Mind to Read & Review? Don't like it? Don't read.

Review dari minna-san sangat berguna buat saya XDD

Arigatou Gozaimasu XDD

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, typo-error, EYTD (Ejaan Yang Tidak Disempurnakan)*plaaak

Pairing: Sai x Sakura (saya suka SaixSakura, always SaixSakura hahahaha ^0^), slight Deidara x Ino

Genre: Drama/Romance/Slice of Life

Summary: Sai yang bertemu dengan Sakura di pohon dekat SMA-nya, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sakura. Bagaimana perjuangan Sai untuk bisa mendapatkan hati Sakura? Mind to R&R?


星空~あなた愛する待ってる

Hoshizora~Anata no Aisuru Hito wa Matteru

Starry Sky~The One Who Love You Is Waiting

By Naka-chan


Season One

First Feeling


Hari kedua tahun ajaran baru Saint Catharina, matahari pagi yang hangat mulai menampakkan wajahnya ke seluruh pelosok permukaan bumi. Namun, Sakura masih juga belum bangun dari tidur lelapnya. Tentu saja, ia terjaga karena e-mail seorang cowok yang belum ia kenal yang terus saja "mengganggu" itulah yang dipikirkan Sakura. Ia terus tidur, jika saja seseorang tidak mengetuk pintu kamarnya.

"Non Sakura, ayo bangun. Sudah pukul 07.40." panggil mbak Konan sambil mengetuk pintu kamar Sakura.

Sakura yang setengah sadar dari tidurnya pun menjawab, "Iya, mbaaaaaak….."

Hah, jam 07.40? Tinggal lima puluh menit lagi! Mati aku!"

Bergegas Sakura melompat dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.

Celaka, aku ada piket pagi, aku harus cepat sebelum dimarahi oleh anak lainnya, gumamnya dalam hati.

"Ini gara-gara orang tadi malam yang bikin aku gak bisa tidur." keluh Sakura sambil bersiap-siap hendak mandi.

Dengan cepat Sakura mandi dan menyelesaikan aktivitas pagi harinya. Kemudian ia mengambil sepatu roda dan bergegas menuju sekolah.

"Ma, Pa, Sakura pergi dulu, ada piket pagi. Sakura pergi ya!" pamit Sakura sambil berdiri setelah memakai sepatu rodanya.

"Iya, Sakura. Hati-hati di jalan ya." pesan Mebuki Haruno sambil melambaikan tangannya.

"Ok, ma. Sakura pergi."

Kelopak bunga sakura menghiasi perjalanan Sakura menuju sekolahnya.

"Waaaa, cantiknya!" seru Sakura yang kagum melihat banyaknya kelopak Sakura yang berguguran.

Dan Sakura akhirnya sampai di Saint Catharina, waktu menunjukkan pukul 07.58 AM. Bergegas ia menuju ke kelasnya, 1-2.

"Haruno-san, kau terlambat lima belas menit! Piket pagi berlangsung empat puluh lima menit sebelum kelas dimulai!" tegur Shikamaru, sang ketua kelas.

"Ah, maaf, ketua kelas. Aku bangun terlambat." jawab Sakura.

"Ayo cepat, kerjakan tugasmu!" perintah Shikamaru sambil keluar dari ruangan kelas.

Sakura mengambil sapu dari lemari kelas dan mulai menyapu dari pojok ruangan. Dan ia terhenti karena ada yang memanggilnya.

"Saaaakuuuuraaaa~, Selamat Pagi!" sapa Ino dengan penuh semangat.

"Pagi Ino, jangan ganggu dulu. Nanti aku dimarahi ketua kelas. Nanti saja waktu istirahat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." sahut Sakura sambil terus membersihkan kelas.

"Haaaa? Kamu mau bicarain sesuatu? OK deh, nanti aku ke kelasmu lagi. Bye... Sakura!" seru Ino sambil melambaikan tangannya.

Dan akhirnya, jam pelajaran pertama pun dimulai. Jam pertama yang membosankan. Biologi. Kalau begini jadinya sepertinya aku memang tidak cocok dengan segala yang berhubungan dengan sains, itulah yang dipirkan Sakura saat belajar Biologi pagi itu.

Ting….Tong….Ting…..Tong….

Bel tanda istirahat pun dimulai, seluruh siswa di kelas berhamburan keluar. Namun, Sakura masih tinggal di kelas, ia menunggu sahabatnya, Ino.

