Note : (Masih) typo sana-sini, bahasa kacau, OOC, membingungkan dan sebagainya.
Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP
Coffee Bar Story (c) Ken
Kurogane bersedekap di tempatnya berdiri. Saat ini ia berada di luar apartemennya bersama Yuuko, memberikan waktu kepada tamu-tamunya untuk berbicara pribadi dengan Fai. Yuuko sendiri tidak keberatan saat pria besar itu mengajaknya keluar. Di hadapan Kurogane, wanita itu berdiri sambil merokok dan menjelaskan alasan kedatangannya kemari—ke apartemen Kurogane.
Namun kendati saat ini Yuuko sedang bicara dengannya, nyatanya Kurogane tidak memberikan perhatian penuh pada wanita itu. Kita tahu kenapa, tentunya pikiran tuan besar itu sudah lari pada pria berambut pirang yang ada di dalam apartemennya, yang saat ini mungkin dikelilingi oleh orang asing—tentunya bagi Fai yang saat ini kehilangan ingatan, tamu-tamu yang dibawa Kurogane adalah orang asing—dan menginterogasi pria berambut pirang itu dengan berbagai macam pertanyaan. Kurogane berharap Fai bisa menghadapi mereka tanpa membuat sakit kepalanya menyerang kembali. Atau mungkin seharusnya Kurogane tetap tinggal di dalam dan ikut duduk bersama mereka, menemani Fai yang barang kali butuh sedikit bantuan.
Kemudian Kurogane mengernyit. Sejak kapan ia punya ide menggunakan dirinya sendiri untuk membantu si pirang itu dalam masalahnya? Rasanya dulu ia tidak pernah mengijinkan hal-hal yang menyangkut kehidupan pria itu mengusik benteng ketentraman yang telah lama Kurogane bangun. Kenapa sekarang ia mau repot begini?
"Suwa, kurasa kau tidak mendengarkanku," Suara dingin yang datang dari bibir Yuuko menyadarkan Kurogane. Pria besar itu menatap wanita yang berdiri anggun sambil berkacak pinggang dengan rokok terselip di salah satu sela jari tangannya. "Aku sudah menunggumu tiga jam lebih, tidak kau beri kesempatan berbicara dengan duduk santai di dalam, dan sekarang kau mengacuhkanku?"
"Maaf, aku…" Kurogane menghela napas dan mengusap dahinya dengan jari-jari tangan kanannya.
Yuuko menyelidiki wajah Kurogane. "Harusnya kau tidak usah memaksaku untuk mengatakan kepentingan apa yang membawaku kemari sekarang jika jiwamu sedang tidak bersamamu."
Kurogane menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang seolah berkata, apa maksudmu?
"Kau harusnya di dalam, dengan teman sekamarmu," lanjut Yuuko sambil menyesap rokoknya.
Wajah Kurogane berubah, campuran antara jengah dan marah.
"Oh, ayolah! Berhenti bersikap seperti itu," kata Yuuko yang kini melipat tangan melihat ekspresi pria besar di hadapannya. "Kau mungkin berpikir bahwa semua orang bisa kau kelabui dengan wajah datarmu itu, tapi aku tidak termasuk dalam 'semua orang' yang kau pikir itu."
Kurogane menatap diam wanita berambut hitam legam itu.
"Kau mengkhawatirkannya, bisa kubaca itu dari wajahmu," kata Yuuko lagi dengan nada dalam.
.:xXx:.
Mata Fai tidak lepas dari rombongan yang datang bersama Kurogane tadi. Mereka sudah duduk melingkari meja sejak hampir setengah jam yang lalu dan belum berbicara banyak, hanya perkenalan di awal saja. Fai sudah tahu maksud kedatangan mereka ke sini. Selain Kurogane yang berkata bahwa mereka ingin bertemu dengannya, kehadiran Chii di antara mereka membuat Fai paham bahwa mereka adalah orang-orang yang mencari dan menganggap dirinya adalah Yuui.
