SM SCHOOL
© BluePrince14
Declaimer:
Super Junior isn't Mine.
Cast:
Member's Super Junior in their western name;
Leeteuk as Dennis. Heechul as Casey. Hankyung as Joshua. Kangin as Jordan. Yesung as Jerome. Shindong as Mathew. Sungmin as Vincent. Eunhyuk as Spencer. Donghae as Aiden. Siwon as Andrew. Ryeowook as Nathan. Kibum as Bryan. Kyuhyun as Marcus.
Yunho as U-know. Jaejoongas Hero.
Genre:
Fantasy/Romance
Warning:
Alternate Universe, Out of Characters, Miss Typo(s), YAOI/BL, Badplot and Descript, Crack Pair!.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Summary:
Sejak kapan mangsa dan pemangsa bisa hidup damai bersama? Vampire dan manusia? Itu sama saja mengantarkan nyawa! "Aku mau pergi dari sini!"
—o0o—
Chapter II
Something's Wrong
—o0o—
Ruangan itu remang, dengan tak adanya ventilasi dan sumber cahaya lain kecuali perapian yang menyala. Di langit-langit ruangan itu memang tergantung sebuah lampu besar yang indah dan terlihat mewah, namun sepertinya tak ada niatan untuk dinyalakan oleh sang pemilik ruangan.
Ruangan ini luas. Dibentuk memanjang dipenuhi perabotan berkelas dari kayu dengan ukiran antic. Sebagai contoh adalah sepasang meja-kursi di pojok kanan ruangan. Meja yang lebih pantas dikatakan meja kerja ini terlihat berantakan dengan beberapa buku terbuka dan lembaran-lembaran kertas yang menemani almanak, beberapa figura foto dan telpon tua di atasnya.
Di ruangan itu juga ada satu set sofa, tepat menghadap perapian di pojok agak kiri ruangan, yang kini tengah diduduki oleh dua sosok yang berbincang. Ditemani cangkir teh tersaji di meja di depan mereka yang alih-alih berisi teh malah berisi cairan berwarna merah pekat. Darah.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa begitu ceroboh?" tanya sosok itu pada sosok lain—yang lebih muda. Yang kini terduduk tepat di seberangnya. Ia mengangkat gagang cangkir itu dengan luwes tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaannya. "Kau hampir membunuhnya." Ada nada kesal dan marah terselip di sana—meski diucapkan dengan dingin dan ditemani tatapan tajam menusuk.
"Itu terjadi begitu saja," jawab sosok itu balas menatap tajam, "Aku tak tahu kenapa itu bisa terjadi," lanjutnya lagi sambil membuang muka—seakan enggan bertatapan lebih lama. Nadanya dingin, terkesan tak sopan. Dan wajahnya itu tak berekspresi—
Dan itulah yang membuat sosok yang lebih tua menjadi geram. "Marcus," desisnya berbahaya, memanggil nama sosok yang lebih muda itu. "Aku ini mentormu," katanya seakan mengingatkan.
"Ya. Benar," balas Marcus acuh tak acuh. Ia malah terlihat sibuk menatap potret setengah badan seorang bangsawan yang berada tepat di atas perapian. Potret dengan figura emas yang berukuran amat besar. Ia menyunggingkan sebuah senyum ke arah potret itu sebelum kembali berekspresi dingin menatap sang mentor. "U-know. Kau memang mentorku. Lalu apa?" tantangnya tak benar-benar terganggu dengan tatapan tajam mematikan yang mengarah padanya.
Ingin sekali U-know mencabik-cabik sosok itu atas perlakuan tak sopannya. Tapi dia tahu itu tidak mungkin. Akhirnya di hanya menghela napasnya pasrah dan mencoba bersabar. "Marcus dengar," Ia memulai, masih menatap sosok itu—tapi bukan dengan tatapan seperti tadi, melainan tatapan memohon. "Kau adalah ketua kaum Black 'kan? Kau dipilih karena kau dianggap mampu. Kau harus memberikan contoh. Kau dengar?" tanyanya.
Marcus diam saja. Tentu saja ia dengar, tapi terlalu malas bahkan hanya untuk sekedar mengangguk atau berkata 'ya'. Ia malah menyibukkan diri dengan memandang piagam-piagam berfigura yang tertempel di dinding atau sekedar menatap lemari kayu besar yang berada di tepat di samping pintu. Apa saja. Ia ingin segera keluar dari sini.
"Aku tak ingin kejadian ini terulang lagi," ujar sang mentor dengan nada mengancam, kembali menyimpan cangkirnya yang kini isinya telah tandas ke meja. "Atau kau akan menerima hukumannya."
Hening lama menyelimuti mereka berdua.
"Aku ingin bertanya—" Marcus membuka suaranya setelah lama terdiam, masih setia dengan nada dinginnya yang terkesan angkuh. Sejujurnya sedari tadi ada sesuatu yang menganjal pikirannya sehingga membuatnya tak bisa focus pada apapun. Dan sepertinya itu semakin meresahkannya sehingga ia tak bisa menahan diri untuk tak berbicara lagi. "Aku merasakan sesuatu yang berbeda padanya," lanjutnya dengan sedikit keraguan dalam nada bicaranya.
"Dia siapa? Orang yang kau serang itu?" tanya sang mentor tertarik, ia belum pernah memiliki pembicaraan lain—seperti ini—dengan Marcus sebelumnya.
Marcus mengangguk kecil.
"Apanya yang berbeda?" tanya sang mentor lagi, terdengar penasaran. Kali ini sambil bangkit dari duduknya, melangkah dengan santai ke arah rak buku berukuran besar yang menempel ke dinding di pojok kanan dekat pintu. Mengambil sebuah buku dan mulai membaca-baca.
"Entahlah..." Marcus mendesah, "Ada sesuatu yang lain—yang tak kutahu apa—saat aku menatap matanya. Dan darahnya—benar-benar membuatku tak bisa berfikir jernih. Benar-benar tak seperti biasanya."
U-know bertanya, "Benarkah?"
Marcus mengangguk.
"Apa lagi?"
"Huh?"
U-know menatap Marcus lama. "Apa lagi yang kau rasakan darinya?" tanyanya.
Marcus terdiam berfikir. Apa lagi… "Aku tak suka melihat tangisannya," ujarnya refleks. Kala samar mengingat sosok itu menangis. Ia menunduk. Ini aneh…
U-know tertawa. Marcus menatapnya garang. Apa yang lucu? desisnya berbahaya dalam hati. Merasa tak senang.
