Akhirnyaaaaaaa…bisa apdet jugaaaaaaaaaaaa! *sujud syukur*

Oyoyoyoyoyo….semoga masih pada inget dengan judul ini. Hehehehe….maaf atas keterlambatan apdet nya ya? Salahin dosen-dosen saya yang ngasih tugas kelewat bejibun itu! *dilempar ke jurang*

Ya sudah lahh…..silakan dibaca! :D

Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, membingungkan dan sebagainya.

Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP

Coffee Bar Story (c) Ken

# # # # # # # # #

"Selamat datang di kedai kami." Fye mempersilahkan pelanggan yang baru datang untuk masuk ke dalam kedai dengan senyum lembut dan sedikit membungkuk. Tangan kanannya terjulur ke dalam kedai.

Pelanggan yang terdiri dari 4 anak perempuan berseragam SMA tadi langsung terpesona dan masuk kedai sambil tetap mengamati wajah Fye –yang hari itu pertama kali bekerja— dengan rona merah di kedua pipi.

"Meja untuk berapa orang?" tanya Fye sambil menuntun pelanggan tadi.

"E—empat orang." jawab salah satu dari pelanggan tadi dengan gugup.

"Baiklah, mari ikuti saya." Fye memimpim rombongan ke satu arah.

"Waahh..." Fuuma memandang ke mana perginya Fye sambil duduk menopang dagu di sebelah Touya yang –selalu— tengah sibuk mengurusi waffle-nya. "Fye-san mengambil bagianku."

"Bagian yang mana?" tanya Touya tanpa melihat kawannya itu.

"Harusnya aku yang melayani mereka itu."

Touya tertawa kecil. "Hati-hati saja kalau Shirou juga ditaklukkan Fye-san."

"He? Bukannya Fye-san itu sudah punya Bos Kuro?" tanya Fuuma sambil memandang Touya.

"Siapa sudah punya siapa?" Terdengar suara berat di belakang Fuuma.

Fuuma menoleh dan langsung nyengir. "Yang dibicarakan datang deh!"

"Kenapa kau enak-enakan di sini dan bukannya mengerjakan apa yang harus kau lakukan?"

"Itu..." Fuuma menunjuk Fye. "Pekerjaanku diambil."

Kurogane menatap ke arah yang ditunjuk Fuuma. Menemukan Fye yang sedang mencatat pesanan. Setelah selesai, Fye memastikan sekali lagi pesananan mereka lalu berdiri tegak dari posisi awalnya yang setengah bungkuk tadi. Saat menoleh pandangannya tepat bertemu dengan Kurogane. Pria jangkung itu melambai sambil tersenyum ceria. Kurogane hanya mengangkat sebelah alis.

"Sepertinya sudah pengalaman sekali." kata Fuuma lagi.

"Lalu? Kalau dia terlihat sudah berpengalaman, kau bisa berhenti kerja?" Kurogane bermuka masam pada anak buahnya.

Fuuma nyengir lagi. "Tidak juga sih."

"Jadi tunggu apa lagi? Bantu Sumeragi melayani tamu-tamu di luar!" Nada Kurogane sedikit meninggi yang membuat pemuda jangkung yang menjadi lawan bicaranya langsung lari ke luar sebelum kemarahan bosnya meledak.

Touya tertawa melihat teman kerjanya buru-buru keluar. Namun seketika tawanya buyar saat Kurogane menoleh padanya. Ia langsung menyibukkan diri lagi.

"Kenapa anak itu selalu menyusahkan?" gumam Kurogane.

Kurogane membalikkan badan bersiap beranjak saat terdengar bel di pintu masuk berdenting.

"Sudah kubilang aku tidak mau!" Seorang pemuda berambut coklat keemasan masuk dengan muka sebal.

Pintu sempat menutup lagi kemudian terbuka lagi untuk kedua kalinya. Kali ini yang masuk adalah pemuda berbadan 'jadi' yang menyusul pemuda pertama yang sudah duduk di bar tak jauh dari tempat Kurogane berdiri.

"Hanya semalam!" ucapnya memaksa.

"Semalam? Kau pikir aku ini apa?" Pemuda berambut coklat emas tadi menghadap ke arah pemuda berbadan besar tadi.

"Saiga-san bilang, kau pernah melakukan itu." Pemuda berbadan besar tadi mengangkat alis.

