Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, OOC, membingungkan dan sebagainya.

Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP

Coffee Bar Story (c) Ken


Ini seperti pagi dimana pertama kali Fye menyadari dirinya terbaring di kamar tidur ini. Fye menemukan matahari telah bersinar tinggi dan menerobos masuk ruangan melalui jendela kaca tinggi. Namun ruangan dominan putih itu kini sudah memiliki suasana yang berbeda. Entah sejak kapan, Fye tidak ingat. Mungkin sejak Kurogane memutuskan untuk mengijinkan Fye mengisi ruangan-ruangan kosong di kamar ini dengan sentuhan-sentuhan khas dirinya.

Sebenarnya bukan "mengijinkan" kata yang tepat. Kurogane bukan tipe yang akan membiarkan orang asing mengisi ruangan-ruangan yang sengaja ia biarkan kosong di apartemennya itu. Kalaupun itu terjadi, pasti Kurogane terpaksa mengijinkan karena suatu alasan. Dan dalam kasus ini, Kurogane tidak mau banyak melakukan interaksi—dalam bentuk adu mulut—dengan Fye. Interaksi yang menurut Kurogane sangat membuang waktunya.

Fye bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Ia melihat vas bunga yang beberapa minggu lalu dibelinya dan ia letakkan di buffet dekat almari. Ia ingat bagaimana ekspresi tuan besar pemilik apartemen saat Fye meletakkan benda itu di sana. Tidak ada komplain sebenarnya, tapi pria besar dengan kulit eksotis itu mengerutkan dahi dan memperingatkan Fye untuk tidak menaruh bunga yang terlalu wangi.

Fye tersenyum yang entah karena apa. Kenyataannya setiap kali memikirkan tentang pria besar pemilik apartemen ini, ia selalu reflek menyunggingkan senyum. Seperti yang ia akui pada Seishirou tempo hari di gudang kopi di kedai, Fye menyukai pria besar itu karena keunikannya.

Ngomong-ngomong tentang kedai, ini sudah hari ketiga Fye absen datang ke tempat itu. Kurogane yang melarangnya karena sakit kepala yang Fye dapat malam itu saat mereka mencuci perabotan kotor berdua. Fye sebenarnya sudah tidak merasa pusing sejak kemarin. Tapi tetap saja pria besar itu melarangnya ikut ke kedai dan anehnya Fye menurut.

Padahal Fye sangat ingin kedai. Selain karena ia sudah sangat akrab dengan suasana di tempat itu, Fye juga ingin tahu apakah gadis bernama Chii tempo hari kembali lagi untuk membawa bukti yang dijanjikannya dan membuktikan bahwa Fye adalah Yuuy yang dikenalnya. Fye bukannya senang jika memang ia terbukti sebagai Yuuy, karena itu artinya sama saja membuka masalah baru tentang siapa itu 'Fye' yang selama ini ia klaim sebagai dirinya. Bisa saja kalau Fye menganggap kalau keberadaan 'Fye' adalah sesuatu yang ia bangun sendiri saat pertama kali ia membuka mata di apartemen sakit waktu itu. Tapi mimpinya malam itu, mimpi dimana ia bersama dengan seseorang yang mirip dengannya, juga tidak bisa diacuhkan begitu saja. Bahkan Kurogane memiliki pendapat yang sama seperti dirinya, bahwa mimpi itu adalah salah satu kepingan ingatan Fye yang hilang.

Ini rumit. Dan ia merasa bersalah telah ikut membawa Kurogane masuk ke dalamnya. Parahnya, Fye belakangan merasa takut kalau dirinya di masa lalu punya catatan kelakuan buruk. Bagaimana jika ia dalam usaha melarikan diri dari suatu masalah pelik lalu kecelakaan di tengah jalan kemudian amnesia dan berubah menjadi orang baik? Itu artinya Kurogane juga bisa terseret dalam masalah. Tapi kemudian pikiran itu ditepisnya sendiri. Jika memang ia pernah melakukan hal buruk, tindak kriminal misalnya, pasti di seluruh sisi jalan akan penuh dengan fotonya dengan himbauan untuk segera ditemukan dalam keadaan hidup atau mati. Dan itu tidak terjadi padanya.

