Disclaimer: Isayama Hajime-sensei

Story: Iwashima fue

The New Figure—


Detik jam menggema ke seluruh ruangan—

Dengan hati yang berat, dua hari setelah Reiner menjalani hubungan khusus dengan Annie.. ia memberitahu Bertholdt. Pria jangkung itu mengatakan ia senang walau dibarengi oleh perasaan kaget. Ia sudah mengetahuinya sejak lama, semenjak mereka bertiga jalan bersama.. terlihat Annie yang selalu mendekati Reiner, selalu jalan di sampingnya dan Annie yang menampilkan perubahannya.. ia jadi lebih banyak ngomong ketika digoda oleh pria berambut pirang itu.

Satu bulan setelah pertunangan mereka berdua, Reiner menyatakan jika ia ingin menikah dalam waktu yang dekat.

Bagaimana dengannya?

"Tentu saja, aku akan datang ke pernikahanmu, Reiner," lupakan Annie, dia adalah masa lalu, cinta pertama Bertholdt, cinta pada pada pandangan pertama.. ternyata pepatah tua itu menyatakan hal yang benar.. yang menyebutkan bahwa, 'cinta pada pandangan pertama tidak akan terwujud' dan Bertholdt merasakannya.

Beginilah kita, siklus kehidupan.

Lahir, tumbuh, belajar, menikah, mempunyai keturunan dan meninggal. Lagi.. dan lagi.

Pasti, di kehidupan akan ada kepedihan dan kebahagiaan.. namun Bertholdt masih belum merasakan bagaimana kebahagiaan itu terjadi padanya, teralami padanya. Entah kapan itu terjadi..


Married—

Hari itu diadakan di halaman gereja..

Karpet merah itu dilangkahi oleh wanita pirang dengan iris mata indah berwarna biru langitnya. Gaun putihnya terseret semenjak ia berjalan menuju pelaminan. Oh, Reiner begitu tampan dengan jas putihnya, rambutnya kini lebih rapi..

Bertholdt duduk di tempat duduk keluarga pengantin pria. Berhubungan ayah Annie harus menjadi pengiring pengantin wanita dan keluarga Annie hanya tinggal ayahnya, akhirnya teman-teman mereka menggantikan posisi duduk kedua keluarga pengantin.

Untuk kali ini, sisi Reiner adalah tempat duduk para pria, sedangkan sisi Annie adalah tempat duduk untuk para wanita. Cukup banyak juga yang menghadiri pernikahan mereka—karena penasaran, bahkan ada yang mengajak kenalan yang tidak dikenal oleh kedua pengantin, alias tamu yang diundang oleh tamu.

Reiner dan Annie saling berhadapan, melihat paras satu sama lain.. mereka terlihat begitu cocok. Annie bahkan memperlihatkan senyum kecilnya ketika ia menatap mata Reiner dengan lembut.

Ketika pendeta menyelesaikan apa saja yang harus ia sebutkan, ia menyatakan sesuatu untuk terakhir kalinya.

"Dipersilakan untuk mempelai pria mencium mempelai wanita," dan Reiner mengecup bibir Annie dengan lembut dan singkat.

Bertholdt tersenyum, dan bertepuk tangan.. yang membuatnya merasa tidak nyaman di sana adalah—karena Sasha membawa pistol mainan yang menimbulkan suara berisik ketika semuanya bersorak mengapresiasikan pernikahan suami-istri Braun sudah resmi. Sasha adalah wanita paling repot di antara teman-teman kedua mempelai, membuat Bertholdt merasa terhibur karena melihat gadis itu.

Aah, pada saat itu Reiner menyuruh Annie untuk melempar bunganya kepada para pasukan gadis yang sudah siap berjajar. Kecuali untuk wanita-wanita yang sudah menikah dan.. masih ingin bebas.

"Ah, Bertholdt!" Sasha menyapa pria itu, selesai mengobrol dengan Connie. Annie diam mendatar, melihat para gadis sudah siap dengan semangat berapi-api, menunggunya. Namun tidak disangka Annie langsung melemparkan—ganti, membidik bunganya pada Sasha yang.. bodohnya hanya mengatakan satu huruf vokal ketika parasnya dikenai oleh bunga mawar itu.

"E?" duagh!—sraak..

Sasha langsung terjatuh ketika satu buket bunga mawar itu mengenai wajahnya, Annie yang tidak ingin salah langsung menarik lengan Reiner dan berjalan keluar gereja, seperti biasa.. dengan muka tidak bersalahnya—datar.

Sasha jatuh telentang, tepat di depan Bertholdt yang shock karena buket bunga yang diarahkan oleh Annie membuat gadis yang menghampirinya tadi jatuh. Pria itu langsung mengambil buket bunga di atas wajah Sasha.