"Iya! Dan kau tahu? Setelah malam dengannya itu aku tak bisa berjalan dua hari! Bahkan tidur pun tak jenak!" seru pemuda berambut coklat.

Kurogane melotot mendengarnya. Beberapa pengunjung yang duduk di dekat mereka juga terlihat kaget.

"Kali ini tidak akan sakit, Kazahaya!" Pemuda berbadan kekar berkeras.

Kurogane makin melotot. Begitu juga pengunjung lain.

"Tidak, Rikuou!" Pemuda berambut coklat yang dipanggil Kazahaya memberi penekanan saat memanggil nama lawan bicaranya.

"Dengan Saiga-san saja kau mau. Masa' denganku tidak?" protes pemuda bernama Rikuou tadi.

"Waktu itu aku tidak tahu kalau akan berakhir menyeramkan begitu!"

"Kau tidak mau kalau aku memaksamu kan?" Rikuou tersenyum nakal.

Oke! Cukup! Ini mulai keterlaluan. Kurogane merasa pembicaraan mereka perlu dihentikan. Bagaimana dua anak belum dewasa ini punya pikiran seperti itu?

"Kalian!"

Keduanya terlonjak dan menoleh ke arah Kurogane. Beberapa pengunjung juga menoleh takut ke arahnya.

"Kalian pikir ini di mana?" Urat di pelipis Kurogane berdenyut.

Keduanya terdiam sebentar sambil mengamati sekitar sebelum menjawab dengan enteng, "Kedai. Di mana lagi?"

"Kalau kalian tahu ini di mana, bisa tolong bicarakan itu di luar?" Kurogane menggeram.

"Memang kenapa kalau kami bicarakan di sini?" Rikuou pasang tampang tak berdosa.

"Apa kalian tidak tahu kalau obrolan kalian mengganggu tamu-tamuku?" tanya Kurogane.

"Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak mau. Tapi dia mengejarku ke sini dan tetap saja membicarakannya!" Pemuda berambut coklat emas menunjuk kawannya.

"Hanya semalam. Setelah itu tak akan kuulangi lagi." Rikuou kembali ngotot.

"Dan berapa kali harus kuulangi? Aku tidak mau!" Kali ini Kazahaya berseru.

"Siapa yang minta kalian melanjutkan ini?" Suara Kurogane meninggi. Membuat adu mulut itu terhenti kembali dan beberapa pengunjung yang menoleh lagi dengan ngeri.

Para pegawai pun menoleh sekilas dan menghentikan segala aktivitasnya –baik aktivitas jelas seperti Subaru yang sibuk bolak-balik mengantarkan pesanan, Yukito yang mengurusi kembalian pelanggan; aktivitas sedikit jelas dari Seishiro yang mendiskusikan rokok rasa cappucino dengan pelanggan; sampai aktivitas tidak jelas seperti Fuuma yang menggoda Kamui yang baru saja datang bersama Kimihiro dan Shizuka— .

"Ada apa, Kuro-kuro?" tanya Fye yang datang mendekat.

"Siapa yang kau panggil 'Kuro-kuro' itu, hah?" Kurogane menoleh marah.

"Jangan berteriak di kedai. Kau menakuti pelanggan." kata Fye.

"Siapa yang berteriak?" Kurogane mendesis.

"Tak perlu ngotot begitu." Fye menepuk pundak Kurogane dengan wajah tak berdosanya. "Jadi mari kita dengar apa yang mau tamu kita ini pesan."

Kurogane mendengus sebal saat Kazahaya memesan Frappucino pada Fye yang masih tetap tersenyum ceria.

"Aku ke sini hanya mengejar dia." jawab Rikuou sambil menunjuk Kazahaya saat Fye menanyakan menu padanya.

"Tentang yang diributkan tadi?" tanya Fye.

"Jawabanku sama. Tidak!" kata Kazahaya acuh.

"Ayolah, Kazahaya!" Rikuou memohon.

"Anoo...kalau boleh tahu, kalian sedang meributkan apa? Sepertinya pembicaraannya seru sekali." tanya Fye lagi.

"Seru? Kau bilang itu seru?" Kurogane menggeram.

"Anak muda yang bersemangat. Bukankah itu seru?" tanya Fye balik.

"Lebih seru lagi kalau mereka tidak membicarakan ini di kedaiku." Kurogane mendengus.

"Hee...memangnya Kurotan tahu mereka membicarakan apa?" Fye menatap Kurogane.