"Saaakuraa~, kamu mau bicarain apa?" seru Ino sambil berjalan menuju tempat Sakura duduk.

"Inooooo, kemarin kamu kemana?" tanya Sakura penuh kecurigaan.

"Aaaaa, itu…. Maaf ya Sakura, aku lupa kasih tahu kamu. Kemarin aku ke rumah Deichi, dan handphoneku juga tertinggal di rumahnya, sehingga aku lupa e-mail kamu. Sorry ya Sakura, lain kali aku bilang kok kalau aku gak bisa pulang bareng kamu." ucap Ino dengan alasannya yang berbelit-belit.

"Ya, Ino. Aku udah tau kok. Aku cuma takut aja kalau naik kereta sendirian."

"Ok, Sakura. Aku janji akan bilang kalau gak bisa pulang sama kamu." balas Ino sambil mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji ya, Ino." pinta Sakura sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Ino, membuat pinky promise.

"Tapi, Sakura. Bukan itu kan yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Ino sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura.

"Tentu, bukan." jawab Sakura sambil mengambil handphonenya. "Kamu kenal alamat e-mail ini? Atau lebih tepatnya apa kamu kenal anak sekolah ini yang bernama Shimura Sai?" sambung Sakura dengan wajah penasaran sambil menunjukkan e-mail yang dikirim Sai ke handphonenya.

"S-Shi-mu-ra Sai? Siapa ya? Rasanya aku pernah dengar namanya. Shimura Sai... Aaaaahh! Dia!"

"Siapa dia, Ino? Kamu kenal dia?" tanya Sakura, penasaran.

"Shimura Sai itu..."

Belum selesai Ino melanjutkan perkataannya, seseorang dari arah pintu kelas memanggil Ino.

"Inoooo!" panggil Deidara sambil mengangkat sebuah handphone berwarna pink.

"Deichiiii! Kamu bawa handphoneku!" sahut Ino sambil berbalik berjalan ke arah Deidara.

"Haruno, pinjem Ino sebentar yaaa!"

"Aaaaa….. Iya, Deidara-senpai." jawab Sakura dengan senyum, padahal dalam hati ia kesal, belum selesai Ino melanjutkan ucapannya, seseorang datang dan membuat rasa penasarannya memuncak.

"Nanti ya, Sakura kita lanjutkan pembicaraan kita tadi." tambah Ino.

"Ino, ini handphonemu." kata Deidara sambil meletakkan handphone pink itu ke tangan Ino.

"Thank you, Deichii!"

"Ino, Sakura itu adiknya Sasori kan? Teman sekelasku?"

"Iya, Sakura memang adiknya Haruno-senpai. Dan itu, tadi Sakura memperlihatkan handphonenya padaku, ada e-mail dari Shimura-senpai. Shimura-senpai, teman Deichi kan?"

"Ssssst, aku diminta sama Sasori dan Sai, untuk memberitahu kamu untuk merahasiakan siapa Sai itu. Sai gak mau dia tahu dirinya dari orang lain. Tapi Sai kan terkenal di sekolah ini, kalau sampai membuatnya gak tahu Sai itu pasti sulit." bisik Deidara ke Ino.

"Hmmm, begitu ya. Jadi Shimura-senpai suka sama Sakura ya?" seru Ino.

"Sssst… Ino, jangan keras-keras, nanti kalau ada yang tahu aku bisa dibunuh Sai." pinta Deidara sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.

"Ok deh, Deichi. Serahin Sakura padaku. Aku jamin, dia gak bakal kenal sama Sai dulu." janji Ino sambil melakukan gaya khasnya, menempelkan jempol dan jari telujuknya.

"Ah iya, aku hampir lupa. Ino, tolong kasih ini sama sahabatmu itu ya. Taruh di loker sepatunya aja. Itu pinta Sai." pesan Deidara sambil memberikan kertas kecil putih ke Ino.

"Siiip, beres deh Deichi." balas Ino sambil menerima kertas itu. "Deichi, chuuuuu!" goda Ino sambil mendekatkan wajahnya ke Deidara.

"Kamu ini.. Itu aja yang ada di pikiranmu. Jangan di sekolah, Ino." sahut Deidara sambil mengelus kepala ceweknya itu.

