Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, OOC, membingungkan dan sebagainya.

Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP

Coffee Bar Story (c) Ken


Fye meletakkan dua cangkir kopi pada nampan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang pada salah seorang pengunjung yang terus-terusan memanggilnya dengan nama Yuuy. Nama yang ia mimpikan semalam, dan mimpi yang membuatnya hampir meledakkan apartemen Kurogane pagi ini.

Fye yakin mimpi itu adalah salah satu ingatannya yang hilang. Dan tamu itu—gadis yang belum Fye tahu namanya itu— sepertinya tahu tentang Yuuy. Mungkin juga tentang dirinya.

Fye?

Fye menyebut namanya dalam hati. Jika gadis itu memanggilnya Yuuy, lalu kenapa nama Fye yang ia ingat? Dan laki-laki dalam mimpinya, yang begitu mirip dengan dirinya, siapa dia sebenarnya? Keluarganya? Lantas kenapa tidak mencarinya selama ini?

Tukk!

Fye merasa puncak kepalanya dipukul ringan. Ia mengerjap dan menoleh. Seorang pria tinggi besar dan sedang mengenakan apron berdiri di sebelahnya. Seketika senyumnya terkembang.

"Kurotan!" Ia tersenyum ceria. Sementara yang dipanggil hanya diam dan menatapnya dengan dahi berkerut.

"Ada apa?" tanya Fye, kali ini mengubah posisinya menjadi menghadap pria besar itu.

"Kau mau sampai kapan membuat tamu itu menunggu?" tanya Kurogane.

"Wahh! Aku melamun lagi," Fye menoleh ke arah nampan dan menepuk jidatnya. Buru-buru ia mengangkat nampan tadi.

Namun belum sampai beranjak, lelaki besar tadi menahan lengannya. "Kau tidak apa-apa?"

Fye mengangguk bersemangat. "Aku baik-baik saja. Bukankah ini hebat? Akhirnya ada yang mengenaliku setelah sekian lama."

Kembali Kurogane hanya menatap pria ramping itu dengan ekspresi yang tidak jelas.

"Jangan khawatir, pak Kuro. Aku bisa atasi ini," Senyum itu sama sekali belum pudar.

"Aku sudah bilang kan?" sahut Kurogane. "Berhenti tersenyum seperti orang bodoh begitu."

Fye justru tertawa kecil. "Orang yang tidak bisa mengingat apapun itu memang bodoh, Kuro-sama."

Kurogane terdiam.

Fye menghadiahkan satu senyuman lagi sebelum meninggalkan Kurogane di bar tanpa kata.

Kurogane hanya bisa menatap punggung Fye yang menjauh. Fye memang terlalu ceria untuk ukuran manusia—begitu menurut Kurogane—, selalu tersenyum dan bicara dengan nada yang kelewat bersemangat. Mungkin dua bulan ini memang bukan waktu yang cukup untuk bisa mengenal pribadi pria berambut pirang itu meskipun mereka tinggal satu atap. Terlebih lagi orang itu sedang amnesia, lanjut Kurogane dalam hati. Namun dalam dua bulan, Kurogane juga sudah cukup paham alasan Fye berwajah ceria adalah untuk menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan agar tidak membuat orang lain khawatir. Biasanya Kurogane juga tidak peduli pada apapun yang dilakukan pria pirang itu. Tapi senyum yang Kurogane lihat barusan berbeda, dan kali ini Kurogane tidak bisa tidak sedikit peduli.

"Kurogane-san."

Kurogane menoleh dari kegiatan mengamati Fye dari jauh. Dilihatnya Seishirou berjalan ke arahnya.

"Kenalan Fye-san?" tanya Seisirou. Sepertinya ia juga sempat melihat bagaimana gadis yang baru datang tadi memeluk Fye.

Kurogane menghela napas. "Mungkin, tapi pria aneh itu tidak bisa mengingatnya."

Seishirou menoleh sekilas ke arah atasannya. "Apa Fye-san tidak apa-apa?"

