Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP

Coffee Bar Story (c) Ken

Note : Typos sana-sini, bahasa kacau, membingungkan dan sebagainya dan seterusnya.

# # # # # # # # #

"Seperti yang sudah dikatakan padamu, dia amnesia," Yuuto mengedikkan bahu ke tirai putih di mana ada Fye yang tengah ganti baju setelah rontgen selesai. "Kelihatannya traumatik di otak setelah kecelakaan."

Kurogane mendengarkan penjelasan kawan lamanya itu sungguh-sungguh tanpa sedikitpun merubah wajah dinginnya. "Tapi dia masih ingat nama dan pekerjaannya."

Yuuto terkekeh. "Sebenarnya amnesia tidaklah selalu seperti apa yang ada di sinetron-sinetron itu. Pada dasarnya, kemampuan dasar seperti berhitung, berbahasa, bahkan termasuk identitas dari si penderita tidak akan hilang. Kecuali untuk beberapa kasus transient global yang sangat jarang sekali terjadi."

Kurogane mengernyit kecil mendengar penjelasan panjang lebar itu. "Jadi. Bisakah kita lakukan sesuatu agar ingatannya segera pulih?"

"Kenyataannya sebagian besar penderita amnesia dapat kembali mengingat bukan karena terapi, tapi mereka pulih seiring berjalannya waktu."

Kurogane mendengus.

Yuuto tersenyum. "Jangan memaksanya begitu. Salah-salah alih-alih sembuh, dia malah stress karena harus ke rumah sakit setiap hari."

Percakapan kedua pria itu terhenti saat tirai dibuka. Fye keluar dari sana dengan senyum.

"Baik-baik saja?" tanya Yuuto pada Fye.

"Iya. Semuanya baik-baik saja." jawab pemuda berambut pirang itu masih dengan senyum.

Yuuto membalas senyumnya lalu beranjak –dari depan papan dengan foto rontgen kepala Fye— ke meja kerjanya. "Mungkin kamu akan sering sakit kepala tiba-tiba. Bukan sesuatu yang buruk, tapi memang akan mengganggu sekali."

"Ya. Aku akan berjaga-jaga untuk itu."

"Kurogane, pastikan dia minum obat dengan benar." kata Yuuto sambil menulis resep.

"Kenapa aku?" sambar Kurogane.

"Lalu maumu bagaimana? Aku yang melakukannya?" balas Yuuto yang masih berkutat dengan resepnya.

"Kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab, hahh?" seru Kurogane.

"Jangan kekanakan! Dia tinggal di tempatmu. Pada siapa lagi aku harus minta tolong?" Kini Yuuto memberikan perhatian penuh pada Kurogane.

"Ahh, aku akan minum obatnya dengan benar kok! Jangan khawatir!" sahut Fye.

"Kau dengar! Dia bisa lakukan itu sendiri." kata Kurogane pada Yuuto. Membuat dokter itu menggeleng melihat Kurogane yang tetap saja keras kepala.

.:xXx:.

Kedai "Coffee Bar" jam 1 siang. Jam senggang di mana para pegawainya bisa sedikit rileks.

Segelas cappucino float disajikan di meja Kamui.

"Ahh, aku...tidak pesan." kata Kamui yang mendongak dan menemukan Fuuma sedang memberikan senyum –tampan— menggodanya.

"Anggap saja traktiran dariku." jawab Fuuma.

Akhirnya Kamui mengangguk kikuk.

"Hari ini sendirian, eh?" tanya Fuuma yang duduk di hadapan Kamui.

"Katanya Shizuka dan Kimihiro nanti menyusul. Shizuka ada latihan panahan di sekolah."

"Hmmm..." Fuuma mengangguk.

"Hoi, Fuuma! Jangan ganggu Shirou terus ya?" Touya mengusilli dari meja waffle-nya.

"Kau sirik saja!" balas Fuuma. "Kau malah setiap detik mesra-mesraan dengan Tsukishiro."

