Hinata Pov:
Selalu... Kenapa selalu menyesakkan ketika melihatnya bersama Sakura, terlebih aku sama sekali tak berharga jika Sakura ada di hadapannya, dia menyuruhku pergi hanya untuk berdua dengan wanita itu... Tch,, bodoh... Hinata kau bodoh ...
"Pretend"
Created : Lavenderviolletta
Disclamer Naruto by: Masashi Kisimoto
Hinata. H x Sasuke. U
Romance,Hurt/comfr
WARNING ..
OOC, MISS TYPO ..
Happy Reading
..
"Apa aku telah di pecat? Direktur?"
Hinata membalikan tubuhnya ketika mendengar suara seseorang berkata di belakangnya, ia tersenyum saat mendapati Gaara tengah bersandar pada dinding koridor sekolah dengan kedua tangan yang di silangkan di dada.
"Gaara-kun."
"Hn ... Mulai hari ini dan seterusnya kemana pun kau pergi kau akan di temani suamimu."
Hinata tertawa kecil, ia berjalan mendekati Gaara,
"Begitu huh?" Tanya Gaara meyakinkan.
"Sepertinya tidak."
"Hm?"
"Kau tau aku hanya berpura-pura menjadi istrinya, bersandiwara." Ujar Hinata seraya kembali berjalan.
"Aku tau kau akan mengatakan itu." Gaara menyusul Hinata berjalan hingga kini berduanya berjalan sejajar.
"Maksudmu?"
"Yahh .. Kau berkata kau berpura-pura atas pernikahan ini, tapi hati kecilmu menginginkannya .. Menginginkan Uchiha Sasuke menjadi suamimu."
Hinata terkekeh, "Heii .. Kau bergurau."
"Tidak... Kau yang menghindari perasaanmu Hinata Hyuuga."
"Eh?" Hinata membulatkan kedua matanya kaget.
"Benar begitu? Hyuuga-sama?"
"..."
"Kau bahkan tak bisa menjawabku."
"..."
"Jika diam-"
"Kau tak sepantasnya berkata seperti itu pada atasanmu, apa kau tak bisa bersikap lebih sopan? Mencampuri urusan orang dan selalu ingin tau segala tentang privesinya apa kau pikir itu tindakan yang kurang ajar eh? Terlebih seorang bawahan sepertimu."
Perkataan Hinata membuat Gaara terdiam, ia menghentikan langkahnya.
"Kau hanya tau tentangku, bukan ceritaku."
Hinata berjalan meninggalkan Gaara yang masih terdiam, kedua pupil hijau itu memperhatikan surai indigo yang berjalan menjauhinya... Apa mungkin ia telah salah bicara atau mungkin keterlaluan dalam berbicara, Gaara mendecih seraya melangkahkan kakinya menuju kelas, yah dia sadar dia mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan.
...
Brak !
Hinata membanting tas nya seraya mendudukan dirinya ketika ia sampai di kelas, melirik jam di tangan kirinya ia masih mempunyai waktu 15 menit lagi untuk memulai kelas, seketika ia teringat dengan Gaara... Hal ini membuatnya gusar ia takut perkataannya menyinggung Gaara, tapi ia juga tak suka dengan Gaara yang selalu mencampuri urusannya, memang... Hinata mengakui ke jeniusan Gaara yang selalu benar beragrumen tentang dirinya, tapi ia juga tak ingin semua tentangnya di ketahui orang lain termasuk Gaara, terlebih perasaannya terhadap Uchiha Sasuke yang dengan susah payah ia tutupi tapi Gaara menemukannya.
...
"Hime !"
"Naruto-kun."
Naruto berlari menghampiri Hinata yang tengah terduduk ia menduduki bangku Hinata.
"Selamat atas pernikahanmu, ohh iya aku sekarang tak tinggal di rumahmu aku tinggal di apartemen, Otousaan yang menyuruhku dia tak ingin merepotkan Hyuuga lagi."
Hinata tertawa kecil, "Dimana kau tinggal sekarang Naruto-kun?"
"Apartement Uchiha, uppss .. Apartemen Hyuuga hanya saja namanya masih Uchiha tch.. Harusnya kau segera mengganti namanya itu bukan milik mereka lagi."
