SWORD ART ONLINE: THE WHITE SNAKE
Chapter 3: Malam Natal, gadis bermata Biru dan Janji
April, 8 2023 Lantai 11, Taft
*Via's Pov*
Empat bulan berlalu sejak Kirito dan Aku mengalahkan Illfang. Kami berpisah setelah melewati pintu batas antar lantai. Aku kembali menjadi diriku, seorang penyendiri. Aku sempat bertemu Myda beberapa hari yang lalu. Tapi aku tak bisa menyapanya, sepertinya ia masuk ke sebuah serikat. Aku harap ia akan baik-baik saja. Kudengar kabar bahwa Kirito juga ada di lantai ini.
Kulangkahkan kakiku ke arah sebuah restoran, harusnya jika disekitar sini ada restoran pastinya ada pula penginapan. Kumasukkan White Snake ke storage milikku. Jika ada yang melihat pedangku ini, mereka pasti akan berusaha untuk merebutnya. Dan dengan berbangga hati mereka akan memamerkan dan berkata 'Pedang sang Hacker telah berhasil di rebut'. Yang benar saja.
Kubuka pintu restoran tersebut, nampak sedikit ramai. Kulihat beberapa sudut restoran, siapa tahu ada seseorang yang ku kenal disini. Dan mataku melihat sosok yang tampak tak asing. Duduk beramai-ramai dengan serikatnya mungkin? Kirito tampak sedang merayakan sesuatu? Empat pria dan satu wanita berambut pendek. Tampaknya begitu senang? Sudahlah, tak baik kan melihat seseorang terus menerus. Kulangkahkan kakiku meninggalkan restoran tersebut. Aku rasa lain kali kami akan bertemu lagi?
-Time Skip-
Mei, 16 2023 Lantai 28. Wolf Plains
Kutebaskan pedangku beberapa kali ke Serigala merah itu. Aku harus bertambah kuat, sampai aku bisa melindungi Myda dan yang lainnya.
"Snake.. Curse!" lagi-lagi ular di pedangku bergerak seperti sihir. Mata merahnya seperti menghipnotis lawan untuk membeku selama enam puluh detik dan akhirnya aku berhasil membunuh serigala itu. Entah kenapa aku memiliki skill ini. apakah ini hadiah dari Kayaba Akihiko? Atau ini hanya Bug?
"Hey kamu!" aku berbalik. Kulihat seorang pria berambut merah dan berikat kepala merah melambaikan tangannya ke arahku. Pemain lain..? Pemain berambut merah itu berlari ke arahku bersama teman-temannya. Sebuah seerikat? Penampilan mereka sama, jadi kupikir pasti adalah serikat.
"N-Namaku Klein usiaku dua puluh empat tahun dan aku masih single!" katanya sambil masih terengah-engah.
"...Via." kataku singkat.
"...Kamu mengingatkanku pada seseorang." Katanya sambil terkekeh.
"Huh?"
"Tidak apa-apa.." katanya sambil masih terkekeh. Orang aneh.
Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh seseorang.
"Via..?" kubalikkan tubuhku, Kirito?
"Ah, Kirito-san!" kata Klein sambil menyapa Kirito. Mereka berdua teman?
"Huh? Tanda itu..? apa kamu bergabung dengan serikat Kirito-san?" tanya Klein setelah menanyakan kabar dan level Kirito.
"Ya, saya kira..." katanya lirih.
"Ah! Aku lupa Kirito-san, perkenalkan. Wanita ini bernama Via.." kata Klein memperkenalkanku.
"Kami sudah saling kenal." Kataku bersamaan dengan Kirito. Kami berpandangan beberapa detik. Kulihat Klein agak kaget mengetahui bawa aku dan Kirito sudah saling kenal.
"...Sampai jumpa." Kataku sambil berlalu melewati mereka berdua, kudengar beberapa kali Klein memanggil namaku. Sigh, merepotkan. Aku tidak ingin menjalin koneksi dengan siapapun. Levelku masih rendah, aku takut. Jika aku berteman dengan mereka, dan suatu hari nanti kami diserang oleh bos dan aku tidak bisa menyelamatkan mereka.. aku akan merasa sangat berdosa.