Yukito yang sedang menghitung kembalian di meja kasir jadi menoleh. "Ha? Aku kenapa?"

Touya hanya terkekeh.

"Subaru-kun. Jangan angkat-angkat lagi!" Seishiro masuk kedai disusul Subaru.

"Mana mungkin kubiarkan Seishiro mengangkat karung-karung kopi itu sendirian?" Subaru protes.

Semua waiter mengalihkan pandangan pada dua orang ini.

"Badanmu kecil begitu memangnya kuat?" goda Seishiro.

"Sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi!" Subaru meninju pelan bahu Seishiro.

"Kalau cemberut begitu Subaru-kun jadi manis." Seishiro tersenyum lembut.

"Aku kan bukan perempuan." Wajah Subaru jadi sedikit merah.

Keduanya masih terlibat obrolan pengangkatan karung kopi sambil naik ke lantai dua. Tempat gudang penyimpanan.

"Mereka itu statusnya apa sih?" Fuuma masih memandang tangga sekalipun keduanya sudah lenyap dari sana.

"Entah. Yang pasti mereka sayang satu sama lain." jawab Touya yang kembali mengurusi adonan waffle.

"Maaf! Boleh minta billnya?" seru seorang gadis dari salah satu meja.

"Tunggu sebentar!" jawab Fuuma sambil melempar senyum lembut yang langsung membuat gadis itu dan teman-teman semejanya terpesona.

"Aku segera kembali." Fuuma mengedipkan sebelah matanya pada Kamui –yang dibalas hanya dengan satu anggukan gugup— sebelum berdiri dan melakukan tugasnya.

"Monou itu," Yukito menghampiri Touya yang masih sibuk dengan adonannya. "Benar-benar ada rasa ya dengan Shirou."

"Iya. Hanya saja, aku heran dia masih belum mau mengatakan perasaannya itu." kata Touya.

"Kamu sendiri. Kalau tidak kupancing-pancing juga tidak akan bicara kan?" Yukito mencoretkan adonan ke pipi Touya.

"Hei! Jangan main curang ya? Aku sedang kerja nih!" kata Touya pura-pura marah.

"Haha... Jarang-jarang aku bisa menyerangmu begini." Yukito malah membedaki Touya dengan tepung.

"Awas kau ya?" Touya meninggalkan adonannya dan mulai perang tepung dengan Yukito sambil tertawa-tawa.

TING! TING!

Semua waiter menoleh ke pintu masuk yang loncengnya baru saja berbunyi. Semuanya membatu di tempat melihat siapa yang baru datang.

"Wahh! Sepertinya kalian bersenang-senang selama aku tidak ada ya?" kata orang yang baru masuk itu dengan suara ramah yang dibuat-buat saat Touya dan Yukito masih saling memegang pipi dari acara bedak-membedaki satu sama lain dengan tepung, Seishiro dan Subaru berebut karung kopi di ambang pintu samping, dan Fuuma yang menggoda Kamui.

"Ku—kurogane-san?" Fuuma langsung berdiri buru-buru.

Waiter yang lain langsung berbenah diri.

"Kenapa tidak bilang kalau mau masuk kerja?" tanya Fuuma lagi.

"Sengaja! Aku mau lihat kelakuan kalian selama aku absen. Ternyata seperti ini." Orang yang ternyata Kurogane itu melipat tangan dan masuk ke dalam kedai.

"Selamat siang, Kurogane-san." sapa Kamui.

"Hnn." jawab Kurogane sambil lalu.

Hening sesaat.

"Su—subaru-kun. Aku saja yang angkat ya?" Seishiro langsung mengambil alih karung kopi dari tangan Subaru dan buru-buru mengangkatnya ke lantai dua.

"Errr... Fuuma. Semua pengunjung sudah dilayani?" Subaru mengambil notes dari saku celemeknya dan keluar kedai. Pura-pura melayani tamu di meja outdoor.

"Kamui, aku bantu Subaru dulu ya?" Fuuma melesat mengikuti Subaru.

