Note : (Masih dan akan tetap) typo sana-sini, bahasa dan tata tulis kacau, OOC, membingungkan dan sebagainya.
Disclaimer : Tsubasa Chronicle (c) CLAMP
Coffee Bar Story (c) Ken
Kurogane menggeliat begitu ia bangun dengan badan kaku pagi itu akibat tidur di sofa. Ia tidur dengan posisi tak nyaman mengingat badannya terlalu tinggi untuk muat di sofa yang paling panjang di apartemennya sekalipun. Dan begitu kesadaran menguasainya sepenuhnya, Kurogane mendapati ada sesuatu yang membungkus badannya.
Selimut?
Kurogane mengingat. Semalam ia berniat belajar dengan kembali membaca buku-buku tentang kopi setelah makan malam sambil menunggu Fai membersihkan kamar. Ia hanya mangambil buku dan kacamata dari kamar, dia tidak ingat membawa selimut juga.
Kurogane juga menyadari bahwa ia tidak lagi mengenakan kacamata yang ia gunakan untuk membaca semalam. Ia menoleh ke meja di sebelahnya dan menemukan kacamata itu di sana, juga buku yang ia baca. Kemungkinan besar ia ketiduran dan ada orang lain yang melepas kacamatanya lalu menaruhnya serta buku yang Kurogane baca di meja, juga menyelimutinya.
Pria besar itu tidak perlu berpikir lama untuk mencari tahu siapa yang melakukan itu semuanya. Tidak ada orang lain di dalam apartemennya selain dirinya dan juga pria berambut pirang yang—mungkin—masih tertidur di dalam kamar. Sangat tidak mungkin kalau ada orang lain yang melakukannya alih-alih pria itu.
Kurogane duduk dari tidurnya, tanpa sengaja melihat meja makan dan dapur yang tata letaknya berhadapan dengan sofa tempatnya (ke)tidur(an) semalam. Membuat pria ini teringat pembicaraan makan malam dengan Fai beberapa hari yang lalu, tentang sekolah baristanya dan keinginan pria pirang itu untuk pulang. Setelah percakapan itu, Fai sama sekali belum mengungkit kembali tentang Fei Wong Reed dan apapun yang berhubungan dengan ingatannya. Sejujurnya Kurogane ingin menanyakannya, tapi karena merasa dia terlalu ingin tahu akhirnya niat itu sering dibatalkannya.
Di kedai pun mereka jarang mendapatkan waktu untuk bicara berdua. Sepertinya nyawa kedai itu terletak di tangan Fai. Tempat itu selalu penuh sesak setiap kali Fai ada di sana dan mendadak kehilangan pelanggan dengan jumlah tidak sedikit saat Fai ijin absen beberapa hari karena sakit kepalanya dulu. Ia, Fai, dan para pegawai bahkan hanya bisa mendapatkan sedikit jam istirahat karena pengunjung yang tidak hentinya mendatangi tempat itu. Dan begitu pulang ke apartemen, Fai akan segera mandi dan tidur. Entah karena benar-benar lelah atau karena ingin menghindari interogasi dari Kurogane.
Kurogane mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Wajah Fai saat pria itu mengatakan kalau dia akan pulang ke rumahnya terpatri lagi di matanya. Kenapa saat Fai mengatakan hal itu ada sesuatu semacam bom yang meledak di dalam dirinya? Bukankah selama ini ia berharap agar Fai lenyap dari hidupnya dan berhenti merusuhi hidupnya dengan hal-hal tidak jelas yang sangat kontras dengan pribadinya? Seharusnya Kurogane senang saat Fai mengatakan itu.
Namun nyatanya tidak begitu.
.:xXx:.
"Boleh aku minta nomor telepon Fei Wong-san?" tanya Fai saat ia dan Kurogane sarapan.
Kurogane mengangkat kepalanya dari kegiatan fokus makan sup daging buatan Fai. Ia menatap pria yang duduk di hadapannya sambil mengunyah daging di dalam mulutnya. Fai terlihat tak nyaman mendapat tatapan intimidasi itu. Terlihat dari bagaimana ia buru-buru menyendokkan kuah sup daging ke mulutnya.
