SM SCHOOL
© BluePrince14
Declaimer:
Super Junior isn't Mine.
Cast:
Member's Super Junior in their western name;
Leeteuk as Dennis. Heechul as Casey. Hankyung as Joshua. Kangin as Jordan. Yesung as Jerome. Shindong as Mathew. Sungmin as Vincent. Eunhyuk as Spencer. Donghae as Aiden. Siwon as Andrew. Ryeowook as Nathan. Kibum as Bryan. Kyuhyun as Marcus.
Yunho as U-know. Jaejoongas Hero.
Genre:
Fantasy/Romance
Warning:
Alternate Universe, Out of Characters, Miss Typo(s), YAOI/BL, Badplot and Descript, Crack Pair!
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Summary:
Sejak kapan mangsa dan pemangsa bisa hidup damai bersama? Vampire dan manusia? Itu sama saja mengantarkan nyawa! "Aku mau pergi dari sini!"
—o0o—
Chapter III
That Voice
—o0o—
Marcus tak tahu apa yang merasukinya kala itu. Ia hanya berniat mencari udara segar setelah kalah dari Bryan bermain catur dengan cara pergi keluar kastil dan berjalan-jalan ke kota. Ia kembali saat malam tiba dan ia tak peduli jika ia melewatkan semua kelas hari itu karena yang terpenting adalah rasa kesalnya bisa hilang. Namun sepertinya tak semudah itu. Karena setelah ia berjalan-jalan modnya malah semakin jelek. Salahkan para wanita-wanita di kota itu yang terus-menerus mengusiknya.
Menyebalkan.
Ia masih sebal mengingat Bryan menertawainya meski secara tak langsung, karena ia hanya menyeringai dan menggodanya dengan menawarinya kembali bermain. Huh. Dia kenal temannya itu. Diantara semua kesempurnaan seorang Marcus pun terdapat kekurang yang menjadikannya tak sempurna—selalu kalah bermain catur dari Bryan. Hal sepele memang, ternilai tak penting bahkan. Tapi dia Marcus. Orang—em, oke—vampire egois yang selalu ingin ini-itunya terpenuhi. Ia terbiasa seperti itu hingga menjadi kebiasaan buruk yang sulit dirubah sampai sekarang. Egois.
Spencer dan Vincent mungkin bukan tandingannya dalam bermain catur, ia bisa mengalahkan mereka dalam beberapa langkah secepat kilat. Tapi, ia menganggap tak ada apa-apanya dibandingkan Bryan, meski Bryan mengalahkan dengan susah payah dan memerlukan waktu lama.
Ia sudah berada di halaman kastil. Sepi. Tentu saja. Ada jam malam di sekolah ini. Batas waktu di mana semua murid White tidak boleh meninggalkan kamar mereka dengan alasan apapun. Kebebasan diberikan kepada para murid Black karena sesunguhnya mereka memang makhluk malam 'kan? Terdengar tidak adil memang, tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang mau mengambil risiko terjadi penyerang saat malam hari saat semua guru dan mentor terlelap.
Marcus berjalan begitu saja, berjalan santai dengan kedua tangan di saku. Masih mengumpat dalam hati kenapa harus kalah.
Ia. Masih. Kesal.
Halaman kastil ini memang begitu luas dan asri. Gerbang 'ajaib' kastil ini berada jauh di depan sana, berdiri kokoh menjulang tinggi dengan warna cat yang mulai kusam dan karatan di beberapa bagian. Ada jalan setapak menuju ke sana. Di sepanjang jalan setapak itu banyak di tumbuhi semak-semak yang di pangkas dengan begitu indah. Di kanan dan di kiri jalan setapak itu adalah tanah berumput terbuka yang di lengkapi beberapa kursi taman dan banyak pohon-pohon. Ada sebuah patung air mancur terbuat dari marmer putih tepat di depan pintu kastil, menambah keindahan halaman kastil tua itu.
Marcus terus berjalan. Ia tak berniat masuk ke kastil sekarang, ia masih ingin mencari udara segar. Maka dari itu ia berbelok ke arah kiri—berjalan ke belakang kastil. Ia berjalan terus
Tapi
Wuusssshhh
Tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Kedua tangannya terkepal begitu kuat secara refleks saat mencium aroma menggiurkan yang tadi pagi menyapanya kembali terhirup penciumannya yang tajam bak binatang liar. Aroma itu terbawa oleh angin malam yang berhembus dingin. Ia mematung—tak bergerak, tapi bibirnya mengeluarkan geraman dan giginya gemeletuk. Ia mencoba menekan keinginannya meski sesuatu dalam kepalanya yang kini bangun tanpa perintahnya itu mulai berteriak-teriak menyuruhnya segera bergerak—menangkap sang mangsa yang ia yakin berada tak jauh dari tempatnya. Meski ia tak bisa melihat sosoknya dari sini karena bentuk halaman kastil yang memang melingkar.
'Ini kesempatan! Darah itu! Cepat!'
Marcus menunduk dalam, menyembunyikan taringnya yang perlahan mulai tumbuh lebih panjang daripada seharusnya. Ia ingin, demi apapun. Setetes darah tadi pagi yang ia curi dari pemuda itu sungguh penuh kenikmatan...
Darah... segar... manis...
Ia ingin merasakannya lagi.
Pembuluh nadinya serasa tersengat aliran listrik ribuan volt, berdenyut tak tentu—mengingat betapa nikmatnya darah itu saat berada di indra perasanya. Rasanya begitu memabukkan.
"Gaaaahhhhh," geraman berat keluar dari mulutnya.
Tidak.
Ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama—kesalahan bodoh seperti tadi pagi. Ia masih waras—ia harap itu benar, karena sesuatu dalam dirinya terus berteriak dan seakan-akan bisa membuatnya hilang akal karena pengaruhnya. Ia dan makhluk itu satu. Sekuat tenaga Marcus berusaha untuk tetap di tempatnya, tanah yang ia injak sekarang mungkin akan meninggalkan bekas kakinya yang tertekan ke bawah. Ia menutup matanya rapat-rapat. Berfikir diantara kesakitan dan teriakan dalam kepalanya untuk menahan hasrat akan darah yang kini menderanya tanpa henti. …Apa?
Wuusssshhh
Angin berhembus lagi.
