SWORD ART ONLINE: THE WHITE SNAKE
Chapter 2: Beater dan Hacker
2 Desember 2022
*Kirito's Pov*
Game ini telah berjalan lebih dari satu bulan, selama itu dua ribu orang telah dinyatakan meninggal. Namun, sampai sekarang belum ada yang mampu menyelesaikan lantai pertama. Aku adalah pemain beta tester, aku sendiri bahkan belum bisa menemukan Bos dilantai ini. Dan hari ini, akan diadakan pertemuan untuk membahas cara untuk mengalahkan bos di lantai pertama ini.
*Via's Pov*
Apa yang terjadi? Seharusnya lantai bos ada di area barat desa ini. Lalu kenapa sampai satu bulan lebih, tidak ada yang dapat menemukan ruangan bos tersebut?
Kualihkan pikiranku ke arah stadium di depan, nampak seorang pria berambut biru yang tengah melemparkan beberapa lelucon untuk mencairkan suasana. Kalau tidak salah namanya Diabel? Atau Daibel? Sial, aku memang tak pandai mengingat nama.
Kupikir apakah ada manfaatnya mengikuti pertemuan ini? Tapi, aku pikir setelah ini mungkin akan banyak hal yang tak terduga. Ya sudah, tak apalah. Walaupun aku lebih suka untuk bermain solo.
Tiba-tiba aku merasakan ada eksistensi seseorang di sampingku. Aneh, seingatku tadi aku duduk sendirian. Kualihkan pandanganku ke sebelah kiriku. Disana kulihat seorang laki-laki berambut hitam dan bermata abu-abu. Lagi-lagi, sepertinya lebih muda dariku.
"Apakah kau akan ikut juga..?" tanya pria tersebut.
"Entahlah, sepertinya tidak.. dilihat dari situasi sekarang. Mereka sudah memiliki party dengan orang kenalan mereka.." jawabku agak sedikit merasa kesal.
"Seorang solo player ya..? Bagaimana kalau kamu bergabung denganku..?" tanya pria tersebut. Sontak kualihkan pandanganku ke arahnya. Untunglah aku memakai penutup kepala. Pasti kalau dia tahu bahwa aku seorang wanita, apalagi lebih tua darinya, ia akan membuat lelucon terhadapku.
"Dia mengatakan bahwa bahwa kita tidak dapat mengalahkan bos di lantai ini sendirian.." tambahnya lagi.
"Jadi hanya untuk pertempuran ini saja..." katanya lagi meyakinkan.
"Sigh, baiklah.." kataku pelan. Dibukanya menu utama, dan seperti dugaanku selanjutnya. Ia mengirimkan undangan invitation untukku agar aku bergabung ke dalam party-nya. Tanpa banyak bicara aku langsung menekan tanda bulat biru yang nampak di menu ku.
"Ki..rito..?" gumamku pelan saat kudapati namanya ada dibawah namaku. Aneh, tapi sudahlah. Kualihkan pandanganku ke arah pria berambut biru tadi. Sepertinya pertemuan ini akan di akhirinya.
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba muncul bayangan seseorang yang berdiri di atas tembok. Lalu bayangan tersebut melompat ke arah depan panggung.
"Namaku adalah Kibou." Kata pria berambut coklat spike tersebut.
"Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kita mengahadapi bos lantai itu.." tambahnya lagi. Firasatku agak tak enak.
"Seseorang yang ada disini perlu meminta maaf kepada dua ribu orang yang telah meninggal!" katanya lantang sambil menyelidik ke berbagai sisi stadium. Firasat burukku menjadi kenyataan. Pasti setelah ini, ia akan menyalahkan Beta tester karena tidak memberitahu para pemain. Dia menyalahkan kami para Beta tester. Dasar anak-anak.
"Kibou-san, apa yang kamu maksud adalah para pengguna versi beta..?" tanya Diable.
"Tentu saja!" jawabnya. Aku bisa merasakan rasa benci di setiap huruf yang ia utarakan.
"Saat pertama kali game bodoh ini dimulai, orang-rang versi beta selalu menganggap kita sebagai pemula. Dan lihatlah, sekarang mereka telah menghilang." Katanya lagi tanpa ragu. Aku benci orang-orang seperti ini. orang yang mengaggap dirinya benar. Muak, satu kata itu cukup untuk membuat aku berdiri dari tempat dudukku.
"Lalu apa yang kamu ingin para Beta tester lakukan, Kibou-san?" tanyaku sambil menahan amarahku.