"Ya udah deh, bye Deichi. Pasti Ino lakukan yang Deichi bilang pada Ino." ucap Ino sambil melambaikan tangannya ke arah Deidara.

"Bye, Ino. Nanti lagi ya." pamit Deidara sambil tersenyum.

Ino berjalan dari arah koridor menuju ke kelas Sakura. Ino yang nakal pun diam-diam membuka kertas putih yang ia pegang dan menutupnya kembali sambil tersenyum. Dilihatnya, wajah Sakura yang marah karena kesal menunggu Ino yang menurut Sakura sedang lovey-dovey dengan Deidara-senpai.

"Iiiinoooo, lama sekali!" kesal Sakura.

"Haaaaaaah~ Cuma lima menit kan, Sakura."

"Iyaaaa, lima menit yang bikin aku penasaran banget. Siapa itu, Shimura Sai, Ino?" protes Sakura.

Glek~ Ino menelan air liurnya. Ia bingung mau jawab apa. Ia sudah terlanjur menunjukkan ekspresi bahwa ia tahu siapa si Sai ini.

"Ooooo, itu... Aku gak tahu, Sakura. Aku cuma ingat namanya mirip sama aktor, Shimura Takizawa. Suuuer…. Aku gak tau." bohong Ino sambil tersenyum dan memasang kode "swear" dengan tangan kanannya.

"Yang bener, Ino? Awas ya kalau kamu bohong!" ancam Sakura.

"Hmmm, Hinata mana ya, Sakura?" sambung Ino mengalihkan pembicaraan. Aku harus keluar dari topik ini dulu sebelum aku keceplosan yang gak-gak ucap Ino dalam hati.

"Hinata? Hinata tadi e-mail aku, dia ditunjuk jadi ketua kelas S, sehingga ia sedang sibuk sekarang walaupun sedang istirahat." jawab Sakura.

"Aaaah, Hinata jadi ketua kelas? Aku khawatir apa ia bisa menangani jabatan itu? Susah juga ya, kelas S, anak-anak pandai semua." tambah Ino meragukan Hinata yang plin-plan itu.

"Iya, ya. Apa Hinata bisa mengemban tugas sebagai ketua kelas?"

Ting…..Tong…..Ting….Tong…..

Bel tanda jam pelajaran selanjutnya pun berbunyi. Kedua sahabat itu pun berpisah sambil melambaikan tangan mereka. Kembali ke kelas masing masing. Namun…..

"Loker Sakura, loker Sakura..." gumam Ino sambil mencari loker sepatu milik sahabatnya itu.

"Ketemu!" serunya sambil menaruh kertas putih itu dia atas sepatu Sakura. "Hihihihihi, hari ini akan menjadi hari yang menarik." tawanya sambil berjalan menuju ke kelasnya.

Jam demi jam pelajaran pun berlangsung, tidak ada habisnya. Hingga jam 3.00 PM waktunya pulang sekolah. Ino dan Sakura sudah janjian untuk pulang bersama demi menebus kesalahan Ino kemarin. Ino sudah menunggunya di depan loker sepatu. Saat hendak mengambil sepatunya, Sakura melihat kertas putih di atas sepatunya.


Aku ingin bertemu denganmu, maukah kamu menungguku di atap sekolah saat pulang sekolah?
Shimura Sai


Sakura yang melihat tulisan itu, langsung melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ino yang melihat hal itu hanya tersenyum-senyum saja. Kemudian Sakura mengatakan sesuatu pada Ino.

"Anu, Ino. Kamu hari ini pulang sama Deidara-senpai aja, ya. Aku mau ke perpustakaan, ada tugas yang harus kuselesaikan."

"Heeee? Kenapa, Sakura? Mau cari tugas? Aku temenin, ya? Deichii nampaknya sudah pulang duluan sama teman-temannya."

"Kalau begitu... Hinata. Kamu tunggu Hinata ya, ajak dia pulang bareng juga. Serius nih!" tambah Sakura sambil menaruh sepatunya kembali ke loker.

"Ya udah deh Sakura, kalau itu maumu." dalam hati Ino berkata…. Aku akan diam-diam ikutin kamu ke atap sekolah. Hehehehe...

Sementara itu, di kelas 2-S, kelas 2 SPECIAL, kelas Sai. Sai sedang sibuk membereskan buku-bukunya bergegas hendak ke atap sekolah. Namun, seseorang memanggilnya.

