SM SCHOOL
© BluePrince14
Declaimer:
Super Junior isn't Mine.
Cast:
Member's Super Junior in their western name;
Leeteuk as Dennis. Heechul as Casey. Hankyung as Joshua. Kangin as Jordan. Yesung as Jerome. Shindong as Mathew. Sungmin as Vincent. Eunhyuk as Spencer. Donghae as Aiden. Siwon as Andrew. Ryeowook as Nathan. Kibum as Bryan. Kyuhyun as Marcus.
Yunho as U-know. Jaejoongas Hero.
2NE1's member; CL, Bom, Minzy, Dara
Genre:
Fantasy/Romance
Warning:
Alternate Universe, Out of Characters, Miss Typo(s), YAOI/BL, Badplot and Descript, Crack Pair!
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Summary:
Sejak kapan mangsa dan pemangsa bisa hidup damai bersama? Vampire dan manusia? Itu sama saja mengantarkan nyawa! "Aku mau pergi dari sini!"
—o0o—
Chapter IV
They're Back
—o0o—
Satu yang memenuhi benak Marcus hingga tak karuan seperti ini, membuatnya gelisah dan tak bisa tenang. Siapa sebenarnya Aiden?
Sebuah pertanyaan sederhana yang seharusnya bisa ia jawab. …Tapi kenapa ia tak bisa? Kenapa begitu banyak hal yang tak biasa pada sosoknya. Ia baru datang kemarin dan pengaruh pemuda manis itu begitu kentara bagi dia. Dia, Marcus yang biasanya tak pernah peduli pada apapun seakan berubah seratus delapan puluh derajat. Tak heran jika ketiga temannya—terutama Bryan—selalu memandangnya aneh akhir-akhir ini.
Aish. Semakin dipikir—semua itu semakin membuatnya pusing.
"Hhhh," ia butuh seseorang, yang tentunya bisa membantunya menjawab semua pertanyaan yang berputar-putar di otaknya kini, bukannya merecokinya dengan sejumlah pertanyaan yang tak bisa ia jawab. Bisa-bisa ia gila jika terus seperti ini! Kenapa sosok Aiden ini begitu sulit ia mengerti?
"Menyebalkan," desis Marcus sambil mengacak rambut hitamnya. Lagi dan lagi ia meninggalkan kelas begitu saja dan pergi ke belakang kastil. Tempat yang sama di mana ia memeluk tubuh rapuh sosok Aiden semalam. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan kelas—karena ia ingin lebih lama mengamati Aiden dan hal-hal konyol yang ia—
Hei, hei. Tunggu dulu! Apa katanya tadi? Haish.
Kenapa semuanya kembali ke sosok itu? Ia ingin merilekskan pikirannya dengan membolos, menjauhkan semua hal tentang murid baru yang baginya sangat misterius itu. Tapi yang terjadi pikirannya malah semakin kacau. Marcus kacau. Benar-benar kacau.
"Marcus... Marcus..." pandangannya yang tadi tak fokus kini teralih pada satu objek. Ia menatap tajam sosok yang kini berada tepat di depannya, yang kembali membuka suara, "Kapan terakhir kali aku melihatmu? Kenapa sekarang kau terlihat begitu menyedihkan?" lanjut sosok itu sambil tertawa mengejek.
Sosok itu tinggi, kurus dengan rambut yang dicat berwarna merah.
Marcus membuang muka merasa tak suka, ia mendelik begitu tajam pada sosok yang kini menyeringai menatapnya, "Zhoumi," ucapnya dengan nada kesal yang kentara, sebelum berubah dengan nada mengejek yang terdengar sadis, "Kau sudah kembali rupanya? Padahal aku sudah sangat senang saat tahu kau pergi. Tsk." Marcus membuang mukanya. Jujur, ia merasa terganggu dengan kedatangan orang yang tak diundang itu, apalagi orang ini selalu merecokinya.
Zhoumi terkekeh mendapati sambutan seperti itu dari sosok Marcus, ia sudah mengira akan mendapatkan respon seperti itu dan tentu saja ia tak terlalu terkejut dengan hal itu. Ia sudah terlalu mengenal sosok Marcus. Sok kenal lebih tepatnya.
Zhoumi bergerak secepat kilat, sudah berada di depan wajah Marcus. "Kau tak senang aku kembali, hm? Kukira kau akan merindukanku?" goda Zhoumi dengan seringainya yang menawan. Meski begitu Marcus serasa ingin mencakar wajah di depannya itu, melihat senyumnya itu benar-benar sangat menyebalkan.
"Berhenti bicara," desis Marcus sebal, mendorong agar sosok itu menjauh darinya, ia sudah hendak beranjak dari tempat itu, merasa sudah sangat tak betah. Lebih baik ia masuk kelas kalau begini ceritanya.
Tapi
—sebuah tangan menahannya, membuatnya menunda niatnya untuk pergi. "Apa?" ketusnya. Menyangka hal tak penting lagi yang akan keluarkan oleh sosok itu, benar-benar non-sense!
Zhoumi memasang wajah serius tebaiknya saat ini, ia sedang tidak bercanda sekarang. "Mereka kembali," ujarnya datar dengan wajah dingin, meski begitu dalam suara terselip rasa ngeri, "Mereka akan memburu kita lagi. Mereka telah kembali, Marcus."
DEG!
Marcus terdiam—paham betul apa yang dimaksud Zhoumi. Ia tak bodoh. Meski Zhoumi tak mengatakannya secara terang-terangan. Ia tahu maksudnya—siapa yang ia maksud. Itu—
2NE1.
Kelompok yang terdiri dari empat sosok vampire hunter yang sudah lama mengancam bangsa mereka, bangsa vampire—kaumnya. Lawan tertangguh bangsa vampire. Kehebatan mereka sudah tak diragukan lagi. Percaya atau tidak—Bryan pernah terancam mati di tangan mereka.
"Bagaimana bisa? Bukankah mereka menghilang sejak dua tahun lalu?" Marcus bertanya serius, ini gawat. Kemunculan mereka akan sangat berbahaya.
Zhoumi mengangkat bahunya, ia sendiri tak mengerti. Memang sejak perang besar dua tahun lalu—di mana Marcus berhasil melumpuhkan sang leader 2NE1—CL, kabar mereka tak pernah terdengar lagi. Mereka bagai hilang di telan bumi. Dan sekarang tiba-tiba saja mereka datang lagi. "Salah satu anggota mereka yang mengatakannya sendiri," Zhoumi menarik lengan bajunya hingga atas, menampilkan sebuah bekas luka yang mengerikan yang berwarna ungu-kehitaman di bagian lengan atasnya, "Aku bertemu dengannya saat akan kembali ke mari." lanjutnya lagi. Ia mendesah dan kembali menutup lukanya yang sepertinya akan meninggalkan bekas permanen itu.
