Konichiwa, minna-san..
Yoshh! Saya balik lagi nihh! Masih mengusung judul "Coffee Bar Story" yang kali ini masuk chapter 2.
Hiks... T-T
Terima kasih kepada semua yang udah review dan mendukung saya. Saya ga' nyangka kalo fict kacau itu banyak yang suka dan minta dilanjutkan. Benar-benar ingin terharu rasanya. #plakk!
Pokoknya fict ini untuk kalian semua! Semoga suka!
Note : - Typo sana-sini, bahasa kacau, membingungkan dan sebagainya.
Janji saya buat Ochi yang mau bali ke asrama ^^
Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP
Coffee Bar Story (c) Ken
# # # # # # # # #
Kurogane tidak tahu kalau tidak segera pulang ke apartemen setelah kedainya tutup akan berakibat fatal begini.
Masih mending kalau pemuda itu hanya masuk kedai di luar jam buka toko dan memesan berbagai jenis kopi –yang Kurogane tidak tahu apa maksudnya— . Tapi kenyataannya, yang terjadi lebih parah lagi. Pemuda pirang itu sudah dua hari ini tidur di dalam kamar di apartemennya yang –beruntungnya— ia tinggali seorang diri setelah berhasil membuat Kurogane panik dengan pingsan mendadak di kedai setelah minum kopi buatannya.
Cerobohnya, bukannya dibawa ke rumah sakit atau apa, Kurogane malah membawa pemuda itu pulang.
Baiklah kalau Kurogane mau membela diri. Kepanikan akan membuat kita melakukan hal-hal di luar dugaan.
Kemarin Kurogane sudah meminta seorang dokter untuk datang dan memeriksa keadaan si pirang itu.
"Dia cuma belum sehat betul dan sedikit shock. Mungkin akan tidur untuk beberapa hari.", jelas sang dokter yang sama sekali tidak membuat Kurogane lega.
Kau tidak akan lega kalau kau tidak tahu orang macam apa yang tidur di rumahmu sekalipun dia sedang pingsan. Mungkin begitu pikir Kurogane.
Kurogane bangkit dari tidurnya. Untungnya laki-laki ini punya ide untuk tetap membeli kasur lipat sekalipun ia sudah membuat keputusan untuk tinggal sendirian di apartemen –meninggalkan rumah besar Suwa yang berisi angota keluarga yang lain— . Jadi ia bisa mempergunakannya untuk tidur di ruang tamu selagi kamarnya dipakai si pirang itu.
'Rasanya aku akan absen kerja lagi.', kata Kurogane dalam hati sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurogane masih memikirkan si pirang itu sembari menggosok tubuhnya. Pria berotot ini bertekad akan menginterogasinya setelah ia bangun dan sesegera mungkin mengantarnya pulang. Tentu saja Kurogane juga harus minta maaf pada kedua orang tua pemuda itu karena telah membawanya pulang tanpa ijin.
Seharian kemarin, Kurogane dibuat ketakutan oleh pikirannya sendiri. Bagaimana kalau orang tua pemuda itu melapor ke polisi bahwa anaknya diculik?
Tapi anehnya, sampai saat ini tidak ada berita di media mana pun tentang pemuda itu. Harusnya pasti ada sanak saudara yang sadar bahwa dia hilang lebih dari 24 jam kan?
'Semua ini akan selesai begitu dia bangun dan memberi tahu alamatnya.', pikir Kurogane.
Masalahnya, kapan pemuda itu akan bangun?
Kurogane menggosok rambutnya dengan handuk sambil mengdesah keras. Pagi-pagi begini dia sudah dibuat berpikir keras.
Masih dengan kaos oblong dan celana pendek serta handuk yang menggantung di lehernya, Kurogane menuju dapur. Mungkin satu mug besar coklat panas akan menghilangkan sedikit stress pagi-paginya ini.
.:xxx:.
Sementara itu tanpa Kurogane tahu , pemuda pirang yang ada di dalam kamar mulai membuka mata. Perlahan menyesuaikan diri dengan keadaan kamar yang terang benderang dari beberapa sinar matahari yang mulai masuk menerobos tirai-tirai putih transparan yang menghias jendela kaca tinggi di sisi kanan ranjang.
Perlahan ia duduk dan mengamati kamar yang dominan putih dan minim furniture itu (Taruhan! Kurogane bukan tipe orang yang hobi menghias rumah dengan pajangan-pajangan.) .
Ia sedikit merasa asing dengan lingkungannya.