Kurogane menggeram lagi. Bagaimana mungkin ia katakan kalau dua pemuda dari toko obat sebelah itu sedang membicarakan...

"Kau tidak tahu rasanya memakai baju itu saat Saiga-san memintaku untuk menyamar menjadi perempuan." Kazahaya bicara tiba-tiba.

Kurogane menoleh kaget.

"Kubilang kan cuma semalam." kata Rikuou.

"Aku tidak bisa bernafas dengan baju itu, Rikuou! Pinggangku sakit!" seru Kazahaya.

Kurogane sedikit ternganga.

"Tapi aku tak bisa ikut promnight kalau tidak punya pasangan." Rikuou memelas.

"Banyak gadis di luar sana! Kenapa harus aku?" Kazahaya memperjuangkan diri.

"Mau bagaimana lagi. Kau lebih cantik dari mereka semua." jawab Rikuou.

Kurogane kehabisan kata-kata. Atau lebih tepatnya, tidak tahu harus mengucapkan apa.

.:xXx:.

Fye mendorong troli ke rak buah-buahan. Kurogane dengan muka yang sudah sangat kita kenal mengikuti dari belakang dengan kedua tangan di dalam saku celana panjangnya.

Dikarenakan pemuda amnesia yang ingin makan eskrim lewat tengah malam begini, jadilah mereka berdua mampir ke supermarket setelah pulang dari kedai. Dan ujung-ujungnya mereka malah belanja macam-macam. Mulai dari keperluan mandi, keperluan dapur, sampai keperluan lain yang sifatnya tak penting. Fye juga memasukkan beberapa pajangan ke troli. Mulai vas untuk meletakkan bunga di apartemen sampai pajangan kucing duduk yang mengayun-ayunkan tangannya untuk ditaruh di meja kasir kedai.

Oh, bagus! Kenapa supermarket ini benar-benar serba ada?, keluh Kurogane dalam hati sambil menutup mukanya dengan sebelah tangan.

"Ne, Kurochi! Suka paprika tidak?" Fye menyadarkan Kurogane dari pergolakan batinnya sendiri.

Kurogane melihat pria itu menatapnya sambil mendekap beberapa paprika beda warna yang sudah dimasukkan dalam plastik buah. Dan lagi, bagaimana membuat orang—aneh—sialan itu menanggil namaku dengan benar?

"Ambil saja seperlunya. Jangan banyak-banyak." Kata Kurogane.

"Dasar, Kuro-chan. Aku kan tanya apa kau suka paprika atau tidak. Kenapa jawabnya begitu?" Fye mengerucutkan bibir. Tapi toh tetap memasukkan paprika dalam dekapannya tadi ke troli.

Kurogane menatap troli yang hampir penuh itu lalu berinisiatif, "Aku akan ambil keranjang. Tunggu di sini!"

Fye tertegun menatap Kurogane yang sudah membalikkan badan dan beranjak. Jarang-jarang pria besar itu mau merepotkan diri untuk hal-hal tak berguna macam ini. Padahal biasanya, pria besar itu akan menggeram, "Kenapa aku harus repot-repot melakukannya untukmu?", dengan aura pembunuh di sekitarnya. Membuat Fye terkekeh lirih di lorong rak buah yang sudah sepi itu karena mengingatnya.

Dan memang Kurogane merasakannya juga. Ia menatap keranjang dalam genggamannya sekarang. Malaikat dari mana yang mau masuk tubuhnya? Sampai-sampai ia mau berbaik hati begini.

"Baiklah! Sekarang giliranku yang aneh." katanya sambil kembali ke tempat Fye.

Fye tengah jongkok dan menimang apel Fuji dan apel merah di kedua tangannya saat Kurogane tiba. Wajahnya terlihat serius sekali.

"Kau bisa juga berwajah seperti itu." Kata Kurogane datar.

"Ahh.." Fye sedikit terkejut.

"Kau sedang apa?" Kurogane mendekat dan membungkuk ke arah Fye.

"Ini.." Fye memandang apel di kedua tangannya lalu mendongak. "Enaknya beli apel Fuji atau merah?"

DEGG!

Kurogane terkejut saat untuk kedua kalinya mereka bertatapan dengan jarak muka yang kelewat ekstrim. Mana wajah Fye terlihat polos sekali. Membuatnya menggeleng keras dan menjauhkan wajahnya.