Dan hal itu seakan hanya memperburuk keadaan karena aroma pemuda itu semakin jelas tercium olehnya indra pembaunya yang rutuki saat ini kenapa harus begitu sensitif. Mata hitam kelamnya perlahan berubah, hitam kelam itu berubah menjadi merah darah pekat—tapi ia belum mau menyerahkan kontrol tubuhnya pada makhluk dalam pikirannya. Ia masih berusaha.
Detik demi detik berlalu dalam rasa sakit yang tak tertahankan. Ia merasa sekujur tubuhnya mulai beku—kaku dan tak bisa digerakkan meski ia menginginkannya. Tangannya bergerak tanpa kendalinya, bergerak ke arah rambutnya dan mengacaknya asal. Marcus juga bisa merasakan bibirnya kini menyunggingkan senyuman mengerikan—menampakkan taringnya. Itu semua sama sekali bukan kehendaknya! …Oh, tidak.
Dan saat kakinya hendak bergerak sendiri, sesuatu menerjang benak pemuda pemuda itu. Ia ingat sesuatu. Dengan sedikit kewarasannya yang masih ia miliki secepat kilat ia
—menutup seluruh indranya.
.
.
Dan semuanya berakhir.
Tak ada lagi aroma menggiurkan itu—ia tak bisa mencium apapun sekarang. Ia sudah mematikan seluruh indranya atas kemauannya sendiri. Meski ini sangat berbahaya karena dengan menutup indranya untuk sementara begini ia takkan bisa mendeteksi apapun lagi. Ia sama seperti manusia biasa dengan begini. Perlahan namun pasti ia kembali mendapat kontrol atas tubuhnya. Matanya kembali menghitam seperti sedia kala, taringnya sudah hilang dan yang terpenting; ia sudah bisa dengan bebas menggerakkan tubuhnya.
Ia berhasil, ia bahkan tak menyangkanya. Ia mengontrol dirinya berkat potongan cerita 'Stella and Andy' yang ia ingat di saat terakhir.
Perasaan lega meresapinya saat sadar ia tak melakukan kesalahan yang sama seperti tadi pagi. Ia sungguh bersyukur karena tak perlu repot-repot kembali ke kantor sang mentor dan mendengar racauannya—lagi. Tapi mungkin ia akan mengunjunginya nanti untuk sekedar berujar 'Thanks?' (Marcus menyerhit saat memikirkannya) untuk bukunya yang ternyata sangat berguna di saat genting seperti tadi. Karena kalau tidak, mungkin pemuda yang ia yakin berada tak jauh dari tempatnya itu kini sudah terkapar kehabisan darah karena ulahnya. Dan ia tak mau itu terjadi!
Angin berhembus lebih kencang dan lebih dingin, menggoyangkan beberapa ranting pohon yang memang tumbuh lebat di sekitarnya. Tapi Marcus masih tetap diam, membeku di tempatnya dengan pikiran penuh.
Terasa hening…
Perlahan ia berjalan, ia sungguh penasaran apa yang dikerjakan sang korban penyerangan tadi pagi di tempat ini malam-malam seperti ini sendirian. Ia tahu karena ia tak mencium aroma manusia lain tadi. Tidak 'kah ia sadar itu sangat berbahaya?
Tubuhnya tersembunyi dengan apik di balik pohon yang cukup besar. Ia memandang pemuda itu, ia terduduk memeluk lututnya di bawah pohon yang cukup jauh dari tempat Marcus sekarang. Ia menghadap ke taman bunga yang di dominasi mawar hitam. Matanya memandang ke langit yang nampak suram meski bertabur bintang.
DEG!
Marcus dapat melihat kristal bening mengalir di pipinya dari tempatnya sekarang.
"Dia... menangis?" gumamnya. Marcus tak tahu kenapa dirinya begitu peduli, ini sungguh sangat bukan dirinya sekali. Tapi… ia tak suka melihat dia menangis…
Ia harusnya segera pergi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi, tapi sungguh kakinya enggan melangkah. Ingin mengamati tiap gerak-gerik pemuda itu lebih lama. Rasa penasaran mengusainya. Ia melihat pemuda itu—bersweater biru—mulai bangkit dari duduknya dengan agak limbung, menjadikan batang pohon di belakangannya sebagai topangan. Ia hendak melangkah tapi tubuhnya langsung terhuyung.
"Sedang apa kau di sini?"
Dan dengan bodohnya Marcus malah menampakkan diri. Ia tahu pemuda di depannya ini sedang dalam keadaan tak sehat, lihat saja kulitnya yang hampir menyerupai kulit pucatnya yang normal bagi dirinya tapi tak normal untuknya.
"Di sini dingin, lebih baik kau masuk."
Marcus maju dua langkah. Dan pemuda itu tampak ketakutan dengan tubuhnya yang gemetaran hebat. Matanya melirik gelisah ke sana ke mari seakan mencari sesuatu—atau seseorang? Marcus tak peduli. Ia masih dengan posisinya, menatap lekat sang pemuda dengan kedua tangan di saku.
Hening…
"Aahhhh!" tiba-tiba saja pemuda itu berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya, sebelum tubuhnya limbung dan jatuh.
Marcus bergerak secepat kilat dan menangkap sosok itu sebelum menyentuh tanah. Matanya terlihat sayu saat pandangan mereka bertemu. Mata brown yang tadi pagi ia lihat kini… kembali dilihatnya. Marcus terus memandangi mata itu hingga kelopaknya mulai menutup perlahan. Masih terlihat jelas jejak-jejak air mata di pipinya yang berwarna pucat.
Dan entah dorongan apa yang membuat Marcus berkata, "Jangan takut padaku."
Ya. Marcus hanya tak ingin pemuda itu takut padanya.
Saat dirasa sosok itu benar-benar 'tidur' dekapannya pada sosok kecil itu semakin dipererat, ia hanya ingin melakukannya—entah kenapa. Hanya ingin. Marcus menatap langit, memandangnya dengan perasaan bimbang, sebelum kembali menatap wajah damai pemuda manis dalam dekapannya.
Biarkanlah seperti ini, setidaknya untuk beberapa jam lagi dia akan merangkul pemuda ini dalam dekapannya. Pikirannya kalut saat sadar akan sesuatu yang salah yang baru ia rasakan tadi. "Kenapa… aku tidak bisa membaca pikiranmu?" gumaman pelan Marcus seakan terbawa oleh angin malam tanpa menampikkan jawaban yang pasti.
—o0o—
Merenung di bawah pohon lagi.
