SM SCHOOL

© BluePrince14

Declaimer:

Super Junior isn't Mine.

Cast:

Member's Super Junior in their western name;

Leeteuk as Dennis. Heechul as Casey. Hankyung as Joshua. Kangin as Jordan. Yesung as Jerome. Shindong as Mathew. Sungmin as Vincent. Eunhyuk as Spencer. Donghae as Aiden. Siwon as Andrew. Ryeowook as Nathan. Kibum as Bryan. Kyuhyun as Marcus.

Yunho as U-know. Jaejoongas Hero.

2NE1's member; CL, Bom, Minzy, Dara

Genre:

Fantasy/Romance

Warning:

Alternate Universe, Out of Characters, Miss Typo(s), YAOI/BL, Badplot and Descript, Crack Pair!

DON'T LIKE DON'T READ!

.

Summary:

Sejak kapan mangsa dan pemangsa bisa hidup damai bersama? Vampire dan manusia? Itu sama saja mengantarkan nyawa! "Aku mau pergi dari sini!"

—o0o—

Chapter V

The Answer is…

—o0o—

Marcus membaringkan Aiden di tempat tidur dengan perlahan dan menyelimuti tubuhnya. Ia memang sengaja tak langsung membawanya ke sekolah, melihat keadaannya yang seperti itu entah apa yang akan dikatakan temannya nanti. Selain itu dirinya juga harus segera pergi, ia harus mengurusi sesuatu.

"Maafkan aku," gumamnya sambil menyingkirkan beberapa helai rambut di pipi Aiden. Seandainya ia menolongnya lebih cepat, mungkin sekarang takkan jadi begini. Padahal sudah sejak lama ia memperhatikan dari atas sana, menyeringai karena tak usah turun tangan memberi pelajaran pada penguntit itu. Ia hanya tak tahu itu Aiden karena ia tak bisa melihat wajahnya dari sana. Ia sadar saat mendengar teriakannya dan itu pun perlu waktu tiga teriakan untuk menyakinkannya.

Dengan perlahan Marcus mengecup dahi Aiden yang tak sadarkan diri dan kembali memandang wajah manisnya. Ia sendiri tak mengerti, mengapa ia begitu peduli pada sosok ini. Baginya sosok ini sangat berharga, bahkan terlalu berharga untuk merasakan sakit. Ada perasaan entah apa saat ia melihatnya menangis, melihatnya yang begitu rapuh dan itu membuat Marcus ingin selalu melindunginya. Mungkin ini hanya bentuk rasa bersalahnya atau mungkin juga hanya manifestasi dari rasa penasarannya yang begitu besar dan berlebihan.

Ia tak tahu, tak tahu dengan pasti.

"Aku harus pergi," gumam Marcus meski ia tahu mungkin Aiden takkan mendengar ucapannya itu. Mengingat ia masih punya urusan yang lain. Untuk ke sekian kalinya ia menatap sosok manis itu dengan sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Setidaknya ia akan aman meninggalkannya di sini. Perlahan kakinya melangkah menuju jendela dan membukanya.

"Good night..."

Dan

POFF!

Sosok itu berubah menjadi kelelawar dan terbang keluar melalui jendela yang terbuka. Meninggalkan sosok yang tak sadarkan diri itu bersama mimpinya.

Ia akan kembali, setelah urusannya selesai. Tunggulah.

—o0o—

Bryan mengepalkan tangannya dengan kuat di balik meja. Ia sudah tahu semuanya, tentang kembalinya mereka. Jadi ini yang di maksud Marcus hal penting itu. Tanpa disadarinya giginya gemeletuk menahan amarah yang tiba-tiba muncul.

"Bryan, kau tak apa?" Spencer bertanya khawatir saat melihat kawan yang duduk tepat di sampingnya tiba-tiba terdiam dengan tangan mengepal. Ia tahu persis apa yang ada di pikiran temannya saat ini; perasaan marah dan …dendam.

Kejadian dua tahun yang lalu bukanlah hal yang akan mudah dilupakan oleh seorang Bryan yang punya ego dan harga diri setinggi langit. Dia terluka parah di perang itu dan hampir mati di tangan seseorang dari mereka. Ia bahkan takkan bisa melupakan penghinaan yang ia dapat saat tubuhnya diinjak oleh wanita itu, sesaat sebelum jantungnya hendak dihunus dengan sebilah pisau. Beruntung, Marcus datang dan meolongnya karena jika tidak, dirinya pasti sudah musnah—menjadi abu.

Memikirkannya semakin membuat kepalan tangan Bryan menguat.

Tak ada yang bicara.

Keheningan memenuhi ruangan remang itu. Beberapa vampire nampak berfikir keras sementara sebagian lagi nampak gelisah. Ini bukanlah berita baik. Kedatangan mereka akan benar-benar membuat keaadan yang jauh berbeda dari sekarang. Belum lagi jika mereka sampai menemukan kastil itu, entah apa yang akan terjadi.

Seorang pria berambut pirang mengangkat tangannya, "Bukankah akan lebih baik jika kita menghindar? Kita tak ingin terjadi perang lagi." usulnya.

"Jika itu yang memang ingin kau lakukan, pergilah. Dan sandanglah kata pengecut di belakang namamu selamanya." suara tiba-tiba muncul dari arah pintu. Semua yang ada di situ menoleh, melihat sosok itu masuk dengan ekspresi datar sekaligus tersinggung atas pendapat yang baru saja ia dengar. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya yang selalu tersedia untuknya, menatap tajam orang yang tadi berpendapat, "Kita bukanlah bangsa yang lemah, yang akan lari begitu saja," lanjutnya dingin dengan pandangan begitu menusuk.

Pria berambut pirang itu menunduk tak berani memandang Marcus, "Sorry, Prince…" ia terlihat begitu takut setelah salah bicara seperti itu.

"Marcus…" suara U-know kali terdengar, begitu berwibawa tepat di seberang Marcus duduk sekarang, "Kurasa apa yang dikatakannya tak sepenuhnya salah. Kita tak ingin kehilangan lebih banyak, sudah cukup dengan kejadian dua tahun yang lalu. Menghindar bukanlah ide yang buruk mengingat mereka benar-benar berbahaya." lanjutnya lagi mendukung pendapat pemuda pirang tadi, yang kini mulai mendapat kembali kepercayaan dirinya karena didukung sang mentor.