Fye mendesah dan menunduk untuk menemukan kakinya yang menggantung di atas lantai. Ia akan menanyakan pada Kurogane saat pria itu pulang nanti apakah selama hari-hari absennya ada orang lain yang mencarinya. Ia sudah memutuskan.

Fye lalu berdiri dari duduknya. Ia menuju pintu kamar dan membukanya, hendak menuju kamar mandi untuk cuci muka. Namun saat pemandangan dapur dan meja makan tersaji di hadapannya, tidak lebih dari sepuluh langkah, matanya sedikit melebar melihat apa yang ada di atas meja makan dan tertutup tudung saji kecil.

Fye lagi-lagi tersenyum. Apapun yang tersembunyi di bawah sana, ini untuk yang pertama kalinya Fye mendapat perlakuan seperti ini. Pria ramping itu mendatangi meja makan dan membuka tudung saji tadi. Segelas susu, segelas air putih, beberapa botol tempat obat untuk sakit kepala Fye, dan sepiring spaghetti dengan bumbu sederhana. Fye menarik kursi dan mengurungkan niatnya untuk mencuci muka. Ia mengambil garpu di sebelah piring spaghetti dan melilitkan segulung mie lurus itu untuk dibawa masuk ke dalam mulutnya. Fye tidak butuh mencecap untuk menikmati bagaimana rasanya. Semoga kalian tidak lupa kalau dia kehilangan indera pengecapnya. Sehingga tanpa komentar apapun pria pirang itu berhasil mengosongkan isi piringnya tanpa waktu lama sekalipun spaghetti itu tak lebih dari makanan dingin—mungkin Kurogane sudah menyiapkannya sejak dari pagi sekali tadi—baginya. Tapi berhubung spaghetti tadi adalah karya Kurogane untuknya yang pertama, entah kenapa seperti ada bumbu yang membuatnya berasa di dalam mulut Fye.

Kini pria berambut pirang ini meraih gelas air putih dan mengeluarkan tiga butir obat ke telapak tangannya. Ia mengeluarkan cengiran aneh saat melihat butiran-butiran warna-warni itu sebelum memasukkan semuanya ke dalam mulutnya dan mendorongnya masuk ke kerongkongan dengan air putih.

TING TONG!

Fye menjauhkan bibir gelas dari bibirnya dan menoleh ke arah sumber suara berbunyi. Kejutan kedua pagi ini, akhirnya ada yang mau bertamu ke apartemen ini setelah dua bulan lebih dia tinggal bersama Kurogane (Fye bisa segera yakin bukan Kurogane yang memencet bel pintu karena pria besar itu sudah terbiasa langsung masuk dengan master key miliknya).

Pria ramping itu menyeka sudut mulutnya dengan serbet makan sebelum berjalan ke arah pintu depan dan membukanya. Seorang wanita berambut hitam legam panjang menoleh ke arahnya begitu pintu terbuka sempurna.

Diam beberapa saat.

"Konichiwa," Fye tersenyum dan membuka percakapan.

Wanita itu tersenyum. "Apa aku bisa bertemu dengan Kurogane?"

"Aah…kebetulan dia masih bekerja," kata Fye dengan ceria. "Anda mau menunggu? Kebetulan dia punya shift pendek di hari Jumat."

Wanita itu menatap Fye dari ujung kepala sampai kaki. Ia menyesap rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya lalu membuang asapnya. "Aku akan suka jika kau mau menyuguhkan sake untukku."

Fye masih tersenyum. "Kami punya wine yang sebenarnya untuk memasak. Tapi kurasa Kuro-sama tidak akan keberatan untuk berbagi dengan tamunya."

Fye memberi ruang untuk wanita itu agar bisa masuk ke dalam apartemen.