Fai kemudian menatap pria paruh baya yang menarik perhatiannya dari pertama ia melihatnya di ambang pintu tadi. Ini untuk pertama kalinya Fai merasa pernah melihat seseorang di suatu waktu meskipun dia amnesia. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin orang-orang ini ada hubungan dengan masa lalunya. Fai dapat melihat pria paruh baya itu sendiri—Fei Wong Reed—juga intens memperhatikan Fai. Bola mata abu-abu gelapnya penuh dengan selidik.
Fai kemudian mencoba mengembangkan senyumnya. "Saya sangat berterimakasih kalian mau datang kemari hanya untuk mencari saya."
Chii sedikit memajukan posisi duduknya. "Kami tadi datang ke kedai untuk mencari Anda, tapi Kurogane-san berkata Anda sedang tidak enak badan."
Fai menoleh ke arah Chii, masih tersenyum. "Ah, iya. Sebenarnya saya sudah lebih baik, tapi pria besar di luar sana masih belum mengijinkanku bekerja."
"Kau bekerja untuknya?" Fei Wong menyahut.
Fai melirik pria paruh baya itu, senyumnya sedikit memudar. "Saya membantunya mengurus kedai sebagai imbalan karena diijinkan tinggal di sini."
Fei Wong terdiam lagi.
"Jadi," Fai kembali menghadap Chii. "apa Chii-san sudah menemukan sesuatu untuk membuktikan bahwa saya adalah Yuui-san?"
Chii menunduk lalu menggeleng. "Sebelumnya saya minta maaf. Saya masuk ke ruangan Anda tanpa ijin dan membuat berantakan beberapa berkas-berkas penting demi menemukan foto Anda."
Fai tertawa singkat. "Saya belum tentu Yuui-san yang kalian cari, kenapa Chii-san harus minta maaf?"
Chii menatap Fai dengan sedih lagi.
Fai menghela napas dan mengeratkan kepalan kedua tangannya sebelum berujar, "Saya akan menanyakan sesuatu pada kalian."
"Silakan," jawab Fei Wong Reed.
"Jika saya memang Yuui, apakah ada seseorang bernama 'Fai' yang kalian kenal?" Fai menatap serius seluruh tamu di hadapannya.
Air muka Fei Wong berubah.
.:xXx:.
"Kau pernah mengenal Fai sebelumnya?" tanya Yuuko.
Kurogane menggeleng sambil menatap lantai. "Dia datang ke kedai pada suatu malam dan memaksaku membuatkannya kopi saat jam tutup. Orang itu sejak awal sudah membuat kepalaku repot."
"Bagaimana kau mengajaknya ke sini?"
Kurogane mendongak menatap wanita itu. "Dia tidak cerita padamu?"
"Mungkin aku memang selalu ingin tahu, tapi aku tidak suka mengorek informasi tentang seseorang yang baru saja kukenal."
Kurogane mendesah sambil menyandarkan badannya pada dinding. "Dia pingsan setelah meminum beberapa jenis kopi."
"Kopimu…"
"Bukan karena kopiku!" potong Kurogane. "Kurasa dia melarikan diri dari rumah sakit dan kelelahan. Sialnya, dia datang padaku."
Yuuko tertawa anggun. "Kalian sudah ditakdirkan."
Kurogane mendengus. "Kebetulan."
"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan," Yuuko menyesap rokoknya yang kian memendek. "Semuanya sudah dihubungkan oleh takdir."
"Persetan apa katamu," Kurogane mendelik.
Yuuko menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pria besar di hadapannya yang tidak pernah santai menghadapi sesuatu.
"Tapi rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat," kata Yuuko lagi.
"Siapa?" tanya Kurogane.
"Siapa yang sedang kita bicarakan dari tadi?" tanya Yuuko balik.
Wajah Kurogane berubah serius. "Benarkah?"
"Aku sudah mengatakannya pada Fai, dan dia sama terkejutnya seperti dirimu."
"Kapan kau bertemu dengannya?"
Yuuko menyesap rokoknya lagi. "Aku lupa."
Kurogane menghela napas kecewa sambil menatap kesal ke arah Yuuko yang memandang ke arah langit-langit dan terlihat berusaha mengingat-ingat.
"Tapi kalian berdua…kenapa begitu ingin tahu?" tanya Yuuko.
"Dia tidak memberitahumu juga kalau dia hilang ingatan?"