"Yoo Shimura, ada pesan dari Yoshida-senpai, katanya ada rapat klub seni lukis di kelas 3-2, katanya sih cuman menentukan ruangan klub yang baru." seru salah seorang temannya.

Celaka….. Padahal, aku harus bergegas ke atap sekolah untuk menemuinya kesal Sai.

"OK deh, aku akan ke sana."

Semoga dia masih menungguku, harap Sai dalam hati.

Sai pun segera menuju ke lantai atas, ke kelas 3-2.

Sakura yang menerima pesan dari Sai itu pun menuju ke atap sekolah. Tentunya, di belakang Sakura ada Ino yang mengikutinya. Namun tiba-tiba…..

"Hei! Ino! Apa yang kamu lakukan?"

Ino kaget setengah mati. Ia takut Sakura sadar kalau ia sedang membuntuti sahabatnya itu. Ino pun berbalik, dan yang dilihatnya adalah seorang gadis berambut ungu panjang lurus dengan iris indigonya yang tidak lain tidak bukan adalah Hinata, sahabatnya.

"Hiiinataaaa! Bikin kaget aja tau!" seru Ino sambil mencubit pipi sahabatnya itu.

"Loh, itu Sakura kan? Ngapain dia ke atas atap? Pasti ia mau kasih makan burung-burung merpati yang sering di atas atap itu." ujar Hinata dengan polosnya.

"Hinaaataa, kamu ini…." Ino bingung menghadapi kepolosan sahabatnya itu.

"Kalau kasih makan burung, Hinata mau ikut juga deh. Hinata mau ketemu sama Peko-chan. Tunggu, aku Saa….." Belum selesai Hinata berbicara Ino menutup mulut sahabatnya itu.

"Sssssst, nanti kita ketahuan sama Sakura. Kamu diem aja deh Hinata. Sakura itu bukan mau kasih makan burung, dia mau menemui seseorang di atas atap."

"Oooooo, kalau Ino suruh Hinata diam, Hinata bakal diem." tambahnya sambil tersenyum.

"Ok, kamu diem aja ya Hinata, jangan ribut. Kita buntutin Sakura." pesan Ino sambil mengendap-ngendap.

Sakura sudah berada di atap sekolah. Angin berhembus sangat kencang di atas. Ia tak melihat seorang pun dia tempat itu. Yang dilihatnya hanya sekelompok burung merpati di dekat pagar kawat sekeliling atap sekolah.

"Tidak ada siapa-siapa di sini." gumamnya. "

Mungkin orang itu terlambat, aku tunggu sebentar lagi batinnya sambil mendekati sekumpulan merpati itu.

Ino dan Hinata yang membuntutinya mengintip dari balik pintu. Ternyata Shimura-senpai belum datang, pikir Ino.

"Tuh kan bener, Ino. Sakura ke atas atap mau kasih makan merpati." kata Hinata yang mulai ngoceh lagi.

"Hmmm, iya iya Hinata. Terserah deh, kamu mau ngomong apa." ujar Ino yang speechless liat kepolosan sahabatnya itu.

Sakura yang sedang menunggu sambil membawa tas sekolahnya tertarik pada salah satu burung merpati yang baru saja datang, ada pita di kakinya.

"Burung merpati ini ada pita merahnya. Lucu." tawa Sakura.

"Aaaah itu, Peko-chan…." seru Hinata sambil berlari keluar dari tempat persembunyiannya.

"Hinataaaa, apa yang kamu lakukan!" cegah Ino sambil menarik tangan sahabatnya itu.

Namun, sia-sia. Sakura sudah melihat mereka.

"Hinata, Ino. Kalian ngapain di sini?"

"Mau ngasih makan merpati. Peko-chan aku rindu padamu." sahut Hinata sambil mendekati merpati putih dengan pita di kakinya itu.

"Nnnggg, iya, mau kasih makan Peko-chan." jawab Ino yang bingung mencari alasan. "Kamu sendiri ngapain, Sakura?" bohong Ino pura-pura nggak tahu.

"Nggak ngapa-ngapain kok. Jangan-jangan, kamu membuntuti aku ya, Ino?" tebak Sakura sambil berjalan menuju tangga turun.

"Gak kok, Sakura. Sama sekali gak. Hei, Kamu mau kemana, Sakura?" panggil Ino yang bingung melihat Sakura menuju pintu keluar.