Marcus terdiam, terlihat tak setuju. Tapi sebelum ia bisa bersuara U-know kembali berbicara, "Mereka sudah begitu mengenal seluk beluk tentang bangsa vampire. Senjata-senjata mereka sengaja dibuat untuk melumpuhkan kita, dilumuri zat-zat berbahaya. Selain itu aku mendengar bahwa mereka telah menemukan virus yang bisa membunuh seluruh vampire dengan jangkauan satu kota hanya dalam waktu tiga puluh menit."

Marcus termangu—begitupun semua orang yang ada di ruangan itu, mereka tak menyangka dengan semua apa yang di katakan U-know barusan.

—Virus?

"Jika benar apa yang kau katakan. Kenapa sampai sekarang mereka tak menggunakan virus itu untuk membasmi kita? Bukankah itu akan jauh lebih mudah dibanding harus bertempur?" Vincent yang sedari tadi diam berbicara, menanyakan hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan seluruh penghuni ruangan itu.

U-know menatapnya datar, sebelum berkata, "Itu karena tempat penyimpanan virus itu terkunci. Dan itulah yang mereka kerjakan selama dua tahun ini, mencoba membukanya."

U-know memandang seluruh wajah orang di sana. Diantara sekian banyak wajah itu, hanya satu yang tak menampikkan ekspresi terkejut. Dan hal itu wajar, karena dialah sumber dari semua informasi yang dibicarakan olehnya sejak tadi. "Zhoumi, bisa kau jelaskan apa yang dikatakan profesor Kim padamu?" pinta U-know.

Zhouumi—lelaki dengan rambut merah itu mengangguk, "Virus itu, virus itu memang sudah berhasil diciptakan. Tapi virus itu belum sempurna." mulainya.

Seorang pria berambut platina terlihat tak mengerti dengan yang diucapkannya, "Apa maksudmu?" tanyanya.

"Ya. Virus itu belum sempurna atau dengan kata lain masih dalam keadaan non-aktif. Virus itu akan sempurna jika ditambahkan darah sang pencipta virus itu sendiri atau keturannya dan darah dari vampire murni." jelas Zhoumi sambil mengangkat bahunya, "Virus ini dimasukkan ke dalam sebuah tabung, dan cara kerjanya adalah dengan menembakkannya melalui senjata khusus kepada sang vampire murni yang nantinya akan membuat tubuh vampire itu meledak. Virus itu mengikat darah si vampire, berkembang biak dengan begitu cepat di udara dan menyebar ke seluruh kota hanya dalam waktu tiga puluh menit." lanjutnya.

Semua mata saling berpandangan gelisah. Sementara Marcus terdiam dengan pikiran penuh. Jika memang benar seperti itu adanya …maka seluruh vampire di kota ini akan musnah. Dan bukan hal tak mungkin mereka benar-benar membinasakan vampire dari bumi ini.

"Bagaimana Profesor Kim tahu semua itu?"

"Pembuat virus itu adalah teman baiknya. Dan kabar baiknya ia sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu. Ia mengunci virus itu di sebuah tempat." jawab Zhoumi setengah melamun.

"Bukankah kalau begitu virus itu tidak akan pernah bisa diaktifkan? Darah dari sang pembuatnya sudah tidak ada." tanya Bryan dengan alis mengerut, heran.

Semua memandang Zhoumi, meminta penjelasan. Begitupun dengan Marcus.

Zhoumi memandang semuanya dengan tatapan datar, "Sayangnya ia punya seorang anak. Yang hilang enam belas tahun yang lalu."

Hening...

"Semua terserah padamu, Marcus. Kami akan mematuhi semua yang kau perintahkan." ucap U-know dengan penuh kehormatan, menatap Marcus yang terus terdiam. Bingung harus berbuat apa.

Apa?

Apa yang harus dilakukannya?

—o0o—

Dennis terlihat begitu bahagia, akhirnya setelah sekian ia lama menunggu, orang tersayangnya kembali tanpa kurang sesuatu apapun. Tak terkira rasa senang di hatinya sekarang. Sedari tadi ia bahkan tak bisa menghapuskan senyum di wajahnya, tak peduli bibirnya mulai kelu karenanya.

Meski begitu ia masih bergelut dengan semua tugasnya namun kali ini dengan lebih semangat. Masih banyak yang harus ia kerjakan meski kini cahaya matahari mulai berubah jingga. Ini memang sudah sore.

Huh. Ia sebenarnya kecewa saat Zhoumi bilang ada yang harus diurusi padanya tadi sebelum pergi, ia masih merindukan sosok itu dan ingin ia berada di dekatnya. Tapi apa mau dikata.

Meski begitu ia masih senang.

"Hmm... Hmmm..." sebuah gumaman dari sebuah lagu keluar dari bibirnya, sementara ia masih sibuk mengoreksi beberapa lembaran. Ia memainkan pena di tangannya sesekali sebelum menggunakannya untuk memberi tanda dan catatan kecil di lembaran itu. Selesai dengan lembaran yang satu ia beralih mengambil lembaran yang lain. Terus seperti itu.

BRAK!

Pintu ruangan itu terayun terbuka dengan keras, menampilkan sosok Casey dengan raut penuh kekhawatiran di ambang pintu. "Dennis…" panggilnya.

Dennis cukup tersentak dengan semua itu. Ia menyimpan kertas dan penanya lalu menghampiri Casey di ambang pintu, alisnya menyerhit sebelum bertanya, "Ada apa, Casey?"

"Kau lihat Aiden?" bukannya menjawab, sebuah pertanyaan lain malah di lontarkannya.

Dennis seketika menggeleng, tak ada orang lain yang datang ke ruangan ini selain Zhoumi. Lagipula ia memang tak melihat Aiden sejak terakhir kali bel pulang berbunyi tadi, "Tidak. Memangnya ada apa?" tanyanya. Penasaran.

Casey terdiam sambil menggigiti kukunya, perasaan takut tiba-tiba menghampirinya, "Dia tak ada Dennis. Dia tak ada di kamar."

DEG

Perasaan senang Dennis seakan luntur mendengar sebaris kalimat itu, langsung tergantikan dengan perasaan cemas dan khawatir yang tiba-tiba muncul, "Benarkah?"

Casey mengangguk.

Dennis termangu, memikirkan kemana kiranya Aiden akan pergi. Tapi ia tak mendapatkan jawabannya. Aiden itu anak baru, ia belum mengenal tempat ini. Ia hanya takut sosok itu tersesat atau terjadi sesuatu yang buruk padanya. "Kau sudah benar-benar mencarinya, Casey? Ke cafetarian? Ke toilet? halaman? ke—"

"Sudah Dennis!" potong Casey kesal, ia merasa dirinya tak dipercaya hingga ditanyai seperti itu. Ia sudah mencarinya ke mana-mana dan tak menemukannya makanya dia panik begini, "Joshua juga sedang mencarinya. Tapi kami belum menemukannya. Dia… hilang." lanjut Casey.