"Kau yang lucu," jawab sang mentor, seakan bisa membaca pikirannya. Atau memang bisa? "Kau bertanya padaku harusnya kaulah yang lebih tahu," jelasnya dengan nada geli.
Marcus keheranan dan juga kesal. Ia menyesali dirinya yang seharusnya tak usah bertanya saja. Mendesis terakhir kali, ia lebih memilih bangkit dari duduknya dan menuju pintu, hendak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Aku belum mempersilahkanmu pergi."
Marcus yang kini berdiri diambang pintu yang terbuka berbalik, menatap tajam, "Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Lebih baik aku pergi dibanding harus mendengarmu menertawakanku lebih lama," desisnya. Ia benar-benar tak suka jika seseorang meremehkannya.
"Oh, maafkan aku," sang mentor terlihat menyesal tapi senyumannya tak kunjung hilang. Dengan cekatan ia mengambil sebuah buku tak terlalu tebal dari rak, melemparkannya tepat ke arah Marcus yang ditangkap dengan baik olehnya, "Anggap saja itu sebagai permintaan maaf," katanya sambil nyengir.
"Stella and Andy?" sahut Marcus keheranan saat membaca judul buku itu. Sebelum benar-benar pergi menghilang dari balik pintu dengan membawa buku itu.
Senyuman belum hilang dari wajah U-know setelah kepergian Marcus, entah apa yang ia pikirkan, tapi ia berjalan ke arah sebuah meja kerjanya, telepon tua di atas sana. Ia mengangkat gagang teleponnya dan memutar beberapa nomor.
Menunggu beberapa…
"Halo?"
—o0o—
Aiden merasa dirinya telah dibohongi. Sesuatu dalam pikirannya berkata bahwa semua ini tak mungkin terjadi. Mum dan Dad-nya takkan mungkin membiarkan anaknya masuk ke dalam tempat semengerikan ini, tanpa memberitahu apapun, tanpa tahu apapun, tanpa persiapan apapun.
"Aku mau pulang," ucapnya tanpa bosan entah pada siapa, mungkin hanya pada dirinya sendiri. Ia sudah menjejalkan kembali semua pakaiannya di dalam lemari ke dalam koper, tak peduli meski ia memasukkan secara asal-asalan. Ia mau pergi dari tempat menakutkan ini, itulah intinya. Secepatnya. Secepat mungkin.
"Aiden..." ia bisa mendengar suara Dennis yang berdiri tak jauh dari dia yang kini berusaha menjejalkan Nemo ke dalam koper. Nihil. Boneka itu terlalu besar untuk masuk ke dalam koper yang penuh dengan baju-bajunya yang tak tertata. Tapi ia terus berusaha, ia takkan meninggalkan boneka kesayangannya ini di tempat ini. Tidak. akan.
"Aiden... Kau tak bisa melakukan ini."
Ia tak mau dengar. Ia tak mau dengar. Ia tak mau dengar.
Meski mereka melarangnya. Meski mereka bilang tak mungkin untuknya pergi sekarang karena alasan tak masuk aka. Meski mereka bilang ini-itu. Aiden tak mau tahu. Ia ingin pulang. Ingin pergi. Semua firasatnya tentang sekolah ini benar, sejak awal di sudah bisa merasakan hal-hal aneh. Dan sekarang ia tahu kenapa. Dengan gelisah ia memeriksa semua barang-barangnya, memastikan tak ada yang tertinggal, ia tak mau mengambil resiko untuk kembali ke sini karena hal itu.
"Kau hanya melakukan hal yang tak berguna!" kali ini Casey yang bicara, bernada kesal melihat kelakuan kekanakkannya. Joshua yang berada tepat di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala. Dennis memandangnya khawatir, pandangannya mengingatkan Aiden pada Mum-nya saat melepas kepergiannya ke sekolah ini. …Kenapa ia tak sadar ada yang salah dengan tatapan itu saat ia pergi?
"Aku mau pergi." Aiden menarik kopernya setelah menurunkan kelambu ranjangnya, agak kesusahan saat melewati karpet berudu di tengah ruangan sambil menarik koper. Ia melewati Casey, Dennis dan Joshua begitu saja, menuju pintu.
Tangannya berada di knop saat ia berbalik dengan ekspresi sedih, "Terimakasih untuk semuanya," ia berujar singkat dan mengulum senyum yang dipaksakan. Ada rasa sedih hinggap di hatinya kala itu, ia ingin terus berada di sini bersama mereka. Tapi sesuatu dalam pikirannya terus berteriak kalau itu tidak bisa. Tidak mungkin. Ia tak mungkin bisa lebih lama tinggal di tempat ini, bersekolah dan belajar seperti biasanya—menganggap semuanya baik-baik saja sementara bahaya mengintai. Kejadian tadi pagi cukup menjadi alasannya untuk pergi. Ia hampir mati—dan ia tak mau itu terjadi lagi.
Dengan perlahan ia mengamati ruangan ini sekali lagi untuk ia simpan dalam memorinya. Ruangan luas dengan empat kamar tidur berkelambu, meja nakas, meja belajar dan lemari empat pintu. Kamar mandi yang luar biasa, karpet berudu berbentuk lingkaran di tengah ruangan, ukiran di langit-langit dan beberapa tempat di dinding. Dan teman-temannya—
Dennis, orang yang begitu ramah dengan senyum manisnya, meski terkadang bawel seperti Mum-nya. Casey, pria cantik bermulut sinis. Joshua, orang yang membagunkannya, menggendongnya dan membisikkan kata tenang di saat ia ketakutan. Mereka bertiga berdiri memandangnya sekarang.
Ia berbalik dan membuka pintu—
"WHOAAAA!"
Dan langsung jatuh terjungkal ke belakang saat melihat seseorang berada di sana. Seorang pria menjulang tinggi, berpakaian resmi yang elegan, menatapnya yang jatuh sambil tersenyum geli. "Hallo, Aiden," sapanya.
Siapa dia?
"Sir." Dennis bersuara dengan nada begitu senang. Dennis mendekat ke arah Aiden dan membantunya berdiri sebelum berkata lagi pada orang itu. "Akhirnya Anda datang, Sir."
Orang itu hanya tersenyum sebagai balasan sebelum melangkah masuk setelah Dennis mempersilahkannya. "Bagaimana kabar kalian?" tanyanya.
Joshua dan Casey menjawab. "Kami baik-baik saja, sir."
Siapa orang ini? Apakah dia salah satu guru di sini melihat panggilan ketiga teman sekamarnya itu padanya? Melihat penghormatan Casey yang tak bisa dipercayainya.