Senjata para vampire hunter itu memang dilumuri racun—semacam zat yang entah apa—yang takkan bisa disembuhkan dengan cepat oleh kekuatan regenerasi tubuh vampire. Mereka sepertinya sudah sangat mengetahui seluk beluk vampire itu sendiri.
Marcus terdiam—berfikir keras. Ia tak menyangka, di saat kalutnya ini masalah yang lebih rumit malah datang. Menambah pikirannya. Dan yang ia sebal; ini tidak main-main.
"Kita harus bicarakan ini dengan U-know. Kita adakan rapat dadakan." Marcus bersuara dingin, nampak tak acuh meski dalam hatinya ia gelisah. "Jika mereka benar kembali seperti katamu," Marcus menatap Zhoumi lekat, tatapannya dingin dan menusuk, "Maka kita harus bersiap untuk perang lagi."
Dan Marcus beranjak dari sana. Meninggalkan Zhoumi yang tersenyum pilu dalam kesendiriannya. Bersama hembusan angin…
"…Perang lagi ya?"
—o0o—
Aiden tak bisa diam di tempat duduknya dengan tenang. Ia sama sekali tak bisa fokus pada pelajaran—dari tadi pagi memang seperti itu. Banyak hal yang memenuhi otaknya sekarang, banyak yang ia pikirkan dan rasa penasaran seakan membuncah dalam dirinya—seakan menjerit meminta penjelasan secepatnya. Ia butuh jawaban atas semua pertanyaan mengenai keanehan yang ia alami sejak masuk ke sini. Banyak. Banyak hal.
Satu yang ia sebal. Belum terjawab pertanyaannya tentang kejadian semalam kini pertanyaannya kembali bertambah lagi—mengenai suara yang bergaung di kepalanya beberapa belas menit yang lalu. Kenapa hal seperti ini terus menimpanya, sih?
Jujur, Ia memang tak bisa dengan jelas mencerna kalimat yang bergaung di kepalanya itu—karena hanya sebuah gaungan memekakkan yang ia dengar. Tak jelas. Bagai suara gemuruh petir saat hari hujan. Ia berfikir—terus berfikir dan kesimpulan akhirnya selalu sama. Sepertinya tuduhannya akan mengarah pada satu orang yang sama.
Marcus.
Ia sendiri tak tahu apa alasan yang mendasarinya berfikiran seperti itu. Kata hatinya berkata begitu. Aish, ia terdengar seperti seorang fans yang terlalu mengobsesikan idolanya. Ia sendiri tak mengerti, kenapa sosok itu tak bisa pergi dari pikirannya. Benar-benar…
Kadang sebersit ide yang gila namun paling ingin ia lakukan berkelebat di benaknya. Haruskah—ia berbicara langsung pada Marcus. Mampukah ia? Mengingat rasa takut dan traumanya pada makhluk semacam Marcus? Pada vampire. Ah, pada dasarnya dirinya memang penakut. Alien—yang entah nyata atau tidak pun bisa membuatnya tak bisa tidur. Banyak yang ia takuti. Dan ia harus mulai menghilangkan sifat buruknya itu. Bukankah ia seorang laki-laki?
Aish. Laki-laki sih laki-laki. Tapi kalau takut tetap saja takut.
Tuhkan.—bahkan sekarang sosok Marcus yang sedang menatapnya tajam kembali terbayang.
Dengan iseng ia menengok, "Eh?" Aiden tersentak saat ia menengok ke kanan. Ia melihat kursi Marcus kosong—baru ia sadari. Kemana dia?
Apad ia bolos?
Aiden celingak-celinguk mencari sosok itu. Tapi memang tak ada. Sepertinya memang benar jika Marcus bolos. Mungkin pergi saat dia sakit kepala tadi sehingga ia tak sadar.
"Siapa yang kau cari?" Jerome membuka suaranya setelah sekian lama memperhatikan gerak-gerik teman sekelasnya yang kelewat aneh dan tak bisa diam. Meski pun tak memperhatikan secara terang-terangan tapi hanya melirik lewat ujung mata.
Aiden terkejut dengan pertanyaan itu, tapi sedetik kemudian ia menggeleng pelan sambil menunduk. Ia tak mungkin mengatakannya pada Jerome—bahwa ia mencari Marcus, bukan? Apa yang akan dipikirkannya nanti. Aneh sekali.
Hening…
"Thanks buat orange juice-nya tadi." Aiden berujar pelan. Memang tadi saat ia merasakan kepalanya berdengung sosok itu tiba-tiba datang dengan misterius dan tak terprediksi membawa dua kotak orange juice yang katanya titipan dari seseorang. Agak aneh memang, melihat Jerome peduli pada orang lain seperti itu mengingat dirinya yang dingin dan cenderung tanpa ekspresi. Antisosial. Dennis pun sampai keheranan. Seorang Jerome? Tapi bagaipun ia harus mengucapkan terimakasih 'kan?
Jerome mengangguk kecil sebagai balasan, perlahan pandangannya yang tadinya lurus ke depan berubah, memandang Aiden lekat—masih dengan tatapannya yang sama tajamnya dengan milik Marcus.
Marcus lagi… Marcus lagi…
Ingin sekali ia memukul kepalanya sekarang agar kewarasannya kembali! Tapi itu akan aneh sekali… "A-apa?" tanyanya.
"Kau sudah tak apa-apa?" tanyanya dengan nada dinginnya yang biasa.
Aiden mengangguk kecil, agak keheranan juga sebenarnya, "Ya, kepalaku sudah tak sesakit tadi." katanya. Tesenyum kecil mencoba menutupi kegugupannya yang entah di sebabkan apa. Ia tak tahu.
"Kau mendengar suara di kepalamu tadi?"
Satu kedip.
Dua kedip.
Tiga kedip.
Aiden terlonjak kaget dan seluruh tubuhnya kini menghadap Jerome. Ia kaget. "Bagaimana kau tahu?!" tanyanya setengah berteriak, meski mungkin belum cukup keras untuk membuatnya mendapatkan teguran dari guru di depan.
Jerome menyeringai—menatap ke depan lagi, "Jadi benar, ya?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya.