"Kau…boleh aku tahu siapa?" tanya wanita itu begitu Fye menutup kembali pintunya.

Fye menyusul wanita itu ke ruang tamu dan member gerakan dengan tangannya untuk mempersilakan wanita itu duduk. "Aku menumpang di sini."

Wanita itu kini duduk di sofa dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak tahu Suwa menyewakan kamar."

Fye tertawa kecil. "Bukan menyewakan. Aku tinggal di sini, cuma-cuma. Setidaknya sampai sekarang Kuro-sama tidak pernah meminta uang tinggal padaku."

Wanita itu menunjukkan ketertarikan pada Fye. Kini ia tersenyum sambil sekali lagi menyesap rokoknya kemudian dimatikan di asbak di tengah meja. "Aku suka bagaimana caramu memanggilnya. Aku Yuuko Ichihara, siapa namamu?"

"Fye," Fye menjabat tangan wanita itu.

"Hanya 'Fye'?"

Fye mengangkat bahu tanpa memudarkan senyumnya. "Hanya itu yang bisa kuingat."

Wanita itu, Yuuko, melepas jabatan tangannya dengan Fye. "Bagaimana bisa seseorang melupakan namanya sendiri?"

"Di sini ada buktinya," Fye menunjuk dirinya sendiri dengan ceria.

Yuuko tertawa anggun. "Baiklah. Hanya 'Fye' juga tidak apa-apa."

Fye masih tersenyum. "Seperti yang sudah kujanjikan, akan kuambilkan wine untukmu."

"Sebenarnya aku lebih suka sake. Tapi apa boleh buat, Suwa tidak begitu suka minum." Wanita itu menopang sisi kepalanya dengan sebelah tangan.

Fye berjalan menuju lemari es untuk mengambil sebotol besar wine dan mengambil dua gelas tinggi dari kitchen set, satu untuknya dan satu lagi untuk Yuuko.

.:oOo:.

Kurogane menatap surat di tangannya kemudian membuang napas. Berulang kali ia membacanya dan perasaan dilema semakin menggelanyut di hatinya. Ia duduk di salah satu kursi di meja pengunjung di luar kedai ditemani secangkir kopi racikannya sendiri. Ini belum jam istirahat kedai, tapi tadi pria besar itu sudah meminta ijin kepada seluruh pegawainya untuk istirahat lebih dulu. Jadi di sinilah ia sekarang.

Diletakkannya surat itu di meja dan dibiarkan terbuka dan bergerak-gerak ringan tertiup angin siang itu. Kurogane meraih telinga cangkir kopi dihadapannya dan sejenak menatap kopi hitam dalamnya. Pikirannya mungkin sehitam kopi itu, butuh dijernihkan. Belum selesai masalah pria berambut pirang yang tinggal bersamanya, kini ia harus dihadapkan pada sebuah masalah yang datang bersama dengan kertas yang dibacanya tadi. Dimana surat tadi berisi tawaran untuk mengikuti pelatihan barista di Australia.

Ia kemudian membasahi tenggorokannya dengan kopi yang hampir dingin tadi.

Sejujurnya ia tidak butuh gelar. Ia suduh cukup berhasil mengelola "Coffee Bar" dengan kemampuannya saat ini. Juga, ia tidak mungkin meninggalkan kedai. Memang para pegawainya dapat diandalkan sekalipun mereka terkadang suka membuat onar saat ia tidak ada di tempat. Tapi tetap saja, kedai ini sudah seperti hidupnya. Hiruk-pikuk pengunjung, bau khas aneka kopi dalam gudang, mesin-mesin grinder dan mesin-mesin lain di dalam sana sudah seperti keluarganya yang tentunya akan Kurogane rindukan. Tapi bohong kalau dia bilang tidak berminat dengan tawaran yang tertulis pada surat di hadapannya. Ia ingin lebih mempelajari kopi. Ia ingin mengukur sejauh mana kecintaannya pada kopi dan ingin mengembangkan skill yang ia miliki sekarang. Ia tidak mau pengunjung-pengunjung, baik pengunjung tetap atau baru, hanya datang untuk menikmati suasana hangat kedainya atau malah mungkin malah cuma ingin bertemu dengan para pegawai—juga dirinya. Ia ingin "Coffee Bar" terkenal karena cita rasa kopi hasil racikan tangannya. Ia ingin "Coffee Bar" lebih berhasil daripada sekarang.