-Time Skip-
Juni, 12 2023 Lantai 23, Hutan
Level tujuh puluh tiga, aku pikir ini cukup. Kumasukkan pedangku ke sarung pedangnya. Hari ini seperti biasa tanpa teman. Kupikir mungkin aku harus masuk serikat? Tapi aku sudah terbiasa bermain solo. Bukankah itu malah akan menghambat jalanku? Sulit. Aku harus apa? Sudahlah, kupikir akan lebih baik untuk pergi ke penempa besi Lisbeth. Lisbeth, gadis berambut pink pendek. Satu-satunya orang yang bersikeras agar aku menjadi pelanggan spesialnya. Aneh, sepertinya kami pernah bertemu di dunia nyata? Entahlah.
Kupandang sejenak pedangku yang masih berada di sarungnya, The White Snake. Pedang ini, entah kenapa memberi sensasi aneh saat aku melepaskannya dari sarung pedangnya. Seperti kekuatan dan ketakutan, rasa setia dan kehancuran. Apakah pedang ini memang hadiah dari Kayaba Akihiko, atau malah bug yang nantinya akan menghancurkanku? Kupikir aku benar-benar terlalu banyak berpikir, lihat aku berpikir lagi kan?
Kulangkahkan kakiku ke arah portal, mungkin berkunjung ke tempat Lisbeth akan mengubah suasana hatiku. "Teleport: Kota awal" kataku sambil melihat aura biru menyelimutiku.
Lantai 1: Kota Awal
Kulangkahkan kakiku keluar dari tempat portal. Disana-sini masih kujumpai pemain yang keluyuran kesana-kemari. Mungkin pemain yang takut mati? Atau pemain yang sudah menganggap bahwa ini sudah seperti rumah mereka? aku benar-benar seperti mengurusi urusan orang lain.
Kulangkahkan kakiku ke arah toko penempa besi Lisbeth, toko yang sederhana. Tapi seperti memancarkan aura kehangatan rumah. Kuhentikan langkah kakiku sejenak. Rumah. Aku rindu adik kecilku. Tahun ini seharusnya ia sudah masuk ke sekolah dasar kan? Aku harap game ini akan segera selesai.
"Via..?" kudengar namaku dipanggil. Gadis berambut pink pendek dengan baju seperti pelayan berwarna merah. Ah, Lizbeth.
"Hei Lizbeth.." kataku sambil tersenyum.
"Hari ini ingin merawat pedang..?" tanyanya sambil memberikan senyum termanisnya.
"Bisa dibilang begitu.." jawabku sambil menyerahkan pedangku kepadanya. Hanya Lizbeth lah yang kupercaya untuk menyerahkan pedangku. Mungkin hanya dia lah pilihan pertama yang aku pilih untuk melindungi pedang ini, pilihan kedua Kirito. Kirito, nama itu. Sigh, kenapa di saat seperti ini?
"..Via! Via!" aku tersentak dari lamunanku.
"Eh? Maaf Lizbeth, bisa kamu ulangi lagi..?" tanyaku agak malu. Kenapa disaat seperti ini malah melamun?
"Hah.. kamu itu." Katanya sambil menghela nafas.
"Maaf.." kataku sambil menggaruk leherku canggung.
"Begini.. aku akan pindah ke beberapa lantai di atas..." katanya sambil melanjutkan mengasah pedangku.
"Eh? Benarkah? Menakjubkan! bisakah aku main kesana beberapa waktu..?" tanyaku antusias.
"Kamu ini... tentu saja boleh. Kita kan sahabat!" katanya bersemangat. Sahabat ya..? Senangnya.
"Oh ya, karena kita ini sahabat.. panggil saja aku Liz." Katanya lagi sambil tertawea kecil melihat reaksiku saat dia mengatakan bahwa aku sahabatnya.
"Baik Liz-chan!" kataku lagi.
"Nah, selesai! Ini White Snake milikmu.." katanya sambil menyerahkan pedang milikku.
"Terima kasih Liz-chan.." kataku sambil menerima White Snake dengan senyuman terbaikku.
"Lalu setelah ini kamu mau kemana..?" tanyanya.