Aiden mengangguk kaku, entah Jerome melihatnya atau tidak. "Apa kau—"
"Aiden! Bisa tolong tidak usah mengobrol dan dengarkan pelajarannya?" seruan dari depan mau tak mau membuat Aiden urung menanyakan pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya. Ia melihat gurunya terlihat kesal menatap ke bangkunya.
"Sorry, sir," ucapnya sambil menunduk dalam, malu. "Takkan kuulangi lagi."
Dua kali. Dua kali di hari ini dia mendapat teguran. Bagus sekali.
Dan pelajaran kembali di mulai. Aiden memandang ke depan, meski pikirannya mengawang pada satu hal. Ia melirik sosok itu dengan ujung matanya—sembunyi-sembunyi karena rasa penasaran yang benar-benar meluap.
Apa Jerome tahu sesuatu?
—o0o—
Ruangan itu terdapat tepat di ruang bawah tanah sebuah gereja di pusatkota. Terlihat seperti sebuah laboratorium mini dengan semua peralatan canggih milik mereka. Berpuluh-puluh tabung reaksi dan zat-zat yang entah apa memenuhi ruangan itu, sebuah layar besar terpampang di tengah ruangan, tersambung dengan komputer pengendali yang kini tengah di otak-atik oleh seorang wanita berambut pendek antara hitam-hijau-pink-putih dengan jas labnya.
Di bagian lain ruangan, sebuah ranjang terpasang, agak pojok. Di atas ranjang itu, seorang wanita tertidur dengan beberapa kabel yang terpasang di tubuhnya yang tersambung dengan alat-alat medis dibalut kain putih tanpa jaitan. Matanya terpejam dan kulitnya tampak begitu pucat.
Ia terlihat seperti mayat hidup.
Pintu otomatis ruangan itu bergeser, membuat si gadis berambut pendek mengalihkan pandangannya untuk melihat kiranya siapa yang datang. Dan ia kembali mengurus komputer pengendali saat sudah melihat sosok itu. "Bagaimana?" tanyanya tanpa memandang sosok itu, masih sibuk dengan benda elektronik di depannya.
Sosok yang baru datang itu menggeleng, "Nothing," ujarnya dingin. Matanya yang berlainan warna terlihat kecewa. Perlahan langkah kakinya membawa gadis itu ke arah ranjang. Pandangannya berubah begitu sendu kala melihat sosok bak mayat itu terbaring diam di sana, tertidur dengan alat-alat medis yang membuatnya masih bertahan sampai sekarang. Menarik sebuah kursi, gadis itu duduk di tepi ranjang. Perlahan, tangannya terangkat untuk mengelus pipi tirus gadis di depannya.
Dingin.
"CL..." panggil sosok itu begitu pelan, lirih.
Sosok dengan rambut pendek dan jas lab—Minzy, melirik mereka, rasa sedih terselip di hatinya melihat pemandangan itu. Matanya mulai terasa panas tapi ia sekuat tenaga agar tidak usah menangis. Ada hal penting yang harus dilakukannya sekarang—memata-matai penyebab semua ini.
Ia bersumpah akan membalas semua ini.
Setelah penelitian ini…
"Dimana Dara?" Minzy bertanya, mencoba mengalihkan perhatian. Ia belum melihat temannya yang satu itu sejak pagi-pagi buta saat ia datang ke lab ini. Tidak seperti biasanya.
"Entah," jawab sosok itu—Bom, masih sibuk memandangi sosok CL yang terbaring di ranjang sambil memegang sebelah tangannya, "Kukira dia di sini." lanjutnya lagi, mengemukakan asumsinya sebelum ini.
Minzy tak menjawab dan keheningan menyelimuti mereka. Lagi.
"Aaahhhh!" Pintu otomatis ruangan itu bergeser lagi, namun mengejutkan saat yang datang berada dalam keadaan terluka. Ia menopang tubuhnya dengan pedang miliknya, sebelah tangannya sibuk memegangi luka menganga di sekitar bahu dan lengan atasnya. Darah merembes keluar dari sana. Membuat pakaian yang ia kenakan menjadi berwarna kemerahan.
"Dara!" Minzy berteriak panik, menghampiri sosok itu dengan khawatir. "Bagaimana bisa begini?" tanyanya sambil membantu memapah sosok itu menuju salah satu kursi di ruangan itu. Minzy tak perduli jas putihnya kini ternoda merah darah.
"Agh," ringisan sakit keluar dari bibir Dara yang seakan kelu. Lukanya ini benar-benar menyiksanya. Rasanya—seperti terbakar.
Sraaaak
Dengan sekali sentak kain yang menutupi luka itu dirobek. "Biar aku yang tangani ini," sosok lain sudah siap dengan kotak P3K-nya.
"Bom…" Minzy bergumam pelan dan mulai menyingkir. Ia memandang luka di tubuh temannya dengan ngeri—beberapa luka cakaran yang perlahan menghitam dan mengeluarkan darah dan nanah. Astaga. Pasti ini ulah vampire.
Sementara Bom dengan cekatan membersihkan setiap luka dengan cairan antiseptik, menghindari kemungkinan terinfeksi. Dara meringis meski ia tak membuka suaranya, lukanya terasa sakit sekali. "Minzy, bawakan air dan handuk, kita harus membersihkan darahnya." ujar Bom tenang. Sementara ia mulai mengoleskan cairan dalam tabung reaksi ke luka-luka Dara.
Minzy mengangguk kaku dan segera beranjak mengambil apa yang diminta.
"Apa yang terjadi?" Boom membuka suaranya—masih fokus dengan kegiatannya.
Dara meringis sakit sebelum menjawab, "Aku bertemu satu vampire. Kukira akan mudah membunuhnya, nyatanya ia kuat. Aku sampai kewalahan dan terluka begini." Dara mengangkat pedangnya dan menaruhnya di meja. Pedang yang biasanya mengkilap itu kini terlumuri darah. Darah vampire itu, "Tapi aku juga berhasil melukainya dengan pedangku ini." lanjutnya lagi. Terkekeh.
Bom tak menyahut.
Minzy kembali dengan sebaskom air dan handuk. Di tangannya yang lain ia membawa segelas air yang langsung ia sodorkan pada Dara, yang menerimanya dengan senang hati.
"Thanks." ujarnya sambil tersenyum.
Minzy mengangguk lalu kembali memperhatikan mereka.
"Buka bajumu, lukamu akan aku perban." Dara menuruti perkataan Bom tanpa banyak bicara. Ia melepas bajunya begitu saja.