"Untuk apa?" Kurogane balik bertanya.
Fai mengangkat bahu. "Aku hanya ingin menghubunginya."
Kurogane mengambil gelas airputih dan membantu daging yang baru ditelannya terdorong masuk ke lambung. "Benar hanya itu?"
Fai menghela napas. Pria besar yang semeja dengannya ini memang mulai bisa membaca gelagatnya. "Juga…bertanya apakah hari ini dia senggang. Aku ingin pulang sebentar."
Kurogane menatap Fai tanpa kedip. Topik itu tidak pernah tidak berhasil membuat bom waktu dalam kepalanya meletup, menghasilkan perasaan tak wajar yang tidak bisa ia namakan.
Pulang.
Pria pirang di hadapannya itu kini telah menemukan tempat yang ia sebut dengan pulang. Bagi Fai kini, pulang mungkin bukan lagi menuju apartemen Kurogane setelah mereka menghabiskan hari di kedai kopi. Harusnya sejak awal Kurogane paham bahwa apartemennya bukan rumah untuk Fai, tapi sekedar tempat singgah karena ia tidak tahu apapun tentang dirinya sendiri juga siapa keluarganya.
"Aku tidak tahu bagaimana hubunganku dengannya sebelum aku hilang ingatan," Fai mengelap mulunya dengan tisu, tidak tahu bahwa ia menyadarkan pria besar di hadapannya dari perang batin. "Tapi akan lebih baik kalau aku menghubunginya sebelum pulang. Aku tidak mau mengganggu pekerjaannya."
Kurogane menjauhkan mangkuk sup daging dari hadapannya, mendadak nafsu makannya hilang. "Kau benar-benar ingin pulang?" Kurogane memberikan penekanan pada kata terakhirnya.
Fai mengangguk ceria. "Keluargaku sudah menemukanku, tidak baik kalau aku tetap di sini. Selain itu jika aku pulang, kau bisa memikirkan tawaran sekolah barista itu dengan santai, Kuropyon."
Kurogane menaikkan sebelah alisnya, tidak paham kenapa pria pirang di hadapannya ini selalu berkata Kurogane akan bisa memikirkan tawaran sekolah baristanya jika dia pergi dari apartemen ini. Sejak kapan dia berwenang atas keputusan yang akan diambil Kurogane? Meski sebenarnya Kurogane pun menyadari bahwa bukan hanya masalah kedai yang ia pertimbangkan. Jadi benarkah bahwa ia memang mengkhawatirkan pria di hadapannya ini?
"Kenapa sarapanmu belum habis, Kurorin? Kau bisa terlambat ke kedai," kata Fai lagi sambil menunjuk makanan di hadapan Kurogane dengan sendoknya.
"Aku sudah kenyang," Kurogane menggeser kursi makannya kemudian berdiri.
"Ah, matte!" seru Fai saat Kurogane yang baru akan meninggalkan meja makan. "Tidak apa-apa kalau aku ijin hari ini?"
Kurogane memberikan tatapan berbahaya. "Kau pasti bercanda kalau kau berpikir aku memberikanmu ijin secara cuma-cuma."
"Oke, oke. Akan kuganti tanpa istirahat di lain hari."
Kurogane melirik Fai dengan mata merah ruby-nya. "Ngomong-ngomong kenapa kau masih saja bekerja di kedaiku meski keluargamu sudah menemukanmu?"
"Kau tidak suka aku bekerja di sana ya?" Fai pura-pura menangis.
Kurogane memasukkan tangannya ke saku celana panjangnya. "Dari apa yang kulihat, Fei Wong yang mengaku pamanmu itu semacam pelaku bisnis yang sukses. Bukan tidak mungkin kalau kau orang kaya raya."
Fai mengangguk. "Mungkin. Tapi aku belum berencana keluar dari kedaimu, Kurocchi."
