Konichiwa, minnaaaaa!
Akhirnya kembali ke sini juga setelah libur nulis. Hohoho... *ditampol sandal*. Terima kasih untuk semua yang udah menunggu datangnya Kopi Bar.
Yupp! Langsung saja ya? Jekitot!
Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, membingungkan dan sebagainya.
Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP
Coffee Bar Story (c) Ken
# # # # # # # # #
Fye memindah saluran tv untuk kesekian kalinya. Sebentar-sebentar melirik ke arah jam dinding yang sibuk berdetak menunjukkan pukul 10 malam lewat.
Dari raut mukanya, kelihatan kalau ia sedang bosan. Bagaimana tidak bosan kalau setiap hari kerjaanmu cuma makan, tidur, mandi, nonton tv, tidur, mandi, terus begitu berulang-ulang?
Terhitung sudah hampir sebulan Kurogane berbagi apartemen dengannya. Membiarkan pemuda pirang ini merusak segel 'ketenangan' dalam hidup tuan besar itu. Tapi toh memang itu tujuan Fye saat ini. Membuat Kurogane sedikit menikmati hidupnya yang selama ini sarat stress.
Harus diakui, ini cukup sulit dilakukan. Mengingat bahwa si tuan besar yang dimaksud sudah amat sangat akrab dengan 'kebekuan'. Jadi butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra untuk menghadapinya.
Dan selama ini, Kurogane sudah menunjukkan sedikit kemajuan. Ia sudah mau dibujuk untuk tidur di satu-satunya kamar di apartemen itu, berbagi lagi dengan Fye, meski yang bersangkutan ngotot tidak akan seranjang dengan Fye –yang artinya Kurogane tetap tidur di kasur lipatnya, di lantai— . Selain itu, si tuan besar juga sudah mengijinkan Fye untuk memasak sesuatu untuk mereka. Tentu saja masih dalam pengawasan. Karena indera perasa Fye yang sudah tidak berfungsi, si tuan besar rupanya sering mengeluh kalau masakannya terlalu asin.
Dan sekarang, Fye melirik meja makan di mana hidangan yang tersaji di atasnya belum tersentuh sama sekali. Rencananya, hari ini Fye mau makan malam bersama dengan si pemilik apartemen berhubung lengannya yang sudah sembuh. Si tuan besar juga sudah setuju meski hanya dengan satu anggukan kepala. Tapi nyatanya, sampai jam segini tuan besar itu belum pulang.
Kemungkinan pertama, Kurogane masih sibuk. Fye sudah beberapa kali mengunjungi kedai "Coffee Bar" dan setiap ke sana, pengunjungnya selalu padat. Jadi mungkin saja saat ini pun pria besar itu masih bekerja keras melayani para custumor.
Kemungkinan kedua, Kurogane lupa. Masih berhubungan dengan kemungkinan pertama, yang ada di kepala pria berambut hitam itu cuma kedainya saja. Tidak salah sih. Namanya juga warisan keluarga, jadi wajar kalau kedai itu jauh lebih penting untuk diingat ketimbang janji makan malam dari Fye.
Kemungkinan terakhir, Kurogane memang sengaja tidak datang. Rasanya alasan ini lebih masuk akal mengingat seberapa dingin orang yang tinggal seatap dengan Fye itu. Jadi hal-hal tak penting begini tidak akan masuk daftar acara yang perlu dikunjungi.
Fye mendesah lalu beranjak ke meja makan. Ia duduk di salah satu kursi lalu menopang dagu. Menatap kursi seberang yang masih kosong. Terdiam sebentar sampai akhirnya ia mengetuk-ketukkan telunjuknya di piring yang masih tengkurap.
"Seperti istri yang menanti suaminya pulang saja," Fye cemberut. "Apa aku makan duluan saja?"
.:xXx:.
Kurogane mengecek arlojinya. Jam sebelas lewat.
"Dari tadi lihat jam terus, Kurogane-san?" tanya Seshiro yang lewat membawa nampan kosong. "Ada janji?"
"Tidak," Kurogane menyembunyikan lagi jam tangannya di balik lengan kemeja putihnya yang panjang. "Lebih baik kau kerja lagi."
Kurogane balik badan dan berkutat lagi dengan kopi pesanan pelanggan lagi. Seishiro menatap punggung bosnya itu.
"Fye-san?" tanya Seishiro yang sukses membuat Kurogane sedikit tersentak.
"Dia kenapa?" tanya Kurogane balik.