"Aaaah~" Yuuko menangkupkan kedua tangannya. "Pantas saja dia tidak ingat nama lengkapnya."
Kurogane mengangguk sekali sambil kembali bersedekap.
"Jangan bilang kalau orang-orang yang kau bawa tadi adalah keluarganya," kata Yuuko lagi.
"Entahlah," Nada Kurogane mengambang. "Kurasa aku mengambil keputusan yang gegabah dengan membawa mereka ke sini sekarang."
.:xXx:.
Fei Wong masih belum memberikan jawaban atas pertanyaan yang Fai ajukan tentang hubungan Yuui dan "Fai". Ia memilih diam dan menatap Fai yang juga menatapnya dengan bola mata biru lautnya yang menuntut. Pria paruh baya itu sendiri terlihat mengatur ekspresinya setenang mungkin.
"Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya," kata Fei Wong akhirnya.
"Saya terbangun di rumah sakit hari itu dan tidak mengingat apapun, hanya yakin bahwa nama saya 'Fai'. Selebihnya tidak ada yang teringat."
Fei Wong Reed diam-diam menelan ludah.
"Belum lama ini saya juga bermimpi tentang seseorang bernama 'Fai'," lanjut Fai lagi. "Jika kalian mengenal saya sebagai Yuui, seharusnya kalian juga mengenal 'Fai' kan?!"
"Kau—maksudku…Yuui," Fei Wong sedikit terbata. "tidak pernah bercerita padaku tentang 'Fai'."
Fai kembali menatap mata Fei Wong, merasa tak puas dengan jawaban yang dilontarkan pria paruh baya itu.
.:xXx:.
"Ngomong-ngomong undangannya sudah sampai padamu?" tanya Yuuko mendadak saat obrolan tentang Fai terhenti karena Kurogane yang kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kurogane teringat kertas di saku kemejanya. "Sudah."
"Jawabanmu?"
"Aku belum bisa memutuskan sekarang," kata Kurogane. "Aku butuh banyak waktu untuk berpikir. Tidak hanya satu-dua hal penting yang harus kutinggalkan jika aku menyanggupinya."
Yuuko mengangguk. "Tapi perlu kau ingat juga bahwa kesempatan ini langka sekali. Belum tentu kau akan mendapatkan tawaran yang sama untuk kedua kali. Kalaupun nanti kau memutuskan untuk menolaknya, pastikan kau sudah memikirkannya dengan baik."
"Aku tahu," jawab Kurogane.
.:xXx:.
"Benarkah sekalipun saya tidak pernah mengatakan apapun tentang 'Fai' sebelumnya?" Fai kembali bertanya sambil menatap Fei Wong dengan serius.
Pria paruh baya itu hanya menjawab dengan satu anggukan.
Sejenak ruang tamu kembali hening. Fai merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fei Wong Reed. Entah disembunyikan darinya atau disembunyikan dari Chii dan orang-orang berbaju hitam yang sejak tadi berdiri diam di sekitar mereka. Ia bisa melihat bola mata Fei Wong yang tak fokus saat berbicara dengan dirinya. Selain itu, ia yakin jika mimpi tentang seseorang bernama 'Fai' yang memanggilnya Yuui itu bukan sama sekali tidak mengandung arti.
"Tapi kau bisa pulang," kata Fei Wong. "Dan kita bisa mencari tahu tentang 'Fai' yang kau maksud jika kau benar-benar penasaran. Siapa tahu kau punya sesuatu yang berhubungan dengannya di rumah"
Chii kemudian mengangguk setuju. "Benar! Pasti ada banyak barang yang dapat membantu memulihkan ingatan Anda."
Fai menatap Fei Wong dan Chii bergantian.
"Tapi tidak apa-apa kalau kau belum bisa ikut dengan kami sekarang. Kau bisa datang ke rumah kapanpun kau siap," Fei Wong mencoba tersenyum.
Fai masih belum memberi jawaban dan hanya menunduk. Kekhawatirannya datang lagi. Bagaimanakah sebenarnya kehidupannya sebelumnya? Kenyataan-kenyataan seperti apakah yang harus ia terima tentang dirinya di masa lalu? Dan di atas itu semua, adakah orang-orang seperti Kurogane dan para pegawai kedai yang mampu membuatnya nyaman di tengah kritis identitas yang ia alami seperti sekarang?