"Siapa yang hilang?"

Casey dan Dennis tersentak bersama saat suara bernada dingin itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Pandangan mereka beralih ke asal suara itu. Sosok itu berjalan mendekati mereka, dengan wajahnya yang datar dan tak berekspresi dengan kedua tangan di saku.

"Jerome," Dennis mendesah, menghela napasnya pelan, "Kau mengagetkan kami." keluhnya. Sementara Casey nampak kebingungan dengan kedatangan tiba-tiba sosok itu. Ia menatap Jerome lekat. Benar kata Dennis, dia aneh. Selalu muncul dan hilang tiba-tiba.

"Siapa yang hilang?" tanya Jerome lagi dengan nada tak berbeda, mengabaikan hal lainnya—termasuk perkataan Dennis dan tatapan Casey padanya.

"Aiden. Dia menghilang," jawab Dennis dengan kekhawatiran yang mulai muncul lagi. Ia menunduk, pikiran-pikiran buruk memenuhi otakknya. "Apa kau melihatnya, Je—"

Eh?

Kemana perginya sosok itu? Sedetik tadi dia masih berada di depannya, di samping Casey. "Benar-benar seperti hantu," komentar Casey yang ternyata sama seperti Dennis, tak menyadari kapan sosok Jerome pergi. Terkaget. …padahal tadi sosoknya tepat di sebelahnya.

Sebenarnya dia makhluk apa?

"Lebih baik kita mencari, Aiden." ujar Dennis sambil beranjak dari sana, meski begitu ia tak memungkiri rasa penasarannya pada sosok yang tadi pergi dan datang seenaknya itu.

Aneh sekali...

—o0o—

Tok! Tok!

"Sebentar!" seruan dari dalam membuat sosok yang kini berada di depan pintu terdiam. Pintu terbuka tak lama kemudian, menampikkan sesesok namja manis dengan pipi chubby yang keheranan dengan kedatangan tiba-tiba tamunya, "Bryan?" tanyanya.

GREP

Sosok manis itu tersentak saat sang tamu tiba-tiba saja memeluknya, begitu erat. "B-bryan, ada apa?" tanyanya dengan khawatir dam terkejut. Ini tak seperti biasanya.

"Biarkan seperti ini, baby." bisik Bryan pelan tepat di telinganya. Sosok manis bernama Henry itu menangguk sambil membalas pelukan Bryan, memeluk tubuh itu sama eratnya. Ia tak keberatan meskipun, ia hanya cemas. Bryan berlaku seperti ini pasti karena telah terjadi sesuatu.

Hening…

"Aku akan membalasnya, Baby. Wanita itu… akan aku buat menderita. Lihat saja," Bryan bergumam penuh amarah, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Henry yang kini semakin kebingungan dengan semua ucapannya.

Membalas? Wanita?

"Apa maksudmu Bryan?" tanya Henry sambil melepas pelukan mereka, mendongak menatap mata Bryan yang kini diliputi amarah. Matanya mengerjap, saat sebelah tangan Bryan mengusap pipinya.

"Mereka kembali."

DEG

"Dan aku akan membalas mereka atas kejadian dua tahun yang lalu."

Semua pemahaman muncul di benak Henry saat itu juga, ia memandang Bryan lagi dan langsung memeluk tubuh itu begitu erat, seakan tak mau melepasnya. Lagi.

"Tidak boleh!" dia menggeleng kuat-kuat sebagai larangan, "Kau tidak boleh pergi, Bryan! Aku takkan biarkan itu!" jerit pemuda manis itu dalam dekapan Bryan. Tidak, cukup ia merasakan sakit melihat Bryan terluka parah dua tahun lalu. Ia tak mau kembali mengalami hal mengerikan itu. Ia begitu mencintai sosok ini.

Bryan mengelus surai hitam milik Henry dengan lembut, matanya melembut, "Aku akan tetap pergi, Baby." ujarnya lirih.

Henry seakan dihantam benda keras, tiba-tiba saja ia merasa sesak sekali. Dengan perlahan ia melepas pelukan itu dan duduk di lantai, menekuk lututnya dan memeluk tubuhnya sendiri. "Aku tak mau ditinggalkan Bryan…" kalimat itu terus diucapkan berulang kaki dengan pandangan kosong.

Bryan merasa hatinya sakit, ia telah menyakiti 'mochi'-nya dengan sikap egoisnya ini. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk melakukan hal ini, termasuk kekasihnya sendiri. "Mochi." gumam Bryan dengan pilu, "Aku berjanji akan kembali."

Dan Bryan pun pergi, menghilang dari sana, terbang sebagai kelelawar.

Meninggalkan Henry yang mulai menangis. "Henry tak mau ditinggalkan Bryan…" ujarnya.

Tiba-tiba saja saja sosok lain muncul.

Ia mendekati Henry dengan khawatir, "Henry! Kau kenapa?!"

—o0o—

Jerome berjalan secepat yang ia bisa, ia seakan tahu dengan pasti di mana sosok yang dicarinya karena ia melangkah tanpa keraguan, seolah-olah ada yang menunjukkan jalannya. Wajahnya sama sekali tak menampakkan ekspresi berarti namun sesungguhnya hatinya diliputi perasaan cemas yang berlebihan.

Mata hitamnya menyapu sekitarnya, terlihat begitu waspada. Ia mendesis, seakan-akan ada yang mengganggunya. Ia mendelik tajam pada sebuah gang yang diapit dua gedung tinggi sebelum kembali melangkah dan berhenti di sebuah gedung. Sebuah motel.

Dengan begitu saja pemuda ini masuk, menaiki tangga. Tak diperdulikannya seruan protes penjaga tempat itu.

Brak!

Dengan kakinya ia membuka pintu, membuatnya terayun dan terbuka lebar. Perasaan lega menyelimutinya saat melihat sosok yang ia cari memang berada di sini, tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya.

"Aiden…" panggilnya pada sosok itu sambil beringsut mendekat. Mata hitamnya memandang wajah damai yang tengah tertidur itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Paras itu terlihat begitu indah di matanya.

Jerome menyerhit, melihat sesuatu yang seharusnya tak ada. Sebuah luka tepat di ujung bibir. Dengan sebelah tangan, tanpa membuang-buang waktu ia menyingkap selimut.

