Selama nafasku berhembus, hanya kau yang aku cintai Sasuke-kun, aku bersumpah demi hidup dan matiku, aku tak akan menikah dengan orang lain setelah ini, hanya kau yang akan selalu menjadi suamiku, walau takdir tak berpihak pada kita, tapi namamu selalu ada disini, semoga kau bahagia.
Gomen ne
"PRETEND"
Created By:
Lavenderviolletta
Disclamer
..
Naruto By Masashi Kishimoto
..
Sasuke U x Hinata H
Romance/Hurt/Comfort
..
WARNING
OOC, MISS TYPO
…
Happy Reading
"HINATA !"
Keringat dingin membasahi pelipis pria bermata onyx yang tengah terbangun dari tidurnya, ia mengusap keringat dingin itu dengan punggung tangannya, kedua onyxnya menyipit saat dilihatnya wanita bersurai indigo yang semula berada di sampingnya itu tidak ada, "Tch." Ujarnya entah pada siapa, dengan perasaan cemas dan panik ia menelusuri setiap ruangan yang ada di mansion Uchiha mencari keberadaan seorang Hyuuga Hinata, berharap semoga wanita yang berstatus sebagai istrinya itu masih berada di kediamannya, "Dimana Hinata." umpatnya lagi, kembali ia menaiki tangga rumah dan memasuki kamarnya, membuka lemari dan ia menatap kosong isi lemari saat disana tak mendapati pakaian Hinata, yah dugaannya benar, Hinata pergi.. pergi meninggalkannya tanpa ia tau alasan apa yang menyebabkan istrinya itu sampai hati meninggalkannya, apa yang diimpikannya ternyata benar, ia mengusap rambutnya gusar, dengan cepat ia mengambil kunci mobilnya, membanting pintu sembarang menuruni tangga dan dengan kecepatan tinggi ferarri berwarna biru tua itu pergi meninggalkan Mansion Uchiha.
…
Sasuke mulai memperlambat laju mobilnya berharap Hinata masih belum jauh meninggalkan mansion, "The number you're calling is not active please-"
"Aaaargghhhhh….!"
Sasuke melempar ponselnya ke samping kursi mobil yang kosong, kembali ia mencari Hinata menulusuri setiap jalan berharap ia dapat menemukan istrinya, "Hinata." Lirihnya lagi, Sasuke kembali mengambil ponselnya yang tergeletak di sebelah kursi kemudi, dengan susah payah ia meraih ponselnya di sela-sela mengemudikan mobilnya, "Tch.." umpatnya pada dirinya sendiri kesal karena kesusahan mengambil ponsel, ia terus meraba-raba daerah sekitar tempat mobilnya karena kedua matanya fokus pada jalan yang sedang ia kemudikan, ia mendengus saat ponselnya terlempar ke bawah dengan terpaksa ia harus menunduk untuk mendapatkan ponselnya kembali tanpa ia melihat jalanan ia terus mengemudikan mobilnya dan tak menyadari saat ia berjalan keluar jalur, sementara tepat di depannya sebuah mobil truck meluncur dengan kecepatan tinggi, Sasuke terkejut saat ia menyadari bahwa dirinya kini tengah berada di jalur yang salah, dengan cepat ia membanting stir mobilnya untuk menghindari truck yang melintas di depannya, yah.. dia selamat dari truck yang melaju di depannya namun sayang ferarri mewahnya itu harus menabrak benteng yang berada di ujung jalan, dengan pandangan yang sedikit kabur ia mencoba untuk mencari nama kontak di ponselnya, ia masih berusaha untuk menghubungi Hinata,
"Tuuuuttttt….."
Sambungan telepon tersambung, Hinata telah mengaktifkan ponselnya kembali, ia tersenyum tipis disela keadaannya yang setengah sekarat, merasa tak kuat untuk menggenggam ponsel karena kondisinya yang parah setelah kecelakaan menimpanya bersamaan dengan itu juga ia hilang akan kesadarannya, kedua matanya tertutup dengan darah yang terus mengalir di pelipisnya.
…
..
"Dddrrrrtttt… drrrttttt…."
Sasuke-kun Calling..
Hinata menatap ponselnya datar mengabaikan panggilan Sasuke, baru saja tangannya akan menyentuh tombol merah untuk mematikan panggilan Sasuke namun tiba-tiba saja bus yang ia naiki berhenti secara mendadak, kening Hinata menyentuh punggung kursi belakang yang ada di depannya dan ponselnya jatuh terlempar cukup jauh, "Itai." Lirihnya seraya mengusap keningnya yang cukup sakit karena benturan secara mendadak yang diakibatkan supir bus nya.
"Kecelakaan." Ucap beberapa orang yang ada didalam bis dan mulai terdengar ricuh saat hampir semua orang di dalam bus itu tertarik untuk melihat kecelakaan yang mereka lihat, berbeda dengan Hinata, di tengah semua orang sibuk memperhatikan kecelakaan itu ia malah berjalan jongkok untuk mencari ponselnya yang terjatuh, "Akhirnya, ku dapatkan juga kau." Ujarnya lagi, merasa penasaran dengan pembicaraan orang-orang, ia berdiri namun bus yang ia tumpangi kembali melaju dengan kecepatan cukup tinggi, kedua matanya menyipit, yang terlihat di kejauhan matanya hanyalah lampu sirine polisi, ambulan dan beberapa kerumunan orang, ia kembali menduduki kursinya, ia memasukan ponselnya ke dalam tas, mengeluarkan earphone untuk mendengarkan music dan menutup kedua matanya, namun.. baru 5 menit ia memejamkan matanya ia merasa tak tenang, "Sasuke." Ucapnya sendu, ia teringat akan suaminya, kembali ia menolah ke arah belakang, mencoba kembali melihat kerumunan orang yang semakin menjauh dan semakin tak terlihat oleh kedua irish lavendernya, entah kenapa hatinya merasa resah, ia mengambil kembali ponselnya, hatinya mengatakan bahwa ia harus menghubungi Sasuke, tapi egonya berkata lain, ia telah membulatkan tekadnya untuk melupakan Sasuke, untuk pergi dari kehidupan pria yang masih berstatus menjadi suaminya itu, kembali ia membenamkan matanya dan menepis semua pikiran buruknya, ia adalah seorang Hyuuga, dan dia harus memegang setiap janjinya.
