Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, OOC, membingungkan dan sebagainya.
Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP
Coffee Bar Story (c) Ken
# # # # # # # # #
Fye ada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Ia duduk diam sambil mengamati jalan tol yang cukup lengang sore itu dengan sinar matahari senja menerobos dan menghangatkan wajahnya.
"Kau tahu, Yuuy?"
Fye mendengar suaranya sendiri. Namun ia yakin kalau ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia menoleh menatap ke kursi kemudi dan mendapati seseorang dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya.
"Terkadang aku lelah dengan rutinitas sehari-hari yang membosankan tentang pekerjaanku."
Mobil berbelok di sebuah tikungan.
"Mungkin harusnya aku memang mengambil jalan yang sama denganmu dulu."
Fye masih terdiam. Mendengarkan apa yang diucapkan orang yang duduk mengemudi di sebelahnya itu, orang yang begitu mirip dengannya.
Kemudian wajah itu menoleh dan tersenyum pada Fye. "Rasanya akan menyenangkan kalau sekali-kali kita bertukar posisi."
Fye mengulum sebuah senyuman. "Maksudmu? Kau akan bekerja di kantorku dan aku menggantikan posisimu sebagai patisserie?"
"Bingo!"
Fye berpikir sejenak sambil kembali menghadap ke jalan raya.
"Mungkin akan lucu kalau kita sedikit berbohong pada rekan-rekan kerja kita. Toh, orang-orang di tempat kerjaku tidak tahu kalau aku punya kembaran," kata orang itu lagi.
"Tapi aku tidak sepandai dirimu dalam urusan dapur," kata Fye.
"Kata siapa? Masakanmu hebat!" Orang itu berkata mantap.
Fye tersenyum lagi.
"Bagaimana?"
Fye mengangguk. "Tidak ada salahnya dicoba. Aku juga ingin lihat seperti apa lingkungan tempatmu bekerja."
Tawa terdengar dari bibir teman seperjalanan Fye. "Baiklah! Karena kau setuju, kita lakukan mulai hari ini saja."
"Hari ini?"
"Yupp! Jadi mulai hari ini, kau adalah Fye dan aku adalah Yuuy."
Fye menggeleng-gelengkan kepala geli. Ini ide gila!
.:oOo:.
Kurogane keluar dari kamar mandi dan sedikit mengernyit saat mencium bau gosong yang berasal dari dapur yang tak jauh dari situ. Ia membelalakkan mata saat mengingat siapa yang ada di sana dan bergegas mengecek dengan langkah tergesa.
Kurogane makin melotot saat melihat papan penggorengan mengeluarkan kepulan asap dan seseorang—Fye— berdiri di depan wastafel, sama sekali tidak bergerak. Seakan tidak mengetahui bahwa apa yang ada di atas papan penggorengan itu kini sedang bermasalah.
Segera saja tuan besar itu menghampiri kompor gas dan mematikannya, membuat Fye tersentak dan langsung panik.
"Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Aduh!" Saking paniknya, alih-alih memegang pegangannya, Fye malah memegang sisi papan penggorengan yang panas luar biasa itu.
Kurogane kembali melotot. "Kau ini bodoh atau bagaimana?"
Dengan segera pria besar itu menyambar tangan Fye untuk dibawa ke wastafel dan mengalirinya dengan air. Fye mendesis saat air yang mengucur dari keran wastafel membasahi telapak tangannya yang memerah karena kecerobohannya.
"Bagaimana kau bisa memasak sambil melamun?" Intonasi yang keluar dari mulut Kurogane masih tetap tinggi.
"Gomen," ucap Fye singkat di sela desisannya menahan perih.
"Kau hampir meledakkan apartemenku!"
"Maaf, maaf," Fye bersungguh-sungguh.
Kembali Kurogane menarik lengan Fye. Kali ini pria besar itu menyuruh Fye untuk duduk di meja makan sementara ia berjalan masuk ke dalam kamar. Fye bisa mendengar suara beberapa barang jatuh dari dalam kamar. Pria berambut pirang itu menduga bahwa pria besar yang ada di sana sedang mencari sesuatu dengan terburu-buru, atau mungkin malah dengan marah.