"Emm..." Dara bergumam tak lama kemudian, ia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
Bom menatapnya dengan kedua irisnya yang berlainan warna, dingin, "Kenapa?"
Dara terdiam, memandang sekelilingnya, apa saja asal bukan sepasang mata itu. "Sebenarnya..."
Minzy dan Bom menatapnya lekat. Menunggunya melanjutkan ucapannya. "Ada apa?"
"…Aku berkata pada vampire itu bahwa 2NE1 telah kembali." Ujar Dara pelan sambil menunduk dalam.
—o0o—
Bryan keluar dari kelasnya. Tepat pukul dua lebih lima belas kegiatan belajar memang berakhir dan sekarang ia punya satu tujuan. Ia berniat menemui Henry setelah ini, maka setelah membereskan buku pelajarannya ke laci meja ia bergesa menghampiri kelas sang pacar yang berada dua kelas dari kelasnya.
Ia rindu sekali dengan sosok itu…
Dengan langkah santai ia berjalan meski ia sudah sangat tak sabar. Beberapa langkah lagi ia sampai di pintu kelas Henry
Tapi
—sebuah tarikan pada tangannya membuatnya harus berhenti. Ia menoleh dan terkejut saat mendapati Marcus di sana. Berdiri dengan ekspresi dinginnya. "Ada hal penting." Marcus berujar dingin, tatapannya memandang sekeliling mereka, "Rapat mendakak."
Bryan sudah hendak protes, ia ingin menemui pacarnya dulu sekarang baru setelah itu melakukan apapun yang ia minta. Marcus yang tahu isi pikirannya langsung berkata, "Sekarang, Bryan." Dengan nada memerintahnya yang terkenal. —Yeah. Bossy.
Dengan wajah tanpa ekspresi Bryan menurut, meski dalam hati ia merutuk.
Berjalan berdampingan mereka menuruni tangga, melewati beberapa koridor panjang dan belokan hingga sampai di halaman luar kastil. Mereka terus berjalan dalam hening melewati jalan setapak yang membawa mereka menuju gerbang kastil. Semakin mereka mendekat, gerbang itu semakin terbuka dengan suara decitan keras secara sendirinya.
Satu langkah mereka meninggalkan kastil sekolah itu
TRING
—dengan ajaib baju mereka berubah dengan sendirinya, bukan lagi seragam hitam yang tadi mereka kenakan. Keduanya sama-sama memakai kemeja dan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu kets, dibalut sebuah mantel hitam.
"Bagaimana yang lain?" Bryan bertanya dengan nada dingin sambil terus berjalan. Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya rapat mendadak begini diadakan. Yah, terkecuali memang ada hal yang sangat penting.
Marcus tak menoleh, tapi menjawab, "Aku sudah memberitahu mereka lewat telepati." ia terlihat berusaha mempercepat langkahnya agar sampai di tujuan lebih cepat.
Jalan ini begitu sepi, sama sekali tak ada kendaraan lewat ataupun orang berjalan, angin malam berhembus menerbangkan beberapa daun kering yang berguguran di jalan. Suara burung hantu dan lolongan serigala terdengar dari kejauhan... Mereka terus berjalan, melewati gedung-gedung bercat kusam yang berderet rapat dan banyak gang kecil. Mereka berbelok beberapa kali, terus menuju tempat yang terlihat lebih kumuh.
Mereka menyadari sesuatu.
"Ada yang mengikuti kita," Bryan berkata setelah lama membisu. Ya, dia sudah curiga sedari tadi tapi baru mengemukakannya. Dibelakang, seseorang yang entah siapa mengikuti mereka. Marcus diam saja, terus berjalan. Ia sebenarnya juga tahu. Ia bisa merasakannya dan memilih diam mengabaikannya.
Bryan, yang melihat respon Marcus yang statis kembali diam. Dia hanya terus berjalan.
Mereka berhenti di sebuah gedung tanpa pintu dengan papan bertuliskan 'Paradise', ada bangunan lain di samping gedung itu, dan jika diamati ada sebuah gang kecil yang begitu gelap diatara keduanya. Bryan dan Marcus masuk ke sana. Langsung disambut pemandangan kumuh dan tikus-tikus hitam. Gang kecil ini buntu dan ada sebuah pintu kayu berpapankan 'Paradise', rupanya ini jalan masuknya. "Bryan kau masuk duluan." Marcus berbicara saat mereka hendak masuk, membuat Bryan menyerhit. Marcus menatapnya tajam kemudian berkata lagi, "Aku ada urusan sebenatar."
Oh.
Bryan langsung mengangguk paham, urusan yang dimaksudnya pasti tentang si penguntit itu. Tanpa banyak bicara, Bryan masuk ke sana. Dari celah pintu yang dibukanya, terlihat di dalam banyak orang sedang menari di bawah kerlap kerlip lampu dan musik yang mendentum-dentum keras.
Sebuah Pub.
Marcus menyeringai di kesendiriannya. Ia senang bisa memberi pelajaran pada penguntit yang telah berani mengikutinya. "Lihat apa yang akan aku lakukan padamu." Gumamnya dengan seringai aneh. Melihat sosok hitam penguntit itu mendekat, Marcus pun meloncat.
HAP!
Ia sampai di atas atap dengan satu kali loncatan. Duduk di sana.
…ia akan mengamati terlebih dahulu.
—o0o—
Dennis mendesah sambil menyimpan tumpukan berkas yang harus ia koreksi dan beberapa proposal yang minta dikerjakan. Tugasnya sebagai anggota pengurus sekolah benar-benar melelahkan. "Hhhh," sambil menghela napas berat ia mulai mengambil satu lembar dan mulai membacanya dengan teliti dan menambahkan beberapa tanda untuk dikoreksi atau masukan dengan penanya.
Ia terus mengulangi hal itu hingga tak sadar seseorang sudah berada di ambang pintu. Tersenyum memandangnya yang terlihat begitu sibuk.
Wuuuussssh
Angin berhembus kencang lewat jendela, menerbangkan beberapa lembaran dalam tumpukan yang tadi ia taruh di meja. Dengan bersungut ia bangkit dari kursinya dan mengambil beberapa lembaran yang tercecer. Ia membungkuk untuk memunguti itu. Sebuah lembaran terbang hingga ke dekat pintu, dengan jalan gontai Dennis berjalan sambil menunduk, ia membungkuk untuk mengambilnya dan saat itulah
—ia melihat sepasang kaki.
Wajahnya mendongak dan ia melotot melihat sosok itu.