Hal yang biasa dilakukan seorang Vincent jika pikirannya sedang tak karuan—dan selama ini hanya ada satu alas an untuk itu; Kakaknya. Dan sepertinya, inilah salah satu saatnya untuk merenung.
Bertemu dengan sang kakak memang tidak pernah berdampak baik untuknya—dan beban pikirannya. Ekspresi muak kakaknya itu terasa sangat mengganggunya, apalagi dengan kemampuan vampirenya untuk membaca pikiran—semakin membuatnya tahu seberapa bencinya sang kakak itu padanya.
"Huh." menghela napas berat, Vincent menutup matanya. Matahari tertutup awan di atas sana, di tempat ini memang selalu seperti itu—jarang sekali matahari akan bersinar terik seorang diri. Mungkin jika ia masih manusia, ia akan menangis keras sekarang. Jujur, ia begitu merindukkan sosok sang kakak yang dulu selalu peduli padanya.
"Kau di sini?" sosok lain datang bagai kelebatan bayangan—berubah dari seekor kelelawar hitam menjadi seorang pria tampan dalam hitungan detik.
"Hmm," Vincent hanya bergumam—masih menutup matanya, menikmati suasana tenang di sekitarnya. Ia tahu siapa yang datang dan ia tak terganggu dengan hal itu. Ini sudah seperti kebiasaan baginya semenjak setahun yang lalu saat ia tahu sang kakak yang paling ia sayangi, tapi sayang sangat membenci dirinya juga bersekolah di tempat ini. Takdir seakan memepermainkannya. Mempermainkan mereka…
Vincent merasakan sesuatu yang lembut meraba pipi kanannya, mengelusnya perlahan. Tak lama ia juga merasakan kecupan di dahinya—yang mau tak mau membuat ia tak bisa lagi untuk tetap menutup matanya.
"Andrew," ujarnya terdengar lelah dengan semua ini.
"Merasa lebih baik?" sosok itu, Andrew bertanya dengan senyum manis berlesung pipi miliknya yang selalu menawan. Ditatapnya lembut mata foxy di hadapannya. Senyumnya semakin lebar saat sosok manis itu mengangguk dan membalas senyumnya meski tak selebar biasanya.
Andrew beringsut mendekat, tangannya bergerak mendekap pinggang sang sosok manis yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Andrew. "Sudahlah." Andrew mendesah, mencoba agar beban orang dipelukannya setidaknya bisa sedikit berkurang. "Kita sudah berusaha membuatnya mengerti," lanjutnya, sementara sebelah tangannya sibuk membelai rambut hitam Vincent.
Andrew bisa merasakan Vincent menggeleng kuat-kuat di bahunya, "Nyatanya dia tak mengerti. Ia masih membenciku. Sangat membenciku."
Andrew tersenyum kecut, memang itulah kenyataannya. Ia tahu, mereka tahu.
"Maafkan aku. Ini semua karena aku." Andrew berujar lagi, mengeratkan dekapannya. "Seandainya aku bertemu denganmu dulu daripada Casey, maka—"
"—Andrew." Vincent memotong, tak suka jika masa lalu mereka yang selalu ingin ia lupakan, meski tak pernah bisa, kembali diungkit. Itu… hanya akan membuat mereka sama-sama sakit.
Tak ada yang bersuara kembali setelahnya. Keduanya hanyut dalam keheningan dan kenyamanan dekapan mereka. Mereka sibuk dengan memandang lapangan basket dan tenis di depan mereka, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing ditemani angin yang berhembus sepoi-sepoi.
…Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?
—o0o—
Aiden mengerang pelan sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku kala ia mulai sadar dari tidur—pingsan?—lelapnya semalam. Matanya mengerjap beberapa kali meski kesadarannya masih mengawang-awang entah kemana dan pula pandangannya yang berkunang dan masih terasa kabur. Ia mengerang pelan, meregangkan tubuhnya yang terasa begitu kaku dan pegal.
"Unggg," Perlahan kesadarannya mulai kembali, bersamaan dengan pandangannya yang jelas. Dan yang pertama ia lihat adalah atas ranjang kayunya yang terukir. Ia mendesah lagi… ia masih mengharapkan dirinya bisa melihat langit-langit kamarnya yang dicat biru langit. Ia kecewa
Tapi
Seketika kelebatan kejadian semalam tiba-tiba saja membayang di benaknya membuatnya terlonjak dari tidurnya. "…Kenapa aku bisa di sini?" desahnya pelan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia melihat sebuah handuk putih kecil jatuh dari dari dahinya saat terlonjak tadi. Kompresan?
Aiden mencoba duduk, meski ya dia masih merasa agak lemas. Dia menyenderkan tubuhnya ke sandaran ranjang sambil memikirkan semua kejadian kemarin—
Hampir mati di serang. Bertemu Hero. Meminta pulang tapi tidak bisa. Pingsan dan—
"Aiden kau sudah sadar?" suara Dennis langsung terdengar bersamaan dengan dibukanya kelambu ranjangnya. Dennis terlihat khawatir sekaligus senang saat melihat Aiden sudah bangun. Ia memegang dahi Aiden dengan sebelah tangannya, "Demammu sudah turun," ujarnya sambil tersenyum lega.
Demam?
Aiden nampak keheranan dengan semua ini. "Bagaimana bisa aku berada di sini?" tanya Aiden linglung setengah tak mengerti dengan kejadian yang terputus di kepalanya. Sambil mengucek sebelah matanya dengan tangan ia menatap Dennis. Bukankan semalam ia bertemu... Marcus? Lalu pingsan? Bagaimana caranya ia berakhir di kamarnya?
"Apa maksudmu?" tanya Dennis dengan pandangan heran, tak mengerti dengan ucapannya. "Dari kemarin kau memang di sini, Aiden. Tidak kemana-mana," jelas Dennis. Ia memandang khawatir saat Aiden menggeleng kuat-kuat atas pernyataan itu.
"Aku pergi keluar Dennis, semalam," matanya melirik sweater biru yang masih terpasang di tubuhnya, "Aku ingat memakai sweater ini saat akan pergi. Jadi bagaimana bisa aku sampai di sini?" Aiden benar-benar yakin dengan asumsinya karena ya, semua bayangan kejadian kemarin malam masih jelas tercetak di otaknya meski agar samar dan kabur.
Dennis bangkit dengan wajah mengerut heran, "Kukira kau memang akan pergi, tapi sepertinya kau pingsan di depan pintu. Karena Joshua menemukanmu pingsan di sana pagi tadi."