"Eh? Kenapa, Kuronyan?" tanya Fye bingung.

"Berhenti memanggilku dengan nama-nama aneh itu!" Kurogane memalingkan muka. Menyembunyikan semburat merah yang entah sejak kapan muncul di pipinya.

"Jawab dulu! Mau apel Fuji apa apel merah?"

"Sesukamu saja!" Kurogane meletakkan keranjang yang sedari tadi dipegangnya ke lantai. "Kutunggu di kasir!"

Tanpa basa-basi lagi, Kurogane beranjak pergi.

"Hei! Bantu aku!" protes Fye.

Kurogane menghentikan langkahnya. "Kenapa aku harus melakukannya? Kau bisa sendiri kan?"

Fye melongo sambil mengamati punggung Kurogane yang menjauh lalu hilang saat ia belok di ujung lorong. Padahal, baru saja ia bersyukur karena Kurogane mau mengambilkan keranjang untuknya.

"Dia itu….benar-benar!" Fye geleng-geleng kepala sambil kembali melanjutkan acara memilih apel.

.:xXx:.

Kurogane menyalakan shower dan membasahi rambutnya. Tengkuknya sedikit dipijat karena lelah. Belakangan kedai kopinya memang ramai sekali. Sampai jam siang yang biasanya longgar sekarang jadi penuh sesak. Sama sekali tak ada waktu bersantai. Bisa kembali ke apartemen dan tidur tiga jam saja setelah kedai tutup sudah termasuk beruntung sekali.

"Apa aku perlu tambah orang lagi di kedai?" tanyanya pada diri sendiri yang langsung dijawabnya juga dengan gelengan. "Haahhh…. Cukup anak-anak itu saja. Jangan ditambah lagi yang lain. Aku bisa gila!"

Lagipula sudah ada dia.

Kurogane mencerna kalimat yang baru ia ucapkan dalam hati itu. Rasanya memang tak ada ruginya memasukkan orang itu ke kedai. Toh, hari pertamanya bekerja bisa dibilang tanpa cacat. Dan memang benar kata Fuuma, Fye itu seperti sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Dia cepat akrab dengan pengunjung maupun pegawai lain juga gampang beradaptasi dengan suasana kedai yang amat sangat sibuk sekali itu.

TOK! TOK!

Kurogane mendengus. Lagi-lagi acaranya berbincang dengan diri sendiri harus dirusak oleh pria itu. Ia mematikan keran.

"Apa?" tanyanya sadis.

"Gomen.." Suara Fye sayup-sayup terdengar dari luar. "Kurotan mau makan sesuatu sebelum pergi tidur?"

"Memangnya kau sendiri mau makan?" tanya Kurogane balik.

"Apa? Suaramu tak jelas." tanya Fye dari luar.

Kurogane mendesah. "Tunggu sebentar!"

Ia membasuh tubuhnya dari sisa sabun sampai bersih lalu mematikan keran dan menuju pintu setelah sebelumnya menyambar kimono mandinya untuk dipakai.

Kurogane membuka pintu kamar mandi dan langsung melihat Fye yang tersenyum.

"Woo.." Kurogane terlonjak.

"Aku mengejutkanmu ya?" Fye nyengir.

"Kubilang tunggu juga bukan berarti harus di depan pintu kan?"

Cengiran Fye makin lebar. "Soalnya suara Kuro-kuro menggema dari dalam. Aku tak bisa dengar."

Kurogane tak menjawab.

"Kau mau makan sesuatu?" tanya Fye lagi.

"Memang kau mau makan?"

"Tidak sih."

"Kalau begitu tidak usah."

"Eh? Kalau Kurogane mau makan sesuatu tidak apa-apa."

"Nanti saja sekalian sarapan." Kurogane melewati Fye dan menuju kamar.

"Benar?" Fye mengikuti pria besar itu.

"Hnn.."

"Kalau begitu kau mau apa untuk sarapan?" Fye masih mengekor.

"Tumis atau apa saja."

"Kalau begitu, jagung manis dan jamur bagaimana?" Fye makin bersemangat.

"Hnn…"

"Oke! Kalau begitu…."

"Kalau begitu berhenti mengikutiku! Kau tidak bermaksud menemaniku ganti baju kan?" Kurogane yang sudah berada di ambang pintu kamar mendadak berhenti dan membalikkan badan ke arah Fye.

