Dia .. Wanita bersurai indigo itu berlari meninggalkan area KHS tak tentu kemana arah yang ia tuju, satu tujuannya saat ini hanyalah untuk menghindari sosok seseorang yang tak ingin ia lihat, yang tak ingin ia lihat dengan kedua retina matanya, menghindari sosok pria yang membuat hatinya bahagia,sakit,rapuh,dan hampa dalam waktu yang bersamaan.. Sosok itu adalah calon suaminya yang mungkin tak akan pernah bisa mencintainya seperti dirinya mencintai pria itu .. Bertepuk sebelah tangan .. Mungkinkah itu yang dialaminya saat ini, kemungkinan untuk hidup bahagia bersama, membangun keluarga kecil yang sederhana bersama orang yang kita cintai itu adalah impian semua orang, akankah dirinya juga akan mendapatkan itu? Langkah mungil itu terhenti di tepi danau ... Ia menatap air yang tenang itu sendu, satu tetesan air mata yang ia bendung akhirnya tumpah juga di atas permukaan air danau yang tenang, seperti biasa ia menangis dalam diam tak bersuara ... Lututnya terasa lemas hingga tak sanggup berdiri dan menyentuh bumi, kedua tangannya mengacak rambut indigonya seraya menundukan kepalanya "Hikss..." Ia tertunduk seraya menangis sejadi-jadinya ... "Arggghhhh !" Teriaknya histeris, "Apa takdirku harus seperti ini kami-sama, tidak adakah orang yang mencintaiku dengan tulus? Atau aku memang terlahir seperti ini? Jika memang ini jalanku, aku sudah tak sanggup menjalankannya." Hinata menggenggam erat rerumputan yang berada di bawah telapak tangannya, "Hiksss.." Tetesan air matanya kembali membasahi tanah "Bawa aku menemui Okasaan, aku ingin bersamanya Kami-sama." Lirihnya di sela tangisan yang terus menghujami wajah putihnya.
"Pretend"
Created : Lavenderviolletta
Disclamer
Naruto by: Masashi Kisimoto
Hinata. H x Sasuke. U
Romance,Hurt/comfr
WARNING
..
OOC, MISS TYPO
..
Happy Reading
..
Teng .. Teng .. Teng !
Waktu istirahat tiba Sasuke melirik kursi Hinata yang kosong, ia mendekati mejanya merapihkan semua buku-buku yang berantakan dan tak Hinata selesaikan karena ia mengganggunya, membuatnya meninggalkan kelas dan tak kembali sampai sekarang.
"Singkirkan tangan busukmu !"
Sasuke menatap datar pada sosok pria yang kini tengah berdiri diambang pintu kelas nya.
"Kau tak berhak menyentuh barang miliknya !"
Naruto merebut kasar tas Hinata yang semula di pegang Sasuke, "Tch.. Kau menjijikan !"
"Ini milikku."
Sasuke kembali merebut tas yang di pegang Naruto. "Kau tau siapa aku hm?"
"Yah ! Kau bajingan yang akan menikahi Hime ku , keparatt !"
"Tch .. Apa kau yang membawa sampah ini masuk?" Sasuke bertanya pada Gaara yang asik dengan ponselnya di ambang pintu kelas.
"Hn." Balas Gaara acuh.
"Apa ? Sampah katamu?!"
"70 persen saham Namikaze adalah milik Hyuuga sekarang, kau tau? Jika aku telah menjadi suami Hinata nanti kau tak akan bisa bertingkah seperti ini lagi, sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk belajar menjadi orang miskin."
"Brengsek !"
"Untuk orang sepertimu hanya sampah yang pantas menjadi tempatmu .. Tch, siapa yang menjijikan sekarang huh!?"
"Kau-"
"Jika kau masih ingin hidup mewah, aku bisa memberimu kesempatan ... Berlutut di hadapanku sekarang dan aku akan menghapuskan semua cacianmu yang memuakkan."
"Hahahaaa ..."
Naruto tertawa mentah, ia menatap kedua onyx itu dengan pandangan meremehkan.
"Kau tau? Saham milik keluargamu bahkan telah seutuhnya menjadi milik Hyuuga, itulah sebabnya kenapa Hiashi-sama menikahkanmu dengan Hinata, kau mengerti maksudku eh?"
"..."