Hinata kembali tersenyum, "Nee Naruto-kun apapun yang di miliki Hyuuga itu berarti milik Uchiha juga, begitupun sebaliknya."
"Mana suamimu? Apa dia tak masuk hari ini?"
"Hm? Dia sedang bersama kekasihnya."
"APA !"
"Hei ... Ekspresimu berlebihan."
"Tapi-"
"Lagi pula aku tak mencintainya jadi biarkan saja."
"Tidak bisa seperti itu Hime, dia-"
"Sudahlah Naruto."
"Hinata-chan apa kau bahagia?"
"Entahlah..." Hinata menyandarkan punggungnya pada belakang kursi seraya menatap jendela.
"Lalu? Kenapa kau menerima perjodohan ini?"
Hinata terkekeh, "Apa ada cara untuk menentang Hyuuga Hiashi?"
"..."
"Jika aku bisa menolak, aku tidak ingin hidup menjadi seorang bercharacter ganda seperti ini Naruto-kun, apa kau mengerti maksudku eh?"
"Dan kau tak pernah berusaha untuk melawan, kau tak bisa melindungi dirimu sendiri."
"Yah .. Kau tau aku lemah bukan?"
"Kau hanya terlalu menghormatinya."
Teng ! Tengg !
"Pergilah... Disini bukan kelasmu."
Hinata berkata tanpa memandang Naruto yang kini tengah menatapnya serius, kedua irish itu malah sibuk dengan buku-buku yang akan di pelajarinya hari ini, Naruto hanya menghela nafas seraya pergi meninggalkan Hinata, kedua kakinya berhenti melangkah saat ia berpapasan dengan sepasang onyx yang menatapnya datar. Uchiha Sasuke.
Naruto berdecih seraya menubruk bahu Sasuke dengan sengaja namun Sasuke tak menghiraukan itu, ia kembali memasuki kelasnya dan duduk dimana ia biasa duduk, Hinata menatap punggung Sasuke yang duduk di depannya... Terlintas pikirannya tentang apa yang di katakan Hiashi 10 tahun yang lalu.
Flashback:
"Jadilah Hyuuga yang terhebat di dunia bisnis, menjadi Finance tertinggi diantara semua sainganmu dan menjadi ratu jika kau bisa mendapatkan itu kau akan memiliki segala yang kau inginkan, kau bisa membeli segalanya... Apapun yang kau inginkan kau akan mendapatkannya, dunia ini keras dan jika kau tak sanggup untuk itu kau tidak akan hidup, mengerti !"
End of Flashback
Hinata terkekeh, benar apa yang dikatakan Hiashi mengenai itu memang benar adanya seorang Uchiha Sasuke saja bisa ia beli dengan mudahnya, tapi kebahagiaan tak ada yang bisa membelinya meski kau mempunyai segalanya belum tentu kau merasakan kebahagiaan atas itu, Hinata mulai membuka satu persatu halaman modul yang kini berada diatas mejanya, baru saja ia akan menuliskan satu huruf untuk menjawab soal latihan itu ponselnya bergetar.
Nejii-Niichaan~calling
"Moshi-moshi."
"Hinata? Kau dimana?"
"Di sekolah dan Kakashi sensei datang terlambat jadii aku bisa menerima panggilanmu, ada apa?"
"Ada masalah dengan Hyuuga dan ini penting."
"Hai... Aku pergi, Arigatou Nejii-nii."
Hinata membereskan buku-bukunya dan bergegas meninggalkan kelas,
"Ada masalah?" Sasuke menahan tangan Hinata ketika Hinata melewatinya.
"Hm, aku harus pergi katakan pada Kakashi sensei."
"Kau pergi denganku Uchiha Hinata."
Hinata tercekat saat Sasuke mengatakan itu, ia terdiam dan menatap kosong Sasuke yang tengah merapihkan buku-bukunya.
"Shikamaru, katakan pada Kakashi-sensei aku dan Hinata izin hari ini."
"Kau merepotkan !" Balas Shikamaru malas.
"Nara-san?" Hinata menatap Shikamaru heran.