Rasanya ini bukan tempat yang sama dimana ia bangun tidur sebelumnya. Sedangkan hal terakhir yang bisa diingatnya adalah bahwa ia ada di sebuah kedai kopi. Duduk di depan bar dan memesan Latte dan Espresso.
Dimana pun ia berada sekarang, mungkin seseorang di luar pintu itu akan menjelaskannya. Maka pemuda pirang ini pun bangkit untuk menemukan jawaban itu.
.:xxx:.
Kurogane sudah duduk di meja makan porselennya. Menghadap kitchen set sambil membaca koran dan minum coklat dari mug besarnya. Mencari berita baru, seperti berita tentang pemuda yang tidur di kamarnya itu contohnya.
Dengan liar, Kurogane menilik dan menyusuri tiap halaman. Mulai sudut kanan atas sampai sudut kiri bawah.
Matanya yang kecil melebar saat melihat kolom kecil dengan tulisan "ORANG HILANG" yang dicetak dengan font sedang dan efek tebal di salah satu sisi.
Dibuka lebar halaman itu dengan perasaan was-was. Tapi hanya sebentar sampai gerutuan sebal terdengar dari bibir Kurogane saat ternyata itu bukan berita dari si pirang. Ditutupnya koran itu dengan kasar lalu menyingkirkan benda malang itu dari penglihatannya.
"Sebenarnya aku menginginkan berita itu ada atau tidak sih?", tanya Kurogane pada dirinya sendiri.
Ia menikmati coklatnya lagi. Dan kali ini pikirannya terbang ke kedai.
Jadi apa tempat kerjanya itu setelah sehari kemarin ia tidak masuk? Bisa-bisa pria lawan pria bercumbu di setiap sudut ruangan.
'Bisa tidak sih hidupku normal sedikit?', keluh Kurogane dalam hati.
Padahal seharusnya pria ini sadar kalau dia sendiri yang membuat masalah yang ada jadi tambah rumit. Dia memang sulit sekali berkepala dingin bahkan untuk urusan sepele sakalipun.
Kurogane mengirim sisa coklat panasnya ke dalam mulut. Sekali muat hingga pipinya sedikit menggembung penuh cairan itu.
"Maaf."
Hampir saja coklat dalam mulut Kurogane menyembur keluar lagi saat suara ringan itu muncul dan mengagetkannya.
Kurogane memutar badan setelah buru-buru menelan coklat panasnya. Dilihatnya si pirang sudah berdiri di ambang pintu kamar yang sedari tadi dipunggungi Kurogane.
Mata si pirang sedikit melebar waktu melihat wajah Kurogane yang familiar baginya.
Sejenak. Merah dan biru bertatapan.
"Ini dimana?", Satu pertanyaan menuntut diajukan si pirang saat Kurogane tidak juga berkata apa-apa.
Dan seakan menjaga gengsi, Kurogane kembali mengeraskan ekspresinya.
"Ini apartemenku.", jawabnya singkat.
Hening lagi.
Pemuda pirang itu menangkap sinyal bahwa Kurogane –dia belum tahu kalau nama pria itu Kurogane— tidak menyukainya. Karenanya ia memikirkan sesuatu. Tepatnya sebuah pertanyaan lagi. Tapi kali ini ia harus cermat. Jangan sampai wajah itu terlihat lebih galak lagi.
"Kau siapa?" Uups! Bukan pertanyaan cerdas.
"'Siapa'? Heh..", Sontak Kurogane tertawa mencemooh, "Kau pingsan di kedaiku dan sekarang kau tak mengenaliku?"
"Ahh...bukannya aku lupa padamu.", Si pirang tersenyum kecut, "Maaf sudah merepotkanmu waktu itu."
"Bagus! Memang seharusnya kau minta maaf!", sahut Kurogane tajam.
"Boleh aku tahu namamu?"
"Kenapa kau harus tahu?", tanya Kurogane balik. Tapi rasanya kalimat tadi lebih tepat seperti ungkapan keberatan.
Kurogane berdiri dari duduknya dan berjalan melewati si pirang, masuk kamar. Ia membuka lemari dan mencari sesuatu. Kemudian dari tumpukan, ditariknya handuk dan satu stel baju.
"Lebih baik kau mandi karena setelah ini akan kuantar kau pulang.", kata Kurogane sambil menyerahkan barang-barang dari lemari tadi pada si pirang.
"Aku..."