Tak kurang dari dua menit, Kurogane keluar dari dalam kamar dengan kotak putih berukuran sedang yang Fye ketahui sebagai kotak P3K. Fye hanya nyengir melihat betapa aura yang mengelilingi pria besar itu sedemikian berbahaya.
"Kau," Pria besar itu menggeram sambil menggeser kursi mendekati kursi yang diduduki Fye. "Bisakah kau berhenti membuatku gila sehari saja?"
"Gomen," Tidak ada kata lain yang keluar dari bibir Fye. Ia benar-benar merasa bersalah.
Kurogane memencet gel bening ke jarinya. Dengan perlahan dibawanya tangan Fye mendekat padanya lalu mengoleskan gel bening di tangan yang memerah itu dan meratakannya.
"Gomen," kata Fye lagi. "Aku ceroboh."
Tidak ada jawaban. Kurogane berkonsentrasi pada tangan yang ia obati saat ini. Kali ini ia mengeluarkan kain kasa dari kotak pengobatan dan mulai membalut tangan Fye dengan hati-hati.
Fye mengerucutkan bibirnya, merasa diabaikan. Dengan satu tangannya yang sehat, ia mencubit pipi kanan Kurogane. "Hei, aku minta maaf, Kuroppe! Jangan kau acuhkan!"
Kurogane hanya memberikan tatapan membunuhnya. "Singkirkan tanganmu dari situ! Dan aku tidak butuh minta maafmu!"
"He? Memangnya Kuroppe tidak marah?" Fye melepas cubitannya.
"Brengsek! Panggil namaku dengan benar!"
Fye tertawa renyah sementara Kurogane menyelesaikan pekerjaannya membalut telapak tangan pemuda berambut pirang itu.
"Orang sepertimu bisa melamun juga?" tanya Kurogane sambil merapikan kotak obat.
Fye hanya mengangguk dan sambil memperhatikan hasil pekerjaan pria besar itu, ia cukup kagum.
"Kupikir kau hanya bisa tersenyum bodoh seperti biasanya," lanjut pria besar itu.
"Aku hanya memikirkan sesuatu," aku Fye.
Kurogane menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bermimpi tentang sesuatu yang aneh semalam," lanjut Fye.
Kurogane mendengus, menginterupsi Fye yang akan melanjutkan kalimatnya. "Mimpi anehmu itu hampir membunuh kita."
Fye terkekeh. "Aku tidak akan memasak sambil melamun lagi kok."
"Bagus! Dan mulai sekarang, kau akan kembali memasak di bawah pengawasanku!" Kurogane berdiri dan kembali beranjak menuju kamar.
Fye hanya bisa tersenyum mengamati punggung besar itu menjauhinya.
.:xXx:.
"Fye-san," panggil Fuuma setengah berbisik.
"Ya?" Fye mengalihkan dari notes yang dipegangnya.
"Ada sepasang mata yang sepertinya hendak membunuhmu," kata Fuuma dengan nada suara diseram-seramkan.
Fye menoleh ke sekelilingnya dan menemukan sepasang mata yang dimaksud Fuuma. Mata ruby menyala milik Kurogane yang menatapnya intens dari bar.
Fye tersenyum ceria sambil melambai. Membuat sang pemilik sepasang mata itu mengangkat sebelah alisnya.
"Dia kenapa?" tanya Fuuma lagi sambil mengedikkan kepalanya ke tempat bosnya berada.
"Hanya mengawasiku karena aku baru saja membuat insiden di apartemennya," jawab Fye masih dengan tersenyum.
"Hah? Insiden?"
Fye mengangguk.
"Insiden macam apa?" tanya Fuuma lagi.
"Aku hampir meledakkan tempat tinggalnya itu."
"Hah?" Fuuma mengernyitkan dahi, tidak mengerti.
Dan Fye mulai bercerita tentang apa yang terjadi di apartemen Kurogane pagi itu.
.:xXx:.
"Hupp!" Fye mengangkat karung berisi kopi ke bahunya dengan cekatan.