Dan hatinya mencelos saat ia melihat tubuh indah itu penuh bercak kemerahan. Ia setidaknya dapat memprediksi apa yang terjadi sebelumnya, ia tidak bodoh. Hatinya tiba-tiba saja diselimuti kemarahan. Kedua tangan di sisi tubuhnya tiba-tiba saja mengepal dengan begitu kuat.

"Siapa yang berani melakukan ini?" desisnya berbahaya dengan pandangan tajam.

Tanpa membuang waktu ia melepas jaket yang ia pakai dan mengenakannya pada tubuh Aiden dengan hati-hati sebelum mengangkat sosok itu di depan dadanya dan pergi begitu saja, secepat kilat meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan tirai jendela yang perlahan tertiup angin malam…

—o0o—

"Bom," panggil Minzy sambil berjalan mendekat ke arah wanita itu, yang kini sibuk dengan senjatanya, sebuah busur dan panah-panah yang terbuat dari metalik. Ia sibuk menyuntikkan cairan berwana bening dari tabung reaksi ke dalam panah spesialnya. Berpuluh-puluh tabung reaksi baik yang sudah kosong maupun masih terisi tersebar di meja itu.

"Bom," sekali lagi Minzy memanggilnya, tangannya sedari tadi tak henti-hentinya menyodorkan sebuah botol kecil dan segelas air minum. Berharap wanita itu menyambutnya, tapi Bom terdiam, tak bergeming. Mengabaikan itu dan terus dengan pekerjaannya.

"Bom! Berhenti keras kepala!" Minzy berteriak marah, merasa kesal diabaikan. Meski ia begitu peduli pada temannya itu, ia juga punya batas kesabaran dan batas kesabarannya sudah habis sekarang.

Bom mendelik, merasa terganggu. Ia menatap tajam sosok Minzy dengan maniknya yang berbeda warna, begitu tajam. Ia tak suka diganggu, "Taruh saja disitu dan pergilah," ujarnya dingin.

"Ya, dan kau takkan meminumnya lagi!" balas Minzy sambil meletakkan kedua benda itu di meja dengan sedikit bantingan, ia benar-benar kesal. Beranjak pergi dan keluar lewat pintu otomatis yang terbuka saat ia mendekat.

"Dara, lain kali kau saja yang menyuruh Bom minum obat. Aku tak mau. Dia benar-benar keras kepala dan menyebalkan," keluh Minzy sambil mendudukkan dirinya di samping Dara yang sama seperti Bom, sibuk dengan senjata mereka di sofa. Berpuluh-puluh pisau berbagai ukuran tersebar di sekitarnya.

"Kau tau 'kan kenapa dia seperti itu? Biarkan saja…" Dara menanggapinya santai, ia mulai menyusun pedang-pedang kecil di meja.

"Kalian berdua sama saja."

Dara terkekeh, masih sibuk dengan senjatanya. Meski begitu ia masih sempat bertanya, "Kau sudah menyiapkan senjatamu, Min?"

Minzy menggeleng sebagai balasan, "Malas ah. Nanti saja," ujarnya sambil bersender ke kursi, menguap. Ia mengantuk.

Dara memandang dinding, di sana terpajang dua senjata lain dalam sebuah kotak kaca, sebuah cambuk—milik Minzy dan pistol kesayangan CL. Melihat pistol metalik itu mengingatkannya pada CL.

Ahh… kapan ia akan bangun?

"Aish. Tempat penyimpanan virus itu benar-benar tak bisa di bobol, keamanannya menggunakan sistem DNA. Seandainya profesor masih hidup mungkin kita sudah membasmi mereka sekarang." Minzy sudah sibuk berkutat dengan komputer pengendali lagi. Dara bahkan tak menyadari kapan ia beranjak dari sofa.

"Pencarian anak itu bagaimana?" Dara bertanya.

"Nihil. Aku bahkan tak yakin rumor bahwa profesor punya anak itu benar." Minzy mengemukakan asumsinya, tapi sebentar kemudian dia menyerhit, "Meski aku pernah melihat foto bayinya sih." katanya tak yakin. Dulu ia tak percaya bahwa foto itu memang bayi sang profesor, masalahnya profesor tak pernah menikah.

Dara mengangguk-angguk saja. Kalau tidak bisa menggunakan virus, tinggal bertarung saja 'kan? "CL—bagaimana dengan dia?" tanyanya, berharap akan mendengar jawaban yang akan membuatnya senang. Tapi sepertinya dia harus kecewa. Lagi.

"Masih belum ada perkembangan…" balas Minzy sambil menatap Dara, "Kau sih pake acara bilang segala kalau 2NE1 sudah kembali, harusnya kita menunggu CL sadar dulu!" keluh Minzy lagi.

Dara hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.

Tak tahu harus bilang apa.

—o0o—

Aiden terbangun dengan perasaan begitu senang, meski beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Ia tersenyum sambil bangkit dari ranjanganya. Merasakan sedikit pusing saat ia berdiri.

"Apa yang terjadi kemarin?" Dennis bertanya khawatir melihat Aiden seperti itu. Jerome membawa Aiden pingsan dengan kondisi mengenaskan dan Aiden malah terbangun sambil tersenyum seperti orang gila. Benar-benar mengkhawatirkan.

Aiden hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia masuk ke kamar mandi dan mendapati Casey dan Joshua tengah bercermin. Keduanya menatap Aiden. "Morning…" sapa Aiden tanpa memperdulikan tatapan mereka. Ia masuk ke bilik toiletnya dan mulai mandi. Ia ingin segera masuk ke kelas dan bertemu …Marcus?

Oh, sepertinya pengaruh kejadian kemarin benar-benar besar untuknya. Aish. Ia makin terlihat seperti gadis yang tengah kasmaran.

Setelah menyelesaikan semua ritual membersihkan dirinya, ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Tapi pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada sudut bibirnya yang terluka. Entah dirasuki apa, ia mengangkat tangannya dan menyentuh luka itu. Aiden tersenyum lagi mengingat kejadian kemarin. Apa yang dilakukan Marcus dengan sudut bibirnya.

DEG DEG

DEG DEG

Ia bahkan masih bisa merasakannya di sudut bibirnya.

Aish. Memikirkannya bahkan membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Ia menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran itu dan kembali bersiap-siap. Setelah merapikan seragamnya dan memastikan semuanya siap ia keluar dari kamar mandi. Ketiga temannya sudah menunggunya.

"Aku lapaaaar," keluhnya sambil mempoutkan bibir begitu sampai diantara ketiga temannya.

Dennis merangkul bahunya dan mereka berjalan.

"Berhenti beraegyo! Berapa kali kukatakan!" Casey berkomentar sambil menutup matanya.

