Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre: Hurt/Comfort & Romance

Pairing: ShikaIno


Warning: Standard applied, AU, Ooc, typo(s), maybe multi pov and anything

Story is mine

.

Don't Like Don't Read

Happy Reading :)

.

Aku Tidak Selingkuh

Chapter 2

.

.

Aku termenung sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Titik fokus menyetir mobilpun bercabang karena berita yang kudengar beberapa menit yang lalu. Tenten-nee, kakak sepupuku mengabarkan istriku berselingkuh dengan mantan kekasihnya di rumah yang aku bangun bersamanya sendiri.

Dadaku sesak kala kabar itu terdengar di telingaku dan terus terekam di memori otakku. Aku bingung, kecewa, sedih, sakit semuanya bercampur menjadi satu. Tak bisa kudeskripsikan apa yang kurasakan saat ini. Namun, aku kembali memfokuskan netraku pada jalanan yang sedang kulewati. Sebenarnya aku tak mau pulang ke rumah dan menyaksikan semuanya.

Aku terlalu takut bila kabar itu benar adanya, aku terlalu takut bila memang istriku telah berselingkuh. Aku ingin pergi menjauh dari kehidupanku sekarang beberapa minggu saja sampai mimpi buruk ini berakhir. Dan aku kembali sehingga kusadari memang itu hanya sebuah mimpi belaka.

Namun, sejelek apapun hal yang akan dilewati, aku harus tetap tegar, aku harus bisa bertahan. Aku tak boleh berfantasi ria untuk menjadikan sebuah kenyataan menjadi mimpi yang tak masuk akal.

Tak terasa akhirnya aku sampai di depan rumahku. Aku tercenung melihat keramaian orang di pekarangan rumah dan aku melihat sosoknya dari jauh. Dua orang tersangka dalam kasus yang sedang terjadi. Aku benci melihat sesosok pria berkulit pucat dan berambut hitam yang sedang dipegangi oleh beberapa warga.

Seorang pria yang tega-teganya menganggu hubungan rumah tangga orang lain. Apa dia tak berpikir bagaimana perasaanku apalagi istrinya. Lalu kualihkan pandangan benciku padaku sesosok wanita berambut pirang dengan gaya pony tail yang sedang disanggah oleh Sakura. Dia adalah istriku, Ino. Netraku berubah melembut melihat sosoknya.

Kulihat dia begitu rapuh dan ringkih. Bahunya sedari tadi bergetar hebat, aku ingin sekali memeluknya dan mentransfer kekuatan yang kumiliki untuknya. Namun, nafsu emosi masih menguasaiku, aku masih kecewa padanya yang begitu tega mengkhianati pernikahan yang telah aku rajut bersamanya selama delapan tahun.

Aku tahu bagaimana penderitaan batin yang sedang menderanya saat ini. Aku juga cukup tahu ketakutan yang sedang dia rasakan. Memang apa yang bisa kulakukan, aku tak mungkin meloloskannya begitu saja dari hukuman. Seseorang yang bersalah itu memang pantas dihukum.

Itulah keadilan, aku tak bisa memaafkannya begitu saja hanya karena dia istriku. Aku mencintainya, sangat mencintainya, namun, aku bersalah bila membenarkan kesalahannya dengan membiarkannya lolos dari hukuman.

Menghela napas sebentar mengambil sebanyak-banyaknya pasokan udara yang bisa kuhirup untuk melonggarkan dada yang terasa begitu sesak. Dengan berat hati kulangkahkan kaki menuju rumah dan kuparkirkan mobil di depan rumah.

Kutapaki jalanan menuju ke pintu rumahku perlahan. Baru saja aku sampai, kulihat warga menggiring dua tersangka tersebut, istriku-Ino- dan mantan kekasihnya-Sai- untuk keluar dari rumah. Langkahku terhenti saat kulihat sosok wanita yang sangat kucintai bersama sahabatnya-Sakura- berhenti sebentar di hadapanku. Matanya begitu sayu tak terlihat pancaran sedikitpun di dalamnya.

Bisa kulihat semangatnya telah lenyap, dia mencoba berujar lewat matanya. Dia seolah merasa bersalah dan meminta maaf padaku. Perih sekali rasanya hatiku saat melihatnya berantakan seperti ini. Bibirnya terlihat pucat pasi, seperti seorang mayat hidup. Sungguh, aku ingin mendekapnya ke dalam pelukanku dan berbagi kehangatan juga tenaga yang kumiliki.