Kurogane tidak menjawab sementara Fai masih memberikan tatapan kucingnya agar diijinkan tetap bekerja di kedai Kurogane. Kalau mengingat pendapatan yang Kurogane dapatkan setelah Fai ikut bekerja di kedainya, memang bukan ide buruk untuk tetap memperkerjakan pria pirang itu di sana. Diam-diam pria besar ini menghela napas dan kembali menghadap pada pria pirang yang masih berdiri di meja makan.
"Kau sudah hapal rute bis di sekitar sini?" tanyanya.
Fai menggaruk kepalanya kemudian menampakkan cengiran khasnya. "Aku baru ingat kalau selama ini aku tidak pernah pergi keluar tanpamu. Tapi aku bisa menelepon taksi dan…"
"Kuantar," potong Kurogane kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu apartemen.
Fai sedikit memiringkan kepalanya. "Kuromyuu tidak ke kedai?"
"Aku akan ke sana setelah mengantarmu pulang nanti," jawab Kurogane sambil mengenakan sepatunya.
"Eh, aku masih boleh bekerja di kedaimu kan?!" Fai berseru. Namun Kurogane terlanjur keluar dan pintu apartemen berdebam menutup.
Fai mengerutkan dahi dan kembali duduk. Ia merasa ada yang aneh dengan Kurogane. Pria besar yang luar biasa dingin itu tidak—akan—pernah menawarkan diri untuk direpotkan seperti ini sebelumnya. Ia akan menggerutu bahkan mungkin marah-marah tidak jelas setiap kali Fai memintanya untuk mengantarnya belanja yang bahkan itu merupakan kebutuhan untuk apartemen Kurogane juga. Jadi bagaimana bisa ia menawarkan diri untuk mengantar seperti barusan?
Fai kembali menyuapkan sup daging ke mulutnya. Bahkan belakangan untuk beberapa kesempatan Kurogane terlihat sedikit perhatian padanya. Tapi kemudian Fai tertawa singkat sambil menggeleng sendiri. Kecil kemungkinan pria besar itu mengkhawatirkannya kan?! Orang yang sudah membuat kehidupannya yang tentram menjadi penuh masalah. Bahkan seharusnya pria besar itu senang dirinya—Fai—sudah ditemukan keluarganya. Tidak akan lagi orang yang menghancurkan apartemennya karena melamun saat memasak. Tidak ada lagi tanggung jawab yang dibebankan padanya karena mengurus orang amnesia yang menyusahkan. Lebih lagi, Kurogane bisa memikirkan untuk menerima sekolah baristanya.
Fai tersenyum kecut. Semakin ia membayangkan banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi saat ia meninggalkan Kurogane, ada perasaan menusuk dalam dirinya.
"Harusnya malam itu aku tidak masuk kedaimu, Kurogane."
.:xXx:.
Seorang pria berambut pirang dan mengenakan sunglass gelap menghampiri pemuda dengan setelan baju serba hitam yang berdiri di sisi mobil. Begitu dekat, pemuda berpakaian hitam itu menoleh dan sedikit membungkuk.
"Selamat pagi," kata pemuda itu pada pria yang menghampirinya.
Pria berambut pirang itu tersenyum dan merogoh saku dalam mantelnya untuk menarik secarik kertas yang diberikannya pada pemuda tadi. "Bisa antarkan aku ke alamat ini?"
Pemuda dengan baju dan aksesori serba hitam itu menerima kertas yang diberikan padanya. Ia mencermati sejenak alamat yang tertulis di sana sesaat sebelum mengangguk dan membukakan pintu belakang mobil untuk pria berambut pirang itu. Segera setelah menutup kembali pintu mobil, sang pemuda berbaju serba hitam itu duduk di belakang kursi kemudi dan melajukan mobil.
"Bukankah agak riskan jika pergi ke tempat itu tanpa memberitahu Fei Wong-san? Bagaimana jika beliau mengetahuinya?" tanya pemuda berbaju hitam.
"Tidak setiap saat aku harus melaporkan apa yang harus kulakukan padanya, Syaoran," Pria berambut pirang itu melepas sunglassnya, memamerkan bola mata biru laut miliknya. "Lagi pula aku hanya ingin melihat tempat dimana kakakku saat ini bekerja."