"Kau pasti bertanya-tanya siapa aku, bukan?" tanya sosok itu padanya, masih melayangkan sebuah senyum menawan. Ia bersandar di salah satu tiang ranjang, memandang Aiden yang berada mematung tak jauh dari pintu bersama Dennis. "Aku Hero, mentormu," lanjutnya lagi.
Aiden tak mengerti, ia bingung dengan semua hal ini. Ia benci kenapa selalu menjadi seseorang yang tak tahu apa-apa. Alisnya berkerut, "Mentor? Maksudmu?" tanyanya.
Bukannya menjawab, orang bernama 'Hero' ini malah tertawa, ia memandang Dennis dan dengan matanya menunjuk Aiden, semacam isyarat untuk menjelaskan.
"Dia adalah mentor para murid White, Aiden. Orang yang bertanggung jawab mengawasi kita di sini. Semacam guru pembimbing," jelas Dennis. Joshua dan Casey hanya mengangguk-angguk, "Kau bisa meminta tolong atau bertanya tentang semua hal yang tak kau mengerti padanya." lanjutnya.
Aiden diam sambil memandang mentornya itu, ia masih ragu tapi akhirnya buka suara juga. "Aku ingin pergi dari sini—"
"Aiden," Casey menggeram, bosan dengan kalimat itu. Anak ini benar-benar keras kepala dan sulit diberitahu.
"Aku mau pergi dari sini," ulangnya tanpa menghiraukan Casey.
Sang mentor memandangnya lekat. "Kenapa kau mau pergi?" tanyanya tak bermaksud apa-apa melainkan hanya ingin sekedar tahu. "Belum ada satu hari kau di sini," lanjutnya lagi, membuat Aiden menunduk.
"Aku tidak mau di sini. Di sini ada—" napasnya seakan tercekat, "—vampire. Aku takut." jelasnya, matanya berkaca-kaca dan rasa takutnya kembali tumbuh saat bayangan sepasang mata merah dan taring itu kembali. Tubuhnya kembali bergetar.
Menatap anak didik itu Hero tak bisa berbuat lebih. "Aku mengerti," ujar sang mentor. Ia menunduk dan tersenyum tanda penyesalan sebelum berkata lagi. "Tapi kau tetap tak bisa pergi, Aiden. Sorry."
Itu adalah kata yang sama yang diucapkan Dennis, hal yang tak ingin didengarnya lagi. Tidak bisa pergi. "…Kenapa?" tanyanya pelan, suaranya bergetar, meski ia sudah tahu jawabannya. Dennis sudah menjelaskan semuanya tapi ia tetap tak mau percaya.
"Karena kau terikat kontrak dengan kastil ini. Untukmu, satu setengah tahun lagi."
Aiden tersenyum, senyum sarat akan kesedihan. Senyum lelah. Ia merasa tiba-tiba tak punya tenaga. Tubuhnya merosot jatuh, bersandar ke pintu dengan pandangan kosong.
"Gerbang kastil ini bisa mengetahui niat para muridnya, Aiden. Ia takkan membiarkan siapapun keluar dari tempat ini sampai kontraknya habis. Sorry…"
Tiba-tiba saja air matanya mengalir, tanpa ia sadar. Ia ingin sekali berteriak sekarang, menyalahkan kedua orangtuanya yang membuatnya terjebak di tempat ini. Harusnya ia sadar—disuruh pindah sekolah di tengah tahun ajaran adalah sesuatu hal aneh jika tanpa alasan jelas. Harusnya ia sadar saat melihat wajah khawatir ibunya saat melepasnya pergi. Harusnya ia sadar, tapi ia… tidak.
"Aiden," suara Dennis kembali terdengar, dengan nada khawatirnya yang semakin mengingatkannya pada sang Mum.
Mum, Dad... kenapa kalian lakukan ini?
Aiden merasakan kepalanya pusing dan sekitarnya berputar. Pandangannya memburam karena air mata. Dadanya sesak sekali. Ia menangis semakin keras sesaat sebelum—
BRUGH!
Semuanya gelap.
—o0o—
Marcus berjalan di koridor dengan pikiran penuh, masih membawa buku yang diberikan mentornya tadi. Ia tak berniat masuk ke kelas setelah ini, lebih ingin berdiam diri di kamarnya sambil merenung. Mungkin menghabiskan waktu dengan membaca buku di tangannya. Ia tersenyum ke arah potret-potret sebagai penghormatan saat melewati mereka, yang—entah nyata atau tidak—dibalas senyuman juga oleh potret-potret itu.
Ia terpaku sejenak saat menatap pentagram di ujung koridor, ia menutup matanya dan berdesis pelan seaakan berkata sesuatu sebelum mengambil arah kiri.
Sama seperti milik para White, di sepanjang koridor ini terdapat pintu-pintu kayu coklat berukir dengan papan nomor. Marcus terus berjalan hingga ia sampai di depan pintu berpapan nomor 111, kamarnya. Ia membuka pintu dan masuk.
Nuansa gelap seketika menyambutnya karena perapian dimatikan, tapi ia tak peduli karena ia masih bisa dengan jelas melihat semuanya. Terimakasih pada penglihatannya yang benar-benar luar biasa. Ia melangkah lebih jauh dan tersentak saat merasakan ada aura orang lain di sini, duduk di sofa, ia fikir. Dan tiba-tiba perapian itu menyala, membuat ruangan yang tadinya gelap sekarang menjadi remang-remang.
"Andrew?" ujarnya sambil mendekat, memastikan bahwa sosok itu benar-benar 'Andrew' yang ia maksud. Sosok tampan dengan kulit pucat tersenyum manis menampikkan lesung pipinya. Benar-benar Andrew. "Sedang apa kau di sini?" tanya Marcus heran sambil menundukkan diri di sofa, di samping sosok itu setelah terlebih dahulu menyimpan buku 'Stella and Andy' di meja.
Andrew tersenyum dan langsung memeluk sosok di sampingnya, "Tadi ada Bryan di sini. Tapi dia pergi bersama Henry tak lama sebelum kau datang." Marcus hanya ber'oh' ria saat mendengarnya, lebih memilih menyamankan dirinya bersandar pada Andrew yang sekarang mengelus rambutnya sayang.
"Aku sudah dengar tentang penyerangan itu. Sebenarnya ada apa?" Andrew bertanya lagi, membuat orang di pelukannya mendesah berat. Marcus sangat tak suka membahas ini. Ia bosan. Dan setiap orang bertanya lagi tentang hal ini, pikirannya malah bertambah kacau.