"Mungkin aku akan kembali ke Dungeon..? aku masih level tujuh puluh tiga.. aku ingin lebih kuat lagi! Supaya bisa melindungi kamu dan Myda!" kataku. Tunggu dulu?! Kenapa aku malah menceritakan hal yang tidak-tidak!
"Mwo? Myda..? siapa dia? Pacarmu..?" tanya Liz menggodaku.
"Bukan! Dia itu perempuan tahu!" kataku salah tingkah. Pacar? Apa-apaan dia!
"Ahahahaha tenang saja, aku tahu kok! Myda adalah salah satu pelangganku. Dia adalah wakil komandan di Knight of Blood." Katanya sambil masih tertawa. Myda..? Wakil komandan Knight of Blood..?
"...Baiklah.. aku harus pergi... sampai jumpa lagi Liz-chan.." kataku sambil meletakkan beberapa keping Col ke mejanya dan melambaikan tanganku ke Liz.
Jadi Myda adalah wakil komandan di Knight of Blood..? syukurlah. Dia bergabung ke serikat yang kuat ternyata.
-Time Skip-
Desember, 24 2023 Lantai 49: Myugen
*Kirito's Pov*
"Akhir-akhir ini kamu suah mengambil resiko besar dengan peningkatan level besar-besaran Kii-bou.."
"Apa kamu mendapatkan informasi baru..?" tanyaku.
Apapun yang terjadi aku harus bisa menghidupkan Sachi kembali. Untuk mendengar apa kalimat terakhir yang ia ucapkan.
"Tidak ada.. " kata Argo the Rat. Pemain yang menjual informasi di Sword Art Online.
"Apa inforasi dari Broker tidak berguna..?" tanyaku.
"Ini adalah peristiwa yang pertama kali. Ini bukan di Versi Beta Kii-bou-san. Tidak ada cara untuk mendapatkan informasi. Pada malam natal. Dengan kata lain setelah tengah malam. Bos acara 'The Nicholas Renegade' tersebut akan muncul di bawah pohon cemara tertentu. Guild-guild besar sedang mencari cukup keras untuk itu." Katanya lagi. Informasi itu sudah cukup. Aku berdiri dari tempat dudukku.
"Kamu punya ide dimana itu, bukan?" tanyanya. Ya, aku tahu. Karena itulah. Aku harus mendapatkan item itu.
*Via's Pov*
Kulangkahkan kakiku ke arah sebuah toko kecil. Kulihat beberapa pasang muda-mudi yang tengah membeli sebuah barang di saat malam natal. Terlihat di sana seorang perempuan paruh baya yang sedang menjual beberapa hadiah dan aksesoris natal. Dia adalah NPC, namanya Midori.
"Selamat malam natal Via-san." Katanya menyambutku.
"Selamat malam natal Midori-san.. sepertinya toko milikmu ini bertambah ramai..." kataku sambil tersenyum kecil. Midori adalah NPC di lantai ini, dia sudah kuanggap seperti ibu kandungku. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku pikir NPC itu tidak memiliki perasaan dan hanya sebuah program yang dimunculkan oleh SAO agar Aincard nampak nyata. Tetapi setelah bertemu dengan beliau, semua pikiran buruk tentang NPC langsung sirna.
"Yah, namanya juga malam natal. Oh ya, apa ada yang bisa saya bantu...? tumben sekali kamu datang kesini. Apa kamu mau membeli hadiah untuk pacarmu..?" tanyanya sambil tersenyum kepadaku. Apa mungkin Midori dan Liz memiliki hubungan kekerabatan. Kenapa mereka selalu menggodaku soal pacar?
"Tidak Midori-san.. saya cuma kebetulan lewat." Kataku seraya tertawa kecil.
"Oh begitu rupanya. Kalau begitu aku akan memberikan sesuatu kepadamu. Berhubung malam ini adalah malam natal.." katanya seraya memgambil sesuatu dari tumpukan barang di toko miliknya. Diambilnya kotak besar berwarna biru dengan pita putih ke-perakan.
"Eh? Apa ini Midori-san? Apa tidak merepotkan?" tanyaku agak keberatan.
"Tidak, tenang saja Via-san.." katanya lagi meyakinkan.