Rasa perih dan sakit yang kurasakan saat ini melebihi rasa sakit saat mendengarnya sudah berselingkuh. Sesosok wanita yang selalu terlihat ceria dan juga cerewet. Sesosok wanita yang selalu rewel dan menasehatiku ini itu. Sekarang terlihat seperti seorang yang tak punya semangat untuk hidup, begitu lemah dan rapuh.

Sebelum aku tak bisa mengontrol perasaanku, aku memilih untuk terus melangkahkan kaki membiarkannya terus berjalan. Baru satu langkah aku lakukan, terdengar lengkingan suara Sakura yang memanggil nama istriku itu. Sontak saja aku langsung membalikan tubuhku dan melihat apa yang terjadi, aku melihat dia-istriku- pingsan di lengan Sakura.

"Ino!" ucapku lantang dan langsung menghampirinya juga mengangkat tubuh rampingnya dengan bridal style ke arah rumah. Baru saja aku ingin berbalik badan, suara Sakura mengintrupsi langkahku.

"Shikamaru lebih baik kau bawa Ino ke rumah orang tuanya dengan mobilmu, aku akan ke sana memakai mobilku," usul Sakura. Mencoba mencerna beberapa saat apa yang Sakura katakana. Dibawa ke rumah mertuaku katanya, itu seperti aku berniat menceraikannya.

"Shikamaru cepat!" gertak Sakura kala dia melihatku diam saja tak mengikuti usulnya itu. Apa yang kupikirkan. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan Ino. Benar apa yang dikatakan Sakura, jika aku membawanya ke rumah mertuaku, Ino pasti akan diurus.

Aku pun membopong tubuhnya, lalu melangkahkan kaki menuju mobilku dan memasukan sosoknya di sebelah kursi supir yang akan kududuki. Rumahku dengan rumah mertuaku tak jauh, sehingga hanya dalam waktu beberapa menit saja sudah sampai. Sepanjang perjalanan aku menggenggam tangan Ino dengan tanganku sendiri. Kurasakan tangannya begitu dingin juga terlihat pucat.

"Ino kumohon kau harus cepat sadar," gumamku sepanjang jalan sambil terus menggenggam telapak tangannya kuat, menautkan jari-jari kami menjadi satu.

Sesampainya di rumah mertuaku, aku kembali membopongnya ke dalam rumah, lebih tepatnya ke dalam kamarnya. Kurebahkan tubuhnya di atas kasur. Sorot mataku kembali melembut dan mengusap helai rambut Ino. Kubisikan berkali-kali bahwa aku mencintainya, sangat mencintainya malahan. Berharap dia mendengar dan lekas bangun dari pingsannya.

"Shika, sebenarnya apa yang terjadi pada Ino-chan?" Kaa-san dan tou-san Ino menghampiriku. Aku bingung harus mengatakannya dari mana. Kalaupun aku mengatakan bahwa Ino sudah selingkuh, aku yakin mereka tidak akan percaya. Bagaimanapun mereka adalah kedua orang tua Ino.

"Cerita panjang Paman Inoichi," sahut seseorang tiba-tiba, aku menengokan kepalaku ke arahnya, kulihat sosok Sakura yang masih berdiri di ambang pintu. Aku menghela napas lega, setidaknya aku tertolong oleh ucapan Sakura. Biarlah Sakura yang menjelaskan semuanya karena aku tak sanggup untuk menceritakan aib dari istriku sendiri.

Sakura menghapiri kami dan ikut mengusap pucuk kepala Ino. Aku yakin dia pun pasti sedih melihat sahabat karibnya terkulai tak berdaya seperti ini. Namun, tentu aku lebih sedih darinya, aku suaminya, aku benar-benar tak tega melihatnya seperti ini. Aku benar-benar tak menyangka Tenten-nee dan Lee-san tega sekali kepada istriku.

"Tou-san, aku izin pamit pulang ke rumah sebentar." Aku pun pamit pulang ke rumah yang sudah delapan tahun lamanya aku tempati bersama Ino. Inoichi-jiisan hanya menganggukan kepalanya.

"Shiku, kau mau ikut tou-chan pulang?" tanyaku pada Shiku, anakku bersama Ino. Dia menggeleng pelan, "tidak tou-chan, aku ingin menunggu kaa-chan," ucapnya sambil tersenyum ke arahku. Aku tahu Shiku pasti tak tega melihat kaa-channya pingsan seperti ini. Tapi, aku cukup tahu bahwa anak hampir selalu ingin bersama ibunya.