….
..
"Sasuke-kun?"
Kedua onyx itu perlahan mengerjap-ngerjakan matanya, menatap kosong wanita bersurai merah muda yang ada di depannya itu datar.
"Kau? Siapa?"
"Eh?"
Sakura terbelalak kaget, "Sasuke-kun." Ujarnya lagi dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Dokter !" Sakura berlari keluar mencari seorang dokter yang semula merawat Sasuke, "Dia- dia tak mengenalku, apa yang terjadi padanya eh?"
Dokter itu menghela nafas panjang sebelum memberitahu yang sebenarnya pada Sakura, "Benturan di kepalanya membuatnya harus kehilangan sebagian memorinya, tapi dia tak kehilangan ingatan ilmu pengetahuannya, ia hanya kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, tapi kau tak usah khawatir dia bisa mengingat kembali semua ingatannya yang hilang dengan cara membantunya mengingat kembali akan masa lalu nya."
Sakura terdiam, "Arigatou."
..
Sakura kembali memasuki kamar Sasuke dengan langkah kosong, ia mendapati kedua onyx Sasuke menatapnya, seolah menginginkan penjelasan akan siapa jati dirinya, Sakura menduduki dirinya di kursi di sebelah Sasuke, "Sasuke-kun, kenapa kau bisa seperti ini." Ujarnya lirih, Sasuke hanya terdiam dan memandang Sakura datar, "Sasuke? Apa itu namaku?" Sakura menghela nafas, "Bahkan kau tak mengenal namamu sendiri." Sakura kembali berdiri dari kursinya, "Sebenarnya apa yang tejadi padamu malam itu? Polisi mengatakan kau mengemudi di luar jalur dan membanting stir sehingga menabrak benteng.", Sakura kembali terdiam, hening sekitar 10 menit melanda keduanya.
"Aku tak habis pikir, apa yang kau lakukan tengah malam tadi, aku sangat mengenalmu Sasuke dan tak pernah aku menemukan suatu kecerobohan dalam dirimu, tapi tadi malam? Kau mengendarai mobil diluar jalur, apa kau mabuk eh? Lalu dimana istrimu? Dimana Hinata ? Apa membiarkanmu? Apa dia tak mengurusimu eh? Apa yang dilakukannya sehingga membiarkan suaminya seperti ini-"
"Hi- .. Hinata? Aarrghh..." Sasuke memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Sasuke-kun?" Sakura mendekati Sasuke, menatapnya cemas "Kau baik-baik saja?"
"Hi- Hinata? Istri? Apa aku telah menikah? Lalu dimana dia? Dimana istriku."
"Eh?"
Sakura terbelalak kaget, ia terdiam.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak, kau belum menikah, dan aku kekasihmu."
"Tadi kau mengatakan-"
"Pikiranku kacau karena kau kecelakaan seperti ini, kita akan segera pulang dan meninggalkan kota ini."
"Eh? Meninggalkan kota?"
"Yah, disini bukan tempat kita, kita hanya sedang menikmati liburan disini, dan karena semalam tadi kita bertengkar kau pergi keluar penginapan dan terjadi kecelakaan itu."
"..."
"Aku akan melunasi pembayaran administrasinya."
Sakura meninggalkan Sasuke yang masih bingung, ia berjalan menuju bagian administrasi dengan pikiran kosong, terbesit keposesifan untuk memiliki Sasuke seutuhnya, "Tch.. Ini gila." Umpatnya pada dirinya sendiri, ia duduk di kursi ruang tunggu.
FLASH BACK
"Moshi-moshi Sasuke-kun?"
"Apa betul ini dengan Nona Haruno?"
"Betul, anda siapa? Kenapa ponsel Sasuke-kun ada bersamamu?"
"Pria yang mempunyai ponsel ini baru saja mengalami kecelakaan, di dalam kontak masuknya hanya ada nomor anda, korban mengemudi diluar jalur saat mencoba menelepon, diperkirakan seperti itu karena tak berapa lama saat kejadian ini korban sedang berusaha menghubungi seseorang, tapi ketika kami mencoba kembali menghubungi kontak keluar yang ada di ponselnya nomornya tak juga aktif, untuk itu kami mencek panggilan masuk, dan ternyata hanya nomor anda yang ada di kontak masuknya, apa anda mengenalnya."
"Dimana? Dimana Sasuke-kun sekarang eh ! Katakan dimana dia? Bagaimana keadaannya, apa-"
"Kami akan emailkan alamatnya setelah telepon kami putus, mohon untuk segera datang."
END OF FLASH BACK
SAKURA POV:
Mungkinkah, mungkinkah kami-sama mengembalikanmu kepadaku Sasuke-kun, tapi kenapa dengan cara seperti ini... Apa yang terjadi padamu malam tadi, dimana Hinata? Hinata? Apa mungkin kau mengejarnya? Apa kau mencarinya karena dia meninggalkanmu? Gomen'ne Sasuke-kun, jika aku tak memaksa Hinata untuk meninggalkanmu mungkin kau tak akan seperti ini, tch.. Apa yang harus aku lakukan sekarang, kemana aku harus membawamu, tak mungkin aku membawamu ke kediaman Uchiha atau Hyuuga, mereka akan menanyakan Hinata, mereka juga akan menceritakan siapa kau sebenarnya, dan kau akan mengingat kembali Hinata dan benar-benar melupakanku, aku akan mengembalikanmu pada Uchiha jika kau benar-benar telah mencintaiku lagi, Gomen'ne aku akan membuat suatu kehidupan baru untukmu, hanya kita... Kau akan kembali mencintaiku.
END OF SAKURA POV
Dua tahun berlalu setelah kejadian kecelakaan yang membuat Sasuke kehilangan memorinya, juga kepergian Hinata yang entah kemana, Sakura membuat drama dari kejadian yang menimpa Sasuke dan Hinata, ia membuat surat untuk kediaman Hyuuga dan juga Uchiha, kedua marga itu hanya mengetahui bahwa Hinata dan Sasuke hanya sedang berlibur, hal ini sengaja Sakura lakukan agar pihak dari keluarga Uchiha ataupun Hyuuga tak mencari keberadaan Sasuke dan juga Hinata, namun yang terjadi saat ini adalah kebalikannya, Sakura sekarang telah hidup berdua dengan Sasuke, namun ia tak merasakan kenyamanan itu, ia selalu merasa takut, takut jika tiba-tiba ia bertemu dengan seseorang yang ia kenal atau Sasuke kenal, meski sekarang dirinya dan juga Sasuke tengah meninggalkan Konoha dan menetap di Amegakure, Sakura dan Sasuke melanjutkan sekolah mereka disana, Sakura membuka sebuah usaha jasa Laundry hasil dari penjualan rumahh warisan ayahnya untuk menyambung kehidupan mereka berdua.