"Ah, terima kasih Midori-san.." kataku sambil tersenyum kecil. Rasanya seperti mendapatkan hadiah dari ibuku sendiri.
"Cobalah buka, kuharap kamu menyukainya.." katanya sambil mengusap kepalaku.
Kubuka perlahan kotak tersebut. Kulihat sebuah kain putih menutupi bagian atas hadiah tersebut. Kubuka perlahan kain itu, dan yang kulihat selanjutnya benar-benar membuat jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Sebuah kimono putih ke-perakan dengan lengan panjang dan bagian bawah yang pendek. Di sekitar lengannya tampak seperti ada hiasan cherry merah kecil. Kuambil kimono tersebut dari kotaknya. Dibagian punggung terdapat sebuah motif ular berwarna merah dengan sisi berwarna putih, di bagian mata ular tesebut berwarna hitam ke-abuan. Di bagian kimono tersebut tampak obi kimono tersebut, pelindung dada, sepasang sandal kayu yang ringan dan kaus kaki putih pelengkap sandal kayu tersebut. Tak lupa pula sarung pedang berwarna putih.
"I-Ini.. untukku Midori-san..?" kataku agak tergagap.
"Ya Via-san... ini untuk anda. Memang kelihatannya tidak seberapa, tetapi saya harap anda menyukainya. Saya harap ini bisa menemani anda di petualangan anda.." katanya sambil tersenyum. Rasanya mataku agak panas, apa aku akan menangis..?
"T-Tidak Midori-san.. ini sungguh indah. Aku sangat menyukainya, bahkan aku sangat ingin memakai kimono ini setiap hari.. terima kasih Midori-san.. bukan, terima kasih.. Okaa-san.." kataku sambil menyeka beberapa air mataku yang menetes. Dia asalah sosok ibuku disini.
"Sama-sama Via-san.." katanya lagi.
"Via-san! Via-san! Tolong!" kudengar namaku dipanggil oleh seseorang. Kulihat seseorang berjubah coklat keabuan tengah berlari ke arahku. Argo The Rat?
"Ada apa Argo-san..?" tanyaku saat dia sudah berada di hadapanku. Tampaknya begitu melihatku ia langsung berlari kesini.
"T-Tolong! Kii-bou-san! Dalam b-bahaya!" katanya agak tergagap.
Kii-bou-san? Maksudnya Kirito? Kudengarkan lagi penjelasan Argo. Apa yang kamu pikirkan Kirito-kun?
Segera setelah penjelasan Argo aku langsung berpamitan dengan Okaa-san. Menyusul Kirito ke lantai tiga puluh lima. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Menghadapi The Nicholas Renegade sendirian.. itu berbahaya! Aku tahu bahwa pasti level Kirito melebihi level enam puluh, tapi apa iya ia harus senekad itu?!
Lantai 35: Maze Hutan
-Time Skip-
*Normal's Pov*
Tampak di sebelah barat sekelompok pemain sedang terduduk di lantai penuh salju. Klein dan kelompoknya. Terlihat kelelahan setelah melawan guild Aliansi Naga Suci. Klein tampak memandangi kejauhan, tampaknya dia mengkhawatirkan Kirito.
Tiba-tiba dari arah utara tampak sesosok bayangan yang berlari ke arah mereka. bayangan tersebut seperti bayangan seorang wanita. Diperhatikannya lagi bayangan itu oleh Klein. Ia kira bayangan itu adalah seseorang dari Aliansi Naga Suci.
"..LEIN! KLEIN!" teriak sosok itu. Diperhatikan kembali bayangan itu. Sepertinya tidak asing lagi.
"Via-san?! VIA-SAN!" setelah menyadari bahwa yang berteriak tadi adalah Via, buru-buru Klein menjawab suara tersebut. Dan benar saja, bayangan tersebut adalah milik seorang gadis berambut coklat kehitaman. Sosoknya agak berbeda dengan kimono yang ia gunakan, Via.
"Dimana Kirito?!" tanya Via setelah mengatur napas.
"Kirito..-" belum sempat Klein menyelesaikan kalimatnya, yang dibicarakan muncul.
Kirito melemparkan sebuah benda ke arah Klein. Kristal kebangkitan yang ramai dibicarakan.