"Ahh .. Kalau kau tentu akan ku katakan tanpa kau minta Hinata-hime, tapi ... Untuk dia-"
"..." Sasuke menatap Shikamaru datar, "Kita pergi." Ujarnya seraya menarik tangan Hinata.
"Arigatou Nara-san."
Shikamaru melambaikan tangannya seraya tersenyum, yah satu-satunya rival Sasuke di kelasnya adalah Shikamaru Nara, Shikamaru tak menyukai Sasuke karena ia tak bisa melampaui Sasuke.
...
Heningg... Tak ada pembicaraan antara keduanya ketika di dalam mobil, Sasuke merasa risih dengan keadaan seperti ini dan lagi dia merasa bersalah ketika menyuruh Hinata pergi saat ia bersama Sakura tadi pagi,
"Hinata... Gomene."
Hinata memalingkan pandangannya, ia menatap Sasuke tak mengerti.
"Untuk yang tadi pagi-"
"Aa... Aku tau, tidak apa-apa."
Sasuke kembali terdiam, pandangannya menatap jalan lurus ke depan.
"Apa ada masalah di kantor?"
"Entahlah, Neji-nii menyuruhku untuk cepat-cepat berada disana."
"Aku mungkin tak bisa menemanimu karena hari ini aku menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti kejuaraan Fisika nasional."
"Hm,, kau yang mewakili sekolah?"
Sasuke mengangguk.
"Sooka.. Kau hebat, semoga berhasil."
"Hn, Arigatou."
Sasuke menghentikan mobilnya ketika mereka sampai di losmen Hyuuga Crop, Hinata melepaskan sealbet dan bergegas keluar dari mobil, namun Sasuke menahannya ketika ia akan keluar.
"Hinata, apa kau pulang larut malam ini?"
Hinata menggeleng, "Aku tidak tau."
"Aku ingin makan malam bersamamu, aku ingin kau memasakan sesuatu untuku malam ini."
Hinata terkekeh, "Kau tidak terbentur kan?" Ujarnya seraya menaruh punggung tangannya di kening Sasuke.
"Apa ini terlihat seperti sebuah lelucon?"
Hinata tersenyum seraya menutup pintu mobil, "Baiklah, sampai bertemu jam tujuh malam nanti, jaa..." Ujarnya lagi seraya melambaikan tangan dan berjalan memasuki lobi.
Sasuke tersenyum, semoga saja makan malam nanti bisa menjadi awal yang baik untuk hubungannya dengan Hinata, semoga saja... Yahh, Sasuke sangat berharap akan ada kesempatan kedua untuknya.
...
"Neji-nii?" Hinata menautkan alisnya heran saat melihat Neji kini duduk di meja kerjanya, di ruangan kerjanya dengan sibuk membuka komputer dan laptop kerja milik Hinata, merasa tak suka dengan sikap Neji yang memasuki ruangannya begitu saja Hinata hanya mendecih, walau bagaimana pun ia adalah kakak sepupunya.
"Aku tak suka ada orang yang mengacak-ngacak meja kerjaku meski orang itu adalah sepupuku sendiri."
Neji berdiri dari kursinya, ia mengambil sebuah laporan dan memberikan berkas itu pada Hinata.
"Apa kau yang membantu Namikaze eh?"
"Ada masalah dengan itu?" Balas Hinata seraya menerima berkas yang di berikan Neji untuknya.
"Kau tau, kau baru saja membuat masalah besar Direktur."
Hinata membulatkan matanya saat ia melihat Namikaze kini kalah tander lagi dengan perusahaan Nara,
"Kau tau berapa kerugian karena ini? Jika Hiashi-sama mengetahuinya apa kau masih baik-baik saja?"
"Darimana? Darimana kau tau tentang ini Neji-nii?"
"Penarikan dana yang cukup besar tentu saja menarik perhatianku, dan ternyata itu atas nama Hinata-Hyuuga yang mengalir pada rekening Namikaze Minato, segampang itukah kau memberikan dana dengan cuma-cuma hanya karena kau berteman baik dengan Naruto eh?"
"..."