Pemuda berbaju hitam itu—yang dipanggil Syaoran—memasang alat komunikasi di telinganya. "Lalu bagaimana kalau kakak Anda ada di sana dan melihat Anda? Seingat saya, Anda pernah berkata bahwa dia lupa ingatan."
Pemilik mata biru laut itu tersenyum sambil mengamati jalan raya lewat kaca mobil di sebelahnya. "Paman memberitahuku dia akan pulang hari ini, jadi dia tidak akan ada di tempat itu."
Syaoran tidak berkata apa-apa lagi dan hanya fokus dengan jalan raya di depannya. Pria pirang di kursi belakang sendiri sedang sibuk dengan apa yang dilihatnya lewat jendela mobil di sebelahnya.
.:xXx:.
"Kurorin, benar tidak apa-apa kalau aku pulang?" tanya Fai saat mereka dalam perjalanan ke rumah Fei Wong Reed.
Kurogane menatapnya sebentar. "Apa aku punya hak untuk menghalangimu?"
Fai menggeleng dan kembali memperhatikan jalan raya. Entah kenapa keberaniannya untuk pulang kembali menciut setelah ia menelepon pamannya barusan. Perasaan takutnya datang lagi, ketidaksiapannya mengetahui seperti apa kehidupannya yang lalu.
"Asal kau tidak melupakan janjimu untuk mengganti full shift di kedaiku lain hari," kata Kurogane tiba-tiba.
Fai mengerjap dan menoleh lagi ke arah Kurogane yang membelokkan mobilnya di salah satu tikungan. Ia tersenyum. "Aku tahu. Aku tidak berencana menginap, hanya sampai sore saja."
Kurogane kembali fokus pada jalan raya, namun mendadak ia teringat pertemuannya dengan Fei Wong Reed. Jujur ia tidak pernah sekalipun menaruh prasangka yang baik pada pria paruh baya itu—Kurogane memang tidak pernah berprasangka baik pada mereka-mereka yang dikawal para bodyguard kemanapun mereka pergi. Pasti hidup mereka sangat riskan dengan bahaya, baik yang mereka ciptakan sendiri maupun orang lain. Dan sepertinya Fei Wong juga orang seperti itu, kemungkinan pria pirang yang duduk di sebelahnya ini juga.
Pria besar ini kembali menoleh sekilas pada Fai yang menatap jalan raya di depannya. "Kau yakin mereka keluargamu?"
"Hn~" Fai memainkan seatbeltnya. "Bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku merasa ada yang disembunyikan oleh Fei Wong-san. Terutama tentang 'Fai'."
Sudah Kurogane duga bahwa Fai juga peka pada apa yang dilihatnya dari Fei Wong. "Maksudmu Fai yang lain?"
Pria pirang itu mengangguk. "Kurasa hidupku yang sebenarnya, sebagai Yuui atau Fai atau siapapun itu, sepertinya sedikit tidak biasa."
"Yah, dulu aku pernah membayangkan kau adalah anak seorang teroris yang membawa misi untuk meledakkan Tokyo namun kecelakaan di tengah operasi dan amnesia."
Fai meledakkan tawanya, dan ia benar-benar tertawa.
.:xXx:.
"Ngomong-ngomong, kudengar kau sudah bertunangan dengan putri keluarga Kinomoto," Pemilik mata biru laut itu menoleh untuk melihat tampak belakang pemuda yang tengah mengemudikan mobilnya. "Aku sedikit kecewa kau tidak mengabariku."
Syaoran sedikit tersentak. Lewat spion tengah ia melirik pria pirang yang duduk di kursi belakang. "Maafkan saya, Fai-san. Bukan maksud saya untuk tidak memberitahu Anda. Hanya saja, karena kami masih bertunangan, saya rasa tidak apa-apa untuk tidak diberitakan terlebih dahulu."
"Meskipun begitu, aku tetap berharap bisa menjadi salah satu orang yang kau kabari," Pemilik mata biru laut itu kembali tersenyum.
"Sekali lagi maafkan saya, Fai-san."
"Aku tidak sedang memarahimu, Syaoran," Pria di kursi belakang terkekeh. "Jangan terlalu merasa bersalah."