"Hah? Apa?" tanya Klein agak kebingungan.
"Gunakan pada seseorang yang kamu lihat mati selanjutnya.." kata Kirito. Tampak dari suaranya kesuraman.
Setelah melemparkan kristal itu, Kirito melangkahkan kakinya menjauh dari Klein dan kelompoknya.
"Kirito.. Kirito!" panggil Klein sambil memegangi jubah Kirito.
"Kamu harus bertahan hidup! Bertahan sampai akhir.. kumohon..." pinta Klein sambil terisak.
"Sampai Jumpa Klein.." kata Kirito sambil melangkah menjauh.
Via yang tampak kebingungan berlutut di samping Klein.
"Jangan khawatir. Dia pasti bertahan hidup." Kata Via sambil tersenyum kecil kepada Klein. Via berdiri dari duduknya. Diikutinya Kirito dari belakang.
-Time Skip-
*Via's Pov*
Kuperhatikan Kirito yang menidurkan kepalanya di atas tangannya.
"Kirito.." panggilku pelan.
"Tolong, tinggalkan aku sendiri..." katanya lirih.
"Tetapi..."
"Tolong.." katanya lagi.
Tiba-tiba dari depan Kirito muncul sebuah tanda bahwa ia mendapatkan sesuatu di Inbox-nya.
"Sachi..?" gumam Kirito pelan. Jika dugaanku benar, Sachi adalah salah satu anggota guild Kirito. Kuperhatikan lagi Kirito yang memegang sebuah item perekam suara.
"Selamat Natal. Kirito. Pada saat kamu mendengar ini, saya menebak bahwa saya sudah mati. Bagaimana menjelaskan ini. Sejujurnya, saya tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan kota awal. Tapi jika saya tetap merasa seperti itu, saya mungkin akan mati suatu hari nanti. Dan itu bukan kesalahan seseorang. Ini masalah saya sendiri. Sejak malam itu, kau telah terus memberitahu saya, setiap malam itu saya tidak akan mati. Jika saya dibunuh, kamu mungkin akan menyalahkan diri sendiri. Jadi saya putuskan untuk merekam catatan ini. dan saya tahu benar kekuatanmu. Saya tidak sengaja melihatnya beberapa waktu lalu, saya berpikir sangat keras tentang mengapa. Mengapa kamu menyembunyikan levelmu dan bergabung dengan kami, tetapi saya tidak pernah berusaha untuk mencari tahu. Tapi ketika saya belajar betapa kuatnya kamu, saya merasa begitu lega. Jadi bahkan ketika saya mati, kamu tetap tinggal, oke? Hidup untuk melihat akhir dunia ini, dan untuk melihat kenapa hal itu lahir. Alasan mengapa gadis lemah seperti saya berakhir disini. Dan alasan kamu dan saya bertemu. Itulah yang saya ingin kamu lakukan Kirito-kun..." belum sempat rekaman suara gadis tersebut selesai kupeluk erat tubuh Kirito. Ternyata inilah sebab mengapa Kirito menginginkan Item yang dibawa Nicholas.
Kurasakan tubuh Kirito gemetar, ia menangis. Apakah gadis itu sangat berharga bagi Kirito?
"Kirito.. tidak apa-apa..." kataku memejamkan mataku. Kembali kuusap punggungnya perlahan.
"Karena kesombonganku mereka mati.." katanya di sela-sela isak tangisnya.
"...Selamat tinggal, Kirito. Aku sangat senang bertemu denganmu. Karena aku bisa bersamamu, terima kasih. Sampai jumpa." Rekaman itu berakhir. Kurasakan tubuh Kirito semakin gemetar.
"Tidak apa-apa.. aku disini Kirito... tidak apa-apa." Kataku sambil terus memeluk tubuh Kirito.
Malam itu, aku terus memeluk Kirito. Sampai ia terlelap di pelukanku. Aku berjanji, aku akan melindungi Kirito. Aku berjanji. Kepada gadis berambut hitam dan bermata biru laut. Kepada Black Cats Moonlite guild. Kepadamu Kirito.
Chapter 3 UP! arigatou for support.. especially reader-san... Arigatou.. *bow*
new chapter's up. stay tuned guys! C:
To Be Continued