Maka aku pun tak akan melarang Shiku untuk tetap di sini. "Baiklah, nanti tou-chan juga akan ke sini lagi. Tou-san, kaa-san, Sakura aku titip Shiku dan Ino sebentar," ucapku pada mereka, lalu melangkah pergi ke luar rumah.

Pandanganku begitu kosong sama seperti hatiku. Rasanya begitu hampa yang kurasakan. Aku tak mengerti kenapa rumah tanggaku menjadi seperti ini. Dengan gontai aku masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke arah rumahku tentunya.

Sesampainya kembali aku di rumah, kulihat hampir seluruh anggota keluarga berkumpul di sana. Mereka menatap tajam ke arahku, seakan aku adalah tersangka, mata mereka tak pernah lepas dari diriku. Aku menghela napas bosan, pasti mereka ingin membicarakan mengenai perkara ini.

Aku melangkah mendekati mereka, pergi ke arah kulkas untuk mengambil segelas air. Tenggorokanku terasa kering, kuhabiskan satu gelas air yang kuambil.

"Shikamaru!" Ucapan dari tou-chan membuatku berbalik dan menatapnya. Matanya mengisyaratkanku agar aku duduk bersama yang lainnya. Kuturuti perintah tou-chan, aku duduk di kursi kosong di antara tou-chan dan Tenten-nee. Aku yakin setelah ini sidang akan dimulai.

"Kau harus menceraikan Ino, Shika!" Keputusan telak telah keluar dari mulut tou-chan selaku hakim. Aku mendecih, seenaknya sekali menyuruhku untuk menceraikan istriku. Ini rumah tanggaku tak ada yang berhak ikut campur di dalamnya.

"Jangan urusi urusan rumah tanggaku!" ucapku tegas membuat semua pasang mata di ruangan ini mendelik ke arahku, kecuali, kaa-chan yang tersenyum bangga atas keputusan yang aku buat.

"Jangan main-main, Shika! Kalau kau tidak mau menceraikannya, jangan pernah anggap aku sebagai ayahmu lagi. Dan jangan pernah anggap kami keluargamu lagi," ancam tou-chan kepadaku. Aku kembali tertohok mendengar ucapan tou-chan, mana yang harus aku pilih, namun, aku masih sangat mencintai Ino.

"Shikaku jangan gegabah!" protes kaa-chan atas apa yang diucapkan oleh tou-chan. Kaa-chan mencoba sedikit meredam amarah tou-chan. "Aku tidak gegabah, aku yakin dengan apa yang aku ucapkan." Namun, sayang, tou-chan tidak pernah main-main dengan apa yang dia ancamkan.

Aku masih diam membatu, tak bisa aku mengambil keputusan sekarang juga. Aku harus memikirkannya secara matang-matang. Ini menyangkut rumah tanggaku.

"Kau akan bercerai setelah sidang atas perselingkuhan mereka selesai." Lagi-lagi tou-chan terus mengungkapkan keputusannya secara sepihak padahal aku belum memutuskan sama sekali.

"Mana bisa begitu tou-chan, aku bahkan belum memutuskan apapun," protesku tak terima. Tou-chan kembali mendelik ke arahku tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.

"Jadi, kau akan memilih perempuan itu yang baru kau kenal tiga belas tahun dan juga telah mengkhianatimu dibanding dengan tou-chanmu sendiri yang sudah membesarkanmu," ucapnya tak percaya dan menggelengkan kepalanya.

"Sudahlah Shikaku, anak kita sudah besar. Biarkan dia memilih hal apa yang menurutya baik." Kaa-chan kembali mencoba membelaku, dia mengusap-ngusap punggung tou-chan.

"Kau tak usah membelanya Yoshino!" bentak tou-chan kepada kaa-chan. Kulihat kaa-chan terpaku, tak biasanya tou-chan membentak kaa-chan seperti ini.

"Kau benar-benar keterlaluan Shikamaru!" Kali ini Tenten-nee ikut bersuara. Dia memang sudah seperti kakakku dan dianggap anak oleh kaa-chan dan tou-chan karena orang tua Tenten-nee sudah tidak ada sejak dia kecil.