Pemuda di belakang kemudi mengangguk sekali.
"Juga, bukankah aku sudah mengatakan padamu berulang kali," lanjut pria bermata biru laut. "Tolong biasakan untuk memanggilku Yuui."
.:xXx:.
Fai menarik napas dalam-dalam saat akhirnya kakinya menginjak pekarangan rumah Fei Wong Reed. Diedarkan pandangannya pada area luas di hadapannya, berharap menemukan objek yang bisa membuatnya mengingat sesuatu. Namun sejauh ini belum ada satupun yang berhasil memanggil memorinya. Ia membuang napas kembali.
Kemudian Fai merasa punggungnya ditepuk dan ia menoleh. Menemukan Kurogane sudah berdiri di sebelahnya, dengan wajah dinginnya yang seperti biasa tapi Fai tahu pria besar itu khawatir padanya.
"Aku baik-baik saja," kata Fai sambil tersenyum.
Kurogane mengalihkan pandangannya pada rumah besar bergaya Eropa klasik di depan mereka. "Aku tahu kau sedang berusaha menguatkan diri, berhenti berbohong."
Fai mengerucutkan bibir. "Kuro-daddy mengataiku berbohong."
"Ada yang kau ingat?" tanya Kurogane, mengabaikan kalimat merajuk dari Fai.
Fai menggeleng. "Kurasa aku harus masuk."
"Kau mau aku menemanimu ke dalam?"
"Aku bisa melakukannya sendiri," kata Fai yang kembali tersenyum.
Kurogane kembali menoleh pada pria pirang di sebelahnya yang sibuk mengamati pekarangan luas di hadapan mereka lagi. Bisa Kurogane lihat pria itu sedikit linglung seperti saat mereka pertama kali bertemu. Tapi seperti yang Kurogane katakan tadi, Fai berusaha mengatasinya.
Kurogane mengangkat tangannya, bermaksud memberikan sebuah tepukan di puncak kepala Fai. Namun saat tangannya masih mengambang di udara, niat itu diurungkan. Membuat Fai menoleh bingung padanya.
Pria besar itu kembali menghempaskan tangannya ke sisi tubuhnya lalu menghela napas. "Aku akan ke kedai. Telepon aku kalau ada apa-apa, kau sudah tahu nomorku."
Fai mengangguk sekali dan berbalik untuk melihat Kurogane masuk kembali dalam mobilnya. Pria besar itu menurunkan kaca mobil dan menatap Fai. Pria pirang yang masih berdiri di halaman rumah Fei Wong Reed itu melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria, Kurogane membalasnya dengan anggukan. Ditutupnya kembali kaca mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Kali ini Fai benar-benar sendirian. Ia berbalik untuk kembali menghadap bangunan mewah di depan matanya. Fai memejamkan mata dan mengatur napas. Dia perlu melakukan ini, setidaknya ia butuh kebenaran untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Dilangkahkan kakinya menuju pintu besar dengan ukiran simbol unik dan membunyikan bel di sebelahnya, sebuah serenade pendek berbunyi setelahnya. Jantung Fai berlomba dan ia bisa merasakan tangannya gemetar. Ia mengepal kuat-kuat.
Pintu dengan simbol unik itu terbuka. Sesosok pria yang Fai sudah kenal muncul, Fei Wong Reed. Fai susah payah menelan ludah.
"Okaeri, Yuui," kata Fei Wong Reed sambil merentangkan tangannya dan tersenyum pada Fai.
.:xXx:.
"Sudah sampai, Fai…maksud saya, Yuui-san," kata Syaoran yang mematikan mesin mobil dan menoleh ke belakang.
Pria dengan mata biru di kursi belakang tersenyum, diperhatikannya bangunan yang berdiri tak jauh di depan mobilnya yang Syaoran parkir di pinggir itu ramai. Pria bermata biru itu bisa melihat pegawai-pegawai dengan seragam mereka juga lalu lalang dengan nampan-nampan berisi pesanan. Sementara pria itu sibuk memperhatikan tempat yang menjadi tujuan mereka itu, Syaoran sendiri sudah keluar mobil untuk membukakan pintu untuk pria bermata biru laut itu.