"Aku cuci muka dulu." Yukito melarikan diri ke kamar mandi yang juga di lantai dua.

Tinggallah Touya yang membatu di tempat dan jadi sasaran tatapan dingin Kurogane. "Kalau kau mau ke mana, Kinomoto?"

"A—aku...aku..." Touya terbata. "Aku mau buat adonan waffle." Lanjutnya sambil nyengir dan mengaduk adonan waffle-nya lagi.

Beberapa tamu terkikik melihat para waiter yang biasanya terlihat penuh pesona itu sekarang jadi salah tingkah.

"Jangan terlalu keras, Tuan Besar." Fye muncul di pintu masuk.

Para waiter menoleh, melongok, dan mengintip dari tempat masing-masing ke pemuda berambut pirang itu.

"Selamat siang, semua!" sapa Fye dengan senyum khasnya.

Mayoritas tamu yang ada di sana sedikit terpesona dengan aura kehadiran Fye.

"Sudah kubilang, tunggu di mobil saja." kata Kurogane.

"Haa! Aku juga mau berkenalan dengan pegawai-pegawaimu." Fye menyusul Kurogane ke dalam kedai.

"Hoo... Siapa dia, Kuro-san?" goda Fuuma dari luar kedai.

"Dia kenalanku." jawab Kurogane singkat.

Fuuma mengamati Fye yang masih tersenyum. Lalu mengalihkan pandangan ke Kurogane. Senyum nakal bertengger di wajahnya. "Benar nih, cuma kenalan?"

"Diam kau, Bocah!" seru Kurogane.

Fuuma tertawa menang karena berhasil membuat atasannya itu emosi lagi.

"Namaku Fye. Senang berkenalan dengan kalian." Fye memperkenalkan diri.

"Selamat datang!" sapa Yukito yang keluar dari tempat mengintipnya. "Silakan duduk!"

"Ahh, terima kasih." Fye duduk di bar. "Wahh, kedua kalinya duduk di sini setelah malam itu."

"'Malam itu'?" Fuuma kembali melempar pandangan jahilnya ke Kurogane. "Sepertinya kita ketinggalan sesuatu yang menarik, Teman-teman."

Kurogane hampir mau menjawabnya dengan pedas. Tapi ia mengendalikan dirinya. "Jangan banyak bicara! Kerja saja yang benar."

"Wahh...tumben Tuan Besar tidak marah." kata Fye riang.

"Kau juga jangan bicara macam-macam!" ancam Kurogane yang beranjak ke lantai dua. "Aku mau ambil kantung kopi dulu di atas. Tunggu di sini!"

"Baiklah, Kuro-san!" Fye tersenyum ceria.

"Wahh, baru kali ini aku tahu kalau Kurogane-san punya kenalan." kata Seishiro yang menghampiri Fye setelah Kurogane tidak terlihat lagi.

"Memang Tuan Kuro tidak punya kenalan lain?" tanya Fye.

"Aku belum pernah lihat dia bawa orang ke kedai sejak aku kerja di sini." jawab Seishiro. "Kenalkan. Aku Seishiro."

"Fye." Fye menjabat tangan Seishiro.

"Hanya 'Fye'?" tanya Seishiro.

Fye mengangguk tanpa memudarkan senyumnya.

"Mau pesan sesuatu?" Subaru menyiapkan notes kecilnya.

"Terima kasih. Aku cuma mengantar Tuan Kuro mengambil kopi lalu pulang." Fye tersenyum lagi.

"'Pulang'?" tiba-tiba Fuuma sudah ada di samping Fye. "Wah, kalian tinggal satu tempat?"

"Ahh, sebenarnya aku yang secara sepihak tinggal di sana." kata Fye.

"'Secara sepihak'?" kali ini Touya mendekat.

"Tuan Kuro itu sebenarnya tidak suka aku tinggal di tempatnya." lanjut Fye.

"Jadi dia terpaksa?" tanya Fuuma.

Fye hanya mengangguk.