Aku menunduk dalam, sekarang apa yang harus aku lakukan Kami-sama. Baiklah setidaknya aku masih mempunyai waktu sampai sidang ini selesai. Aku harap keputusan apapun yang akan aku ambil nanti adalah yang terbaik. Rasanya sebuah beban yang begitu berat bertumpu pada pundakku, beban itu terlalu berat untuk aku tampung.

"Ini salahmu menikah muda, lihat sahabatmu, Naruto, di umurnya yang dua puluh delapan tahun dia masih belum menikah," keluh Lee-san padaku, dia menyalahkanku yang telah mengambil keputusan yang begitu gegabah dulu. Ya, keputusan untuk menikah di usia dua puluh tahun.

Aku tertunduk semakin dalam, kenapa semuanya menjadi semakin rumit seperti ini. Kenapa mereka harus mengungkit-ungkit kejadian delapan tahun silam. Semua yang sudah terjadi percuma untuk disesali karena itu semua tak akan pernah bisa diulang dan diperbaiki.

"Benar, lagipula waktu itu Ino baru lulus dari Senior High School. Tou-chan tidak mengerti alasanmu menikah itu," sambung tou-chan, sepertinya tou-chan senang menyalah-nyalahkanku seperti ini.

"Sudahlah tou-chan, itu semua kan sudah terjadi, lagipula tou-chan juga merestui kami, kan?!" ujarku sedikit tidak suka. Kenapa jadi mereka menyesali keputusan mereka sendiri. Aku berdiri dari dudukku dan pergi dari kerumunan keluarga, melangkahkan kaki ke arah kamar. Berharap tidur dan terbangun dari mimpi buruk ini.

Baru beberapa menit aku merebahkan diri di atas kasur dan menatap langit-langit kamar, aku langsung teringat dengan putraku, Shiku. Aku pun kembali melangkah pergi dari kamar menuju ke luar rumah untuk pergi ke rumah mertuaku. Saat aku akan melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah, ucapan tou-chan mengintrupsi langkahku.

"Shika, kamu mau ke mana?" tanyanya padaku dengan nada tak suka, sepertinya dia cukup tahu kalau aku akan mengunjungi istriku-Ino-. "kalau kau mau mengunjungi Ino, tou-chan melarangmu!" ujarnya begitu tegas.

"Aku mau melihat Shiku tou-chan, tou-chan melarangku untuk bertemu dengan anakku sendiri?!" tanyaku sarkatis, gigiku mengeras. Aku marah, ya aku marah pada tou-chan yang dari tadi mengatur-atur hidupku. Mungkin aku anaknya, tapi, ini adalah urusan keluarga kecilku, dia tak berhak ikut campur sedikitpun.

Kulihat tou-chan hanya menghela napas dan membiarkanku berlalu dari hadapannya. Inikah yang dinamakan dengan cobaan untuk sebuah pernikahan? Dengan langkah gontai aku mendekati mobil dan masuk ke dalamnya. Sedikit enggan aku nyalakan mesin dan mengemudikannya perlahan.

Sesampainya di rumah mertuaku, aku langsung memarkirkan mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Saat hendak masuk ke dalam kamar Ino, kudengar sebuah suara yang begitu parau sedang berbicara dengan Sakura. Suara yang kurindukan. Kuurungkan niatku untuk masuk, hanya berdiri di ambang pintu melihat keadaannya yang begitu rapuh dan memprihatinkan.

"Sakura, kau percaya padaku, kan? kau percaya kalau aku tak mungkin selingkuh kan, Sakura?" ujar Ino kepada sahabat karibnya sambil terus menangis tersedu. Tak rela rasanya melihat Ino seperti ini.

"Sakura, apa Shikamaru akan percaya padaku? Atau dia akan menceraikanku?" Ino kembali bertanya pada Sakura. Aku tercenung sebentar saat kalimat cerai itu keluar dari mulut Ino. Aku teringat dengan keputusan tou-chan agar aku menceraikan Ino. Mana mungkin aku meninggalkan Ino di saat dia benar-benar membutuhkanku seperti ini.

"Tenang Ino, tenang. Tenangkan dirimu, berpikirlah positif. Lihat Shiku, dia sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini," ujar Sakura mencoba menenangkan Ino yang masih menangis histeris.

Aku tak kuat mendengar jerit tangisnya dari dekat, akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi ke ruang tamu dan duduk di salah satu kursi. Kudengar suara ketukan pintu dari luar, baru saja aku berdiri dari dudukku, kaa-chan Ino telah lebih dulu membukakan pintu. Seorang laki-laki berambut pirang dengan manik mata biru cerah menghampiriku.