"Hai, Dennis." sapa sosok itu sambil tersenyum manis.
Dennis menegakkan tubuhnya dan lembaran di tangannya jatuh begitu saja. Matanya terasa panas dan tanpa menunggu lama ia memeluk erat sosok itu dengan begitu erat. "Kenapa tidak bilang jika sudah kembali!" Dennis memukul-mukul dada sosok itu dengan sebelah tangannya, sementara air matanya turun begitu saja.
Dengan pelan sosok itu melepas pelukan mereka, menangkup wajah Dennis yang kini berurai air mata. "Jangan menangis…"
"Kau tak tahu betapa aku merindukanmu, huh?"
Sosok itu tertawa, pasti sama besarnya dengan rasa rindu yang ia rasakan selama ini—bahkan mungkin lebih besar. "Aku kembali…"
Dennis mengangguk, sambil mengusap air matanya. "Kau tidak boleh pergi lagi."
"Tidak akan."
"Zhoumi."
"Hum?"
Dennis merajuk, "Cium aku."
Zhoumi tertawa. Ia akan melakukannya dengan senang hati.
—o0o—
Jerome menghilang lagi.
"Aish." Aiden berungut ria sambil memasukkan bukunya ke dalam laci meja. Kelas berakhir tepat pukul dua lebih lima belas dan sekarang Aiden tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tadi ia mengantuk lagi saat pelajaran terakhir—pelajaran bahasa Korea. Dan ia menyesal kenapa ia harus begitu. Ia tersadar saat mendengar suara Jerome berpamitan, ia berkata 'Aku duluan.' dengan nada datarnya yang seperti biasa. Sedetik kemudian ia refleks bangun dan menengok ke arah kiri secepat yang ia bisa. Ia masih punya pertanyaan yang belum di tanyakan pada Jerome.
Tapi ia harus kecewa karena sosok itu sudah menghilang, seperti kebiasaanya (padahal ia baru melihatnya tiga kali). Kadang Aiden heran. Apa mungkin sosok itu punya kekuatan super? Aneh sekali bisa menghilang seperti itu. Cepat sekali.
"Hhhhhh." Aiden mendesah berat saat tahu kesempatannya untuk mendapatkan jawaban kembali terlewat begitu saja. "Ahhh!" dengan sebal ia mengacak rambut coklatnya sambil mengembungkan pipi. Kesal. Beberapa orang di dalam kelas yang melihat itu tertawa. Tapi seperti biasa, Aiden tak tahu. Sungguh tak peka.
Puk.
—Puk. Puk.
"Hei!" Aiden berteriak sebal saat merasa jari telunjuk seseorang menusuk-nusuk pipinya yang mengembung. Ia menoleh dan mendapati Casey di sana.
"Berhenti berlaku aegyo!" ujar Casey sambil duduk di kursi Jerome—di samping kirinya, menghadap ke arahnya. "Kau mau membunuh para pria di sini, he?" lanjutnya lagi.
Sementara Aiden semakin mengembungkan pipinya. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Casey bilang. Bagimana caranya ia membunuh mereka hanya dengan berlaku aegyo? Mengangkat bahunya, Aiden menidurkan kepalanya di atas meja—terlihat begitu lesu.
Casey yang melihat itu langsung menyerhit, "Kenapa kau?" tanyanya.
"Aku sedang kesal," Aiden memulai ceritanya sambil mempoutkan bibirnya, masih setia di posisinya yang tiduran di meja.
"Kenapa?"
"Karena Jerome menghilang."
Ah. Dan seketika sebuah senyum nakal tersungging di wajah Casey, ia menatap Aiden tak percaya sambil berkata, "Aku tidak menyangka kau akan tertarik pada pria emo dingin macam itu. Kekeke," Casey terkekeh.
"Y-ya! Bukan seperti itu!"
"Lalu?"
Aiden diam. Tak menjawab—tak bisa menjawab. Ia tak mungkin menceritakannya semua pada Casey. Makanya dia hanya diam.
"Yasudahlah," Casey bangkit dari duduknya, berdiri dan sepertinya hendak pergi, "Aku ada urusan dengan klub Jurnalis."
Aiden mengangguk malas. Ia masih belum mau beranjak.
"Dennis dan Joshua juga ada kepentingan. Kau bisa 'kan kembali ke kamar sendiri?" Casey bertanya lagi sebelum benar-benar pergi. Aiden mengangguk lagi.
Dan Casey benar-benar pergi setelahnya. Hanya bersisa beberapa siswa di kelas ini. Aiden kembali menidurkan kepalanya di atas meja, kali ini ke arah kanan. Dan saat itulah ia melihat sosok Marcus dan Bryan lewat melalui jendela kelas. Mereka terlihat berjalan dengan tergesa meski dengan wajah dingin.
Entah apa yang merasuki Aiden ia tiba-tiba bangkit dengan semangat, padahal sedari tadi ia lesu. Ia berjalan di belakang mengikuti mereka. Rasa penasaran menguasi dirinya. Marcus dan Bryan berjalan dengan langkah yang lebar-lebar, membuat Aiden harus sedikit berlari agar tak kehilangan jejek.
'Mereka akan kemana?'
Pertanyaan itu memenuhi kepalanya sambil terus berjalan. Tak lama ia sampai di halaman kastil dan melihat kedua sosok itu mengarungi jalan setapak menuju gerbang. Apa mereka akan pergi keluar? Kemana? Aiden semakin penasaran, ia terus mengikuti mereka, meski tertinggal jauh di belakang karena tak ingin ketahuan. Ia menatap gerbang tinggi bercat kusam itu terbuka perlahan dan kedua sosok itu mulai berjalan meninggalkan kastil.
"Ahhh! Sakit…" Aiden mengeluh saat merasakan kakinya mulai sakit. Dengan keadaan seperti itu ia masih mencoba berlari mengejar dua sosok misterius yang kini jauh di depannya.
TRING
"Apa?" Aiden melongo melihat pakaiannya yang tiba-tiba saja berubah saat satu langkah melewati kastil sekolah itu—kemeja biru, celana jeans dan sepatu kets. Dan dia kembali melongo saat melihat langit hitam bertabur bintang ditemani cahaya bulan menjadi pemandangan di atas sana.
Bagaimana mungkin?
"B-bukankah tadi masih pukul d-dua?" gumamnya dengan tak percaya. Rasa sakit di kakinya seakan menghilang karena kaget. Menggelengkan kepalanya, kewarasan Aiden mulai kembali. Ia melihat dua sosok itu sudah tak terlihat, maka dari itu ia berlari begitu cepat, berharap masih bisa mengejar mereka.