"Sudah ada air di bathtub. Jadi kau tak perlu membebani tanganmu itu.", potong Kurogane sadis tanpa membiarkan si pirang menyelesaikan kalimatnya.
Si pirang masih diam. Memeluk barang-barang pemberian Kurogane dalam satu tangan. Membuat Kurogane mengernyit jengkel karena ia tak segera beranjak.
"Kamar mandinya di sana.", kata Kurogane lagi sambil menunjuk sebuah ruangan dengan pintu warna coklat berukir.
Dan bagi si pirang, kalimat itu berarti lebih. Seperti, "Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari hadapanku!". Jadi pemuda ini tak punya alasan lain selain menuju arah yang ditunjuk Kurogane tadi.
Begitu pintu mengayun tertutup, si pirang ini menyandarkan punggungnya pada bidang datar berukir timbul itu. Ia menghela napas pendek sebelum akhirnya melangkah lebih dalam.
Ceroboh sekali sampai pingsan di kedai orang, pikir si pirang sambil melolosi pakaiannya satu per satu dengan perlahan.
Sedikit mendesis saat gerakan tangan kanannya yang digips terlalu berlebih untuk melepaskannya dari lengan baju. Kemudian tangan kirinya naik ke atas untuk melepas bebatan perban di dahinya. Menyisakan kapas dengan bercak merah di sudut dahi kanannya.
Tuntas urusan melepas baju, si pirang mendekati bathtub.
Senyumnya mengembang. Geli, mengingat pemuda asing di luar ini mau repot-repot menyediakan air panas di bathtub untuknya. Padahal dari wajahnya tadi kelihatan kalau pemuda itu tidak menyukai si pirang.
Air meluber saat tubuh ramping itu memasuki bak mandi. Tangan kiri si pirang meraih aroma terapi di dinding yang tak jauh dari bathtub. Dan saat wangi maskulin menguar memenuhi kamar mandi, pikiran si pirang kembali melancong pada pemuda di luar ruangan –kamar mandi— ini.
Oke!
Tidak masalah kalau tuan besar itu –dalam hal ini maksudnya adalah pria yang benar-benar berbadan besar— tak mau menyebutkan namanya. Masalah pokoknya ada pada keinginan tuan besar itu untuk mengantar si pirang ini pulang.
"Bagaimana mengatakannya ya?", tanya si pirang pada diri sendiri sambil membasahi rambutnya. Membuat gema kecil di dalam ruangan.
Kenyataannya, si tuan besar itu bukan orang yang santai. Sementara pemuda pirang yang satu ini punya satu hal yang harus dikatakan pada tuan besar itu. Dan hal 'itu' sendiri punya indikasi akan membuat si tuan besar marah besar. Entah kenapa si pirang tahu itu.
Atau lebih baik hal 'itu' tidak usah dikatakan? Mengingat ia sudah merepotkan si tuan besar itu dengan tidur di sini yang entah sudah berapa lama.
.:xxx:.
Tokoh utama kita tengah menyiapkan sarapan di meja porselen –tempatnya membaca koran tadi— saat si pirang keluar dari kamar mandi.
Kehadirannya hanya dilirik oleh pria besar yang sibuk memindahkan bubur dari panci kecil ke dalam dua mangkuk ukuran sedang yang berhadapan.
Si pirang tersenyum lagi. Bukti kedua kalau pria besar itu tidak sepenuhnya membencinya. Bubur untuk sarapan pagi.
Ia mendekat ke meja porselen masih dengan tersenyum.
"Setelah ini akan kuantar kau pulang.", kata Kurogane.
Si pirang terkekeh, "Iya. Aku tahu."
Kurogane mengernyit. Rasanya belum ada satu jam yang lalu saat si pirang berwajah seperti orang linglung. Sekarang dia sudah bisa cengar-cengir.
Si pirang duduk di salah satu kursi, "Syukurlah. Kupikir kita akan makan sesuatu yang harus disumpit. Aku tak pernah berhasil menggunakannya."
Tak ada respon. Kurogane seakan menulikan diri dari deretan kalimat barusan.
Tapi toh matanya tak bisa acuh saat dilihatnya tangan kanan si pirang yang kini tak lagi ditopang perban.
"Tanganmu?", Kurogane tak mau bersusah payah menambahkan kata untuk menjelaskan apa maksudnya.
Dan untungnya si pirang memang tahu apa maksudnya. Setelah menengadah ke arah Kurogane –yang belum duduk— , ia menilik tangan kanannya.
