Hinata POV:
Aku melihat langit kini tak henti meneteskan air matanya, kelabu... Yah musim salju memang tak seindah musim semi, sama seperti Hinata yang tak seindah Sakura, Hinata yang dingin, sombong, angkuh dan selalu menyakiti orang ketika berucap, tak seperti Sakura yang ramah, cantik, energik, periang meski dirinya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan tetapi dia bisa tersenyum, tak seperti diriku yang dilimpahi kemewahan tapi aku tak tau bagaimana caranya tertawa.. Menyedihkan.
End of Hinata Pov
"Pretend"
Created : Lavenderviolletta
Disclamer Naruto by:
Masashi Kisimoto
Hinata. H x Sasuke. U
Romance,Hurt/comfr
WARNING
..
OOC, MISS TYPO
..
Happy Reading
...
Sasuke berjalan mendekati Hinata yang masih tertidur, yah... Hari ini adalah hari libur, wajar saja jika Hinata masih terlelap meski cahaya matahari telah memasuki melalui celah jendela kamar mereka, Sasuke menatap wajah damai Hinata seraya mengelus pipinya sesekali, "Gomen' ne belum bisa membuatmu bahagia." Ujarnya seraya berbisik seolah takut wanita yang berstatus sebagai istrinya itu terbangun, "Aishiteru." Ucapnya lagi seraya mencium bibir Hinata lembut dan pergi meninggalkan kamar.
...
Hinata menatap pintu yang tertutup rapat itu kosong, ia tak tidurr ... Dia mendengar dan merasakan setiap sentuhan yang diberikan Sasuke untuknya, ia terdiam... Hatinya tak memungkiri bahwa ia begitu mencintai Sasuke, namun ia terlanjur berucap... Ia mengatakan bahwa ia akan pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Sasuke setelah Uchiha kembali seperti dulu, dan sepertinya ia menyesal dengan perkataannya dulu, egois bisa menghancurkan segalanya.
..
"Moshi-moshi." Hinata terdiam setelah mendengar suatu kabar yang dia tak tau itu kabar menyenangkan atau menyedihkan untuknya. "Hn, Yokatta.. Aku akan segera kesana."
...
"Ohayo." Sapa Sasuke ketika Hinata menuruni tangga.
"Ohayo Sasuke-kun, kapan kau tiba?"
Tanyanya pura-pura yang padahal ia juga menyadari ketika Sasuke memasuki kamar tadi pagi.
"Sekitar satu jam yang lalu."
Hinata mendekati meja makan dan mengamati setiap masakan yang tersaji disana, "Kau yang membuat ini?"
"Hn."
"Tak ku sangka kau pandai memasak."
"Aku hanya mengikuti ini." Ujarnya lagi seraya memperlihatkan buku masak yang dipegangnya.
"Hei, itu milikku."
Sasuke terkekeh, "Ternyata tak sesulit yang aku bayangkan." Sasuke menarik kursi dan mendudukan dirinya disana.
"Yah, ku pikir memasak adalah sesuatu yang sulit, tapi ternyata tidak, aku bahkan bisa membuat masakan berkelas tadi malam sayang kau tak bisa memakannya."
Sasuke terdiam, "Gomen ne."
"Tak perlu meminta maaf, tindakanmu benar, jika kau meninggalkan Sakura malam itu mungkin aku akan sangat marah padamu."
"..."
"Oishi.. Arigatou untuk sarapannya Sasuke."
Sasuke menghentikan tangan Hinata saat Hinata akan meninggalkan ruang makan, "Mau kemana?"
"Aku akan ke kediaman Hyuuga, Neji-nii meminta ku untuk kesana sekarang."
"Biar aku yang mengantarmu."
Hinata tersenyum seraya melepaskan tangan Sasuke yang memegang tangannya. "Kau baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh, kau bahkan tak tidurr tadi malam hm? Beristirahatlah."
"Tapi-"
"Aku pergi bersama Gaara, lagi pula Hyuuga telah menggajinya bukan? Aku tak ingin dia hanya memakan gaji buta, jika kau mau kau bisa menjemputku nanti malam, jaa."
Sasuke hanya bisa diam saat Hinata pergi begitu saja, entah kenapa dia tak bisa menahan kepergian Hinata, bisa saja dia memaksa untuk mengantarnya tapi dia merasa tak pantas untuk itu, ia masih menyimpan perasaan bersalah, terlebih sikap Hinata yang seperti ini justru membuatnya semakin merasa bersalah, dan kini ia harus merelakan Hinata pergi bersama Gaara.