Pick-up yang mengantar pesanan kopi tiba saat kedai sedang lengang. Terlihat di dalam kedai, pegawai-pegawai Kurogane sedang sibuk membersihkan meja-kursi yang kotor, kecuali Fuuma yang masih gencar mendekati adik kelasnya—si Shirou Kamui— seperti biasa.
Kurogane sudah memperingatkan Fye untuk tidak menyentuh pekerjaan yang berat saat mereka mengenakan apron sebelum bekerja tadi karena luka bakar di tangannya. Tapi memang dasar Fye tidak bisa tidak menggerakkan tubuhnya, jadilah ia membantu Seishirou mengangkat pesanan kopi sementara sang pemilik kedai sedang ada urusan di luar.
"Tangan Fye-san benar-benar tidak apa-apa?" tanya Seishirou entah untuk yang keberapa kalinya saat pria berambut pirang itu sampai di gudang penyimpanan. Fuuma sepertinya berhasil menyebarkan berita bahwa tangan Fye terluka akibat insiden di apartemen Kurogane pada semua pegawai di kedai.
"Jangan khawatir," Fye meletakkan karung kopi yang diangkatnya. "Ini bukan luka serius."
"Tapi Kurogane-san terlihat khawatir sekali."
"Dia hanya melebih-lebihkan keadaanku. Lagipula mana mungkin dia khawatir?"
Sheishirou menatap Fye. "Jarang-jarang Kurogane-san bersikap seperti ini pada orang lain."
Fye memiringkan kepalanya mendengarkan penuturan pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. "Benarkah? Wah, aku beruntung kalau begitu!"
Seishirou mengangguk. "Sepertinya Kurogane-san menyukaimu, Fye-san."
Fye tertawa. "Aku juga menyukainya. Dia sangat unik!"
.:xXx:.
Yuuto mencatat resep obat sambil tersenyum. Sementara seorang pria besar di hadapannya menatapnya sambil merengut.
"Hei, aku kan sudah bilang aku bercanda, Kurogane-san!" Yuuto menyodorkan resep obatnya pada pria itu.
"Tapi wajahmu itu membuatku muak!" Pria itu—Kurogane— menerima resep dari tangan Yuuto dengan kasar, terlihat sekali dia kesal.
Kurogane memanfaatkan jam senggang kedainya untuk mengunjungi Yuuto Kigai di rumahnya—di tempat praktek pribadinya tepatnya—. Awalnya dia hanya ingin meminta resep untuk luka bakar Fye, tapi pembicaraannya jadi meluas saat Kurogane menanyakan perihal sakit kepala yang Fye keluhkan semalam. Dan Yuuto mengambil kesimpulan yang kelewat menarik dari sini.
"Aku kan hanya bicara berdasarkan apa yang kulihat dan kudengar. Kau datang ke sini, menanyakan tentang roommate-mu (Kurogane kembali mendelik pada Yuuto) yang semalam sakit kepala, bukankah itu bukti kalau kau mengkhawatirkannya?"
"Aku tidak mengkhawatirkannya!" Kurogane memberikan penekanan pada setiap kata. "Aku hanya tidak mau direpotkan olehnya lagi! Sudah amat cukup dengan dia yang hampir meledakkan apartemenku pagi ini!"
"Baiklah, baiklah. Jangan ngotot begitu, tekanan darahmu bisa naik," Yuuto melipat kedua tangannya di meja. "Jadi tidak ada keluhan lain sejauh ini?"
Kurogane mengingat-ingat. Sepertinya emosinya sedikit reda. "Tidak. Hanya sakit kepala saja semalam."
Yuuto mengangguk-angguk. "Seperti yang sudah kujelaskan padanya saat kunjungan sebelumnya. Dia memang akan cukup sering sakit kepala."
"Ini ada hubungannya dengan ingatannya?"
"Mungkin," Yuuto menyandarkan badannya ke punggung kursi. "Apa dia menceritakan padamu penyebab sakit kepalanya?"
Kurogane menggeleng.
"Kalau begitu coba saja tanyakan, mungkin ia mengingat sesuatu. Prosesnya memang sedikit menyakitkan."
"Hnn," jawab Kurogane singkat.