"Jika aku masih mempunyai 30 persen kekayaan sendiri lalu bagaimana dengan kau yang hanya mempunyai nol persen, Uchiha?"
"..." Sasuke tetap memandang Naruto dengan wajah datarnya walaupun ia sebenarnya ingin menanyakan lebih masalah ini.
"Dan kau ingat? Kau menyakiti wanita yang memegang penuh kehidupan Uchiha dan masa depanmu .. Tch bodoh."
"..."
"Kau pikir wanitamu akan terus bersamamu jika dia mengetahui bahwa kau miskin eh?"
"..."
"Percaya diri sekali kau akan mewarisi semua kekayaan Hyuuga, tch .. Jika Hinata menolakmu dan menceritakan kebusukanmu pada Hiashi-sama matilah kau."
Naruto tertawa mentah seraya menubruk bahu Sasuke yang masih mematung dengan merebut kembali tas milik Hinata yang semula di genggam Sasuke.
"Kau tau dimana Hinata Gaara? Ku rasa pria itu telah menyakitinya lagi, jika tidak tak mungkin dia menghilang sekarang kan?"
Gaara mengangguk, keduanya akhirnya pergi meninggalkan Sasuke yang masih membatu, pria jenius itu masih mencerna perkataan Naruto ternyata apa yang diduganya benar. Uchiha dalam masa krisis bahkan sangat parah. Heii baru saja pria bermata shappire itu mengatakan bahwa kekayaan Uchiha hanya nol persen? Lalu? Rumah yang ia tempati sekarang? Mobil? Dan semua fasilitas yang ia gunakan untuk bersenang-senang dengan Sakura? Semua milik Hyuuga.
...
Kedua bola mata berwarna lavender itu menatap tajam pantulan dirinya di depan sebuah cermin besar yang berada di ruang rias pengantin, gaun putih itu melekat indah di tubuhnya yang ramping, gaun yang dirancang oleh designer ternama dari prancis dengan ada banyak emas putih dan perak asli yang membuat gaunnya terlihat berkerlap kerlip ketika tersinari lampu, rambut indigo itu tergerai dengan bagian bawah rambut yang sengaja di buat bergelombang, di samping rambut sebelah kanan di hiasi sebuah bunga berukuran sedang berwarna ungu putih, leher yang putih jenjang itu di lapisi mutiara-mutiara cantik, ia terlihat sangat cantik, menjadi pengantin di usianya yang masih muda sungguh di luar dugaannya, setiap pengantin merasakan kebahagiaan di hari pernikahannya bukan? Lalu bagaimana dengan Hinata?
Satu buliran bening akhirnya menetas juga membasahi pipinya yang putih, ia menangis dengan ekspresi matanya masih setia menatap tajam cermin di depannya, seorang penata rias menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mengoleskan kembali blush on yang sempat pudar, penata rias itu tersenyum.
"Anda pasti sangat terharu sekali Hinata-sama, saya juga menangis ketika menikah dulu tidak apa-apa itu adalah tangisan kebahagiaan."
Tanpa menjawab Hinata masih tetap diam memandangi sosok dirinya yang bersandiwara tegar.. yahh dia memainkan peran terlampau jauh hingga tak ada yang tau perasaan sebenarnya yang ia rasakan, di luar dugaan semuanya tertipu, kenapa ia tak memilih menjadi akrtis saja aktingnya untuk mengelabui semua orang sudah bagus bukan?
"Mari.. saya tuntun anda untuk keluar, anda pasti kesulitan berjalan ketika mengenakan gaun pengantin yang rumit seperti ini."
Hinata menerima uluran tangan penata rias itu tanpa bicara.
"Tangan anda dingin sekali.. apa anda sangat gugup? Ini hanya sebentar anda hanya tinggal mengucapkan sumpah di depan pendeta dan itu tidak akan memakan waktu satu jam, tenanglah.. kau pasti bisa melakukannya."