...
Kediaman Hyuuga
Hinata terkejut ketika Itachi berada disana bersama Neji, ia perlahan berjalan mendekati keduanya,
"Duduklah, ada hal yang harus kita bicarakan enam mata." Ujar Neji
Hinata melihat beberapa dokumen yang ada diatas meja, "Apa itu?" Tanyanya bingung.
"Mulai saat ini semua asset milik Uchiha telah kembali menjadi milik Uchiha."
"Yah, aku tau... Bukankah kau telah mengatakannya ditelepon tadi?"
Neji menghela nafas, "Hm, kau benar.. Untuk itu aku menyuruhmu datang agar kau bisa menandatangani semua ini."
"Kenapa aku? Ini semua diluar kuasaku Otousaan-"
"Hiashi-sama memintaku agar kau yang mengurus semuanya."
"Tapi-"
"Ayahmu sibuk Hinata, untuk itu dia menyuruhmu membereskan semua ini."
"Tidak bisa, aku tak bisa menandatangani ini secara cuma-cuma, bisa kau hubungkan aku dengan Tousaan Neji-nii."
Neji mengangguk seraya mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Hinata ketika hubungan ponselnya tersambung."
"Hinata gomen'ne, Tousaan masih belum bisa kembali ke Jepang, Uchiha Itachi telah menjadikan Kedutaan Amerika sebagai sekutu Uchiha sekarang, Uchiha juga telah membayar semua hutangnya pada kita, untuk itu semua asset milik Uchiha bisa kembali dimiliki Uchiha corporation, Tousaan bersama dengan Fugaku dan Mikoto di Amerika, untuk itu semua yang seharusnya Tousaan tandatangani Tousaan mewakilinya padamu, sebentar lagi pengacara kita Asuma juga akan datang, Tousaan mempercayaimu Hinata, lakukanlah dengan baik."
Hubungan telepon terputus begitu saja tanpa Hinata berkata sedikit pun, Hinata mengembalikan ponsel Neji, "Kita tunggu sampai Asuma-san datang." Ujarnya.
...
Meski berat ketika dirinya menggerakan tinta diatas materai itu namun akhirnya ia telah selesai juga melakukannya, ia menarik nafas dalam seraya menjulurkan tangannya "Selamat Itachi-nii, kau benar-benar hebat."
Itachi tertawa kecil seraya menerima uluran tangan Hinata, "Arigatou Hinata, aku melakukan ini bukan ingin memisahkan diri dengan Hyuuga, ini semua untuk kita semua, bukankah margamu juga sekarang Uchiha hm?"
Hinata tersenyum hambar, semuanya mungkin tak mengetahui ketika Uchiha kembali berjaya ketika itu juga ia harus siap untuk meninggalkan Uchiha.
Sebuah pintu tergeser dan menampilkan Uchiha bungsu, Sasuke heran melihat Itachi,Neji,Hinata dan juga seorang pengacara disana, "Hei Sasuke kemarilah." Ujar Itachi seraya menepuk sofa kosong disampingnya.
"Apa ini?" Sasuke menautkan alisnya saat ia melihat sebuah surat pernyataan yang telah ditanda tangani Hinata, "Ini-"
"Hn, kau mengerti sekarang?"
"Tch, bagaimana bisa? Bukankah-"
"Bersyukurlah karena kau memiliki kakak yang jenius."
"Katakan? Apa yang sebenarnya terjadi disini?"
"Berkat kepintaranku Uchiha corp berhasil menjalin kerjasama dengan kedutaan AS, berita ini mungkin akan tersebar besok, yosh.. Mungkin aku akan menetap disana selama beberapa tahun."
Sasuke terkekeh, "Baka Aniki." Ujarnya seraya memeluk Itachi, "Tak heran jika Otousaan sangat membanggakanmu, Arigatou."
...
Sasuke dan Hinata terdiam ketika mereka berada di dalam mobil sampai dimana mobil mereka terhenti di sebuah Garasi Uchiha, Hinata keluar dan pergi memasuki manshion meninggalkan Sasuke yang masih sibuk mengunci mobilnya.
..
"Kami-sama" lirih Hinata ketika dirinya kini berada di dalam kamar, ia menatap langit malam itu sendu, sebuah tangan melingkari pinggangnya dan menciumi tengkuk lehernya, ia mengenal bau parfum ini, yah.. Tentu saja pemilik suaminya.