"Sakura."
"Eh?"
Sasuke menyodorkan teh panas ketika Sakura terdiam di depan cerobong asap, kota Ame selalu di guyur hujan dan jarang mendapat sinar matahari, tidak heran jika udara disana cukup dingin.
"Arigatou."
"Hn."
Hening melanda keduanya, Sasuke menutup tirai dan menyalakan lampu ketika petang hari mulai datang, ia mendekati Sakura ketika Sakura masih terdiam.
"Kau sakit?" Ujarnya seraya menaruh punggung tangannya di kening Sakura.
"Tidak." Sakura menggeleng, "aku hanya sedikit lelah."
Sakura beranjak menuju kamar, namun Sasuke menahanya, perlahan tangan Sasuke menyentuh pinggang Sakura dan menggendongnya ala bridal style, membawanya menuju kamar. Sakura tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Sasuke.
"Kita harus segera menyelesaikan sekolah kita, dan menikah." Sasuke mencium kening Sakura lembut, "Oyasumi." Ujarnya lagi.
Sakura tersenyum dan mengangguk lembut, Sasuke tersenyum tipis saat melihat Sakura mulai menutup matanya, ia mematikan lampu dan keluar dari kamar Sakura.
...
ABURAME APARTMENT
"Tidak bisa Shino-kun, gomen'ne sebaiknya kau keluar jika kau terus membuat keributan disini aku takut Shu akan bangun. Ku mohon-"
"Heii, yang membuat keributan siapa eh? Aku hanya ingin mengajakmu ke bartander malam ini, ayolah..."
"Tch.. Kau gila."
"Aku hanya ingin kau menemaniku kesana, apa itu sangat berat untukmu eh? Dengan semua fasilitas yang aku berikan?"
"Aku akan pergi, dari dulu aku tak ingin menerima semua pertolonganmu tapi kau memaksaku, mengancamku akan memberitau keberadaanku pada Hyuuga."
"Hahaaaahaaaaa..." Shino tertawa mentah, "Kau lupa? Sampai saat ini baik Hyuuga atau Suamimu tak pernah ada yang mencarimu."
Hinata terdiam, apa yang dikatakan Shino memang ada benarnya, keluarganya tak mencarinya begitu juga dengan Sasuke, apa dia memang tak berarti atau mereka justru tak memperdulikan kepergiannya.
"Sudah larut, aku lelah... Besok aku harus kembali bekerja."
Shino kembali terkekeh, "Toko bunga itu milikmu sayang.. Aku sengaja membuatkannya untukmu, kau tak harus ke toko setiap hari ada karyawan-karyawanmu yang bekerja kan?"
"Lepaskan Shino..."
"Aku ingin menikah denganmu." Shino mencium tengkuk leher Hinata dan memberikan satu gigitan disana. Hinata berontak ia mendorong Shino kasar.
"Pergilah !"
Bruk !
Hinata menutup Pintu kamarnya dan Shino hanya menyeringai, perlahan ia keluar dari apartemen Hinata, dan menutup kembali pintunya.
...
"Shu." Ujarnya pada seorang bayi berumur satu tahun yang tengah terlelap di kamar tidurnya, "Sasuke bahkan tak mencari kita." Lirihnya lagi seraya mengecup kening bayi laki-laki yang tengah terlelap.
..
Seorang lelaki dewasa dengan pakaian casual putihnya yang merupakan pemegang sementara Hyuuga Coorporation selama menghilangnya Hinata 2 tahun ini tengah terduduk di meja kerjanya dengan kedua tangannya yang terkatup di mulut, kedua alisnya bertautan, pria bermarga Hyuuga ini merasa ganjal dengan kepergian Hinata yang hanya meninggalkan surat dua tahun yang lalu, Suara pintu terbuka menandakan adanya seseorang memasuki ruang kerjanya, namun Neji lebih memilih berdiam diri tak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk.
"Aku mendengar Sasuke kecelakaan 2 tahun yang lalu dan seorang wanita menolongnya." Ujar seorang Uchiha tunggal yang tiba-tiba duduk di depan Neji.
"Wanita itu bukan Hinata, dan surat yang kita terima dari mereka selama ini palsu." Neji berkata dingin
Itachi mengangguk, "Aku tak terlalu memikirkan itu karena ku pikir Hinata bisa mengatasi semuanya, aku terlalu fokus-"
"Yah, sama halnya denganku, kita terlalu larut dalam dunia bisnis, perusahaan, saham dan segalanya membuat kita melupakan Hinata dan Sasuke." Neji merasa menyesal, ia berdiri dari duduknya "Dimana kau sebenarnya Hinata." Lirihnya
"Hn, kau benar."
"Bagaimana dengan Fugaku-sama dan Hiashi-sama?"
Itachi terkekeh, "Entahlah, Otousaan tak pernah menanyakan kabar mengenai Sasuke, dia terlalu sibuk seperti kita, jika Hiashi setelah setahun yang lalu di Amerika bersamaku dia terbang ke brazil dan aku tak tau untuk apa dia pergi kesana, apa dia tak memberitahumu?"
Neji terdiam, "Mungkin dia berbulan madu."
"Apa!?"
"Entah benar atau tidak ada isu yang mengatakan bahwa dia mempunyai wanita simpanan, tapi entah dimana ia menyembunyikannya."
"Sugoii." Itachi terkekeh.
"Itu hanya isu, aku tak tau apa itu benar atau tidak semoga berita itu hanya sampah."
"Hn, ku pikir wajar jika Hiashi-sama menikah lagi." Itachi terkekeh.
"Tch,,, Hinata mungkin akan membunuh wanita itu."
"Hahahaaaaa." Itachi tertawa mentah, "aku hanya becanda."
"Kita harus menemukan Hinata dan Sasuke secepatnya."
"Hn, tapi aku sangat lelah kau tau begitu mendarat aku langsung menemuimu dan kau bahkan tak memberiku segelas air."