Begitu keluar dari mobil, pria itu kembali mengenakan sunglassnya dan menoleh pada Syaoran. "Tunggu di sini dan jangan jawab interaksi apapun yang berhubungan dengan pamanku. Aku akan melihat-lihat ke dalam sebentar, ah…mungkin bisa agak lama kalau ada yang menarik di sana."
Syaoran mengangguk dan sedikit membungkuk pada pria berambut pirang yang mulai berjalan ke arah bangunan di depan. Wajahnya sedikit cemas, Syaoran tahu ini bukan sebuah urusan yang sepele. Dilepasnya alat komunikasi wireless dari telinganya.
Pria berambut pirang itu sudah menaiki undakan batu di depan bangunan yang ia tuju. Senyumnya semakin terkembang. Sensasi hiruk pikuk pengunjung menyapanya saat ia membuka pintu depan, disusul dengan denting lonceng kecil yang dipasang di atas pintu.
Seorang pemuda dengan rambut perak berkacamata yang duduk tak jauh dari tempatnya menoleh dan berdiri. Senyumnya cantik untuk ukuran laki-laki, ia sedikit membungkuk lalu menghampiri pria berambut pirang ini.
"Sendirian, Fai-san?" tanyanya.
Pria berambut pirang ini membalas senyumnya, masih belum menjawab. Hanya melepaskan sunglass agar lebih jelas mengamati pemuda di hadapannya. Ia bisa membaca "Tsukishiro Yukito" dari nametag yang dipakai pemuda itu.
"Di mana Kurogane-san?" tanya pemuda itu lagi.
"Dia tidak bersamaku," kata pria berambut pirang ini akhirnya.
Tsukishiro Yukito mengusap dagu. "Tumben sekali Kurogane-san masuk tanpa ijin."
"Mungkin dia terlambat karena harus mengantar seseorang," kata pria berambut pirang lagi.
"Yo, Wakil Bos!" Datang lagi seorang pemuda tinggi dengan rambut spike berparas tampan. Pria berambut pirang ini melirik nametag di dadanya dan tertulis Monou Fuuma di sana. "Hari ini penampilan Anda sedikit berbeda."
Pria berambut pirang ini terkekeh. "Benarkah?"
Monou Fuuma mengangguk. "Tapi maaf aku harus mengantarkan pesanan ini segera pada mereka," Ia menunjuk meja yang dikelilingi wanita-wanita usia dua-puluh-limaan yang sibuk bergosip sambil menatap ke arah mereka bertiga. "Aku segera kembali!"
"Dia selalu seperti itu," kata Yukito sambil tersenyum sesaat setelah Fuuma pergi. "Menggoda wanita-wanita karir untuk masuk kedai, meski hasilnya tidak sedikit untuk masuk kasir."
"Pribadi yang menarik," kata pria berambut pirang sambil mengamati isi ruangan yang hampir penuh pengunjung.
Yukito kembali menghadap pria pirang di sebelahnya. "Benar yang Fuuma katakan," katanya. "Hari ini Anda sedikit lain."
Pria berambut pirang itu hanya terkekeh.
.:xXx:.
Kurogane menyorot mobilnya dan berjalan menuju kedai. Tanpa sengaja ia menoleh ke arah yang berlawanan dari kedainya dan menemukan mobil sedan hitam tak jauh darinya dengan seorang pemuda asing bermata tegas di belakang kemudi. Kurogane mengerutkan kening saat keduanya saling tatap. Pria besar itu yakin pemuda di dalam mobil itu tengah mengawasi kedainya.
Masih dengan curiga, Kurogane menaiki undakan batu dan masuk dalam kedai. Lewat pintu kedai—yang terbuat dari kaca gelap—Kurogane kembali mengawasi mobil itu. Pemuda itu masih duduk di belakang kemudi dan menatap kedainya dengan raut muka serius. Kurogane melipat tangannya dan mengawasi gerak-gerik pemuda di dalam mobil dalam diam.