Hinata tersenyum tipis.. mungkinkah semua orang menganggap dirinya bahagia saat ini? Tidakkah orang itu melihat adanya garis kesedihan di wajahnya? Gaara.. yahh.. hanya Gaara yang dapat melihat itu ketika mereka pertama kali bertemu Gaara sudah menebak bagaimana kesedihan yang di rasakannya selama belasan tahun, Gaara juga menemukan sosok dirinya yang rapuh hanya dengan sekali menatap lavendernya.. kini ia berdiri dengan Sasuke yang berada di depannya, onyx dan lavender itu bertemu .. ini bukan ilusi ini kenyataan.. pernikahan yang harusnya dilakukan sekali seumur hidup itu harusnya ia rasakan dengan kebahagiaan bukan kehampaan seperti ini, ia merasakan sebuah bibir lembut mencium bibirnya, pikirannya kosong ia tak menyadari bahwa itu adalah ciuman pernikahan upacara pernikahannya selesai dan kini ia telah resmi menjadi istri dari seorang Uchiha Sasuke.. sosok pria yang ia cintai namun harus bertepuk sebelah tangan, ia bahkan berambisi membunuh perasaan yang menyiksanya ia menginginkan sosok itu hilang dari hadapannya ia menginginkan tak mengenali pria yang kini berstatus menjadi suaminya, karena ia tau Sasuke hanya mencintai Sakura ,, yahhh.. hanya Sakura Haruno.
…
"Tch.. aku tidak rela Himeku menikah dengan Uchiha bregsek itu." Naruto menggerutu.
"Tapi inilah yang terjadi, apa yang bisa kau lakukan mereka telah bersama sebaiknya kau hilangkan perasaanmu daripada kau mati sakit hati."
"Heh.. aku tau kau juga menyukainya kan? Aku tau itu." Naruto menyeringai
"Hn.. kau benar, tapi kau lihat mereka sekarang telah menikah lalu apa yang bisa ku lakukan." Gaara meneguk minuman sodanya dan membuangnya ke tempat sampah sembarang.
"Aku tak peduli meski dia telah menjadi milik si Uchiha brengsek itu dia masih Himeku dan akan tetap menjadi Himeku."
Gaara terkekeh, ia meninggalkan Naruto.
"Hei-"
"Jangan mengikutiku Baka ! aku butuh ketenangan."
Gaara berlalu meninggalkan Naruto sendiri ia menekan gas pedal mobilnya meninggalkan tempat itu, dia memang membutuhkan ketenangan ia merasakan hatinya gelisah saat ini, apakah ia cemburu? Dan sejak kapan ia mulai menyimpan perasaan pada wanita bersurai indigo yang kini berstatus menjadi istri dari Uchiha Sasuke.
"Sakura." Ujarnya seraya menautkan kedua alisnya heran ketika melihat gadis bermata emerlard yang tengah duduk di tepi danau, ia keluar dari mobilnya dan perlahan berjalan menghampiri Sakura, mengingat hari ini adalah hari pernikahan Sasuke dan Hinata? Tidak .. Gaara berlari ia menyangka Sakura akan melakukan sesuatu hal yang nekat, seperti bunuh diri mungkin?
"Kau." Sakura menatap Gaara seraya berdiri dari duduknya, "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya-"
"Berada disana lebih lama hanya membuatku sakit hati."
Sakura tersenyum tipis, "Kau mencintai Hyuuga Hinata eh?"
Gaara mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya dan membakarnya dengan pematik,
"Hei, sejak kapan kau merokok Gaara-kun?"
"Sejak aku mengenal Hinata."
"Apa?"
"Tch .. Hanya becanda, ketika kepalaku sakit aku biasanya merokok."
"Kepala? Atau hatimu yang kau maksud sakit eh?"
Gaara terkekeh, ia menghempaskan asap rokok ke udara seraya membuang rokok yang masih panjang itu ke tanah dan menginjaknya hancur.
"Lalu? Bagaimana dengan kau?"
Sakura menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Biasa saja." Ujarnya santai.
"Hm?" Gaara bergumam seolah ingin tau alasan Sakura mengatakan itu.
"Dia berjanji padaku meski statusnya telah menjadi suami Hinata, tapi hatinya tetap miliku dan dia akan tetap bersamaku."
"Tch ... Baka !"
"Apa?"
"Kau menaruh harapan pada suami orang, tidakkah kau merasa itu sia-sia? Konyoll !"
Sakura membulatkan matanya menatap Gaara yang dengan entengnya mengatakan dirinya bodoh.
"Kau pikir dia akan menikahimu juga? Bagaimana jika tidak? Kau hanya akan menjadi wanita simpanannya."
"..."
"Lepaskan Sasuke, dia milik Hinata."