"S-Sasha, kau tidak apa-apa?" Tanyanya, Sasha langsung mengubah posisinya menjadi duduk, ia hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan tampang konyol.

"K-Kukira benar-benar peluru raksasa," ucapnya dengan tampang serius kali ini.

Bertholdt masih menatap Sasha dengan perasaan tidak wajar, ia sadar jika bunga itu masih berada di tangannya. Oh, ia bisa memberikannya pada Sasha, lagipula untuk kali ini ia mulai ragu dengan apa yang namanya pepatah atau mitos jika ada seseorang yang mendapatkan bunga dari pengantin yang menikah, maka gilirannya akan tiba.

"Hmm? Tidak, ah.. aku mau kalau isinya makanan saja," lalu Sasha melemparkannya pada para pasukan gadis yang tadinya mau bubar. Para gadis langsung berteriak dan berebut mengambilnya, seakan ada peperangan yang terjadi, para pria dan wanita sisa langsung keluar menghindari mereka, termasuk Bertholdt dan Sasha.

"Huaah, aku sudah melakukan kesalahan yang fatal," ucap Sasha. Bertholdt hanya memandangi gadis itu.

"Bertholdt? Ada apa?" Pria jangkung itu kaget ketika khayalannya dihancurkan oleh suara Sasha.

"Eh? Tidak apa-apa," Bertholdt mulai bertanya-tanya kembali, kenapa Annie mengarahkan buket bunga itu pada Sasha? Apa ada maksud tertentu ketika dia.. sengaja mengarahkannya pada Sasha yang ingin menghampiri Bertholdt? Tapi.. Annie yang sedingin itu.. masa—jangan-jangan Reiner yang menyuruhnya, ah tidak. Ia melihat tampang Reiner yang tampak kaget ketika Annie mengarahkannya pada Sasha yang langsung terjatuh.

Jika Reiner yang menyuruhnya dengan sengaja, ia pasti akan tertawa dengan keras. Memangnya berpengaruh jika buket bunganya diarahkan degan sengaja seperti itu?

"..Bertholdt, mulai besok kafeayahku akan mengadakan diskon setengah harga untuk menu spesial, kau mau datang?" Bertholdt awalnya berpikir sebentar tentang tawaran Sasha. Aah, akhir-akhir ini ia ingin menyegarkan otak dari pekerjaannya.

"Baiklah, aku akan ke sana," Sasha tersenyum mendengarnya.

"Kalau begitu, akan kupesankan tempat," dan setelah itu Sasha memberikan kartu informasi tentang kafenya dan berlalu untuk menawari teman-temannya yang lain.


Café—

Klining— jam 12 siang, cerah.. musim semi yang hangat.

"Oh, kau sudah datang.. teman Sasha," ucap ayahnya dengan senyum ramah.

"S-selamat pagi, saya disewakan tempat oleh Sasha," ayahnya lalu tertawa kecil dan mengantar Bertholdt ke tempatnya.

"Ahaha.. tidak usah sungkan, lagipula.. ini sudah siang," ucapnya lalu pergi meninggalkan Bertholdt yang malu karena salah menyapanya. Seorang pelayan menghampiri Bertholdt.

"Sasha?" Sasha tersenyum.

"Mau pesan apa, Bertholdt?" Bertholdt merasa tidak enak, tapi ia juga sengaja mengosongkan perutnya demi makan makanan berat di kafeSasha. Jadi ia memesan wafel dan teh manis.

"Kau suka sekali dengan teh, ya. Nanti gigimu kuning, lo," Bertholdt menggaruk pelipisnya.

"Ah, baru kali ini aku minum lagi, kok," Sasha kembali ke dapurnya. Tidak lama setelah ia kembali dari dapur Sasha membawa sebuah cake. Sepertinya cake itu untuk dirinya sendiri, pikir Bertholdt.

"Ini, bonus untukmu," Bertholdt tidak menyangka jika Sasha akan mengatakan hal itu. Tapi.. sepertinya parasnya sudah tidak nyaman menahan rasa haus akan makanan manis di depannya, Sasha.. memelerkan ludahnya sedikit keluar.

"Untukmu saja, deh.." Sasha langsung menyeruput kembali ludahnya.

"Eh? Tidak, tidak.. aku tidak bisa memakannya, ayahku akan marah," ucap Sasha sembari menolaknya dengan paras sayang banget ketika cake yang disodorkan padanya didorong kembali. Bertholdt juga merasa tidak nyaman.

"..Satu suap, mungkin tidak akan ketahuan," tanpa sadar Bertholdt langsung menyuapi Sasha dengan satu suap cake darinya.. baru ia sadari ketika Sasha tidak ingin melepaskan sendok cakenya.

"Sa—" Ia malu mengakuinya, kalau.. sebenarnya ia lumayan suka dengan suasana seperti ini.