"Dalam dunia bisnis seperti ini kau tidak bisa menggunakan perasaanmu Hinata, untuk itu kenapa Hiashi-sama mendidikmu menjadi orang yang dingin."
"..."
"Aku bisa menangani ini agar tak di ketahui Hiashi-sama, mungkin jika aku menjual beberapa mobil, jam tangan dan beberapa asset berharga yang ku punya ini akan sedikit menutupi, ku harap kau melakukannya juga untuk bisa menutupinya."
"Hai wakarimas Neji-nii, gomene..."
Neji mengacak puncak kepala Hinata, "Kau satu-satunya saudara yang ku punya Hinata, apapun akan ku lakukan untuk melindungimu, ku harap kau bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan kau menanggung hidup ribuan karyawan Hyuuga, jika kau terus bertindak ceroboh seperti ini cepat atau lambat Hyuuga akan hancur."
"..."
"Tapi... Bagaimana dengan Namikaze?"
"Aku telah membicarakan ini dengan Minato, kita akan memberinya satu kesempatan lagi."
Hinata tersenyum, "Yokatta... Arigatou Neji-nii."
"Hanya satu kesempatan, jika dia merugikan lagi terpaksa aku harus memblacklistnya."
"Yah.. Aku akan membicarakan ini dengan Minato-san, Arigatou Neji-nii."
"Sudahlah, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tidak bersama Sasuke eh?"
"Hm, dia mengikuti pertandingan kejuaraan Fisika nasional, jadi dia hanya mengantarkanku saja."
"Biar aku yang mengantarmu kembali ke sekolah."
"Hai..." Hinata tersenyum ketika Neji merangkul pundaknya.
...
Perwakilan dari Konoha High School untuk mengikuti kejuaraan nasional fisika adalah Sasuke, Sakura dan juga Gaara, mereka bertiga pergi dengan menaiki mobil sekolah yang sengaja di sediakan Tsunade agar memudahkan mereka sampai di Ame, perjalanan yang cukup jauh itu menyita banyak waktu.. petang tiba mereka bertiga masih berada di Amegakure, Sasuke melirik jam tangan yang melingkari tangan kirinya, waktu menunjukan pukul enam sore… ia terlihat gusar mengingat jemputan sekolah belum juga datang menjemput mereka, perjalanan Ame-konoha mencapai waktu sekitar 2-3jam dan Sasuke ingat ia membuat janji untuk makan malam dengan Hinata malam ini.
"Sasuke-kun?" Sasuke berbalik ketika seseorang memegang pundaknya lembut, emerlard yang menyejukan hati bagi siapa saja yang melihatnya.. yah Sakura Haruno yang juga masih berstatus sebagai kekasihnya itu kini datang menghampirinya, Sakura duduk di samping Sasuke dengan menyodorkan sekaleng minuman hangat, cuaca malam ini cukup dingin dan salju akan segera turun.
"Aku yakin, kita pasti akan memenangkan pertandingan ini."
"Hm.. semoga saja."
Hening jeda beberapa detik, keduanya menatap senja yang mulai digantikan oleh gelapnya malam, Sakura meneguk minumannya dan tangannya sesekali menggenggam erat minuman panas itu, ia menggigil.
"Di- dingin yah.. Sasuke-kun."
"Hn, sepertinya akan ada badai salju."
Sakura menatap Sasuke tak mengerti, biasanya Sasuke akan segera memeluknya atau melepaskan jaket atau almamater,jas dan apapun yang ia pakai untuk membuat Sakura hangat, tapi kali ini pria berambut raven itu lebih asik menatap langit seolah tak peduli dengan kekasihnya.
"Sasuke-kun." Sakura merapatkan duduknya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke, kedua tangannya melingkari tangan kiri kekasihnya dan memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, rasanya sudah lama sekali saat-saat seperti ini kita lewati."
Sasuke masih tak merespon, ia tetap diam namun hatinya merasa gusar apa yang harus di lakukannya sekarang, jahat memang jika dia melupakan Sakura yang telah dua tahun lebih melengkapi hidupnya namun disatu sisi kini ia juga telah memiliki seorang Hyuuga Hinata yang juga telah berstatus menjadi istrinya dan dia mencintai wanita yang menurutnya asing itu dalam waktu yang singkat.