"Kamu! Apakah kamu seorang Beta tester?!" tanyanya sambil menunjuk ke arahku. Sungguh, aku benci berada dalam kelompok. Aku harap, aku tidak akan bertemu seseorang seperti dia lagi suatu hari nanti.
"Ya, aku adalah salah seorang mantan dari Beta tester." Kataku lagi. Semua mata menatapku. Ada pandangan jijik, marah dan iri disana.
"Kamu dan semua beta tester yang lain! Karena kamu! Semua tempat berburu yang bagus hilang, dan kami kesulitan untuk mendapatkan col dan menaikkan level kami!" katanya penuh amarah.
"Kamu pikir kenapa aku ada di tempat ini? kamu pikir apa yang aku lakukan disini jika aku sudah menyelesaikan semua quest dan mengambil semua col itu..? kamu pikir apa yang aku lakukan disini? Bersenang-senang? Menonton lawakkan yang sama sekali tidak lucu? Kalau kamu berpikir menyalahkan kami, buka storage milikmu. Lihat buku panduan di sana. Dan kamu akan tahu, apa saja yang di lakukan Beta tester. Disana, seharusnya sudah ada map perangkap dan semua level para monster. Lalu mengenai perihal aku ada dalam party ini, aku akan tetap ikut. Suka ataupun tidak. " kataku samnbil memandangnya dengan tatapan benci.
"Tetapi.." katanya seraya mencari alasan lain untuk menyalahkan para Beta tester.
"Apakah aku boleh bicara.." kulihat seorang pria tinggi berkulit hitam berdiri.
Aku muak melihat drama semacam ini, lebih baik aku mencari hal berguna selain berada disini.
-Time skip-
Malam sudah datang, dan matahari telah menyembunyikan dirinya. Bagaimana kabar keluarga..? bagaimana kabar adik kecilku Aki? Tampak dari kejauhan, pria berambut biru dan pria kerdil Kibou itu tengah mengadakan minum bersama.
"Kenapa tidak makan..?" kata sebuah suara yang berasal dari samping kananku.
"Huh? Oh kamu.. Kirito-san.." kataku pelan. Kupandangi roti yang aku pegang, masa durabilitasnya hampir berakhir.
"Rasanya enak.. sungguh.." katanya lagi.
Aku lebih suka masakan keluargaku.. terutama masakan ibuku. Aku rindu dengan adik kecilku. Rindu dengan cara makannya yang belepotan.
"Boleh aku duduk..?" tanyanya memecahkan lamunanku.
"Tentu." Kataku singkat. Beberapa saat hening. Aku tahu pasti sebentar lagi dia akan ikut men-judge ku karena aku adalah seorang Beta tester.
"Tindakanmu tadi.. sungguh berani." Katanya sambil menatap roti yang barusan di keluarkannya dari storage.
"Tidak, aku harus melakukannya. Aku.. benci dengan orang-orang seperti itu. Orang yang selalu beranggapan banwa ia benar. Dan menjadikan para Beta tester sebagai kambing hitam." Kataku lirih. Kutatap langit-langit sebentar. Lalu terlintas sebuah pertanyaan yang membuatku mengrenyitkan dahiku.
"Apa kamu benar-benar berpikir ini enak..?" kataku sambil menatap roti ditanganku.
"Tentu saja, aku memakan ini setiap hari sejak pertama kali aku tiba di desa ini. meskipun aku telah memodifikasinya sedikit." jawabnya sambil masih memakan rotinya. Kulihat ia mengeluarkan sesuatu. Sebuah tempat kecil.
"Memodifikasi..?" tanyaku.
"Ya, coba tambahkan sedikit ke rotimu." Katanya.
Kusentuh sisi luar tempat kecil tersebut, sebuah sinar biru menyelubungi jari telunjuk dan jari tengahku. Kucoba mengoleskan ka atas rotiku.
"Krim...?" gumamku pelan saat kulihat cairan seperti krim yang barusan aku oleskan ke atas rotiku tersebut. Kulihat ia mengoleskan krim tersebut dan mulai memakan rotinya. Mungkin tidak ada salahnya mempercayai anak ini..? kucoba memakan roti itu sedikit. Rasa potongan roti tersebut setelah masuk ke tenggorokanku.. sungguh tak dapat kudefinisikan. Enak mungkin hanya satu kata itu cukup.
"Kudapatkan dari misi yang kuselesaikan.. The Heifer Strikes Back begitulah mereka menyebutnya" katanya menjelaskan.
*Kirito's Pov*
Orang ini sungguh kelihatan manis. Tunggu! Apa yang barusan itu?! Grah! Tenangkan pikiranmu Kirito!