Lalu kelebat pria ramping berambut pirang muncul di pikiran Kurogane. Ia juga tidak tahu kapan pria itu bisa mengingat semuanya. Kurogane tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Tidak untuk menghancurkan apartemennya dan tidak untuk mengacaukan hidupnya lebih lama. Dia terlalu liar untuk dilepaskan begitu saja, begitu pikir Kurogane. Bahkan meninggalkannya sendirian di apartemen saat ini sudah membuat Kurogane was-was. Dia menarik nafas lega diam-diam saat menemukan apartemennya masih utuh ketika pulang. Maka dari itu pagi tadi Kurogane berinisiatif untuk membuatkan sarapan si pria yang masih tidur pulas di kamarnya agar ia tidak menyentuh apapun di dapur tanpa pengawasan Kurogane.

"Kuro-san!"

Kurogane mengerjap dan menoleh ke arah suara. Ia melihat Fuuma, yang baru saja memanggilnya, melongokkan kepala di jendela dari dalam kedai.

"Ada yang ingin bertemu," lanjut pemuda jangkung itu.

"Siapa?" Kurogane melipat suratnya dan memasukkannya dalam kantung kemeja putih yang ia kenakan.

Fuuma mengangkat bahu lalu menggeleng, membuat Kurogane mengernyit.

Kurogane bangkit dari duduknya sambil berpesan pada Fuuma untuk membersihkan meja yang baru ia tempati dan masuk ke dalam kedai. Hal pertama yang ia dapati adalah pintu depan yang kini dijaga oleh dua pria dengan setelan hitam-hitam berbadan kekar. Di depan bar, Seishirou terlihat sedang bersama dengan seorang pria paruh baya berpakaian resmi yang ditemani oleh dua pria lain—yang lagi-lagi—dengan setelah hitam dan seorang gadis yang Kurogane ketahui sebagai gadis yang tempo hari datang ke kedai dan serta-merta memeluk Fye. Kurogane meneruskan langkah dan menghampiri orang-orang di depan bar itu.

"Sakurazuka," panggil Kurogane.

Seishirou menoleh ke belakang. "Ah, Kurogane-san."

Sejenak Kurogane menatap pria paruh baya di hadapannya sebelum kembali fokus pada Seishirou. "Monou bilang ada yang mencariku."

Seishirou kemudian menghadap pria paruh baya tadi sambil tersenyum sopan. "Ini Kurogane-san, pemilik kedai ini yang ingin Anda temui."

Pria paruh baya itu kembali mengamati Kurogane dengan seksama. Sementara pria besar itu membungkuk sedikit untuk memberi hormat.

"Maaf mengganggu waktu Anda," kata pria paruh baya itu.

Kurogane menegakkan badannya. "Tidak sama sekali. Ada yang bisa saya bantu?"

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya pria paruh baya itu.

Kurogane menatap Seishirou yang langsung dibalas anggukan oleh yang bersangkutan. Seishirou membimbing mereka ke salah satu meja yang kosong dan jauh dari hiruk pikuk pengunjung siang itu.

"Apakah Anda ingin memesan sesuatu?" tanya Seishirou pada pria paruh baya itu setelah Kurogane mempersilakan mereka duduk.

"Tidak, aku tidak minum kopi. Terimakasih," jawab pria itu.

"Anda, Nona?" Seishirou menanyai gadis berambut pirang panjang yang duduk di sebelah pria paruh baya.

"Aku masih belum bisa memutuskan. Mungkin nanti," jawab gadis itu ambil tersenyum simpul yang dibalas oleh Seishirou.