Aku mengenalinya, tentu saja dia sahabatku, tunangan Sakura sekaligus sepupu dari istriku. Dia menepuk bahuku pelan, mencoba menegarkanku dengan tepukannya itu. Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya sebagai respon.

"Bagaimana ini bisa terjadi Shikamaru?" tanya Naruto padaku. Dia ingin tahu sedikit tentang duduk permasalahan yang terjadi begitu tiba-tiba ini. Aku sendiri bingung bagaimana kronologi aslinya, jadi , bagaimana bisa aku menceritakannya pada Naruto.

"Aku sendiri tak tahu bagaimana Naruto. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, aku kira ini hanya gurauan kakak sepupuku, tapi…" Ucapanku tak kulanjutkan, karena aku bingung apa yang harus kukatakan lagi. Naruto mengangguk mengerti, dia turut duduk di sampingku.

"Lalu, dimana Ino sekarang? Apa Sakura-chan bersamanya?"

"Ino ada di kamarnya. Tentu saja, Sakura sedang menghibur Ino di dalam," jawabku seadanya. Hening menyelimuti atmosfer aku dan Naruto. Sepertinya Naruto sedikit mengerti perasaanku. Jadi, dia tak bertanya lebih banyak lagi. Aku tenggelam dalam lamunanku sampai tak sadar pintu telah dibuka oleh Naruto.

"Shika, Shion mencari istrimu," ujar Naruto membuyarkan lamunanku dan membawa kembali kesadaranku. Kalau aku tak salah dengar istri Sai mencari Ino, ada apa lagi sekarang, kenapa dia mencari Ino, pikirku.

"Ada apa Shion?" tanyaku langsung pada inti kedatangannya ke mari. Dia tersenyum mengejek ke arahku. Rasanya ingin sekali memukul mukanya sekarang juga kalau aku tidak berpikir dia adalah seorang perempuan.

"Mana istrimu? Sidang sudah menanti, semuanya sudah ada di sana. Jadi, cepatlah ke sana sekarang juga!" ujarnya dengan lugas dan langsung berbalik pergi. Mana mungkin aku membiarkan Ino mendatangi sidang itu. Keadaannya sedang sangat tidak baik. Dengan buru-buru aku langsung masuk ke dalam kamar Ino.

"Ino lebih baik kau tinggal di rumah Naruto untuk sementara. Sakura akan menemanimu di sana, tenangkan pikiranmu di sana dan merefreshnya. Soal sidang biar aku yang mengurusnya," ucapku dengan tegas. Aku berharap Ino dapat mengerti dengan keputusan yang aku ambil ini.

Aku bisa melihat Ino terlihat kaget melihatku yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. "ya, aku setuju denganmu Nak Shika," sahut seseorang di belakangku, ternyata itu suara dari Inoichi-jiisan, tou-chan Ino. "kaa-chan juga setuju," sambung kaa-chan Ino. Aku senang mereka bisa sepemikiran denganku.

Tanpa berkata apapun Ino bangun dengan tubuh yang masih lemah, tubuhnya memang tidak sakit, namun, jiwanya begitu terguncang. Ino menuruti keputusanku, dengan dipapah Sakura, Ino dan Sakura keluar dari rumah menuju mobil milik Sakura dan Sakura pun melajukan mobilnya pergi ke rumah calon mertuanya.

Naruto sedikit bingung melihat tunangan juga sepupunya pergi dengan mobil milik tunangannya itu. "mereka mau ke mana?" tanya dengan menautkan alis.

"Ke rumah orang tuamu, untuk sementara waktu Ino akan tinggal di rumahmu, Naruto," sahut Inoichi menjawab segala kebingungan Naruto. Sebagai respon Naruto menganggukan kepalanya ke atas ke bawah.

"Lalu, bagaimana dengan Shiku?" Iya, benar apa yang dikatakan oleh Naruto. Aku hampir saja melupakan anak tunggalku itu. Dia pasti ingin bersama kaa-channya.

"Shiku mau sama kaa-chan, tou-chan!" seru putraku dengan tingkah manjanya. "untuk sementara waktu, kamu tinggal bersama tou-chan dulu ne, Shiku," ujarku padanya, dia terlihat tampak tak suka dengan ucapanku barusan. Namun, aku harap dia mau mengerti dengan semua ini.