"Entahlah. Terjadi begitu saja," jawab Marcus acuh tak acuh, tak ingin benar-benar menjawab karena ya, dia sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannya. "Jangan bicarakan itu," nadanya dingin tapi terdengar mengancam.
Andrew hanya mengangguk-angguk saja, terus mengelus rambut Marcus dengan sayang. Menikmati kebersamaan mereka yang sudah sangat jarang. Karena dia sibuk, karena Marcus sibuk.
"Lihat Vincent?" tanya Andrew tak berapa lama setelah hening menyapa.
Marcus menggeleng memang ia tak lihat teman sekamarnya itu sejak tadi, terakhir kali saat mereka pergi bersama ke cafetarian sebelum ia pergi ke kantor U-know.
"Apa yang dikatakan mentor?"
Marcus memutar matanya bosan, kenapa topik ini tak pernah bisa dihindarinya, "Sesuatu tentang pengendalian diri, contoh dan sebagainya—entahlah, aku tak mendengar semua racauannya."
Andrew hanya terkekeh. Sudah paham betul dengan sifat orang dalam pelukannya ini.
"Lebih baik kau cari Vincent," Marcus bangkit dari duduk nyaman bersandarnya. Ia menatap sosok di depannya dengan datar, seperti biasa. "Tadi dia bertemu dengan kakaknya. Kau tahu sendiri dia," sahutnya lagi. Berlalu begitu saja sambil beranjak menuju lemari berpintu kaca, membukanya dan mengambil salah satu botol wine dari sana.
Andrew terdiam—agak tak yakin. Ia menatap Marcus.
"Apalagi? Kenapa diam?"
Andrew masih ragu, sebenarnya dia ingin bertanya lebih banyak tentang penyerangan tadi pada Marcus. Tapi dia kelihatan sekali tak berniat untuk membahasnya. "Kau yakin?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, sana cari dia. Aku tidak apa-apa."
Menatap lekat untuk terakhir kali, akhirnya ia bangkit dari duduknya, "Baiklah. Tapi kau harus cerita lain kali, oke?"
Marcus mengangguk malas.
Andrew tersenyum sebelum pergi dan berkata, "Bye, Baby."
"Bye, Kakak."
Dan sosok itu benar-benar pergi.
Marcus benar-benar merasa jadi anak berumur lima tahun lagi. Kakaknya yang satu itu, benar-benar overprotectif.
—o0o—
Suasana hening menyapa ruangan yang tadinya dipenuhi jeritan histeris dan tangisan putus asa milik Aiden. Sosok itu sekarang tengah tertidur—pingsan—di ranjangnya di temani Casey yang duduk di samping ranjang, setia mengusap sayang rambutnya, mencoba menyalurkan ketenangan. Wajah pucat Aiden dan bekas air mata di pipinya mau tak mau membuat Casey, Dennis dan Joshua khawatir. Meski baru bertemu dan saling mengenal, ada perasaan sayang dalam diri mereka pada sosok yang kini tengah terbaring itu. Mereka bertiga tahu, bukanlah pengalaman yang menyenangkan diserang di hari pertama sekolah—hampir mati, mengalami hal-hal mengerikan, menerima kenyataan yang sama sekali tak ia tahu-menahu.
Diantara mereka semua, Dennis lah yang paling merasa bersalah. Ia lalai. Harusnya ia memberitahu Aiden semua yang harus ia tahu kemarin, sebelum kejadian itu—sehingga setidaknya ia bisa lebih berhati-hati, meski mungkin takkan merubah apapun. Ia juga yang seharusnya memastikan Aiden mengikutinya dan bukannya berdiam diri sendirian di depan keempat Black itu, sehingga dia diserang. Semua ini… salahnya.
Joshua tak jauh berbeda, ia merasakan sesuatu dalam dadanya saat melihat Aiden yang begitu takut dan gemetaran di dekapannya kala itu, saat di mana ia membawanya menjauhi tempat itu. Begitu rapuh dan lemah. Belum lagi saat melihat Aiden mengamuk beberapa puluh menit yang lalu, meminta pulang, memanggil Mum dan Dad-nya dengan putus asa.
"Sudahlah kalian berdua," Casey buka suara, ia berdiri dan menarik kelambu menutup ranjang Aiden, berjalan menghampiri kedua temannya yang kini terduduk di lantai yang dilapisi karpet berudu dalam diam. "Kita tak tahu ini akan terjadi. Kita tak mengharapkannya," lanjutnya. Tapi meski begitu, Casey pun memiliki kekhawatiran yang sama tapi ia tak mau menunjukkannya karena itu malah akan membuat mereka semakin merasa bersalah.
"Kau dengar dia tadi? Dia menangis dan bilang ingin pergi dari sini sambil memanggil Mum dan Dad-nya. Ia pasti sangat ketakutan," ujar Dennis. Wajahnya murung karena masih menganggap semua kejadian ini merupakan keselahannya.
"Aku juga begitu saat pertama—kita semua begitu. Terkejut. Tapi lihat sekarang... Aku tahu nanti dia akan terbiasa." Casey bicara lagi, mencoba meyakinkan Dennis jika semua pikiran menyalahkan diri sendirinya atas kejadian itu sama sekali tak benar. Itu semua bukan salahnya.
"Tapi dia hampir mati!" Dennis berkata lagi, sudah tak bisa menahan emosinya yang entah kenapa tak stabil. Ia bisa merasakan matanya memanas, "Dan kita tak melakukan apa-apa saat itu terjadi. Aku bahkan menghalangimu yang ingin menolongnya," lanjutnya lemas.
Casey tersenyum getir mendengar itu. Ya, mereka memang tak melakukan apapun saat Aiden di serang. Mereka diam—hanya menatap dengan pandangan terkejut tanpa berbuat apa-apa, "Kita takut, Dennis," belanya. Meski sebagian hatinya membenarkan ucapan Dennis. Tapi kalau saja Dennis tak menahannya, mungkin ia sudah mendapat luka di sana-sini sekarang.
Hero memandang mereka tanpa berkata apapun. Ia tahu sekarang bukan saatnya untuk berbicara.
"Aku akan mengambil makanan." Joshua bangkit dari duduknya, merasa sudah tak kuat mendengar perbincangan mereka. Ia sama menyesalnya dengan mereka berdua, dan kini penyesalan di hatinya semakin besar setelah mendengar percakapan itu. Ia melangkah menuju pintu dan pergi—menyisakan Casey dan Dennis juga sang mentor yang menjaga Aiden.
"Ia ingin pulang dan itu tak bisa dilakukan," Dennis berujar lagi sambil memandang sayu ranjang di samping pintu kamar mandi, "Tak ada yang bisa keluar dari sini."