Dan kelebat pria besar pemilik apartemen ini pun memenuhi matanya.
.:xXx:.
"Urusanku sudah selesai," Yuuko melihat jam tangannya. "Aku sudah menyampaikan semuanya, bahkan mengobrol banyak hal denganmu di luar hal yang biasa kutangani."
"Kau pulang?" tanya Kurogane.
Yuuko mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kau mau aku tetap di sini?"
"Bukan begitu, hanya…" Kurogane menggaruk tangkuknya. "Aku hanya bingung harus seperti apa menghadapinya nanti."
"Siapa?"
"Pria amnesia itu, siapa lagi?" balas Kurogane, terlihat jengah.
Yuuko terlihat berpikir. Tapi tak lama sampai senyum usil terbit di bibirnya. "Kenapa? Kau butuh bantuanku untuk mendekatinya? Tidak biasanya kau bersikap kikuk begini."
Kurogane mendelik lagi. Sungguh dia tidak suka komentar-komentar macam ini yang dilontarkan semua orang menyangkut dirinya dan pria berambut pirang yang ada di dalam sana. Sepertinya—Kurogane menyimpulkan—semua orang menganggap bahwa Kurogane memang memiliki hubungan terselubung dengan pria pirang itu.
"Hadapi saja secara biasa. Kalaupun kalian terpaksa membicarakan tentang masalahnya, bicarakan secara baik-baik. Dia butuh pendengar," kata Yuuko.
"Aku suka saranmu. Hanya saja entah kenapa nada bicaramu membuatku sebal," Kurogane menatap wanita berambut hitam yang tengah membuang asap rokoknya itu.
Yuuko tertawa menggoda. "Dia menyukaimu. Jadi kenapa kau tidak berusaha menyukainya juga?"
Kurogane mengangkat sebelah alisnya. Merasa ambigu dengan deretan kalimat yang dilontarkan wanita di hadapannya.
"Dan lagi, aku merasa kalian mirip," tambah Yuuko.
.:xXx:.
Fei Wong Reed berdiri dari duduknya, disusul oleh Chii. Para pengawal dengan setelan serba hitam pun bersiap untuk mengawal Fei Wong.
"Aku sudah memberikan kartu namaku pada Kurogane-san," Fei Wong mengancingkan jasnya. "Aku memintanya untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu padamu juga sebaliknya jika kau ingin menghubungi kami untuk pulang."
Fai hanya mengangguk pasif. Padahal sejak awal ia memutuskan untuk mengenal Kurogane, ia sudah membiasakan diri untuk berpikir bahwa dia adalah orang asing dalam kehidupan Kurogane yang suatu saat harus pergi jika ia sudah menemukan siapa keluarga dan dirinya sebenarnya. Namun kenyataannya sekarang, saat ia sudah ditemukan oleh orang-orang yang begitu yakin bahwa ia adalah anggota keluarga mereka, Fai justru merasa ada yang aneh pada dirinya saat ia mendengar kata pulang. Harus ia akui, pria besar pemilik apartemen yang luar biasa dingin itu telah membuatnya nyaman, entah bagaimana bisa.
.:xXx:.
Yuuko kembali tertawa menggoda saat Kurogane kembali memberinya kalimat panjang penuh nada kekesalan setiap kali wanita itu mengungkapkan pemikirannya tentang hubungan di antara pria besar itu dan Fai. Bagi Yuuko, adalah mustahil seorang Kurogane bisa menerima dan menahan diri untuk tidak membentak seseorang dengan sifat yang begitu berkebalikan dengannya. Tentu—menurut Yuuko—Kurogane memiliki perasaan tersendiri untuk Fai meski belum bisa mengutarakan dan menyebutnya seperti apa.
"Berhenti tertawa kubilang!" Kurogane menggeram dengan rona merah yang sedikit terbit di sekitar pipi dan telinganya. "Untuk apa aku menyukai pria amnesia itu? Aku masih normal!"
Yuuko kembali memasang wajah usil. "Aku tidak bilang kau harus mengencaninya atau apa, lagipula definisi suka yang kukatakan berbeda dengan apa yang kau pikirkan."