"Kurogane-san?" Kali ini Sheishirou menoleh pada atasannya.

Kurogane menggeleng. "Kau bisa kerjakan yang lain."

Seishirou mengangguk lalu menunduk sebelum berlalu. Meninggalkan meja tempat Kurogane dan para tamunya duduk.

"Saya Fei Wong Reed dan saya tidak akan berbasa-basi," Pria paruh baya itu memulai.

Kurogane waspada. Mungkin memang orang-orang ini tidak ada urusan dengannya, tapi karena Kurogane yakin mereka akan membicarakan pria berambut pirang yang tinggal di apartemennya, Kurogane tetap awas.

"Sekretaris di kantor saya," Pria paruh baya itu menoleh pada gadis di sebelahnya. "tempo hari datang ke sini dan bertemu dengan salah satu pegawai di kedai ini."

Kurogane memperhatikan setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya itu.

"Dan dia sangat yakin bahwa pegawai itu adalah keponakan saya, Yuuy," lanjut pria itu.

Pupil merah ruby milik Kurogane membulat.

.:oOo:.

Fye menuang wine yang kesekian kali untuk tamu Kurogane. Ia sendiri hanya minum satu setengah gelas tadi dan memutuskan untuk tidak melanjutkan karena tidak tahu—tepatnya tidak ingat—sekuat apa dirinya dalam mengkonsumsi minuman beralkohol.

Wanita yang bertamu sejak beberapa jam tadi—Yuuko— sudah bercerita banyak hal tentang dirinya maupun Kurogane. Bahwa dirinya adalah senpai Kurogane di sekolah dulu dan kini bekerja sebagai salah satu tim kreatif di stasiun televisi yang sering mengundang Kurogane untuk menjadi juri dalam kompetisi memasak yang diadakan intensif di sana. Dan kedatangannya kali ini juga untuk mengundang Kurogane kembali dalam acara itu.

Fye sudah menunjukkan kekagumannya pada pemilik apartemen yang lebih terkenal daripada dirinya yang seorang pattiserie. Saat mendengarnya, Yuuko menawarkan Fye untuk ikut berpartisipasi. Namun Fye menolaknya secara halus dengan alasan ia harus bekerja di kedai Kurogane. Terlalu riskan untuk mengatakan alasan yang sebenarnya bahwa ia kehilangan indra pengecap. Salah-salah Yuuko bisa mengorek lebih jauh dan Fye takut tidak bisa mencari kebohongan yang tepat untuk menutupi asal mula keberadaannya di apartemen Kurogane. Tidak boleh ada orang luar yang tahu tentang bagaimana Fye bisa masuk dalam kehidupan Kurogane, Fye sudah memutuskannya sejak dulu.

"Haaaaah," Yuuko mengosongkan gelas tingginya untuk yang kesekian kalinya. "Kurogane Suwa itu lama sekali ya?!"

Fye menoleh ke jam dinding besar di dinding ruang tamu. "Biasanya jam sekian dia sudah pulang. Mungkin sedang ramai sekali di kedai."

Yuuko mengerucutkan bibirnya. "Sudah melarangku pergi ke kedai, menunggu di apartemen ternyata dia pulang terlambat."

Fye tersenyum kecut.

Yuuko melirik pria berambut pirang yang duduk di sofa single di sebelahnya itu. Wajahnya selalu menunjukkan ketertarikan pada pria itu sejak ia membukakan pintu depan tadi.

"Ada yang aneh di wajahku?" tanya Fye ceria.

Yuuko tersenyum anggun. "Tidak. Hanya berfikir sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi aku tidak bisa mengingat kapan dan dimana."

Tanpa Yuuko tahu, wajah Fye menegang. "Hontou?"

.:oOo:.