"Kau harus berhenti menjadi Direktur Hinata, kau hanya tinggal di rumah, mengurusi anak-anak kita dan melayaniku ketika aku lelah setelah bekerja."
Hinata terkekeh, "Kau lupa? Kita masih berstatus sebagai pelajar, perjalanan kita bahkan masih panjang, dan kau berkata seolah kau telah menjadi pria dewasa yang sudah bekerja."
"Tapi kita sudah menikah, dan aku bisa kuliah dengan memegang kendali perusahaan Uchiha, sama sepertimu saat ini."
Hinata berbalik, ia menatap Sasuke dalam, "Kau lupa sesuatu Sasuke?"
Sasuke menatap Hinata seolah menginginkan Hinata meneruskan perkataannya.
"Hanya sampai Uchiha bisa kembali bangkit seperti dulu, setelah itu aku akan menghilang."
Sasuke terkekeh, "Apa yang kau katakan?"
"Aku yakin kau mengingatnya."
"Itu hanya perkataan ketika kau sedang emosi Hinata."
"Tidak, itu adalah janjiku."
"Jadii, kau akan meninggalkanku?"
"Kau mempunyai kekasih dan-"
"Tapi kau istriku Hinata !"
"Tapi kau-"
"Aku mencintaimu Uchiha Hinata !"
Sasuke menaikan satu oktaf suaranya menandakan bahwa ia tak suka dengan Hinata yang mengatakan bahwa ia akan meninggalkannya,
"Harus dengan cara apalagi aku menyakinkanmu bahwa aku hanya mencintaimu eh?"
"..."
"Tch, kenapa kau begitu keras kepala !"
"..."
"Gomen'ne Sasuke."
"Diamlah, aku tak peduli apa kau mencintaiku atau tidak, yang penting bagiku sekarang kau istriku dan kau milikku." Sasuke mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepas Hinata sedikitpun, tak ingin wanita bersurai indigo itu lepas dari pelukannya,
"Gomen'ne." Ujar Hinata disela-sela tangisannya, Sasuke mengusap air mata yang menetes di pipi Hinata dan mencium bibirnya lembut, Hinata diam dengan segala sentuhan yang Sasuke berikan untuknya, "Bisakah kau berhenti bersandiwara? Aku tau kau juga menginginkannya." Bisik Sasuke ditengah-tengah ciumannya, perlahan Hinata mulai membuka mulutnya dan membalas setiap ciuman yang Sasuke berikan untuknya.
...
Pagi menjelang, entah apa yang terjadi pada keduanya malam tadi, yang jelas saat ini keduanya berada di satu tempat tidurr tanpa menggunakan pakaian mereka, Hinata terbangun dan bersemu saat melihat keadaan dirinya yang kini berantakan, ia memunguti bajunya yang berserakan di lantai karena ulah Sasuke semalam dan memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap, yah.. Hari ini hari senin, dan dia harus sekolah.
...
Hinata kembali bersemu saat ia kini bertemu Sasuke di meja makan, entah kenapa ia begitu malu melihat wajah Sasuke setelah kejadian malam itu,
"Kau sakit?" Tanya Sasuke seraya meletakan punggung tangannya di kening Hinata.
Hinata menggeleng lemah dengan terus menundukan wajahnya,
"Aneh, suhu tubuhmu normal, tapi kenapa wajahmu merah?" Tanyanya seraya memegangi kedua pipi Hinata.
"A- aku baik-baik saja." Balas Hinata dengan menepis tangan Sasuke.
"Hei? Sejak kapan kau menjadi gagap?" Sasuke terkekeh, membuat Hinata semakin blushing.
"Aa.. Wakatta," Sasuke menyeringai, "Karena tadi malam hm?"
"Urushaii ! Aku pergi."
Sasuke terkekeh dan menahan tangan Hinata, "Gomen'ne," ia membalikan tubuh Hinata, memegang dagunya menginginkan kedua lavender itu menatapnya, "Aku sengaja melakukan itu agar kau tak meninggalkanku, semoga benihku akan segera menghasilkan seorang anak yang hebat disini." Ujar Sasuke dengan memegangi perut Hinata, Hinata semakin blushing dan kembali menepis tangan Sasuke, "A-apa yang kau katakan Sasuke ! Aku tidak mau hamil, a-aku masih berstatus siswi-"
"Tapi kau telah menikah, lalu? Apa salahnya jika kau mengandung eh? Kau bisa melakukan home schooling jika kau mau."
"Tch, berhenti bicara, kita sudah sangat terlambat."