"Apa?" Sasha mengunyah cakenya, tidak menyadari apa yang sebenarnya Bertholdt lakukan tadi.

Tapi anehnya, ketika Bertholdt tidak sengaja menyuapi Sasha tadi, dadanya serasa ringan, enak dan.. senang? Apa mungkin itu perasaan bahagia untuknya? Bersama dengan gadis polos di depannya. Tapi ia merasa tidak enak ketika ayah Sasha tiba-tiba melintas, tapi ia hanya sekedar datang untuk menanyakan sesuatu pada karyawan lainnya.

Jadi ia cepat-cepat menghabiskan cake yang mengenyangkan itu.

Sasha heran dengan kelakuan pria di depannya itu. Tiba-tiba ayah Sasha memanggil anaknya, entah untuk apa tapi Bertholdt merasa sedikit kecewa ketika ia ditinggalkan oleh Sasha.. kecewa? Kenapa?

Tidak lama setelah Sasha mengobrol dengan ayahnya, Sasha pergi ke belakang. Ia kembali membawa sebuah tas kecil untuk bepergian, sepertinya ia ingin pergi bekerja. Sasha bekerja menjadi seorang guru TK untuk mengumpulkan uangnya sendiri.

Tidak lama setelah itu, pesanan Bertholdt pun sampai. Selesai Bertholdt menikmati dan membayar biaya makan siangnya, ia mendapatkan pesan dari Sasha yang mengatakan jika ia harus datang ke tempat gadis itu mengajar. Sudah diundang ke kafeayahnya, ia harus pergi ke bazar lagi Tk Sasha lagi. Perlakuan istimewa apa itu? Hah?

Lagipula hari ini ia tidak ada jadwal bekerja, pikirnya.

TK tempat Sasha mengajar itu bertempat di pantai Trost. Daerah itu dekat dengan rumahnya. Bertholdt segera tancap gas menuju TK Sasha.

Ah, ada hobi baru yang pria jangkung itu suka lakukan sekarang, kadang ia menemui Sasha secara tidak sengaja ketika sedang iseng jalan-jalan di pinggir pantai. Dan diam-diam.. kadang ia juga sengaja datang ke TK itu untuk menemui Sasha.

"Bertholdt! Di sini!" Sapa Sasha dari kejauhan. Tidak ia sangka jika saat ini pesisir pantai di daerahnya begitu ramai disebabkan oleh live music dan bazar. Sepertinya di sana diadakan konser amal untuk panti asuhan yang berada di dekat kota.

"Terima kasih sudah mau datang! Apa.. kau sibuk?" Bertholdt segera menggeleng, menyatakan jika dirinya sangat-sangat bebas dan sama sekali tidak sibuk di hari itu. Sasha tersenyum mengetahui jawaban Bertholdt.

Tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampiri mereka, sepertinya anak itu adalah murid Sasha. Sasha segera jongkok ingin mengetahui apa yang membuatnya menghampiri mereka. Tapi justru anak itu yang mendahului Sasha untuk bertanya.

"Bu Sasha, paman ini pacarmu, ya? Suka datang melulu," Tanya bocah itu sembari menunjuk Bertholdt, rambut cokelat karamel dengan mata hitam garangnya membuat Bertholdt sedikit tidak nyaman ditatap oleh bocah itu. Namun yang paling membuat Bertholdt tidak nyaman tentunya dengan pertanyaan yang bocah itu lontarkan pada Sasha.

..PACAR?

Sasha hanya tersenyum sembari melihat bocah itu.

"..Iya, ini kekasih ibu!" Bertholdt langsung salah tingkah mengetahui jawaban Sasha yang—kok, bisa sepercaya diri begitu mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Sasha?

"Masa, sih? Umurnya berapa?" Tanya bocah yang lain.

"Rahasiaa.." tiba-tiba anak-anak yang lain ikut mengerubungi Bertholdt dan Sasha.

"Kenapa om ini tinggi sekali?"

"..Aku ingin naik ke pundaknya," Sasha melarang bocah-bocah itu mengganggunya, apalagi bertanya-tanya tentang apa hubungannya dengan bu Sasha. Tentu tanggapan anak-anak polos itu langsung kecewa.

Namun Bertholdt langsung jongkok dan menatap ke arah anak yang tadi mengatakan ingin naik ke pundaknya.

"Kau boleh naik ke pundakku, kok," ucap Bertholdt, lalu anak itu segera menaiki pundak Bertholdt dengan sangat senang.

"Uwooooh! Tinggi, tinggi!" Lalu Bertholdt membuat anak itu seakan-akan lompat di langit Anak-anak yang lain langsung cemburu melihat anak itu berada di pundak Bertholdt. Bertholdt yang tingginya hampir mencapai dua meter karena anak didik Sasha, membuat gurunya tertawa. Tidak disangka dokter itu bisa bermain dengan anak didiknya.