Kurogane terlihat berpikir saat pria paruh baya di hadapannya meminta ijin untuk bertemu dengan Fye di apartemennya. Bukannya Kurogane keberatan akan hal itu, masalahnya Fye baru saja sembuh dari sakit kepalanya. Kalau memang orang-orang ini adalah orang-orang dari masa lalu Fye, bukan tidak mungkin Fye akan mengingat sesuatu yang membuatnya sakit kepala lagi. Tapi Fye juga berhak tahu masa lalunya, 'kan?! Pasti rasanya menyiksa sekali tidak mengetahui jati diri dan keluarga sendiri.

Kurogane menghela napas dan kemudian menatap pria paruh baya dan gadis berambut pirang panjang di hadapannya. "Baiklah. Akan saya antar kalian ke sana."

"Saya sangat berterimakasih atas kebaikan hati Anda." Pria paruh baya itu berdiri dan membungkuk pada Kurogane.

"Saya hanya sedikit membantu," kata Kurogane yang sebenarnya masih dilanda cemas.

.::oOo:.

"Ingatanku buruk. Aku benar-benar lupa pernah melihatmu dimana. Lagipula itu juga belum tentu dirimu," Yuuko menuang wine untuk dirinya sendiri.

Fye terdiam.

Yuuko kembali melirik pria itu. "Apakah informasi ini sangat penting bagimu?"

Fye mengangguk pelan. "Aku berharap ada yang bisa mengatakan padaku tentang siapa diriku."

Yuuko tidak menjawab. Ia hanya menatap Fye dengan mata merah gelapnya. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi wanita itu sadar ada area-area dimana ia tidak dapat meletakkan tangannya di situ. Sehingga Yuuko memilih untuk kembali mengosongkan gelasnya.

"Ahh, gomenasai," Fye menggaruk belakang kepalanya. "Aku jadi bicara yang tidak-tidak."

Yuuko mengulum senyum sembari menikmati wine-nya. "Aku sudah terbiasa dengan orang-orang bermasalah di sekitarku."

Fye terlihat kembali bergairah kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu. "Termasuk Kurotan?"

Yuuko menaruh gelas tingginya di meja lalu menyilangkan kakinya. "Kalau Kurogane itu, apapun yang ada dunia ini merupakan masalah baginya."

"Dia orang yang sangat unik sekali," Fye kembali menunjukkan wajah cerianya.

Yuuko juga ikut tertawa anggun. "Aku sudah menduga kau tertarik padanya."

Dan keduanya tertawa-tawa sambil membicarakan pemilik apartemen yang belum kunjung datang itu.

.:oOo:.

Kurogane hendak menyorot mobilnya dengan remote saat ia merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ia menoleh dan melihat Fei Wong Reed sudah berdiri di sebelahnya.

"Keberatan jika naik bersama kami?" tanyanya.

Kurogane melihat pengawal-pengawal dengan setelan hitam di belakang pria paruh baya itu. Ia sebenarnya enggan sekali bersama lebih lama dengan orang-orang asing ini. Namun menolak ajakan itu agaknya juga bukan ide baik, jadi Kurogane memilih mengangguk.

"Himura!" panggil Kurogane pada Rikuou yang tengah membantu Sheishirou mengangkat pot tanaman besar. Pemuda berbadan bebal itu menoleh. "Aku titip mobil ini di garasi toko obat, besok akan kuambil. Kau bisa kemudikan?"

"Osh!" jawab Rikuou singkat dan pelan. Ia mendatangi sang pemilik kedai untuk menerima kunci mobil.

"Sakurazuka, aku pulang dulu," lanjut Kurogane pada Seishirou.

Seishirou mengangguk. "Hati-hati."

Kurogane kemudian berjalan menyusul Fei Wong Reed menuju mobil limousine-nya. Ia dipersilakan untuk masuk terlebih dahulu kemudian disusul pria paruh baya itu dan gadis berambut pirang. Tak lama kemudian mesin dinyalakan dan mobil mewah itu meninggalkan lokal kedai Kurogane.