Ah, dia melihatnya. Mereka mengambil belokan kanan di ujung jalan raya ini.
Dengan hati-hati ia terus menguntit seperti itu sampai mereka berhenti di sebuah gedung bertuliskan 'Paradise'. Alisnya sedikit menyerhit saat mendapati gedung itu hanya dipenuhi jendela. Sama sekali tak ada pintu atau sesuatu yang menjadi bisa dijadikan pintu masuk.
Ia berdiam diri di tempatnya—di belakang tiang listrik dan mengamati mereka mulai masuk ke gang di samping gedung itu. Tak ingin diketahui, ia menunggu beberapa menit sebelum berjalan mendekat.
Ia mengintip gang itu, terlihat sedikit kumuh dan—banyak tikus.
Dengan perlahan ia berjan masuk, bau alkohol dan bau aneh lainnya bisa dirasakan indera pembaunya saat melangkah lebih dalam. Aiden melangkah hati-hati, memperhatikan dengan benar-benar apa yang ia injak sampai ia menemukan sebuah pintu kayu bertuliskan 'Paradise'. Sebuah pemahaman merasukinya—rupanya inilah jalan masuk ke gedung ini. Aiden berdiri mematung di depan pintu itu—bingung harus masuk atau bagaimana.
Brak!
Pintu kayu coklat itu terbuka tiba-tiba membuat Aiden terlonjak dan melangkah mundur. Seorang wanita berpakaian minim berjalan terhuyung-huyung keluar dari tempat itu dengan sebuah botol di tangannya. Ia meracau, memaki, bernyanyi bahkan menangis seperti orang gila sambil beranjak pergi ke jalan raya di depan sana.
"Apa… itu tadi?" Jantung Aiden berpacu karena kaget. Ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan sedari tadi. Dan ia juga baru sadar di mana dirinya berada sekarang. Dia memperhatikan sekelilingnya. Sebuah gang sempit, gelap dan menakutkan. Sebuah Pub?
Aish.
Aiden mulai mengutuk sifatnya yang selalu terlalu penasaran, sampai-sampai bisa menghilangkan ke warasannya seperti ini. Jika ia sudah penasaran maka rasa takutnya seakan pergi—begitu juga dengan kewarasannya. Lagian untuk apa Marcus dan Bryan datang ke tempat seperti ini?
Wuuussssh
Aiden merasakan tubuhnya merinding—ia memandang pintu kayu itu dan sekelilingnya dan rasa takutnya yang selalu berlebihan itu kembali muncul. Ia melirik sekitarnya takut—gelap, sempit, pengap. Dan jika ia tak salah ia mendengar suara lolongan serigala dan burung hantu dari kejauhan.
Perlahan dia melangkah mundur, selangkah demi selangkah—tanpa melihat jalannya. Hingga tanpa ia sadari ada sebuah botol bir di belakangnya, membuatnya tersandung, jatuh dan mengaduh. "Aduh!"
Pintu Pub terbuka bersamaan dengan itu. Seorang pria muncul dari sana dan kini menatap Aiden. Sebuah seringai terpampang di wajahnya saat ia bisa dengan jelas melihat wajah pemuda di depannya. Pria itu mendekati Aiden, ia membantunya berdiri, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya ramah.
Aiden, tanpa curiga sedikitpun mengangguk, menerima tawaran bantuan itu begitu saja. Sepertinya kaki kanannya terkilir, karena rasanya sakit sekali setiap kali ia melangkahkannya.
Pria itu memapah Aiden masuk ke gang yang gelap hingga sampai di ujungnya. Ia membiarkan Aiden menyender ke dinding, sementara kedua tangannya berada di kedua sisi tubuh pemuda itu, seakan memenjarakannya, mengekangnya. "Emm, tuan... Bisa menyingkir?" Aiden yang merasa risih dengan posisi mereka akhirnya membuka suara. Tapi bukannya menjauh pria itu malah semakin mendekatkan dirinya. Membuat Aiden tersentak.
"S-sir..." Aiden mulai ketakutan. Ia mendongakkan wajahnya dan ia bisa dengan jelas melihat seringai di wajah pria itu. Seketika Aiden sadar apa yang terjadi. Pria ini pasti orang jahat!
"M-mau apa kau? Pergi!" Ia meronta meminta lepas, ia menggunakan tangannya untuk memukul sosok di depannya tapi sama sekali tak berpengaruh. Aiden mencoba mendorong pria itu dari tubuhnya, tapi tenaga itu jauh lebih kuat darinya, membuat itu sia-sia. Aiden mulai merasakan tubuhnya bergetar karena takut. Dan gemetaran itu semakin bertambah saat pria itu mulai menggrayangi tubuhnya dengan tangannya. "Lepas!" Sekali lagi Aiden meronta, mencoba membebaskan tubuhnya dari tawanan pria itu.
"Kenapa manis?" tanyanya sambil menciumi pipi dan wajah Aiden. Aiden kembali meronta, menggelengkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Tapi tangan kekar pria itu memang dagunya, begitu kuat. Membuatnya tak bisa menggerakkan wajahnya.
"Hmm.. tenang saja manis. Aku takkan bermain kasar." ujar pria itu sambil mulai mencium sudut bibir Aiden, menghisapnya pelan.
PLAK
Aiden menampar wajah pria itu menggunakan tangannya dengan keras, hingga tangannya teras begitu sakit. Ia bisa melihat pipi itu memerah. Pria itu menjauhkan wajahnya, memegang bekas tamparan di pipinya dan mengelusnya perlahan sebelum menatap kembali Aiden dengan ekspresi marah yang mengerikan.
"Brengsek."
BUGH
Dan sebuah pukulan mengenai perut Aiden, "Berani sekali kau melakukan itu padaku, ha!" Pria itu nampak begitu marah, ia memencengkram dagu Aiden begitu keras hingga membuatnya meringis sakit. Ia mendekatkan wajahnya lagi dengan wajah pemuda manis itu. Hembusan nafasnya terasa di wajah Aiden yang kini semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar.
Bau alkohol.
"Dengar manis," pria itu menyeringai mengerikan, sambil menepuk-nepuk Aiden, "Jangan paksa aku melakukan ini dengan kekerasan. Kau dengar?" ancamnya. Hidung pria itu semakin dekat, ia menelusuri pipi Aiden dengan hidungnya. Sebelah tangannya yang lain terus bergerak di sisi badannya, terus turun ke bawah.