"Aku mau pulang!" kesal Sakura marah.

"Jangan pulang dulu, Sakura!

Hei! Hinata ayo bantu aku cegah Sakura pulang!" ajak Ino sambil menarik tangan Hinata yang sedang memberi makan Peko-chan.

"Peeeekooooo Chaaaaaann…." erang Hinata sambil menangis.

"Sudah nanti besok lagi ketemu Peko-chan, kita urusi Sakura dulu." Kemana Shimura-senpai? gumam Ino.

Sakura pun mulai menuruni satu demi satu anak tangga. Ia kesal dan malu ketahuan sahabatnya saat menunggu si Sai itu.

"Saaakuuuraaaa, tunggu kami." teriak Ino dari atas.

Sakura tak menghiraukan Ino. Ia terus menuruni anak tangga dengan cepat dan ia tidak melihat kalau tangga yang hendak ia pijak itu basah. Dan ia pun terlanjur menginjaknya…

"UWAAAA…" teriak Sakura. Kedua kaki mungilnya itu sudah tak berpijak pada anak tangga lagi.

Hampir saja Sakura jatuh, kalau saja tidak ada seseorang yang menolongnya. Seorang cowok tinggi berkacamata, kulitnya putih pucat, rambutnya berwarna hitam, tangannya yang lembut dan hangat itu menggendong Sakura yang hampir jatuh. Dan matanya berwarna onyx kelam memancarkan pesona bagi siapa saja yang menatapnya. Dan onyx itu bertemu dengan emerald Sakura.

"Kamu gak apa-apa, Haruno?" tanya cowok itu.

"Gak apa-apa." jawab Sakura."Mengapa kamu tahu namaku? Dan bisakah kamu menurunkanku, aku gak apa-apa." jawab Sakura yang merona gara-gara untuk pertama kalinya ia digendong seorang cowok.

"Ah iya." katanya sambil menurunkan Sakura. "Namaku Shimura Sai. Aku yang menge-mail padamu semalam. Maaf jika itu mengganggumu." lanjut cowok berambut hitam itu.

"Tidak, sama sekali tidak." bohong Sakura nge-les, padahal kemarin ia merasa amat terganggu dengan e-mail si Sai ini.

"Maaf, aku terlambat. Tadi ada rapat klub seni lukis jadi aku pergi sebentar menghadiri rapat itu." jelas Sai.

"I….ya. Gak apa-apa kok. Aku baru saja tiba di tempat ini." ujar Sakura yang tidak bisa menatap wajah Sai. Ia malu. Benar-benar malu, sudah membalas e-mail dari Sai dengan cara yang bisa dibilang "kasar", padahal Sai sebaik ini padanya.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi sebaiknya jangan di sini." usul Sai sambil melirik dengan senyuman ke arah kedua sahabat Sakura, Hinata dan Ino. "Lebih baik kita ke tempat aku menyuruhmu datang saja." pinta Sai

Ah, mereka menyadari kami, batin Ino.

Mereka berdua naik ke atas atap. Sai menutup pintu atap, takut pembicaraan mereka terdengar oleh Ino yang selalu ingin tahu. Keduanya duduk jauh dari pintu, mereka duduk dekat pagar kawat atap sekolah.

"Anu…, Haruno. E-mail terakhirku kemarin. Aku bilang aku cuma mau kenal kamu lebih dekat itu….."

"Ooooh…. yang itu….."

"Aku tahu kalau kamu suka warna pink muda. Aku tahu kalau kamu suka makan buah cherry. Waktu kecil, kamu pernah nyomotin buah cherry di minuman semua orang saat ada pesta. Saking sukanya sama buah Cherry, hampir semua barang-barangmu bergambar buah Cherry. Aku tahu kalau kamu benci sekali pada mata pelajaran Sains. Makanan kesukaanmu adalah omelet yang setengah matang, diberi mayones dan saus tomat. Aku juga tahu kalau kamu suka sekali bikin kue dan masak meskipun sering gagal, tapi juga ada yang berhasil. Aku juga tahu kalau….."

"Cukup…. Cukup….. Senpai tahu semua itu darimana? potong Sakura yang kebingungan sekaligus malu karena Sai menyebutkan segala sesuatu tentang dirinya.

"Aku tahu dari ini." sahut Sai sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas yang dijilid dan sampul depannya tertulis…..