"Katakan kenapa dan akan kulakukan?" Aiden malah semakin menantang, ia mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya tepat di depan Casey. Terlihat begitu lucu.

"Aaa. Jauhkan dia!" Casey yang tadinya berjalan di samping Aiden langsung menggeser Joshua supaya berpindah tempat. Semuanya tertawa melihat tingkah Casey yang kini terlihat sebal. Aiden yang sedang beraegyo itu sangat tidak baik untuk jiwa uke-nya, tahu! Ha?

Mereka sampai di cafetarian dan mencari tempat duduk, tempat ini sudah mulai penuh. Beruntung mereka mendapatkan satu, tak jauh dari pintu. Joshua dan Dennis berbaik hati memesankan makanan sekarang, menyisakan Aiden dan Casey di meja, menunggu mereka dan makanannya.

"Kau baik-baik saja 'kan?" Casey bertanya dengan raut aneh saat melihat Aiden tak berhenti tersenyum-senyum sejak pagi. Memang apa yang menimpanya kemarin hingga dia jadi seperti itu.

Belum sempat Aiden menjawab, meja panjang itu tiba-tiba saja berdecit, bersamaan dengan duduknya dua orang di samping mereka. "Hai, Aiden." pandangan orang itu beralih ke Casey, "Morning, princess." sapanya dengan mata berbinar-binar. Casey menekuk wajahnya saat tahu siapa itu, tapi Aiden malah terkekeh dan tak lupa menyapa keduanya sambil mengumbar senyum manisnya. "Hai, Nathan, Jordan."

Sebuah senyum dilontarkan keduanya sebagai balasan.

Mereka berbincang ringan sampai Joshua dan Dennis datang membawa makanan. Mereka memulai sarapan mereka sambil ngobrol dan tertawa melihat Jordan menggoda Casey.

Pandangan Joshua terfokus ke arah pintu dan dia langsung tersenyum melihat siapa yang ada di situ, berdiri di ambang pintu. Sambil meminum susunya ia menatap Dennis, "Ah lihatlah, Dennis. Sepertinya pangeranmu sudah menunggu di depan pintu." godanya sambil terkekeh.

Dennis yang sadar, ia dan semua orang di meja itu menoleh. Seketika saja wajah Dennis memerah, semua orang—minus Aiden—tertawa melihatnya.

"Sudah sana!" Casey menyeringai sambil mendorong Dennis cukup keras.

Dengan segera Dennis bangkit, menghampiri sosok itu dengan wajah berbinar.

"Siapa dia?" Aiden bertanya setelah sekian lama larut dalam ketidaktahuan, ia mengamati pemuda itu. Pria tinggi, tampan dengan rambut merah dan …seragam hitam? Ha?

"Zhoumi, pacar Dennis."

"Uhuk!" Aiden yang baru meneguk susunya langsung tersedak karena sebaris kalimat itu. Wah. Benar-benar ia tak bisa mempercayainya. "Dia… vampire?" tanyanya lagi, masih penasaran.

"Dia setengah vampire."

—o0o—

"Hukuman tingkat lima dijatuhkan kepada Marcus atas kecerobohannya membunuh manusia berpengaruh dan membuat kecurigaan manusia atas vampire kembali." U-know berujar tenang dari podium di hadapan seluruh para siswa Black yang sengaja di kumpulkan di aula. Ia menutup gulungan kertas yang menjadi surat perintah langsung dari kepala sekolah.

Ruangan luas itu yang tadinya hening seketika riuh dan dipenuhi dengan bisik-bisik, menggema terus menerus. Pengumuman itu sangat mengejutkan mereka, mereka sangat tak menyangka akan mendapatkan berita seperti ini di jam pulang sekolah. Tak sedikit dari mereka yang menatapi Marcus. Antara heran, tak percaya dan kasihan.

"T-tingkat lima? Tidak mungkin!" Spencer berteriak panik, ia memandang Marcus yang kini berdiri diam membatu sambil menutup matanya dengan santai, seakan tak terjadi apapun.

"Marcus apa yang sebenarnya telah kau lakukan?" Bryan sama terkejutnya dengan mereka, ia tak menyangka temannya akan berbuat kesalahan fatal hingga sampai seperti ini.

Tapi Marcus tak bergeming, tak membuka suaranya. Ia tak terkejut karena ia sudah terlebih dahulu diberitahu U-know. Dengan sebuah surat kabar di tangannya, U-know datang—menanyakan kebenaran atas tuduhan sang kepala sekolah yang memang selalu tahu segalanya. Marcus mengelak awalnya, namun ia terpaku saat melihat wajah yang katanya anak wali kota yang kini hilang.

Wajah itu… Bagaimana bisa ia lupakan? Dia adalah pria yang sama yang telah menyakiti Aidennya. Pria yang telah ia pukuli dan tendangi hingga sekarat. Yang sudah ia musnahkan dengan menghisap darahnya hingga tak bersisa, hingga menjadi abu.

"Kau tidak apa-apa, Marcus?" Vincent bertanya khawatir, temannya itu tak pernah menerima begitu saja keputusan yang akan merugikannya. Tapi kali ini Marcus benar-benar terkesan pasrah.

"Kita akan buat surat protes. Tenang saja Marcus kau tak perlu menjalani hukuman ini." Spencer berkata begitu yakin, ia tak percaya jika temannya melakukan seperti apa yang dituduhkan. Marcus adalah orang yang paling bisa mengendalikan dirinya, setidaknya selama ini begitulah yang terlihat.

Marcus ingin menertawai dirinya sekarang, "Tidak usah," ujarnya dingin. Karena ia memang salah. Dan ia tak menyesal…

Spencer terlihat kesal, "Apanya yang tidak usah! Kau tahu sendiri hukuman tingkat lima itu seperti apa. Kami tak mau kau—"

"—Aku tahu," desah Marcus memotong dengan cepat. Ia tahu semua itu, tapi ini semua salahnya dan ia harus mempertanggung jawabannya, "Aku kuat. Aku akan kembali." Marcus menatap ketiga temannya, "Percayalah, aku akan kembali secepat mungkin." lanjutnya, mengukir sebuah senyum di wajahnya.

Ketiganya tertegun, mereka… belum pernah melihat senyum seperti itu dari Marcus sebelumnya.

"Lalu mereka? Bagaimana dengan mereka? 2NE1? Kau ingin kabur begitu saja?" tanya Bryan sinis, meski ia tak berniat begitu. Ia hanya mencoba menjadikannya alasan untuk Marcus menolak hukumannya, sebagaimana sikapnya dulu. Meski Marcus bilang tidak apa-apa, mereka semua tahu sebenarnya tidaklah seperti itu.