Sakura tertawa hambar, "Aku tidak akan melepaskannya begitu saja, tidak semudah itu aku melepaskan cintaku, walau bagaimanapun apapun caranya aku akan tetap mempertahankannya, aku tidak sepertimu yang hanya menyerah ketika pernikahan menjadikan alasan untuk berpisah."
"..."
"Meski harus menjadi antagonis sekalipun, meski harus membuatnya bercerai apapun akan ku lakukan, dia miliku dan wanita itulah yang merebutnya dariku merebut kebahagiaan cintaku dengan Sasuke, perusak hubungan kami."
Gaara menatap Sakura datar,
"Jika kau mau kita bisa bekerja sama untuk ini, bukankah kau juga mencintai Hinata eh?"
"Bagaimana jika ternyata mereka saling mencintai."
"Apa?"
"Semuanya bisa terjadi jika mereka telah melakukan-"
"Cukup !"
"Sadarlah Sakura, kau harus melepaskan Sasuke."
Gaara berbalik, ia berjalan meninggalkan Sakura yang masih mematung, wanita berambut merah muda itu menatap punggung Gaara dengan tatapan kosong, apa yang harus dilakukannya sekarang? Akal sehatnya merespon positif atas apa yang Gaara katakan tapi hatinya menyangkal itu, Egonya berkata ia harus tetap bersama Sasuke, ia kembali terduduk di tepi danau kedua tangannya memeluk lutut matanya terpejam dan perlahan ia menenggelamkan kepalanya diatas lutut, "Kami-sama, apa yang harus aku lakukan." Lirihnya.
...
Hinata merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya seraya mengecup tengkuk lehernya lembut, mengesap aroma tubuhnya, "Gomene." Ujar pria yang kini berstatus menjadi suaminya itu, "Aishiteru Hime." Sasuke semakin merapatkan pelukannya dengan terus menciumi tengkuk leher gadis bersurai indigo yang mematung membelakanginya, dia tetap diam tak merespon setiap sentuhan Sasuke.
"Pergilah."
Sasuke berhenti menciumi tengkuk leher Hinata ketika ia mendengar satu kata yang menusuk.
"Kau tak seharusnya disini apa kau tak merasa khawatir pada perasaan kekasihmu sekarang? Bagaimana jika dia bunuh diri."
Sasuke melepaskan pelukannya, ia memutar tubuh Hinata menatap wanita yang masih mengenakan gaun pengantin di depannya itu heran, "Bisakah kau tak menyebut namanya saat ini hm? Ini adalah malam pertama kita." Ujarnya seraya menyentuhkan satu jarinya dan membelai lembut wajah Hinata.
Hinata mendecih, "kau benar-benar brengsek!"
"..."
"Kau hanya mencintai Sakura, tapi kau masih bisa menyentuh wanita lain-"
"Aku menyentuh istriku."
"Tapi kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai Hyuuga... Jika aku bukan Hyuuga apa kau akan mencintaiku? Jika aku hanya wanita biasa seperti Sakura eh?"
Sasuke berdecih kesal, ia merasa Hinata terlalu melebih-lebihkan.
"Aku mencintaimu Hinata."
Hinata terkekeh, "kau membuat kepercayaanku terhadapmu hancur, meski kau mengatakannya 1000 kali itu tidak akan merubah pendirianku."
"Aku tau perasaanmu," Sasuke merapatkan tubuhnya dengan Hinata yang terus memundurkan langkahnya hingga kedua punggungnya menyentuh dinding, "Kau mencintaiku Hyuuga." Bisikan Sasuke di telinga Hinata membuatnya bergidik geli, Sasuke mengunci pergerakannya menghimpit tubuhnya hingga ia dapat merasakan hembusan nafas Hinata begitu juga dengan Hinata, "Jadii.. Bisakah kita melakukannya?" Sasuke menyeringai evil melihat Hinata yang tengah blushing saat ini, satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh dagu Hinata dan mengecup bibirnya lembut.
"Hentikan brengsek !"
"..."
Sasuke tersentak ketika perkataan halus nan menyentuh hati itu keluar dari mulut wanita yang kini berstatus menjadi istrinya, Sasuke mendecih seraya menjauhkan tubuhnya yang semula menghimpit Hinata.
Hinata mulai mengatur nafasnya akibat himpitan itu membuatnya dada nya terasa sesak, ia melirik Sasuke yang kini tengah berbaring di kasur king size yang mulai saat ini kamar itu menjadi kamarnya juga .. Yahh .. Mulai malam ini dia akan tidur di kasur yang sama dengan Sasuke.