1001 Hal yang Ingin Kau Ketahui Tentang Sakura

By Haruno Sasori


"KAK SASORIII… " geram Sakura keras.

Sakura segera menutup mulutnya saat tersadar kalau ia berteriak di depan Sai.

GUBRAK BRAK…..

Terdengar suara barang-barang jatuh. Bukan karena teriakan Sakura yang menggelegar itu. Rupanya, tidak hanya Ino dan Hinata saja yang membuntuti Sakura, Deidara dan Sasori juga membuntuti Sai. Mereka sudah berada di atap sekolah sejak tadi.

"Kalian! Apa yang kalian lakukan di sini ?" marah Sai.

"Kaaaakaaaak! Awas kau ya!" kesal Sakura.

"Nnnng, maaf Sai. Habis, Deidara maksa mau liat apa yang akan kamu lakukan di atas atap."

Ternyata Deidara juga seperti Ino, ia diam-diam membaca isi kertas putih itu.

"Loh, bukannya kamu ya yang maksa aku, Sasori. Kamu bilang mau, mmph…"

"Ya udah deh, kita ganggu kalian, ya? Kita pergi dulu." pamit Sasori sambil menutup mulut Deidara dan berjalan menuju pintu keluar.

Rupanya, Ino dan Hinata masih menunggu di depan pintu. Ino mendekatkan telinganya ke pintu. Hendak menguping. Dan saat, Sasori membuka pintunya…..

"Inoooo, kamu masih belum pulang!" seru Deidara.

"Mmmm, Iya… Hai… Sakura, Shimura-senpai."

"Sudah kubilang kan, Ino. Menguping itu tidak baik." kata Hinata menasehati Ino.

"Kalian juga sama…" keluh Sakura.

"Kalau begitu, kalian semua turun ya, pulang aja ya…" tegur Sai sambil mendorong mereka supaya turun. "Daaaaaah…."

BLAAAK!

Sai yang sedang marah sempat membuat kaget dan takut Sakura. Apalagi Sai juga membanting pintu. Namun, tiba-tiba Sai mendekati Sakura dengan pandangan serius...

"Maaf, atas gangguan tadi. Mereka semua bikin aku kesal…"

Sakura tidak menjawab apa-apa. Ia masih shock dengan gubrakan pintu tadi.

"Haruno, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Aaaah, iya. Ada apa, Shimura-senpai?"

Sai mendekati Sakura hingga jarak antara mereka berdua semakin mendekat. Sakura pun dapat merasakan hembusan nafas Sai yang tidak beraturan, dan hangatnya suhu tubuh Sai saat itu.

"Aaaaaargghhh, gak bisa. Gak bisa!" kesal Sai sambil memegangi kepalanya dan menjauh dari Sakura.

"Tenang, Sai. Tenang." pinta Sai pada dirinya sendiri.

Kemudian SAI berbalik. Kembali menatap emerald Sakura.

Ia menarik nafas panjang dan siap untuk mengatakan sesuatu.

"Haruno, kamu benar-benar anak yang polos dan baik hati. Aku masih ingat saat aku pertama kali melihatmu, saat ujian siswa baru. Kamu menolong seekor anak anjing yang kedinginan dengan menaruh payungmu di atas kardusnya. Aku, saat itu, terus mencarimu, menunggumu, dan ternyata kamu juga masuk sekolah ini dan kini aku menemukanmu. Aku pun tak tahu mengapa aku seperti ini di depanmu. Padahal, aku baru saja hari ini bertemu secara langsung denganmu." kata Sai berbicara panjang lebar tanpa henti. "Mungkin, ini terlalu cepat. Aku tahu, kamu pun pasti belum mengenalku, namun… Suki da yo, Haruno. Aku menyukaimu, Haruno."

Angin berhembus kencang di atas atap itu. Sakura, yang baru pertama kali di"tembak" seorang cowok, membeku, bak salju di musim dingin. Namun, ia dengan jelas mendengar semua yang dikatakan Sai. Ia belum mengenal Sai sama sekali, tidak ada alasan baginya untuk menerima Sai sebagai cowoknya. Dan akhirnya…..