Kali ini Aiden yang mengerutkan kening, jelas-jelas ia ingat-dengan begitu jelas—ia pingsan di pelukan… Marcus?
Astaga...
Kenapa wajahnya terasa panas begini mengingat kejadian semalam?
Tidak. Tidak. Aiden menggelengkan kepalanya cepat mengusir pikiran dan perasaan aneh itu. Semua ini gara-gara mata hitam itu. Kenapa ia tak bisa melupakan pesona manik hitam yang bagai tanpa dasar itu? Bahkan sampai sekarang ia masih mengingatnya dengan jelas. Aish… Lupakan. Lupakan.
"Kau melamun?"
Aiden tersentak. Ia menoleh dan mendapati Joshua dan Casey yang membawa nampan yang ia yakini sarapan mereka telah ada di ruangan itu. Mereka duduk di atas karpet berudu di tengah ruangan. Aiden pun bangkit menghampiri mereka.
Ia lapar. Sehari kemarin ia tidak makan. Benar-benar ajaib ia masih hidup sekarang. Aiden langsung mengambil salah satu piring dan memakan makanannya, sepertinya benar-benar kelaparan. Karena memang benar, ia sangat lapar. Sangat. Ia tak peduli tatapan ketiga temannya itu. Hingga
"Uhuk!" kecepatan makannya yang luar biasa itu membuatnya tersedak makanannya sendiri.
Dennis menepuk punggungnya pelan, sementara Casey menyodorkan minum yang langsung diterima dan diteguk Aiden setengahnya. "Pelan-pelan." suara Dennis yang seperti itu kembali mengingatkannya pada Mum-nya. Tiba-tiba saja tangannya yang menyendok makanan terhenti, entah kenapa jiwa melankolisnya kembali muncul. Ia rindu. Mum dan Dad-nya. Tapi… tidak!
Sudah cukup baginya membuat ketiga temannya itu khawatir dengan sifat kekanakkannya, maka dari itu ia hanya berkata, "Iya..." dan kembali melanjutkan makannya. Yang entah mengapa rasanya kini tak seenak tadi. Dalam sela acara makannya, Aiden menatap ketiga temannya yang telah rapi dengan setelan seragam mereka, "Kalian akan masuk kelas?" tanyanya refleks sebelum menyendokkan makanannya lagi ke mulut.
"Tentu saja. Kau kira kita bisa bolos lagi begitu saja setelah kemarin tak menghadiri satu kelas pun?" cibir Casey masih setia dengan makanannya. Dennis meliriknya tajam saat Casey selesai bicara, tapi sepertinya pemuda cantik itu tak peduli dan pura-pura tak melihat.
Dennis menatap Aiden. "Kami memang harus masuk kelas, Aiden. Tapi untuk kau, Hero memberikan toleransi waktu satu hari lagi untuk menenangkan diri sebelum masuk kelas," jelas Dennis sambil tersenyum manis, "Tapi jika kau ingin memulai kelasmu hari ini itu akan lebih baik." Lanjutnya.
Aiden mengangguk saja, "Aku masuk kelas saja kalau begitu bersama kalian." Tak terbayang apa yang akan dilakukannya seharian penuh di kamar ini sendirian. Berbicara dengan nemo? Ugh.
Dennis dan Joshua tersenyum mendengar jawaban Aiden. Sementara Casey kembali membuka suara, mencibirnya, "Kalau kau mau masuk kelas. Cepat mandi dan ganti baju! Waktu sarapan tinggal sepuluh menit! Kau mau kita terlambat HA?"
Aiden yang merinding mendengar nada ucapan—err, teriakan Casey langsung berlari ke kamar mandi, bahkan sebelum ia menyelesaikan acara sarapannya. Casey tertawa melihat Aiden yang langsung berlari dan begitu ketakutan dengan nada ucapan dan lirikan tajamnya tadi.
"Kau jahat, Cas." Joshua berkomentar.
Casey menyeringai. "Biar. Senang sekali aku mengerjai bocah itu." dan Casey kembali tertawa, membuat Dennis hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Mengingatkanmu pada adikmu, ya?"
DEG!
Seketika tawa Casey terhenti—lenyap digantikan sunyi. Rahangnya mengeras dan pandangannya menatap Joshua dengan begitu tajam dan mengerikan, "Jangan pernah bahas masalah itu," ucapnya tegas penuh penekanan di setiap kata sambil membuang muka, terlihat begitu marah. Ia benar-benar tidak suka jika sudah menyangkut hal yang satu itu. Menyangkut adiknya yang paling ia benci.
Joshua terdiam. Ia sadar ia salah bicara. Casey pasti akan badmod seharian kalau sudah begini. Ia menatap Dennis dan meminta bantuan tapi Dennis pun tak tahu apa yang bisa mengembalikan mod seorang Casey jika sudah begini.
Hening menyapa hingga—
"WHOAAAAA!"
Aiden keluar dari kamar mandi dengan heboh. Napasnya putus-putus dan bahkan ia terlihat tak sempat menyisir rambutnya yang kini terlihat sangat acak-acakan. Dasinya tak terpasang dengan benar. Dan yang lucunya lagi, ia hampir terjatuh karena tersandung keset di depan pintu.
"Sebenarnya kau kenapa? Seperti habis di kejar setan." Casey bertanya dengan nada heran, namun terselip nada geli di kalimat yang ia ucapkan karena melihat tingkah konyol pemuda itu.
Aiden menunjuk Casey tanpa segan sebagi jawaban, "Aku begini karena kau bilang kita akan terlambat! Aku bahkan hanya mandi bebek! Ayo cepat sebelum terlambat!" Aiden sudah akan membuka pintu tapi dilihatnya teman-temannya malah diam sambil terkekeh. "Ada apa? Ayo!" Aiden berujar kesal, ia sudah buru-buru lah teman-temannya malah santai-santai begitu. Ketawa-ketawa lagi. Memang apa yang lucu?
"Mandi bebek itu apa?" celetuk Joshua tiba-tiba—tak mengerti dengan istilah yang baru didengarnya itu. Begitu pun Casey dan Dennis, mereka sama-sama penasaran karena tak tahu.
Sementara itu Aiden merengut, tapi akhirnya menjelaskan. "Mandi bebek itu mandi yang hanya pake air doang. Ga pake sabun. Biar cepet."
HEG!