Then—

"Sudah, sudah.. paman Bertholdt sudah bermain dengan kalian, kasihan. Tenda kita tidak ada yang menempati, tuh.." Anak-anak langsung menyerbu tenda mereka dengan cepat, namun ada satu bocah yang pertama kali mendatangi mereka sekaligus bertanya pada Sasha tentang hubungannya dengan Bertholdt. Ia memelototi Bertholdt.

"Bu Sasha milik kami," lalu ia pergi dengan angkuhnya. Bertholdt dan Sasha hanya tertawa kecil menanggapi anak itu. Tidak lama setelah mereka tinggal berdua, Bertholdt mengingat jawaban Sasha untuk bocah itu.

Kekasih?

"Sasha.." Sasha menengok ke arah sumber suara.

"Tadi.. apa maksudmu?" Tanya Bertholdt, Sasha memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang pria di sebelahnya itu katakan. Mungkin ingatannya hanya sekitar sepuluh menit setelah Bertholdt bermain dengan anak-anak.

"Apaan?" Sasha malah balik bertanya. Bertholdt mengarahkan pandangannya ke panggung kecil.

"Tidak jadi, deh.." Tapi sebenarnya lelaki itu menyembunyikan paras memerahnya.

"Tentang 'kekasih' tadi?" Diam.

"Aku hanya iseng ingin menembakmu saja, hehe.." Kepala Bertholdt segera kembali menghadap Sasha, gadis tersenyum menggodanya. Mengapa Sasha bisa semanis sekarang? Dan.. sedikit anggun, tunggu apa semenjak ia ingin melupakan Annie dirinya jadi berlari ke arah Sasha? Tidak, tidak seperti itu.. Tiba-tiba Bertholdt mengarahkan kepalanya ke langit dan tersenyum.

Ia hanya ingin.. mencari sosok yang baru.

"Kalau mulai dari sekarang?" Tanya Bertholdt, Sasha menyenggol lengan pria itu.

"Ah, jangan bercanda terus," Bertholdt terus menanyakannya dengan serius. Ketika Sasha masih belum percaya, Bertholdt mengarahkan kepalanya ke paras Sasha.

"Benar juga, aku tidak akan bercanda sekarang.. makanya aku bertanya padamu," Sasha diam di samping Bertholdt dengan muka datarnya.. namun tidak lama setelah ia memikirkan pertanyaan Bertholdt tadi, ia mulai memerah dengan manisnya.

"Tapi.. tidak apa-apa? Aku ini, 'kan.. perempuan aneh," giliran Bertholdt menyenggol lengan kurus gadis itu dengan pelan.

"..Karena itu aku menyukaimu," tiba-tiba Sasha ditarik oleh bocah lelaki tadi, tapi sepertinya bocah itu ingin memberikan sesuatu padanya.

"Ini, aku membuatnya untuk bu Sasha, aku menyukai bu Sasha," Sasha tersenyum lebar ketika bocah itu—bocah bermata garang itu memberikannya sebuah bros. Bentuknya adalah kepala Sasha yang sedang terkuncir ala buntut kuda dengan senyum.

"Benar ini Junior yang buat? Hebatnyaa.." Tiba-tiba bocah itu memelototi Bertholdt kembali, seakan Bertholdt memang benar-benar rivalnya. Bertholdt hanya membalas tatapan anak itu dengan senyum kecut.

"Akan kupakai setiap hari!" Bocah itu lalu tersenyum dan berlari ke arah kedua orang tuanya. Ibu bocah itu lalu melambaikan tangan pada Sasha.

"Sepertinya kau cinta pertama anak itu, Sasha," Sasha menghampiri Bertholdt dengan senang.

"Apa?"

"Brosmu bagus," dustanya. Sasha lalu tertawa.


A/N: Ah, akhirnya saya selesai juga.. mungkin wordnya kebanyakan karena sampai 2000 kata. Yah, ini hanya sekedar kesenangan saya saja.. untuk menulis dan saya senang bisa menulis pair ini, karena.. walau di manga atau anime aslinya mereka enggak pernah bercakap-cakap sekalipun.. saya bisa membuat mereka ngomong banyak berdua di sini.

Amanatnya.. mungkin kalian bisa move on karena masih ada banyak orang yang tidak pernah kita sangka di dunia ini bertemu dengan kita, jiaaah.. authornya koplak, maaf ngomong begitu.. Yah, sebenarnya saya padahal enggak punya pengalaman apapun buat bikin fic romance yang lain-lainnya, ini hasil ide murni saya. Akhir kata.. terimakasih untuk yang sudah mengikuti fic saya sampai akhir dan juga para readers yang sengaja mereview, terimakasih banyak!

RnR Please?