Kurogane tidak menjawab, karena bahkan dia pun tidak tahu ini benar atau tidak dengan membiarkan Fye menghadapi gadis itu sendirian. Fye memang berhak untuk mendapatkan ingatannya kembali. Tapi kalau mengingat kalimat Yuuto saat Kurogane mangunjunginya tadi bahwa proses untuk Fye mendapatkan ingatan itu akan menyakitkan, Kurogane jadi sedikit merasa khawatir.

Kurogane mengangkat sebelah alisnya.

Aku cuma tidak mau pria itu akan menyeretku terlalu jauh dalam masalahnya. Dia sudah hampir menewaskanku tadi pagi, jadi jangan sampai dia membuat kekacauan juga di dalam kedaiku, Kurogane membela diri.

Kurogane mendengus dan menoleh ke arah Seishirou. "Sudahlah, kita kembali bekerja."

Seishirou mengangguk dan mengikuti langkah Kurogane kembali ke dapur.

.

.

.

Fye sama sekali tidak mengendurkan senyumnya sejak ia datang membawa kopi untuk gadis yang memanggilnya Yuuy itu. Dari perkenalan mereka tadi, Fye tahu gadis itu bernama Chii. Gadis ini sudah bercerita pada Fye bahwa Yuuy—yang diklaim Chii sebagai dirinya— adalah atasannya di kantor. Dan Yuuy dikabarkan tewas dalam kecelakaan sekitar dua bulan yang lalu.

"Saya memang kecelakaan dan amnesia," kata Fye sopan. "Tapi saya yakin saya bukan Yuuy-san yang Chii-san maksud."

Chii menggeleng, membuat poni yang menutupi keningnya bergerak lembut. "Saya sangat yakin Anda adalah Yuuy-san. Mana mungkin saya bisa salah mengenali orang yang selama ini sudah begitu baik pada saya?"

Fye masih tersenyum. "Bahkan Chii-san sendiri mengatakan bahwa Yuuy-san tewas dalam kecelakaan."

Chii terlihat sedikit terkejut. Ia menggigit kuku ibu jari tangannya. "Me—memang."

"Bukankah itu sudah cukup membuktikan bahwa saya bukan Yuuy-san?"

"Tapi jasad Yuuy-san tidak ditemukan dalam mobilnya," Chii bersikeras.

Tangan Fye terulur dan meraih tangan kanan Chii, bermaksud menenangkan gadis itu. "Saya memang tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang dan mungkin saya memang mirip dengan Yuuy-san itu, tapi sungguh saya bukan Yuuy-san."

Fye bisa melihat mata Chii mulai basah.

"Bahkan tangan inipun….sentuhannya sama dengan tangan Yuuy-san," kata gadis itu lirih.

Fye kali ini tersenyum prihatin. "Saya ikut berduka cita atas apa yang menimpa Yuuy-san."

Kembali Chii menggeleng. Ia melepaskan genggaman tangan Fye dan berdiri dari duduknya. Dihapusnya genangan airmatanya dengan kasar.

"Tidak! Saya tahu Anda adalah Yuuy-san!" Chii sedikit berseru, membuat perhatian beberapa pengunjung di kedai terpusat padanya.

"Chii-san…"

"Saya akan kembali! Membawa apapun yang bisa membuat Anda percaya bahwa Anda memang Yuuy-san!" Chii mengambil tasnya lantas membungkuk pada Fye —yang belum beranjak dari duduknya— sebelum akhirnya meninggalkan Fye menuju kasir.

Fye masih terdiam di tempat. Sesuatu di dalam kepalanya berdenyut nyeri lagi. Ia menatap tangan yang baru saja ia gunakan untuk menggenggam tangan kecil Chii tadi. Kenapa sensasi dari tangan Chii-san tidak asing?

.:oOo:.

Fuuma menyenggol lengan Touya saat mendapati kedua atasannya —baginya Fye sekarang adalah bos kedua— sedang berdua di dapur, saling bantu merapikan perabotan yang kotor tanpa suara. Hanya kelotakan benda-benda pecah belah dan suara air dari wastafel yang menemani keduanya menyelesaikan pekerjaan malam itu sebelum menutup kedai. Fuuma yakin ada yang tidak beres, atmosfirnya sedikit aneh di dalam dapur. Ia menoleh pada Touya, namun pemuda itu hanya mengangkat bahunya.

.

.

.