Seketika ketiganya menatap Aiden dengan aneh. Mereka mengerut kening sama-sama. Kalo ga pake sabun, bukan mandi dong?
Hening lama…
"Kau gosok gigi, engga?" tanya Dennis.
Aiden menggeleng.
"Jorok!" Casey langsung berseru keras dan menutup hidungnya, mendorong Aiden masuk lagi ke kamar mandi dengan paksa, lalu membanting pintunya keras dan berteriak, "Mandi yang benar sana! Gosok gigi! Kelas pertama masih setengah jam lagi!"
HAH?
Aiden langsung shock. Dirinya telah di bohongi!
"YA! KAU SENDIRI YANG BILANG KITA AKAN TERLAMBAT!" Aiden protes dari dalam kamar mandi.
Sementara itu Casey langsung terbahak. Ia tak menyangka bocah itu sampai berlaku bodoh seperti itu karena percaya—atau takut? —akan kata-katanya. Mandi bebek? Astaaaaga. Sepertinya tawanya ini akan susah berhenti.
"Sepertinya modnya sudah kembali." Dennis berbisik pada Joshua, yang hanya mengangguk sambil mengulum senyum.
Casey. Seorang Casey memang tak bisa ditebak.
—o0o—
Marcus berjalan ke kamarnya setelah mengantarkan—err, oke—menelantarkan sosok pemuda itu di depan pintu di dalam kamarnya. Bagaimana cara ia masuk? Ah, tentu saja karena pintunya tak terkunci, ia melihat sebuah kunci tergantung di pintu bagian dalam, mungkin pemuda itu lupa mengunci pintu kembali saat pergi.
Ngomong-ngomong soal pemuda itu. Marcus makin merasa ada yang aneh dengan sosoknya, banyak hal yang membuatnya berfikir begitu. Ia berbeda. Hanya itu yang ada dalam benaknya tanpa tahu menahu alasan sebenarnya dari pernyataannya itu sendiri.
Benar-benar membingungkan. Semua ini belum pernah terjadi padanya sebelumnya. Kenapa pula ia tak bisa membaca pikirannya? Ia bisa membaca pikiran semua orang, terkecuali beberapa vampire yang memang telah berlatih untuk menjaga pikirannya. Tapi dia pemuda biasa, bukan? Dia manusia. Bagaimana bisa dia menjaga pikirannya seperti itu?
…Benar-benar aneh.
"Marcus! Darimana saja?" suara Spencer langsung menyambutnya kala ia melangkah masuk ke ruangan remang itu. Ia melihat ketiga temannya—lengkap.
"Dari luar, mencari udara segar."
Tak ingin banyak bicara, ia mendudukkan dirinya di sofa, melewati Bryan begitu saja yang sepertinya tengah serius membaca buku yang entah apa dan juga Spencer dan Vincent yang duduk di bawah tengah memainkan sesuatu yang terlihat baru.
"Kalian main apa?" tanya Marcus heran. Ia baru melihat permainan ini biasanya mereka hanya main catur untuk sekedarmenghilangkan kebosanan. Yeah.
"Monopoli," jawab Spencer, "Aku ga sengaja liat waktu jalan-jalan ke kota, anak kecil pada main ini."
Marcus terlihat penasaran, "Gimana cara mainnya?" tanyanya tiba-tiba. Penasaran juga. Ketiga pasang mata menatap Marcus heran. Mereka menatapnya seakan ia adalah alien bermuka hijau menjijikkan dengan tiga mata dan bibir seksi.
"Apa?" ketusnya.
"Kau sakit?" tanya Bryan lagi-lagi. Marcus mulai bertanya-tanya kenapa sih dia selalu bertanya seperti itu.
Marcus menggeleng cepat. "Tidak." Katanya singkat.
Tapi ketiga pasang mata itu masih saling berpandangan heran, bagi mereka ini aneh. Marcus jadi aneh.
"Apa sih?"
Semuanya menggelang.
Marcus bergabung dengan Vincent dan Spencer duduk di lantai yang dilapisi karpet. Dan permainan kembali di ulang.
Dia beneran ga apa-apa, kan?
"Aku bisa dengar itu."
Ups.
—o0o—
Heran.
—Itulah yang memenuhi benak Aiden sejak bangun dari tidurnya. Ia telah bertanya—berkali-kali hingga ia rasanya bosan pada Joshua, yang katanya menemukan dirinya pingsan di depan pintu tadi malam. Dan jawabannya tetaplah sama. Ia yakin bahwa dirinya pingsan saat hendak pergi keluar seperti apa yang ia katakana Dennis. Lalu bagaimana dengan semua lanjutan kejadian tadi malam yang masih jelas di kepalanya ini? Apakah ini semua hanya ilusinya seperti yang di katakan Dennis?
Apa… itu mungkin?
Memang sih dia juga tak bisa mengingat jelas semua hal yang terjadi malam itu. Tapi ia ingat dengan taman mawar hitam dan langit malam itu. Ia ingat ia duduk di bawah pohon sambil menangis mengingat Mum dan Dad-nya. Ia ingat Marcus datang dan menangkapnya sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah. Terlebih kalimat itu. Ia ingat ia mengingat kalimat yang dikatakan marcus padanya sebelum benar-benar pingsan.
'Jangan takut padaku.'
Benarkah itu semua hanya ilusinya? Mimpi dalam pingsannya? Mungkinkah? Tapi semua itu terasa nyata. Terasa benar-benar terjadi.
"Aiden kamu mau ke mana?" Dennis berteriak saat Aiden tak mengikutinya belok dan malah terus berjalan lurus. Secepat kilat kesadarannya kembali dan ia tersenyum kikuk dan menghampiri ketiga temannya yang berada lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Ia agak berlari mengejar mereka.
Puk! —Casey memukul kepala Aiden begitu sosok itu datang mendekat, membuatnya mengaduh meski pukulannya tak begitu keras, "Kau jangan melamun terus. Bisa-bisa kau tersesat!"
Aiden mempoutkan bibirnya, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum manis. Dan mereka kembali berjalan. Beberapa belokan dan akhirnya mencapai tangga—mungkin Aiden akan ingat jalan ini. Tak cukup rumit. Tapi entahlah mengingat ia yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kelasnya di lantai dua?" Aiden bertanya sambil melangkah naik, menaiki undakan dari batu satu persatu dengan hati-hati. Perasaan kagum merasukinya saat melihat pahatan di dinding sekitar—pahatan itu membentuk gambar-gambar kecil yang seakan bercerita sebuah sejarah. Dengan huruf-huruf rune kuno yang sama sekali tak ia mengerti. Meski begitu ia masih takjub. "Wow."