Bryan sendiri yang pernah melewati hukuman tingkat dua sudah begitu merasa sengsara, ia tak mau membayangkan jenis siksaan apa yang akan ditimpakan pada Marcus. Tingkat lima. Dua tingkat menuju tingkat tertinggi dalam hukuman kaum vampire. …Mengerikan.

"Aku takkan lari. Aku juga ingin melawan mereka," Marcus merasa bersalah pada dirinya sendiri sekarang, ia sudah meminta pada U-know untuk menunda hukumannya sampai masalah 2NE1 selesai, agar ia bisa ikut bertarung, tapi U-know menggeleng. Karena hukuman ini memang tak bisa dihindari.—ataupun diulur lebih lama. Nanti malam adalah batas waktunya.

"Marcus!"

Semua pandangan menoleh, melihat satu pangeran lagi berjalan tergesa menghampiri mereka. Dengan secepat kilat ia memegang kedua bahu Marcus, memandangnya tajam meminta penjelasan, "Jelaskan apa yang terjadi!" ujarnya marah.

"Tidak terjadi apa-apa, kakak." balasnya.

"Apanya yang tidak apa-apa, HA? Kau sampai dihukum seperti itu!"

"Sudahlah, Andrew," Vincent mencoba menenangkan Andrew yang benar-benar marah. Senyum berlesung pipitnya hilang tak berbekas dari wajahnya. "Pokoknya aku akan mengatakan semua ini pada King. Agar mereka mencabut hukumanmu," desis Andrew mulai tenang.

"Jangan bercanda, ka. King takkan melakukannya. Hukumanku akan semakin bertambah jika seperti itu," Marcus mendesah bosan, sikap protectif kakaknya ini benar-benar sudah melebihi kata wajar.

"Aku tak peduli, Marcus."

"Terserah."

Marcus berbalik, hendak pergi. Tak mengindahkan teriakan Andrew yang menyuruhnya kembali. Tak mengindahkan ketiga temannya pula. Sekarang ia butuh waktu untuk menyiapkan mentalnya menghadapi hukumannya yang pasti sangat berat.

Dan ia harus menemui seseorang sebelum benar-benar pergi nanti malam.

—o0o—

Aiden dan Dennis sedang bersantai di kamar mereka, sekedar mengobrol sambil saling melemparkan lelucon. Joshua bilang ia ada urusan klub (padahal jelas sekali mereka berdua melihatnya pergi bersama Nathan) sementara Casey bilang ia ingin ke salon dan dengan cepat keduanya menolak untuk mengantar. Bisa mati bosan di sana.

"Kau tahu, Aiden. aku sendiri tak menyangka bisa jatuh cinta pada orang itu," Dennis memulai cerita cintanya dengan Zhoumi dengan wajah berbinar. "Aku memang tak menyukainya pada awalnya, karena dia kaum Black."

"Lalu?" Aiden mendengarkan dengan jelas meskipun matanya sibuk ke arah bacaannya, sebuah novel. Dengan sebuah kacamata berframe hitam, Aiden terlihat sangat berbeda sekarang.

"Dia menolongku, berkali-kali. Dan tanpa sadar aku jadi menyukainya," kekeh Dennis sambil membayangkan kenangannya yang penuh dengan sang pacar. Zhoumi... Zhoumi... Zhoumi...

Aiden merasa familiar dengan cerita seperti itu, tapi ia tak ingin memikirkannya lebi jauh. "Aku dengar dari Casey kalau dia itu setengah vampire," ujar Aiden, masih sibuk dengan buku novel dan cemilannya.

"Ya." Dennis terlihat sedih mengingatnya, "Dulu sewaktu ia kecil ia memang di gigit vampire tapi sang ayah tak mau menerimanya, ia menyuruh seorang profesor untuk merubah anaknya kembali. Yang terjadi malah dia menjadi setengah vampire seperti itu."

Aiden mengangguk-angguk. Ia melepas kacamata dan menaruh bukunya, sepertinya matanya sudah lelah membaca.

"Kau sendiri Aiden? Ada apa antara kau dan Jerome?" tanya Dennis penuh selidik, meski sebuah senyum bertengger di wajahnya.

"Huh?" Aiden sungguh tak mengerti apa yang dibicarakannya. Jerome?—Memang ada apa? "Tidak ada apa-apa." sahutnya sambil menggeleng, beranjak mengambil Nemo dan memeluk boneka kesayangannya itu.

Dennis memandangnya tak percaya, "Tak usah berbohong. Casey bilang padaku kau suka padanya." lanjut Dennis setengah menggoda. Terkekeh.

"A-apa?" Aiden berteriak kaget. Aish. Casey. Kenapa dia bilang seperti itu?

Dennis yang melihat reaksi Aiden yang berlebihan semakin yakin dengan tuduhannya, ia tersenyum memandang Aiden, "Wah benar ya? Aku setuju saja sih, kelihatannya dia juga begitu perhatian padamu." katanya dengan bijak.

"B-bukan seperti itu!" Aiden bisa merasakan wajahnya perlahan memerah

"Hahaha."—dan itu memicu tawa dan godaan dari Dennis menjadi lebih banyak. "Buktinya waktu kau hilang. Dia tiba-tiba datang dan menghilang lagi saat tahu kau hilang. Dia kembali dengan menggendongmu di dadanya? Bukankah itu mencurigakan?" Dennis tertawa, senang melancarkan aksinya menggoda Aiden.

"B-benarkah?" ia begitu terkejut mengetahui kenyataan yang satu ini. Ia kira yang membawanya ke sini Marcus. 'Aish, kenapa kau harus merasa kecewa begini sih, Aiden!'

Tok! Tok! Tok!

Aiden dan Dennis berpandangan mendengar ketukan di pintu kamar mereka, yang datang pastilah bukan Casey atau Joshua karena mereka bahkan takkan repot-repot mengetuk pintu. "Sebentar!" Dennis berteriak sambil beranjak dari duduk santainya, berjalan ke arah pintu guna membukakan pintu untuk tamunya.

"Zhoumi!" seketika wajahnya berubah cerah saat tahu siapa yang datang. Di peluknya sosok itu secara refleks. Sementara itu Zhoumi tertawa, mengelus rambut kecoklatan milik kekasihnya, membalas pelukannya."Kenapa kau kemari?" Dennis bertanya setelah melepas pelukannya.

Zhoumi terkekeh sambil mengusap pipi Dennis dengan sebelah tangannya, "Mengunjungimu, baby." ujarnya sambil mendekatkan wajahnya. Menyatukan bibir mereka… melupakan sosok lain yang ada di sana, memperhatikan mereka.