"A-aku, belum mengenal senpai sama sekali. T-tapi aku tahu bahwa senpai adalah orang yang baik. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, seseorang menyatakan perasaannya padaku. Aku pun belum pernah berpacaran satu kali pun. Tentu saja, ini adalah pengalaman yang baru bagiku. T-tapi, aku belum mengenal senpai, aku belum mengenal senpai…."

Sakura bingung harus menjawab apa. Orang yang baru beberapa menit ia kenal, menyatakan perasaan padanya. Ia bingung.

"Aku belum bisa menerimanya, senpai….." tolak Sakura.

Mendengar jawaban Sakura, senyuman kecil terbentuk dari wajah Sai.

"Haa... Terima kasih, Haruno. Aku juga sudah memikirkan kemungkinan kamu akan menolakku. Wajar saja, orang asing yang baru kau kenal, tiba-tiba menyatakan perasaannya padamu."

"Maaf, senpai….. "

Sakura yang bingung harus menjawab apa akhirnya menolak Sai yang menyatakan perasaan padanya. Meskipun, dalam hati Sakura, ia senang ada cowok yang menyatakan perasaan padanya. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Mungkin, perasaan ini masih berbentuk benih, dan ketika saatnya perasaan ini mulai berbunga, aku ingin bisa seperti senpai, menyatakan perasaanku juga, ucapnya dalam hati.

"Tapi, aku tak akan menyerah. Aku akan membuatmu menyukaiku, Haruno."

Sai keceplosan. Padahal itu adalah tekad yang ia ucapkan dalam hati. Ia segera menutup mulutnya segera setelah mengatakan apa yang ia pikirkan tadi.

Wuuuush…

Angin bertiup kencang dan menerbangkan sebuah kertas yang telah lama digenggam Sai di tangannya. Dan kertas itu tepat mendarat di depan Sakura. Kertas itu basah. Sakura mengambilnya dan melihat apa yang tertulis di kertas basah itu.


Haruno, kamu benar-benar anak yang polos dan baik hati. Aku masih ingat saat aku pertama kali melihatmu, saat ujian siswa baru. Kamu menolong seekor anak anjing yang kebasahan dengan menaruh payungmu di atas kardusnya. Aku, saat itu, terus mencarimu, menunggumu, dan ternyata kamu juga masuk sekolah ini dan kini aku menemukanmu. Aku pun tak tahu mengapa aku seperti ini di depanmu. Padahal, aku baru saja hari ini bertemu secara langsung denganmu. Mungkin, ini terlalu cepat. Aku tahu, kamu pun pasti belum mengenalku, namun Suki da yo, Haruno. Aku menyukaimu, Haruno.


"Aaaaah, kertas itu." teriak Sai.

Ini kan perkataan yang ia katakan padaku tadi, batin Sakura.

"Aku mempersiapkan terlebih dahulu apa yang akan aku katakan pada cewek yang kusukai." tambah Sai sambil membalikkan badannya. Malu.

Fuih… Lucu sekali cowok ini, tawa Sakura dalam hati. Dibalik penampilannya yang dingin, ternyata ia pemalu. Kertas ini sampai basah, ia tegang sekali sepertinya.

Mereka berdua pun turun dari atap sekolah.

"Izinkan aku mengantarmu, pulang." pinta Sai yang berbicara tanpa menatap mata Sakura. Ia menolehkan kepalanya ke sisi lain. Ia gak bisa melihat Sakura saat itu. Aku akan berusaha, Haruno. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa mengisi relung di hatimu tekad Sai.

Sakura yang berjalan berduaan dengan seorang cowok sebaik dan sekeren Sai pun, jantungnya berdetak tak beraturan. Aku senang, bisa merasakan perasaan ini untuk pertama kalinya, pikirnya dalam hati.

Terima Kasih, senpai


~つづく~


Wuuuuuaaa~~

Kenapa author teriak-teriak fangirling sendiri ya baca fic tulisan sendiri juga! *dasar cewek.* Maklum fic ini ditulisnya juga pas jama SMA, eh sekarang pas publish udah hampir lulus kuliah. Kerasa baca komik shoujo. Maaf ya kalau ceritanya keknya mainstream~ Dan yang sebenarnya suka buah Cherry ya si Author ini khakhakha. Kelakuan author pas kecil persis kayak di cerita, maling buah Cherry khakhaka... Maksain Sakura suka Cherry, namanya juga cocok sih sebenarnya Cherry Blossom, bodo ah...

Reviewnya ditunggu yaa~~ XDD