"Kumohon... lepaskan aku..." Aiden menutup kelopak matanya, air matanya mengalir begitu saja di pipinya. Tubuhnya semakin gemetaran saat wajah pria itu mulai turun ke perpotongan lehernya.
—takut.
SRAK!
Dengan satu tarikan pria itu seluruh kancing kemejanya terlepas, membuat si pria bisa dengan jelas melihat bahu dan dadanya—melihat tubuhnya.
Air mata Aiden kembali turun. "H-hentikan..." Aiden mencoba mendorong dada pria itu dengan tangannya, ia menggeliat—masih merasakan rasa sakit di perutnya. Mencoba menghentikan kegitan pria itu yang kini mulai menciumi, menghisap dan memberi tanda di lehernya. "L-lepas. Ugh—" Aiden melenguh, tangan pria itu bermain dengan dadanya.
…Ini menjijikkan.
"Tolong!" Aiden menjerit sekeras yang ia bisa—entah mendapat kekuatan dari mana saat pria itu dengan lancang akan membuka celananya.
PLAK
"Diam!" Pria itu membentaknya.
Tapi Aiden sungguh tak peduli, "Tolong! Siapapun tolong aku!"
PLAK
"Kubilang diam!"
Aiden merasakan sudut bibirnya terluka, sobek dan berdarah karena tindakan itu. Ia bisa merasakan rasa dari darahnya sendiri sekarang. Tapi Aiden belum mau menyerah, ia tak mau. "Kumohon! Tolong aku!" Aiden menjerit dan kembali meronta.
BUGH
Sebuah hantaman keras sekali mengenai perut Aiden—menambah rasa sakitnya, membuatnya terbatuk. "Sudah kubilang diam, brengsek!" pria itu nampak sudah kehilangan kesabarannya. Dengan kasar ia menarik lepas kemeja Aiden dan merobeknya, menjejelakannya ke mulut pemuda itu agar berhenti bicara. Selain itu ia juga menggunakan sobekan kemeja itu untuk mengikat kedua tangan Aiden.
BRUGH
Ia melempar sosok itu ke tanah dengan kasar, menimbukan rintihan kesakitan yang teredam. Aiden sesegukkan, tubuhnya terasa sakit semua dan ia merasakan punggungnya dingin. Belum lagi rasa sakit di perutnya.
"Ayo kita bersenang-senang manis." pria itu menyeringai mengerikan, ia menatap penuh nafsu tubuh putih mulus Aiden yang kini terekspos begitu saja di depannya, terbaring tak berdaya. Seringainya semakin lebar saat melihat sosok itu bergetar ketakutan dan beringsut mundur hingga terhalang tembok di belakangnya.
Pria itu melepas kaos hitamnya dan mulai membuka sabuknya, membuka kancing celananya.
"Kau mau kemana manis?" tanya pria itu sambil merangkak mendekat dan mengangkangi Aiden. Menahan tangannya yang kini terikat ke atas. Dia mulai mencium dan menghisap leher Aiden dengan begitu ganas, meninggalkan bekas kemerahan. Aiden masih berusaha meronta namun yang terjadi bulir-bulir air matanya malah turun semakin deras. "Hmmm… Hmmm…" Aiden berusaha berteriak, tapi bibirnya tersumpal.
Ciuman pria itu terus menjelajah turun ke dada dan perutnya. Menandai semua tempat yang di lalui.
Aiden menutup matanya rapat-rapat. Merasa jijik dengan tubuh dan dirinya sendiri yang kini diperlakukan seenaknya. Ia laki-laki, tapi dirinya begitu lemah. Ia tak bisa melawan.
Sumpalan di mulutnya terlepas—pria itu yang melakukannya. Dan Aiden kembali memandang pria itu dengan mengiba, "J-jangan..." tapi pria itu malah tertawa dan melumat kasar bibirnya, menghisap dan menggigitnya dengan liar. Menciumnya dengan brutal.
Aiden menangis lagi.
Pria itu terus melakukan apapun yang ia inginkan.
BUGH
Tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam wajahnya membuatnya terpental dan menghantam dinding dengan telak.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, BRENGSEK!"
BUGH
BUGH
Suara itu
Pukulan tak henti-hentinya melayang pada wajah pria itu. Berkali-kali.
—Marcus?
BUGH
BUGH
BRUGH
Tubuh tinggi pria itu yang kini babak belur dihempaskan ke tanah dengan begitu keras, membuatnya tersungkur hingga tak sadarkan diri. Terlihat hampir sekarat, mungkin pingsan. Wajahnya begitu mengerikan, penuh luka lebam dan darah. Beberapa giginya rontok dan hidungnya patah. Sebelah matanya membiru.
Sementara Marcus seakan belum puas dengan semua itu, ia berdiri di depan sosok itu dengan begitu angkuh—matanya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat. Ia menendangnya tubuh itu tanpa henti. Berkali-kali. Dengan kekuatan yang semakin bertambah setiap kalinya.
Dan Aiden melihat itu. Ia melihat semua dengan pandangannya yang agak kabur dari tempatnya terbaring. Aiden meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri sedemikian rupa …takut.
Marcus menatapnya, membuat pandangan mereka bertemu. Aiden memandang sayu mata hitam kelam itu. Ia tahu dirinya terlihat begitu menyedihkan sekarang.
"Gaahhhhhh." Marcus menggeram. Dengan perlahan mata hitamnya mulai berubah warna ke warna yang sama dengan warna darah, merah pekat. Sepasang taring muncul di sudut bibirnya. Ia berubah. Vampire.
Takut…
Takut…
Takut…
Aiden merasakan seluruh tulangnya lemas melihat itu. Marcus dalam sosok vampire…
Marcus menerjang dan mengangkat tubuh pria itu dan tanpa segan membenturkannya dengan keras ke dinding. Dan sepasang taring itu menancap di leher sang pria yang tak sadarkan diri.
Aiden memandang itu dengan ngeri. Dengan matanya sendiri ia melihat tubuh pria itu perlahan menyusut, berubah menjadi kurus kerontang sebelum
PLAS!
—menjadi abu.
Marcus menggeram lagi, menampilkan taringnya yag kini berlumur darah. Dia menginjak butiran abu itu. Dan sekali lagi ia memandang Aiden yang terbaring menyedihkan di tanah. Marcus berjalan mendekat dan ia tahu tubuh itu gemetaran, menahan takut. Sosok itu takut padanya. Ia berhenti, niatnya untuk menghampiri sosok itu seakan terhalang oleh sesuatu dalam pikirannya. Perlahan… ia kembali berubah. Matanya yang kini kembali hitam kelam memandang mata sayu Aiden dan tubuhnya yang penuh bercak merah.