"Sasuke-kun !" Sakura mendongak dan menatap Sasuke dengan tatapan kecewa ketika Sasuke tak merespon sama sekali perkataannya.
"Kau berubah… kau berbeda, apa kau sudah tak mencintaiku lagi eh?"
Sasuke meneguk minumannya dan melempar kalengnya ke tempat sampah yang tak jauh berada di depannya.
"Sakura, Gomene."
Sakura melepaskan pelukannya, ia mulai memberi jarak dan mulai tak merasa baik ketika dua kata itu keluar dari mulut kekasihnya.
"Sakura aku-"
"Cukup ! aku tidak mau lagi mendengar apapun yang keluar dari mulutmu Sasuke-kun."
"Tapi-"
"Tidak, aku tak mau mendengarnya… kau hanya akan menyakitiku jadi lebih baik jika aku tidak tau, lebih baik jika aku di bohongi dan mungkin aku lebih baik mati."
Sakura berlari ke tepi danau yang tak jauh dari tempat mereka berada, ia menoleh Sasuke yang telah mematung menatapnya, air mata itu tak tahan ia bendung dan tumpah bersamaan dengannya terjun ke dalam danau itu.
Ia meloncat "
SAKURAAA….. !"
…
.
..
"Hai.. Arigaou Okasaan." Hinata menutup telepon dengan senyuman terukir di bibirnya, baru saja Mikoto mengatakan bahwa malam ini mungkin akan menjadi malam special untuknya dengan Sasuke.. tapi Hinata tak berharap banyak, baginya bisa makan malam bersama Sasuke saja itu sudah cukup. ….
"Baka ! Sakura.. sadarlah…"
Sasuke terus menekan dada dan perut Sakura untuk mengeluarkan air yang mungkin telah masuk ke dalam tubuhnya, Sasuke bahkan memberinya nafas buatan berkali-kali namun hasilnya tetap saja, Sakura masih tak sadarkan diri. …
Hinata mulai menata setiap masakan yang selesai dibuatnya di meja makan, salju yang turun membuatnya harus mendekati jendela, yah.. ini adalah awal musim salju, Hinata tersenyum mengingat ia begitu menyukai salju, salju yang dingin sama seperti dirinya.. namun musim salju kali ini berbeda karena ia kini berstatus menjadi istri dari seorang Uchiha, "Kami-sama.. semoga malam ini bisa menjadi awal yang baik untuk hubungan kami."
..
"Tch." Sasuke menggendong tubuh Sakura dan menyetopkan sebuah taksi,
"Kenapa dengan Sakura?"
Gaara berlari mendekati Sasuke.
"Dia terjatuh di danau, dan sampai sekarang masih tak sadarkan diri."
"Hei, apa yang kau lakukan, mobil jemputannya sepuluh menit lagi tiba."
"Sepuluh menit lagi mungkin Sakura kehilangan nyawannya kau tau HAH !"
"Tapi-"
"Dengar, ku harap kau tunggu jemputan kita dan pergi ke manshion Uchiha, katakan pada Hinata untuk tak menungguku."
"Sasuke-"
"Ku mohon Gaara."
"…"
Gaara terdiam dan seketika taksi di depannya itu meluncur dengan kecepatan tinggi. … ..
"Sempurna." Lirihnya ketika menyalakn lilin-lilin cantik yang menghiasi meja makan malamnya, Hinata melirik jam dan waktu menunjukan pukul delapan malam, "Harusnya Sasuke sudah disini." Lirinya lagi, Hinata mengambil ponsel dan mencoba menghubungi suaminya namun sayang sampai saat ini Sasuke masih tak bisa dihubungi.
… "Sakura terlalu banyak meminum air, tapi kami telah berhasil menyelamatkannya jika terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tak bisa diselamatkan, kau benar-benar seorang kekasih yang hebat untuknya." Ujar seorang Dokter seraya menepuk-nepuk bahu Sasuke.
"Arigatou."