Neji mendecih, "Sudah saatnya makan siang, kau mau tetap disini atau ikut keluar bersamaku."
"Kau yang akan membayarkan makan siangnya kan Hyuuga?"
Tak menjawab perkataan Itachi Neji menyambar kunci mobilnya dan keluar dari ruangan kerjanya dengan Itachi yang menyusulnya dari belakang.
...
Saita no no hana yo
Aa douka oshiete okure
Hito wa naze kizutsukeatte
Arasou no deshou
Haaaaa aaaaa aaa aaaa... Hmmm.. Mmmmm ...
"Kenapa berhenti?" Sasuke memeluk Sakura dari belakang seraya mengecup tengkuk lehernya lembut, "Suara yang indah." Ujarnya lagi.
Sakura tersenyum, ia membalikan tubuhnya membelai lembut pipi Sasuke, "Bagaimana ujiannya?"
"Aku berhasil."
"Aa yokatta... Omedetou Sasuke-kun." Sakura memeluk Sasuke erat.
"Hn. Arigatou."
"Aku tau kau pintar dan kau pasti bisa masuk Universitas Ame dengan mudah, tapi .. Aku tak yakin aku bisa lulus sepertimu." Sakura melepaskan pelukannya.
"Kau akan berhasil dan menjadi dokter yang hebat." Sasuke mengambil dagu Sakura menyatukan bibir keduanya.
"Aishiteru Sasuke-kun."
Drrrtttt.. Ddrrrrtttt.. Ddrrrrttt...
Suara ponsel Sakura bergetar, ia melepaskan ciumannya dan mengambil ponselnya,
"Ayame?" Ujarnya pada diri sendiri ketika nama Ayame di layar ponselnya muncul.
"Moshi-moshi."
"Sakura-chan, kau dimana sekarang?!" Suara Ayame terdengar khawatir
"Ada apa Ayame? Kenapa kau-"
"Baru saja, dua orang pria bermarga Hyuuga itu mendatangi tempatmu dulu bekerja dan mereka mencarimu, mereka mencari Uchiha Sasuke."
Deg..
Sakura terdiam, apa yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi, "Hai Arigatou." Ia menutup ponselnya lemas, "Kami-sama." Lirihnya dalam hati
Sasuke menatap Sakura curiga, "Ada apa?"
"Tidak ada Sasuke-kun."
"Hn, aku mau mandi bisa kau siapkan air panas untukku."
"Ha hai .. Tunggu sebentar."
"Hei ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi gugup?"
"Eh?" Sakura semakin salah tingkah
"Wajahmu juga terlihat pucat, apa kau sakit."
"Tidak Sasuke-kun, aku siapkan airnya untukmu sekarang."
...
Sakura berpikir keras... Yah ia harus mencari jalan keluar untuk menjauhkan Sasuke dari Uchiha maupun Hyuuga, bagaimanapun dan apapun akan ia lakukan untuk menjadikan Sasuke miliknya, ia menutup matanya sejenak dan kembali membuka emerlard indahnya ketika ia menemukan jawaban, "tak ada cara lain." Lirihnya... Dengan hembusan nafas yang cukup panjang ia mulai membuka satu persatu kancing bajunya menanggalkannya di lantai kamar mandi dengan shower yang sengaja ia nyalakan untuk membasuh tubuhnya yang tengah tak terbalut pakaian, "Sakura." Sasuke terkejut saat melihat keadaan Sakura saat ini, ia berbalik untuk mengambil handuk, namun Sakura menahannya dengan memeluk Sasuke dari belakang, menciumi tengkuk lehernya dan memaksa Sasuke untuk berbalik melihat tubuhnya.
"Sasuke-kun." Desah Sakura menggoda dengan terus melumat dan menciumi bibir kekasihnya.
"Hentikan Sakura .. Ada apa denganmu? Kau tak seharusnya seperti ini." Sasuke melepaskan tangan Sakura yang memeluknya erat ia meninggalkan Sakura, dengan perasaan kesal Sakura tertunduk di lantai ia mengepal tangannya kuat, "Bagaimana bisa kau menolakku Sasuke, bahkan saat kau dalam keadaan hilang ingatan dan hanya aku yang kau ingat dan kau cintai saat ini, tapi kau masih bisa menolakku, apa kau masih mencintai Hinata eh? Apa perasaanmu untukku itu sebenarnya tidak ada.. Hiksss, kau menyedihkan Haruno." Sakura berkata lirih pada dirinya sendiri, ia memeluk tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan, air matanya mulai membasahi pipinya, sungguh ia tak menyangka Sasuke akan menolaknya.
Sasuke datang kembali dengan membawakan handuk untuk menutupi tubuh Sakura, ia menyelimuti wanita yang tengah terduduk di bawah shower dan memeluk tubuhnya, "Jika kau seperti ini kau akan sakit." Sasuke membujuk.
"Tch ... Apa pedulimu hm?"
"Sakura-"
"Jika aku mati disini juga tak akan masalah kan?"
"Cukup !" Sasuke menggendong tubuh Sakura namun Sakura meronta.
"Lepaskan Sasuke ! Sampai saat ini kau masih mencintainya, kau masih mencintainya."
"Hm?" Sasuke memiringkan kepalanya bingung, apa maksud Sakura dengan mengatakan bahwa dia masih mencintainya?
Sakura mendelik malas, ia pergi meninggalkan Sasuke dan menutup pintu kamar kasar. Sasuke terdiam, ia merasa ada yang Sakura sembunyikan darinya, tapi ia tak tau apa itu, setiap pertanyaan yang membingungkannya dan ia tanyakan pada Sakura selalu membuat Sakura marah, Sasuke berjalan menuju kamar Sakura, ia mengetuk pintu berulang-ulang, namun Sakura tak mau menjawab, ia marah.. Yah Sakura kesal karena Sasuke menolak bercinta dengannya.
Sasuke masih terdiam di depan pintu kamar Sakura saat Sakura masih juga tak membuka pintu untuknya, "Aku harap kau tak menolak ini." Ujarnya, Sasuke memasukan sebuah tiket liburan ke Sunagakure lewat celah dibawah pintu kamar Sakura, "Aku ingin menghabiskan libur musim panas disana bersamamu." Sasuke pergi setelah mengatakan itu, Sakura terdiam dan perlahan berjalan untuk mengambil tiket liburan yang diberikan Sasuke untuknya, ia tersenyum dan menyimpan tiketnya di dalam dompet.