Marcus berbalik, hendak pergi. Rasa kecewa menyelip di hatinya saat tahu bahwa Aiden masih takut padanya.
Satu langkah.
"J-jangan pergi!"
Dua langkah.
"…K-kumohon jangan pergi... Hiks…"
Tiga langkah.
"Marcus..."
DEG
Itu adalah kali pertama ia mendengar sosok itu memanggil namanya. Sebuah perasaan aneh hinggap dalam benaknya saat namanya disenandungkan oleh pemuda manis itu. Inikah rasanya…
Marcus berbalik, menatap dingin sosok itu. Ia ingin, begitu ingin memeluk sosok itu lagi, menghampirinya yang kini terlihat sangat rapuh di matanya. Tapi… "Kau takut padaku."
Marcus melihat sosok lemah itu menggeleng pelan dengan susah payah. Meski begitu Aiden merasakan tubuhnya masih gemetaran, tapi Ia tak mau sosok itu pergi. Hatinya melarangnya. Ia tak mau ditinggalkan olehnya. "A-aku tidak takut padamu." ujarnya.
Marcus menatap mata itu lekat, seakan tak percaya. Akan lebih mudah jika ia bisa membaca pikiran pemuda itu. Ia tahu pemuda itu berbohong saat mengatakan sudah tak takut lagi padanya, tapi keinginannya untuk menyentuh sosok itu lagi lebih besar sekarang.
Zlaaaap.
Tiba-tiba saja sosok itu sudah ada di depan Aiden. Berlutut di samping sosoknya yang terbaring. Marcus membuka ikatan di tangan Aiden. Perlahan mengusap air mata yang ada dipipinya dengan perlahan menggunakan tangannya, lembut. "Jika kau tak takut padaku. Kenapa kau menangis?"
Aiden menutup matanya, air matanya seakan tak bisa berhenti mengalir, ia sendiri tak tahu mengapa.
Melihat itu, Marcus tak tahan untuk tak mendekatkan wajahnya ke wajah Aiden yang masih dalam posisi terbaring. Dengan begitu saja Ia mengecup sudut bibir Aiden, menjilat darah di sana, menghisapnya pelan meski Aiden sedikit meringis saat ia melakukannya. Manis. Setelahnya ia beralih mengecup setiap air mata yang turun di pipi Aiden hingga tak tersisa.
DEG DEG
DEG DEG
Aiden merasakan jantungnya berdetak tak menentu. Ia juga merasakan suatu sengatan aneh dalam tubuhnya saat Marcus melakukan itu. Aiden membuka matanya kemudian. Mata sayunya bertemu dengan mata hitam Marcus lagi, yang kini begitu dekat dengan wajahnya.
"Jangan menangis…"
Ada perasaan senang membuncah dalam diri Aiden saat mendengar Marcus mengatakan hal itu. Aiden mengangguk pelan, masih bisa merasakan kecupan di ujung bibirnya sedetik lalu.
Marcus menatapnya lagi sebelum membuka mantelnya. Ia menyelimuti itu ke tubuh Aiden yang tak berpakaian sebelum mengendong sosok itu dalam dekapannya. Aiden sendiri tak menolak, ia bisa merasakan tangan dingin Marcus mengangkat tubuhnya. Meski begitu ia merasa nyaman, perlahan ia menyenderkan kepalanya ke dada Marcus.
Meski tak ada detak jantung di sana, meski sebenarnya pelukan itu sedingin es, Aiden tetap merasa hagat dan… nyaman.
Marcus berdiri, dengan Aiden di gendongannya menyembunyikan wajahnya di dada Marcus dengan tangan mengalung di lehernya. Mata sayu Aiden mendongak, Marcus merunduk menatapnya. Pandangan keduanya kembali bertemu.
"Marcus..."
Meski jantungnya sudah tak berdetak, Marcus merasa seakan itu terpompa lebih cepat saat mendengar namanya kembali disebut oleh suara lirih yang terdengar indah itu.
"Aku tak takut padamu." kali ini Aiden begitu yakin. Dan sosok itu terpejam.
Marcus mendongak menatap langit dengan pikiran semakin penuh.
Perasaan apa ini?
—o0o—
To be Continued
—o0o—
Cuaps Author
EHM. Naik rate jangan ya? Itu Aidennya udah di gendong Marcus tinggal masuk kamar deh XD /wuhu Tadinya sih ga akan masukin 2NE1 tapi Big Bang, tapi—masa cowo semua ga ada yang beningnya /plak
Oiya. Yang minta pasangan Dennis, udah ada ya di atas kkk~~ dan yang minta Kyuhae moment-nya dibanyakin juga itu diatas~~~ haha /apasih
Lagi iseng author baca ulang cerita ini. Dan dipikiran author langsung kepikiran: ya ampun ini cerita aneh banget -_- mana typo bertebaran lagi. Banyak bagian yang rancu dan ga nyambung. Dan yang paling penting: kok ngantuk bacanya ya? Apa karena kepanjangan? /cakartembok
Tapi meski begitu, author mau ucapin makasih banget. Terutama yang udah mau baca plus review plus nunggu (adakah?) cerita aneh macam begini. Apalagi yang udah nge-fav sama nge-story alert. Ya ampun kalian baik bangeeeet :* Seneng deh baca review dari kalian semua, bikin author senyum-senyum plus semangat. Dan maaf kalo misalnya ga bisa dibales satu-satu. Sebenernya pengen tapi selalu ga keburu hehe /ngeles
Spesial Thanks buat yang review chap kemarin^^
NaHaZa | Evil Thieves | saranghaeSJ | kihae dp26 | uchihaputry | cho devi | ika. zordick | sugih miinah | dew'yellow | Lullu48129 | Anami Hime | arumfishy | nurul aini | lee meiran | Raihan | nvtclouds | zakurafrezee | widyaokta | Imcherlonntan | Hitomi Mi Chan | Reita | triple3r | Park Ji Ra | BluBlue | laila. r. mubarok | rinchan | LoveKiHaeeeee
Semoga kalian ga bosen buat review lagi ya ^^
Author bener-bener mengharapkan kometar, saran kritikan (flame juga boleh) dari pada reader sekalian.
Ceritanya aneh? Typo?
KOMEN PLIS :D
See yaa ^^
(Edited: Bandung 04/05/2013)