"Kupikir Kurogane-san mengkhawatirkannya. Ternyata tidak." kata Seishiro dengan ekspresi yang tak bisa Kurogane tebak. "Ahh! Subaru-kun!"
Dan Seishiro langsung menghampiri pemuda yang baru dipanggilnya tadi. Meninggalkan Kurogane yang raut mukanya terlihat bingung.
.:xXx:.
Fye menenggak habis air putih dalam gelas tingginya kemudian mengusap bibirnya yang basah.
"Akhirnya jadi makan sendiri." katanya lirih.
Ia terdiam lagi sambil menatap piring kotor di hadapannya.
"Kurotan pulang jam berapa ya? Haruskah masakannya kuhangatkan lagi?"
Tak ada jawaban. Hanya sayup-sayup deru mesin kendaraan bermotor di luar tembok gedung apartemen ini yang terdengar.
Fye tersadar dan menatap ke sekeliling rumah. Menatap hunian yang seakan tak ada tanda-tanda kehidupan ini. Jadi seperti ini suasana yang menemani Kurogane tumbuh dewasa?
"Kudengar dia kehilangan orang tuanya saat masih SD ya?" Kalimat dari Fuuma yang Fye dengar di kedai terngiang lagi.
"Keluarga?"
Fye teringat sesuatu. Sudah sebulan dia tidak pulang ke rumah di mana seharusnya dia berada dan sampai saat ini belum ada yang mencarinya seperti yang Kurogane katakan. Mungkinkah jawaban yang Fye berikan pada Kurogane waktu itu benar? Dia sudah tidak punya keluarga?
Fye menyentuh dahinya yang sedikit berdenyut nyeri. Senyum miris muncul di bibirnya.
"Berarti kita sama, Kurogane?"
.:xXx:.
TING!
Lift yang dinaiki Kurogane sudah sampai di lantai yang dituju. Pintu besi terbuka otomatis dan menunjukkan pemandangan lorong apartemen yang remang-remang karena sebagian besar lampu sudah dimatikan.
Kurogane menyusuri lorong dengan berjalan pelan. Pikirannya lari ke pemuda yang ada di dalam apartemannya. Rasanya ia sudah terlambat terlalu lama. Ini sudah hampir masuk jam 3. Tak mungkin kalau pemuda itu masih menunggu.
Tiba di depan pintu apartemennya, Kurogane menarik napas dan memasukkan kunci ke lubangnya. Begitu pintu terbuka, gelap menyambut Kurogane.
Pria tinggi besar itu melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Menyesuaikan mata dalam gelap begitu pintu ditutupnya kembali dan berjalan sambil meraba dinding. Mencari tombol lampu.
Kurogane menyipitkan mata begitu lampu menyala. Ia kembali ke dekat pintu untuk mengembalikan sepatunya ke rak.
"Kurotan?"
Kurogane membalikkan badan dengan terkejut.
"Okaeri..." Fye bangkit dari tidurnya di sofa lalu mengucek matanya.
"Sedang apa kau di situ?" tanya Kurogane.
"Hnn? Aku?" Fye menunjuk dirinya. "Ketiduran."
"Kenapa tiduran di situ?"
"Aku menunggumu."
Kurogane terdiam sebentar. "Menungguku dengan gelap-gelapan begini?"
"Hemat energi." Fye nyengir.
Dahi Kurogane berkerut.
"Pulangnya terlambat sekali?" tanya Fye.
"Iya." jawab Kurogane singkat sambil berjalan ke arah kamar.
"Sudah makan malam?"
"Sudah terlambat untuk makan malam."
"He? Jadi belum makan?" Fye berdiri. "Kuhangatkan dulu masakannya. Kau ganti baju saja."
"Sudahlah." kata Kurogane. "Kenapa kau harus repot-repot mengurusi jam makanku?"
"Ada yang salah kalau aku melakukannya?" tanya Fye balik. "Kita ini keluarga sekarang."
Kurogane tertegun.
"Ayo cepat ganti baju!" kata Fye yang meneruskan langkah ke kitchen set saat Kurogane mematung di tempatnya berdiri.
.:xXx:.
Suara gemericik air di wastafel menemani Kurogane menikmati makan malam –atau sarapan?—nya.
Hening. Kurogane melirik pemuda jangkung yang sibuk mencuci perabotan yang kotor di wastafel itu. Berpikir, apakah dia marah tentang makan malam bersama yang batal.