...
Pagi hari menjelang, Sakura terperanjat saat melihat jam menunjukan pukul 7 pagi, yah dia harusnya bangun lebih awal karena pagi ini ia akan pergi berlibur ke suna, dengan cepat ia berlari dan membuka pintu kamarnya, ia kembali terkejut saat melihat Sasuke tengah duduk di ruang tengah dengan membaca sebuah majalah kabar dan meneguk segelas kopi, "Sudah siap?" Tanyanya.
Sakura tersenyum, ia memeluk Sasuke erat, "Kau yang menyiapkan semuanya?" Tanyanya ketika ia melihat pakaiannya dan juga pakaian Sasuke tengah berada di dalam koper, "Hm." Jawab Sasuke.
Tersirat raut kebahagiaan di wajah Sakura, "Aishiteru Sasuke."
..
...
"Selesai." Ujar nya pada diri sendiri. Setelah menggulung rambut indigonya ke atas dan menyasak bagian atasnya sedikit dengan poni depan yang selalu menjadi ciri khas seorang Hyuuga Hinata. "Gomen'ne meninggalkanmu lagi Shu." Hinata menggendong bayinya dan mencium keningnya lembut.
Ting Tong...
"Jemputanmu sudah datang." Ujarnya lagi, Hinata segera menyambar kunci mobil dan juga tas yang tergeletak di meja, ia membuka pintu apartemennya cepat.
"Gomen'ne Hanare-san." Hinata menyuruh baby sitter itu masuk
"Tidak apa-apa Hinata-chan." Hanare mengambil Shu dari gendongan Hinata.
"Ada sedikit masalah di toko bungaku, untuk itu aku harus pergi pagi sekali, maaf merepotkanmu."
Hanare tersenyum,"Ini sudah menjadi pekerjaanku Hinata-chan, dan lagi aku sudah menganggap Shu seperti anakku sendiri, aku senang jika berada di dekat Shu."
Hinata merasa lega ia bersyukur mempunyai seorang pengasuh yang menyayangi Shu sama seperti dirinya.
"Aku harus pergi sekarang, mohon untuk menjaga Shu, jika ada apa-apa kau segera hubungi aku Hanare-san."
"Hai Wakarimas."
"Arigatou."
...
Sasuke menepuk-nepuk puncak kepala Sakura saat Sakura bersenandung selama perjalanan mereka, sesekali Sakura juga menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke, "Sudah sampai." Ujar Sasuke. Ketika mereka sampai di losmen hotel yang akan mereka tinggali selama berlibur di Suna.
"Sakura."
"Hm?"
"Apa aku dulu mempunyai mobil?"
"Yah, tentu saja... Jika tidak kau tak akan bisa mengendari mobil sewaan ini bukan?"
"... Lalu? Dimana mobilku?"
"Eh?"
"Jika aku mempunyai mobil, itu artinya aku orang berada hm? Dan aku pasti mempunyai rumahh yang besar seperti manshion."
"..." Sakura terkejut, ia terdiam.
"Seperti apakah wajah Okaasan, Otousaan,Aniki."
"Kau- kau mengingat Itachi?"
"Itachi? Siapa dia?"
"Kau baru saja menyebutkan kau merindukan Aniki eh?"
"Hm? Apa benar? Apa aku mempunyai serang kakak?"
"Eh?" Sakura semakin gugup, "Berada di dalam mobil terlalu lama membut nafasku sesak." Sakura keluar dari mobilnya, di ikuti Sasuke "Sakura tunggu."
"Jika kau terus menanyakan keluargamu, aku tak ingin menjawabnya."
"Hei? Tapi kenapa?"
Tak menjawab Sakura semakin berlari menjauhi Sasuke. "Hei, Sakura." Sasuke memegang tangan Sakura dan keduanya memasuki lift.
"Baiklah, aku tak akan menanyakan hal ini lagi padamu."
Sakura terdiam, dan diam Sakura adalah hal yang Sasuke benci, "Saat kecelakaan 2 tahun lalu, kau tau kenapa kau kecelakaan waktu itu?" Itu karena kau ingin melarikan diri dari rumahmu, karena kau sudah tak sanggup hidup bersama keluarga yang seperti neraka. Ayahmu,ibumu, mereka hanya menyayangi kakakmu, dan kau tak pernah dianggap ada, karena kau hanya seorang anak adopsi."
Sasuke terdiam, "Aku tau." Ujarnya.
"Aku telah berulang kali menceritakan kenyataan Hidupmu, tapi sampai saat ini kau masih meragukanku."
"Gomen'ne Sakura."
Pintu lift terbuka, Sakura dan Sasuke memasuki kamar nomor 97, ada 2 kasur berukuran Queen disana, Sakura melemparkan tubuhnya di salah satu tempat tidurr itu, tanpa membuka alas kakinya.
Ting Tong..
Seorang pelayan hotel datang membawakan makan siang untuk mereka, "Aku tak mau makan makanan ini." Ujar Sakura ketus.
"Ini makanan khas Sunagakure, kau hanya belum mencobanya."
"Aku tak menyukainya, aku ingin katsu."
Sasuke menaruh kembali sumpit yang akan digunakannya untuk makan, ia berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
"Kau mau kemana?"
"Mencari katsu, bukankah kau hanya ingin makan itu."
Sakura hanya terdiam saat Sasuke pergi.
...
Lavender Home Boutiqe Flower
"I'm afraid there is a slight problem with your employee, i feel your boutiqe don't have a good service, this flower is bad !"
Seorang turis mancanegara berkebangsaan belanda itu melempar sebuket bunga mawar merah di depan Hinata, yah dia komplain karena merasa tidak dilayani dengan baik dan juga bunga yang diberikan oleh pelayan Hinata itu terdapat ulat di dalam bunganya, Hinata menarik nafas dalam, ia melirik karyawannya yang tengah menunduk ketakutan karena inisiden ini.
"I'm sorry sir, we promise never to do the same mistake again, I'm a own here, I'm so sorry there isn't much we do about it, and I'll respons this insident, you can choose all the flower here and you get free.
Touris itu terdiam, ia mengangguk dan mulai mengambil beberapa bunga lavender, "May I take this flower?"