"Yahh, tak apa-apa sih! Jarang-jarang dia mau repot begitu." komentar Seishiro.

"Tapi yang betah saja. Orangnya tidak pernah bisa bercanda." Fuuma memberikan wejangan.

"Sebenarnya dia bukan orang jahat sih." tambah Touya.

"Tapi memang baru kali ini lho aku lihat Kurogane-san punya teman yang dibawa ke sini." Seishiro mengusap dagunya.

"Dia saja yang terlalu serius pada pekerjaannya. Sudah berkali-kali kusuruh cari pacar, tapi tidak diindahkan." Fuuma ikut duduk di sebelah Fye.

"Kesannya dia memang pria kesepian ya?" Touya tersenyum kecil.

Fye tertegun.

"Kudengar dia kehilangan orang tuanya saat masih SD ya?" Fuuma menopang dagu.

"Benarkah?" tanya Fye.

"Iya. Kudengar juga begitu." kata Seishiro. "Kasihan sekali."

"Tapi dia kuat ya? Bisa berdiri lagi dan meneruskan kedai ini." Touya menimpali.

"Kenapa kita jadi bergosip begini?" Subaru tersenyum kecut.

"Kalau Kurogane-san dengar pasti dia marah." Yukito terkekeh.

"Oh iya. Kalau boleh tahu, kenapa Fye-san mau tinggal dengan Kurogane-san itu?." tanya Touya.

"Err...sebenarnya aku..."

"Ehemm!" Terdengar suara berat yang membuat obrolan itu terhenti.

Mereka menoleh ke sumber suara dan lagi-lagi menemukan Kurogane yang bermuka masam. Semua waiter ditambah Fye langsung tersenyum manis.

"Ahh! Tuan Besar sudah selesai?" tanya Fye.

"Kalian membicarakan aku?" tanya Kurogane balik dengan nada tajam.

"Tidak." jawab para waiter cepat.

Fye tertawa. "Kalau pun mereka membicarakanmu, itu bukan sesuatu yang buruk kok."

Kurogane mendengus. "Terserah kalian saja! Aku mau pulang!"

"Lho? Ke sini cuma ambil kopi?" tanya Fuuma.

"Jangan pura-pura. Sebenarnya kau senang kan kalau aku cepat pulang?" tanya Kurogane sadis.

Fuuma terkekeh. "Bosku satu ini benar-benar tidak bisa santai ya?"

Kurogane melangkah keluar kedai. "Aku akan mulai masuk besok. Jaga kelakuan kalian selama aku tak ada!"

"Baik, Bos!" Fuuma memberikan hormatnya.

"Ayo pergi, Orang aneh!" Kurogane melirik Fye.

"Baiklah! Kami permisi dulu." Fye menyusul pria berbadan kekar itu ke luar kedai.

Fye berlari kecil menyusul Kurogane yang sudah dekat dengan meobilnya dengan langkah lebar.

"Tuan Kuro marah?" tanya Fye.

"Kenapa aku harus marah? Aku sudah terbiasa dengan kelakuan mereka." Kurogane menekan remote key-nya ke arah mobil.

"Mereka tidak membicarakan hal-hal yang buruk tentangmu kok." Fye mengamati Kurogane yang masuk seat kemudi.

"Hnn." jawab Kurogane malas. "Cepat masuk!"

"Baik. Baik." Fye tersenyum dan menurut.

Kurogane menjalankan mobil dalam diam –sebenarnya dia memang selalu tak banyak bicara sih— . Membuat Fye sibuk menebak-nebak, kira-kira apa yang ada di dalam pikiran pria besar itu.

"Apa lihat-lihat?" tanya Kurogane tajam saat sadar dirinya terus diperhatikan oleh pemuda yang duduk di sampingnya itu.

Fye tertawa. "Ternyata pegawaimu benar. Pegawaimu yang tampan itu. –Kurogane langsung tahu kalau yang dimaksud adalah Fuuma yang notabene paling jahil itu— Dia bilang Tuan Kuro tidak pernah bisa diajak bercanda."