Kurogane mendengus dan terlihat seperti mengontrol ekspresi mukanya yang sebelumnya terlihat jengah.
"Lagipula, hati-hati dengan ucapanmu. Jangan terlalu berlebihan berkata kau tidak menyukainya, salah-salah…"
Belum sampai Yuuko menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemen Kurogane terbuka. Dari dalam muncul Fai yang di belakangnya berdiri Fei Wong Reed, Chii, dan para pengawalnya. Mata Fai dan Kurogane bertemu sejenak.
"Terimakasih atas bantuan Anda, Kurogane-san," Fei Wong memecah hening. "Mungkin setelah ini saya masih akan merepotkan Anda lagi."
Kurogane mengalihkan pandangannya pada pria yang rambutnya mulai tertutup uban itu. Ia mengangguk sekali. "Senang dapat membantu Anda."
Kedua pria itu berjabat tangan di hadapan Fai.
"Kami permisi dulu," Kata Fei Wong Reed.
Kembali Kurogane mengangguk dan sedikit membungkuk pada Fei Wong yang dibalas dengan perlakuan yang sama oleh yang bersangkutan. Pria paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Fai tanpa berkata-kata. Ia hanya menepuk-nepuk pundak Fai sebelum memimpin rombongan untuk meninggalkan apartemen Kurogane.
Sang pemilik apartemen menatap punggung tamu-tamunya yang kian menjauh dan menghilang saat berbelok di sudut lorong. Kemudian ia berpaling pada Fai yang masih menunduk menatap lantai tanpa cengiran atau kalimat ceria khas dirinya seperti biasa.
"Terjadi sesuatu?" tanyanya.
Fai menegakkan kepala dan memandang Kurogane. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Tidak, semua baik-baik saja. Dan aku tidak sakit kepala."
Fai kembali menunduk. Membuat Kurogane dan Yuuko saling berpandangan tak paham.
"Baik! Aku benar-benar harus pulang sekarang," kata wanita itu sambil tersenyum menggoda pada dua pria di hadapannya. "Kurasa kalian butuh waktu pribadi."
"Kau!" Kurogane mengancam yang dibalas dengan tawa jahil Yuuko dan Fai yang senyumnya sedikit lebih lebar. "Enyah kau, Penyihir!"
Yuuko kembali tertawa anggun tapi menggoda. "Sampai ketemu lain waktu ya?!"
"Hati-hati di jalan," kata Fai dan Kurogane meliriknya diam-diam.
Yuuko mengangguk pada Fai sebelum menoleh pada Kurogane. "Kau, Kurogane! Pikirkan matang-matang tentang tawaran sekolah barista itu juga tentang pembicaraan terakhir kita tadi."
"Terakhir?" Kurogane menaikkan sebelah alisnya dan mengingat topik apa saja yang sudah ia bicarakan dengan Yuuko sampai akhirnya ia melotot saat mengetahui apa maksud Yuuko. Dan sebelum ia bisa berkata-kata, Yuuko sudah melarikan diri sambil tertawa puas yang menggema di sepanjang lorong.
"Yuuko-san orang yang menyenangkan," Fai tersenyum lagi dan masih menatap kepergian wanita itu.
Kurogane hanya mendengus sambil berkacak pinggang. Kemudian kembali ditatapnya Fai dalam diam, membuat si pirang menoleh dan menatap mata ruby menyalanya.
"Ada apa?" tanya si pirang. "Ada yang salah dengan wajahku?"
Kurogane masih menatap Fai dengan ekspresi serius.
"Wah! Kurotan mencemaskanku ya?!" Fai mencubit kedua pipi Kurogane. "Aku kan sudah bilang aku tidak apa-apa."
Kurogane tidak mengubah ekspresinya. Ia hanya diam sampai Fai melepaskan kedua pipinya dan menatapnya masih dengan senyumnya—yang kelewat ceria seperti biasa. Kurogane mengangkat tangannya lalu mengucek rambut pirang Fai sebelum berjalan masuk ke dalam apartemen. Membiarkan Fai terdiam di depan pintu, menikmati sensasi setelah tangan besar Kurogane menyentuh puncak kepalanya. Rasanya nyaman, namun entah mengapa menyakitkan di saat yang sama.