"Baiklah, tapi, Shiku masih bisa menemui kaa-chan, kan?" tanyanya dengan begitu polos, sebenarnya aku tak tega memisahkannya dengan Ino. "tentu saja, Shiku-chan," jawabku dengan lembut dan mengulas senyum tulus untuknya.

Kekecawaannya sedikit berpudar saat aku mengatakan bahwa dia masih bisa mengunjungi kaa-channya. Matanya berbinar, sepertinya dia benar-benar sayang pada kaa-channya itu. Rasanya aku jahat memisahkan ibu dan anak yang begitu dekat ini.

"Kaa-san, tou-san. Sebaiknya kalian cepat-cepat menghadiri sidang itu sebagai perwakilan dari Ino. Aku akan menyusul nanti," ujarku pada kedua mertuaku. Mereka tampaknya mengerti dan langsung bersiap diri pergi ke sidang itu.

Setelah mereka pergi kini tinggalah aku, Naruto dan Shiku di sini. Naruto masih tampak bingung, dia tak mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia langsung datang saat Sakura menelpon dan memintanya datang, namun, malah dia meninggalkannya di sini.

"Naruto, aku mau kau bawa Shiku ke rumahmu agar bisa bersama kaa-channya. Omong-omong aku ingin kau memberitahukan ini pada Ino." Aku berhenti sebentar, menghela napas dalam, sebenarnya aku sama sekali tak mau mengambil keputusan seperti ini. Namun, aku harus melakukannya.

"Tou-chanku menginginkan aku bercerai dengan Ino…" Ucapanku tepotong oleh Naruto, "jadi, kau akan menceraikannya, begitu, Shika?" seru Naruto tak percaya dengan yang aku ucapkan. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum pahit, pada akhirnya aku memilih untuik menceraikannya.

"Hah, terserah kau sajalah. Lagipula ini masalah intern aku tak berhak ikut campur. Ya, kalau menurutmu ini yang terbaik, mau gimana lagi, aku akan mendukungmu," ucapnya tersenyum memaklumi sambil menepuk bahuku.

Tapi, bukan itu rencanaku Naruto. Aku masih ingin bersama Ino, akan kulakukan ini terlebih dahulu. Lalu, memikirkan apa yang harus kulakukan ke depannya. Naruto menggiring Shiku memasuki mobilnya. Mobil Naruto perlahan menjauh dari pandanganku menjadi sebuah titik kecil dan menghilang.

Aku menghela napas begitu dalam mencoba mengambil pasokan udara sebanyak-banyaknya. Setelah perasaanku sedikit lebih baik, kumelangkah pergi menuju tempat persidangan itu. Aku harap semuanya akan baik-baik saja. Aku harap keputusan yang kuambil ini benar.

To Be Continued


A/n: Haii minna-san*bungkuk badan*, gimana sama lanjutannya? Masih rush kah? Jelek kah? Oh iya, ini bukan ngejailin Ino kok. Emang alurnya seperti ini ._. dan kenapa mereka seolah tak suka akan terjawab di chap-chap selanjutnya XD . Gomen ne baru sempet update :D

Shika memang bakal menceraikan Ino, lalu, apa rencana Shika itu? akankah mereka bersatu di akhir? #smirk *langsung tepar di hajar readers* ayo ada yang bisa tebak akhirnya? #smirk lagi

Omong-omong ini basic dari reality, kejadian ini ada di kenyataannya. Tapi, tentu aja Nasa rubah ini itunya dan ya akhirnya akan sama dengan yang terjadi di aslinya hahahaha *ketawa evil*

Balasan review yang gak login, gina...hehe maklum ya authornya emang ga punya bakat nulis. Guest...ini sadis ya? errr yah mungkin emang authornya lagi berjiwa sadis XD, hanachan...iya ini udah lanjut ^^

Balasan review yang log in udah kan, ya? Big thanks buat nufze, Pixie Yank, harunami56, Yola-ShikaIno, alhc, aAnTz04, zielavienaz96, Seka Ezakiya, hanachan, Guest, dan gina mind to RnR again? *ngedipin mata*

Makasih ya yang udah baca fic gaje aneh bin abal dari Nasa ini :') , bagaimana? tidak menarik? Feelnya nggak ada? Diksinya jelek? Miss typo? Apapun silakan tuangkan di kotak review^^

Segala kritikan, saran, concrit, atau mungkin flame? Nasa terima dengan senang hati^^ , so don't forget to…

\Review/

Please! ^^

.

.