"Of course sir,"
"This Flower same as you, beautiful, and smooth."
Hinata tersipu, "Thank you."
"You're really a beautiful japanese."
"Arigatou." Hinata kembali tersipu,
"Arigatou." Jawab Touris itu kembali.
Hinata menghela nafas, kemudian melirik seorang pegawainya yang tertunduk takut, "Gomen'ne Hinata-sama" Hinata tersenyum "Tidak apa-apa, ini hanya masalah biasa."
"Tapi-"
"Tidak masalah Inori-chan. Kau bisa kembali bekerja sekarang."
"Hai, Arigatou."
..
...
Kadua onyx itu menatap jalan di depannya datar, "Sakura." Lirihnya.. Yah entah kenapa wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu sangat sensitif sekali dan sering marah padanya, otaknya berpikir cepat, dia dan Sakura datang ke Suna untuk berlibur bukan untuk beradu mulut atau perang dingin, Sasuke tak ingin hal itu terjadi, sungguh disayangkan moment liburan seperti ini digunakan untuk bertengkar, ia harus membujuk Sakura agar tak marah lagi padanya,
"Lavender Home Boutiqe Flower" Sasuke menghentikan mobilnya di depan toko bunga, mungkin jika ia membelikan setangkai bunga untuk Sakura itu akan membuat hati Sakura kembali luluh pikirnya.
"Konichiwa, Okaerinasaii.." Sambutan para pelayan toko bunga yang menjaga di bagian pintu depan. Sasuke berjalan-jalan menuju beberapa lorong yang ada di toko dan melihat-lihat disana, "Ada yang bisa saya bantu tuan."
"Hm, aku mencari bunga untuk seorang wanita yang sedang marah."
"Bunga mawar tuan, bunga mawar merah itu melambangkan tanda cinta."
"Hm." Sasuke mengambil bunga mawar itu sebanyak 10 tangkai
"Hanya satu tangkai saja tuan, itu terlihat lebih romantis." Pelayan itu mengembalikan sembilan tangkainya, saya akan menghiasnya dengan pita dan, mohon untuk menunggu sebentar."
...
Sasuke mendudukan dirinya di sofa untuk menunggu pelayan itu merapihkan bunganya, suara langkah kaki seseorang itu membuat jantungnya berdetak cepat, "Perasaan apa ini." Pikirnya.
"Hinata-sama."
Bebarengan dengan suara pelayan yang memanggil Hinata, seketika itu juga Sasuke melihat Hinata meskipun hanya dari belakang. "Hinata." Tanyanya pada diri sendiri.
"Yah? Ada apa tsugumi-chan."
"Ini laporan penjualan yang telah di revisi."
"Hai, arigatou."
Sasuke mengingat nama itu, yah nama itu seperti tak asing lagi untuknya, memorinya kembali berputar saat di rumahh sakit Sakura menanyakan dimana Hinata, dan kata lain setelah itu adalah saat Sakura mengatakan 'istrimu'
"Sa- Sasuke-kun."
Sasuke terdiam, ia mendekat .. Langkah Sasuke semakin dekat dengan Hinata, ia memandang Hinata dalam seperti memendam kerinduan yang sudah tak terbendung lagi.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Eh?" Hinata membulatkan matanya kaget.
"Aku kehilangan ingatanku selama 2 tahun lebih, dan jika kau mengenalku pasti aku juga mengenalmu."
"..." Hinata tertunduk,
"Kau mengenalku eh?"
Hinata mengangkat wajahnya, mencoba untuk memberanikan membalas tatapan Onyx itu
"Aku tak mengenal anda tuan, wajahmu sepintas mirip dengan sahabat lamaku, aku pikir itu dia, ternyata bukan .. Gomen'ne." Hinata beranjak, namun Sasuke menahan tangannya, "Sasuke? Apa nama sahabatmu itu juga sama denganku?"
Hinata kembali terdiam,
"Tidak mungkin jika hanya sebuah kebetulan, aku tau kau mengenalku nona."
Hinata terkekeh, ia menepis tangan Sasuke kasar, "Maaf tuan, tindakanmu sangat tidak sopan."
..
Hinta pergi tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, ia meninggalkan Sasuke disana, "Ini bunganya tuan." Sasuke mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada pelayan,
"Tunggu."
"Yah?"
"Apa dia pemilik butik ini?"
"Ohhh .. Maksud anda Hinata-sama? Yah dia adalah pemilik butik ini."
"Bisa kau beri tau aku sedikit mengenai dirinya?"
"Hinata-sama seorang yang pendiam, dan tak banyak yang saya tau tentangnya."
"Hm, arigatou."
...
Sasuke membanting pintu mobil dan mulai membuka ponselnya, ia membuka situs untuk mencari tau tentang wanita bersurai indigo yang ia temui barusan,
Hinata ...
Searching..
"Hyuuga Hinata." Sasuke terdiam, kedua alisnya bertautan saat muncul marga Hyuuga dibelakang nama wanita bernama Hyuuga Hinata yang ia temui beberapa menit lalu, "Hyuuga." Lirihnya, ia mulai mencaritau dan kembali dibuat terkejut saat situs yang ia kunjungi memberi jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.
Hyuuga Hinata, putri tunggal dari Hiashi Hyuuga yang merupakan pengusaha terkenal di Jepang, menjadi Direktur utama di usia yang masih belia, dan menikah dengan seorang pemuda bermarga Uchiha, sebuah pernikahan bisnis dalam rangka penyatuan dua perusahaan besar agar menjadikannya lebih kuat dan bisa menerobos pasar dunia.
"Uchiha." Sasuke kini mencari situs marga baru yang ia yakini adalah dirinya, yah .. Dia yakin, Sakura telah membohonginya selama ini.
"Tsk ..." Sasuke menarik napas dalam, ia kini tau semuanya, semua tentang dirinya, meski ingatannya belum pulih, tapi ia tau dimana seharusnya ia berada, "Kenapa Sakura." Lirihnya .. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya kacau saat ini terlalu banyak yang Sakura sembunyikan darinya, tapi... Ia juga berhutang karena Sakura yang telah menyelamatkan hidupnya, yah.. Dia berhutang nyawa pada wanita yang meski telah menipu dirinya, pasti ada alasan kenapa selama ini Sakura melakukan semuanya, "Apa kau mencintaimu, tapi aku mencintai Hinata." Kembali Sasuke berkata pada dirinya sendiri, "Pantas saja kau selalu marah ketika aku menanyakan tentang masalaluku, kenapa kau melakukan ini Sakura." Sasuke menghentikan mobilnya dan memasuki lift hotel, ia berjalan menuju kamar hotelnya, kedua onyxnya melihat Sakura yang sedang duduk menunggu dirinya, raut wajah Sakura terlihat kesal.