Casey mengangguk saja. Peraturannya memang dibuat seperti itu. Tak ada satupun yang bisa melepaskan diri mereka dengan kontrak kastil ini sebelum waktu mereka habis. Dan untuk Aiden, itu masih saru setengah tahun lagi.
Casey menerawang, mencoba mengingat saat ia pertama kali datang ke kastil ini dan mengetahui semua kenyataan mengerikan di dalamnya. Ia begitu terkejut, apalagi saat tahu bahwa adiknya—seseorang yang paling ia benci di dunia ini juga berada di sini. Ia berniat kabur pada malam hari, mengendap-ngendap ke luar kastil dengan semua barang bawaannya dan yang ia lakukan hanyalah berputar-putar mengelilingi halaman kastil sampai fajar menyingsing tanpa pernah menemui gerbangnya.
Barulah ia tahu keesokan harinya
—Ia tak bisa keluar dengan niat pergi dari kastil ini yang berada dalam hatinya.
—o0o—
Joshua berjalan di koridor sendiri dengan pikiran yang aneh. Pikirannya dipenuhi dengan Aiden. Ia mau tak mau merasa iba juga dengan anak itu, dia tak tahu apa-apa dan sekarang terjebak di sini untuk satu setengah tahun ke depan. Melihatnya menangis seperti tadi mengingatkan ia akan adik perempuannya—May. Yang mungkin sekarang berada di China sana.
juga cengeng. Selalu memanggil ayah dan ibunya saat menangis.
Betapa ia rindu adik kecilnya—yang sekarang pasti sudah besar—itu.
Memikirkan May membuat perjalan Joshua menuju cafetarian terasa begitu cepat meski harus melewati lorong panjang. Tahu-tahu ia sudah berada di depan pintunya yang terbuka lebar. Beberapa anak berada di sana, sedang menikmati hidangan yang tersaji—tak heran karena ini sudah hampir pukul setengah sebelas. Ia tahu karena ia melihat jam yang terpajang di dinding. Ini saatnya istirahat pertama.
Joshua menatap ngeri bekas kejadian tadi pagi saat melangkah ke dalam. Masih ada. Bekas cakaran di dinding dan lantai retak. Ia menggeleng sebelum menuju stand makanan—mengantri bersama tiga atau empat siswa lainnya.
Matanya melihat ke sekeliling sambil menunggu antrian, cafetarian ini tak sepenuh saat sarapan tadi, mungkin karena cafetarian ini berada di lantai satu sedangkan kelas berada satu lantai di atasnya membuat kebayakan siswa malas. Meja dan bangku-bangku panjang yang tersusun terlihat kosong, hanya terisi beberapa anak karena sebagian besar dari orang ini membawa makanannya ke luar, mungkin ke kelasnya.
Ah, ia jadi ingat kalau dipikir ia sudah tidak menghadiri dua kelas hari ini.
Siswa paling depan dan kedua dari depan sudah selesai—meninggalkan antrian. Tinggal satu orang lagi yang ada di depannya.
"Hei, Joshua."
Joshua menoleh saat merasa namanya terpanggil, seseorang yang sekarang berada tepat mengantri di belakangnya, "Jordan. Hei," balasnya saat mengenali siapa itu. Jordan, salah satu temannya. Jordan adalah pria bertubuh besar dan tegap—ia terlihat seperti preman dengan semua anting-anting dan tindik itu, tapi Joshua sudah mengenalnya dengan baik dan tahu bahwa Jordan itu baik. Yah, dia hanya tempramen.
"Aku tidak melihatmu di kelas selama dua pelajaran hari ini. Pasti gara-gara bocah itu. Bagaimana keadaannya?" tanyanya lagi dengan ekspresi penasaran. Rupanya dia salah satu siswa yang menyaksikan kejadian saat sarapan tadi.
Joshua tersenyum tipis dan hendak menjawab tapi—
Sosok di depannya sudah keluar dari barisan dan sekarang saatnya untuk memesan. Ia memberikan isyarat untuk Jordan supaya menunggu dan kembali menatap pelayan cafetarian, "4 orang. Ditambah segelas susu dan semangkuk bubur, please?" pintanya sopan sambil tersenyum dan langsung bergerak, disediakan oleh pelayan itu tanpa lama.
Joshua kembali menatap Jordan yang kini sibuk berbicara dengan orang lain di belakangnya, ia tersenyum lebar saat tahu siapa pria bertubuh kecil dan manis itu, "Hei, Nath," sapanya sambil tersenyum.
"Hei, Joshua." Balas Nathan sambil tersenyum manis. Ah, dia memang manis dan dengan tersenyum seperti itu membuatnya tampak semakin manis. Aish, Joshua, berpikiran apa kau ini.
"Memesan makanan juga?" tanyanya sekedar basa-basi yang langsung dibalas Nathan dengan anggukan. Keduanya saling menatap dan melayangkan senyum.
Jordan menatap mereka berdua bergantian dengan raut curiga, "Kenapa kalian saling senyam-senyum begitu?" tanyanya risih. Masalahnya ia berada di antara keduanya. Benar-benar posisi tak nyaman.
"Pesanan siap."
Tersentak sebentar, Joshua kembali berbalik, ia melenguh saat tahu ada satu masalah lagi, "Bagaimana caraku membawa ini semua?" gumamnya pada diri sendiri. Di depannya ada tiga nampan—dan ia tak mungkin langsung membawa semua nampan ini. Masa ia harus bolak-balik? Itu akan melelahkan.
"Butuh bantuan?" Jordan bertanya dari arah belakang, tahu kesulitan yang dihadapi oleh teman sekelasnya itu. Ia maju dan mengambilkan satu nampan lalu menatap Nathan, "Nath?" sahutnya. Nathan tersenyum dan mengangguk sebelum membawakan satu nampan tanpa kesusahan.
"Tapi kalian 'kan juga akan memesan?" tanya Joshua merasa begitu tak enak.
"It's Okey. Kita masih kenyang dengan sarapan tadi. Sementara kalian kupikir belum makan, right?" balas Jordan sebelum berjalan lebih dulu meninggalkan barisan dengan membuat isyarat supaya mereka berdua mengikutinya karena barisan semakin panjang dan arusnya terhambat karena mereka belum pergi.
"Thanks," ujar Joshua sambil tersenyum sebelum menyusul keduanya dengan sebuah nampan di tangannya.