Fye tertawa kecil. "Gomen, gomen. Silakan ganti baju, Pak Kuro!"

Kurogane membalikkan badannya lagi dan masuk kamar.

Setelah pintu kamar mengeyun ditutup, Fye ikut membalikkan badan menuju dapur. Dibukanya lemari es sambil bersiul.

"Fyuu~ sepertinya masih ada persediaan jamur." Ia mencari-cari. "Ahaa…ketemu!"

Fye menutup lemari es dan menuju wastafel. Namun langkah kakinya tertahan.

"Ssshhh!" desisnya. Kepalanya sakit lagi.

Pelan-pelan ia menuju meja makan dan duduk menyamping di salah satu kursi. Ia memijit pelipisnya sambil memejamkan sebelah matanya.

"Untung saja tidak sakit waktu di kedai tadi." kata Fye pada diri sendiri.

"Sakit lagi?"

Fye menoleh dan menemukan Kurogane –yang sudah berpakaian lengkap— sudah berdiri lagi di pintu kamar. Ia tersenyum kecut.

"Iya. Tapi tidak apa-apa kok."

Kurogane menghampiri Fye. "Istirahat saja."

"Aku mau mencuci jamurnya dulu untuk dimasak nanti. Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Fye tersenyum lagi.

"Berhenti memasang senyum seperti itu!" kata Kurogane agak keras.

Mata Fye membulat dan kemudian menunduk. Ia tak menjawab. Kepalanya masuh berdenyut nyeri.

"Ckk!" Kurogane menyambar tangan Fye dan menarik pria itu masuk kamar.

"Kuro-chan…" Fye terkejut dengan tindakan Kurogane yang tiba-tiba itu. Tapi toh ia pasrah saja tangannya ditarik.

"Tidur!" perintah Kurogane sambil melepaskan genggaman tangannya begitu mereka sampai di kamar.

"Tapi….."

"Akan kuambilkan air untuk minum obat." Kurogane segera menghilang lagi.

Fye terdiam. Ia menatap lengan kirinya. Tempat tangan besar Kurogane tadi berada. Tangan yang dingin tapi nyaman. Senyum Fye terkembang.

"Sudah kubilang untuk tidur!" Lagi-lagi tanpa suara Kurogane sudah ada di hadapan Fye.

"Ahh, iya." Fye berjalan ke arah ranjang dan masuk ke dalam bedcover tebal.

Kurogane menyerahkan segelas air putih yang diterima Fye dengan hati-hati agar tidak tumpah.

"Di mana obatnya?" tanya Kurogane.

"Di laci kedua." Fye menunjuk.

Kurogane dengan sigap mencari obat yang diberikan Yuuto tempo hari di laci yang dimaksud Fye.

"Arigatou." Fye menerima obat dari tangan Kurogane.

Pria besar itu berdiri menunggui Fye saat obat itu masuk mulutnya dan didorong oleh air putih untuk masuk ke dalam tubuhnya.

"Tidur dan jangan bicara apa-apa lagi!" perintah Kurogane.

"Iya, iya." Fye terkekeh sambil membaringkan tubuhnya.

Kurogane masih mengawasi Fye yang menyamankan diri dalam balutan bedcover. Setelah yakin pria berambut pirang itu dalam posisi siap tidur, Kurogane membalikkan badan.

"Kuromyuu!" panggil Fye sambil mengangkat sedikit kepalanya.

Kurogane menoleh dan mau bersuara tapi keduluan.

"Terima kasih." kata Fye dengan senyum tulus.

Kurogane tertegun melihat pria yang sudah kembali menyandarkan kepala ke bantal dan memejamkan mata itu. Jantungnya berdegup keras.

- To Be Continue -

# # # # # # # # # # # # #

Buat yang rikues RikuKaza *lirik Ghee-senpai*, kurang mesum ga? *plakk* Hehehehehe :p

Maaf banget kalo hasilnya ga sesuai harapan. Makasih untuk ripiu-ripiu di chapter sebelumnya dan juga untuk semua dukungan yang bikin fic ancur-lebur ini masuk IFA. Makasih… Makasih banyak… *sungkem-sungkem* Hikzzz….. T-T

Ga tau lagi mau ngomong apa. (pembaca : yawdahh….minggat sono!) Minta dukungan aja dari Anda-Anda semua ya?

Ripiu or flem ditunggu! ^^v