"Kurasa tak akan apa-apa meskipun tidak digendong."
Setelah jawaban itu, Kurogane duduk berhadapan dengan si pirang. Diambilnya teko dan menuangkan isinya yang berupa kopi pekat ke cangkir miliknya juga si pirang.
Si pirang memperhatikan Kurogane. Kembali menimang apakah sebaiknya dia jujur atau tidak.
Sementara itu, Kurogane sudah mulai menyendok bubur. Tampangnya benar-benar tak mau peduli. Bahakan ketika si pirang kesulitan makan dengan tangan kirinya. Sama sekali tak ada keinginan untuk menolong.
"Kalau bukan karena kata dokter kau belum boleh makan-makanan yang merangsang, aku tak akan sudi makan bubur tak berasa begini.", kata Kurogane tiba-tiba.
Aha! Si pirang menemukan dua bukti lagi. Tuan besar itu mengundang dokter dan bersedia makan bubur tanpa rasa ini. Ternyata memang tuan besar ini punya sisi baik juga.
"Kau pasti mengundang dokter itu saat aku masih tidur ya, Tuan Besar?", tanya si pirang sambil tersenyum lebar yang langsung dihadiahi satu tatapan membunuh dari mata merah si tuan besar, "Haa... Jangan salahkan aku! Kau sendiri yang tidak mau memberikan namamu padaku."
Kurogane hanya menjawab kata-kata tadi dengan dengusan sebal dan kembali makan.
"Dan tentang buburnya", kata si pirang lagi, "harusnya kau beri sedikit rasa sesuai seleramu. Toh tak akan berpengaruh padaku."
Tak ada tanggapan, tapi juga bukan berarti kali ini Kurogane tak mendengarkan.
"Indra pengecapku hilang karena kecelakaan."
Kurogane terkejut walau tak begitu kentara.
"Malam itu aku ke kedaimu untuk memastikannya. Dan ternyata memang benar. Aku tak bisa merasakan apa-apa lagi."
Si pirang sudah merasa dekat dengan tujuannya untuk mengutarakan hal 'itu'.
"Namaku Fye."
"Jangan banyak omong! Selesaikan saja makanmu!", perintah Kurogane yang sudah selesai makan dan melumasi tenggorokannya dengan kopi.
Si pirang bernama Fye itu menurut dan kembali bekerja keras untuk menyendok bubur dengan tangan kirinya. Sementara Kurogane mulai memindahkan alat-alat makannya ke wastafel dan mencucinya.
"Ngomong-ngomong, aku pattisier lho!", Fye mulai bicara lagi, "Tadinya. Andai saja aku tidak kecelakaan dan kehilangan indra pengecapku."
Tak ada jawaban. Kurogane masih membelakangi Fye, mencuci panci yang ia gunakan untuk membuat bubur tadi.
"Dan kurasa kau harus dengar yang lebih buruk lagi, Tuan Besar."
Kurogane sudah jengkel setengah mati mendengar celotehan Fye yang tak ada habisnya. Segera saja setelah ia menyelesaikan prosesi cuci-mencucinya, diraihnya lap untuk mengeringkan tangannya yang basah. Sembari membalikkan badan untuk menghadapi Fye yang –sudah selesai makan— juga tengah menatapnya serius.
"Ya! Mari kita dengarkan apa yang menimpamu dan jauh lebih parah dari sekedar kehilangan indra pengecap.", kata Kurogane mencemooh.
Fye menghela napas. Bersiap untuk ledakan lahar dari gunung berapi bernama kemarahan milik si tuan besar.
"Aku amnesia."
-To Be Continue-
# # # # # # # # #
Bagaimanaaa?
Hufft.. Otak saya ikutan puasa nih! Ngambeg total, ga' ada suplai ide. Ya Tuhan, apa salah hambaMU ini? #plakk!
Jadi kalo yang ini ga' memuaskan, saya hanya bisa bilang, "Ampun! Jangan timpuk saya!". Haha...
Makasih banget untuk : Li Chylee, ryou yoshiko, aicchan-sensei, Dakochanz-Cafe, Sakura D. Flourite, BlackAquamarine, OchichiAoi, misa kaguya hime, Yukino Hitohira F. Jones, Hyumaru Ai, dan spesial buat Phoebe Yuu (gaya tulisan kita hampir mirip? *pingsan*).
Satu pertanyaan sebelum saya tutup, Fye itu ga' kidal kan? Dan terasa ada yang janggal ga?
As usual, review ditunggu! ^^