"Apa yang kau lihat, Kurogane-san?" Fuuma berjinjit untuk melihat melalui bahu Kurogane.
"Bukan urusanmu, Monou," Kurogane menghela napas dan memutuskan mengakhiri pengawasannya sebelum berbalik untuk menatap pegawainya.
Fuuma nyengir. "Gomen na."
"Semua tamu sudah dilayani?" tanya Kurogane.
"Sudah, Bos!" Fuuma memberikan hormatnya. "Tinggal satu pesanan yang dibuat Touya."
"Kerja bagus," Kurogane melepas mantelnya dan berjalan menuju pantry belakang.
"Kurogane-san," Fuuma mengikuti atasannya. "Kenapa tidak berangkat bersama Fai-san?"
"Dia absen. Ada urusan yang harus diselesaikannya," jawab Kurogane sambil mengenakan apron hitamnya.
"Urusan? Maksudmu duduk di meja pengunjung dan memesan ice Americano?" tanya Fuuma bingung.
Kurogane menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuat simpul untuk tali apronnya. "Apa kau bilang?"
"Fai-san," Fuuma menunjuk ke arah luar. "duduk di meja pengunjung sekarang."
Kurogane mengerutkan dahi. Dia yakin dia baru saja mengantarkan Fai ke rumah Fei Wong Reed. Kalau dia memutuskan untuk kembali pulang dan ke kedai, dia butuh naik taksi dengan kecepatan tinggi untuk menyusul Kurogane dan sampai duluan. Tapi meski Fai bisa saja menghentikan taksi dan memberitahukan alamat kedai pada supir, Fai seharusnya memilih meminta Kurogane putar balik dan menjemputnya.
Mendadak mata kecil Kurogane melebar. Bulu kuduknya berdiri.
"'Fai'," gumamnya.
Fuuma mengangguk sambil merapikan rambut jabriknya. "Dan hari ini Fai-san terlihat berbeda sekali."
Bukan terlihat, batin Kurogane. Karena memang ini Fai yang berbeda.
Kurogane melepas apronnya dan menatap Fuuma. "Kembali layani tamu."
Dan sebelum Fuuma menjawabnya, Kurogane sudah keluar dari pantry. Mata kecilnya liar mengawasi tiap meja di tamu di kedainya, mencari sosok yang dikatakan Fuuma. Lalu seseorang dengan wajah yang sudah sangat Kurogane kenal melambai padanya dari meja agak sudut, dekat dengan pintu ke sektor luar. Pengunjung ini tersenyum padanya.
Kurogane menghampirinya. Senyum pengunjung ini belum hilang sampai Kurogane sampai di depan meja yang ia duduki.
"Aku mengawasimu sejak kau datang tadi," Pengunjung itu menoleh ke luar jendela. "Dan aku yakin kau melihat pemuda yang ada di dalam mobil hitam itu," Kali ini pengunjung itu menunjuk sedan hitam yang menjadi perhatian Kurogane tadi. "Dia datang denganku, namanya Syaoran."
Kurogane hanya menatap pengunjungnya dalam diam.
"Aku ingin berbincang," Pengunjung itu kembali menaruh perhatian pada Kurogane. "Keberatan untuk meluangkan waktu?"
"Kau…"
Pengunjung itu berdiri dan mengulurkan tangan, senyum masih belum hilang dari wajahnya. "Konnichiwa, Kurogane-san. Namaku Yuui."
===To Be Continue===
Dan saya kembali hehe chapter ini sudah rampung bahkan sebelum saya mengepos chapter 9. Namun entah mengapa saya ragu untuk mengaplotnya ke sini, bahkan sampai saat ini. Merasa ada yang kurang di banyak hal, namun kenekatan saya menang haha jadi kalau memang ditemukan ada ketidaknyamanan dalam chapter ini, mohon maaf /bows/
Saya tidak akan banyak bicara. Kolom review bebas untuk diisi dengan macam-macam uneg-uneg maupun saran/kritik. FLAMES? Saya tidak pernah keberatan jika memang pantas untuk ditujukan pada saya :)
Terimakasih sudah mampir :)