Tapi sepertinya si Fye itu bukan tipe orang yang gampang marah, batin Kurogane.
"Sarapan nanti mau kubuatkan apa?" tanya Fye yang membuat Kurogane terseret kasar keluar dari pemikirannya barusan.
"Jam segini aku makan dan masih harus sarapan lagi nanti?" protes Kurogane.
"Jangan mengeluh! Salah sendiri kau tidak makan malam."
"Aku tidak mengeluh." sahut Kurogane.
"Jangan ngotot begitu. Kerutan di dahimu makin jelas tuh." Fye berbalik badan dan menghadap Kurogane.
"Apa hubungannya dengan topik yang tadi?" Kurogane jengkel.
"Tidak ada!" kata Fye dengan nada ceria. "Santai sajalah, Pak Kuro!"
Kurogane mendengus. Pria yang satu ini tak akan mempan dimarahi.
"Aku masakkan tempura saja ya?" kata Fye lagi sambil kembali menghadap ke tumpukan perabotan kotor.
Kurogane tidak menjawab. Lebih baik urusan memamahbiaknya segera diselesaikan. Bisa-bisa kepalanya berasap karena harus meladeni si amnesia itu.
"Aku marah lho, Pak Kuro." ujar Fye sambil mencuci.
Kurogane hanya melirik pria itu. Dia mulai mengoceh lagi.
"Makan malamnya batal. Kau lupa." Fye menoleh ke Kurogane dengan wajah –sok— cemberut.
"Bukan lupa. Tapi aku tidak bisa meninggalkan anak-anak lagi. Grafik pelanggan setiap hari naik. Mereka membutuhkanku." jawab Kurogane tanpa menatap lawan bicaranya.
"Wahh... Benar-benar ayah yang sayang anak-anaknya ya?" Fye bertepuk tangan dengan wajah yang sudah kembali dihiasi senyum.
"Jangan bicara dengan nada seperti itu, Bodoh! Dan aku bukan ayah mereka!" Kurogane mencemooh.
"Kenapa? Memang Pak Kuro baik kok! Seperti seorang ayah."
"Urusai!" Kurogane menggeram.
Fye terkekeh sambil menyelesaikan urusannya dengan wastafel. Sesaat, dapur merangkap ruang makan itu diisi oleh siulan Fye yang tidak jelas tentang lagu apa.
"Gomenasai." kata Kurogane.
Fye menatap Kurogane. "He? Barusan Kurotan bilang sesuatu?"
"Kalau ada orang bicara itu dengarkan dengan baik! Aku malas mengulanginya dua kali!" seru Kurogane.
"Tadi sepertinya bunyinya 'gomenasai'." goda Fye.
"Diam!"
"Wahh... Kurotan minta maaf!"
"Diam kubilang!" Kurogane terlihat jengah.
"Baik, baik." Fye tertawa. "Permintaan maaf diterima. Tapi lain hari harus makan sama-sama ya?"
Lagi-lagi hanya satu anggukan.
"Aku tidak mau kalau Kurotan hanya mengangguk!" Fye menodong Kurogane dengan spatula. "Ucapkan sesuatu!"
"Kau mau aku bilang apa?"
"Ucapkan, 'Aku akan menebus kesalahanku dengan menyiapkan makan malam spesial, Tuan Muda.'!"
"Konyol." Kurogane meraih gelas air putihnya.
"Aku lihat yang seperti itu di 'Kuroshitsuji'."
"Terserah saja."
"Ayo ucapkan itu!"
"Untuk apa, orang aneh?"
"Hei! Kau ini bersalah, Kuropipi!" Fye mengacungkan spatula lagi.
"Jangan acungkan benda itu ke mukaku dan panggil namaku dengan benar!" Kurogane membawa piring kotornya ke wastafel.
Fye cemberut.
"Jangan pasang tampang seperti anak kecil begitu!" kata Kurogane sambil mencuci piringnya.
"Ahh, Pak Kuro memang tidak bisa diajak bercanda." Fye berbalik badan dan menuju rak piring.
Kurogane menatap Fye yang berjalan membelakanginya. Pemuda asing yang ia kenal sebulan ini memang selalu ceria. Entah memang dia pria bertemperamen seperti itu atau karena dia amnesia makanya dia juga lupa bagaimana sifat aslinya.
Fye. Kurogane melafalkan nama itu dalam hati. Bukan nama yang lazim untuk orang Jepang. Tapi bahasa Jepang ini fasih sekali. Dia ini keturunan mana dan dimana orang tuanya? Saudaranya? Kenapa tidak ada yang mencarinya?