"Darimana saja?"
"..."
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"..."
"Ada apa denganmu?"
"..." Sasuke mendekati Sakura, membuat Sakura semakin takut akan tatapan Sasuke yang mengintimidasi dirinya.
"Sa- Sasuke - Eh?"
Sakura terkejut saat Sasuke memberinya setangkai bunga mawar, "Gomen'ne, menunggu lama."
Sakura tersenyum, ia memeluk Sasuke, "Aku mengkhawatirkanmu." Sasuke membalas pelukan Sakura, "Pembohong." Ujarnya dalam hati.
...
..
.
.
Lavender Home Boutiqe Flower
Ada hal baru yang Hinata harus lihat selain karyawan yang menyambut kedatangannya, Seorang pria berambut raven yang mengaku telah hilang ingatan itu selalu berada di toko bunganya sudah 3 hari berturut-turut
"Jika besok aku masih melihatmu berada disini, jangan salahkan aku jika aku menyuruh polisi membawamu."
"Aku tak akan pergi sebelum kau memberitau sesuatu."
"Tch.. Aku tak mengerti harus dengan cara apa aku memberitahumu, aku tak mengenalmu."
Sama seperti hari-hari sebelumnya Hinata masih berlaku ketus pada Sasuke, hal ini membuat Sasuke semakin bingung, "Apa Kau membenciku." Hinata berhenti melangkah, tanpa menoleh.
"Apa aku pernah membuat salah padamu, untuk itu kau sengaja menjauh dariku."
Hinata terdiam, "Benar begitu eh?" Onyx itu kini menatap lavender yang menunduk, merasa risih dengan tatapan Sasuke Hinata menubruk Sasuke dan memasuki toko, menghindari setiap pertanyaan Sasuke yang tak bisa ia jawab.
...
"Aku akan menemukan sendiri jawabannya Hinata."
...
Masih berkutat dengan pekerjaannya namun ia gelisah, disatu sisi ia harus segera pulang mengingat Shu, tapi Sasuke masih menunggunya di luar, ia menghela nafas dan mengeluarkan ponselnya, tangannya menulis pesan untuk Hanare, memberitaunya bahwa ia akan pulang terlambat.
"Hinata-sama."
Mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya, lavendernya membulat saat ia melihat waktu menunjukan pukul 10.00pm, "Aku tertidur.. Shu." Gumamnya dengan memasukan berkas-berkas yang masih berserakan di meja ke dalam laci, "Inori-chan? Kau menungguku?"
"Hm." Ia mengangguk.
Hinata merasa bersalah, "Gomen'ne karena menungguku kau-"
"Tidak apa-apa Hinata-sama, pria asing itu juga telah pulang."
Hinata melihat ke arah jendela, "Syukurlah, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak apa-apa, Ryu-kun telah menungguku."
"Aa.. Sooka, arigatou Inori-kun."
"Hai."
...
..
"The number you're calling is not active, please try-"
"Sasuke, kau dimana." Sakura menggigit bibir bawahnya, pikirannya mulai kacau dengan Sasuke yang sering menghilang tanpa mengabarinya, ia mencoba untuk berpikir positif, semoga saja semuanya akan baik-baik saja pikirnya.
..
Ting Tong ...
"Apa ada yang tertinggal." Ujar Hinata pada dirinya sendiri, segera ia membuka pintu apartement,
"Ada yang tertinggal Han-" ia mematung saat pria yang ia hindari sejak siang hari itu kini berdiri di depan pintu apartmentnya dengan sekujur tubuhnya yang basah kuyup.
"Di luar hujan deras."
"Lalu?"
"Kau tak membiarkanku masuk?"
Hinata menutup pintu namun Sasuke menahannya, "Berikan aku teh hangat, setelah itu aku akan pulang."
Merasa tak tega melihat keadaan Sasuke, akhirnya Hinata membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.
"Arigatou."
Tanpa membalas Hinata melemparkan handuk, menyuruh Sasuke untuk mengeringkan tubuhnya, "Tunggu sebentar, akan ku buatkan teh hangat untukmu."
..
Sejauh ini misinya berjalan lancar, ia mengikuti Hinata dan sengaja membuat sekujur tubuhnya basah hanya untuk dapat memasuki tempat tinggal Hinata, ia harus mencari petunjuk, tapi darimana pikirnya, "Kamar." Gumamnya, lancang memang, tapi tak ada cara lain, dengan langkah kecil ia memasuki kamar Hinata dan terkejut saat mendapati tempat keranjang bayi disana, Sasuke mendekat.. Ia melihat bayi yang tengah tertidur itu dalam, ada perasaan dekat dengan malaikat kecil yang dilihatnya saat ini, tangannya terasa sangat ingin memeluk tubuh lemah bayi itu, ia menepis semuanya, yang ia cari saat ini adalah petunjuk, bukan menggendong seorang bayi, ia mulai mencari di semua pelosok kamar, Sasuke membuka laci dan terkejut saat melihat sebuah foto pernikahan Hinata dengan seorang yang sangat mirip dengannya,
"A- apa ini-"
Prankkk !
"Sasu-"
Sasuke menoleh ke arah Hinata, suara pecahan gelas itu membuat Shu menangis dan terbangun dari tidurnya, Hinata segera menghampiri Shu untuk menggendongnya "cuppcupp.. Tenanglah sayang.."
"Bisa kau jelaskan ini?"
Hinata terdiam, ia masih menggendong Shu yang masih menangis.
"Kenapa ! Kenapa baik kau maupun Sakura semuanya membohongiku eh? Kenapa kalian semua MENIPUKU HAH !?"
Bentakan Sasuke membuat Shu semakin menangis,
"Dan bayi ini? Apa dia anakku?"
"..."
"JAWAB AKU UCHIHA HINATA !"
Hinata menidurkan Shu yang telah tertidur lagi, "Aku minta kau keluar sekarang !"