"Oh, Mum, Dad! Lindungi mata anakmu ini," ujar Aiden berlebihan sambil menutup kedua matanya dengan tangan.

Dennis dan Zhoumi memisahkan diri dengan cepat setelah mendengar itu. Dennis menunduk sambil merona sementara Zhoumi terkekeh. Ia menarik tangan Dennis dan melangkah masuk, mendudukkan diri di ranjang Dennis dan berhadapan dengan Aiden. "Kau Aiden, ya?" tanyanya sambil tersenyum.

"Dan kau Zhoumi, ya?" balas Aiden sambil terkekeh disusul oleh Zhoumi. Zhoumi memandang Aiden, lekat. Ia merasa familiar dengan wajah sosok di depannya tapi ia tak yakin. Dimana? Apakah ia pernah melihat wajah itu?

Dennis yang melihat pacarnya memperhatikan pria lain langsung cemberut, sementara Aiden yang ditatapi seperti itu juga merasa risih. "Kenapa?" tanyanya.

Seketika Zhoumi menggeleng, kesadarannya kembali dan ia tersenyum lagi. Ia merangkul Dennis yang merengut dan mengecup pipinya. "Ah iya Aiden, ada seseorang yang bertemu denganmu. Ia menunggumu di ruang musik. Aku disuruh menyampaikan itu." Lanjutnya kemudian setelah membujuk Dennis agar tak marah padanya.

He?

"Siapa?"

Zhoumi memandangnya geli, "Kau akan tahu jika pergi ke sana."

Ugh. Aiden mempoutkan bibirnya sambil bangkit dari ranjangnya. "Baiklah, aku takkan mengganggu kalian pula," ujarnya sebelum pergi menuju pintu.

Tapi Ia berhenti saat akan membuka pintu dan berbalik lagi, menatap kedua sejoli itu—tepatnya Zhoumi dengan pandangan penuh selidik, "Ini bukan cuma akal-akalanmu supaya aku pergi 'kan?" tanyanya penuh rasa curiga.

Zhoumi tertawa, kenapa orang ini begitu lucu, "Tentu saja tidak." lanjutnya.

Aiden mengangguk-angguk, hendak pergi.

"Kau tahu dimana ruang musiknya, Aiden?" tanya Dennis. Rasanya ia belum pernah menunjukkannya. Bisakah ia pergi sendiri?

Aiden berfikir sebentar lalu menggeleng, ia tak tahu… tapi ia kan bisa mencarinya 'kan? "Tak apa. Kalian lanjutkan saja." dan Aiden pun pergi, menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu.

"Dia lucu," komentar Zhoumi yang langsung terkekeh melihat raut cemberut sang kekasih, "Hei, aku hanya bilang dia lucu," ujarnya sambil mengeratkan pelukannya. Dengan secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya.

"Dennis."

"Ya?"

"Kau tahu ada hubungan apa antara Marcus dan… Aiden?"

Dennis menggeleng dengan raut bingung. "Memangnya kenapa?"

"Tidak," jawabnya sambil tersenyum aneh dan berubah menjadi seringai sesaat kemudian, "Ah, kita hanya berdua di kamar ini, ya?"

Ahh… benar juga.

Glup.

Dennis baru sadar. "Hei tung—" Tak lama kemudian Dennis merasakan tubuhnya di dorong ke ranjang.

Oh. Mari kita tinggalkan mereka.

—o0o—

Jerome membaringkan tubuh lelahnya begitu saja di atas ranjang. Ia menutup matanya menggunakan sebelah tangannya. Hari ini entah kenapa ia merasa lelah sekali. Setiap detik demi detik, membuatnya semakin lelah. Apa ini karena sebentar lagi waktunya?

"Lima hari, Jerome. Waktunya tinggal lima hari lagi," sebuah suara lain terdengar di ruangan itu, berasal dari seorang pemuda bertubuh tambun yang kini sibuk dengan makanan ringannya di atas ranjang, "Lebih baik kau cepat mendapatkannya atau jika tidak akan aku carikan yang lain untukmu," lanjutnya lagi dengan mulut penuh keripik kentang.

Jerome mendesah berat mendengar nasehat dari temannya, rasanya semakin sulit saja. Semakin hari semakin sulit, "Tak usah mengkhawatirkanku, Mathew," kata Jerome dengan nada dinginnya yang biasa namun kali ini terdengar begitu lirih.

"Kau memang pantas dikhawatirkan," balas Mathew agak tak senang dengan tanggapan sang kawan, "Dasar keras kepala… Kepala batu," lanjutnya lagi dengan nada menyindir.

Jerome tak balas berkata, selain tak ingin, ia butuh istirahat sekarang. Rasanya semua tulangnya tiba-tiba lemas. Tak bertenaga.

Hening.

Dan Mathew langsung menyimpulkan bahwa sosok itu kini sudah jatuh tertidur. Perlahan ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dan menghela napasnya, "Semoga kau bisa mendapatkannya tepat waktu," bisiknya, memanjatkan sebuah doa kepada Tuhan agar melindungi temannya itu.

—o0o—

Aiden merasa menyesal sudah sok jagoan, buktinya sedari tadi ia tak menemukan ruangan musik itu. Di sini begitu banyak lorong dan belokan, membuatnya semakin kesulitan. Aih. Entah sudah berapa kali ia berbelok, ia tak tahu. Yang ia tahu sekarang ia berada di koridor kelas tiga.

"Hhhh," Aiden mendesah, menatap keluar lewat jendela. Cahaya matahari mulai menjingga di luar sana. Dengan perlahan ia mulai melangkah lagi, mengikuti kemana pun kakinya membawanya. Sesekali ia menengok ke ruangan kelas yang ia lewati. Tak ada siapa-siapa…

Di koridor ini pun tak terlihat siapa-siapa. Sepi sekali…

"AH!" Aiden berteriak girang saat matanya menangkap ruangan yang sedari tadi ia cari. Berada diujung koridor ini. Dengan begitu semangat Aiden berlari.

DEG DEG!

Entah apa yang membuatnya begitu deg-degan saat menyentuh knop pintu. Mungkin, itu akibat ia berlari atau mungkin karena ia… begitu penasaran dengan sosok di dalam ruangan ini.

Klek.

Pintu itu terbuka dan gelap langsung menyambutnya membuatnya urung untuk masuk lebih dalam. Ia… takut gelap.

Menggigit bibirnya gugup Aiden masuk, memberanikan dirinya karena rasa penasaran yang begitu besar. Ia melangkah hati-hati sambil meraba-raba ke depan. "Halo?" ia mencoba memanggil, tapi tak ada yang menyahutnya. Aiden terus melangkah.

