuat darinya, Sasuke menciumi Hinata kasar tangannya menahan kuat bahu Hinata agar gadis itu tak bisa bergerak.

Sasuke menghentikan aksinya ketika ia merasakan air mata Hinata membasahi bibirnya, gadis di hadapannya menangis, ia menunduk.

"Gomene, Hinata .. Aishiteru."

PLAK !

Hinata menampar Sasuke kasar.

"Tamparlah sesukamu."

"Kau Bajingan !"

Hinata berlari keluar kelas setelah mengatakan itu Sasuke mengusap rambutnya gusar .. "ARGH !" Teriaknya kembali seraya menendang kursi-kursi tak berdosa yang ada di kelasnya.

...

"Ohayoo .. Hari ini ada teman baru untuk kalian dia pindahan dari belanda namanya adalah Namikaze Naruto."

Gaara menatap Naruto malas, kenapa pria cherrful itu ada di kelas yang sama dengannya? Bukankah Naruto adalah kalangan orang-orang elit? Lalu? ..

"Yoroshiku nee .. Mohon bantuannya." Ujar Naruto seraya membungkukan setengah tubuhnya.

"Yah Naruto duduklah, kita akan mulai belajar sekarang."

"Hai Arigatou Kakashi sensei."

Naruto menghampiri Gaara dengan senyum mataharinya, Gaara mendecih ini sudah dugaannya yang dia kenal hanya dirinya dan Hinata "kau bodoh, untuk itu kau meminta satu kelas denganku karena tak bisa satu kelas dengan hinata." Judge Gaara ketika Naruto duduk di sebelahnya.

"Waahh kau hebatt .. Ehehee .. Tidak apa-apakan Gaara-kun." Ujar Naruto dengan puppye eyes nya.

"Tch .."

"Aku yakin kau pasti akan beruntung jika berteman baik denganku."

Gaara mengabaikan celotehan Naruto yang menurutnya tidak penting,

"Bagaimana kau bisa satu kelas denganku? Bukankah seharusnya kau-"

"Hanya memberikan voucher liburan musim panas ke paris Tsunade-sensei langsung memindahkanku ke kelas ini."

"Tch .. Kau mengerikan."

Naruto tertawa mentah, "Uang bisa membeli segalanya bukan? Coba kau katakan padaku apa yang tak bisa di beli dengan uang? Segalanya bisa huh?"

"Udara."

"Eh?"

Naruto diam sejenak, "Benar juga pikirnya." Ia tersenyum melihat Gaara yang kini tengah asik membuka buku dan mengerjakan soal-soal latihan. "Kau benar-benar pintar, kau akan menjadi sahabatku." Ujar Naruto dalam hati. Setelah menatap Gaara kagum pandangan Shapirre itu melihat-lihat suasana kelasnya yang sedikit rusuh mengingat Kakashi sudah tak ada di kelas dan entah berada dimana.. Yahh sensei yang satu itu selalu mengajar dengan se enaknya masuk dan keluar kelas sesuka hati.

"Cherry blossom."

Perkataan Naruto membuat Gaara melirik ke arah Sakura, ia tau yang di maksud dengan Naruto itu adalah wanita bermata emerlard yang sedang asik menulis tak jauh dari bangkunya duduk.

"Kau menyukainnya?"

"Umh ... Dia cantik tak ku sangka ada bunga yang begitu cantik di kelas ini."

"Tch .. Aku pikir kau menyukai Hinata."

"Eh!? Tidak !"

"Baguslahh .." Ujar Gaara seraya terkekeh.

"Tidak salah lagi .. Tidak ada yang bisa menyaingi kecantikan lavender-hime ku."

Gaara spechless .. Dia menepuk jidatnya.

"Kelinci huh?"

"Ehehee .." Naruto terkekeh .. Gadis itu memang cantik tapi yang paling cantik di dunia ini adalah ibuku dan yang kedua adalah Hime ku .. Hmmm .. Dia boleh lah ǰǰαϑΐ yang ke tiga .."

"Kau menggelikan."

"Hehe .. Hei? .. Siapa namanya?"

"Haruno Sakura."

"Haha.. Nama yang indah seperti orangnya."

"..."

"Apa dia memiliki kekasih?"

"Yah .. Kekasihnya bahkan sangat populer di sekolah ini."

Naruto menautkan alisnya heran.

"Hm? Benarkah? Siapa?"

"Uchiha Sasuke."

"Apa? Kau becanda ! Bukankah orang itu adalah orang yang akan di jodohkan dengan Hime ku?"

"..."

"Brengsekk ! Pantas saja malam itu Hinata- heii bantu aku menemui orang itu."

"Kau sudah bertemu dengannya."

"Apaa ! Dimana?"

"Dia satu kelas dengan Hinata, mungkin kau terlalu asik dengan kebodohanmu untuk itu kau tak menyadarinya."

Naruto menarik nafas malas, "Aku tidak peduli siapapun orang itu, kau harus membawaku padanya."

"Aku tidak bisa."

"Eh? Kenapa?"

"Waktu tidurr siang ku hanya 40 menit dan aku tak ingin menyia-nyiakan itu dengan hal yang tak penting."

"Kau itu .. " Naruto mengeluarkan dompetnya mengelurkan beberapa lembar uang dengan jumlah yang cukup besar.

"Tch .. Hyuuga menggajiku lebih dari itu."

"Tch .. Sialan !" Naruto menggerutu ia mengeluarkan seluruh uang yang ada di dompetnya beserta jam tangan mewah yang dipakainnya saat ini dan menyodorkannya tepat di hadapan Gaara.

Gaara menyeringai evil, "Baiklah.. Kita temui dia saat istirahat nanti."

..

.

...

..

...

..

.

TBC

O genki des ka Mina \(^▿^)/ .. Terimakasih untuk Dewi Natalia atas sumbangan idenya, terimakasih juga untuk semua readers yang telah memberi saran.. Maaf tidak bisa membalas satu-satu .. Hontonii Gomenasaii .. Jaa mataaa ;)

~Lavenderviolletta~