...
KHS
Kabar mengenai pernikahan Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata cepat menyebar luas, kini satu sekolahpun telah mengetahui bahwa pangeran sekolah mereka telah berstatus menjadi suami dari seorang Direktur muda yang masih berstatus seorang sisiwi, pernikahan Hinata dan Sasuke tidak di rayakan secara besar-besaran, pernikahan itu hanya sebagai tali pengikat antara Sasuke dan Hinata, Hiashi akan melangsungkan resepsi pernikahan mereka ketika mereka lulus sekolah nanti, tapi sayangnya kabar menarik seperti ini tak luput dari incaran paparazi, mereka berhasil membocorkan pada publik dan menggemporkan berita bahwa Sasuke telah menikah dengan Hinata.
...
"Beritanya menyebar begitu cepat, tch.."
Hinata terkekeh, ia mengambil majalah bersampul dirinya dengan Sasuke dan membuka-buka halaman demi halaman asal.
"Kau takut? Sakura akan kecewa karena ini hm?"
Sasuke mendecih seraya membuka sealbeat mobil dan keluar meninggalkan Hinata yang masih asik membaca berita mengenai pernikahan dirinya, Hinata tersenyum tipis saat Sasuke membukakan pintu mobil untuk aksesnya keluar.
...
"Selamat atas pernikahanmu Sasuke-kun."
Sasuke dan Hinata berbalik ketika mendengar suara seseorang yang familiar bagi keduanya, wanita berambut cherry blossom itu tersenyum.
"Sakura." Sasuke berkata lirih.
"Hai Arigatou." Hinata menerima jabat tangan Sakura hingga keduanya bersalaman.
"Bisa kau tinggalkan kita berdua." Perkataan Sasuke membuat senyum Hinata hilang, bergantikan dengan wajah dinginnya lavender itu menatap Sasuke dan Sakura bergantian dengan pandangan yang sulit di artikan, memenuhi keinginan suaminya ia pergi meninggalkan keduanya.
"Sakura gomene ini-"
"Aku tau Sasuke."
"Hm?" Sasuke menautkan alisnya tak mengerti, apa Sakura telah mengetahui perasaannya yang sesungguhnya? Bahwa yang ia cintai saat ini adalah Hinata Hyuuga bukan Sakura Haruno, tapi? Darimana ia mengetahuinya? Sejuta pertanyaan membelenggu di benak pria berambut raven ini.
"Aku tau, meski kau telah menjadi istrinya itu semua untuk kebaikan Uchiha bukan? Aku mendengar isu tentang berita bangkrutnya Uchiha dan Hyuuga membantunya."
Sasuke terkejut namun ekspresi terkejut itu tak ia tampakan di wajahnya,
"Jadii .. Tidak apa-apa meskipun kau telah berstatus menjadi istri dari Hinata Hyuuga tapi-"
Sakura mengambil tangan Sasuke dan menempatkan tangan itu di dada Sasuke, ia tersenyum menatap onyx yang menatapnya kosong.
"Hatimu masih miliku kan?"
"..."
"Begitu juga dengan hatiku." Ujarnya lagi seraya menempatkan tangan Sasuke pada dadanya.
"Aku akan menunggumu Sasuke-kun."
Cupp..
Sakura mengecup bibir Sasuke singkat, "Mari kita bertemu diluar walaupun sembunyi-sembunyi, aku menunggu emailmu." Sakura melepaskan genggaman tangannya seraya pergi meninggalkan Sasuke menuju kelasnya, Sasuke mendecih ia tak tau apa yang harus di lakukannya sekarang, harus dengan cara apa ia mengatakan pada Sakura bahwa ia tak lagi mencintainya dan harus dengan cara apa ia meyakinkan Hinata bahwa ia benar-benar mencintainya.
.
..
.
...
..
.
TBC
Konichiwaaa Minaaa .. Gomene baru update \(^▿^)/ kemarin ituuu jaringannya kacau hehe #curhat .. Terimakasih untuk readers setia lavenderviolletta, terimakasih untuk review kalian semua, yang silent readers juga terimakasihh .. Maaf tidak bisa membalas satu-satu, terimakasih untuk yang udah ngasih saran, masukan dsb .. Kalian semua semangatkuuu Aishiteruu :*