Hening selama perjalanan. Kurogane masih sibuk menenangkan hatinya yang tak henti dilanda was-was. Padahal bukan ini yang diharapkannya. Harusnya ia senang jika ada orang yang mengenali Fye. Maka pemuda pirang itu bisa segera angkat kaki dari apartemennya, meninggalkan dirinya dan Kurogane bisa kembali pada hidup tenangnya yang saat ini terusik oleh pria pirang itu.

Tapi kenyataannya berbeda sekarang. Masalahnya Kurogane merasa bahwa pria paruh baya yang duduk di sebelahnya ini memiliki aura yang sedikit mencurigakan. Ia terlalu serius untuk menjadi paman seorang alien super ceria macam Fye—begitulah Fye di mata Kurogane.

"Boleh saya tahu kapan kalian bertemu?" Sang pria paruh baya membuka suara di tengah keheningan tadi.

Kurogane terlihat mengingat. "Mungkin sekitar dua setengah bulan yang lalu."

"Dimana kalian bertemu?"

"Dia datang ke kedai saya pada suatu malam," jawab Kurogane.

"Dia…benar-benar tidak ingat apapun?"

Kurogane menaikkan sedikit alisnya tak kentara sebelum menjawab. "Kira-kira seperti itu."

Fei Wong Reed mengangguk dan kembali menatap jalan raya melalui jendela kaca di sebelahnya. Kurogane masih menatap sisi wajah pria paruh baya itu. Rasa curiganya semakin besar.

.:oOo:.

"Aku akan pulang kalau sampai jam empat dia belum kembali," Yuuko melirik arloji di tangan kirinya.

"Gomen. Harusnya Kurotan bisa pulang lebih cepat," kata Fye sambil tersenyum tak enak.

Yuuko mengibaskan tangannya. "Ini bukan salahmu. Justru aku yang minta maaf sudah menghabiskan persediaan wine kalian."

Fye mengikuti arah pandangan Yuuko pada dua botol wine kosong di atas meja. Kemudian pria berambut pirang itu tertawa singkat. "Yahh, seperti kata Yuuko-san tadi, Kurotan jarang sekali minum. Lidah dan penciumannya adalah aset berharga yang harus dia jaga."

Yuuko mengangguk-angguk. "Kalau tidak salah kemarin ada kenalanku yang meminta alamat apartemen ini. Dia bilang ingin menawarkan sekolah barista pada Kurogane."

"Eh?" Fye tertegun.

"Iya. Seperti yang kau bilang tadi. Kurogane sangat berbakat dan memiliki aset luar biasa, sangat disayangkan kalau tidak terasah dengan baik."

Fye diam mendengarkan.

"Mungkin suratnya belum sampai. Harusnya dititipkan saja padaku ya?!"

Fye masih menatap diam Yuuko yang sudah selesai bicara, namun kemudian ia tersenyum. "Wahh, Kurogane tidak boleh melewatkan kesempatan ini."

.:oOo:.

Kurogane memimpin rombongan melewati lorong-lorong yang menuju ke apartemennya. Tanpa komunikasi mereka melewati pintu demi pintu. Sungguh dia sangat risih dengan begitu banyak derap langkah yang mengikutinya. Fei Wong Reed mengajak keempat pengawalnya untuk ikut bersamanya masuk. Keempatnya berbaris rapi di belakang pria paruh baya itu dan gadis berambut pirang.

Bukan untuk menyeret pria aneh itu pulang bersama mereka, 'kan?!, tanya Kurogane dalam hati.

Kurogane kemudian mengernyit sebentar. Entah bagaimana bisa dia begitu yakin bahwa orang-orang di belakangnya ini adalah orang-orang yang benar-benar dari masa lalu Fye. Mungkin karena mimpi yang pria pirang itu ceritakan malam itu, tentang Yuuy dan Fye. Seharusnya tadi Kurogane menanyakan perihal ini pada rombongan di belakangnya itu sebelum ia memutuskan untuk mengijinkan mereka menemui Fye di apartemennya. Mendadak ia merasa baru saja melakukan sebuah kecerobohan. Dan perasaan Kurogane tidak kunjung membaik, malah cenderung semakin bertambah parah.