Dan lagi kalau memang dia pattisier, dia pasti bekerja di suatu tempat. Kalau ia tidak masuk kerja selama ini, pasti minimal akan ada surat teguran yang melayang ke rumah si pirang itu. Dan jika si pirang ini tidak juga muncul di tempat kerja, pasti akan ada orang suruhan dari tempat kerja untuk mendatangi rumah si pirang. Dan setelah tahu bahwa rumah si pirang ini berdebu, tak terurus, orang suruhan itu pasti akan memberi tahu atasannya kalau si pirang ini tidak ada. Lalu setelah tak ada satu pun kabar dari si pirang ini, harusnya orang dari tempat kerja juga pasti akan sadar kalau si pirang ini hilang.
Kurogane menggelengkan kepalanya. Terlalu banyak "dan" dalam pemikirannya tadi. Tapi memang seharusnya begitu kan? Semua ini tidak logis. Benar-benar tak ada satu pun orang kah yang mengenal Fye?
"...ro! Pak Kurooo!" seru Fye.
"A—apa?" Kurogane kaget melihat Fye yang sudah sangat dekat dengannya itu.
"Kupanggil dari tadi, tapi tidak menjawab. Kupikir Kurotan kerasukan atau apa."
"Aku tidak apa-apa," Kurogane mematikan keran wastafel dan mengembalikan piring ke rak. "Aku mau tidur. Jangan ganggu aku!"
"Eh, tunggu sebentar!" Fye menarik lengan besar Kurogane yang hendak pergi. Membuat pria besar itu menoleh ke arah Fye lagi. Dan saat keduanya berhadapan, mereka sadar kalau jarak muka mereka hanya tinggal beberapa inchi.
Dua pria itu melotot. Fye buru-buru melepaskan pegangannya.
"Gomen." ucapnya kikuk.
Kurogane masih diam. Rasanya tadi, mata biru laut tadi menyergapnya. Menyeretnya dalam nuansa asing yang entah apa namanya.
"Pak Kuro marah?" tanya Fye.
Kurogane mengerjapkan matanya. "Tidak. Aku..." Vakum.
Fye mendongak. Menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Menatap mata ruby-nya yang merah menyala.
"Aku cuma mau bilang, bolehkah aku membantu di kedai?" tanya Fye lagi
Kata terakhir dari Fye langsung menyadarkan Kurogane.
"Kau mau apa di kedaiku?"
"Banyak pembaca yang ingin aku bekerja di kedaimu.'
"Apa?" Kurogane mengernyitkan dahi.
"Eh, maksudku...aku ingin bantu-bantu di kedai. Aku bosan kalau hanya menunggumu pulang di rumah."
Kurogane memberanikan diri untuk menyelami mata biru laut itu sekali lagi. "Coffee Bar" adalah harta peninggalan orang tuanya yang sangat berharga. Kurogane tidak bisa sembarangan memperkerjakan orang asing di sana sekalipun Fye sudah sebulan ini seatap dengannya.
"Boleh?" tanya Fye lagi.
"Akan kupikirkan."
Fye tersenyum. "Oke! Jangan lama-lama ya?"
"Jangan senang dulu! Belum tentu aku mengabulkannya."
"Kuromyuu kan orang baik," Fye mengumbar senyum semilyar rupiahnya lagi. "Pasti nanti aku boleh bekerja!"
"Berisik! Aku mau tidur!" Kurogane beranjak.
"Iya, iya," kata Fye ceria. "Oyasuminasaaaii!"
Kurogane menghentikan langkah sebentar lalu menoleh. "Makan malam spesialnya, kuganti lain kali, Orang aneh."
-To Be Continue-
# # # # # # # # #
*jedut-jedutin kepala ke tembok*
Ancur lagi deh! Gomen, minna, kalo ga' sesuai harapan. Hikz...
Well, untuk guru yang udah neror saya supaya cepet-cepet publish *dilempar ke jurang sama yang bersangkutan*, monggo! Silakan dinikmati! Juga untuk pembaca yang lain, semoga ga' terlalu mengecewakan.
Untuk yang udah riviu chapter 3 kemaren, makasih banyak *sujud-sujud*. Buat yang cuma baca sekalipun, saya juga sangat berterima kasih. Mohon dukungannya untuk tetap bertahan *halaaahh..*.
As usual. Riviu ditungguuuu! ^^