.:xXx:.
Kurogane menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Ia baru selesai mandi dan kini berjalan ke arah dapur tanpa suara. Sengaja, ingin mengawasi Fai yang tengah memasak tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Oke, Kurogane memang harus mengakui bahwa dia khawatir. Pria pirang itu memang sepertinya baik-baik saja, dalam artian dia tidak pusing atau merasakan apapun yang menyangkut kesehatannya. Tapi Kurogane yakin pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
"Kau masak apa lagi?" Akhirnya Kurogane bersuara. Ia bisa melihat Fai sedikit terlonjak dan membalikkan badannya dengan cepat.
"Kuropipi, kau mengagetkanku!" Fai menoleh sekilas dan Kurogane bisa melihat pria pirang itu memajukan bibirnya.
Kurogane tidak menjawab. Ia menarik salah satu kursi yang sudah diletakkan piring di hadapannya dan duduk di sana, mengawasi Fai yang mengenakan apron dan sibuk dengan lembaran-lembaran rumput laut serta nasi.
"Aku buatkan sushi saja, oke?" Fai menggulung nasi, lauk dan sayur dalam lembaran rumput laut dengan tikar sushi. "Aku sedang malas untuk membuatkanmu macam-macam."
Kurogane tidak menjawab. Ia mengambil gelas di ujung meja dan menuang air putih ke dalamnya untuk diminum habis dalam sekejap.
"Jangan mengacuhkanku, Kuroburo," kata Fai sambil memotong sushinya.
"Kau bilang kau patissier, tapi tidak sekalipun kau buatkan aku menu mewah," Kurogane kembali menggosok rambutnya.
Fai tertawa kecil dan membawa irisan-irisan sushi di atas piring besar ke meja. "Kau lupa aku amnesia?"
Kurogane mengalungkan handuk di lehernya sebelum meraih sumpit kayu dan memisahkannya untuk menjepit satu iris sushi. "Jadi kau hanya ingat nama dan profesimu tapi kau lupa resep-resep yang sudah kau buat sebelumnya?"
"Jangan salahkan aku, kepalaku yang menolak mengingatnya," Fai masih tertawa dan menyusul Kurogane menikmati sushi buatannya—karena tidak bisa menggunakan sumpit, ia menggunakan garpu untuk memakannya. "Bagaimana rasanya?"
Kurogane mengunyah sebentar dan berujar, "Masih kurang rasa. Dimana bubuk cabeku?"
Fai menggoyangkan garpunya. "Tidak ada bubuk cabe lagi. Indra perasamu harus dijaga dengan baik dari rasa-rasa yang terlalu kuat kalau kau mau mengambil sekolah barista itu."
Kurogane menghentikan tangannya yang sedang menjepit irisan sushi keduanya.
"Yuuko-san menunggumu terlalu lama, akhirnya kami mengobrol banyak hal tentangmu. Termasuk tawaran sekolah barista itu," kata Fai sambil mengunyah saat ia mengetahui gelagat Kurogane.
Kurogane belum menjawab. Tidak menyangka dia harus membicarakan hal ini sebegini cepat dengan pria pirang di hadapannya itu. Terlebih lagi, justru pria itulah yang memulai topik pembicaraan itu.
"Jawabanmu bagaimana?" Fai menatap Kurogane.
Kurogane menghela napas dan akhirnya memasukkan irisan sushi ke mulutnya. "Aku belum memutuskannya."
Fai tidak menjawab, merasa Kurogane belum selesai hanya dengan kalimat barusan. Jadi ia memilih menunggu pria besar itu menjelaskan lebih jauh lagi
Kurogane meletakkan sumpitnya di piring dan wajahnya terlihat serius. "Aku mencemaskan kedai."
Fai ingin sekali mencandai pria di depannya yang sangat jarang sekali mau terbuka padanya seperti ini. Namun melihat ekspresi Kurogane, rasanya bercanda bukan hal yang tepat untuk dilakukan sekarang. Mengingat juga apa yang dibicarakan Kurogane bukan hal sepele.
"Ada anak-anak di sana," kata Fai hati-hati.