Mereka berjalan melewati koridor panjang sekarang. Joshua mensejajarkan langkahnya dengan Nathan sementara Jordan memimpin di depan—begitu semangat entah karena apa. "Kau bisa memakan punyaku kalau kau mau," kata Joshua pada Nathan, menawarkan. Ia masih merasa tak enak karena menganggunya yang akan memesan makanan sehingga tak jadi seperti ini. Mereka juga pasti lapar.
Nathan tersenyum manis sambil menunduk, ia menggeleng, "Tak apa," katanya.
Jordan yang berada di depan, risih mendengar mereka yang berbincang seperti itu, akhirnya ia berkomentar, "Lebih baik kalian makan berdua makanan kalau begitu."
Joshua tak menjawab. Ia tersenyum kikuk sambil berusaha mengalihkan pandangannya kemana saja— terkesan salah tingkah. Sementara wajah Nathan merah di sampingnya sambil tertunduk.
Mereka kembali berjalan dalam hening yang canggung.
"Lupakan kata-kataku, kalian ngobrolah lagi," sahut Jordan tba-tiba yang merasa ngeri dengan suasana sepi tanpa suara seperti ini.
Joshua tertawa sementara Nathan tersenyum.
Setelah mencapai ujung lorong mereka berbelok ke kanan. Mereka sampai di depan pintu kamar 213, dan Jordan masuk terlebih dahulu seperti itu adalah kamar miliknya. Benar-benar seenaknya.
"Makanan dataaang," sahutnya sambil melangkah masuk diikuti Nathan dan Joshua, yang dengan gentlenya mempersilahkan Nathan masuk lebih dulu. Uhuk!
Casey mendesis saat mendengar suara ribut. Ia tidak suka keributan dan semua hal tentang itu, benar-benar tak sadar diri karena biasanya dialah yang memunculkan keributan itu dengan mulut pedasnya. "Kenapa raccon ini bisa ada di sini?" tanyanya tak percaya saat Jordan datang ke arahnya menyodorkan nampan berisi dua piring makanan dan juice sambil tersenyum begitu lebar.
"Pesanan datang, My Princess," kata Jordan sambil berlutut, mengarahkan makanannya ke atas seperti memberikan sebuah perhiasan mahal kepada seorang putri.
Haish. Casey membuang muka, tapi mengambil satu piring dan gelas berisi orange juice. Jordan tersenyum senang karenanya dan dia langsung menghampiri Dennis yang terduduk di atas karpet berudu, "Untukmu, Dennis." yang diterima Dennis tanpa banyak bicara.
Mereka duduk melingkar di karpet berudu di tengah ruangan. Casey, Dennis dan Joshua sedang makan sekarang. Sementara Nathan mendekati ranjang Aiden dan menyimpan bubur dan susu di atas meja nakas di samping ranjang Aiden.
Nathan menatap khawatir wajah pucat itu dan memegang dahinya. Panas. Pasti demam. Nathan tahu bahwa sosok itu pasti terguncang hingga jadi seperti ini.
"Kau tak makan, Nath?" Casey bertanya saat Nathan kembali bergabung dan duduk dengan mereka tepat di sebelah Joshua, hanya diam dan memandang. Jordan tengah makan juga, karena tadi Joshua meminta 4 porsi yang mana diperuntukkan untuk Hero, yang rupanya sudah pamit pergi terlebih dahulu sebelum mereka datang.
"Tidak usah," sahut Nathan sambil tersenyum tapi detik berikutnya—
KRIIUUKK
terdengar dari perut Nathan.Semuanya tertawa, sementara Nathan terlihat benar-benar malu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suara tawa memenuhi ruangan itu—didominasi oleh suara Jordan, ia pikir.
"Eh?"
Nathan begitu kaget saat sendok berisi penuh makanan di sodorkan ke arahnya, membuat tawa seketika terhenti. Ia mendongak ke samping untuk melihat siapa yang melakukannya dan seketika merona merah semakin parah saat tahu itu adalah Joshua—tengah tersenyum manis ke arahnya.
Tawa berganti siulan dan kata-kata godaan dari Jordan. Dennis hanya senyam-senyum memandang mereka sambil melanjutkan makan, sementara Casey terlihat marah, bukan karena kejadian itu melainkan karena Jordan yang begitu rebut, menurutnya.
"Kenapa diam? Ayo buka mulutmu," Joshua memintanya sambil menatap lembut matanya. Nathan membuka mulutnya dengan patuh.
Entah bagaimana, rasa senang membuncah dihatinya.
—o0o—
Bryan tersenyum menatap sosok manis di depannya, secepat kilat ia mengecup pipinya. Membuat pria manis yang lebih pendek darinya itu merona tak keruan. "Sampai nanti, Baby," sahutnya sambil menatap matanya lembut. Istirahat sudah habis, pria manis itu akan pergi ke kelasnya sekarang.
Bryan melebarkan senyumnya saat mendapat pelukan dari pria manis itu, "Henry sayang Bryan." Ujarnya dengan nada yang terdengar lucu.
Oh, aku juga begitu menyayangimu.
Bryan hanya tersenyum dan mengangguk tanpa balas berkata. Pria manis itu pergi—menaiki tangga setelah tersenyum sebelumnya. Benar-benar imut.
Kibum tak lagi merasakan sakitnya luka di lengan kanannya, yang tertancap pecahan piring saat berusaha menghentikan Marcus tadi pagi—memang lukanya akan sembuh dengan begitu cepat dan tak meninggalkan bekas—terimakasih pada kekuatan vampirenya—tapi tetap saja rasanya sakit.
Vampire memang punya banyak keistimewan; imortal, regenerasi tubuh yang cepat—jika luka tak disebabkan benda yang terbuat dari perak atau tembaga, indra penciuman dan pembau yang benar-benar sensitif. Selain itu juga mereka bisa membaca pikiran dan bertelepati. Bukankah itu keren?
"Marcus!" Bryan begitu terkejut saat mendapati Marcus berada di kamar mereka, duduk di sofa dengan posisi andalannya, bersandar ke sandaran sofa dengan tangan terlipat, sambil membuka sebuah buku—mungkin ini satu-satunya yang aneh. Marcus tak pernah terlihat sedang membaca buku.
"Hei, Bryan." sapa Marcus saat melihat Bryan masuk dengan tampan herannya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Memangnya aku kenapa?"
Bryan tak menyahut. Lebih baik tak mengingat-ngingat kejadian tadi pagi. Dari wajahnya saja sudah kelihatan dia tak mau membahasnya. Bryan menghempaskan tubuhnya di kursi duduk merah di ujung ruangan. Ia menatap Marcus lekat-lekat dan bisa dengan begitu jelas melihat ekspresi seriusnya yang sedang membaca. Mungkin sedikit gila membaca di tempat remang-remang seperti ini, tapi mereka punya kelebihan dengan indera penglihatannya ingat? Jadi bukan masalah.