"Perhatikan jalan, jangan sampai jatuh," Dennis berpesan sambil tersenyum. Reaksi Aiden taklah jauh berbeda dengan reaksi dirinya kala pertama kali melihat pahatan di dinding itu.
"Cepat! Sepertinya kita terlambat!" Casey mempercepat langkahnya menaiki undakan saat sadar koridor sudah sepi—disusul yang lain yang mempercepat langkah mereka. Tak ada waktu mengagumi hal-hal tak penting tapi menakjubkan di kastil ini, pikir Aiden. Itu bisa dilakukannya nanti. Lagian, jika ia harus terkagum sekarang sepertinya kegiatan itu takkan pernah berakhir. Kastil ini memang menakjubkan. Terlalu menakjubkan.
TAP
TAP
TAP
Mereka sampai di lantai dua. Dan Aiden kembali membeku di tempat saat melihat pemandangan di depannya.Ini—
Benar-benar berbeda dengan lantai di bawahnya. Ini benar-benar terlihat seperti sekolahnya yang dulu. Bahkan lebih bagus. Tak ada kesan sebuah kastil tua, obor-obor dan ornamen kuno, benar-benar seperti sekolah. Koridornya… Kelasnya… Lantainya… Kenapa bisa seperti ini? Sekali lagi Aiden di buat tercengang. Kastil ini memang menyimpan sejuta kejutan baginya.
"Cepat!"
Casey nampak tak sabar dengan kondisi Aiden yang terus bengong langsung menarik tangannya untuk terus melangkah. Dennis dan Joshua sudah masuk ke kelas duluan setelah meminta maaf atas keterlambatan mereka. Casey dan Aiden pun menyusul. "Sorry, Sir."
"It's Okay, Casey. Duduklah."
Sementara itu Aiden membatu. Aiden menatap sang guru, guru itu nampak seumuran dengannya. Ia tak percaya bahwa orang di depannya itu adalah 'guru'-nya. "Kau baik-baik saja?" sang guru itu bertanya, nampak khawatir mungkin karena dirinya sedari tadi hanya terdiam. "Kau anak baru itu 'kan?" tanyanya kemudian.
Aiden mengangguk kaku.
Sang guru tersenyum sadar bahwa anak didik barunya ini agak sedikit tak nyaman dengan suasana ini. Ia membimbing pelan tubuh kecil pemuda itu hingga berada tepat di tengah-tengah ruangan.
Plas!
Aiden tersentak. Seketika Aiden merasa tubuhnya dibagi dua oleh sesuatu, terasa dingin. Dia bisa merasakan—sesuatu semacam selaput? atau dinding tipis?—ada tengah-tengah ruangan itu. Ia mengedarkan matanya dan mengerutkan kening saat sama sekali tak melihat selaput dingin yang serasa membelah dirinya sekarang. Aneh. Ini terlihat seperti ruangan kelas biasa. Pandangannya berkelana—
DEG!
Wajahnya pucat seketika mendapati hampir sebagian temannya itu berpakaian hitam. Mereka duduk rapi—meski beberapa bangku kosong—di sebelah kirinya. Bodohnya ia tak menyadari hal ini sejak awal. Kemana saja dia? Melamun sepertinya menjadi jawabannya.
Aiden meneguk ludahnya susah payah. Jujur, ia takut. Kemarin ia baru bertemu empat orang Black sudah seperti itu, apalagi sekarang? Sebanyak itu? Dan—Astaga. Itu Marcus 'kan? Ia bisa merasakan wajahnya pucat sekarang. Tubuhnya gemetaran lagi.
Bertahan Aiden, bisiknya pada diri sendiri. Akan sangat memalukan jika ia pingsan, menjerit, atau melakukan hal bodoh lain sekarang. Makanya ia lebih memilih menyatukan kedua tangannya lalu meremasnya kuat. Aiden mengutuk. Sang guru memintanya memperkenalkan diri. Bagaimana ini? Rasanya lidahnya kelu karena takut. "H-halo… guys," ia mulai, meski sedikit melirik tatapan para Black itu padanya. Jenis tatapan apa itu? Kesal? Marah? …Lapar? Pikiran itu semakin membuatnya bergidik, "N-amaku Aiden Lee, kalian bisa memanggilku Aiden. Nice to meet you."
Dan ia mengalihkan pandangannya ke arah Dennis, yang melayangkan senyum manis. Meski begitu tubuhnya masih gemetaran takut. Ia melihat Joshua di samping Dennis menggerakkan mulutnya dan ia menangkap kata 'Tenanglah.'
Ohh… bagaimana ia bisa tenang?
"Baiklah, Aiden. Duduklah di samping Jerome. Jerome angkat tanganmu!" perintah itu langsung dituruti tanpa bicara oleh sosok 'Jerome' ini. Pria itu terlihat dingin, wajahnya tampan tapi ia tak berekspresi— auranya tak berbeda dengan para Black itu. Tapi dia mengenakan baju White …berarti di manusia, kan?
…Ya 'kan?
Iya tak begitu yakin.
Aiden duduk dan ia kembali mengutuk, kenapa tempat duduknya di paling belakang dan paling dekat denngan para Black di barisan belakang? Kenapa ia tidak duduk dekat Casey, Joshua, dan Dennis yang sekarang berada di ujung sana saja? Ia harus bicara dengan Dennis setelah ini. Harus. Banyak pertanyaan dalam kepalanya yang berkapasitas terbatas ini.
"Lebih baik kau perhatikan. Jangan sampai dapat detensi di hari pertama."
Aiden menengok ke samping saat mendengar suara itu. Dingin dan berat. Tadi yang bicara itu Jerome? Orang yang berada di sebelahnya ini, kan? Benarkah? Ia bahkan tak terlihat habis bicara, wajahnya datar seperti itu memandang ke depan. Tanpa sadar Aiden memandang sosok di sampingnya lekat. Penasaran. "Apa?" Sosok itu balik memandang.
Mata mereka beradu untuk beberapa detik, mata Brown Aiden membulat sempurna menatap manik hitam tajam di depannya. Mata itu mengingatkannya pada manic hitam Marcus, meski yang ini lebih berkilau dan hidup, meski tatapan tajam yang di berikannya sama saja. Membuatnya merinding sekaligus
—terpesona?