"Lalu apa yang dikatakan pria berambut biru tadi di stadium..?" tanyanya memecahkan perdebatanku dengan pikiran tadi. Dari suaranya, aku sudah dapat memastikan bahwa orang ini adalah wanita.
"Maksudmu Diable? Dia bilang bos di lantai ini bernama 'Illfang the Kobold Lord'. Dia dijaga beberapa pengawal yang mempunyai nama 'Ruin Kobold Sentinel'. Senjatanya Kapak buckler, dan pedang lengkung yang bernama Talwar." Kataku memberi penjelasan.
"Aku mengerti.. oh tentang Krim yang kau berikan.. terima kasih.." kata Via ? Hm, nama itu yang tertera di bawah namaku.
"Jika kamu ingin mencobanya.. aku bisa tunjukkan.." tawarku.
Dia menggeleng pelan. Wajahnya masih tertutup oleh jubah merahnya.
"Aku datang ke desa ini bukan untuk memakan makanan yang enak... " katanya pelan.
"Lalu untuk apa..?" tanyaku, berusaha untuk terlihat peduli.
"Aku.. selalu sendiri... aku selalu seperti ini. aku ingin cepat kembali ke dunia nyata. Aku ingin kembli bersama adik kecilku. Keluargaku. Meskipun sendiri, cukup berkumpul bersama keluarga. Itupun juga tak apa..." jawabnya.
Kenapa aku merasa dia hampir mirip denganku..?
"Aku tak ingin ada anggota party yang mati karena aku jadi setidaknya.. pertahankan nyawamu besok.." kataku sambil menatapnya.
-Time skip-
3 Desember 2022, Lantai: 1 Hutan
"Kita harus tetep maju, kita harus menyisihkan kekuatan kita. Untuk melawan asisten bos itu, Ruin Kobold Sentiner." Jelasku.
"Aku mengerti.." kata Via pelan.
"Aku akan menggunakan skill pedang bagian gagang kapaknya. Lalu selanjutnya aku akan melakukan switch." Kataku lagi.
"Aku mengerti..." jawab Via lagi. Untuk seseorang yang bermain solo player, ia cukup mengetahui banyak hal.
Lantai 1: Pintu depan ruang Bos
*Via's Pov*
"Dengarkan semua! Aku tak ingin berkata banyak! Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Mari kita menangkan pertarungan ini." kata Diabel. Semua orang tampak terugah oleh kata-katanya.
"Ayo maju!" kata Diabel sambil mendorong pintu ruang bos.
Kulangkahkan kakiku ke arah dalam ruangan. Tampak disana seorang bertubuh besar dan berkuping panjang. Tubuhnya berwarna merah. Mungkin mirip seperti beruang raksasa.
"Mulai penyerangan!" teriak Diabel sambil mengarahkan pasukan party untuk melawan bos dan pengawalnya.
Kulepaskan pedangku dari sarung pedang. The white snake. Ku temukan pedang ini sudah berada di storage milikku.
Pertarungan sengit, aku ingin hidup. Aku tak ingin mati.
"Pasukan A switch C!" kata Dabel.
Tanganku sudah mulai gatal. Pertarungan ini, aku harus hidup!
Kudengar Diable menyebut pasukan D, E untuk memblok serangan Sentinel. Kirito sudah ada di depan. "SWITCH!" kudengar ia berteriak.
Snake white, aku bertumpu padamu. Kuserang beberapa kali Sentinel yang mendekatiku. Kurang, masih kurang cepat. Aku masih butuh kekuatan. Snake White!
*Normal's pov*
"Good Job.." kata Kirito memuji kerja dan kecepatan Via.
Diabel tampak serius, sepertinya ia ingin mendapatkan item yang didapatkanh jika menyerang boss dalam serangan terakhir.
"Mundur! Aku akan maju!" kata Diabel sambil berlari ke arah Illfang.
*Via's Pov*
I-Itu.. bukan Talwar! Tapi No Dachi!
"Sial! Mundur secepat mu Diabel!" kudengar Kirito berteriak. Tapi nampaknya Diabel tak memperdulikan perkataan Kirito.
Tak ada cara lain. Tak apa, mereka sudah me-judge ku sebagai Beta tester. Tak apa, asal tak ada yang mati.
"The curse.." gumamku pelan sambil berkonsetrasi. Sekarang! Aku berlari ke arah Diabel. Tepat di saat Illfang menyerang Diabel. Aku berhasil mem-block serangan Illfang. Diabel tampak kaget melihat aku mem-block serangan Illfang,
"The white snake.. curse.." kataku sambil mengkonsentrasikan kekuatanku kepada pedangku. Tampak ular putih di atas pedangku seperti mendesis. Kekuatan No Dachi milik Illfang mengenai jubahku. Identitasku. Aku tak bisa menutupinya lagi.