"Kondisinya masih sangat lemah dan mungkin Sakura bisa pulang besok jika keadaannya sudah membaik, tapi jika kondisinya masih tak memungkinkan untuk pulang ku harap dia harus melakukan bed rest, mungkin sekitar lusa kalian bisa kembali ke konoha, yah kita berdoa saja semoga Sakura cepat membaik."
"Hn, Hontoni Arigatou." Dokter itu tersenyum seraya pergi meninggalkan Sasuke, Sasuke memasuki kamar rawat Sakura ia duduk di samping Sakura dan membelai pipinya lembut.
"Tak seharusnya kau melakukan ini Sakura, kenapa kau begitu bodoh." Sasuke menggenggam tangan Sakura lembut,
"Cepatlah sembuh Sakura."
…
..
.
Gaara terdiam melihat wanita bersurai indigo yang tengah tertidur diatas meja makan, ia mendekat dan membuka jaketnya untuk menyelimuti Hinata, kedua matanya memperhatikan hidangan yang tersedia di meja bersama dengan lilin yang mulai meredup, ia melirik jam menunjukan pukul sebelas malam, pantas saja Sasuke menyuruhnya untuk menemui Hinata pikirnya. Gaara menggendong tubuh Hinata dan membawanya ke kamar tidur dengan seorang maid yang menunjukan arah kamar tidur Hinata, Gaara membaringkan Hinata dan menyelimutinya ia menatap Hinata sejenak sebelum pergi meninggalkannya.
…
Sasuke berdecih kesal saat melihat ponselnya mati, dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri seandaainya saja ia tak mengacuhkan Sakura dan membuat Sakura terjun ke danau mungkin semuanya akan baik-baik saja, dan mungkin saat ini dia telah bersama Hinata… namun ia menyadari dirinya yang begitu pengecut, ia sadar akan semua kesalahan yang ditimbulkannya sendiri, seandainya saja ia tak pernah berjanji untuk meninggalkan Sakura, seandainya ia tak terikat janji dengan Sakura. Kedua onyxnya menyipit ketika melihat sebuah telepon di samping receptionist, dan sepertinya ia bisa mengetahui keadaan Hinata sekarang.
..
"Gaara-kun." Hinata menuruni tangga dan melihat Gaara yang tengah memakan masakan yang dibuatnya untuk makan malam bersama suaminya.
"Hm? Bukankah kau seharusnya tidur." Balasnya santai dengan terus memakan makanan yang tersedia di meja
"Kenapa kau ada disini? Dimana Sasu-"
"Aahh.. tak ku sangka kau pandai memasak Direktur."
Gaara terkekeh, "Baiklah ku rasa aku harus segera pulang, terimakasih untuk makan malamnya."
"Tunggu, Gaara-kun !" Gaara terpaksa berhenti, Hinata mendekati Gaara dan menatapnya serius "Dimana Sasuke? Apa dia tidak pulang bersamamu?"
"…"
"Jawab aku Gaara, ini perintah !"
Gaara menghela nafas dan menghembuskannya perlahan,
"Aku tak tau ini kabar baik atau kabar buruk untukmu."
"Eh?"
"Sakura tenggelam di danau dan tak sadarkan diri, Sasuke menyuruhku untuk pulang dan menemuimu untuk mengatakan bahwa kau jangan menunggunya."
"Tenggelam? Bagaimana bisa?"
"Entahlah, aku menemukan Sakura telah di bopong Sasuke dan dengan panic Sasuke membawanya ke rumah sakit, aku tak tau kejadian detailnya seperti apa."
Hinata terdiam,
"Apa aku bisa pulang sekarang?" ujar Gaara lagi
"Lalu? Kabar baiknya?"
"Yah.. mungkin kau bisa mendoakan agar Sakura tak selamat dan dengan begitu-"
Hinata terkekeh memotong pembicaraan Gaara,
"Aku tak sepicik yang kau kira."
Balasnya seraya menarik kursi meja makan dan mendudukinya. "Bisakah kau menemaniku menghabiskan masakan ini? Kau tau aku membuatnya susah payah."
Gaara tertawa kecil,
"Dengan senang hati Hinata-sama."
…
..
.
"Moshi-moshi dengan kediaman Uchiha."