"Dan obat di resep itu, cukup oleskan kalau luka bakarnya baru terkena air," pesan Yuuto.
Kurogane menyeringai. "Kali ini aku memang harus memujimu sebagai dokter serba bisa."
Yuuto tersenyum sambil mengantar Kurogane keluar ruang prakteknya.
.:xXx:.
Kedai sudah mulai dipenuhi pengunjung sejak setengah jam yang lalu. Baik Fye maupun seluruh pegawai di sana terlihat sibuk hilir mudik mengantar pesanan ke meja-meja tamu.
"Dua Blueberry waffle dan dua Americano!" Subaru berteriak dari bar.
"Siap!" Seishirou dan Touya menjawab dari posisi mereka masing-masing.
"Harap tunggu sebentar," Fye membungkuk dengan elegan pada empat siswi SMU dan membuat mereka tersipu karena ketampanannya.
"Ada lagi yang mau kalian pesan?" Lupakan masalah sopan santun dalam melayani tamu! Fuuma mendatangi meja dimana ada dua wanita karir yang sedari tadi memperhatikannya bekerja sambil malu-malu. Dengan senyum maut andalannya, Fuuma berhasil membuat pipi kedua wanita yang lebih tua darinya itu memerah cantik.
"Terimakasih, silakan datang kembali!" Yukito membungkuk kecil pada pelanggan yang meninggalkan meja kasirnya dan keluar kedai.
"Fuumaaaa! Aku pesan latte lagi!" Kazahaya berseru dari mejanya.
Fuuma menoleh kesal karena acara menggoda tamunya terganggu. Dia balas berteriak, "Suruh kekasihmu pesan sendiri di bar!"
Rikuou yang sedang menyeruput es kopinya langsung tersedak.
"Kau masih melayani tamu, Fuuma," Fye berjalan melewati pemuda kelas 2 SMU itu sambil mengetukkan notes di kepalanya. "Berhenti main-main."
Fuuma terkekeh. "Baik, Wakil Bos!"
Fye tersenyum lalu kembali berjalan ke meja kasir yang dekat dengan pintu keluar, sekedar mencari udara segar dari sana.
"Fyuu~ Padat sekali," Fye menggulung lengan bajunya.
Yukito tersenyum. "Belakangan jadi makin ramai sejak Fye-san datang."
Fye membalas senyum Yukito. "Berarti aku membawa keberuntungan ya?"
Kemudian sepasang pemuda-pemudi menghampiri meja kasir, membuat Fye sedikit menyingkir untuk memberi ruang pada keduanya.
Sementara Yukito berkutat dengan pekerjaannya, Fye diam-diam melirik arlojinya. Kuroburo kemana ya?
"Fye-san!" panggil Seishirou yang sudah menata pesanan di nampan.
"Aku datang!" Dengan ceria, Fye kembali menuju bar dan mengantarkan pesanan.
Sementara di luar, Fuuma mendapati mobil bosnya memasuki pekarangan kedai. Dan pemuda itu langsung berkacak pinggang.
"Wah, wah, wah! Apa yang sudah Bos lakukan di luar sementara kami sibuk bekerja?" katanya.
"Bukannya kalian justru menikmati kalau aku tidak ada," kata Kurogane sambil menyorot mobilnya dengan remote.
Fuuma nyengir. "Fye-san khawatir sekali lho."
Kurogane tidak menjawab. Pandangannya melewati punggung Fuuma menuju ke dalam kedai dimana dia melihat pria pirang yang dimaksud Fuuma tengah tersenyum pada pelanggan.
"Uhukk!" Fuuma pura-pura batuk. "Cinta lokasi."
Kurogane melirik pegawainya lalu mengetukkan remote mobilnya ke kepala pemuda itu dan melewatinya untuk masuk ke kedai.
"Wahh! Bahkan Bos ikut-ikutan memukul kepalaku seperti yang Fye-san lakukan tadi!" Fuuma menunjuk punggung Kurogane.
"Jangan banyak bicara lagi dan kerjakan saja tugasmu!" Kali ini nada suara Kurogane terdengar berbahaya. Dan Fuuma tidak bicara apa-apa lagi.