Kuserang Ilffang beberapa kali. Tak akan kubiarkan seseorang mati disini. Aku masih butuh kekuatan. Aku masih harus bertambah kuat lagi!
"SNAKE CURSE!" teriakku. Bentuk pola serangan white snake yang satu ini. seperti sihir. Tapi jika kamu melihat dengan seksama. Ini bukan sihir. Ini adalah skill pedang. Illfang berhasil dikalahkan, tepat saat HP milliku di garis merah.
CONGRATULATUIONS!
YOU GOT THE LAST ATTACKING BONUS!
BONUS ITEM:
Coat of Midnight
Tidak ada yang meninggal. Selamat, tidak ada yang mati. Semuanya selamat.
*Kirito's Pov*
Kekuatannya, mengerikan. Siapa dia? Apa kekuatan tadi? Kenapa rasanya seperti sihir?
Kupandang punggungnya, kulihat Agil dan Diabel menghampirinya. Tampaknya memberikan pujian dan ucapan terima kasih.
"Kenapa?" aku berbalik. Kulihat pria bernama Kibou itu menatap Via penuh amarah.
"Hampir saja.. hampir saja Diable mati! Kalau saja kamu memberi tahu kami lebih awal! Lalu apa-apaan kekuatan tadi?!" teriaknya.
"Kirito.." aku berbalik. Via memanggilku. Kulihat di tangannya memegang jubah. Mungkin hadiah mengalahkan bos. Tiba-tiba ia melemparkan jubah itu kepadaku.
"Eh?"
"Untukmu.." katanya pelan sambil berbalik.
Kulihat sekumpulan pemain mulai geram. Aku harus melindunginya. Aku juga seorang Beta tester, Diabel juga! Tiba-tiba aku dengar Via tertawa. Entah kenapa, tawanya seperti out of character...
"Aku Hacker... aku juga seorang mantan pengguna Beta Tester... jangan pernah membandingkanku dengan Beta tester manapun. Teknik yang kamu lihat.. itu adalah hasilnya." Katanya sambil tertawa lagi.
Benarkah? Aku rasa, dia bohong. Apa ini demi melindungi Diable? Apa skill pedang tadi benar-benar hasil dari hack..? kulihat beberapa pemain mulai mengarahkan pedang mereka ke arah Via.
"Lalu kamu!" Kibou menunjuk ke arahku.
"Pasti kamu juga mantan Beta Tester! Aku lihat kamu juga tahu teknik yang digunakan Illfang! Kamu pasti sekolmpok dengan dia!" kata Kibou lagi.
Aku, aku ingin melindunginya.
"Ahahahahahahahahahahahahahaha! Mantan pengguna Beta test katamu..? Kuharap kamu tak membandingkanku dengan pemula seperti mereka." kataku.
"A-Apa katamu?" pria bernama Kibou tadi terbata-bata.
Segera kupakai jubah yang di berikan Via tadi. Coat of Midnight.
"Seribu pengguna Beta test adalah seorang pemula.. yang bahkan tak mengetahui cara menaikkan level. Kalian yang ada disini bahkan lebih baik dari mereka. tapi aku bukanlah orang seperti mereka, aku telah membuat rekor jauh lebih baik daripada Beta tester. Alasan kenapa aku bisa mengetahui skill boss itu adalah karena aku telah bertarung dengan mosnter yang memiliki skill yang sama jauh di lantai atas.."
Aku harus melakukan ini. untu melindungi Via dan yang lainnya. Biarlah aku dibenci. Ini lebih baik.
"Aku mengetahui lebih banyak dari mereka. lebih dari informasi buku panduan yang kalian miliki itu." Kataku.
"A-paan itu..? itu bahkan lebih kejam dari Beta Tester! Kamu adalah seorang Cheater yang kejam!" kata Kibou diikuti pemain yang lain.
"Curse..." kudengar Via bergumam. Area di sampingnya bersinar. Tiba-tiba kulihat Va memakai jubah bergambar ular putih di punggungnya.
"Beater! Dia adalah Beater!" kata para pemain sambil menunjuk ke arahku.
"Berhenti. Sebelum ku pakai kekuatanku untuk membungkam mulut kalian." Kata Via sambil melihat ke belakang, matanya. Sekilas seperti mata ular.
Dia.. dia menyimpan kekuatan...
TO BE CONTINUED