"Aku juga sudah memikirkannya, tapi tetap saja aku khawatir," aku Kurogane. "Kedai itu adalah hal terakhir yang kupunya dari orangtuaku. Aku tidak bisa mengentengkannya begitu saja meski aku sudah mempercayai anak-anak itu sama seperti keluargaku sendiri."
Fai mengetuk-ketukkan garpunya ke piring, menciptakan denting halus yang mengisi ruang makan.
"Tapi di sisi lain, bohong jika kukatakan aku tidak mengharapkan tawaran semacam ini," Kurogane mengakhiri kalimatnya dengan menyambar cepat satu sushi dan memakannya.
Fai tersenyum. "Orangtuamu juga ingin agar kau bisa menjadi barista hebat, ingat itu."
Kurogane mendongak dan melihat untuk pertama kalinya Fai tersenyum dengan cara yang berbeda. Senyum yang terlihat lebih tulus ketimbang biasanya. Ia mengontrol dirinya saat sekejap pria di hadapannya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Lagi.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Kurogane.
Fai menghentikan kunyahannya dan menatap Kurogane sesaat. Ia merasa ada sedikit nada kekhawatiran pada pertanyaan Kurogane. Benarkah pria besar di hadapannya itu mengkhawatirkannya? Apakah dirinya merupakan salah satu faktor mengapa Kurogane tidak segera mengiyakan tawaran sekolah barista itu? Ataukah pertanyaan itu salah satu bentuk pengusiran secara halus agar Fai meninggalkan apartemen Kurogane sehingga pria besar itu tidak bertanggung jawab atas dirinya lagi?
"Aku bisa pulang," kata Fai akhirnya.
Kurogane menaikkan sebelah alisnya.
"Orang-orang itu menemukanku dan menawariku pulang," ujar Fai lagi. "Tentu ada banyak hal yang menjelaskan siapa diriku kalau aku pulang."
"Kau yakin?" tanya Kurogane.
"Hn~" Fye menelan sushinya. "Sebenarnya tidak."
Kurogane memperhatikan pria pirang di hadapannya.
"Hanya saja," lanjut Fai. "aku harus kembali pada duniaku kan?!"
Kurogane masih mendengarkan.
"Juga," Vakum. Fai menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Berpura-pura memisahkan sayur dari dalam gulungan sushinya. "Aku tidak bisa merepotkanmu terus-terusan, Kuropii."
Kali ini Kurogane bereaksi. "Aku tidak…"
"Kalau aku pergi, kau juga akan lebih mudah memikirkan tawaran sekolah barista itu," potong Fai yang kembali mendongak menatap Kurogane sambil tersenyum. Senyum palsunya lagi.
.:oOo:.
"Kau tidak memastikannya tewas saat kecelakaan itu?" tanya Fei Wong Reed di telepon. Nada suaranya terdengar marah. "Kau mengabaikan perintahku, hah?"
"Sebelum orang-orangku berhasil memastikannya, polisi lebih dulu datang dan membawanya ke rumah sakit," jawab seseorang dari ujung telepon yang lain.
"Sudah kukatakan untuk melakukannya sendiri, bukan menyerahkannya pada anak buahmu yang bodoh itu!" hardik Fei Wong Reed.
Terdengar helaan napas dari ujung lain telepon. "Berhentilah berteriak atau kau akan membuatku tuli, Paman."
"Sekali lagi kuperintahkan, lenyapkan dia! Juga siapapun yang mencoba menghalangi kita!" perintah Fei Wong Reed.
"Aku tahu," jawab orang itu lagi. "Biar aku yang mengurus kakak kembarku itu."
==== To Be Continue ===
Terkadang saya memang membutuhkan satu sentakan untuk menyadarkan bahwa saya punya satu proyek berdebu setelah terlalu lama ditinggalkan ini /dibejek-bejek/. Terimakasih sekali untuk Yuu-san yang kapan hari mention dan membuat rasa bersalah saya pada fic ini kembali hahaha /kembali dibejek-bejek/
Sudah masuk chapter sembilan, dan semakin aneh isinya hehehe~
Terima kasih untuk semua review yang sudah masuk. Hontou ni gomen karena vakum berkepanjangan dan membuat fic ini terbengkalai.
Masih berkenankah untuk review? /gelar tikar/