"Huahh, poniku ini mulai mengganggu," Fye mengambil ikat rambut dari sakunya dan mengikat poninya agar tidak lagi menusuk-nusuk matanya. Ia membantu Kurogane mengelap perabotan-perabotan basah yang sudah dicuci lelaki besar itu.

Fye berusaha untuk bersikap biasa kendati pikirannya sedang dipenuhi banyak pertanyaan tentang Yuuy. Kurogane juga bukannya tidak mengetahui hal ini. Namun karena dia sudah memutuskan untuk tidak ikut campur, kecuali Fye sendiri yang mengatakan padanya, maka pria besar ini hanya diam saja sambil sesekali mengawasi Fye lewat ekor matanya.

"Kurorin mau dibantu?" Fye mendekati pria besar yang telapak tangannya kini penuh busa sabun.

"Tanganmu baru saja diobati, jangan sampai basah lagi," kata Kurogane tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

Fye tersenyum sambil mencubit pipi Kurogane. "Aku terharu lho. Kurorin mencemaskan tanganku."

"Brengsek! Singkirkan tanganmu!" Kurogane menggeram.

"Wah, Kuroburo marah!" Fye justru tertawa-tawa dan kembali ke hadapan tumpukan perabotan-perabotan basah.

Kurogane mendengus. Betapa pria amnesia ini sangat tidak mempan dengan amarah Kurogane. Lelaki besar itu hanya mengamati Fye yang kembali mengoceh hal-hal tidak penting tentang pengunjung-pengunjung yang datang hari ini sambil menata perabotan-perabotan yang sudah bersih dalam kitchen set. Terkadang ia menoleh ke arah Kurogane, memamerkan wajah cerianya. Dan Kurogane benci melihatnya.

Fye berhenti berceloteh saat mendapati Kurogane memandangnya dengan kening berkerut.

"Kau kenapa lagi, Kuro-daddy?" tanya Fye.

Panggilan macam apa lagi itu?, Kurogane berseru dalam hati. Sengaja tidak diutarakan karena tidak ingin membuat kegaduhan di malam hari. Coba saja kalau hari masih siang, teriakannya bisa membahana ke seluruh sudut kedai.

"Apa aku sudah mengatakan hal yang salah?" Pria berambut pirang itu bertanya lagi.

"Hanya tidak menyukai caramu tersenyum," jawab Kurogane tanpa merubah ekspresinya.

"Eh?" Fye pura-pura sedih.

Kurogane mengangkut perabotan yang sudah ia cuci ke hadapan Fye. "Aku tidak peduli kau mau memberitahuku atau tidak tentang Yuuy atau siapapun itu namanya. Tapi berhenti menunjukkan senyum memuakkan itu padaku."

Tangan Fye terhenti dari kegiatannya mengelap perabotan yang basah, namun ia masih mencoba untuk tersenyum.

"Kau harus tahu kalau topeng yang kau kenakan itu tidak bisa membohongiku," Kurogane mengambil alih kain lap dari tangan Fye.

Fye menatap punggung besar Kurogane saat pria itu membelakanginya dan meneruskan pekerjaan Fye. Kali ini senyumnya memudar, ia menggigit bibir bawahnya, dilema antara jujur atau tidak pada pria besar itu.

"Kurotan," panggil Fye hati-hati.

Kurogane tidak menjawab, Fye juga sudah menduga jika pria itu tidak akan menyahut.

"Tentang mimpiku yang tadi malam," Fye memberi jeda. "Aku bermimpi tentang seseorang yang juga memanggilku Yuuy."

Kali ini giliran Kurogane yang menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan dan menatap mata biru laut di hadapannya. Cukup lama merah ruby mengintimidasi biru laut itu.

"Kau bisa mengingat siapa orang itu?"

Fye menghela napas. "Orang itu memiliki wajah yang mirip denganku, terlalu mirip malah."

Kurogane kembali mengerutkan kening. "Kau…kembar?"

"Entah. Yang jelas dalam mimpiku, dia mengajakku bertukar posisi."

"Maksudmu?"

"Dia bilang, dia ingin menjadi aku dan aku menggantikan posisinya. Dia menjadi Yuuy dan aku menjadi Fye." Fye kembali menggigit bibir bawahnya setelah selesai berujar.