Kurogane tidak membalas.

"Harusnya Tuan Kuro bisa rileks sedikit. Kalau begitu, pasti akan ada banyak perempuan yang mau denganmu."

"Kau sendiri? Baru kali ini aku tahu ada orang yang bisa santai sekali menghadapi kenyataan bahwa dia amnesia dan hilang indera pengecap." kritik Kurogane pedas.

"Awalnya aku juga bingung dan sempat stress. Tapi mau bagaimana lagi. Keadaannya sudah begini." jawab Fye sambil memperhatikan jalan lewat jendela di sampingnya.

Kurogane menatap sekilas pemuda yang masih asing baginya itu.

"Kau tidak ingat apa-apa lagi selain nama dan pekerjaanmu?" tanya Kurogane lagi.

Fye menggeleng. "Nama keluargaku saja aku lupa."

"Sebenarnya kau ini orang mana sih? Kenapa keluargamu tidak mencarimu juga?"

"Mungkin aku..." Fye diam sebentar. "...sudah tidak punya keluarga."

Kurogane mengernyit sambil tetap memperhatikan jalan raya.

Suasana jadi kaku.

"Ahh...aku salah bicara ya?" tanya Fye.

Kurogane menghela napas panjang. "Harusnya aku yang minta maaf."

"Wahh! Tuan Besar minta maaf!" Fye mendadak ceria.

"HEH! Aku serius!" Kurogane kembali emosi.

Fye tertawa. "Ternyata pegawaimu benar lagi. Tuan Kuro memang orang baik. Mereka menyukaimu lho sepertinya!"

Kurogane terlihat jengah.

"Wahh! Tuan Kuro malu-malu!"

"Jangan mengganggu konsentrasi menyetirku, Orang aneh!" Kurogane frustasi.

"Rasanya hari-hari kita ke depan tidak akan membosankan."

"Jangan berkata seolah-olah aku mengijinkanmu tinggal di rumahku!" kata Kurogane gusar.

"Semoga kita bisa hidup rukun ya, Kuro-pipi!" goda Fye tak mau tahu.

"Jangan bicara yang tidak-tidak dan jangan memanggilku seperti itu!" seru Kurogane.

Semua yang dikatakan Kurogane sama sekali tak digubris Fye. Ia sibuk menggoda pria besar itu. Rasanya memang pria itu tak segalak yang ia duga. Mungkin tuan besar itu hanya sedikit kaku karena jarang berinteraksi dengan orang.

Yahh, apapun alasannya, Fye yakin Tuhanlah yang telah menuntunnya untuk masuk kedai kopi Kurogane waktu itu. Membiarkan mereka berdua bertemu. Entah apa tujuannya. Yang jelas, saat ini Fye masih ingin mengenal pria besar yang duduk di sampingnya ini lebih jauh.

-To Be Continue-

# # # # # # # # #

Iya! Saya tahu kalau kualitas menulis saya turun. Karena emang ini fic *sok* dewasa saya yang pertama. Biasanya mah saya nulis fic yang karakternya masih pada muda-muda. Ini aja yang kelewat berani pake' Kurogane sama Fye. Jadi saya juga harus ikutan *sok* dewasa (padahal ga' ada dewasa-dewasanya sama sekali) . Huhuhu... Beraaaatttt!

Haaa.. Yang rikues supaya saya bikin adegan di dalem kedai, saya penuhin nihh (meski kurang bagus)! Tapi ShizuWata sama RikuKaza ga ada. Bingung mau digimanain dua pasangan itu. Jadi saya minta maaf kalo mereka belom bisa nongol. -_-

Juga makasih buat pembaca lama maupun baru yang udah riviu. Singkat ataupun padat, semua riviu udah amat sangat cukup berarti buat saya. Makasih ya?

Riviu lagi dong! FLAME? Untuk flame yang berbobot dan masuk akal, satu-dua boleh deh buat chapter ancur ini!