Kibum menyerhit saat membaca judul buku itu, "Stella and Andy? Kau tidak salah baca, Marcus?" tanyanya aneh—seperti baru saja melihat seorang badut berpakaian balet menari hula-hula di depannya. Aneh sekali.
Marcus melihat judulnya dan yakin kalau dia memang tak salah membaca buku. Ini memang buku yang diberikan U-know beberapa waktu lalu, buku yang kini telah setengah jalan ia baca, "Memangnya kenapa?" Marcus bertanya.
"Itu buku romance-tragedy kan? kau sakit, Marcus?" Bryan terdengar begitu khawatir. Itu seperti bukan Marcus yang biasanya. Marcus yang biasanya itu lebih memilih diam dan merenung di banding membaca buku. Aneh melihatnya duduk dan tengah membaca—apalagi bacaannya bergenre romance-tragedy yang begitu ugh….
"Kau tau cerita ini?" tanya Marcus, menghentikan acara membacanya.
Bryan mengangguk saja, dia memang tahu, dia pernah membacanya. "Stella and Andy, sebuah kisah cinta antara manusia dan vampire yang berakhir tragis. Kenapa?"
Marcus menggeleng dan ber-oh ria. Jujur ia penasaran dengan setengah lagi cerita dalam buku itu, tapi ia tak suka dengan tatapan Bryan yang memandangnya dengan tatapan seakan dirinya seorang badut berpakaian balet yang sedang menari hula-hula. Oh, ia bisa membaca pikiran, tentu saja dia tahu.
Ia bisa melanjutkannya nanti.
"Kemana Spencer?" Marcus memecah keheningan, ia tak melihat satu temannya itu sejak tadi, temannya itu seperti hilang ditelan bumi. Tak terlalu peduli juga sih, hanya penasaran.
"Masuk kelas kukira," Bryan menebak asal, "Entah keluar kastil memangsa kambing."
Marcus tertawa mendengar kalimat yang bahkan diucapkan dengan nada dingin itu—benar-benar lelucon yang tak lucu sebenarnya. Ia mengambil cangkir berisi cairan merah pekat yang ia tuang dari botol wine di meja. Darah…
"Mau main catur?" tawarnya.
Bryan menyeringai, "Boleh—" dan mulai mendekat ke arah sofa. Duduk bersebrangan dengan Marcus.
Papan catur dibuka dan mereka berdua sibuk mengatur bidak-bidak sesuai tempat.
"Kenapa tak masuk kelas?"
"Kukira alasanku akan sama dengan alasanmu." Mereka berdua berpandangan dan berujar kompak dalam detik yang sama. "Malas," kemudian tertawa bersama. Astaga.
Langkah pertama diambil Bryan sebagai pemain bidak putih, dua langkah pion yang berada di tengah. Mereka larut dalam permainan catur mereka. Tapi masih sempat buka suara untuk sekedar ngobrol hal-hal random dan tak penting.
"Sorry untuk yang tadi pagi," ujarnya tapi sama sekali tak bernada menyesal.
"It's okay," balas Kibum tak acuh.
Marcus menjalankan kudanya.
"Mentor bilang apa padamu? Ia memarahimu?"
"Bukan marah, hanya mengomel."
Bryan hanya terkekeh mendengar jawaban temannya itu sebelum menjalankan kudanya dan memakan pion hitam milik Marcus.
"Kau bertemu Andrew di sini tadi?"
"Ya," jawabnya pendek.
Kali ini Marcus yang memakan bidak putih Bryan.
"Aku merasa seperti berumur lima tahun lagi."
"Brother complex."
"Yeah."
Raja Bryan terancam, ia menggeserkannya.
"Kau pergi dengan Henry?"
"Ya."
"Ngapain kalian?" tanyanya setengah tak peduli.
"Apa urusanmu untuk tahu?"
Marcus tak menyahut sementara Bryan terkekeh. Kali ini raja Marcus yang terancam.
Hening menyelimuti mereka setelahnya. Tak ada yang bersuara karena permainan caturnya semakin seru. Hanya tinggal beberada bidak yang bertahan di atas papan catur. Tapi beberapa menit kemudian—
"Skak Mat!" Bryan berujar senang. Ia menang. Menyenangkan bisa selalu menang.
Marcus mengerang tak suka—kesal. "Agh!"
Bryan menatapnya dengan sebuah seringai, "Mau main lagi?" tawarnya.
Marcus mendongak cepat, menatap Bryan dengan tatapan tajam.
—o0o—
Aiden mengerang saat kesadarannya mulai kembali. Kepalanya terasa berat saat ia mencoba membuka matanya yang serasa dilem dan sulit dibuka. Dalam hati ia berharap yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamarnya yang berwarna biru, tapi ia harus kecewa karena saat pandangannya jelas yang ia lihat hanyalah atas ranjang kayunya yang terukir.
Ia mencoba mendudukkan dirinya meski agak sulit karena tubuhnya sulit digerakkan. Ia menarik kelambunya dan melihat kelambu ranjang yang lain sudah diturunkan. Ia pasti pingsan selama berjam-jam.
Rasa haus menerpanya, tenggorokkannya terasa begitu kering. Ia mengerling dan mendapati segelas susu di atas meja nakas, meraihnya dan langsung meneguk setengah isinya. Seketika rasa hausnya hilang.
Dengan linglung ia menatap sekeliling, ia tak melihat kopernya lagi—mungkin sudah kembali di rapikan ke dalam lemari. Ia juga memakai piamanya, mungkin mereka yang menggantinya juga.
Aiden bangkit dari ranjangnya meski susah payah. Kakinya terasa lemas tapi ia memaksakannya. Ia mengambil sweater rajut biru miliknya dan dengan asal memakainya. Ia berjalan pelan ke arah pintu. Entah kenapa ia merasa ingin keluar dari sini, ia rindu udara segar.
Banyak yang dipikirkannya saat ia berjalan di koridor sambil memeluk tubuhnya sendiri. Rasa takutnya akan potret-potret yang seolah mengikuti langkahnya terlupa karena ia tak bisa focus. Semuanya terasa mengawang-awang baginya. Wajahnya pucat—mungkin karena udara dingin dan dia belum makan seharian. Ia sempat melihat bubur di meja nakas tapi ia tak berniat memakannya.
Kakinya melangkah begitu saja seakan bisa berfikir, sementara Aiden masih sibuk dengan semua pikirannya yang begitu banyak dan bagaikan gulungan benang kusut.