Kurogane memutar bola matanya. "Mungkinkah itu salah satu ingatanmu?"

"Aku juga berpikiran sama," kata Fye. "Hanya saja, jika aku memang Yuuy, kenapa aku justru mengingat nama Fye dan bukan namaku sendiri?"

Kurogane terlihat semakin serius. "Apa gadis yang tadi siang mengatakan sesuatu tentang Yuuy yang dia kenal?"

Fye mengingat setiap kalimat yang didengarnya dari Chii.

"Apa dia mengatakan sesuatu juga tentang 'Fye'?" lanjut Kurogane.

Fye menggeleng. "Dia tidak menyebut apapun tentang 'Fye'."

Kurogane mengusap dagunya. "Aneh. Kalau kau memang kembar, gadis itu seharusnya tahu tentang 'Fye', ah…Yuuy! Ah, sial!" Kurogane mengumpat. "Sebenarnya siapa yang Yuuy, siapa yang Fye?"

"'Fye' dalam mimpiku berkata bahwa tidak ada satupun orang di tempatnya bekerja yang tahu kalau dia punya kembaran."

Kurogane berpikir keras sambil menatap lantai, kali ini ia melipat tangannya. "Jadi memang kemungkinan laki-laki yang ada dalam mimpimu dan memanggilmu Yuuy itu adalah kembaranmu."

"Gadis yang tadi siang, Chii-san, juga akan kembali membawa bukti untuk menunjukkan bahwa aku adalah Yuuy. Mungkin…kita bisa menyelidiki sesuatu dari sana," kata Fye lirih sambil memijit pelipisnya yang sepertinya makin berdenyut nyeri.

Kurogane mengangkat wajahnya dan hendak mengatakan sesuatu, namun urung dia lakukan. Pupil kecilnya sedikit melebar saat mendapati wajah Fye terlihat pucat.

"Kau tidak apa-apa?" Kurogane menangkap lengan tangan Fye yang digunakan untuk memijit pelipisnya.

"Hanya sedikit pusing, mungkin aku lelah," Fye tersenyum lemah.

Kurogane menatap Fye sebentar sebelum menarik kursi yang tak jauh dari mereka.

"Duduk dan lepas kuciran ponimu, itu akan sedikit memperlancar aliran darah di kepala. Aku akan meminta anak-anak untuk menggantikan tugas kita ini," Kurogane beranjak keluar dapur.

Fye mengikuti instruksi yang diberikan Kurogane. Sayup-sayup ia mendengar pria besar itu memanggil Fuuma dan Touya di luar, mereka terlibat perbincangan.

Mata biru laut Fye kembali menatap kosong, kembali teringat pada jati dirinya. Sebenarnya aku siapa?

.:xXx:.

Chii terlihat sibuk membuka dan menutup laci dan loker-loker penuh berkas-berkas. Ia sengaja datang ke kantor lebih pagi dan segera menuju ruangan atasannya. Dengan segera ruangan yang tadinya rapi kini sudah sedikit berantakan dengan beberapa map yang isinya berhamburan keluar dan berserakan baik di atas meja maupun di lantai.

Ia benar-benar ingin membuktikan pada pria yang ia temui di kedai tempo hari bahwa ia adalah Yuuy. Dia sangat yakin bahwa pria itu adalah Yuuy, berkali-kali ia katakan itu bahkan pada hatinya sendiri. Jadi hari ini ia memanfaatkan kesempatan saat jam kerja kantor sedikit lebih siang untuk mencari bukti yang dapat dibawa kembali ke kedai itu.

Namun dari setengah jam yang lalu ia mencari, tidak ada satupun foto yang ia temukan. Padahal ia yakin sekali pernah melihat foto Yuuy di atas meja kerjanya. Foto saat ia dan seluruh pegawai makan bersama saat ulang tahun kantor.

"Dimana foto itu?" tanya Chii lebih kepada dirinya sendiri sambil menarik isi laci dan memilah-milah dokumen-dokumen yang ada di sana. Berharap foto itu terselip di dalam situ. Tapi tetap saja nihil.

"Chii," Seseorang pria paruh baya di ambang pintu dan sedikit terkejut dengan keadaan di dalam ruangan dan Chii yang berjongkok menggeledah isi laci.