"Aku tak akan keluar sebelum kau menjawab semua pertanyaanku."
"Kau membuat Shu menangis, keluar ! Pergi Sasuke !"
"Tch.." Sasuke mendecih kesal,
Praankkkkk !
Ia melempar foto pernikahan dirinya dengan Hinata itu kasar hingga pecah berkeping-keping.
"Aku akan pergi, bersama Shu."
"Eh?"
"Dia anakku eh?"
"Apa?"
Sasuke menggendong Shu dan membawanya pergi, Hinata mengejar Sasuke menarik kakinya dan memohon agar Sasuke mengembalikan Shu,
"Jangan .. Ku mohon hiksss-"
Sasuke terdiam,
"Aku, aku akan menjawab semuanya, tapi ku mohon jangan kau ambil Shu."
...
Hening.. 20 menit tanpa suara akhirnya Hinata mulai menceritakan kejadiannya, kejadian 2 tahun lalu ketika kepergian dirinya dari manshion Uchiha karena janji itu, hingga saat ini dirinya berada di Suna dan tinggal bersama anaknya, anak dari suaminya Uchiha Sasuke, Hinata mengandung setelah seminggu meninggalkan Konoha, dan Hinata juga menceritakan kebaikan Shino yang telah banyak membantunya dan Shu.
"Dia Uchiha Shu, anakmu, anak kita Sasuke-kun."
"Kita harus pulang."
"Tapi-"
"Uchiha dan Hyuuga membutuhkan kita."
"..."
"Disini bukan tempat kita Hinata."
"..."
"Aku tak akan membiarkanmu pergi dariku lagi."
"..."
"Dimana aku tinggal, disitu kau akan tinggal bersamaku."
...
..
.
Hari ke lima di Sunagakure, dan Sasuke membawa kembali pulang apa yang dicarinya, sebuah teka-teki yang akhirnya ia dapat pecahkan sendiri, sebuah pintu terbuka dan gadis bermata emerlard itu terkejut saat melihat Sasuke datang bersama Hinata dan juga bayi yang di gendongnya.
"Ka -kau."
"Apa kabar Sakura?"
Sasuke hanya menyeringai melihat ekspresi Sakura yang begitu syok,
"Sasu-"
"Aku telah memaafkanmu, ingatanku telah pulih selama beberapa hari ini dan aku bersandiwara agar kau tak menggagalkan rencanaku untuk mencari Hinata."
"Apa?"
"Kita akan ke Konoha bersama, bereskan semua barangmu sekarang."
Sakura terdiam, ia mengepal tangannya kuat,
"Gomen'ne." Lirihnya.
"Aku tak bisa pergi bersama kalian."
"Kau harus pergi bersama kita, disini bukan tempatmu." Sasuke membalas datar.
"Dimanapun aku hidup, aku akan hidup, untuk apa aku kembali ke Konoha karena tak ada yang menungguku disana, hanya kenangan pahit."
Sasuke terdiam, "Sakura, Arigatou."
"Eh?" Sakura mengangkat wajahnya.
"Meskipun kau telah menipuku dengan semua ini, tapi jika saat itu tak ada kau mungkin aku telah mati, aku berhutang nyawa padamu."
"..."
"Gomen'ne, tak bisa hidup bersamamu karena aku telah mempunyai kehidupan sendiri, bersama mereka." Sasuke menjuk ke arah Hinata dan Shu.
"Uchiha Hinata dan Uchiha Shu lebih membutuhkanku, kau akan mendapatkan seorang yang mencintaimu dan kebahagianmu suatu hari nanti, tapi bukan bersamaku."
Sakura tersenyum hambar, "Pergilah.."
Sasuke mengangguk, "Hontoni Arigatou Sakura, aku siap menolongmu jika kau membutuhkan bantuanku."
"..."
"Sayonara."
..
Sakura mendudukan dirinya di lantai, ketakutan itu akhirnya terjadi, ketakutan akan Sasuke kembali menemukan Hinata dan mengingat kembali semuanya, Sakura menghapus kedua airmatanya, mungkin ini teguran untuknya, segala sesuatu yang dimulai dengan kebohongan tak akan berjalan dengan mulus. Dan akan terbongkar suatu hari nanti, meski harus bertahun-tahun lamanya.
..
Pesawat penerbangan Sunagakure-Konohagakure
-Delay-
"Kau berbohong."
Sasuke terkekeh, "Hm, dan kau harus membantuku untuk mengingat kembali semuanya."
"Tch.. Merepotkan."
"Situs itu benar."
"Hm?"
"Kau memang seorang yang dingin dan angkuh."
Hinata terkekeh,
"Ahh aku benar-benar merindukan Manshion Uchiha."
"Bisakah kau diam, kau membuat Shu menangis."
"Tsk." Sasuke mendecih,
"Hinata."
"Hm?"
"Aku melupakan malam pertama kita."
"Lalu?"
"Kau harus membuatku mengingatnya lagi."
"Tch, kau gila."
Sasuke terkekeh, "Shu menginginkan seorang adik."
"Berhenti bicara Sasuke."
"Aishiteru Uchiha Hinata." Sasuke mengecup kening Hinata lembut.
Hinata tersenyum dan menyandarkan kepalanya dibahu Sasuke.
"Otousaan pasti sangat senang dengan kedatangan Shu."
"Hm, begitu juga dengan Okasaan."
"Aku tak sabar ingin segera bertemu dengan mereka, tapi- Sasuke? Kenapa selama kita hilang mereka tak mencari kita?"
"Semuanya akan terjawab, saat kita pulang."
"Sooka?"
"Hm, berbeda denganku."
"Hm?"
"Mungkin aku tak akan pernah pulang jika tak bisa memecahkan semua masalahnya kemarin."
Hinata tersenyum, "Kau Hebat Sasuke-kun, dengan kondisi ingatanmu yang hilang, kau masih bisa menemukanku."
"Tsk.. Kau tak akan pernah bisa larii dariku Hinata."
Hinata tersenyum dan mulai memejamkan matanya saat pesawat mulai take off.
"Sasuke."
"Hm?"
"Aishiteru."
.
..
...
Fin
Gomen'ne Mina.. Lama publish endingnya, terimakasih telah menunggu dan semoga tidak kecewa dengan FIN nya.. Arigatou
-Lavenderviolletta-