Sasuke terkekeh kembali, ia berjalan menyusul Hinata yang telah berlari terlebih dulu meninggalkannya.
...
KSHS
Hinata menautkan alisnya saat ia mendapati sebuah surat beramplop pink dengan motif bunga sakura yang berada di laci mejanya, perlahan ia membukanya dan membaca isinya.
"Aku menunggumu di ruang Audio saat jam istirahat nanti, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu, ku harap kau datang."
-Sakura Haruno-
..
Jam istirahat tiba, Hinata penasaran dengan apa yang ingin Sakura katakan padanya, ia menelusuri setiap koridor untuk sampai di ruangan itu, ia membuka pintu ruangan bertuliskan Audio Visual itu dan mendapati seorang berambut cherry blossom tengah duduk memunggunginya, ia menggeser pintunya agar kembali tertutup,
Hinata kini berdiri di depan Sakura, Sakura berdiri emerlard dan lavender itu saling bertatapan,
"Terimakasih telah menyempatkan waktumu untuk datang menemuiku."
"Katakan ! Apa yang ingin kau katakan."
"Aku hanya menagih janjimu, janji seorang Hyuuga Hinata yang akan meninggalakan Uchiha Sasuke setelah Uchiha corp kembali berjaya."
Hinata terdiam, bagaimana mungkin Sakura mengetahui soal ini pikirnya, apa Sasuke menceritakannya pada Sakura?
"Darimana kau tau soal ini?"
"Darimana aku tau itu tidak penting, aku hanya ingin tau seberapa bisa kau memegang omonganmu Direktur."
"..."
"Seorang Direktur tentu bijaksana dan bisa memegang setiap janjinya, tentu saja untuk masa depan perusahaan dan juga ribuan karyawan yang bekerja disana, bukan begitu? Hyuuga Hinata."
"Tch, kau hanya orang lain, siapa kau yang begitu berani mengusik kehidupanku, masalah janjiku, dan seperti apa urusanku itu bukanlah urusanmu."
"Begitu kah? Karena telah terpikat hati seorang Uchiha Sasuke lalu kau akan melupakan janjimu eh?"
Hinata terkekeh, "Aku tak mempunyai banyak waktu membicarakan hal konyoll seperti ini."
Hinata beranjak, namun Sakura menahannya, memegang tangannya kasar.
"PLAK !"
Hinata memegangi pipinya yang terasa panas,
"Kau bilang hal konyoll ehh? Kau tau Sasuke adalah hidup dan matiku, hanya dia yang aku punya satu-satunya, kenapa kau tak bisa melepaskan yang bukan milikmu, kenapa kau bisa menjadi penghancur kebahagian orang lain, kenapa kau bisa bahagia diatas penderitaan orang lain, kenapa kau masih menindas orang yang tak memiliki apa-apa dengan merampas satu-satunya yang dia punya eh? Kenapa-"
Sakura berhenti berkata saat dia melihat Hinata yang hanya menatapnya datar seraya memegangi pipinya, ia tak sadar bahwa ia telah menampar Hinata,
"A- aku.. Gomen'ne, tamparlah aku Hinata, Gomenasai."
"PLAK ! PLAK ! PLAK !"
Sakura menampar dirinya sendiri berkali-kali dan berlutut di depan Hinata seraya menangis sejadi-jadinya,
"Gomen'ne Hinata.. Hikss.. Gomen'ne."
Hinata menatap Sakura yang tertunduk dibawahnya itu sendu, ia ikut berlutut untuk menyejajarkan dirinya dengan Sakura dan memberikan sapu tangan.
"Menangislah jika itu membuatmu lega, itulah yang dikatakan seseorang padaku."
Sakura terbelalak kaget saat melihat sapu tangan itu terdapat rajutan tulisan AI sama dengan tato yang ada di dahi Gaara
"Bukankah ini-"
"Yah, dia juga mengatakan padaku untuk menyimpannya karena saat itu aku memerlukan sapu tangan ini, tapi sekarang aku sudah tak membutuhkannya lagi dan kau yang lebih membutuhkannya."
Sakura terdiam, dia meremas rok seragamnya seraya mengigit bibir bawahnya,
"Aa.. Dan kau tak usah khawatir."
Sakura mendongakan kepalanya, menatap Hinata.
"Aku akan menepati janjiku."
Seketika itu juga pintu bergeser dan Sakura berdiri, ia menghapus air matanya dengan sapu tangan yang di berikan Hinata,
"Arigatou Hinata, Hontoni Arigatou."