Kurogane memasuki kedai dan kehadirannya diketahui oleh Fye yang segera menghampiri pria besar itu.
"Dari mana saja, Pak Kuro?" tanyanya.
Kurogane menatap mata biru langit Fye. Teringat kalimat yang diucapkan Yuuto tadi. Kalau begitu coba saja tanyakan, mungkin ia mengingat sesuatu.
"Kau mengacuhkanku lagi, Kurokuro."
"Berhenti memanggilku dengan nama-nama bodoh itu, Orang Aneh! Aku jadi merasa sama bodohnya denganmu!" Kurogane merogoh saku mantelnya dan meletakkan kantong kertas berisi obat di puncak kepala Fye.
"Oh, apa ini?" Fye mengambil kantong kertas dari kepalanya dan membukanya. "Ini…"
"Obat untuk tanganmu," sahut Kurogane sambil berjalan ke kamar ganti.
"Wah, Kurowan membelikannya untukku?" Fye mengekor, masih setia dengan suaranya yang ceria.
Kurogane melepas mantelnya dan memakai apron. "Aku hanya tidak mau lukamu itu menyusahkanku."
"Tidak, tidak. Aku tidak akan merepotkanmu lagi," Fye tersenyum ceria kembali.
Kurogane hanya menatap pria di hadapannya sambil membuat simpul untuk tali apronnya.
"Terimakasih," Fye menepuk-nepuk pundak Kurogane dengan tangannya yang sehat.
"Kembali bekerja!" kata Kurogane yang keluar kamar ganti dan menyusul Seishirou di belakang bar.
"Siap, Pak Kuro!"
Fye keluar dari kamar ganti dan kembali ke dalam kedai. Masih ramai sekali di sana. Fye melihat Subaru yang sedikit kewalahan dengan dua nampan dengan perabotan kotor di tangannya. Ia hendak beranjak dan membantu pemuda tersebut saat bel yang menempel di pintu berdenting dan pintu yang dekat dengan tempatnya berdiri terbuka.
Seorang gadis berambut pirang panjang masuk. Fye segera menghampirinya.
"Selamat datang!" sapanya dengan elegan, khas Barat. "Anda sudah pesan tempat?"
Tapi gadis itu terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap wajah Fye seolah taak percaya.
"Maaf, Anda sudah pesan tempat?" ulang Fye. Masih sambil tersenyum.
"Y—Yuuy-san?" gumam gadis itu pelan.
Air muka Fye berubah. Ia tertegun menatap gadis yang baru saja menggumamkan nama yang ia impikan semalam.
"Anda benar Yuuy-san kan?" tanya gadis itu, kali ini dengan volume suara agak keras.
Fye belum menjawab saat Kurogane muncul. "Kenapa kau tidak segera mempersilahkan tamu untuk duduk?"
Fye menoleh ke arah Kurogane. "Aku…"
"Yuuy-san!" Kali ini gadis itu menerjang Fye dan memeluk pria tinggi itu. "Syukurlah, ini benar-benar Anda!"
Fye kembali terdiam. Sesuatu yang seperti kilasan memori muncul di kepalanya dan itu sedikit membuatnya berdenyut nyeri. Yuuy? Yuuy siapa?
Beberapa pengunjung dan pegawai kedai menoleh ke arah Fye dan gadis itu. Sementara Kurogane hanya mengernyit melihat pemandangan di hadapannya.
==To Be Continue==
Terimakasih, terimakasih, terimakasih! Terimakasih untuk kalian semua yang masih ingat dengan cerita usang dan penuh debu ini. Saya datang lagi, berusaha meneruskan jalan cerita kopibar yang sudah saya campakkan dua tahun belakangan /nunduk sedalem-dalemnya/.
Kemudian untuk masalah nama, saya masih merasa aneh kalau harus diganti jadi Fai dan Yuui. Jadi saya minta ijin untuk tetap memakai Fye dan Yuuy sementara ini hehehe~
Mungkin akan mengalami banyak kemunduran di banyak bagian. Mohon koreksi, FLAME kalau perlu. Sekali lagi, mohon dukungannya dan terimakasih banyak!