"Ah, Fei Wong-san!" Chii buru-buru berdiri dan menunduk.

"Boleh aku tahu apa yang kau lakukan di dalam sini?" Pria yang dipanggil Fei Wong tadi masuk ke dalam ruangan.

"Ah, saya…" Chii terbata. "Saya hanya ingin mencari foto Yuuy-san."

Mata Fei Wong menyipit, mencium sesuatu yang tidak beres.

"Saya bertemu dengannya!" Wajah Chii sedikit bahagia sambil mengambil beberapa langkah mendekati Fye Wong.

"Siapa?"

"Yuuy-san! Saya bertemu dengannya tempo hari di Tokyo," Chii hampir tidak bisa membendung airmata bahagianya.

Kali ini Fye Wong terbelalak. "Kau bertemu dengan…Yuuy? Tapi...bukankah dia sudah..."

Chii mengangguk sambil menyeka sudut matanya. "Ya, memang sudah dikabarkan tewas. Tapi yang saya temui tempo hari benar-benar Yuuy-san. Dia terlihat sehat, hanya saja dia amnesia."

Air muka Fei Wong berubah. Tanpa sadar tangannya terkepal. Sementara Chii yang tidak melihat perubahan ekspresi Fei Wong kembali mendekati laci dan berkutat dengan berkas-berkas yang ada di sana.

Cukup lama ruangan itu sepi. Fei Wong terlihat berpikir sambil tetap berdiri mengamati Chii yang sibuk dengan berkas-berkas dalam map.

"Kau bilang Yuuy di Tokyo?" tanya Fei Wong akhirnya.

Chii menoleh. "Benar. Tempo hari saat saya baru saja mengunjungi teman kuliah, saya mampir ke sebuah kedai kopi. Kebetulan sekali seorang pria yang saya yakini adalah Yuuy-san yang menyambut kedatangan saya. Kami sempat berbincang. Dari situlah dia berkata bahwa dia amnesia."

"Dia…tidak tahu kalau dia adalah Yuuy?"

Chii menggigit bibir bawahnya. "Meskipun dia amnesia, dia sangat yakin bahwa dia bukan Yuuy."

Fei Wong berjalan mendekati Chii. "Lantas, siapa nama laki-laki itu?"

"Eung…" Chii mengingat. "Kalau tidak salah, namanya Fye."

Mata Fei Wong kembali melebar. "Apa katamu?" Nada suara Fei Wong sedikit meninggi, membuat Chii sedikit terlonjak.

"Na—namanya Fye," ulang Chii, sedikit takut.

Fei Wong membalikkan badannya membelakangi Chii. Bola matanya berputar liar. Kalimat Chii barusan seakan seperti hantaman baginya. Nafasnya mendadak memburu.

"Fei Wong-san kenal dengan Fye-san?" Chi berdiri sambil mendekap map merah tebal penuh kertas-kertas penting.

Fei Wong menggeleng cepat kemudian kembali menghadap Chii. "Aku tidak mengenalnya."

Chii kembali berwajah sedih. "Saya yakin dia adalah Yuuy-san. Tapi bagaimana cara meyakinkannya? Tidak ada satu bendapun dari tempat ini yang bisa dijadikan bukti."

"Kapan kau akan menemui Fye lagi?" tanya Fei Wong tanpa mendengarkan kalimat Chii barusan.

"Segera setelah saya menemukan bukti untuk ditunjukkan padanya."

"Aku akan ikut denganmu. Aku ingin menemuinya, orang yang kau anggap sebagai Yuuy, keponakanku," kata Fei Wong sebelum beranjak dan meninggalkan Chii sendirian dalam ruang kerja Yuuy.

==To Be Continue==


Huahh~ akhirnya sudah sampai chapter tujuh. Terimakasih untuk semua yang masih setia menunggu cerita amburadul ini. Hehehehe~ Saya ngga yakin cerita kali ini bagus. Jadi kalau memang jelek, silakan langsung layangkan flame.

Baiklah, saya akan kembali berjuang untuk chapter 8! Komen, saran, kritik, FLAME, ditungguuuuu! /lambai-lambai sama mokona item-putih/