Sakura kembali menangis,
Hinata terdiam dibalik pintu, ia menyandarkan punggungnya disana, ia juga mendengar ketika Sakura berterima kasih seraya menangis terharu, ia mendengar semuanya karena ia masih diam disana, bell istirahat telah berbunyi, menandakan bahwa ia harus segera memasuki kelasnya, Hinata tersenyum saat melihat Sasuke di ujung koridor, Onyx itu menatap Hinata dan berlari memeluknya,
"Kau tau aku mencemaskanmu."
Hinata tersenyum, "Hei, disini tempat umum."
"Tch, persetan dengan tempat umum, kau yang membuatku hampir gila karena mencarimu."
"Kau berlebihan."
Hinata melepaskan pelukan Sasuke,
"Sudah saatnya kita masuk kelas Sasuke."
Sasuke menggeleng, ia menarik tangan Hinata dan membawanya menuju parkiran.
"Apa yang kau lakukan? Kita harus kembali."
"Karena kau menghilang dan aku mencarimu aku jadii tak makan dan kau harus bertanggung jawab."
"Hei-"
"Temani aku makan siang."
...
Hinata menatap Sasuke yang sedang melahap makan siangnya dengan sangat lahap, untuk yang pertama kalinya Hinata melihat Sasuke begitu berselera, teringat saat tadi Sasuke memeluknya di koridor, Sasuke begitu mencemaskannya, bahkan ia mengatakan bahwa ia hampir gila, lalu? Bagaimana jika Hinata benar-benar meninggalkannya, terlebih ia juga kini telah terikat janji pada Sakura untuk meninggalkan Sasuke, apa yang dikatakan Sakura benar adanya, kenapa ia harus mengambil satu-satunya yang dimiliki orang lain, kenapa ia berada didalam suatu perusak hubungan orang lain, kenapa ia bisa bahagia diatas penderitaan Sakura, jika ia yang berada di posisi Sakura ia juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Sakura, dan kini ia menyadari betapa kejamnya dirinya, yah.. Dia memang tak seharusnya ada di antara Sasuke dan juga Sakura, ia merusak segalanya, tekadnya sudah bulat,, ia harus pergi.
"Sasuke Aishiteru."
"Hm?" Sasuke berhenti mengunyah saat mendengar Hinata berkata tak jelas karena Hinata berkata sangat pelan.
"Tidak, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu seharian ini."
"Bersenang-senang?"
"Hm,, seperti menonton bioskop, pergi ke taman hiburan, menonton kembang api, dan makan malam."
Sasuke tersenyum, "waktunya tidak akan cukup Hime, kenapa tidak hari minggu saja."
"Aku ingin sekarang Sasuke ! Jika kau tidak mau aku akan mengajak Gaara-kun atau Naruto-kun, Sasori-kun juga bisa.
"Kau ini aneh sekali seperti tidak ada waktu lain saja."
"Mau atau tidak !"
"Hn, kita kemana sekarang?"
"Arigatou Sasuke."
...
Hinata POV
Arigatou Kami-sama, Aku bahagia bersama suamiku hari ini, aku senang bisa melihatnya tersenyum, tertawa, kesal dan marah karena kekonyolan dan sikap manjaku, meskipun ini sangat singkat tapi aku bahagia bersamanya hari ini, semoga dia akan tetap bahagia dan tersenyum seperti ini, jangan menjadikannya pria yang dingin dan angkuh, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Sasuke-kun, terimakasih telah mencintaku, Sayonaraa..
End of Hinata PoV
Hinata mengecup kening dan bibir Sasuke lembut saat Sasuke tengah tertidur, ia perlahan melepaskan pelukan Sasuke yang semula melingkari pinggangnya, namun Sasuke semakin merapatkan pelukannya, Hinata menghela nafas, namun ia tak pantang menyerah ia kembali berusaha hingga akhirnya ia bisa melepaskan pelukan itu tanpa membangungkan suaminya, Hinata membereskan pakaiannya dan menaruhnya pada sebuah koper besar, kembali ia menatap Sasuke sebelum dirinya benar-benar pergi,
"Gomen'ne Sasuke.. Aishiteru."
TBC
...
..
.
.
Gomen'ne untuk Zoochan, saya sangat berterimakasih untuk setiap saran-sarannya, saya membaca review anda, hanya saja saya suka lupa dalam penulisannya karena sudah terbiasa seperti itu, Hontoni Gomenasai :( ,, terimakasih telah mereview, terimakasih juga untuk semua yang telah mereview, arigatougozaimasu :)
~Lavenderviolletta~