Aiden menggeleng pelan dan tiba-tiba menundukkan wajahnya. Pria di sampingnya pun terlihat tak begitu peduli dan kembali memperhatikan guru di depan. Ia menengokkan wajahnya ke kanan, mencoba membuang muka dan perasaaan malunya saat—
DEG!
Matanya bersitatap dengan manik hitam mempesona yang ia bandingkan dan bayangkan sedetik tadi. Manik yang ia lihat kemarin—entah dalam mimpi atau dunia nyatanya, ia tak tahu. Manik hitam itu terlihat… indah, meski Marcus menatapnya dingin dan tajam. Ia berada terhalang dua bangku darinya. Tapi pandangannya yang seperti itu membuat Aiden seakan… membuatnya sesak tanpa sebab. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, kembali mencoba fokus untuk perlajarannya.
Di depan gurunya, entah siapa namanya ia tidak tahu, sedang menerangkan rumus-rumus fisika.
Ia memandang kosong ke depan. Niatannya untuk memandang mata itu kembali begitu besar, membuatnya tak bisa menahan diri untuk tak melirik."Hhhhh," entah kenapa ia mendesah kecewa mendapati Marcus tengah serius memperhatikan dan tak menatap ke arahnya lagi. Aiden menatap jam, detik demi detik sehingga ia merasa mulai mengantuk. Ia tak suka fisika—sungguh.
Tak terasa kelopak matanya mulai menutup...
Perlahan...
Perlahan...
Perlahan…
"Jangan tidur."
"WHOA!" Aiden begitu terkejut saat tiba-tiba saja mendengar suara itu hingga tanpa sadar berteriak cukup keras, membuat pandangan semua orang mengarah padanya sekarang. Ia tersenyum kikuk memandang sekitarnya yang memandangnya heran, "Em, Sorry. Sepertinya tadi aku melihat kecoa..." katanya mencoba memberikan alasan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Dan semua orang di kelas itu tertawa, termasuk sang guru—minus para Black yang hanya menyeringai mengejek—meski tak sedikit yang memandang tertarik padanya. Apa? Dia lucu? Mirip badut? Ha!
Aiden merona malu dan sang guru mulai melanjutkan pelajarannya lagi, dengan memberi peringatan untuk jangan membuat keonaran lagi atau detensi menanti. Aiden hanya mengangguk. Wajahnya pasti sangat merah sekarang.
"Pffftt."
Eh?
Ia menengok ke samping. Alisnya berkerut heran saat mendapati pemuda emo dingin nan pendiam dengan aura menyeramkan itu tengah menahan tawanya. Tingkahnya pasti sangat konyol. Ia semakin merona malu, apalagi saat melihat pemuda itu tersenyum kecil, sebelum menggeleng pelan dan memasang wajah-sok-datarnya lagi.
Aish, kenapa ia jadi gadis remaja yang sedang kasmaran begini sih? Mudah sekali malu. Memalukkan!
Tak ingin dimarahi lagi, Aiden kali ini benar-benar memperhatiakan. Ia meringis saat papan board itu sudah penuh dengan rumus, turunan dan angka-angka yang langsung membuat kepalanya berdenyut sakit. Aish. Ia memang tak bersahabat dengan eksak. Tak ada kegiatan lain, ia mulai mencatat—apapun yang ada di depan ia catat, meski dengan malas-malasan dan tangan sebagai tumpuan dagu. Suara sang guru seakan masuk ke telinga kiri dan beberapa detik kemudian keluar dari telinga kanannya. Benar-benar tak ada yang menempel. Ia menghembuskan napasnya berat beberapa kali. Tak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya diam-diam.
Sebuah senyum—seringai—terpanpang di wajah pemuda itu. Meski ia tak bisa membaca secara gamblang pikiran pemuda itu. Setidaknya ia bisa menebaknya dengan otak jeniusnya melalui gerak-geriknya yang kelewat mudah di tebak?
Dibenak kedua orang itu tanpa sadar terbayang satu kalimat yang sama;
'Aku/Dia Benci Fisika.'
Entah kenapa Marcus merasa senang.
—o0o—
Akhirnya bel istirahat pertama berbunyi, tepat pukul setegah sebelas.
Setelah pelajaran Fisika tadi langsung di sambung pelajaran Sejarah. Ha, perpaduan yang sangat tepat untuk membuat para murid—termasuk Aiden—terkantuk-kantuk di atas topangan tangan di dagu. Ia terlonjak begitu senang saat sang guru mengucapkan 'Good bye' dan pergi. Rasanya semua nyawanya kembali terkumpul. Kenapa dia tiba-tiba semangat begini? Ia tersenyum manis, tanpa sadar. Beberapa pria yang melihat itu terpana, tapi ia bahkan terlalu senang untuk menyadarinya.
"Hei, Jer—"
Eh?
Kapan sosok itu pergi? Perasaan tadi dia masih duduk manis—oke, tampangnya dingin—di sampingnya, tapi sedetik kemudian ia sudah menghilang. Aneh. Cepat sekali.
Aiden menghampiri Dennis, Joshua, Casey dan—seorang pemuda bertubuh kecil, manis yang ia tak tahu namanya. Ia belum pernah bertemu. "Hai, Aiden. Aku Nathan," sosok itu memperkenalkan dirinya dengan senyum manis yang dibalas tak kalah manis olehnya. Oh, ramah sekali. Aiden bisa-bisa terkena diabetes jika diberikan senyum seperti itu lebih lama.
Seketika pandangan Aiden mengarah pada Dennis dan sepertinya ia mengerti. Maka ia langsung memandang yang lainnya dan berkata—meski dengan raut enggan, "Kalian pergilah, aku ada urusan sedikit dengan Aiden." Memang tadinya ia berniat makan di Cafetarian, tapi ia tahu ia punya urusan yang lebih penting.
"Aku mau makan," Casey menyahut pertama, berjalan duluan keluar diikuti Joshua dan Nathan yang tersenyum pada mereka sebagai tanda perpisahan.
"Aku titip 2 orange juice!" Dennis berteriak, berharap di dengar oleh salah satu dari mereka bertiga. Ia memang tidak lapar dan Aiden pasti punya sejuta pertanyaan tentang banyak hal. Ia ingin menjelaskannya-satu-satu. Karena sesungguhnya ia bingung harus mulai dari mana.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" mulai Dennis, ia terlihat serius. Aiden sambil bertanya-tanya 'benarkah ini Dennis?' Aiden memandang sekeliling—hanya ada dua orang murid White selain dirinya dan Dennis. Sementara para Black bahkan terlihat tak beranjak.