Ia bahkan mungkin tak sadar sudah melewati lapang basket dan tenis tadi. Ia berjalan terus, mungkin ke arah belakang kastil. Karena saat ia sadar ia sudah berada di tempat ini—sebuah taman yang indah yang dihiasi beberapa jenis bunga, didominasi mawar hitam—yang benar-benar membuatnya terpana.
Ia tak tahu ada tempat seperti ini di belakang kastil, mungkin hanya beruntung bisa menemukannya. Ia berjalan menuju salah satu pohon yang cukup rindang dan mendudukkan dirinya di bawahnya—bisa merasakan rumput dibawahnya basah saat ia duduk.
Dari sini ia bisa memandang langit. Indah dengan jutaan bintang dan cahya bulan separuh yang selalu sukses membuatnya tersenyum. Angin malam dingin yang menyapa tak dipedulikkannya—meski tubuhnya menggigil dan mencoba memeluk lututnya sendiri karena cuaca yang tak bersahabat.
"Mum... Dad..."
Entah kenapa wajah mereka berdua terbayang di langit yang tengah ditatapnya—mereka tersenyum padanya. Ada rasa kerinduan besar menyusup dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti mengapa. Rasa kesal dan bencinya yang tadi menguasi dirinya menguap, karena yang ia rasakan sekarang malah kerinduan yang sangat besar. Perlahan ia menutup matanya hingga tanpa sadar air matanya jatuh—membasahi kedua pipinya yang berwarna putih pucat, tak berwarna.
Rasa sesak itu semakin menjadi saat isakannya semakin keras tanpa bisa ditahannya.
Ia benci ini.
Ia benci dirinya yang lemah dan cengeng. Ia benci dirinya yang manja dan bergantung pada orang tua. Ia benci dirinya yang takut. Ia benci dirinya yang selalu tak tahu apa-apa. Terlebih—ia benci dirinya yang selalu menjadi anak penurut tanpa bisa menuntut alasan.
Wuuuusssshh
Ia menggigil lagi saat angin semakin berhembus kencang, kali ini lebih dingin. Tiba-tiba saja dia merasakan kepalanya pusing dan pandangannya kabur. Semuanya terasa berputar. Aiden mencoba bangkit dengan menjadikan batang pohon sebagai tumpuannya. Benar-benar bukan ide baik untuk keluar di malam hari dari keadaan kondisi tubuh begitu buruk dan belum makan seharian.
Ia mencoba melangkah lagi—
tapi baru selangkah tubuhnya sudah terhuyung dan kembali bersandar di batang pohon. Ia memegang kepalanya yang berdenyut-denyut menyakitkan.
Sreeeet
"Sedang apa kau di sini?"
Suara itu… entah kenapa terasa begitu familiar. Nada dingin itu, terasa begitu akrab. Meski pandangannya buram dan berbayang, ia bisa melihat sosok itu. Berdiri tegak tak jauh darinya dengan kedua tangan di saku.
DEG!
Tiba-tiba saja dia merasa jantungnya berdebar cepat karena ketakutan itu datang lagi, napasnya tercekat. Ketakutan membungkus setiap bagian tubuhnya sehingga tak bisa bergerak. Seincipun tak bisa.
"Di sini dingin, lebih baik kau masuk."
Alarm bahaya dalam kepalanya berdering keras memberi peringatan, menambah sakit di kepalanya saat sosok itu maju meski hanya dua langkah. Ia mengangkat tangannya ke kepalanya yang seakan-akan bisa pecah kapanpun karena rasa sakit. Meski begitu ia masih bisa berfikir, masih bisa merasakan takut. Ia mengenal sosok itu.
Sosok itu—
Marcus.
DEG
DEG
DEG
Ia ingin menjerit tapi ia bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya. Tenggorokannya kering. Lututnya kembali lemas dan pandangannya yang berkunang bergerak gelisah mencari-cari siapun yang bisa menolongnya.
"Ahhhhh!" ia menjerit saat sakit dikepalanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Sosok itu mendekat, ia bisa melihatnya.
Pandangannya yang buram mulai menghitam dan perlahan memekat, matanya terasa begitu berat dan sulit untuk terus dibuka. Sedetik kemudian, ia bisa merasakan tubuhnya limbung, jatuh—
Tapi
—ia sama sekali tak merasakan sakit. Karena sosok itu menangkap tubuhnya sebelum sempat menyentuh tanah di bawahnya. Sosok itu memeluknya, ia bisa merasakannya.
Pelukan itu terasa begitu dingin, sedingin es—
…tapi entah kenapa begitu nyaman bagi Aiden.
Di setengah sadarnya ia menatap sosok itu, menatap sayu mata hitamnya. Entah karena ia sudah gila atau apa—mungkin pengaruh sakitnya, ia malah menganggap sepasang manik hitam itu begitu menawan, hitam kelam, dalam tak berdasar. Penuh pesona—
…membuatnya tak bisa berpaling.
Napasnya seakan terhenti. Jantungnya masih berdebar begitu kencang—tapi ia tahu ini karena alasannya berbeda. Matanya mulai kembali berat—perlahan menutup sepenuhnya tapi ia masih menyisakan kesadarannya saat ia mendengar samar sosok itu berkata dingin—namun terdengar begitu lirih di telinganya.
"Jangan takut padaku."
Dan kesadarannya benar-benar hilang. Dipangkuan orang yang hampir membunuhnya tadi pagi. Dipangkuan Marcus.
—o0o—
To be Continue
—o0o—
Cuaps Author's
Update lelet, author tahu ._.v Hehe mianhae~~ Udah keliatan belum pair-pairnya? Udah dong yaaa~~ /ngerayu. AHHH! Ternyata responnya lebih baik dari harapan author :* jangan lupa buat review lagi ya? *tebar kolor siwon*
Author bener-bener mengharapkan kometar, saran kritikan (flame juga boleh) dari pada reader sekalian.
Ceritanya aneh? Typo?
KOMEN PLIS :D
—o0o—
Spesial thanks buat semua yang udah review/fav/alert story ini
dewi90 | Zoa | Yeye | Lee min ra | Anonymouss | Fishydew | Evil Thieves | ika. zordick | kyukyu | rarakyu | haehyukkie | dew'yellow | Lullu48129 | Tsukishima Kirara | cho devi | lee wonnie | kim hyura | kyukyukyu | LYE346 | nita trisnayanti | nieyakyu | SM School Lovers |
dan untuk 6 orang bernickname Guest.
*BIG HUG*
See yaa ^^
Bandung. 15/07/2012
(Edited: Bandung 03/05/2013)