BRUGH

Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya tertubruk dengan seseorang.

Klik.

Seketika lampu diruangan itu menyala dengan sendirinya, membuat ruangan itu terang benderang. Aiden mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mendongak.

DEG

DEG

DEG

Mendapati Marcus berada begitu dekat dengannya. Ternyata orang yang ia tabrak itu…

"Terimakasih sudah datang." Tersenyum. Ia melihat sosok itu tersenyum tipis. Begitu menawan. Aiden bahkan tak memperdulikan sekitarnya, ruangan itu terlihat indah dengan semua lilin menyala di lantai, mengitari ruangan.

Tiba-tiba saja sebuah alunan lagu mengalun.

Marcus berlutut, mengulurkan tangannya ke depan Aiden tanpa sekalipun menghapus senyumnya, "Berdansalah denganku." pintanya sambil menatap mata Aiden begitu lembut.

Aiden menerima uluran tangan itu bagai terhipnotis. Ia tak bisa mempercayai apa yang ia alami sekarang. Ia merasakan tubuhnya tertarik, lebih dekat dengan sosok menawan itu. Demi apapun ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata itu. Terpesona...

Perlahan tangannya digenggam—dingin, sementara pinggangnya dirangkul—membuat mereka semakin dekat. Aiden menaruh tangan kirinya di bahu Marcus dengan wajah merona.

Dan

Mereka mulai berdansa.

Satu… Dua… Tiga…

Melangkah begitu harmonis. Mengitari ruangan bersama.

Aiden berputar di tangan Marcus sebelum kembali di rangkul.

Satu… Dua… Tiga…

Satu… Dua… Tiga…

Menikmati alunan lagu yang mengiringi mereka, tersenyum satu sama lain. Aiden merasakan langkahnya begitu ringan, perutnya bergolak karena perasaan senang. Perasaan aneh namun terasa begitu menyenangkan.

Sekali lagi Aiden berputar di bawah lengan Marcus, melepaskan sebelah tangannya sebelum memutarkan dirinya dan menjatuhkan badannya dengan tangan Marcus yang menahannya. Aiden merona saat mengetahui wajah mereka begitu dekat. Debaran jantungnya tak menentu, berdentum-dentum seakan akan bisa meloncat keluar dari tempatnya.

Marcus tersenyum, membuat tubuh mereka kembali tegak—meski begitu ia tak melepaskan rangkulannya pada pinggang Aiden, malah mengeratkannya.

Perlahan Aiden merasakan sesuatu mengusap pipinya—begitu lembut. Pandangan mereka bertaut, seakan tak bisa lepas. Dengan perlahan Marcus mendekatkan wajahnya

DEG

DEG

DEG

Menyatukan bibir mereka.

…Ia menciumnya.

Perlahan tangan Marcus bergerak ke belakang tengkuk Aiden, sementara Aiden mengalungkan kedua tangannya di leher Marcus. Merapatkan tubuh mereka. Marcus memiringkan wajahnya, mencari sudut yang pas untuk mengecap bibir itu. Lebih menuntut.

…Ciuman panjang yang manis.

Aiden terengah setelah ciuman itu berakhir. Wajahnya memerah tak menentu.

"Tunggulah aku."

Aiden mendongak cepat, mendapati Marcus menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ia definisikan. Perlahan tangan Marcus terangkat mengusap sudut bibir Aiden.

"Aku akan kembali. Jadi tunggulah aku."

Dan pelukan itu terlepas begitu saja.

Aiden mengerut heran, memandang Marcus yang kini memunggunginya dengan ekspresi sedih. "Kau akan pergi?" tanyanya dengan nada tak rela, ia tak tahu kenapa. "…Kemana?"

—o0o—

"Sudah siap?" U-know bertanya.

Marcus mengangguk.

Dan sebuah lubang hitam yang nampak mengerikan muncul dan menganga lebar, menunggu Marcus untuk memasukinya. Marcus berbalik dan menatap u-know. "Sebelum pergi, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ujarnya pelan.

"Apa?"

Dengan enggan dan penuh keraguan Marcus berujar lagi. "Apakah Aiden… dia adalah pasanganku?" tanyanya. Ia sudah menyelesaikan membaca buku pemberian mentornya itu tadi, dan tiba-tiba ia seperti memahami sesuatu. Dan ia hanya ingin mengkonfirmasinya…

U-know cukup terkejut saat Marcus mengatakannya. Meski akhirnya ia tersenyum. "Itu semua tergantung padamu." jawabnya

Marcus terdiam, ia menatap u-know lama dan mengangguk kecil. "Bisakah kau menjaga dia untukku selama aku pergi?"

U-know tersenyum sambil mengangguk, memegang bahunya, menyalurkan kekuatan. "Tentu. Kau harus kembali secepatnya…"

Dan Marcus pun menghilang, di telan lubang hitam dengan sebuah kata terakhir. "Terimakasih, sir."

U-know menunduk, terenyuh mendengar Marcus memanggilnya 'sir'. "Kau kuat Marcus. Aku tau kau akan bertahan."

Kembalilah …karena banyak yang menantimu di sini.

—o0o—

To be Continued

—o0o—

Cuaps Author

Semakin aneh dan tidak jelas lalala~

Marcusnya pergi, Aiden menjanda. HAHA

Terjawab sudah, Aiden itu manusia biasa tapi dia pasangan Marcus dan itulah alasan atas semua keanehan yang ada padanya Tapi apa iya? haha

Ah iya, ada typo parah di chap sebelumnya. Bom jadi Boom ._. dan masih banyak typo lainnya. Nanti aja ya dieditnya XD

Oiya, yang minta perang Chap depan udah mulai! Ayo semua angkat senjata kalian! /DUAK XD

Spesial thanks buat yang udah review:

dewi90 . Anami Hime . dew'yellow . NaHaZa . Lullu48129 . nurul aini . laila r mubarok . zakurafrezee . Imcherlonntan . Me Naruto . SJ Key . lee meiran . Fishydew . uchihaputry . ika zordick . LoveKiHaeeeee . Anonymouss . Hitomi Mi Chan . KyuHae 20 . sugih miinah . evil thieves . kyukyukyu . Raihan . kihae dp26 . nvtclouds . Anonymouss . triple3r . ikan . AmaterasuUchih1 . arumfishy . amandhharu0522 . BluBlue . kyukyu . Christina . jp com

*BIG HUG*

KOMEN PLIS :D

(Edited: 04/05/2013)