"Hn, ini aku Sasuke apa Hinata sudah tidur?"
"Jam sembilan tadi Hinata-sama tertidur di meja makan, saya sudah menyuruhnya untuk pindah tapi Hinata-sama tidak mau dia ingin menunggu anda tuan, lalu sekitar pukul sebelas malam sekertarisnya yang bernama Gaara datang dan memindahkan Hinata-sama ke tempat tidur tapi tak lama kemudian Hinata sama terbangun dan kini mereka berdua sedang melakukan makan malam bersama."
"…"
"Tuan?"
"Hn, Arigatou… jangan katakan padanya bahwa aku menghubungi kediaman Uchiha."
"Hai wakarimas Sasuke-sama."
…
.
Kedua emerlard itu perlahan terbuka ketika pagi menjelang, Sakura tersenyum ketika melihat Sasuke tertidur di sofa kamar inap nya, ia perlahan bangun dan mendekati pria berambut raven yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu, ia menatap dalam onyx yang tertutup itu sendu seraya meneteskan air matanya, "Jangan tinggalkan aku Sasuke-kun, aku mohon." Lirihnya seraya mengecup bibir kekasihnya itu singkat, Sakura tersenyum dan berdiri, ia menatap Sasuke cukup lama sebelum dirinya memasuki toilet.
...
Sasuke membuka matanya saat Sakura sudah tak berada di depannya, ia sudah bangun rupanya, dan ia mendengar perkataan Sakura ketika Sakura mengecupnya lembut, yahh .. Hal seperti ini sungguh membebaninya, sampai kapan ia akan terus terikat hubungan seperti ini dengan Sakura sementara Hinata menjadi semakin dekat dengan pria bertato Ai yang juga menjadi rivalnya sejak dulu, Sabaku no Gaara, makan malam yang seharusnya ia lewati malam tadi bersama dengan Hinata tergantikan dengan Gaara, memang ia yang menyuruh Gaara untuk menemui Hinata, namun ia tak tau kalau Gaara secara tak langsung menggantikan posisinya malam tadi, sejuta prasangka dan pikiran buruk menghantui pikirannya, ia takut terjadi sesuatu antara Hinata dan Gaara malam tadi, Sasuke mendecih.. Walaupun ia tak lama mengenal Hinata atau bisa di bilang pengenalan dalam waktu singkat, tapi ia yakin Hinata tak mungkin mengkhianatinya. ...
"Sasuke-kun? Kau sudah bangun."
"Hn, segera persiapkan dirimu kita pulang sekarang."
Sakura tersenyum seraya duduk di samping Sasuke, "Masih terlalu pagi untuk pulang, kau tau disini ada taman Sakura yang sangat indah, aku ingin ke sana bersamamu."
"Tujuan kita kesini hanya karena kejuaraan Fisika itu, bukan untuk bersenang-senang, dan jika kau tak melakukan hal bodoh seperti kemarin mungkin aku tak akan berada disini lebih lama."
"Jadi kau menyesal? Kau menyesal telah menolongku dan masih berada disini bersamaku eh? Jika seperti itu kenapa kau tidak biarkan aku mati saja HAH !"
"Segera persiapkan dirimu, istriku telah menunggu dan aku tak ingin membuatnya khawatir lagi."
"Apa?"
Sasuke keluar meninggalkan kamar rawat Sakura tanpa memperdulikan Sakura yang begitu memendam amarah padanya, yah .. Mungkin sudah saatnya untuk berlaku tegas pada Sakura. Sakura mengacak rambutnya kesal, "Arrgghhh !" Teriaknya, Sasuke mendengar teriakan itu di luar sana, namun ia menahan dirinya untuk masuk, ia harus bisa meyakinkan Sakura, "Prank !" Terdengar bunyi sebuar lemparan pecahan gelas, Sasuke menghentikan langkahnya.. Namun ia tak kembali, ia menghela nafas sejenak dan kemudian kembali melangkah,
"Gomene Sakura."
TBC
Terimakasih telah menunggu, terimakasih juga untuk semua review kalian ... Maaf tidak bisa membalas satu-satu. Arigatougozaimasss \(^^)/