Aiden meneguk ludahnya sebelum mulai, "Soal dinding di kelas i—"
"Itu adalah dinding pelindung. Memang tak sepenuhnya ampuh tapi cukup untuk menjaga kita dari para Black saat pelajaran berlangsung. Katanya…" potong Dennis cepat.
Aiden mengangguk, melanjutkan pertanyaannya, "Kau tidak bilang kalau kita sekelas dengan para Black itu," Aiden melirik lewat ujung matanya para Black yang sepertinya masih tenang di kursi masing-masing. Lagi-lagi... Ia merasakan tatapan itu dari mereka—benar-benar membuatnya merinding.
"Kau tau kan visi sekolah ini? Membuat para vampire dan manusia bisa hidup bersama. Apa gunanya sekolah ini jika kelas para vampire dan manusia dipisah. Bukankah tidak akan ada 'adaptasi' yang diinginkan pendiri?" Dennis menjelaskan dengan helaan nafas berat.
Aiden mempoutkan bibirnya, tapi dalam hati ia mengiyakan alasan Dennis yang memang masuk akal. Ia hanya kaget tidak diberitahu terlebih dahulu sebelumnya.
"Ish, berhenti berlaku aegyo seperti itu!" Dennis terlihat risih. Loh kenapa? "Apa lagi pertanyaanmu?" Dennis berkata tak sabar, ia sebenarnya malas mengatakan semua hal tentang ke'aneh'an kastil ini, karena banyak yang ia tak ketahui dan lebih baik ia tak tahu.
Aiden menatapnya tajam, "Kau Dennis atau alien?" tuduhnya sadis, sosok di depannya memang benar-benar berbeda dengan Dennis 'selama ini'. Ia serius dan terlampau berwibawa eum dan dingin?
"Aku Dennis, Aiden," ujarnya lelah. Aiden menyelidik sekali lagi sebelum mengangguk kecil.
"Baiklah, pertanyaan terakhirku." Aiden tampak serius dengan yang satu ini, "Sebenarnya siapa Jerome?" tanyanya penasaran.
He? Dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin terlintas, ia bertanya hanya itu. Hanya itu? Aneh.
"Oh, dia murid White. Memang sih auranya agak aneh-aneh menyeramkan dan ekspresinya juga dingin. Jarang bicara. Tapi dia baik, dan suaranya kau pasti tidak akan percaya saat mendengarnya bernyanyi. Suaranya sangat terkenal di sekolah ini. Tunggulah saat pelajaran musik nanti." Jelas Dennis panjang lebar, ia ingin sesi tanya-jawab ini segera selesai.
Aiden hanya mengangguk-angguk. Dia nampak berfikir tapi Dennis tak bisa menebak apa yang dipikirkannya.
Satu dalam benaknya, 'Kenapa Aiden menanyakan Jerome?'
—o0o—
Marcus terdiam, sedari tadi dia fokus membaca pikiran sang ketua murid White. Ia sebenarnya ingin membaca pikiran Aiden—karena itulah yang menjadi tujuannya, yang membuatnya penasaran. Tapi ia tidak bisa. Meski begitu ia masih bisa mencerna percakapan mereka, Dennis sedang menjelaskan hal-hal tentang kastil ini yang sepertinya belum diketahui sang murid baru.
Ia mendesis saat mengetahui Aiden bertanya tentang Jerome—ia tahu lewat pikiran Dennis tentu saja. Ia tak tahu kenapa tapi ia benar-benar tak suka dengan hal satu itu. Merasa sudah tak ada yang perlu ia tahu, ia mengedarkan pandangannya ke arah 'teman-teman' Black-nya. Ia tahu Aiden merasa risih dengan tatapan para teman Black-nya.
Dan ia juga tak suka. Ada rasa kesal—atau marah?— terselip dalam pikirannya saat para 'teman' Black-nya menatap sosok itu seperti itu, seakan ia adalah mangsa yang siap mereka terkam saat itu juga.
Egonya ingin menghentikan mereka, tapi logikanya terus berfikir 'Kenapa'? Ia menutup mata, mendesis. Ia berkonsentrasi penuh untuk memasuki semua pikiran para Black di kelas itu. Enaknya punya kekuasaan. Dalam pikirannya ia berkata, sekedar memberi peringatan—
Dan membuat hatinya lega
'Jangan ada yang berani mengangu murid baru itu jika tak ingin berurusan dengan Marcus!'
Setiap kepala para Black itu berdengung menyakitkan saat pengumuman tiba-tiba itu bergaung di kepala mereka tanpa izin, banyak dari mereka yang memegangi kepala mereka menahan sakit. Sementara yang lain nampak menutup matanya.
"Aiden! Kau tidak apa-apa?" Dennis tanpa sadar berteriak khawatir saat sosok yang duduk di depannya tiba-tiba saja meringis dan memegangi kepalanya. Sementara yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
Apa? Kenapa dengan dia?
Kenapa reaksi yang ia lihat sama dengan reaksi beberapa teman Black-nya.
Apa... dia juga bisa mendengarnya? Bagaimana bisa?
Dan penasaran Marcus tentang pemuda itu semakin bertambah.
.
—Apa ini? Pikir Aiden.
Kenapanya terasa sakit sekali. Seperti sebuah lonceng yang di pukul berkali-kali—berdengung terus menerus. Menyakitkan. Dan suara itu? Suara apa yang bergaung di kepalanya tadi?
Aiden hanya bisa memegangi kepalanya yang sakit.
—o0o—
To be Continued
—o0o—
Cuaps Author's
Update lelet bangeeeeeeet ._. semoga masih ada yang inget sama fanfic satu ini /hope
Makasih buat yang udah review, maaf ga bisa disebut satu-satu.. Jangan lupa review lagi.
Oiya, author mau minta do'anya sama semua karena author ini lagi sakit hiks T.T /author curhat
Yaudah, Author bener-bener mengharapkan kometar, saran kritikan (flame juga boleh) dari pada reader sekalian.
Ceritanya aneh? Typo?
KOMEN PLIS :D
See yaa ^^
Bandung. 12/08/2012
(Edited: Bandung 03/05/2013)