.:oOo:.

Yuuko menuliskan nomor telepon genggamnya pada secarik kertas kemudian diserahkan pada Fye. Pria pirang itu menerimanya kemudian mengamati tulisan Yuuko pada kertas itu sebentar.

"Katakan padanya untuk menghubungiku di nomor itu saja," pesan Yuuko sambil mengenakan tasnya.

Fye mengangguk. "Hontou ni gomenasai. Harusnya kalian bisa bertemu."

Yuuko tersenyum cantik. "Harus berapa kali kubilang, tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu."

Fye ikut tersenyum. "Terimakasih atas kunjungan dan waktunya untuk mengobrol."

"Kau ternyata sama uniknya dengan pemilik apartemen ini. Bukankah harusnya aku yang mengatakan hal itu?"

Fye tetap memamerkan senyumnya.

"Baiklah, aku pulang dulu."

"Ne! Akan kuantar sampai ke depan," Fye kemudian mengikuti langkah Yuuko yang sudah terlebih dahulu menuju pintu depan.

.:oOo:.

Kurogane berhenti di depan pintu apartemennya. Ia membalikkan badan ke arah rombongan di belakangnya.

"Ini apartemen saya," katanya yang dibalas anggukan dari Fei Wong Reed.

Kurogane mengeluarkan master key dari dalam saku celananya. Ia memasukkan kunci itu pada lubang di pintu lalu memutarnya.

.:oOo:.

Fye dan Yuuko menghentikan saat terdengar bunyi dari arah pintu. Seketika Fye tersenyum.

"Kurasa itu Kuromyuu," katanya.

"Ya ampun! Giliran aku mau pulang, sekarang dia datang," Yuuko menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang.

Keduanya menunggu sampai pintu terbuka.

.:oOo:.

Kurogane memutar knop hingga pintu terbuka. Dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah dua orang yang menyambutnya di depan pintu. Yang satu adalah seorang pria tersenyum dengan sangat ceria, yang satu lagi seorang wanita dengan muka masam.

"Kau tahu berapa lama aku menunggumu di sini?" tanya wanita yang bermuka masam, Yuuko.

"Aku tidak memintamu datang jam sekian," balas Kurogane dingin.

Yuuko menunjuk muka Kurogane. "Begitukah caramu minta maaf pada orang yang sudah menunggumu selama tiga jam lebih."

"Aku tidak memintamu melakukannya," Kurogane masuk ke dalam apartemen kemudian menoleh ada rombongan yang sejenak ia lupakan. "Mari silakan masuk."

"Wah, Kuropipi membawa tamu ya?!" tanya si pria dengan nada kelewat bersemangat, Fye.

Kurogane hanya memberikan tatapan membunuhnya pada pria itu, sementara yang bersangkutan hanya tertawa-tawa melihat reaksi yang diberikan Kurogane.

Kemudian rombongan itu memasuki apartemen Kurogane. Membuat Fye, yang masih sibuk dengan tawanya, seketika membatu di tempatnya berdiri. Ia tertegun melihat rombongan yang baru datang itu. Begitupun sebaliknya, Fei Wong Reed sepertinya terkejut melihat keberadaan Fye di situ. Ekspresi wajahnya berubah tak jelas. Keduanya saling bertatapan cukup lama tanpa kata.

Kurogane memandang keduanya bergantian. Ia berharap tidak akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi setelah ini.

===TBC===


Akhirnya selesai juga ini part delapannya! /elap ingus/ Terimakasih sekali kepada semuanya yang masih sudi membaca cerita ini. Sekalian menjawab pertanyaan Yuuppe di kolom review, saya menginformasikan kalau saya masih gak tahu mau secara pasti akan tamat di chapter berapa. Hehehe~ tapi mungkin gak akan lama lagi. Sekitar sepuluh chappie lagi lahh! /ditoyor/ Hehe~ becanda.

Terimakasih sudah membaca. Saran dan kritik ditunggu, seperti biasa :D